LAPORAN
AKUNTABILITAS KINERJA
2014
LAPORAN
Diterbitkan oleh :
Komisi Pemberantasan Korupsi 2015
Penyusun:
TIM PENYUSUN LAPORAN KINERJA KPK KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI Jl. H.R. Rasuna Said Kav. C-1 Jakarta 12920
MASA DEPAN INDONESIA BARU DIMULAI
Semangat membuncah untuk membangunkan Indonesia dari tidur berkepanjangan
atas ancaman praktik korupsi akan selalu menggelora, KPK akan selalu di garda
terdepan.
Laporan akuntabilitas kinerja disusun sebagai
pertanggungjawaban kepada pemangku
kepentingan dan memenuhi Instruksi Presiden
Nomor 7 Tahun 1999 yang mengamanatkan
setiap instansi pemerintah/lembaga
negara yang dibiayai anggaran negara agar
menyampaikan laporan dimaksud. Laporan ini
merinci pertanggungjawaban organisasi dan
tanggung jawab pemakaian sumber daya untuk
menjalankan misi organisasi.
Landasan penyusunan laporan ini adalah
Rencana Strategis KPK Tahun 2011-2015,
Target dan Realisasi Kinerja KPK Tahun 2014.
Pengelolaan manajemen kinerja dari tingkat
korporat sampai dengan individu yang dibantu
perangkat lunak berbasis
balanced scorecard,
secara umum menunjukkan selama tahun 2014
sebagian besar target sasaran strategis dan
kinerja yang ditetapkan telah berhasil dicapai.
Kami berharap laporan ini memenuhi harapan
setiap pemangku kepentingan dan sebagai
pemicu bagi peningkatan kinerja organisasi KPK
ke depan.
Jakarta, Februari 2015
Sekretaris Jenderal
Himawan Adinegoro
KATA PENGANTAR
RINGKASAN EKSEKUTIF
Peta Strategi menerjemahkan visi
dan misi organisasi ke dalam tataran
operasional. Kesamaan pemahaman
setiap elemen organisasi adalah kunci
sukses KPK mewujudkan visi dan misinya.
Selama tahun 2014, KPK telah berhasil
melaksanakan misi yang diemban dalam
rangka mencapai tujuan dan sasaran yang
telah ditetapkan. Keberhasilan KPK ini diukur
berdasarkan pencapaian sasaran strategis dan
indikator kinerja yang telah ditetapkan, pada
berbagai perspektif
balanced scorecard.
Dengan
rujukan hasil penilaian kinerja pada gambar
berikut, capaian kinerja KPK di tingkat korporat
tahun 2014 adalah sebesar 105,6 %, yang
diperoleh dari Perspektif Pemangku Kepentingan
(Stakeholder)
dengan bobot
(weight)
30% dan
capaian kinerja 104,2%, Perspektif Internal
dengan bobot 40% dan capaian kinerja 121,8%,
Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan
(Learning and Growth)
dengan bobot 15% dan
capaian kinerja 70,9%, dan Perspektif Keuangan
(Financial)
dengan bobot 15% dan capaian
kinerja 100%.
Dalam
balanced scorecard,
terdapat hubungan
sebab-akibat antara sasaran strategis yang ingin
dicapai pada perspektif
stakeholder
dengan
perspektif di bawahnya. Perspektif
stakeholder
menggambarkan apa
(impact atau outcome)
yang akan diberikan organisasi kepada para
stakeholder.
Kemudian, pada perspektif internal
terlihat apa (bisnis proses) yang akan dilakukan
organisasi agar sasaran strategis pada perspektif
stakeholder
dapat tercapai. Selanjutnya, agar
bisnis proses pada perspektif internal dapat
berjalan dengan baik, pada perspektif
learning
and growth
dan financial digambarkan modal
(resources)
apa yang perlu disiapkan/disediakan
organisasi, seperti kualitas SDM, nilai-nilai
organisasi
(values),
sistem, peraturan, SOP,
teknologi informasi, peralatan, pendidikan dan
pelatihan, dsb.
Pada perspektif Pemangku Kepentingan, tujuan
utama
(ultimate goal)
Efektivitas dan Efisiensi
Pemberantasan (Pencegahan dan Penindakan)
Korupsi berhasil mencapai 104,2%. Tujuan
utama tersebut diperoleh melalui pengukuran
indikator Indeks Penegakan Hukum atau
Law
Enforcement Index
dan Tingkat Keberhasilan
Pemberantasan Korupsi oleh KPK.
Indeks Penegakan Hukum Tipikor oleh KPK Tahun
2014, jika diukur dengan formula yang dipakai
dalam Stranas PPK (Perpres 55 Tahun 2012),
penghitungan Indeks Penegakan Hukum Tahun
2014 dihitung realisasi capaiannya sebesar 61,8%
(dalam persentase) dari target 80%, dengan
demikian capaian kinerjanya dihitung sebesar
77,3%.
Tingkat Keberhasilan Pemberantasan Korupsi
oleh KPK berhasil dicapai sebesar 131,1%, yang
diperoleh dari rata-rata kumulatif capaian 5 (lima)
sasaran strategis pada perspektif
stakeholder,
yakni: (a) penanganan
Grand Corruption
dan
penguatan APGAKUM, (b) meningkatnya kinerja
pada Sektor Strategis (termasuk APGAKUM), (c)
terwujudnya pelembagaan Sistem Integritas
Nasional (SIN) secara formal, (d) terbangunnya
pemahaman pemilih terhadap integritas, dan
(e) terbangunnya
Fraud Control
sebagai Sistem
Pemberantasan Korupsi yang terintegrasi.
Keberhasilan sasaran strategis Penanganan
Grand Corruption
dan Penguatan APGAKUM,
memiliki 2 KPI, berasal dari penanganan kasus
grand corruption oleh KPK sebanyak 7 kasus
(dari 4 kasus yang ditargetkan dalam Renstra
KPK 2011-2015) sehingga capaian kinerja
dihitung sebesar 175% dan terkait %
Conviction
Rate
Kasus yang Disupervisi untuk tahun 2014
dapat dijelaskan sebagai berikut: terhadap 70
perkara yang disupervisi KPK kepada APGAKUM,
sebanyak 46 perkara telah diputus oleh PN
Tipikor dengan putusan seluruhnya “terdakwa
dinyatakan bersalah” sehingga realisasi capaian
conviction rate
dihitung sebesar 66% (46/70
X 100%) dari target 60%, sehingga secara
keseluruhan capaian kinerja dihitung sebesar
110%. Sasaran strategis Meningkatnya Kinerja
pada Sektor Strategis (termasuk APGAKUM)
capaian kinerjanya dihitung sebesar 152,7%.
Adapun kontribusi capaian kinerja tersebut
diperoleh dari capaian indeks kinerja sektor
strategis sebesar 4,58 dari target 3,00. Indeks
Kinerja Sektor Strategis diperoleh dari hasil
survey integritas dan survey perilaku anti
korupsi yang dilakukan berdasarkan kelompok
national interest
dan kemudian dihitung nilai
rata-ratanya dalam skala 1-5. Adapun sub
indikator pengukuran dilakukan atas sektor
Aparat Penegak Hukum (4,47), ketahanan
pangan (4,33), kesehatan (4,95), pendidikan
(4,80), ketahanan energi (4,48), ketahanan
lingkungan (4,67), penerimaan negara (4,73),
dan infrastruktur (4,46).
