Liberalisasi Bisnis Ritel di Indonesia
C. HASIL & PEMBAHASAN
C.2. Penetrasi Bisnis Ritel Asing di Indonesia
ekonomi yang berlanjut. Adapun kata tradisional pada pasar sendiri mengartikan diri sebagai “tradium” yang berarti berlanjut sejak masa lalu hingga masa sekarang ini. Dalam konteks tersebut, esensi tradisional bukanlah sesuatu yang harus kita singkirkan dalam era globalisasi ekonomi sekarang ini. Malah justru itu menjadi ciri khas tersendiri basis dasar perekonomian mikro rakyat.
Adanya liberalisasi perdagangan khususnya dalam bisnis ritel yang terjadi di Indonesia secara tidak langsung mendorong pasar tradisional sebagai unsur lokalitas ke dalam unsur globalitas ekonomi dunia. Hal itulah yang kemudian disebut sebagai bentuk konformitas ekonomi lokal di modern (Achidsti, 2011 : 110). Adapun pengertian konformitas ekonomi di sini bukan dimaksudkan diri sebagai bentuk penyesuaian diri kekuatan ekonomi lokal terhadap transformasi ekonomi yang berkembang dalam globalisasi. Namun justru, merupakan bentuk keterpaksaan diri untuk merangkul ekonomi global dalam tataran ekonomi nasional dan lokal. Dengan kata lain konformitas juga bisa dimaknai sebagai klausul terdesaknya pola-pola lama yang manual dengan tren perkembangan
teknologi dan komunikasi yang memaksa pola lama tersebut pudar demi alasan efektivitas dan efisiensi produksi- konsumsi.
Setting perekonomian Indonesia sejak era 1960-an memang menandai transisi dari perekonomian subsisten menuju perekonomian konsumtif. Robert Hefner (2006) melihatnya sebagai tumbuhnya kelas menengah dalam struktur kelas sosial kemasyarakatan. Kelas menengah ini hadir tidak terlepas dari banjir bonus pendapatan minyak yang diproduksi Permina pada pertengahan akhir 1960-an hingga menjelang 1980-an sehingga menciptakan adanya generasi richie noveau (orang kaya baru) di Indonesia. Generasi tersebut setidaknya menciptakan lanskap baru dalam perilaku konsumsi akan entitas ekonomi yang mendukung kebutuhan para kelas menengah tersebut. Oleh karena itulah, kemudian memunculkan adanya pertumbuhan ritel-modern dalam bentuk toserba (toko serba ada) maupun swalayan yang diperuntukkan bagi kelas menengah Indonesia tersebut. Maka dalam hal ini, pertumbuhan ritel modern erat kaitannya dengan pertumbuhan pendapatan perkapita penduduk maupun tingginya angka pertumbuhan ekonomi.
C.2. Penetrasi Bisnis Ritel Asing di Indonesia
Hadirnya ritel baik yang dijalankan oleh swasta asing maupun swasta nasional tidak terlepas dari konteks makro ekonomi Indonesia yang sedang mengalami pertumbuhan tinggi. Indonesia paska 1966 dianggap sebagai macan ekonomi baru yang sempat terpuruk. Fakta mencatat bahwa Indonesia mampu membalikkan angka inflasi 600 % berhasil dikendalikan 1,6 % pada tahun 1970-an dan menaikkan pendapatan perkapita hingga USD 1200 pada tahun yang sama. Kondisi tersebut menimbulkan gairah ekonomi yang besar bagi rakyat Indonesia dimana sebelumnya mengalami depresi ekonomi nasional. Maka dalam konteks inilah, transformasi dari ekonomi tradisional yang
keynesianistik menuju ekonomi modern berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Ritel modern merupakan indikator utama peralihan ekonomi tersebut.
