• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI

A. Landasan Teori 1. Kurikulum 2013

1.3 Penerapam Kurikulum 2013

Tema Kurikulum 2013 adalah menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovativ, afektif, melalui sikap, keterampilan dan pengetahuan yang terintegrasi (Mulyasa, 2013: 99). Proses

pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang pendidikan dilaksanakan dengan pendekatan ilmiah (scientific approach) dan harus menyentuh tiga ranah, yaitu sikap (attitude), keterampilan (skill), dan pengetahuan (knowledge). Proses pembelajaran scientific

merupakan perpaduan antara proses pembelajaran yang semula terfokus pada eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi dilengkapi dengan mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan mengkomunikasikan (Kemendikbud 2013). Dalam pelaksanaanya siswa dituntut untuk aktif dan mencari sumber- sumber belajar yang relevan. Di dalam pembelajaran dengan pendekatan scientific, peserta didik mengkonstruksi pengetahuan bagi dirinya. Bagi peserta didik, pengetahuan yang dimilkinya bersifat dinamis, berkembang dari sederhana menuju kompleks, dari ruang lingkup dirinya dan sekitarnya menuju ruang lingkup yang lebih luas, dan dari yang bersifat konkrit menuju abstrak (Nasution, 2006). Untuk mewujudkan hal tersebut, dalam implementasi kurikulum guru dituntut profesional merancang pembelajaran yang efektif dan bermakna (menyenangkan), mengorganisasikan pembelajaran, memilih pendekatan pembelajaran yang tepat, menentukan prosedur pembelajaran dan pembentukan kompetensi secara efektif serta menerapkan kriteria keberhasilan (Mulyasa, 2013: 99).

a. Merancang pembelajaran efektif dan bermakna

Implementasi Kurikulum 2013 merupakan aktualisasi kurikulum dalam pembelajaran dan pembentukan kompetensi serta karakter peserta didik. Hal tersebut menentukan keaktifan guru dalam menciptakan dan menumbuhkan berbagai kegiatan sesuai dengan rencana yang telah diprogamkan. Dalam hal ini guru harus dapat mengambil keputusan atas dasar penilaian yang tepat ketika peserta didik belum dapat membentuk kompetensi dasar, apakah kegiatan pembelajaran dihentikan, diubah metodenya, atau mengulang dulu pembelajaran yang lalu. Guru harus menguasai prinsip-prinsip pembelajaran, pemilihan dan penggunaan media pembelajaran, keterampilan menilai hasil-hasil belajar peserta didik, serta memilih dan menggunakan strategi serta pendekatan pembelajaran. Kompetensi-kompetensi tersebut merupakan bagian yang integral bagi seorang guru sebagai tenaga professional yang hanya dapat dikuasai dengan baik melalui pengalaman praktik yang intensif. Pembelajaran menyenangkan, efektif dan bermakna dapat dirancang oleh semua guru, dengan prosedur sebagai berikut: 1. Pemanasan dan apersepsi

Pemanasan dan apersepsi perlu dilakukan untuk menjajaki pengetahuan peserta didik, memotivasi peserta didik dengan menyajikan materi yang menarik dan mendorong

mereka untuk mengetahui hal baru. Pemanasan dan apersepsi ini dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut:

a. Pembelajaran dimulai dengan hal-hal yang diketahui dan dipahami oleh peserta didik.

b. Peserta didik dimotivasi dengan bahan ajar yang menarik dan berguna bagi kehidupan mereka.

c. Peserta didik digerakkan agar tertarik dan bersemangat untuk mengetahui hal-hal yang baru.

2. Eksplorasi

Eksplorasi merupakan tahap kegiatan pembelajaran untuk mengenalkan bahan dan mengaitkannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik. Hal tersebut dapat ditempuh dengan prosedur sebagai berikut:

a. Perkenalkan materi standar dan kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh peserta didik.

b. Kaitkan materi standar dan kompetensi dasar yang baru dengan pengetahuan dan kompetensi yang sudah dimiliki peserta didik.

c. Pilihlah metode yang paling tepat dan digunakan secara bervariasi untuk meningkatkan penerimaan peserta didik terhadap materi standar dan kompetensi baru.