Sasaran strategis Terwujudnya Pelembagaan
Sistem Integritas Nasional (SIN) secara Formal
capaian kinerja dihitung sebesar 133,3%. Dalam
tahun 2014, KPK telah menyelesaikan 100%
indikator sedangkan target yang ditetapkan
sebesar 75%. Semula indikator ini ditargetkan
sebesar 100% di tahun 2015. Dua output hasil
penelitian, yaitu berupa Konsep SIN (Buku I)
dan Pedoman Implementasi SIN (Buku II) telah
diserahkan oleh KPK kepada Bappenas dengan
harapan pada Tahun 2015 akan diformulasi
menjadi Peraturan Presiden mengenai Rencana
Aksi Nasional yang berpedoman pada SIN.
Sasaran strategis Terbangunnya Pemahaman
Pemilih terhadap Integritas, diukur melalui
Sasaran strategis Terbangunnya
Fraud Control
sebagai Sistem Pemberantasan Korupsi yang
Terintegrasi, dihitung dari capaian KPI %
Pembangunan Konsep dan desain
Fraud Control.
Pada tahun 2014 % Pembangunan Konsep dan
desain Fraud Control adalah sebesar 133,3%
dihitung dari target 75% terealisasi 100%.
Perumusan pedoman
Fraud Control Plan
(FCP) sebagai amanat
roadmap
KPK 2011-2023
dilakukan oleh KPK bersama-sama dengan
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Badan
Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP)
pada level strategis, taktis, dan operasional. FCP
merupakan upaya pencegahan tindak pidana
korupsi yang akan dibangun secara nasional,
yang mencakup: aspek preventif, aspek deteksi,
dan aspek penindakan. Penyusunan konsep dan
desain FCP telah sesuai dengan pembagian fase
pada Roadmap KPK dan diselesaikan lebih cepat
dibandingkan perencanaan dalam Renstra KPK
2011-2015.
Pada Perspektif Internal capaian kinerja
sebesar 121,8%, dihitung dari akumulasi capaian
beberapa sasaran strategis dan KPI. Adapun
sasaran strategis tersebut meliputi: sasaran
strategis Penindakan yang Terintegrasi, terdiri
dari 2 KPI yaitu: (1). KPI
Conviction Rate
Perkara
yang Ditangani KPK diukur dari perbandingan
antara jumlah putusan Pengadilan Negeri (PN)
Tipikor yang menyatakan terdakwa terbukti
bersalah dengan jumlah perkara yang diputus
oleh Pengadilan Tipikor. Selama tahun 2014,
berkas perkara yang dilimpahkan ke Pengadilan
Negeri Tipikor adalah sebanyak 45 (empatpuluh
lima) perkara. Dari jumlah itu, sebanyak 40
(empatpuluh) perkara sudah diputus di PN
Tipikor dengan keputusan terdakwa dinyatakan
bersalah, yang berarti
conviction rate
mencapai
100%. (2). KPI % Kasus yang Disupervisi KPK
Lanjut ke Tahap Berikutnya diukur dari %
Penanganan Perkara TPK oleh APGAKUM yang
Disupervisi KPK lanjut ke tahap berikutnya.
Pada Tahun 2014 jumlah kasus yang disupervisi
sebanyak 95 perkara, dengan 90 perkara (atau
94,74%) berhasil lanjut ketahap berikutnya,
sehingga dengan target 80% kontrak kinerja
ditahun 2014, maka capaian kinerjanya dihitung
sebesar 118,4%.
Sasaran strategis Pencegahan yang Terintegrasi,
capaian kinerja dihitung sebesar 130,7%.
Indikator yang digunakan untuk mengukur
kinerja sasaran strategis ini terdiri dari 3 KPI,
yaitu KPI % Implementasi atas Rekomendasi yang
diusulkan pada Sektor Strategis dimana pada
Tahun 2014 telah dipenuhi target yang ditetapkan
sebesar 80% Kegiatan Tindak Lanjut (TL) hasil
kajian sektor strategis merupakan kegiatan
pemantauan terhadap implementasi action
plan Kementerian/Lembaga dari rekomendasi
kajian sektor strategis. Dari 370
action plan
yang direncanakan, sebanyak 296 (80%) telah
ditindaklanjuti. KPI # Implementasi Sistem
Integritas pada Fokus Area sesuai Perkembangan
Pelembagaan SIN, capaian KPI pada Tahun 2014
adalah sebesar 140%, prestasi ini dihasilkan dari
realisasi kajian sebesar 14 dari 10 kajian yang
ditargetkan. KPI % Implementasi Program untuk
Pemilu Berintegritas, dilakukan pada tiga actor
utama pemilu yakni penyelenggara, peserta dan
pemilih.
Sasaran strategis Terbangunnya Sistem Informasi
Pemberantasan Korupsi dicapai melalui 2 KPI,
yaitu KPI % Pembangunan Sistem Informasi
Pemberantasan Korupsi dan KPI % Pembangunan
Infrastruktur
Fraud Control.
Pada tahun 2014
capaian KPI % Pembangunan Sistem Informasi
Pemberantasan Korupsi dihitung sebesar 183,
6 % dibuktikan dengan kegiatan yang dilakukan
seperti misalnya Direktorat PJKAKI telah
memproses 63 data PPATK, 12 data perlintasan
dan pendukung data paspor imigrasi, data
pendukung transportasi penerbangan 23 data,
dan 2 permintaan
second opinion.
Sedangkan
Direktorat Monitor pada tahun 2014 mampu
memenuhi permintaan informasi sebanyak
16.469 permintaan. Sementara itu KPI %
Pembangunan Infrastruktur
Fraud Control
pada
tahun 2014 diperoleh capaian 75% dari target
75% sehingga capaian kinerjanya dihitung
sebesar 100%.
Sasaran strategis Terbangunnya Kasus
Grand
Corruption
(dari Dumas) KPI yang digunakan
untuk mengukur sasaran strategis ini adalah
# Kasus (Pokok Kasus)
Grand Corruption
Siap
LIDIK, diukur dari jumlah kasus potensial
Grand
Corruption (GC)
yang diperoleh dari penanganan
pengaduan masyarakat yang ditindaklanjuti
ke tahap penyelidikan. Realisasi tahun 2014
sebanyak 7 (tujuh) kasus GC dari 7 (tujuh) kasus
yang ditargetkan sehingga capaian kinerja
dihitung sebesar 100%.
