Analisa & Perancangan Kerja
2.4 Penerapan data Anthropometri
sehingga didapat SD = 8,8/100 x(510) = 44,9 mm ~ 45 mm dan untuk nilai 5 percentile di dapat =
X
k - 1,645.SD = 510 – 1,645 ( 45 ) = 436 mm .Sekiranya belum ada statu data antropometri untuk populasi yang tersedia , maka perkiraan untuk dimensi yang belum diketahui dapat dibuat dengan mengasumísikan bahwa masing-masing dimensi adalah sebanding dengan dimensi yang telah diketahui. Caranya adalah dengan perhitungan relatif terhadap proposional dimensi . Jadi data yang paling baik adalah didapat dari pengukuran langsung terhadap dimensi tubuh yang diingini dengan menggunakan populasi yang sesuai.
2.4 Penerapan data Anthropometri
Penggunaan data antropometri dalam penerapan perancangan produk atau tempat kerja perlu diperhatian dimensi yang hipotesis yaitu menganggap bahwa semua dimensi adalah merupakan rata-rata. Walaupun hanya penggunaan satu dimensi saja, seperti misalnya jangkauan kedepan, maka penggunaan rata-rata (50 percentil) dalam penyesuaian pemasangan alat control akan menghasilkan bahwa 50 % populasi akan tidak mampu menjangkaunya. Selain dari itu , jika seseorang mempunyai dimensi rata-rata populasi , katakanlah tinggi badan , maka belum tentu bahwa dia berada pada rata-rata populasi untuk dimensi lainnya.
Contoh perancangan dengan menggunakan data antropometri statis, misalnya rancangan tinggi pintu, dalam perancangan ini cukup beralasan jika menggunakan 99 percentil populasi pria yang diperkirakan akan menggunakan pintu tersebut. Dan hal ini hanya akan mengakibatkan 1 % populasi pria yang terantuk pada saat melewati pintu tersebut.
Dengan menggunakan data tabel 5.1 untuk orang Inggris , dengan dimensi nomor satut (1) tinggi tubuh posisi tegak (x) = 1740 mm dan SD = 70 mm .
Nilai 99 percentil tersebut adalah mengaplikasikan rumus = X + 2,325 SD. = 1740 + (2,325 x 70) = 1903 mm.
Perlu juga adanya penambahan kelonggaran dinamis (dynamic clearance) , karena tinggi badan masusia akan relatif bertambah jika berlari yang disebut sebagai pengaruh dinamis ( dynamic effect ) dan kemungkinan penambahan penggunaan
alat (asesoris) misalnya topi, sepetu. Jika kelonggaran dinamis = 50 mm, tinggi topi = 50 mm dan tinggi sepatu = 30 mm.
Sehingga total tinggi pintu = 1903 + 50 + 50 + 30 = 2033 mm.
Ini adalah tinggi pintu yang sesuai dengan perancangan riil. Sedangkan Standard British tinggi pintu adalah 2040 mm.
Coba saudara buat rancangan untuk lebar pintu ?.
Perancangan kursi kerja harus dikaitkan dengan jenis pekerjaan, posture yang diakibatkan, gaya yang dibutuhkan, arah visual (pandangan mata) , kebutuhan akan perlunya perubahan posisi (posture). Kursi tersebut haruslah terintegrasi dengan bangku atau meja yang sering dipakai .
Kursi untuk kerja dengan posisi duduk adalah dirancang dengan metoda “ floor – up “ yaitu dengan berawal pada permukaan lantai, untuk menghindari adanya tekanan dibawah paha. Setelah ketinggian kursi didapat kemudian haruslah menentukan ketinggian meja kerja yang sesuai dan konsisten dengan ruang yang diperlukan untuk paha dan lutut. Jika meja dirancang untuk tetap (tidak dapat dinaik-turunkan) , maka perancangan kursi hendaknya dapat dinaik-turunkan sesuai dengan ketinggian meja, sehingga perlu adanya sandaran kaki.
