• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerimaan Perpajakan Kebijakan Umum Perpajakan

Dalam dokumen NOTA KEUANGAN DAN ANGGARAN PENDAPATAN DA (Halaman 150-172)

PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH 3.1 Umum

3.4 Sasaran Pendapatan Negara dan Hibah Tahun 2009

3.4.1.1 Penerimaan Perpajakan Kebijakan Umum Perpajakan

Pokok-pokok kebijakan umum perpajakan pada tahun 2009 merupakan kelanjutan kebijakan umum perpajakan tahun-tahun sebelumnya, yaitu (1) program intensifikasi perpajakan; (2) program ekstensifikasi perpajakan; (3) pelaksanaan amendemen UU PPh dan PPN; dan

(4) law enforcement.

Kebijakan intensifikasi dalam tahun 2009 dilakukan melalui lima kegiatan utama yaitu

mapping, profiling, benchmarking, pemanfaatan data pihak ketiga, dan optimalisasi

pemanfaatan data perpajakan (OPDP). Kegiatan profiling akan lebih difokuskan pada perluasan pembuatan profile dan penyempurnaan profile yang sudah ada, dan selanjutnya akan dibangun dalam suatu subsistem database profil WP yang terintegrasi. Data hasil

pro-filing ini akan digunakan untuk melakukan penggalian potensi pajak. Terkait dengan kegiatan

benchmarking, dalam tahun 2009 akan diarahkan untuk menindaklanjuti hasil

benchmarking produk unggulan tahun 2008, antara lain kelapa sawit, batubara, konstruksi,

real estate, pulp and paper, consumer finance, pedagang eceran, perbankan, jasa pelayanan

kepelabuhanan, dan restoran. Selain itu, kegiatan benchmarking juga akan dilakukan untuk sektor-sektor yang diperkirakan akan mengalami booming pada tahun 2009. Lebih lanjut, sebagai salah satu bentuk kebijakan intensifikasi perpajakan, kegiatan OPDP dalam tahun 2009 akan lebih dikembangkan dengan memanfaatkan data lain seperti data obyek pajak PBB, data PIB/PEB dari Ditjen Bea dan Cukai, dan data dari pemerintah daerah berupa kepemilikan rumah mewah, mobil, dan data kependudukan.

Kebijakan ekstensifikasi pada tahun 2009 ditujukan untuk memperluas basis pajak dengan tetap melanjutkan program ekstensifikasi yang telah dilaksanakan pada tahun 2008 melalui perluasan sasaran pada sektor properti untuk perumahan dan apartemen. Untuk kebijakan

law enforcement dalam tahun 2009, dilakukan dengan melanjutkan program pemeriksaan

yang dititikberatkan pada perorangan dan badan hukum. Selain itu, law enforcement juga

dilakukan melalui penagihan yang difokuskan kepada penertiban administrasi penagihan, serta pemetaan dan pengelompokan berdasarkan kriteria-kriteria tertentu.

Selain keempat kebijakan utama tersebut, dalam rangka meningkatkan penerimaan perpajakan dalam jangka panjang, dalam tahun 2009 Pemerintah akan melaksanakan amendemen UU PPh. Amendemen UU PPh tersebut antara lain sebagai berikut: (1) perluasan lapisan tarif dan penurunan tarif PPh OP, serta penyederhanaan lapisan tarif dan penurunan tarif PPh badan; (2) kenaikan PTKP dari Rp13,2 juta menjadi Rp15,8 juta; dan (3) pemberian fasilitas tarif khusus bagi WP UMKM (50 persen dari tarif normal).

UU PPN. Amendemen UU PPN tersebut antara lain sebagai berikut: (1) menetapkan tarif nol persen terhadap ekspor jasa yang bertujuan meningkatkan daya saing sektor jasa dalam negeri; (2) menetapkan barang hasil pertambangan umum sebagai barang kena pajak; dan (3) menaikkan tarif tertinggi PPnBM dari 75 persen menjadi 200 persen. Terkait dengan kebijakan pemberian fasilitas perpajakan, Pemerintah akan tetap memberikan fasilitas PPh melalui penambahan bidang-bidang usaha tertentu dan/atau daerah tertentu.