0
Capaian Kinerja KPK Serapan Anggaran KPK
dari 3 KPI dengan capaian dan realisasi sebagai
berikut: KPI Indeks Integritas KPK (Survey, 1-5)
dari target indeks sebesar 4, realisasinya adalah
sebesar 3,26, sehingga capaian kinerja dihitung
sebesar 81,5%. KPI # Kode Etik dan Kode
Perilaku ditargetkan 0 kasus, ternyata terjadi 4
(empat) kasus pegawai yang melanggar disiplin
dengan sanksi yang telah ditetapkan yaitu
pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) dan
penurunan jabatan sehingga capaian atas KPI ini
pada tahun 2014 adalah 0%. KPI % Pemenuhan
Komponen Reformasi Birokrasi realisasi sampai
dengan akhir tahun 2014 mencapai 90,85% dari
target KPK 90% sehingga capaian KPI ini dihitung
sebesar 100,9%. Beberapa kompnen pilar
reformasi birokrasi di KPK sesuai ketentuan dari
Menpan RB, telah diselaraskan dan direvitalisasi.
Sasaran strategis Meningkatnya Kapasitas SDM
sesuai Fokus Area, diukur dengan melihat 2
komponen pengukuran yaitu (1) perbandingan
jumlah pegawai yang direkrut sesuai dengan
fokus area dibandingkan dengan seluruh
pegawai yang berhasil direkrut, dan (2)
pengisian jabatan struktural yang kosong.
Mengenai jumlah SDM yang dapat direkrut
sesuai fokus area, telah ditargetkan sebesar 75%
namun realisasi capaian hanya sebesar 37,7% ,
sehingga capaian kinerjanya dihitung sebesar
50,3%. Sasaran strategis Pengangkatan Penyidik
KPK, capaian kinerja sebesar 46,7% diukur dari
jumlah penyidik yang diangkat yang bersumber
dari internal KPK maupun dari eksternal KPK
yaitu dari Kepolisian dan Kejaksaan. Dalam
Renstra KPK 2011-2015, pengangkatan Penyidik
dari internal KPK menjadi prioritas/fokus, di
samping Penyidik yang berasal dari Kepolisian
dan Kejaksaan, untuk menjaga independensi
Penyidik KPK. Kewenangan KPK untuk
mengangkat Penyidik sendiri dimungkinkan
(diperbolehkan) dalam Undang-Undang
KPK. Rekrutmen Penyidik tahun 2014 hanya
menghasilkan 14 (empat belas) orang Penyidik
dari target 30 (tiga puluh) dikarenakan sulitnya
mendapatkan personil yang sesuai dengan
kriteria Penyidik KPK. Seleksi Penyidik yang
bersumber dari internal KPK maupun eksternal
(Polri), dengan hasil akhir 7 (tujuh) orang dari
internal dan 7 (tujuh) orang dari Polri-STIK
(Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian) dan dinyatakan
dapat melakukan
on the job training (OJT)
dan mulai bergabung pada triwulan keempat
2014. Sasaran strategis Pembangunan Gedung
KPK, Indikator kinerja yang ditetapkan untuk
mengukur keberhasilan sasaran Pembangunan
Gedung KPK terdiri atas satu indikator di atas,
dengan capaian kinerja sebesar 96,8% % yang
sedikit mengalami penurunan jika dibandingkan
dengan tahun sebelumnya yang sebesar 100%.
Sampai dengan akhir Desember 2014, penyerapan
anggaran pembangunan gedung KPK tahun 2014
terhadap anggaran
multiyears
2013-2015 adalah
sebesar 48,40%, yaitu Rp109.244.047.049,- dari
total keseluruhan anggaran Rp225.712.000.000,.
Terakhir, sasaran strategis Tersedianya
Data Infrastruktur TI, Indikator kinerja yang
ditetapkan untuk mengukur keberhasilan
sasaran Tersedianya Data dan Informasi adalah
dengan KPI : Indeks Kepuasan Layanan TI yang
pada tahun 2014 capaian atas KPI ini sebesar
99,8% yang mengalami penurunan dibandingkan
tahun 2012 dan 2013 yang sebesar 102,4% dan
101,2%.
Pada Perspektif Keuangan, ketersediaan
anggaran dapat dipenuhi 100%, artinya seluruh
kebutuhan dana operasional KPK dapat
disediakan anggarannya dalam DIPA KPK,
setelah mendapat persetujuan dari Komisi III
DPR dan Kementerian Keuangan. Pada periode
2007 s.d. 2013, KPK berhasil mendapat alokasi
anggaran
(budget availability)
untuk membiayai
seluruh kegiatannya dengan tren meningkat,
namun pada tahun 2014 menunjukkan sedikit
penurunan mengingat KPK pada tahun 2014
melakukan efisiensi secara mandiri
(self
efficiency)
atas dana operasional KPK yaitu
penghematan kegiatan operasional tertentu dan
tidak mengurangi dana operasional yang sifatnya
prioritas. Perbandingan antara capaian kinerja
dan serapan (realisasi) anggaran KPK selama 3
tahun terakhir pada diagram berikut:
Gambar 1.
KATA PENGANTAR
RINGKASAN EKSEKUTIF
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tugas dan Wewenang
Struktur Organisasi
Dasar Hukum
Sistematika Penyajian
Permasalahan Organisasi
BAB II PERENCANAAN KERJA
Manajemen Kinerja KPK
Roadmap KPK
Rencana Strategis KPK 2011 – 2015
Arah dan Kebijakan Pimpinan KPK 2014
Peta Strategi KPK 2014
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
Capaian Perspektif Pemangku Kepentingan
Capaian Perspektif Proses Internal
Capaian Perspektif Pertumbuhan dan Pembelajaran
Capaian Perspektif Keuangan
Capaian Lainnya
BAB IV PENUTUP
LAMPIRAN
IV
V
IX
IX
X
2
2
2
3
4
5
5
7
7
8
11
13
17
21
23
33
42
50
52
56
DAFTAR ISI
Tabel 1.
Tabel 2.
Tabel 3.
Tabel 4.
Tabel 5.
Tabel 6.
Tabel 7.
Tabel 8.
DAFTAR TABEL
12
19
24
25
29
34
35
37
Fokus Area, Sasaran Strategis dan Indikator Keberhasilan
Sasaran Strategis, KPI dan Target Tahun 2014
Komponen Indeks Penegakan Hukum
Parameter Indeks Penegakan Hukum
Indeks Kinerja Strategis Tahun 2013 dan 2014 (Sumber : Dit. Litbang, KPK)
Proses Penanganan Perkara KPK Tahun 2012, 2013 dan 2014
Perkara Yang Disupervisi KPK dan Yang Lanjut ke Tahap Berikutnya Tahun
2012, 2013 dan 2014
DAFTAR GAMBAR
Diagram Capaian Kinerja KPK Tahun 2012, 2013 dan 2014
Struktur Organisasi KPK
Dimensi Setiap Pilar dalam Sistem Integritas Nasional
Sistem Integritas Menurut OECD
Sistem Integritas Menurut OECD
Peta Strategi KPK 2014
Diagram Capaian Kinerja KPK Tahun 2012, 2013 dan 2014
Diagram IPH Tahun 2012, 2013 dan 2014
Suap izin penggunaan lahan Mal Karawang
Diagram Perbandingan Kasus Grand Corruption Tahun 2012, 2013 dan 2014
Diagram
Conviction Rate
Kasus yang Disupervisi Tahun 2012, 2013 dan 2014
Kegiatan Penguatan Apgakum ditempuh KPK dengan Mengevaluasi Kualitas
Rekruitmen SDM.