3. Konsolidasi pembelajaran

Konsolidasi merupakan kegiatan untuk mengaktifkan peserta didik dalam pembentukan kompetensi dan karakter, serta menghubungkan dengan kehidupan peserta didik. Konsolidasi pembelajaran dapat diterapkan dengan prosedur sebagai berikut:

a. Libatkan peserta didik secara aktif dalam proses pemecahan masalah (problem solving), terutama dalam masalah-masalah aktual.

b. Letakkan penekanan pada kaitan struktural, yaitu kaitan antara materi standar dan kompetensi baru dengan berbagai aspek kegiatan dalam kehidupan lingkungan masyarakat. c. Pilihlah metode yang paling tepat sehingga materi standar

dapat diproses menjadi kompetensi dan karakter peserta didik.

4. Pembentukan sikap, kompetensi dan karakter.

Pembentukan sikap, kompetensi dan karakter dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut:

a. Dorong peserta didik untuk menempatkan konsep, pengertian, kompetensi, dan karakter yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari.

b. Praktikan pembelajaran secara langsung agar peserta didik dapat membangun sikap, kompetensi, dan karakter baru dalam kehidupan berdasar pengertian yang dipelajari. c. Gunakan metode yang paling tepat agar terjadi perubahan

sikap, kompetensi dan karakter peserta didik secara nyata. 5. Penilaian formatif

Penilaian formatif perlu dilakukan untuk perbaikan, dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

a. Kembangkan cara-cara untuk menilai hasil belajar peserta didik.

b. Gunakan hasil penilaian tersebut untuk menganalisis kelemahan atau kekurangan peserta didik dan masalah-masalah yang dihadapi guru dalam membentuk karakter dan kompetensi peserta didik.

c. Pilih metodologi yang paling tepat sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai

b. Mengorganisasikan pembelajaran

Implementasi Kurikulum 2013 menuntut guru untuk mengorganisasikan pembelajaran secara efektif. Ada empat hal yang perlu diperhatiakan berkaitan dengan pengorganisasian pembelajaran dalam implementasi Kurikulum 2013, yaitu pelaksanaan pembelajaran, pengadaan dan pembinaan tenaga ahli,

pendayagunaan lingkungan dan sumber daya masyarakat, serta perkembangan dan penataan kebijakan.

1. Pelaksanaan Pembelajaran

Pembelajaran dalam Kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan kompetensi, hendaknya dilaksanakan berdasarkan kebutuhan dan karakteristik peserta didik, serta kompetensi dasar pada umumnya.

2. Pengadaan dan Pembinaan Tenaga Ahli

Dalam implementasi Kurikulum 2013 diperlukan pengadaan dan pembinaan tenaga ahli, yang memiliki sikap, pribadi, kompetensi dan keterampilan yang berkaitan dengan pembelajaran berbasis kompetensi dan karakter. Hal ini sangat penting dilaksanakan, karena berkaitan dengan deskripsi kerja yang akan dilakukan oleh masing-masing tenaga kependidikan. 3. Pendayagunaan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar

Dalam rangka mensukseskan implementasi Kurikulum 2013, perlu didayagunakan lingkungan sebagai sumber belajar secara optimal. Untuk kepentingan tersebut, para guru fasilitator dituntut untuk mendayagunakan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial serta menjalin kerjasama dengan unsur-unsur terkait yang dipandang dapat menunjang upaya pengembangan mutu dan kualitas pembelajaran.

4. Pengembangan Kebijakan Sekolah

Implementasi kurikulum perlu didukung kebijakan-kebijakan kepala sekolah. Kebijakan yang jelas dan baik akan dapat memberikan kelancaran dan kemudahan dalam implementasi pembelajaran berbasis karakter dan kompetensi.

c. Memilih dan Menentukan Pendekatan Pembelajaran

Implementasi Kurikulum 2013 berbasis kompetensi dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan. Pendekatan tersebut antara lain pendekatan pembelajaran kontekstual (contekstual teaching and learning), bermain peran (role play), belajar tuntas (mastery learning), dan pembelajaran partisipatif.

1. Pembelajaran Kontekstual (Contekstual Teaching and Learning)

Pembelajaran kontekstual (contekstual teaching and learning) yang sering disingkat dengan CTL merupakan salah satu model pembelajaran berbasis kompetensi yang dapat digunakan untuk mengefetifkan dan mensukseskan implementasi Kurikulum 2013. CTL merupakan konsep pembelajaran yang menekankan keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata, sehingga peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari.