Sementara itu, dalam rangka memperbaiki iklim investasi pada tahun 2009 Pemerintah akan melakukan harmonisasi UU Perpajakan dengan UU Penanaman Modal, antara lain melalui (1) pembebasan atau pengurangan PPh badan dalam jumlah dan waktu tertentu kepada investor yang merupakan industri pionir; (2) keringanan PBB khususnya untuk bidang usaha tertentu pada wilayah atau daerah atau kawasan tertentu; dan (3) pembebasan atau penangguhan PPN atas impor barang modal atau mesin atau peralatan untuk keperluan produksi yang belum dapat diproduksi di dalam negeri selama jangka waktu tertentu. Selain itu, Pemerintah juga akan mengubah perlakuan PPN atas sebagian barang kena pajak yang bersifat strategis dari yang semula “dibebaskan” menjadi “tidak dipungut”.

% thd Perk. % thd % thd

PDB Real. PDB PDB

Pendapatan Negara dan Hibah 895,0 20,0 962,5 20,3 985,7 18,5 I. Penerimaan Dalam Negeri 892,0 19,9 959,5 20,3 984,8 18,5 1. Penerimaan Perpajakan 609,2 13,6 633,8 13,4 725,8 13,6 a. Pajak Dalam Negeri 580,2 12,9 599,2 12,7 697,3 13,1 i. Pajak penghasilan 305,0 6,8 318,0 6,7 357,4 6,7

1. Migas 53,6 1,2 62,1 1,3 56,7 1,1

2. Nonmigas 251,4 5,6 255,9 5,4 300,7 5,6

ii. Pajak pertambahan nilai 195,5 4,4 199,8 4,2 249,5 4,7 iii. Pajak bumi dan bangunan 25,3 0,6 25,5 0,5 28,9 0,5 iv. BPHTB 5,4 0,1 5,5 0,1 7,8 0,1 v. Cukai 45,7 1,0 47,0 1,0 49,5 0,9 vi. Pajak lainnya 3,4 0,1 3,3 0,1 4,3 0,1 b. Pajak Perdagangan Internasional 29,0 0,6 34,7 0,7 28,5 0,5 i. Bea masuk 17,8 0,4 19,8 0,4 19,2 0,4 ii. Bea keluar 11,2 0,2 14,9 0,3 9,3 0,2 2. Penerimaan Negara Bukan Pajak 282,8 6,3 325,7 6,9 258,9 4,9 a. Penerimaan SDA 192,8 4,3 229,0 4,8 173,5 3,3 i. Migas 182,9 4,1 219,1 4,6 162,1 3,0 ii. Nonmigas 9,8 0,2 9,9 0,2 11,4 0,2 b. Bagian Laba BUMN 31,2 0,7 35,0 0,7 30,8 0,6 c. PNBP Lainnya 53,7 1,2 56,6 1,2 49,2 0,9 d. Pendapatan BLU 5,1 0,1 5,1 0,1 5,4 0,1 II. Hibah 2,9 0,1 3,0 0,1 0,9 0,0 Sumber : Departemen Keuangan

Tabel III.23

Pendapatan Negara dan Hibah, 2008—2009 (milliar rupiah)

Uraian

2008 2009

Di bidang kepabeanan dan cukai, di samping meningkatnya pemberian fasilitas kepabeanan

dan cukai, memasuki tahun 2009 Pemerintah akan memberlakukan penerapan free trade

zone (FTZ) di kawasan Pulau Batam, Pulau Bintan, dan Kepulauan Karimun (BBK). Dengan

diberlakukannya kebijakan FTZ ini, terdapat potensi hilangnya penerimaan bea masuk dan cukai dari wilayah BBK, yang pada gilirannya akan menyebabkan penerimaan perpajakan secara umum menurun. Untuk mengantisipasi penurunan tersebut, Pemerintah akan tetap melakukan berbagai upaya reformasi birokrasi melalui peningkatan kinerja dan peran kantor pelayanan utama (KPU). Peningkatan kinerja dan peran KPU dapat diwujudkan antara lain

melalui penerapan program national single windows (NSW) yang bertujuan untuk lebih