Diagram Perbandingan Indeks Kinerja Sektor Strategis Tahun 2012, 2013 dan 2014
Sistem Integritas Nasional melalui kerjasama dengan Bappenas
Diagram Pelembagaan SIN Tahun 2012, 2013 dan 2014
Program Pilih yang Jujur
Indeks Pemahaman Masyarakat terhadap Integritas Dalam Pemilu Tahun 2012,
2013 dan 2014
Optimalisasi LHKPN melalui pemberdayaan APIP
Diagram Penyusunan Konsep FCP Tahun 2012, 2013 dan 2014
Suap DPRD Bangkalan
Diagram
Conviction Rate
Perkara yang Ditangani KPK Tahun 2012, 2013 dan 2014
Diagram Perkara Yang Disupervisi KPK dan Yang Lanjut ke Tahap Berikutnya
Tahun 2012-2013-2014
Korsup minerba sebuah bentuk Tindak lanjut di Bidang Minerba
Diagram Implementasi atas Rekomendasi yang Diusulkan
Diagram Implementasi Sistem Integritas Pada Fokus Area
Rapat koordinasi mewujudkan Pemilu Beritegritas antara KPK dengan
penyelenggara pemilu.
Diagram Implementasi Program untuk Pemilu Berintegritas
Diagram Perkembangan Pembangunan Sistem Informasi Pemberantasan Korupsi
Tahun 2012, 2013, 2014
Diagram Perkembangan Pembangunan Infrastruktur
Fraud Control
Tahun 2012,
2013, 2014
Diagram Kasus
Grand Corruption
Siap Lidik Tahun 2012, 2013, 2014
Grafik Nilai Integritas Organisasi KPK
Diagram Indeks Kinerja Strategis Tahun 2012, 2013 dan 2014
Diagram Pelanggaran Kode Etik Pegawai Tahun 2012, 2013 dan 2014
Diagram Pemenuhan RB KPK Tahun 2012, 2013 dan 2014
Diagram Ketersediaan SDM sesuai Fokus Area Tahun 2012, 2013 dan 2014
Diagram Pemenuhan Jumlah Penyidik KPK Tahun 2012, 2013 dan 2014
Smart Building
KPK yang terus Berproses
Diagram Perkembangan Gedung KPK Tahun 2012, 2013 dan 2014
Diagram Indeks Kepuasan Layanan TI Tahun 2012, 2013 dan 2014
Launching
Kanal TV KPK sebagai Teknologi Media KPK
Diagram Ketersediaan Anggaan KPK Tahun 2012, 2013 dan 2014
Diagram Tingkat kepuasan Kinerja Apgakum (Sumber : Kompas, 2014)
Diagram Citra Positif Apgakum (Sumber : Kompas, 2014)
LATAR BELAKANG
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dibentuk
sebagai lembaga negara yang bersifat independen
yang dalam melaksanakan tugas serta
kewenangannya bebas dari pengaruh kekuasaan
manapun. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002
tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi sebagai landasan legal bagi pelaksanaan
tugas KPK dalam mengkoordinasikan lembaga
penegak hukum lainnya melalui koordinasi dan
supervisi, melakukan penyelidikan, penyidikan,
dan penuntutan
(represive),
mendorong
pencegahan
(preventive)
tindak pidana korupsi,
serta melakukan pemantauan terhadap
penyelenggaraan pemerintahan negara.
Sebagai bentuk komitmen yang mengedepankan
prinsip transparansi dan akuntabilitas, maka KPK
memandang perlu untuk menyampaikan laporan
akuntabilitas kinerja (LAKIP) kepada pemangku
kepentingan.
TUGAS DAN WEWENANG
Dalam pasal 6 sampai 15 Undang-Undang Nomor
30 Tahun 2002, diatur tugas, wewenang, dan
kewajiban KPK. KPK mempunyai tugas sebagai
berikut:
1. Koordinasi dengan instansi yang berwenang
melakukan pemberantasan tindak pidana
korupsi (TPK);
2. Supervisi terhadap instansi yang berwenang
melakukan pemberantasan TPK;
Dukungan rakyat Indonesia selalu
memberi semangat KPK untuk terus
berjuang mewujudkan Indonesia yang
bebas korupsi.
BAB I
3. Melakukan penyelidikan, penyidikan, dan
penuntutan terhadap TPK;
4. Melakukan tindakan-tindakan pencegahan
TPK; dan
5. Melakukan monitor terhadap
penyelenggaraan pemerintah negara.
Dalam melaksanakan tugas koordinasi, KPK
berwenang:
1. Mengkoordinasikan penyelidikan,
penyidikan, dan penuntutan TPK;
2. Menetapkan sistem pelaporan dalam
kegiatan pemberantasan TPK;
3. Meminta informasi tentang kegiatan
pemberantasan TPK kepada instansi terkait;
4. Melaksanakan dengar pendapat atau
pertemuan dengan instansi yang berwenang
melakukan pemberantasan TPK; dan
5. Meminta laporan instansi terkait mengenai
pencegahan TPK.
Dalam melaksanakan tugas supervisi, KPK
berwenang melakukan pengawasan, penelitian,
atau penelaahan terhadap instansi yang
menjalankan tugas dan wewenangnya yang
berkaitan dengan pemberantasan TPK serta
terhadap instansi yang melaksanakan pelayanan
publik. Sementara dalam melaksanakan
wewenang supervisi, KPK berwenang juga
mengambil alih penyelidikan atau penuntutan
terhadap pelaku TPK yang sedang dilakukan
oleh kepolisian atau kejaksaan.
Dalam melaksanakan tugas penyelidikan,
penyidikan, dan penuntutan, KPK berwenang
melakukan penyelidikan, penyidikan, dan
penuntutan TPK yang:
1. Melibatkan aparat penegak hukum,
penyelenggara negara, dan orang lain
yang ada kaitannya dengan TPK yang
dilakukan oleh aparat penegak hukum atau
penyelenggara negara;
2. Mendapat perhatian yang meresahkan
masyarakat;
3. dan/atauMenyangkut kerugian negara paling
sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar
rupiah).
Sementara itu, dalam melaksanakan tugas
pencegahan, KPK berwenang melaksanakan
langkah atau upaya pecegahan sebagai berikut:
1. Melakukan pendaftaran dan pemeriksaan
terhadap laporan harta kekayaan
penyelenggara negara;
2. Menerima laporan dan menetapkan status
gratifikasi;
3. Menyelenggarakan program pendidikan
antikorupsi pada setiap jenjang pendidikan;
4. Merancang dan mendorong terlaksananya
program sosialisasi pemberantasan TPK;
5. Melakukan kampanye antikorupsi kepada
masyarakat umum;
6. Melakukan kerja sama bilateral atau
multilateral dalam pemberantasan TPK.