Ritel modern pertama yang dibangun di Indonesia ditandai dengan Toserba (Toko Serba Ada) Sarinah di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat pada pertengahan 1965-an. Sarinah merupakan department store
pertama di Indonesia yang dibangun oleh pemerintah dimana dana pembangunannya diambil dana rampasan hasil perang dengan Jepang yang mencapai USD 11 juta. Selang satu dekade berikutnya, Hero muncul sebagai ambisi swasta nasional untuk mendirikan pionir pasar swalayan di Indonesia. Hal tersebut berlanjut pada rentang 1980-1990-an yang ditandai dengan munculnya Circle K sebagai aktor asing pertama yang masuk dalam bisnis ritel nasional pada tahun 1987 dan “Seven Eleven” sebagai yang kedua dalam bentuk
convenience store. Konteks tahun 1990-an
merupakan tonggak berdirinya berbagai macam ritel asing yang beriperasi di Indonesia seperti halnya Marks & Spencer, Y aohan, Makro, Carrefour, maupun JC. Pencey. Natawidjaja (2005) dalam
”Modern Market Growth and The
Changing Map of The Retail Food Sector
in Indonesia”menyebutkan peningkatan
jumlah supermarket diawal tahun 1983, pada saat itu mayoritas terdapat di Jakarta, terjadi seiring dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita. Pola sebaran pasar modern masih terkonsentrasi di wilayah tertentu khususnya di kota-kota besar seperti Jabodetabek dan berbagai wilayah di pulau Jawa. Jika melihat pada pola pertumbuhan pasar modern, minimarket menjadi ritel modern yang melakukan ekspansi usaha terbesar, dimana sebagian besar minimarket berada di kawasan pemukiman. Minimarket mendapatkan tempat tersendiri di hati masyarakat karena kemudahan dalam berbelanja dan harga yang relatif lebih murah jika dibandingkan dengan pasar tradisional.
Adapun masuknya berbagai macam ritel asing tersebut mulanya hanya memenuhi berbagai kebutuhan konsumtif segmen penduduk kelas menengah ke atas di daerah perkotaan. Maka bisa dikatakan, ritel modern ini hanya mengincar segmen kelas premium. Hal itu tampaknya belum menjadi ancaman yang berarti bagi eksistensi pasar tradisional yang pada
umumnya hanya mencari segmen
penduduk kelas menegah ke bawah. Posisi pasar tradisional relatif aman sampai pertengahan 1997-an dimana gelombang inflasi mulai menghantui dengan menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat yang menyentuh angka Rp 17.000,00 per 1 USD mengakibatkan masyarakat kembali berkiblat kepada pasar tradisional untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari- hari. Kendati demikian, kondisi keberpihakan kembali kepada pasar tradisional tersebut tidak berlangsung begitu lama mengingat terjadinya krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998 merupakan era keemasan dari ritel modern untuk berkembang di Indonesia. Hal itu dikarenakan salah satu poin pasal letter of
intent yang ditandatangani oleh pihak IMF
dan pemerintah Indonesia mensyaratkan adanya deregulasi negara dari arena ekonomi dan pemberian kebijakan ekonomi yang terbuka bagi pihak asing yang secara merta mengikutsertakan ritel merupakan bidang yang terbuka bagi swasta.
C.3.Setting Regulasi Bisnis Ritel
Nasional
Sebelum membahas mengenai regulasi perniagaan mengenai ritel, terlebih dahulu kita harus mengetahui pendefinisian mengenai arti ritel. Ritel dalam Black’ s
Laws Dictionary diartikan sebagai “to sell
by small quantities in broken lots or parcels not in bulks to sell direct to
consumers”. Artinya, ritel merupakan
bentuk tindakan ekonomis dengan menjual komoditas eceran secara langsung kepada konsumen di lapangan. Dari definisi
tersebut saja, terdapat semangat penyeragaman bahwa menjual secara eceran disebut ritel tanpa kecuali. Hal itulah yang kemudian turut pula menghantarkan pasar tradisional sebagai bagian dari klasifikasi dari ritel. Pada Keputusan Presiden (Kepres) No. 118/2000 dan peraturan sejenis lainnya di
tingkat nasional mengenai sektor ekonomi terbuka memang mengamanatkan pasar tradisional sebagai bagian dari industri ritel yang diharuskan bersaing dengan sektor swasta asing maupun swasta nasional dalam bentuk department store,
supermarket, convenience store, maupun
hypermarket.