memberikan kemudahan dan kelancaran pelayanan kepada para pengguna jasa kepabeanan. Khusus di bidang kepabeanan, dalam tahun 2009 Pemerintah akan melakukan kebijakan harmonisasi tarif dan FTA, memberikan fasilitas kepabeanan dalam rangka mendorong investasi dan perdagangan, serta melaksanakan reformasi birokrasi kepabeanan. Sementara itu, khusus di bidang cukai hasil tembakau, Pemerintah akan tetap mengacu pada kebijakan

yang telah ditetapkan dalam Road Map IHT, yaitu dalam periode 2007—2010 kebijakan

cukai akan diprioritaskan pada aspek tenaga kerja, aspek penerimaan, dan aspek kesehatan. Selanjutnya, Pemerintah juga akan melakukan pemberantasan cukai ilegal antara lain dengan memanfaatkan dana bagi hasil cukai dan menetapkan kebijakan tarif cukai. Di sisi lain, kebijakan bea keluar dalam tahun 2009 ditujukan untuk (1) menjamin terpenuhinya permintaan dalam negeri atas komoditas strategis dalam rangka mengantisipasi pengaruh kenaikan harga di pasar internasional; (2) melindungi kelestarian sumber daya alam; dan (3) menjaga stabilitas harga barang tertentu di dalam negeri.

Penerimaan Perpajakan

Dalam tahun 2009, penerimaan perpajakan diperkirakan meningkat hingga mencapai Rp725,8 triliun. Apabila dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2008 yang mencapai Rp633,8 triliun terjadi peningkatan sebesar Rp92,0 triliun atau 14,5 persen. Secara umum, peningkatan penerimaan perpajakan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, relatif masih tingginya asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 6% ditengah kondisi krisis ekonomi yang diperkirakan masih akan berlanjut pada tahun 2009. Kedua, dilaksanakannya berbagai kebijakan perpajakan dan langkah administrasi yang ditujukan untuk optimalisasi

penerimaan perpajakan. Ketiga, semakin meningkatnya kesadaran masyarakat untuk

melaksanakan kewajiban perpajakan sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

PPh

Dengan dilaksanakannya amendemen UU PPh, akan terjadi potential loss pada penerimaan

perpajakan dalam tahun 2009, khususnya penerimaan PPh nonmigas. Namun, adanya upaya perbaikan administrasi dan peningkatan kepatuhan WP diharapkan dapat menutupi potensi kerugian tersebut. Bersamaan dengan membaiknya kondisi perekonomian baik di dalam maupun di luar negeri, penerimaan PPh dalam tahun 2009 ditargetkan meningkat hingga mencapai Rp357,4 triliun. Jika dibandingkan dengan perkiraan realisasi dalam tahun 2008 yang mencapai Rp318,0 triliun, berarti telah terjadi peningkatan sebesar Rp39,4 triliun atau 12,4 persen. Berbagai kebijakan di bidang perpajakan dan perbaikan administrasi

Boks III.3

Amendemen Undang-undang PPh

Latar Belakang

Relatif rendahnya tax ratio Indonesia jika dibandingkan dengan tax ratio negara-negara ASEAN lainnya menunjukkan bahwa penerimaan perpajakan di Indonesia masih belum optimal. Tidak optimalnya penerimaan perpajakan tersebut disebabkan oleh (1) sistem perpajakan yang dirasakan cukup rumit, banyak grey area, dan berpotensi menimbulkan tumpang tindih peraturan; (2) kurangnya kesadaran wajib pajak yang cenderung menghindari pembayaran pajak; dan (3) kondisi perekonomian yang masih didominasi oleh sektor informal dan ilegal. Dalam upaya untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang menyebabkan kurang optimalnya penerimaan perpajakan, Pemerintah senantiasa melakukan kaji ulang, evaluasi dan penyempurnaan sistem perpajakan baik secara administrasi atau yang berkaitan dengan kebijakan. Salah satu upaya tersebut adalah melalui amendemen UU PPh sebagai bagian dari amendemen undang-undang perpajakan yang telah dimulai sejak tahun 2005. Pada Juli 2008, pembahasan Undang-undang PPh sudah berhasil diselesaikan pada tahap panitia kerja. Hasil pembahasan dari panja tersebut akan dibawa ke tingkat sidang paripurna untuk tahap pengesahan dan akan mulai berlaku pada awal tahun 2009.