Dalam melaksanakan tugas monitor, KPK
berwenang:
1. Melakukan pengkajian terhadap sistem
pengelolaan administrasi di semua lembaga
negara dan pemerintah;
2. Memberikan saran kepada pimpinan
lembaga negara dan pemerintah untuk
melakukan perubahan jika berdasarkan hasil
pengkajian, sistem pengelolaan administrasi
tersebut berpotensi korupsi;
3. Melaporkan kepada Presiden, Dewan
Perwakilan Rakyat, dan Badan Pemeriksa
Keuangan, jika saran KPK mengenai usulan
perubahan tersebut tidak diindahkan.
Selain memiliki kewenangan yang luas, KPK juga
perlu memenuhi kewajibannya, antara lain:
1. Memberikan perlindungan terhadap saksi
atau pelapor yang menyampaikan laporan
ataupun memberikan keterangan mengenai
terjadinya TPK;
2. Memberikan informasi kepada masyarakat
yang memerlukan atau memberikan
bantuan untuk memperoleh data lain
berkaitan dengan hasil penuntutan TPK yang
ditanganinya.
STRUKTUR ORGANISASI
Berdasarkan Peraturan Komisi Pemberantasan
Korupsi Nomor 02 Tahun 2013 tentang Perubahan
atas Peraturan Komisi Pemberantasan Korupsi
Nomor 03 Tahun 2010 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Komisi Pemberantasan Korupsi,
struktur organisasi KPK terdiri atas:
1. Pimpinan, yang terdiri atas seorang Ketua
merangkap Anggota; dan 4 (empat) orang
Wakil Ketua merangkap Anggota.
2. Tim Penasihat, yang terdiri atas 4 (empat)
orang
3. Deputi Bidang Pencegahan, yang terdiri
atas:
a.
Direktorat Pendaftaran dan Pemeriksaan
Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara
Negara (PP LHKPN);
c.
Direktorat Pendidikan dan Pelayanan
Masyarakat (Dikyanmas);
d.
Direktorat Penelitian dan Pengembangan
(Litbang);
e.
Sekretariat Deputi Bidang Pencegahan.
4. Deputi Bidang Penindakan, yang terdiri atas:
a.
Direktorat Penyelidikan;
b.
Direktorat Penyidikan;
c.
Direktorat Penuntutan;
d.
Unit Kerja Koordinasi dan Supervisi;
e.
Sekretariat Deputi Bidang Penindakan;
f.
Satgas-satgas.
5. Deputi Bidang Informasi dan Data (INDA),
yang terdiri atas:
a.
Direktorat Pengolahan Informasi dan Data
(PINDA);
b.
Direktorat Pembinaan Jaringan Kerja
Antar Komisi dan Instansi (PJKAKI);
c.
Direktorat Monitor;
d.
Sekretariat Deputi Bidang INDA.
6. Deputi Bidang Pengawasan Internal dan
Pengaduan Masyarakat (PIPM), yang terdiri
atas:
a.
Direktorat Pengawasan Internal;
b.
Direktorat Pengaduan Masyarakat;
c.
Sekretariat Deputi Bidang PIPM.
7. Sekretariat Jenderal, yang terdiri atas:
a.
Biro Perencanaan dan Keuangan;
b.
Biro Umum;
c.
Biro Sumber Daya Manusia;
d.
Biro Hukum;
e.
Biro Humas;
f.
Sekretariat Pimpinan.
DASAR HUKUM
Dasar hukum penyusunan Laporan Akuntabilitas
Kinerja KPK Tahun 2013 adalah
1. Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang
Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan
Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme;
2. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002
tentang Komisi Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi;
3. Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999
tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi
Pemerintah;
4. Keputusan Pimpinan Komisi Pemberantasan
Korupsi Nomor 124A/01-52/02/2012 tanggal
29 Februari 2012 tentang Road Map KPK
dalam Pemberantasan Korupsi di Indonesia
Tahun 2011-2023;
5. Keputusan Pimpinan Komisi Pemberantasan
Korupsi Nomor 124B/01-52/02/2012 tanggal
29 Februari 2012 tentang Rencana Strategis
Komisi Pemberantasan Korupsi Tahun
2011-2015;
6. Peraturan Komisi Pemberantasan Korupsi
Nomor 02 Tahun 2013 tentang Perubahan atas
Peraturan Komisi Pemberantasan Korupsi
Nomor 03 Tahun 2010 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Komisi Pemberantasan Korupsi;
7. Keputusan Kepala LAN Nomor: 239/
IX/6/8/2003 tentang Perbaikan Pedoman
Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja
Instansi Pemerintah.
Gambar 2. Struktur Organisasi KPK
Pimpinan KPK
Deputi Pencegahan Deputi Penindakan Informasi dan Data Deputi Bidang
Deputi Bidang Pengawasan Internal
dan Pengaduan Masyarakat
SISTEMATIKA PENYAJIAN
Sistematika penyajian laporan kinerja KPK Tahun
2014 adalah sebagai berikut:
1. PENDAHULUAN, menjelaskan secara ringkas
latar belakang, tugas dan wewenang,
struktur organisasi, dasar hukum, dan
sistematika penyajian;
2. PERENCANAAN KERJA, menjelaskan
Manajemen Kinerja, Road Map KPK, Rencana
Strategis KPK 2011-2015 dan Rencana Kinerja
yang menjelaskan Arah dan Kebijakan
KPK Tahun 2014 serta target kinerja KPK
pada masing-masing perspektif
Balanced
Scorecard
di Peta Strategi KPK 2014;
3. AKUNTABILITAS KINERJA, menjelaskan
setiap capaian sasaran strategis pada setiap
perspektif yang tertuang pada peta strategi
dan kinerja lainnya
4. PENUTUP, menjelaskan kesimpulan atas
Laporan Akuntabilitas Kinerja KPK
PERMASALAHAN ORGANISASI
2 permasalahan utama yang dihadapi KPK pada
Tahun 2014 di antaranya yaitu:
1. Keterbatasan sumber daya baik manusia, dan
infrastruktur sebagai enablers berjalannya
operasional KPK secara efektif dan efisien;
Keterbatasan SDM KPK antara lain
disebabkan standar rekrutmen yang ketat
sehingga rata-rata pemenuhan kebutuhan
SDM melalui rekrutmen tahun 2005 s.d 2014
hanya sebesar 57% dari kebutuhan, dan
success rate
proses rekrutmen hanya 0,44%
dari jumlah pelamar. Paralel dengan hal
tersebut, kebutuhan akan gedung KPK juga
masih dalam proses pembangunan di tahun
2014 dan baru akan digunakan pada akhir
2015.
2. Terjadi kekosongan satu kursi kepemimpinan
KPK pada akhir periode 2014 dan beberapa
jabatan struktural;
MANAJEMEN KINERJA
Pengelolaan Kinerja di Komisi Pemberantasan
Korupsi terdiri dari tiga tahapan utama, yaitu
Perencanaan, Monitoring, serta Pelaporan dan
Evaluasi.
1. Perencanaan
Pada awal tahun, KPK menetapkan Arah dan
Kebijakan (Arjak) Pelaksanaan Kegiatan KPK
dalam bentuk Surat Edaran Pimpinan KPK yang
berisi:
a.
Arah dan Kebijakan Pimpinan;
b.
Peta Strategi;
c.
Target Kinerja;
d.