Tabel 1 : Kerangka Regulasi Bisnis Ritel di Tingkat Nasional dan Lokal / Daerah Tingkat Regulas i Regulasi Nasion al
Keputusan Presiden (Kepres) No. 118/2000 tentang Perubahan dari Keputusan Presiden No. 96/2000 mengenai Sektor Usaha yang Terbuka dan Tertutup dengan Beberapa Syarat untuk Investasi Asing Langsung.
Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No.107/MPP/Kep/2/1998 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Usaha Pasar Modern.
Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No.420/MPP/Kep/10/1997 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar dan Pertokoan.
Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Perindustrian dan Perdagangan dan Menteri Dalam Negeri No.57 dan 145/MPP/Kep/1997 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar dan Pertokoan.
Peraturan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No.12/MDAG/PER/3/2006 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penerbitan Surat Tanda Pendaftaran Usaha Waralaba.
Rancangan Peraturan Presiden tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Modern dan Toko Modern.
Lokal Perda Provinsi No. 2/2002 tentang Pasar Swasta diDKI Jakarta; Keputusan Gubernur No. 44/2003 mengenai Petunjuk Pelaksanaan Pasar Swasta di Jakarta.
Perda No. 23/2003 tentang Pengelolaan Pasar di Kota Depok; Keputusan Perda Kota Depok No. 49/2001 tentang Izin Gangguan.
Perda No.5/2011 tentang pembatasan jumlah ritel modern di Kota Solo.
Sumber : Suryadarma et al (2008 : 31)
Regulasi mengenai pengaturan bisnis ritel di Indonesia tersebut menemui berbagai perdebatan baik di level
konstitutif maupun level administratif khususnya apabila kita cermati dua regulasi ritel paling atas di level nasional
yakni Keputusan Presiden maupun SK Menteri Perdagangan yang dinilai masih lemah secara hukum. regulasi pada tingkat nasional terkait perdagangan (Perpres No 112/2007 dan Permendag No 53/2008) tidak memiliki kecukupan material dan substansial dalam memberi arah dan model perlindungan dan pengembangan sistem nilai, modal sosial, dan pelaku pasar tradisional. Semangatnya justru lebih
mengarah pada persaingan bebas (free fight liberalism). Isi kedua regulasi
tersebut lebih mengakomodasi
ketelanjuran tatanan perdagangan saat ini di mana telah terjadi dominasi peritel besar daripada memenuhi semangat dan imperasi konstitusional yang terdapat dalam Pasal- Pasal Sosial-Ekonomi Undang-Undang Dasar 1945.