Tujuan

Secara umum, tujuan dari amendemen undang-undang perpajakan adalah untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi sistem perpajakan, sejalan dengan perkembangan globalisasi yang menuntut daya saing tinggi. Dengan demikian, prinsip-prinsip perpajakan yang sehat seperti persamaan (equality), kesederhanaan (simplicity), dan keadilan (fairness) dapat dicapai. Khusus untuk Undang-Undang PPh, tujuan dari amendemen tersebut adalah untuk meningkatkan kepatuhan dari WP dan memperluas basis pajak.

Pokok-Pokok Perubahan dalam Undang-Undang PPh 1 . Penurunan tarif Pajak Penghasilan:

a. bagi WP orang pribadi, tarif tertinggi diturunkan dari 35 persen menjadi 30 persen dan menghapus lapisan tarif 10 persen, sehingga lapisan tarif berkurang dari 5 (lima) menjadi

menjadi 4 (empat) lapisan serta memperluas lapisan penghasilan kena pajak (income

bracket) yang semula lapisan tertinggi sebesar Rp200 juta menjadi Rp500 juta;

b. bagi WP Badan, tarif PPh Badanmenjadi tarif tunggal. Tarif yang semula terdiri dari 3 (tiga)

lapisan yaitu 10 persen, 15 persen, dan 30 persen, menjadi tarif tunggal 28 persen di

tahun 2009 dan menjadi 25 persen mulai tahun pajak 2010.Bagi WP Badan masuk bursa

(go public) diberikan pengurangan tarif 5 persen dari tarif normal, dengan kriteria paling

sedikit 40 persen saham dimiliki oleh masyarakat (public);

c . bagi WP Badan usaha mikro, kecil dan menengah diberikan insentif berupa pengurangan tarif sebesar 50 persen dari tarif PPh badan yang berlaku terhadap bagian peredaran bruto sampai dengan Rp4,8 miliar;

d. bagi WP OP Tertentu, besarnya angsuran PPh Pasal 25 diturunkan dari 2 persen menjadi 0,75 persen dari peredaran bruto;

e. bagi WP penerima jasa yang semula dipotong Tarif PPh Pasal 23 sebesar 15 persen dari perkiraan penghasilan neto menjadi 2 persen dari peredaran bruto;

f. bagi WP OP penerima dividen yang semula dikenakan tarif PPh normal yang progresif dengan tarif sampai dengan 35 persen, dikenai tarif final sebesar 10 persen;

PTKP Lama (Rp) Baru (Rp)

- PTKP Sendiri 13.200.000 15.840.000

- Istri/Suami 1.200.000 1.320.000

- Anak 1 1.200.000 1.320.000

- Anak 2 1.200.000 1.320.000

Sumber : Departemen Keuangan Tabel PTKP

g. bagi WP yang telah mempunyai NPWP, dibebaskan dari kewajiban pembayaran Fiskal Luar Negeri sejak tahun 2009, dan pemungutan Fiskal Luar Negeri dihapus tahun 2011. Secara lengkap, perbandingan tarif yang tercakup dalam perubahan tersebut dapat dilihat sebagai berikut:

2. Penghasilan tidak kena pajak (PTKP) meningkat 20 persen. PTKP bagi orang pribadi ditingkatkan sebesar 20 persen, dari Rp13.200.000 menjadi Rp15.840.000. Sedangkan untuk tunjangan istri dan keluarga ditingkatkan sebesar 10 persen, dari Rp1.200.000 menjadi Rp1.320.000 dengan tanggungan maksimum 3 orang.

3. Penerapan tarif pemotongan/pemungutan PPh yang berbeda, yaitu

a. bagi WP penerima penghasilan dari pekerjaan yang tidak mempunyai NPWP dikenai pemotongan PPh Pasal 21 sebesar 20 persen lebih tinggi dari tarif normal;

b. bagi WP penerima penghasilan dari jasa yang tidak mempunyai NPWP dikenai pemotongan PPh Pasal 23 sebesar 100 persen lebih tinggi dari tarif normal;

c . bagi WP yang dikenakan PPh Pasal 22 yang tidak mempunyai NPWP dikenai pemungutan PPh Pasal 22 sebesar 100 persen lebih tinggi dari tarif normal.