Inisiatif Strategis
Arjak tersebut disusun berdasarkan Rencana
Strategis KPK, Rencana Kerja Tahunan, dan
hasil evaluasi Capaian Kinerja KPK pada tahun
sebelumnya. Berdasarkan Arjak tersebut,
Pimpinan KPK menetapkan Keputusan Pimpinan
KPK tentang Indikator Kinerja Utama (IKU)
KPK. Arjak yang berisikan target kinerja
tahunan juga menjadi dasar dalam penyusunan
Kontrak Kinerja Unit di lingkungan KPK. Dalam
penyusunan Kontrak Kinerja Unit, dilakukan
alignment
secara vertikal
(cascading)
dan
horizontal untuk memastikan bahwa strategi
unit telah selaras dengan strategi korporat.
Kontrak Kinerja Unit terdiri dari Surat
Pernyataan, Peta Strategi, Target Kinerja, dan
Inisitatif Strategis dan ditetapkan oleh Unit
Pemberantasan korupsi adalah
sebuah perjalanan panjang. KPK
bertanggungjawab untuk kesempurnaan
dan kesinambungan perjalanan itu.
BAB II
Pemilik IKU dengan persetujuan oleh atasan
langsung secara berjenjang. Kontrak Kinerja
Unit tersebut selanjutnya menjadi dasar untuk
menyusun Kontrak Kinerja Pegawai KPK.
2. Monitoring
Selama tahun berjalan, Sekretariat Jenderal
c.q. Biro Perencanaan dan Keuangan (Renkeu)
melakukan monitoring atas Capaian Kinerja Unit
untuk memastikan bahwa strategi organisasi
telah dieksekusi dengan baik sesuai dengan
rencana. Biro Renkeu menelaah laporan kinerja
yang disampaikan oleh unit-unit di lingkungan
KPK berdasarkan Kontrak Kinerja Unit yang
telah ditetapkan di awal tahun dan memonitor
Capaian Kinerja Unit tersebut melalui Aplikasi
Manajemen Kinerja, yaitu
Actuate.
Hasil reviu
atas capaian kinerja tersebut selanjutnya
disampaikan kepada Pimpinan KPK dan
Pimpinan Unit Kerja sebagai dashboard dalam
pengambilan keputusan untuk mengoptimalkan
kinerja KPK.
3. Pelaporan dan Evaluasi
Proses pelaporan kinerja KPK dilakukan secara
bottom-up, dimulai dari pelaporan kinerja di
tingkat unit kerja Direktorat/Biro sampai dengan
tingkat korporat. Capaian Kinerja Unit dibahas
dalam Rapat Evaluasi Kinerja KPK yang dilakukan
paling sedikit 2 (dua) kali dalam setahun dan
dihadiri oleh Pimpinan KPK serta para Pimpinan
Unit Kerja. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut,
Laporan Kinerja Unit disusun dan disampaikan
kepada Sekretariat Jenderal c.q. Biro Renkeu
dan Direktorat Pengawasan Internal (PI). Laporan
Kinerja Unit memuat realisasi atas target kinerja
yang telah direncanakan dengan penjelasan atas
target kinerja yang tidak tercapai serta
Action
Plan
yang akan dilakukan di periode berikutnya.
Pada akhir tahun, Laporan Kinerja Unit
dijadikan sebagai bahan penyusunan Laporan
Kinerja dan Instansi Pemerintah (LAKIP) KPK.
Biro Renkeu melakukan koordinasi dengan
unit-unit dalam proses penyusunan LAKIP KPK yang
memuat analisis perbandingan antara realisasi
kinerja di akhir tahun dan Target Kinerja KPK
yang ditetapkan di awal tahun. Konsep akhir
LAKIP KPK disampaikan kepada Direktorat PI
untuk mendapat reviu internal. Direkorat PI
menyampaikan laporan hasil evaluasi LAKIP
kepada Pimpinan c.q. Sekretaris Jenderal.
Selanjutnya LAKIP KPK akan disampaikan kepada
Menteri yang membidangi Pendayagunaan
Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi dengan
tembusan kepada Presiden Republik Indonesia.
ROADMAP KPK 2011 - 2023
Mengantisipasi tantangan ke depan yang semakin
kompleks, diperlukan upaya pemberantasan
korupsi yang komprehensif dan sistematis,
dengan pelibatan seluruh potensi komponen
bangsa, sehingga KPK perlu memiliki suatu
perencanaan strategis jangka panjang dalam
bentuk Road Map KPK dalam Pemberantasan
Korupsi di Indonesia 2011-2023 (selanjutnya
disingkat Road Map KPK).
Road Map KPK dimaksudkan untuk memberi arah
pemberantasan korupsi yang akan dilakukan KPK
dalam jangka panjang (sampai dengan 2023).
Keberadaan Road Map KPK menjadi penting
karena dokumen perencanaan yang telah ada
terbatas hanya mencakup strategi jangka
menengah (Rencana Strategis yang berjangka
waktu lima tahunan) dan jangka pendek
(Rencana Kinerja dan Anggaran yang berjangka
waktu tahunan).
Karakteristik korupsi di Indonesia teramat
kompleks dan mengakar sehingga diperlukan
upaya pemberantasan korupsi secara sistematis,
integratif, dan fokus. Sesuai amanat
undang-undang, untuk mengatasi korupsi tersebut
KPK mengambil peran sebagai pendorong
pemberantasan korupsi
(trigger mechanism)
dengan melibatkan institusi penegak hukum
lainnya serta lembaga pemerintah ditambah
lembaga/masyarakat madani lainnya. Dalam
rangka optimalisasi pemberantasan korupsi,
maka perlu dilakukan koordinasi secara intensif
kepada
stakeholders
tersebut. Koordinasi akan
berjalan secara optimal ketika semua pihak
memiliki Road Map masing-masing namun tetap
merupakan bagian dari upaya nasional terkait
pemberantasan korupsi secara terintegrasi.
1. Kerangka Pikir Road Map
dalam merealisasikan visi dan misinya, yaitu
dengan memfokuskan pada penanganan
grand
corruption
dan yang menjadi kepentingan
nasional
(national interest).
KPK mewujudkan kompetensi inti organisasi
dengan mengambil peran sebagai pionir dalam
pembangunan Sistem Integritas Nasional (SIN),
kemudian dilanjutkan dengan membangun
kompetensi inti tahap berikutnya melalui
pembangunan
Fraud Control Plan
(Rencana
Pengendalian Kecurangan).
2. Peran Strategis KPK dalam
Pembangunan SIN
Posisi KPK dalam pemberantasan korupsi di
Indonesia adalah independen dan menjadi
penggerak
(trigger mechanism)
sebagaimana
diamanatkan dalam Undang-Undang tentang KPK.
Hal tersebut dapat diilustrasikan pada gambar
2, yang memberikan kejelasan hubungan antara
KPK dengan berbagai pilar pembangunan sistem
integritas nasional, khususnya kementerian/
lembaga, dan masyarakat madani (
Civil Society
Organization
, atau CSO).
