BAB IV PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PETANI
C. Perlindungan Hukum Terhadap Petani Pemilik Hak Atas
Di Indonesia
Pangan merupakan segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan Pangan, bahan baku
pangan dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dan/atau pembuatan makanan atau minuman. Pangan dan gizi merupakan unsur yang sangat penting dan strategis dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, karena pangan selain mempunyai arti biologis juga mempunyai arti ekonomis dan politis. Sehingga penyediaan distribusi dan konsumsi pangan dengan jumlah, keamanan dan mutu gizi yang memadai harus terjamin, agar dapat memenuhi kebutuhan penduduk di seluruh wilayah pada setiap saat sesuai dengan pola makan dan keinginan mereka gar hidup sehat dan aktif. Pasal 1 angka 3 PP No. 17 Tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi menjelaskan bahwa ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhi pangan bagi negara sampai dengan perseroangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budidaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif dan produkti secara berkelanjutan.119
Kebijakan di bidang pangan secara terus menerus diperbaharui demi tercapainya ketahanan pangan, salah satunya melalui kebijakan yang dikeluarkan yaitu program food estate, food estate merupakan konsep pengembangan produksi pangan yang dilakukan secara terintegrasi mencakup pertanian, perkebunan, dan peternakan yang berada di suatu kawasan lahan yang sangat luas (an integrated farming, plantation and livestock zone). Kebijakan ini dikeluarkan melalui Instruksi Presiden No. 5 Tahun 2008 tentang Okus. Program Ekonomi 2008-2009, program food estate didukung dengan dikeluarkan PP No. 18 Than
119Yusman Syaukat, Kebijakan Pengembangan Food estate di Merauke, Kementerian Pertanian dan FEMA IPB, Bogor, 2010, hal. 12
2010 tentang Usaha budidaya tanaman, yang disahkan pada tanggal 28 Januari 2010 PP No. 18 Tahun 2010 tentnag Bidudaya Tanaman ini merupakan payung hukum pengembangan pangan skala luas atau lebih dikenal dengan sebutan food estate . Beberapa hal yang diatur ialah soal luas minimum dan maksimum lahan, jangka waku usaha, penggunaan subsidi bagi pelaku usaha, ketentuan fasilitas kredit, saham maksimum yang bisa dimiliki asing dan sebagainya.
Dalam pengembangan dan mengelola food estate maka diperlukan dukungan dari berbagai bidang baik itu pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN dan swasta serta petani. Daerah yang ditetapkan sebagai kawasan food estate akan dijadikan kawasan khusus ekonomi sehingga akan mendapatkan fasilitas fiskal dan non fiskal. Fasilitas fiskal misalnya pembangunan infrastruktur dimasukkan dalam biaya investasi, keringanan pajak penghasilan, tax holiday, pengurangan pajak bangunan, keringanan pajak daerah / retribusi, tidak adanya pungutan pajak pertambahan nilai. Fasilitas kepabeanan dan cukai meliputi penangguhan bea masuk, pembebasan cukai, dan keringanan PPh impor.
Sedangkan fasilitas misalnya kemudahan perizinan dan fasilitas kemigrasian.
Kebijakan food estate mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah dan beberapa perusahaan.120
Program food estate termasuk ke dalam ekstensifikasi lahan, yaitu dilakukan dengan pembukaan tanah secara besar-besaran di Jawa, diikuti dengan program transmigrasi dan dindustrialisasi. Undang-Undang No. 41 tahun 2009 tentang Perlindungan lahan Pertanian Pangan. Berkelanjutan tidak memberikan
120Ibid, hal. 13
definisi ekstensifikasi lahan, tetapi secara umum ekstensifikasi lahan adalah usaha meningkatkan produksi pertanian dengan cara memperluas lahan pertanian baru, misalnya membuka hutan dan semak belukar, pengembangan daerah rawa-rawa, dan lahan potensial untuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan menjelaskan bahwa :
“Ekstensifikasi Kawasan Pertanian pangan Berkelanjutan dan Lahan Pertanian pangan Berkelanjutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) dilakukan dengan :
a. Pencetakan lahan pertanian pangan berkelanjutan
b. Penetapan lahan pertanian pangan menjadi lahan pertanian pangan berkelanjutan
c. Pengalihan fungsi lahan nonpertanian pangan menjadi lahan pertanian pangan berkelanjutan.