4. Perluasan biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto, yaitu a. sumbangan yang dikeluarkan untuk keperluan beasiswa;

b. sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional;

Lapisan Tarif (Rp) Tarif Lapisan Tarif (Rp) Tarif

- PPh OP 0 - 25 juta 5% 0 - 50 juta 5%

25 - 50 juta 10% 50 - 250 juta 15%

50 - 100 juta 15% 250 - 500 juta 25%

100 - 200 juta 25% 500 juta < 30%

200 juta > 35%

- PPh Badan 0 - 50 juta 10% Tarif tunggal 28 % (2009)

50 - 100 juta 15% Tarif tunggal 25 % (2010)

100 juta > 30%

Sumber: Departemen Keuangan

Tabel Tarif PPh Orang Pribadi (OP) dan PPh Badan

pelayanan pajak merupakan salah satu faktor utama yang mendukung meningkatnya penerimaan PPh.

PPh Migas

PPh migas ditargetkan akan mencapai Rp56,7 triliun dalam tahun 2009. Dengan demikian, terjadi penurunan sebesar Rp5,4 triliun atau 8,7 persen jika dibandingkan dengan perkiraan realisasi penerimaan PPh migas tahun 2008. Faktor utama yang mempengaruhi menurunnya penerimaan tersebut adalah turunnya harga minyak mentah di pasar internasional dalam tahun 2009.

PPh Nonmigas

Dalam tahun 2009, PPh nonmigas ditargetkan akan mencapai Rp300,7 triliun. Jika dibandingkan dengan perkiraan realisasi dalam tahun 2008, terjadi peningkatan sebesar Rp44,7 triliun atau 17,5 persen. Peningkatan ini antara lain disebabkan oleh (1) semakin luasnya basis pajak sebagai dampak dari amendemen UU PPh; (2) meningkatnya daya saing dalam negeri sebagai dampak dari adanya perbaikan sistem tarif; (3) berhasilnya pelaksanaan modernisasi KPP dan sistem administrasi perpajakan; serta (4) kegiatan ekstensifikasi WP orang pribadi melalui pendataan wajib pajak.

PPh Nonmigas Sektoral

Secara sektoral, total penerimaan PPh nonmigas diperkirakan mencapai Rp282,6 triliun, meningkat Rp58,5 triliun atau 26,1 persen jika dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2008. Jumlah tersebut belum termasuk penerimaan PPh nonmigas dalam bentuk valas dan belum memperhitungkan angka restitusi.

Sebagaimana terjadi dalam tahun 2008, sektor keuangan, real estate dan jasa perusahaan

diperkirakan akan tetap menjadi kontributor utama dalam tahun 2009 dengan nilai sebesar

c . sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan serta fasilitas pendidikan yang dilakukan di Indonesia;

d. bantuan atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah, termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah;

e. biaya pembangunan infrastruktur sosial. 5. Pengecualian dari obyek PPh, yaitu

a. sisa lebih yang diterima atau diperoleh lembaga atau badan nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan dan atau bidang penelitian dan pengembangan, yang ditanamkan kembali paling lama dalam jangka waktu 4 (empat) tahun;

b. beasiswa;

c . bantuan atau santunan yang diterima dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. 6. Surplus Bank Indonesia ditegaskan kembali menjadi obyek pajak.

Rp73,5 triliun. Jika dibandingkan dengan perkiraan realisasi dalam tahun 2008, hal ini berarti terjadi kenaikan sebesar Rp13,7 triliun atau 22,9 persen. Sementara itu, sektor industri pengolahan yang merupakan kontributor terbesar kedua diperkirakan mencapai Rp70,1 triliun atau 25,2 persen lebih tinggi jika dibandingkan dengan perkiraan realisasi dalam tahun 2008. Sektor perdagangan, hotel dan restoran, sebagai kontributor terbesar ketiga, diperkirakan mencapai Rp30,2 triliun atau 29,1 persen lebih tinggi jika dibandingkan dengan perkiraan realisasi dalam tahun 2008. Besaran perkiraan penerimaan PPh nonmigas beserta

angka pertumbuhannya dalam tahun 2008 dapat dilihat secara lengkap pada Tabel III.24.