Tabel 2 : Jenis Usaha Ritel yang berkembang di Indonesia sesuai regulasi Keppres dan SK Mendag
Usaha Ritel Batasan Fisik Komoditas yang Tersedia Minimarket /
“Convenience Store”
Mempekerjakan 2-6 orang
Luas lantai usaha 200m2
Makanan Kemasan Barang higienis Pokok Antara 2000-3000 item produk
Supermarket Luas kantai usaha 350-8000 m3
Tiga mesin hitung
Makanan
Barang-barang rumah tangga Antara 10.000-18.000 item produk (70 % barang ritel dan 30 % fresh product)
Hipermarket Berdiri Sendiri Luasnya diatas 8000 m3
Mesin hitung untuk setiap 1000 m3
Makanan
Barang Rumah Tangga Elektronik
Busana / Pakaian
Antara 19.000-40.000 item produk (70 % barang ritel dan 30 % fresh product)
Toko dengan
sistem
pembayaran cash and carry
Luasnya lebih dari 500 m3
Konsumen menjadi anggota
(membership)
Makanan
Barang Rumah Tangga
Toko kecil
dengan layanan penuh
Milik Keluarga Luasnya Kurang dari 200 m3
Makanan tertentu
Barang Rumah Tangga tertentu
Pasar Tradisional Banyak Pedagang Lapak Kecil dengan ukuran 2-10 m3
Bahan-bahan segar
Barang-barang produksi rumah
Barang-barang pokok rumah tangga
Sumber : Collett, Paul and Tyler W allace (2006 : 12)
Oleh karena itulah,menimbang lemahnya penerapan regulasi tersebut. Maka pemerintah saat ini tengah
merumuskan rancangan peraturan presiden mengenai pasar modern (Rancangan Peraturan Presiden tentang Toko Modern
dan Pasar Modern). Namun demikian, rancangan tersebut tidak memuat sanksi pidana bagi pasar modern bila terjadi pelanggaran terhadap peraturan tersebut karena pemberlakuan sanksi dalam peraturan presiden dianggap melanggar perundang-undangan nasional. Dengan demikian, kedudukan peraturan presiden tidak akan jauh berbeda dengan SK menteri. Terlebih lagi, beberapa pasalnya tidak mudah untuk diimplementasikan. Salah satu contohnya adalah pasal 3, paragraf 4 yang menyebutkan bahwa hanya terdapat satu pasar modern dan/atau dua toko modern yang diizinkan untuk setiap satu juta orang.
Realitanya yang terjadi di masyarakat justru ritel modern kini tidak lagi menghitung satuan kuantitas untuk mendirikan sebuah pusat perbelanjaan. Namun lebih didasari, pada aspek pertumbuhan ekonomi tengah berkembang. Hal itulah yang kemudian mengakibatkan keberadaan jumlah ritel modern menjadi tidak terkendali sehingga menciptakan persaingan usaha yang tidak sehat antara sesama ritel maupun dengan pasar tradisional. Oleh karena itulah, pola persaingan tersebut pada akhirnya menciptakan konflik vertikal dengan pasar tradisional maupun konflik horizontal dengan sesama ritel modern. Diantara dua konflik tersebut, yang paling kentara unsur konformitasnya ialah konflik vertikal antara pasar tradisional dengan pasar modern yang secara jelas menggambarkan dua kutub ekonomi yang berbeda. Hal itulah yang kemudian membuat dalam bisnis ritel di Indonesia sendiri menghasilkan pemenang dan pecundang karena kalah dalam urusan modal. Pasar tradisional selama ini semenjak hadirnya ritel modern tersebut selalu saja ditempatkan pada posisi yang kalah sehingga mengakibatkan posisinya kian terjepit oleh keterbukaan pasar sekarang ini.
Pemerintah sebenarnya berupaya mengakomodasi tentang perlindungan pasar tradisional dengan mengeluarkan
kebijakan ekonomi afirmatif. Setelah tertunda 2,5 tahun, Peraturan Presiden (Perpres) No 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, serta Toko Modern (biasa disebut Perpres Pasar Modern), akhirnya ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Y udhoyono pada 27 Desember 2007 lalu. Enam pokok masalah diatur dalam Perpres yaitu definisi, zonasi, kemitraan, perizinan, syarat perdagangan (trading term), kelembagaan pengawas, dan sanksi. Soal zonasi atau tata letak pasar tradisional dan pasar modern (hypermart), menurut Perpres, disusun oleh Pemerintah Daerah (Pemda). Ini membuat pemerintah pusat terkesan ingin “cuci tangan”, mengingat tata letak justru merupakan persoalan krusial sebab tak pernah konsisten dipatuhi, yang lalu membenturkan keduanya. Konteks “cuci tangan” tersebut memang sangat rasional terlebih kini otonomi daerah diamanatkan terjadi di level kabupaten dan kota sebagaimana dalam UU No. 32 tahun 2004. Artinya pemerintah daerah memiliki kewenangan penuh dalam mengatur penataan izin usaha ritel modern maupun pengaturan pasar tradisional Pengalihan kewenangan mengeluarkan Izin Usaha Pasar Modern (IUPM) ke Pemerintah Daerah, memungkinkan pasar tradisional selalu dikorbankan dengan berbagai alasan. Indikasinya, sebagian besar pasar modern tidak memiliki IUPM dari pemerintah pusat. Untuk masalah zonasi, Pemda diberi waktu tiga tahun untuk menyusun rencana umum tata ruang wilayah (RUTRW) yang mengacu kepada Undang-Undang Tata Ruang.