Pasal 29 ayat (3) Undang-Undang No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian pangan Berkelanjutan menyebutkan bahwa, pengalihan fungsi lahan non pertanian pangan menjadi lahan LP2B dilakukan melalui pengambilalihan tanah terlantar dan tanah bekas kawasan hutan yang belum dibeirkan hak atas tanah. Hal tersebut juga terjadi pada program food estate, lahan yang dijadikan kawasan untuk program food estate merupakan kawasan budidaya kehutanan (KBK) yang harus dirubah menjadi kawasan untuk program food estate merupakan kawasan budidaya kehutanan (KBK) yang harus dirubah menjadi kawasan budidaya non kehutanan (KBNK) agar program dapat berjalan.
Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan memungkinkan bahwa pelaksanaan pengembangan kawasan pertanian pangan berkelanjutan dan lahan
pertanian pangan berkelanjutan yang meliputi intensifikasi pertanian dan ekstensifikasi pertanian, tidak hanya memberikan kesempatan kepada pemerintah dan pemerintah daerah tentang kesempatan tersebut diberikan kepada masyarakat maupun korporasi untuk turut mengembangkan lahan pertanian pangan berkelanjutan seperti yang terjadi pada food estate yang bekerjasama dengan badan usaha swasta atau perusahaan.121
Undang-Undang No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan memberikan penjelasan mengenai bentuk korporasi yang dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertania Pangan Berkelanjutan tertulis bahwa,
“Korporasi yang dimaksud pada ayat 2 dapat berbentuk korporasi dan/atau perusahaan inti plasma dengan mayoritas sahamnya dikuasai oleh warga negara Indonesia”. Selanjutnya Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan menjelaskan bahwa, bentuk korporasi yang dapat melakukan pengembangan lahan pertanian pangan berkelanjutan melalui ekstensifikasi pertanian tidak harus korporasi, baik berbentuk badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah dan badan usaha swasta yang bergerak di bidang usaha budidaya tanaman pangan.
Dalam program food estate, korporasi yang tercantum pada Undang-Undang No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan tidak hanya berperan sebagai pengelola usaha dalam proses produksi dan pasca produksi saja namun berperan sebagai pemilik dan atau
121Ricky Achmad, Food Estate, Alumni, Bandung, 2010, hal. 31
sebagai penguasa atau suatu lahan pertanian dalam luas tertentu seperti yang tercantum pada Pasal 9 ayat (1) Peraturan Menteri No.
39/Permentan/OT.140/6/2010 tentang Pedoman Perizinan Usaha Budidaya Tanaman Pangan bahwa luas maksimum lahan usaha proses produksi untuk penanaman, satu unit perusahana adalah 10.000 Ha. Selanjutnya pada ayat (3) menjelaskan bahwa batas skala luasan lahan usaha proses produksi penanaman.
Pengembangan lahan pertanian pangan berkelanjutan melalui ekstensifikasi pertanian yang dituangkan dalam bentuk program food estate yang melibatkan badan usaha swata yang bergerak di bidang usaha budidaya tanaman pangan secara penuh tentunya akan memiliki konsekuensi yang berbeda.
Dalam program food estate, perusahaan melalui bekerjasama dengan pemerintah mengintegrasikan ekstensifikasi pertanian dengan mengadakan transmigrasi petani. Integrasi antara ekstensifikasi pertanian dan program transmigrasi ini dilakukan pembukaan lahan pertanian baru pada lahan non pertanian yangn hak atas tanah diberikan kepada petani transmigran tersebut.
Setelah pencetakan lain pertanian baru dilakukan, hubungan kemitraan antara perusahaan petani transmigran tersebut dilanjutkan dengan dilakukannya intensifikasi pertanian. Pertanian transmigran pada program food estate dalam Undang-Undang No. 29 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-Undang No.
15 tahun 1997 tentang Ketransmigrasian termasuk ke dalam bentuk program transmigrasi swaskarsa berbantuan.122
122Ibid, hal.32
Program ekstensifikasi pertanian yang dilanjutkan dengan intensifikasi pertanian seperti pada program food estete tertentu dapat memberikan beberapa keuntungan, antara lain :123
1. Mengingat besarnya modal yang dimiliki oleh korporasi, maka pembukaan lahan pertanian baru dapat dilakukan lebih cepat, setidaknya apabila dibandingkan oleh pembukaan lahan pertanian baru oleh Pemerintah.