PPN dan PPnBM

Penerimaan PPN dan PPnBM dalam tahun 2009 ditargetkan sebesar Rp249,5 triliun. Jika dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2008 yang mencapai Rp199,8 triliun, target dalam tahun 2009 tersebut mengalami peningkatan sebesar Rp49,7 triliun atau 24,9 persen.

PPN Dalam Negeri Sektoral

Dalam tahun 2009, penerimaan perpajakan dari PPN dalam negeri (DN) diperkirakan mencapai Rp133,6 triliun, meningkat sebesar 23,4 persen atau senilai Rp25,3 triliun dibandingkan dengan perkiraan realisasi dalam tahun 2008. Secara umum, meningkatnya penerimaan PPN DN tersebut terutama dipengaruhi oleh sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor pertambangan migas. Sektor industri pengolahan diperkirakan akan mencapai Rp37,0 triliun dalam tahun 2009, meningkat Rp5,2 triliun atau 16,5 persen jika dibandingkan dengan perkiraan realisasi dalam tahun 2008. Sektor perdagangan, hotel dan restoran diperkirakan meningkat Rp3,7 triliun atau 19,7 persen jika

Perk. Real. % thd Total Y-o-Y (%) Perk. Real. % thd Total Y-o-Y (%)

Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Peikanan 9,8 4,4 108,0 14,9 5,3 51,3

Pertambangan Migas 17,8 7,9 27,4 21,2 7,5 18,9

Pertambangan Bukan Migas 11,9 5,3 13,3 18,0 6,4 50,9

Penggalian 0,5 0,2 121,2 1,0 0,3 78,5

Industri Pengolahan 56,0 25,0 33,5 70,1 24,8 25,2

Listrik, Gas dan Air Bersih 5,3 2,4 12,8 5,8 2,1 8,9

Konstruksi 4,7 2,1 (0,7) 6,1 2,1 27,7

Perdagangan, Hotel dan Restoran 23,4 10,4 38,8 30,2 10,7 29,1

Pengangkutan dan Komunikasi 20,2 9,0 23,9 25,1 8,9 24,3

Keuangan, Real Estate dan Jasa Perusahaan 59,8 26,7 9,1 73,5 26,0 22,9

Jasa Lainnya 10,5 4,7 (1,5) 12,0 4,3 14,6

Kegiatan yang belum jelas batasannya 4,0 1,8 2.169,9 4,8 1,7 19,0

Total 224,1 100,0 24,7 282,6 100,0 26,1

* Belum memperhitungkan PPh valas dan restitusi Sumber : Departemen Keuangan

2009

PPh Nonmigas Sektoral, 2008 - 2009

2008

Tabel III.24

dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2008, hingga mencapai Rp22,8 triliun dalam tahun 2009. Sementara itu, sektor pertambangan migas diperkirakan mencapai Rp24,1 triliun, atau tumbuh 41,4 persen jika dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2008. Besaran

perkiraan penerimaan PPN DN per sektor dalam tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel III.25.

PPN Impor

Dalam tahun 2009, penerimaan PPN impor diperkirakan akan mencapai Rp101,7 triliun. Jika dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2008, terjadi peningkatan sebesar Rp21,9 triliun atau 27,5 persen. Meningkatnya penerimaan PPN impor tersebut terutama dipengaruhi oleh sektor industri pengolahan yang diperkirakan mencapai Rp41,6 triliun atau tumbuh 18,6 persen jika dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun sebelumnya. Selanjutnya, sektor pertambangan migas diperkirakan mencapai Rp27,3 triliun, meningkat 35,6 persen atau senilai dengan Rp7,2 triliun. Sektor perdagangan, hotel dan restoran diperkirakan mencapai Rp26,1 triliun atau meningkat Rp6,9 triliun atau 36,1 persen jika dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun sebelumnya. Kontribusi dari masing-masing sektor ekonomi terhadap penerimaan PN impor dalam tahun 2009 dapat dilihat secara

lengkap pada Tabel III.26.

