BAB II KONSEP, KERANGKA TEORI, DAN
2.3 Penelitian Terdahulu
Penelitian ekolinguistik adalah penelitian yang masih terbatas, khususnya penelitian yang berhubungan dengan ekologi kesungaian Lau Bingei. Berkenaan dengan pembahasan penelitian ini, beberapa penelitian yang memberikan kontribusi buat penelitian ini antara lain akan diuraikan sebagai berikut:
2.3.1 Potensi Kepunahan Bahasa pada Komunitas Melayu Langkat di Stabat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Adisaputera, 2009)
Penelitian Kepunahan Bahasa pada Komunitas Melayu Langkat di Stabat dilakukan terhadap 230 orang responden remaja sebagai sampel dari sekitar 1.500 orang populasi. Sumber data yang digunakan adalah pengakuan diri (self report) dengan memilih jawaban yang tersedia pada instrumen kuesioner. Di samping kuesioner, data diperoleh melalui pengamatan langsung dengan cara pengamatan berpartisipasi.
Dari hasil penelitian disimpulkan ada sejumlah fakta dan data yang ditemukan terkait dengan lingkungan bahasa dan dominasi penggunaan bahasa antara BML dengan BI pada komunitas remaja. Fakta dan data yang ditemukan mengarah kepada munculnya pergeseran bahasa dari BML ke BI. Hal ini ditandai oleh beberapa hal (1) tingginya penggunaan BI dalam interaksi komunikasi sehari-hari (20%) walaupun pada wilayah yang dominan Melayu, (2) hampir 50% responden (47,4%) menyatakan bahwa B1 mereka bukanlah BML, (3) persentase responden yang tidak paham dan tidak lancar menggunakan BML (64,8%) hampir dua kali persentase responden yang paham dan lancar menggunakan BML (35,2%), (4) tingginya persentase responden yang tidak paham dan tidak lancar menggunakan BML pada kawasan yang etnisnya dominan muncul dengan BML (24,3%), (5) dari 52,6% yang menguasai BML sejak pandai berbahasa, hanya 33,9% yang memahami dan lancar menggunakannya. Pergeseran bahasa yang terjadi pada komunitas remaja di Stabat mengarah pada arah kepunahan bahasa. Pada kriteria bahasa yang terancam punah maka bahasa Melayu dalam kondisi yang potensial terancam punah. Ada dua indikator sebagaimana fakta dan
data pergeseran bahasa yang terungkap untuk ini, yakni tekanan berat dari bahasa yang lebih besar yaitu BI dan awal hilangnya penutur anak-anak.
Mengingat penelitian ekolinguistik yang belum terlalu banyak, penelitian ini memberikan kontribusi teori-teori ekolinguistik terhadap penelitian yang akan dilakukan sehingga penulis termotivasi untuk meneliti leksikon kesungaian Lau Bingei: Kajian Ekolinguistik. Kajian leksikon dapat dikatakan belum pernah diteliti.
Perbedaan penelitian Adisaputera dengan penelitian ini, Adisaputera membahas pergeseran menuju arah kepunahan bahasa Melayu di Stabat sedangkan penelitian ini adalah pemahaman guyub tutur bahasa Karo terhadap leksikon ekologi kesungaian Lau Bingei, nilai budaya, dan kearifan lingkungan melalui leksikon ekologi kesungaian Lau Bingei.
2.3.2 Penyusutan Tutur dalam Masyarakat Gayo: Pendekatan Ekolinguistik (Yusradi Usman, 2010)
Penyusutan Tutur dalam Masyarakat Gayo: Pendekatan Ekolinguistik yang dilakukan oleh Yusradi Usman pada tahun 2010 menggunakan metode penelitian kualitatif. Topik dan karakteristik masalah yang dirumuskan dengan penelitian kaji tindak (action research).