Suatu studi yang dilakukan oleh Joan S. ward , studi ditunjukan untuk mengetahui ketinggian permukaan kerja yang optimum untuk suatu dapur. Ketinggian sampling sejumlah ibu-ibu rumah tangga menunjukan bahwa 23 % waktu mereka dihabiskan didapur , 34 % di wastafel dan tempat cuci, 14 % dipermukaan meja kerja, 14 % dimeja, 13 % ditungku kompor.
Fleksibilitas dan penyesuaian yang didapat dalam rentang sebagai berikut :
Wastafel (sink) : 1014 – 1067 mm
Permukaan meja kerja ( work top) : 914 – 990 mm
Permukaan meja setrika : 838 – 990 mm Permukaan kompor (stove) : 838 – 990 mm
Sangat sulit untuk memakai rekomendasi diatas, namun untuk meja setrika ketinggiannya dapat disesuaikan.
Pendekatan yang digunakan oleh E. Grandjean (fitting the task to the man, Taylor & Francis Press,1986), yakni untuk menjamin cukup ruang bagi lutut orang dewasa , maka direkomendasikan mengambil 95th persentil dariukuran telapak kaki sampai puncak lutut (tinggi lutut) dan menambahkan kelonggaran sebagai berikut : Laki-laki : 635 + 25 (sepatu) + 25 (kelonggaran) = 685 mm
Wanita : 540 + 40 (sepatu) + 25 (kelonggaran) = 645 mm
Penambahan 40 mm untuk ketebalan puncak atas meja (kadang-kadang banyak meja yang lebih tebal) memberikan tinggi permukaan kerja yang seharusnya memberikan keleluasaan bagi gerak lutut orang dewasa. Penambahan tersebut adalah sebagai berikut : Laki-laki = 680 mm, Wanita = 645 mm.
Dari tabel antropometri (5.1) diketahui tinggi rata-rata dari siku diatas lantai jika duduk :
dimensi 14 + dimensi 9 = 440 + 245 = 685 mm ( laki-laki) atau 400 + 235 = 635 mm ( wanita).
Dengan mengasumsikan suatu koefisien variasi dari 4,5 %, 95 percenstil , maka dihitung sbb : 685 + (1,645 x 0,045 x 685) = 736 mm ( laki-laki )
635+ (1,645 x 0,045 x 635) = 682 mm ( wanita )
Dengan menambahkan hak sepatu (shoe heel) 25 mm untuk pria dan 40 mm untuk wanita, maka 95 persentil tinggi siku adalah : 761 mm pria dan 722 wanita.
Problem utama yang timbul dari kursi tinggi adalah terbatasnya gerak untuk lutut. Perancangan ulang untuk kursi yang memiliki ruang lutut lebih diinginkan. Sebuah sandaran kaki merupakan bagian yang paling penting dari suatu kursi tinggi, tanpa sandaran kaki tersebut , beban kaki bagian bawah akan dipindahkan pada sisi dalam dari lipatan paha. Untuk memberikan keleluasaan ruang posisi sandaran kaki yang seharusnya pula dibuat pada kerangka bangku tersebut. Sandaran kaki seharusnya dapat disetel untuk tinggi yang tidak tergantung pada tinggi tempat duduk, untuk panjang kaki yang lebih rendah.
Kebanggaan orang adalah dengan memiliki kursi yang bisa disetel dan mempunyai sandaran kaki. Untuk memberikan pengertian yang mudah dari posisinya lebih baik menghindari sandaran kaki dan hal ini dapat dicapai dengan membuat tinggi meja yang dapat disetel. Untuk membaca dan menulis , orang biasanya mengistirahatkan lengan pada meja sehingga perlu permukaan yang lebih tinggi. Grandjean memberi nilai antara 740 – 780 mm untuk laki-laki dan 700 – 740 mm untuk wanita.