KPK, di satu sisi mendorong dan mengontrol
kementerian/lembaga serta masyarakat madani
agar menjalankan sistem integritas, dan di
sisi lain KPK dan kementerian/lembaga juga
didorong dan dikontrol oleh masyarakat madani,
sehingga terbentuklah pola hubungan timbal
balik yang dapat menjamin sistem integritas
nasional, yang akan berdampak pada tatanan
hukum, pembangunan berkelanjutan, dan
kualitas hidup.
3. Peran Strategis KPK dalam
Pembangunan
Fraud Control Plan
(Rencana Pengendalian Kecurangan)
Peran strategis KPK selanjutnya yang perlu
dibangun adalah pembangunan
Fraud Control
Plan
(Rencana Pengendalian Kecurangan),
dengan asumsi bahwa sistem integritas nasional
telah berhasil dijalankan dengan terwujudnya
budaya integritas. Budaya integritas akan
mempersempit kemungkinan terjadinya
grand corruption;
kalaupun terjadi maka
akan tertangani dengan baik oleh APGAKUM.
Dengan demikian, KPK akan lebih berperan
dalam penanganan kecurangan
(fraud control)
dibandingkan
grand corruption.
Fraud Control Plan
akan dibangun secara
nasional, yang mencakup:
1. Aspek
Preventif:
mendorong organisasi/
lembaga menerapkan sistem pengendalian
yang baik, berupa Sistem Pengawasan
Internal (SPI) atau Sistem Pengendalian
Internal Pemerintah (SPIP), serta
implementasi
Fraud Control Plan/Fraud
Control System.
2. Aspek Deteksi: melakukan deteksi dini (early
warning system) secara menyeluruh, dengan
lebih mengintegrasikan LHKPN/LHK dan
laporan gratifikasi/hadiah yang menjangkau
seluruh Pegawai Negeri Sipil (PNS),
Whistle
Blower System,
dengan dukungan para Motor
Penggerak Integritas (MPI) di organisasi
terdiri dari para pengambil kebijakan kunci.
Deteksi dini yang terintegrasi memungkinkan
KPK memperkuat aspek deteksi yang
dilakukan oleh internal organisasi
(risk
assessment).
3. Aspek Penindakan/Penegakan: Penindakan/
penegakan terhadap kecurangan dapat
dilakukan secara lebih efektif karena telah
terintegrasi dan terciptanya tatanan hukum
yang baik. Di lain pihak, KPK melakukan
pemantauan atas efektivitas penegakkan
integritas agar tatanan hukum yang baik
tetap terpelihara.
4. Pembangunan Sistem Integritas
Nasional
Sistem Integritas Nasional (SIN) adalah sistem
yang berlaku secara nasional dalam rangka
pemberantasan korupsi secara terintegrasi yang
melibatkan semua pilar penting bangsa. Korupsi
dapat berkurang karena setiap pilar memiliki
akuntabilitas horisontal, yang mendistribusikan
kekuasaan sehingga tidak ada monopoli dan
kebijakan yang tidak dapat
dipertanggung-jawabkan.
SIN akan berdampak pada tatanan hukum
(rule of law),
pembangunan berkelanjutan
(sustainable development), dan kualitas hidup
(quality of life),
yang mencerminkan tercapainya
kesejahteraan rakyat yang menjadi cita-cita
berbangsa dan bernegara. Dengan keterlibatan
KPK dalam pembangunan integritas nasional,
berarti KPK secara langsung berkontribusi nyata
dalam menciptakan kesejahteraan rakyat.
terbagi dalam dua komponen penting, yaitu
komponen utama/inti
(core)
dan komponen
pendukung
(complement).
Komponen utama meliputi: (a) kode etik dan
Gambar 3.
Dimensi Setiap Pilar dalam Sistem Integritas Nasional
Agar setiap pilar dapat berkontribusi secara
positif dalam pembangunan SIN, maka semua
pilar dalam SIN memperhatikan tiga dimensi
yang terdiri atas hal-hal sebagai berikut :
1. Peran/kontribusi
(role),
yaitu memastikan
setiap pilar menjalankan tupoksi secara
berintegritas dengan berbasiskan
keunggulan masing-masing untuk selanjutnya
dikolaborasikan dengan pilar lainnya dalam
pembangunan SIN.
2. Transparansi dan akuntabilitas
(governance),
intinya setiap pilar harus menerapkan
akuntabilitas dan transparansi, dalam
bentuk implementasi sistem integritas,
baik komponen utama maupun komponen
pendukung, dengan memastikan adanya
instrumen, proses, dan struktur.
3. Kapasitas
(capacity),
agar dapat membangun
sistem integritas dan menjalankan perannya
secara berintegritas, maka masing-masing
pilar harus memiliki kapasitas untuk
menjalankan kedua hal tersebut.
Mekanisme akuntabilitas didesain sebagai upaya
nasional untuk mengurangi korupsi yang meliputi
sistem integritas. Sistem ini juga bertujuan
untuk membangun akuntabilitas dari pilar-pilar
yang menopang integritas nasional. Hal-hal
yang harus dipedomani dalam sistem integritas
Gambar 4.
Sistem Integritas Menurut OECD
pedoman perilaku; (b) pengumuman harta
kekayaan; (c) kebijakan gratifikasi dan hadiah;
(d) pengelolaan akhir masa kerja; (e) saluran
pengaduan dan
whistler blower;
(f) pelatihan/
internalisasi integritas; (g) evaluasi eksternal
integritas; (h) pengungkapan isu integritas.
Sedangkan komponen pendukung terdiri atas:
(a) kebijakan rekrutmen dan promosi; (b)
pengukuran kinerja; (c) sistem dan kebijakan
pengembangan SDM; (d) pengadaan dan kontrak
dengan efisiensi.
Gambar 5.
5. Fokus Area
Fokus area pada masing-masing fase adalah
sebagai berikut:
1. Fase I (2011-2015)
Fokus dalam fase ini adalah pada:
1. Penanganan Kasus
Grand Corruption
dan
Penguatan Aparat Penegak Hukum.
Pengertian
Grand Corruption
adalah tindak
pidana korupsi yang memenuhi salah satu atau
lebih kriteria berikut:
a.
Melibatkan pengambil keputusan terhadap
kebijakan atau regulasi;
b.
Melibatkan aparat penegak hukum;
c.
Berdampak luas terhadap kepentingan
nasional;
d.
Kejahatan sindikasi, sistemik, dan
terorganisir.
e.
Penguatan APGAKUM dilakukan melalui
Koordinasi dan Supervisi.
2. Perbaikan Sektor Strategis terkait
kepentingan nasional (national interest),
meliputi:
a.
Ketahanan pangan plus: pertanian,
perikanan, peternakan; plus pendidikan
dan kesehatan;
b.
Ketahanan energi dan lingkungan: energi,
migas, pertambangan, dan kehutanan;
c.
Penerimaan: pajak, bea dan cukai, serta
PNBP;
d.
Bidang infrastruktur.
3. Pembangunan pondasi Sistem Integritas
Nasional (SIN).
4. Penguatan sistem politik berintegritas dan
masyarakat (CSO) paham integritas.
5. Persiapan
Fraud Control Plan.