Hasil penelitian ini adalah (1) konsep tutur dalam masyarakat Gayo; munculnya tutur dalam masyarakat Gayo tidak berdiri sendiri melainkan ada faktor sosial budaya yang merangkainya. Hal tersebut tidak terlepas dari nilai
budaya Gayo yang terdiri dari pelbagai nilai. Nilai-nilai yang dimaksud adalah
imen (iman), mukemel (harga diri), tertip (tertib), setie (setia), semayang gemasih
(kasih sayang), mutentu (kerja keras), amanah (amanah), genap mupakat
(musyawarah), alang tulung (tolong menolong), dan bersikemelen (kompetitif). Hubungan darah perkawinan, belah (klan), terjadinya kecelakaan, perkelahian, membantu seseorang, dan mengadopsi anak merupakan perangkai sosial yang membentuk tutur dalam masyarakat Gayo. (2) klasifikasi, bentuk, dan fungsi tutur; tutur dalam masyarakat Gayo diklasifikasikan menjadi 1) patut atau mu perdu (bentuk tutur yang sudah baku); 2) museltu (terbentuk akibat faktor tertentu); 3) mantut (peralihan tutur ke bentuk yang sebenarnya/ seharusnya); 4)
uru-uru (tindak betutur didorong akibat ikut-ikutan); 5) gasut (pemakaian tutur yang kerap berubah-ubah. (3) penyusutan tutur; perubahan sosio-ekologis yang terjadi didataran tinggi tanoh Gayo sangat memengaruhi penyusutan tutur. Terlebih di Takengon yang dikenal dengan pluralitas etnik yang lebih dari delapan etnik. Keragaman situasi itu membuat terjadinya kontak antar etnik, bahasa, dan budaya. Kondisi tersebut sangat mempengaruhi masyarakat Gayo baik secara psikologis maupun secara sosial khususnya dalam bertutur. (4) bentuk tutur baru (variasi tutur); empat hal yang terjadi perihal tutur, yaitu a) tetap, b) jarang, dan c) tidak dipakainya lagi tutur, serta d) terciptanya bentuk tutur baru.
Penelitian penyusutan tutur dalam masyarakat Gayo: pendekatan ekolinguistik yang dilakukan oleh Yusradi Usman, memberikan kontribusi dalam hal teori-teori ekolinguistik. Perbedaan penelitian Usman dengan penelitian ini adalah penelitian Usman mengenai penyusutan tutur sedangkan
penelitian ini pemahaman guyub tutur terhadap leksikon kesungaian, nilai budaya, dan kerarifan lingkungan.
2.3.3 Pengetahuan dan Sikap Remaja Terhadap Tanaman Obat Tradisional di Kabupaten Buleleng dalam Rangka Pelestarian Lingkungan: Sebuah Kajian Ekolinguistik (Rasna, 2010)
Penelitian yang dilakukan oleh Rasna dalam meneliti ”Pengetahuan dan Sikap Remaja Terhadap Tanaman Obat Tradisional di Kabupaten Buleleng dalam Rangka Pelestarian Lingkungan: Sebuah Kajian Ekolinguistik” bersifat eksploratif. Informasi diperoleh dengan teknik wawancara untuk memperoleh data pengetahuan tanaman obat tradisional dengan bantuan kuesioner terstruktur.
Hasil penelitian menyimpulkan secara ekolinguistik adanya penyusutan bentuk leksikal tumbuhan/tanaman obat pada para remaja sehingga para remaja tidak lagi mengenal bentuk leksikal sekapa (gadung), kusambi, nagasari, kundal, antasari, bahkan tidak semua remaja tahu beluntas. Hal ini terjadi akibat: (a) adanya perubahan sosiokultural, (b) perubahan sosioekologis secara fisik, dan (c) faktor sosioekonomis.
Kontribusi penelitian ini terhadap penelitian yang akan dilakukan adalah memberikan contoh bagaimanakah sikap remaja terhadap penguasaan leksikon tanaman obat. Perbedaan penelitian Rasna dengan penelitian Leksikon Ekologi Kesungaian Lau Binge tidak terbatas pada tanaman obat tradisional melainkan semua biota yang ada di sekitar sungai.
2.3.4 Leksikon Nomina Bahasa Gayo dalam Lingkungan Kedanauan Lut
Tawar: Kajian Ekolinguistik (Sukhrani, 2010)
Metode penelitian yang digunakan oleh Sukhrani adalah metode penelitian kualitatif. Data leksikon nomina bahasa Gayo terkait dengan lingkungan ragawi Lut Tawar diperoleh melalui dokumen tertulis, observasi nonpartisipan, dan wawancara mendalam.
