• Tidak ada hasil yang ditemukan

Struktur Industr

Dalam dokumen Dilema Ekonomi Pasar Tradisional versus (Halaman 135-143)

Analisis Sektor Unggulan dan Perkembangan Ekonomi Kabupaten Lamongan

HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Shift Share (SS)

2. Struktur Industr

Struktur industry menghitung dari dampak komposisi industry daerah.Selain itu pula komponen ini juga menghitung perbedaan antara pertumbuhan kabupaten dengan menggunakan pertumbuhan provinsi sektoral dan pertumbuhan

kabupaten dengan menggunakan

pertumbuhan provinsi total.Daerah kabupaten dapat tumbuh lebih cepat atau lebih lambat dari provinsi.Perbedaan tingkat pertumbuhan ini disebabkan oleh komposisi sector yang berbeda.Nilai positif pada komponen ini menunjukan bahwa daerah kabupaten berkonsentrasi pada sector-sektor yang bertumbuhannya cepat secara regional (provinsi).Hal ini

karena tingkat pertumbuhan kegiatan ekonomi di daerah di atas rata-rata pertumbuhan kegiatan ekonomi di tingkat provinsi secara total.Sedangkan nilai negative menunjukan bahwa daerah kabupaten berkonsentrasi pada sector- sektor yang pertumbuhannya lamabn secara regional (provinsi).Hal ini karena tingkat pertumbuhan kegitan ekonomi di daerah di bawah rata-rata pertumbuhan kegitan ekonomi di tingkat provinsi secara total.Berdasarkan perhitungan dengan teknik Shift Share menunjukkan bahwa terdapat subsektor-subsektor yang bernilai positif dan subsektor-subsektor yang bernilai negative.

Subsektor-subsektor yang bernilai positif meliputi:

a) Air bersih b) Kontruksi

c) Perdagangan besar & eceran d) Hotel

e) Restoran f) Angkutan rel

g) Jasa penunjang angkutan h) Komunikasi

i) Bank

j) Lembaga keuangan bukan bank k) Sewa bangunan

l) Jasa hiburan & rekreasi

Subsektor-subsektor yang bernilai negatif meliputi:

a) Tanaman bahan makanan b) Tanaman perkebunan

c) Peternakan dan hasil-hasilnya d) Kehutanan

e) Perikanan f) Penggalian

g) Makanan, minuman dan tembakau h) Tekstil, barang kulit dan alas kaki i) Barang kayu dan hasil hutan lainnya j) Kertas dan barang cetakan

k) Pupuk, kimia dan barang dari karet l) Semen dan barang galian bukan logam m) Barang lainnya

n) Listrik

o) Angkutan jalan raya p) Angkutan laut q) Jasa perusahaan

r) Pemerintahan umum s) Jasa social kemasyarakatan t) Jasa perorangan dan rumah tangga

Subsektor-subsektor yang bernilai nol (0) meliputi:

a) Minyak dan gas bumi b) Pertambangan tanpa migas c) Pengilangan minyak bumi d) Gas alam cair

e) Logam dasar besi dan baja

f) Alat angkat mesin dan peralatannya g) Gas

h) Angkutan sungai danau dan penyebrangan i) Angkutan udara

j) Jasa penunjang keuangan

Secara total, komponen struktur industry memiliki nilai sebesar -Rp. 480.183 juta

3. Daya Saing Regional

Komponen daya saing regional mengukur perbedaan tingkat pertumbuhan anatara industry di tingkat provinsi dengan industry di tingkat kabupaten. Komponen daya saing akan menghasilkan nilai yang merepresentasikan pertumbuhan industry di tingkat kabupaten lebih cepat atau lebih lamban dari pertumbuhan industry di tingkat provinsi. Nilai positif menunjukan bahwa industry di kabupaten tumbuh lebih cepat dari pada industry yang sama di tingkat provinsi. Selain itu pula nilai

positif pada komponen ini juga mengandung arti bahwa komposisi kegiatan di daerah sudah baik untuk daerah (kabupaten) yang bersangkutan. Sedangkan nilai negative menunjukan bahwa industry daerah tumbuh lebih lamban dari industry yang sama pada tingkat provinsi. Selain itu pula nilai negative pada komponen ini juga mengandung arti bahwa komposisi kegiatan ekonomi di daerah belum cukup baik di daerah (kabupatan) yang bersangkutan.