PBB

Terdapat 3 (tiga) faktor utama yang dijadikan dasar perhitungan perkiraan penerimaan PBB, yaitu luas, harga minyak mentah, dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Faktor luas erat kaitannya dengan perhitungan penerimaan PBB areal yang dipengaruhi

oleh luas areal onshore dan offshore. Sementara itu, besaran faktor harga minyak mentah

dan nilai tukar rupiah ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Ketiga faktor tersebut memberi

pengaruh terhadap penerimaan PBB dengan rentang waktu (lag) 1 (satu) tahun. Dengan

kata lain, besaran luas, harga minyak mentah dan nilai tukar rupiah pada tahun 2008 akan berpengaruh terhadap penerimaan PBB pada tahun 2009.

Perk. Real. % thd Total Y-o-Y (%) Perk. Real. % thd Total Y-o-Y (%)

Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Peikanan 3,4 3,1 67,8 4,2 3,2 24,1 Pertambangan Migas 17,1 15,7 16,9 24,1 18,0 41,4 Pertambangan Bukan Migas 1,3 1,2 (28,0) 1,6 1,2 23,9 Penggalian 0,1 0,1 55,5 0,2 0,1 48,0 Industri Pengolahan 31,8 29,4 11,3 37,0 27,7 16,5 Listrik, Gas dan Air Bersih 0,6 0,6 15,3 0,6 0,4 (4,3) Konstruksi 9,5 8,8 (20,7) 12,2 9,1 28,3 Perdagangan, Hotel dan Restoran 19,1 17,6 6,5 22,8 17,1 19,7 Pengangkutan dan Komunikasi 8,7 8,0 6,7 10,2 7,6 17,9 Keuangan, Real Estate dan Jasa Perusahaan 8,9 8,2 (17,4) 9,9 7,4 10,7 Jasa Lainnya 2,2 2,1 (0,9) 2,5 1,9 12,8 Kegiatan yang belum jelas batasannya 5,7 5,2 198,5 8,3 6,2 45,9

Total 108,3 100,0 7,7 133,6 100,0 23,4

* Belum memperhitungkan PPh valas dan restitusi Sumber : Departemen Keuangan

Uraian

2009 2008

PPN Dalam Negeri Sektoral, 2008 - 2009 Tabel III.25

Dengan memperhitungkan ketiga faktor utama tersebut, target penerimaan PBB dalam tahun 2009 diperkirakan akan mencapai sebesar Rp28,9 triliun. Dengan demikian, terjadi peningkatan sebesar Rp3,4 triliun atau 13,3 persen jika dibandingkan dengan perkiraan realisasi sampai dengan akhir tahun 2008. Meskipun harga minyak internasional diperkirakan

akan cenderung menurun pada tahun 2008, tetapi windfall PBB migas masih diharapkan

sebagai sumber utama peningkatan PBB dalam tahun 2009.

Secara sektoral, penerimaan PBB tersebut terdiri atas PBB perdesaan Rp1,1 triliun, PBB perkotaan Rp6,3 triliun, PBB perkebunan Rp0,9 triliun, PBB kehutanan Rp0,5 triliun, dan PBB pertambangan Rp20,2 triliun. Tercakup dalam PBB pertambangan adalah PBB pertambangan migas Rp19,9 triliun dan PBB pertambangan umum Rp0,2 triliun.

BPHTB

Target penerimaan BPHTB diperkirakan meningkat hingga mencapai Rp7,8 triliun pada tahun 2009. Jika dibandingkan dengan perkiraan realisasi sampai dengan akhir tahun 2008, penerimaan BPHTB pada tahun 2009 tersebut meningkat Rp2,2 triliun atau 40,2 persen.

Cukai

Arah kebijakan cukai hasil tembakau tahun 2009 adalah melanjutkan tarif cukai spesifik

yang secara gradual akan menggantikan tarif advalorum, dan melakukan simplifikasi serta

penerapan HJE sebagai harga yang ditetapkan sebagai dasar penghitungan besarnya cukai. Instrumen HJE ini dipergunakan untuk mengendalikan harga dan penerimaan pada waktu volume maksimum sudah tercapai. Seiring dengan diterapkannya berbagai kebijakan di bidang cukai di tahun 2009 akan dapat menciptakan iklim industri yang sehat, memperkuat struktur industri, menuju administrasi yang sederhana, dan mengurangi penyebab peredaran cukai ilegal. Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, penerimaan cukai pada tahun 2009 diperkirakan meningkat sehingga mencapai Rp49,5 triliun. Apabila dibandingkan dengan perkiraan realisasi penerimaan cukai pada tahun 2008 yang mencapai Rp47,0 triliun,