Cepatnya pembukaan lahan pertanian baru, tentu akan berbading lurus dengan peningkatan produksi pangan oleh karenanya ketahanan pangan akan lebih cepat diwujudkan.
2. Ekstensifikasi pertanian yang diintegrasikan dengan transmigrasi pada daerah jarang penduduk akan mendorong pembangunan infrastruktur pada daerah tersebut, sehingga akan mendorong pertumbuhan ekonomi di luar Jawa. Selainn itu, pola ekstensifikasi petanian yang diintegrasikan dengan transmigrasi akan memberikan petani tuna kisma dan petani gurem akses yang lebih baik kepada lahan pertanian
3. Adanya peningkatan pendapatan pemerintah baik, berupa pajak, maupun non pajak, yang dpat digunakan, untuk memberikan akses petani kepada tanah bagi petani yang tidak mendapatkan lahan melalui transmigrasi sebagaimana terdapat pada huruf b tersebut di atas.
Ekstensifikasi pertanian yang berjalan di dalam program food estate sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan didasarkan pada perjanjian
123Aksi Agraris Kanisius, Budidaya Tanaman, kanisius, Yogyakarta, 2010,hal.44
kemitraan antara perusahaan dengan petani transmigran. Implementasi dari perjanjian kemitraan tersebut menempatkan perusahaan sebagai pengambil keputusan di dalam mkegiatan usaha budidaya tanaman pangan dan penyedia sarana produksi maupun distribusi hasil usaha tani, yang justru mengakibatkan petani transmigrasi dianggap sebagai pekerja yang mendukung kegiatan usaha bididaya tanaman pangan. Kondisi tersebut jauh berbeda dengan apa yang dinyatakan dalam Pasal 24 ayat (3) Undang-Undang No. 29 Tahun 2009 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian bahan tanah yang diperuntukkan bagi transmigran diberikan dengan status hak milik, hak milik sebagai hak kekuatan dan terpenuh, seakan menjadi tidak berarti karena petani transmigran hanya menjadi pekerja ditanahnya sendiri.124
Berdasarkan uraian di atas terdapat beberapa dampak negatif yang timbul akibat ekstensifikasi pertanian khususnya program food estate, antara lain adalah:125
1. Lahan pertanian yang luas, tersedianya sarana produki pertanian yang lengkap disertai manajemen usaha tani yang profesional oleh perusahaan menajdi perusahaan dapat melakukan usaha tani secara maksimal, sehingga dapat menguasai produksi pangan dengan kualitas tinggi disertai dengan harga yang cukup murah, kondisi tersebut secara tidak langsung mengancam distribusi pangan yang dilakukan oleh petani transmigran karena perusahaan yang mengatur harga pasar. Hal ini bertentangan dengan Pasal 22b Undang-Undang Pertanian bahwa pemerintah dan
124Ibid, 42
125 Mewa Ariani, Penguatan Ketahanan Pangan untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional, Alumni, Bandung,2010, hal.39
pemerintah daerah memberikan jaminan pemasaran hasil pertanian kepada petani yang melaksanakan usaha tani sebagai program pertanian.
2. Ekstensifikasi dan ekstensifikasi pertanian dalam program food estate yang dilakukan oleh perusahaan berdasarkan pada perjanjian kemitraan, menjadikan keterlibatan petani transmigran dalam food estate sangatlah sedikit. Perjanjian kemitraan yang dilakukan antara petani transmigran dan perubahan antara petani tramigrasi dan perusahaan secara tidak langsung menajdikan hak penguasaan lahan yang dimiliki oleh petani transmigrasi menjadi beralih kepada perusahaan sehingga petani tidak lebih menjadi buruh di atas lahan pertanian sendiri.
3. Hak penguasaan atas lahan pertanian yang dilakukan oleh perusahaan dapat didasarkan kepada pertimbangan bahwa daerah dilaksanakannya program transmigrasi umumnya terdapat di daerah terpencil, sehingga penyediaan sarana dan prasarana produksi pertanian serta pendistribusian hasil pertanian hanya dapat dilakukan oleh perusahaan yang menyebabkan petani transmigran tunduk sepenuhnya terhadap setiap tindakan yang dilakukan oleh perusahaan. Jika penyediaan sarana dan prasarana produksi pertanian serta distribusi hasil pertanian diputuskan oleh perusahaan maka secara otomatis petani transmgiran tidak dapat melakukan usaha tani, hal tersebut menunjukkan bahwa kehidupan usaha tani tansmigran di dalam program food estate sangatlah bergantung kepada perusahaan.