2. Bermain Peran (Role Play)

Guru yang kreatif senantiasa mencari pendekatan-pendekatan baru dalam memecahkan masalah, tidak terpaku pada cara tertentu yang monoton, melainkan memilih variasi lain yang sesuai. Bermain peran merupakan salah satu alternatif yang dapat dipilh. Hasil penelitian dan percobaan yang dilakukan para ahli menunjukkan bahwa bermain peran merupakan salah satu model yang dapat digunakan secara efektif. Dalam hal ini bermain peran diarahkan pada pemecahan masalah-masalah yang menyangkut hubungan dengan kehidupan peserta didik. 3. Belajar Tuntas (Mastery Learning)

Belajar tuntas berasumsi bahwa di dalam kondisi yang tepat, semua peserta didik mampu belajar dengan baik dan memperoleh hasil yang maksimal terhadap seluruh materi yang dipelajari. Belajar tuntas banyak diimplementasikan pada sistem pembelajaran individual, mulai dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Sistem belajar tuntas mencapai kondisi yang optimal ketika ditunjang oleh sejumlah media, baik perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software), termasuk penggunaan komputer (internet) untuk mengefektifkan proses belajar.

4. Pembelajaran Partisipatif (Partisipative Teaching and Learning)

Pembelajaran partisipatif sering diartikan sebagai keterlibatan peserta didik dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran. Indikator pembelajaran partisipatif antara lain dapat dilihat dari: keterlibatan emosional dan mental peserta didik untuk memberikan kontribusi dalam mencapai tujuan dan dalam pembelajaran terdapat hal yang menguntungkan peserta didik.

d. Melaksanakan Pembelajaran, Pembentukan Kompetensi, dan Karakter

Pembelajaran dalam menyukseskan implementasi Kurikulum 2013 merupakan keseluruhan proses belajar. Pada umumnya kegiatan pembelajaran mencakup kegiatan awal atau pembukaan, kegiatan inti atau pembentukan kompetensi dan pembentukan karakter, serta kegiatan akhir atau penutup.

1. Kegitan Awal atau Pembukaan

Kegitan awal atau pembukaan pembelajaran berbasis kompetensi dalam menyukseskan implementasi Kurikulum 2013 mencakup pembinaan keakraban danpre-test.

2. Kegiatan Inti atau Pembentukan Kompetensi dan Karakter Kegiatan inti pembelajaran antara lain mencakup penyampaian informasi, membahas materi standar untuk membentuk

kompetensi dan karakter peserta didik, serta melakukan tukar pengalaman dan pendapat dalam membahas materi standar atau memecahkan masalah yang dihadapi bersama. Pembentukan kompetensi dan karakter ini ditandai keikutsertaan peserta didik dalam pengelolaan pembelajaran (participative teaching and learning), berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab mereka dalam menyelenggarakan progam pembelajaran.

3. Kegiatan Akhir atau Penutup

Kegiatan akhir pembelajaran atau penutup dapat dilakukan dengan memberikan tugas, dan pos tes. Tugas yang diberikan merupakan tindak lanjut dari pembelajaran inti atau pembentukan kompetensi, yang berkenaan dengan materi standar yang telah dipelajari maupun materi yang akan dipelajari berikutnya.

e. Menetapkan Kriteria Keberhasilan

Keberhasilan implementasi Kurikulum 2013 dalam pembentukan kompetensi dan karakter dapat dilihat dari segi proses dan dari segi hasil. Selain itu, keberhasilan implementasi Kurikulum 2013 berbasis kompetensi dan karakter dapat dilihat dalam jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. 2. Pendekatan Scientific

2.1 Pengertian

pembelajaran tersebut dilakukan melalui proses ilmiah. Apa yang dipelajari dan diperoleh peserta dilakukan dengan indra dan akal pikiran sendiri sehingga mereka mengalami secara langsung dalam proses mendapatkan ilmu pengetahuan (Fadlillah, 2014:175). Menurut Hosnan (2014: 34), pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengkonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati, merumuskan masalah, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis, menarik kesimpulan dan mengkomunikasikan. Menurut Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, pendekatan ilmiah merupakan pendekatan yang merujuk pada teknik-teknik investigasi atas fenomena atau gejala, memperoleh pengetahuan baru, atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan baru, atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya. Untuk dapat disebut ilmiah, metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti- bukti dari objek yang dapat diobservasi, empiris, dan terukur dengan prinsip- prinsip penalaran yang spesifik. Karena itu, pendekatan ilmiah umumnya memuat serial aktivitas pengoleksian data melalui observasi dan eksperimen, kemudian memformulasi dan menguji hipotesis.

Dokumen terkait