Perk. Real. % thd Total Y-o-Y (%) Perk. Real. % thd Total Y-o-Y (%)

Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Peikanan 0,1 0,1 (19,8) 0,1 0,1 12,8

Pertambangan Migas 20,1 25,2 69,4 27,3 26,8 35,6

Pertambangan Bukan Migas 0,5 0,6 184,1 0,6 0,6 23,5

Penggalian 0,1 0,1 112,7 0,1 0,1 34,4

Industri Pengolahan 35,1 44,0 33,0 41,6 40,9 18,6

Listrik, Gas dan Air Bersih 0,2 0,2 38,7 0,2 0,2 11,3

Konstruksi 1,2 1,5 140,8 1,6 1,6 34,6

Perdagangan, Hotel dan Restoran 19,2 24,1 54,8 26,1 25,7 36,1

Pengangkutan dan Komunikasi 2,4 3,0 35,2 2,7 2,7 12,7

Keuangan, Real Estate dan Jasa Perusahaan 0,7 0,8 49,7 0,9 0,9 34,4

Jasa Lainnya 0,2 0,2 20,6 0,2 0,2 20,7

Kegiatan yang belum jelas batasannya 0,0 0,0 540,5 0,2 0,2 447,1

Total 79,7 100,0 47,7 101,7 100,0 27,5

Sumber : Departemen Keuangan

* Belum memperhitungkan PPh valas dan restitusi

Uraian

Tabel III.26

PPN Impor Sektoral, 2008 -2009

maka perkiraan target penerimaan cukai pada tahun 2009 mengalami peningkatan sebesar Rp2,5 triliun atau 5,4 persen.

Pajak Lainnya

Dalam tahun 2009, penerimaan pajak lainnya ditargetkan mencapai Rp4,3 triliun. Apabila dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2008, peningkatan yang terjadi adalah sebesar Rp0,9 triliun atau 28,5 persen. Secara umum, peningkatan penerimaan pajak lainnya disebabkan oleh meningkatnya transaksi yang menggunakan meterai.

Bea Masuk

Nilai penerimaan bea masuk ditentukan oleh beberapa variabel antara lain nilai devisa impor bayar, tarif efektif rata-rata, dan nilai tukar rupiah. Penerimaan bea masuk pada tahun 2009 ditargetkan mencapai Rp19,2 triliun. Apabila dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2008, terjadi penurunan sebesar Rp0,6 triliun atau 3,2 persen. Penurunan ini antara lain terkait dengan diterapkannya kebijakan stabilisasi pangan pokok melalui penurunan tarif bea masuk untuk beberapa komoditi seperti kedelai, terigu dan beras serta kebijakan insentif fiskal untuk penanaman modal melalui perubahan KMK Nomor 135/KMK.05/2000, kebijakan insentif bea masuk atas impor barang dalam rangka kegiatan eksplorasi hulu migas

dan panas bumi, serta adanya penerapan free trade zone (FTZ).

Sementara itu, kebijakan bea masuk pada tahun 2009 lebih diarahkan pada upaya harmonisasi tarif dan kerjasama antarkawasan yang dilakukan dalam rangka meningkatkan daya saing. Selain itu, penurunan tarif juga dilakukan pada tarif umum yaitu dari 7,6 persen menjadi 7,5 persen, tarif CEPT turun dari 2,4 persen menjadi 1,9 persen, tarif ASEAN-Korea turun dari 5,2 persen menjadi 2,4 persen, tarif ASEAN-China turun dari 4,7 persen menjadi 3,9 persen dan tarif Indonesia-Jepang turun dari 6,3 persen menjadi 4,5 persen.

Selain itu dalam tahun 2009 Pemerintah juga memberikan insentif fiskal berupa pembebasan bea masuk untuk sektor-sektor tertentu (di luar Pasal 25 dan 26 UU Nomor 17 Tahun 2006)

Dalam dokumen NOTA KEUANGAN DAN ANGGARAN PENDAPATAN DA (Halaman 150-172)

Dokumen terkait