4. Terdapat kemungkinan adanya kecurangan yang dilakukan oleh perusahaan di dalam pola distribusi keuntungan berdasarkan perjanjian
kemitraan yang dilakukan dengan petani transmigran dalam program food estate . Petani transmigran memang akan mendapatkan sedikit kenaikan pendapatan yang disebabkan oleh jumlah hasil pertanian yang besar tetapi kenaikan pendapatan petani tentunya tidak terlalu signfiikan dibandingkan dengan mengusahakan lahannya sendiri karena perusahaan merupakan pihak yang diuntungkan dari perjanjian kemitraan ini
5. Pelaksanaan program food estate tentunya mempercepat tercapainya ketahanan pangan apabila dilihat dari sisi pemenuhan kebutuhan pangan Indonesia tetapi apabila ditelaah dari sisi petani transmigran yang turut serta dalam program food estate hal ini dikhawatirkan akan mengurangi pertanian pemerintah dalam rangka pembangunan pertanian, karena timbul pemikiran bahwa pembangunan pertanian hanya berpatokan pada tersedianya pangan dalam jumlah yang cukup disertai dengan harga yang murah tanpa memperhatikan kondisi dari petani dalam pelaksanaan usaha tani.
Keberadaan Pasal 27 ayat (2) dan ayat (3) Undang-Undang No. 41 tahun 2009 tentang Perlindungan lahan Pertanian Pangan. Berkelanjutan juncto Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 2010 tentnag Usaha Budidaya Tanaman juncto Peraturan Menteri Peratanian No. 30/Permentan/OT.140/6/2010 tentang Pedoman Perizinan Usaha Budidaya Tanaman Pangan, menguatkan pengembangan lahan pertanian pangan berkelanjutan melalui ekstensifikasi pertanian yang dapat dilakukan oleh badan usaha swasta yang bergerak sepenuhnya di bidang usaha budidaya tanaman pangam, dimulai dari tahap
produksi maupun pasca produksi dan berperan penuh sebagai penguasa atas lahan pertanian.
Selanjutnya apabila ditelaah melalui perspektif dari tenaga kerja, perusahaan sebenarnya tidak terikat untuk mempekerjakan petani (pemilik tanah) karena melalui mekanisme pertanian dapat mempekerjakan petani dengan jumlah seminimal mungkin agar usaha tani dilakukan dengan efisien. Perlindungan yang dapat diberikan oleh pemerintah daerah terhadap kondisi tersebut adalah dengan cara melakukan pernyataan kesediaan untuk melakukan kemitraan dengan syarat harus menggunakan tenaga kerja petani transmigran. Perjanjian kemitraan tersebut merupakan persyaratan untuk memperoleh Izin Usaha Tanaman Pangan produksi (IUTP), Izin usaha Tanaman Pangan Penanganan Pasca Panen (ItuP-PP) dan Izin usaha Budidaya Tanaman Pangan (IUTP) yang secara berturut-turut diatur dalam Pasal 11, Pasal 12 dan Pasal 13 Peraturan Menteri Peratanian No.
39/permentan/OT.140/6/2010 tentang Pedoman Peizinan Usaha Budidaya Tanaman Pangan, ekstensifikasi pertanian dilakukan oleh badan usaha swasta yang akan begerak di bidang budidaya tanaman pangan secara penuh.
Diperlukan pengaturan yang tegas untuk mengurangi dampak negatif program food estate khususnya untuk petani transmigran mengenai batas-batas dari pengembangan food estate yang dilakukan oleh perusahaan antara lain dengan memberikan jumlah minimum petani yang harus dipekejakan per luas lahan yang dimiliki atau dikuasai oleh perusahaan, mengenai peran serta petani (kemitraan) dan pembagian keuntungan yang berimbang. Program food estate baiknya hanya dilakukan oleh BUMN berbentuk perum dengan pertimbangan
terdapat kepentingan umum dalam pelaksanaan food estate yang tidak hanya berkutat untuk memenuhi kebutuhan pangan di Indonesia tetapi terdapat petani yang jumlahnya hampir separuh penduduk Indonesia yang termasuk dalam kepentingan umum yang diprioritaskan oleh pemerintah dengan terjebak dalam kemiskinan struktural.
Pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No. 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan pemberdayaan Petani atau Undang-Undang Perlintan sebagai payung hukum perlindungan Keberadaan UU Perlintan diharapkan menjadikan petani sebagai subyek pembangunan yang berperan aktif sebagai salah satu petani utama dalam perekonomian. Pasal 1 angka 1 UU Perintan menjelaskan definisi mengenai perlindungan petani adalah segala upaya untuk membantu petani dalam menghadap permasalahan kesulitan memperoleh prasarana dan sarana produksi, kepastian usaha, risiko harga, kegagalan, praktik ekonomi biaya tinggi dan perubahan iklim. Selanjutnya Pasal 3 UU perintan menjelaskan bahwa perlindungan dan pemberdayaan petani bertujuan untuk :126
1. Mewujudkan kedaulatan dan kemandirian petani dalam rangka meningkatkan taraf kesejahteraan, kualitas dan kehidupan yang baik
2. Menyediakan prasarana dan sarana pertanian yang dibutuhkan dalam mengembangkan usaha tani
3. Memberikan kepastian usaha tani
4. Melindungi petani dan fluktuasi harga, praktik ekonomi biaya tinggi dan gagal panen.
126Tati Nurmala, Pengantar Ilmu Hukum Pertanian, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2010, hal.
28
5. Meningkatkan kemampuan dan kepastian hukum serta kelembagaan petani dalam menjalankan usaha tani yang produktif, maju, modern dan berkelanjutan
6. Menumbuhkembangkan kelembagaan pembiayaan pertanian yang melayani kepentingan usaha tani.
Bentuk kebijakan yang dapat diberikan untuk melindungi kepentingan petani berdasarkan Pasal 7 ayat (2) UU Perlintan, antara lain pengaturan impor komoditas pertanian sesuai dengan musim panen dan/atau kebutuhan konsumsi di dalam negeri, penyediaan sarana produksi pertanian yang tepat waktu, tepat mutu, dan harga terjangkau bagi petani, serta subsidi sarana produksi, penetapan tarif bea masuk komoditas pertanian, serta penetapan tempat pemasukan komoditas pertanian dari luar negeri dalam kawasan pabean. Selain itu, juga dilakukan penetapan kawasan usaha tani berdasarka kondisi tan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya buatan, fasilitas asuransi pertanian untuk melindungi petani dan kerugian gagal peran akibat bencana alam, wabah penyakit hwan menular, perubahan ikli, dan /atau jenis risiko lain yang ditetapkan oleh menteri serta dapat memberikan bantuan ganti rugi gagal panen akibat kejadian luar biasa sesuai dengan kemampuan keuangan negara. Petani sebagai pelaku utama pembangunan pertanian, yang pada umumnya beusaha dengan skala kecil, yaitu rata-rata luas usaha tani kurang dari 0,5 ha dan bahkan sebagian dari petani tidak memiliki sendiri lahan usaha tani atau disebut petani penggarap, bahkan juga buruh tani. Petani pada umumnya mempunyai posisi yang lemah dalam memperoleh sarana produksi, pembiayaan usaha tani, dan akses pasar.127
127Ibid, hal. 35
Undang-Undang No. 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani (Perlintan) mengatur pula mengenai kewajiban pemerintah pemerintah guna menyediakan lahan pertanian sehingga memberikan akses kepada petani tuna kisma dan petani gurem sebagaimana yang terdapat pada Pasal 55 ayat (1) dan ayat (2) UU Perlintan :
(1) Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya berkewajiban memberikan jaminan ketersediaan lahan pertanian
(2) Jaminan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui a. Konsilidasi lahan pertanian
b. Jaminan luasan lahan pertanian
Selain melalui konsilidsai lahan pertanian, pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban memenuhi jaminan ketersediaan lahan pertanian, dan Pasals 58 ayat (2) Uu perlintan menjelaskan bahwa lahan dijadikan jaminan luasan lahan pertanian dapat diperoleh dari tanah negara bebas yang diperuntukan atau ditetapkan sebagai kawasan pertanian. Selanjutnya mengenai ketentuan pemberian jaminan luasan lahan pertanian dijelaskan pada Pasal 58 ayat (3) UU Perlintan :
“Kemudahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berupa :
a. Pemberian paling luas 2 ha tanah negara bebas yang telah ditetapkan sebagai kawasan pertanian kepada Petani yang telah melakukan usaha tani paling sedikit 5 (lima) tahun berturut-turut