2. Fase II (2015-2019)
Fokus pada:
1. Penanganan Kasus
Grand Corruption
dan
penguatan Aparat Penegak Hukum.
2. Perbaikan sektor strategis (melanjutkan
fokus pada kepentingan nasional).
3. Aksi Sistem Integritas Nasional (SIN),
meliputi:
a.
Eksekutif, legislatif, dan yudikatif;
b.
Dunia usaha;
c.
CSO
(Civil Society Organization).
4. Implementasi Fraud Control Plan.
3. Fase III (2019-2023)
Fokus dalam fase ini adalah pada:
1. Optimalisasi penanganan sektor strategis
(melanjutkan fokus pada kepentingan
nasional.
2. Optimalisasi Sistem Integritas Nasional (SIN),
meliputi:
a.
Eksekutif, legislatif, dan yudikatif;
b.
Dunia usaha;
c.
CSO
(Civil Society Organization).
3. Penanganan Fraud yang dilakukan oleh
Penyelenggara Negara.
RENCANA STRATEGIS KPK 2011 - 2015
Rencana Strategis (Renstra) KPK Tahun
2011-2015 telah disahkan melalui Keputusan
Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi Nomor
KEP-124B/01-52/02/2012 tanggal 29 Februari
2012. Dokumen Renstra KPK ini secara garis
besar memuat visi, misi, fokus area, tujuan dan
sasaran strategis yang akan dicapai organisasi
pada tahun 2011 s.d. 2015. Perjalanan panjang
organisasi KPK dalam mengemban tugasnya
tidak dapat dipisahkan dari dinamika lingkungan
internal dan eksternal yang berpengaruh bagi
eksistensi organisasi. Langkah-langkah strategis
dan operasional yang merupakan kunci sukses
bagi organisasi akan diuraikan dalam arah dan
kebijakan tahunan KPK.
1. Visi
Visi (Vision) merupakan gambaran masa depan
yang hendak diwujudkan. Visi harus bersifat
praktis, realistis untuk dicapai, dan memberikan
tantangan serta menumbuhkan motivasi yang
kuat bagi pegawai KPK untuk mewujudkannya.
Visi KPK adalah:
“Menjadi lembaga penggerak pemberantasan
korupsi yang berintegritas, efektif, dan efisien”.
dengan penjelasan:
1. Lembaga penggerak pemberantasan korupsi:
selain sebagai pelaku, KPK juga berperan
sebagai pemicu dan pemberdayaan (trigger)
lembaga lain dalam pemberantasan korupsi.
2. Pemberantasan korupsi: serangkaian
tindakan untuk mencegah dan memberantas
TPK melalui upaya koordinasi, supervisi,
monitor, penyelidikan, penyidikan,
penuntutan, dan pemeriksaan di sidang
pengadilan, dengan peran serta masyarakat
berdasarkan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
3. Berintegritas: menjalankan organisasi secara
kompeten, transparan, dan akuntabel,
dengan tetap melakukan interaksi secara
luas tanpa ada penyimpangan
(zero
tolerance).
5. Efisien: pemanfaatan sumber daya pemangku
kepentingan
(stakeholders)
pemberantasan
korupsi secara optimal.
2. Misi
Misi
(Mission)
merupakan jalan pilihan untuk
menuju masa depan. Sesuai dengan bidang
tugas dan kewenangan KPK, misi KPK adalah:
1. Melakukan koordinasi dengan instansi yang
berwenang melakukan pemberantasan TPK;
2. Melakukan supervisi terhadap instansi yang
berwenang melakukan pemberantasan TPK;
3. Melakukan penyelidikan, penyidikan, dan
penuntutan terhadap TPK;
4. Melakukan tindakan-tindakan pencegahan
TPK;
5. Melakukan monitor terhadap
penyelenggaraan pemerintahan negara.
3. Fokus Area
Fokus pelaksanaan tugas KPK pada Renstra KPK
2011-2015 sebagaimana telah ditetapkan dalam
Road Map KPK 2011-2025 adalah sebagai berikut:
1. Penanganan Kasus
Grand Corruption
dan
Penguatan APGAKUM.
2. Perbaikan Sektor Strategis terkait
kepentingan nasional (national interest).
Bidang infrastruktur.
3. Pembangunan pondasi Sistem Integritas
Nasional (SIN).
4. Penguatan sistem politik berintegritas dan
masyarakat (CSO) paham integritas.
5. Persiapan pembangunan
Fraud Control
Plan.
4. Tujuan dan Sasaran Strategis
Tujuan strategis (ultimate goal) KPK adalah
sebagai berikut: ”Efektivitas dan Efisiensi
Pemberantasan (Pencegahan dan Penindakan)
Korupsi”, yang diukur keberhasilannya dengan 2
(dua) indikator, yaitu:
1. Indeks Penegakan Hukum (IPH) atau
Law
Enforcement Index;
2. Tingkat Keberhasilan Pemberantasan
Korupsi oleh KPK (Skala 1-10).
Pada masing-masing fokus area KPK terdiri atas
sasaran strategis
(strategic objectives)
termasuk
indikator keberhasilannya.
5. Strategi Pencapaian Tujuan dan
Sasaran
Untuk pencapain tujuan dan sasaran KPK,
strategi yang digunakan adalah:
1. Pencegahan yang Terintegrasi
Pencegahan dilakukan secara terintegrasi dalam
satu “paket Pencegahan KPK” yakni dalam
rangka membangun Sistem Integritas Nasional
(SIN) sesuai dengan fokus area pada
masing-masing fase.
Pencegahan diawali dengan kajian komprehensif
terhadap sistem atau peraturan atau prosedur
pada fokus area yang potensial/rawan terjadi
korupsi, kemudian diberikan rekomendasi/saran
perbaikan, dan dipantau implementasinya oleh
KPK hingga tuntas. Secara pararel, dilakukan
juga pendidikan dan kampanye tentang SIN
FOKUS AREA SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KEBERHASILAN
Penanganan Kasus Grand Corruption dan Penguatan APGAKUM
Keberhasilan Penanganan Kasus Grand Corruption
# Kasus (Pokok Kasus) Grand Corruption
Efektivitas Penanganan Perkara
Korupsi oleh APGAKUM Conviction RateDisupervisi Kasus yang
Perbaikan Sektor Strategis terkait Kepentingan Nasional
Meningkatnya Kinerja pada Sektor Strategis
Indeks Kinerja Sektor Strategis (Survey)
Pembangunan Pondasi Sistem
Integritas Nasional (SIN) Terwujudnya Pelembagaan SIN secara Formal % Pelembagaan SIN
Penguatan Sistem Politik Berintegritas dan Masyarakat (CSO) Paham Integritas
Terbangunnya Integritas di Sektor Politik
Indeks Integritas Sektor Politik (Survey)
Persiapan Fraud Control Terbangunnya Konsep Fraud Control
sebagai Sistem Pemberantasan Korupsi yang Terintegrasi
% Pembangunan Konsep dan Disain
Fraud Control
Pembangunan Kelembagaan KPK Terwujudnya Integritas Organisasi
KPK
Indeks Integritas KPK (Survey)
Tabel 1.