Para operator menegakkan lengan diatas permukaan horizontal untuk jenis permukaan kerja yang terlalu tinggi dan menghasilkan penglihatan mata yang bagus . Hal ini dapat dikurangi dengan pembuatan sandaran lengan yang terbuat dari bantalan sepanjang sisi depan bangku. Fungsinya adalah dapat mengurangi benturan dengan sisi yang tajam dan mengurangi kerja otot statis. Kadangkala memang tidah mudah mencari alternatif penyelesaian konflik yang timbul antara permukaan kerja yang terlalu tinggi dengan perlihatan yang baik serta meletakkan tangan dengan rendah untuk mengurangi kelelahan.
Buku Acuan :
1. Barnes R. M, “ Motion and Time Study - Design and Measurement of Work “ , John Wiley & Sons .Inc, New York.
2. Kazarian E. A. “ Work Analisis and Design for Hotel, Restaurants and Institutions “ , Avi Publishing Company, Inc. Westport , Connecticut , Michigan.
3. Eko Nurmianto ,” Ergonomi , Konsep Dasar dan Aplikasinya “, ITSN , Surabaya.
4. Wignjosoebroto Sritomo, “ Ergonomi “ Studi Gerak dan Waktu “ ITSN , Surabaya.
BAB V II
1. Tujuan Instruksional Khusus
Diharapkan mahasiswa dapat memahami yang berkaitan dengan pengertian , pengukuran produktivitas kerja dan indeks produktivitas.
2. Daftar Materi Pembahasan 2.1. Pengertian Produktivitas 2.2. Pengukuran Produktivitas 2.3. Indeks Produktivitas 3. Pembahasan 2.1. Pengertian Produktivitas
Produktivitas pada dasarnya merupakan sikap mental yang selalu mempunyai pandangan bahwa menciptakan lebih banyak barang atau jasa bagi kebutuhan manusia, dengan menggunakan sumber daya yang terbatas . Untuk mencapai tingkat
produktivitas yang optimal , maka perlu dilakukan melalui pendekatan multidisipliner yang melibatkan semua usaha , keahlian, modal, teknologi, manajemen, informasi dan sumber-sumber daya lainnya secara terpadu untuk melakukan perbaikan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup manusia. Kata yang terkait dengan produktivitas adalah : Efektif :
Merupakan serangkaian kegiatan yang harus dilakukan secara tepat dan sebaik-baiknya, serta memberikan hasil sesuai dengan yang diharapkan.
Efisien:
Tuntutan untuk mengoptimalkan penggunaan sumberdaya (memaksimalkan output, pendapat atau profit, dan meminimalkan input atau biaya, limbah serta dampak negatif).
Analisa & Perancangan Kerja
Konsep umum produktivitas adalah suatu perbandingan antara keluaran (output) dan masukan (input) persatuan waktu.
Perbandingan antara output dengan sumber-sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan output.
Perbandingan antara : Output =
Input
Perbandingan antara : Nilai tambah =
Sumber yang terpakai
Produktifitas penciptaan nilai ekonomis. Biasa dihubungkan dengan keefektifan buruh
Output Produktifitas =
Unit waktu
Output Produktifitas =
Jam kerja buruh
Prinsip produktifitas :
1. Hari ini lebih baik dari hari kemaren 2. Tidakk ada cara terbaik.
Faktor-faktor yang mempengaruhi produktifitas : * Keefektifan buruh dan efisiensi operasi mesin * Perlengkapan dan fasilitas
* Keekonomisan penggunaan material
Peningkatan produktifitas memungkinkan untuk : * Membayar gaji pegawai dengan baik
* Memuaskan pemilik deviden
* Menjual produkk dan jasa pada harga yang rendah * Meningkatkan standard hidup dan mengurangi inflasi.
Dengan adanya perkembangan teknologi peningkatan produktifitas. * Pekerjaan fisik yang berat dan operasi yang berulang dilakukan mesin. * Lingkungan kerja yang diperbaiki
* Operator sering hanya menjadi seorang manajer.