Dalam berbagai model pengaturan ritel modern maupun pasar tradisional yang terjadi memang terdapat beragam kasus yang tidak selalu menempatkan pasar tradisional selalu berada di pihak yang kalah. Kasus perlindungan pasar tradisional di Kabupaten Bantul dan Kota Surakarta merupakan dua contoh wilayah yang secara nyata tegas membatasi
hadirnya ritel modern di wilayah mereka. Adapun dalam kasus di Kota Surakarta, Pemerintah kota sendiri memiliki regulasi tersendiri salah satunya melalui Perda No.5/2011 tentang pembatasan jumlah ritel modern dalam kota. Dalam regulasi daerah tersebut, pemerintah kota mengatur pendirian ritel modern sejauh 500-1000 meter dari pasar tradisional. Pemerintah menyadari bahwa pasar tradisional akan terjepit bilamana izin usaha ritel diberikan secara berkesinambungan. Pasar tradisional haruslah menjadi penyetor kebutuhan konsumsi sehari-hari bagi masyarakat Surakarta. Adanya regulasi tersebut, jumlah keberadaan ritel modern di Kota Surakarta hampir sebanding dengan jumlah pasar tradisionalnya dengan prosentase 43:40 dengan catatan ritel modern berada di wilayah pinggiran yang utamanya menjadi pemasok komoditas kaum komunter maupun perumahan kelas menengah atas yang umumnya bermukim di wilayah barat dan timur batas Kota Surakarta.
Dalam kasus yang terjadi di Kabupaten Bantul, pemerintah setempat mengeluarkan kebijakan ekonomi kerakyatan dalam Peraturan Bupati No.112 Tahun 2007 mengenai pembatasan jarak antara pasar tradisional dengan ritel modern. Adanya jarak tersebut menegaskan pemerintah sendiri menginginkan supaya pasar tradisional sendiri tetaplah terlindungi dari serbuan ritel modern. Adapun jarak yang dimaksudkan meliputi Jarak Toko Modern dengan pasar tradisional minimal 1.500 meter, Jarak dengan toko modern lainnya 1.000 meter, Jarak dengan pasar tradisional minimal 2.500 meter. Jarak ritel modern jejaring nasional yang aturannya lebih ketat karena membayangkan dampak yang lebih besar dibanding ritel modern lokal. Ritel modern jejaring nasional juga semakin diperketat lewat pembatasan wilayah pendirian yang hanya boleh di 3 Kecamatan (Banguntapan, Kasihan dan Sewon). Kondisi ini disebabkan ketiga kecamatan itulah yang memiliki karakter
perkotaan karena berbatasan langsung dengan Kota Yogyakarta.
Dua model kebijakan ekonomi yang terjadi di kedua wilayah tersebut
merupakan cerminan bagaimana
pemerintah seharusnya bertindak dalam keterbukaan ekonomi sekarang ini dengan lebih menekankan pada kekuatan lokal. Namun apa yang terjadi di kedua wilayah tersebut merupakan contoh kecil “keberhasilan” pasar tradisional atas ritel modern. Kondisi tersebut kontras apabila dikondisikan dengan situasional ekonomi yang kini dan telah berlangsung dimana pasar tradisional kian termarjinalkan oleh ritel dalam lingkup skala nasional.
C.4 Konformitas Pasar T radisional