Hasil penelitian ini adalah (1) saat ini sebagian besar penutur bahasa Gayo pria dan wanita dari masing-masing kelompok usia masih mengenal dan sering mendengar maupun menggunakan leksikon nomina bahasa Gayo yang berhubungan dengan lingkungan kedanauan Lut Tawar, (2) leksikon kedanauan
Lut Tawar yang diteliti tingkat pemahamannya lebih didominasi nomina karena begitu beragam dan kayanya Lut Tawar akan nama biota dalam dan sekitar danau dan nama alat tangkap ikan, dan (3) leksikon nomina bahasa Gayo dalam lingkungan kedanauan Lut Tawar sebagian besar masih dikenal dan digunakan dalam berkomunikasi. Faktor penyebab kebertahanan leksikon nomina tersebut adalah karena biodiversitas lingkungan sekitar danau, penutur dari masing- masing kelompok usia masih berinteraksi dengan lingkungan ragawi yang beragam, dan penutur dari masing-masing kelompok usia masih sering berbahasa Gayo dalam keseharian.
Penelitian Sukhrani memberikan kontribusi terhadap penelitian ini dalam hal teori-teori ekolinguistik. Perbedaan penelitian penulis dengan penelitian yang telah diuraikan sebelumnya adalah penelitian yang berjudul ”Leksikon Ekologi Kesungaian Lau Binge: Kajian Ekolinguistik” mengacu kepada daerah
kesungaian Lau Binge dengan objek kajian bahasa Karo. Tidak terbatas pada nomina melainkan nomina dan verba serta nilai budaya dan kearifan lingkungan yang dapat menjaga kelestarian lingkungan kesungaian Lau Binge.
2.3.5 Ketahanan Khazanah Lingual Pertanian Guyub Tutur Bahasa Bima dalam Perspektif Ekolinguistik Kritis, (Umiyati, 2011)
Penelitian ketahanan khazanah lingual pertanian guyub tutur bahasa Bima dilakukan dengan menghimpun leksikon-leksikon, teks-teks tentang lingkungan hidup, wacana-wacana, dokumen-dokumen, publikasi serta publikasi serta hasil interview. Penelitian ini dilakukan di dua desa dan dua kelurahan yang tersebar di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu.
Hasil penelitian ini menyimpulkan ketahanan khazanah lingual pada ranah pertanian masih sangat terjaga, ditandai dengan kemunculan sejumlah leksikon khas ranah pertanian dalam sejumlah metafora dan ungkapan-ungkapan yang lahir dari kearifan lokal setempat. Dalam pandangan ekolinguistik pandangan green grammar dijadikan sebagai bentuk struktur yang ideal untuk menyelaraskan kalimat/klausa yang ada pada guyub tutur ini dengan alam.
Penelitian yang berjudul Ketahanan Khazanah Lingual Pertanian Guyub Tutur Bahasa Bima dalam Persfektif Ekolinguistik Kritis ini memberikan kontribusi terhadap penelitian yang akan dilakukan dalam hal teori ekolinguistik yang terbilang baru di Indonesia dalam usaha pelestarian lingkungan.
Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh Umiyati dengan penelitian ini adalah penelitian Umiyati mengenai bentuk metafora dari sejumlah leksikon
pertanian dan pandangan kajian green grammar dalam ungkapan-ungkapan pelestarian alam lingual pertanian guyub tutur bahasa Bima. Penelitian ini mendeskripsikan pemahaman leksikon kesungaian Lau Binge dan mendeskripsikan nilai budaya serta kearifan lingkungan yang terdapat pada leksikon ekologi kesungaian Lau Bingei guyub tutur bahasa Karo.
2.3.6 Tradisi Lisan Upacara Perkawinan Adat Tapanuli Selatan (Pemahaman Leksikon pada Remaja di Padang Sidempuan),
(Amri, 2011)
Penelitian yang dilakukan Amri (2011) menggunakan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Ia menyimpulkan pertama, tradisi lisan pada upacara perkawinan adat Padang Sidempuan merupakan suatu kebiasaan dan masih terselenggara. Kedua, tradisi lisan upacara adat yang dianalisis adalah leksikon yang berasal dari lingkungan sebanyak 272 kata dikelompokkan menjadi 16 kelompok.
Menurut penelitian tersebut terjadi penyusutan pemahaman leksikon tradisi lisan upacara adat Tapanuli Selatan. Faktor penyebab terjadinya penyusutan pemahaman leksikon tradisi lisan pada upacara adat tersebut karena ketua adat belum maksimal mengajari adat. Lembaga adat belum mensosialisasikan adat pada remaja, pagelaran budaya adat sangat jarang dilakukan. Nilai kearifan lokal tradisi lisan upacara adat mengandung nilai gotong-royong, kerukunan, keikhlasan, identitas, kekerabatan. Kontribusi penelitian Amri terhadap penelitian leksikon kesungaian Lau Bingei adalah cara pengolahan data kuantitatif.