b. Pemberian lahan pertanian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 ayat (1)
Pasal di atas didukung oleh Pasal 29 angka 6 Peraturan Pemerintah No. 3 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 15 tahun 1997 tentang Ketransmigrasian sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 29 Tahun 2009 tentang Ketransmigrasian yaitu dalam hal jenius transmigrasian umum (TU) dan transmigrasi swadaya berbantuan (TSB) dengan pola usaha pokok pertanian tanaman pangan dan/atau perkebunan, transmigran atau
penduduk setempat yang pindah ke pemukiman baru sebagai bagian dari SP-Pugar diberikan bidang tanah paling sedikit 2 (dua) ha. Berdasarkan kedua pasal di atas menunjukan bahwa pemerintah memberikan kemudahan bagi petani untuk memperoleh jaminan luasan lahan pertanian terhadap kawasan yang telah ditetapkan menjadi kawasan pertanian, lahan tersebut diberikan kepada petani yang telah melakukan usaha tani paling sedikit 5 (lima) tahun berturut-turut dengan diberikan dalam bentuk hak sewa, ijin pengusahaan, ijin pengelolaan atau ijin pemanfaatan. Pasal 60 UU Perlintan menjelaskan pemberian lahan pertanian diutamakan kepada petani setempat yaitu :
a. Tidak memiliki lahan dan telah mengusahakan lahan pertanian di lahan yang diperuntukkan sebagai kawasan pertanian selama 5 (lima) tahun berturut-turut)
b. Memiliki lahan pertanian kurang dari 2 (dua) ha
Dengan pemberian lahan diharapkan petani dapat mengusahakan lahan pertanian yang diberikan dengan memanfaatkan sumber daya akan secara lestari dan berkelanjutan.
Tanah yang diberikan kepada petani transmigran dalam program food estate pemerintah diberikan hak milik sebagaimana yang tercantum pada Pasal 24 ayat 3 Undang-Undang No. 29 Tahun 2000 tentang Perubahan atas UU No. 15 tahun 1997 tentang Ketransmgirasian yaitu tanah yang diperuntukan bagu transmigran diberikan dengan status hak milik. Masing-masing kepala keluarga petani transmigran akan mendapatkan rumah dan lahan pekarangan seluas 0,25 ha per kepala keluarga yang pemberdayaannya dicicil dengan harga sangat
terjangkau, jika sudah luas status lahan perkarangan dan lahan pertanian akan bersertipikat hak milik. Selaian itu diberikan bantuan perbekalan sebesar 3,5 juta/perbulan selama 18 bulan yang konversi dalam bentuk bahan makan seperti beras, lauk pauk. Sertipikat hak milik diberikan paling lambat 5 (lima) tahun sejak penempatan pada satuan pemukiman yang bersangkutan. Sebelum sertipikat hak milik atas tanah diterbitkan, menteri memberikan surat keterangan pembagian tanah sebagai legalitas hak untuk penggunaan tanah.128
Berdasarkan Pasal 8 ayat (1) Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 13 Tahun 2014 tentang Pengurusan Hak atas tanah Transmigrasi, Menteri memberikan penugasan kepada bupati / walikota untuk menerbitkan Surat Keterangan Pembagian tanah (SKBT). Pembagian hak milik atas lahan peratnian kepada petani transmigran pada program food estate, dapat dianggap atau diusahakan secara aktif oleh pemiliknya sendiri dan mencegaha cara-cara yang bersifat pemerasan sebagaimana yang terdapat dalam Pasal 10 ayat (1) UUPA, namun harus dipahami bahwa pemberian hak milik atas tanah pertanian kepada petani tarnsmigran bertujuan agar lahan pertanian benar-benar dijadikan sebagai sarana produksi pertanian oleh petani transmigran yang menguasai lahan pertanian tersebut dan menghindari dipekerjakannya buruh tani.
Pasal 7 ayat (2) UU Perlintan memberikan penjelasan mengenai strategi perlindungan yang diberikan kepada petani yaitu melalui prasarana dan sarana produksi pertanian, kepastian usaha, harga komoditas peratnian, penghapusan praktik ekonomi biaya tinggi, ganti rugi gagal panen akibat kejadian luar biasa,
Pasal 7 ayat (2) UU Perlintan memberikan penjelasan mengenai strategi perlindungan yang diberikan kepada petani yaitu melalui prasarana dan sarana produksi pertanian, kepastian usaha, harga komoditas peratnian, penghapusan praktik ekonomi biaya tinggi, ganti rugi gagal panen akibat kejadian luar biasa,