Subsektor-subsektor yang bernilai positif meliputi:

a) Tanaman perkebunan

b) Peternakan dan hasil-hasilnya c) Perikanan

d) Penggalian

e) Makanan, minuman dan tembakau f) Tekstil, barang kulit dan alas kaki g) Barang kayu dan hasil hutan lainnya h) Kertas dan barang cetakan

i) Pupuk, kimia dan barang dari karet j) Semen dan barang galian bukan logam k) Listrik

l) Perdagangan besar & eceran m) Hotel

n) Angkutan jalan raya o) Angkutan laut

p) Jasa penunjang angkutan q) Bank

s) Sewa bangunan t) Jasa perusahaan u) Pemerintahan umum v) Jasa social kemasyarakatan w) Jasa hiburan & komunikasi x) Jasa perorangan dan rumah tangga

Subsektor-subsektor yang bernilai negative meliputi:

a) Tanaman bahan makanan b) Kehutanan c) Barang lainnya d) Kontruksi e) Restoran f) Angkutan rel g) Komunikasi

Subsektor-subsektor yang bernilai nol (0) meliputi:

a) Minyak dan gas bumi b) Pertambangan tanpa migas c) Pengilangan minyak bumi d) Gas alam cair

e) Logam dasar besi dan baja

f) Alat angkat mesin dan peralatannya g) Gas

h) Angkutan sungai, danau dan penyebrangan i) Angkutan udara

j) Jasa penunjang keuangan

Secara total, komponen daya saing regional memiliki nilai sebesar Rp. 685.924 juta

Berdasarkan pada hasil perhitungan dengan menggunakan tenik Shift Share di atas dapat dijelaskan lebih jauh bahwa: a. Secara akumulatif, komponen total

berpengaruh memberikan nilai shift share sebesar Rp. 2.477.756 juta. Nilai ini merepresentasikan nilai tambah bruto yang secara actual dapat tercipta di kabupaten Lamongan selama tahun 2008-2011 dalam interaksinya dengan perekonomian wilayah Jawa Timur. Nilai tambah ini dapat tercipta melalui komponen pertumbuhan provinsi, struktur indutri daerah dan persaingan daerah.

b. Komponen pertumbuhan provinsi sebesar Rp. 2.272.016 juta merepresentasikan sejumlah output yang dihasilkan oleh kegiatan ekonomi

di kabupaten Lamongan yang diakibatkan oleh kegiatan ekonomi provinsi Jawa Timur selama tahun 2009-2011. Hal ini menunjukan bahwa performance perekonomian kabupaten Lamongan secara rata-rata sudah sesuai dengan performance provinsi Jawa Timur.

c. Komponen struktur industry secara total memiliki output sebesar -Rp. 480.183 juta. Hal ini mengandung arti bahwa output yang berkurang di kabupaten Lamongan sebagai akibat dari konsentrasinya pada sector-sektor yang pertumbuhannya lamban secara regional (provinsi).

d. Komponen daya saing regional secara total memiliki output sebesar Rp. 685.924 juta. Hal ini mengandung arti bahwa penambahan output yang diperoleh kabupaten Lamongan sebagai akibat dari industry di

kabupaten Lamongan tumbuh lebih cepat dari pada industry yang sama di tingkat provinsi dan relative cepat juga pertumbuh sector-sektor yang ada bila dibandingkan dengan daerah yang lain, serta mengandung arti bahwa komposisi kegiatan ekonomi di daerah sudah baik untuk daerah Lamongan.

Secara diagramatis pendekatan shift share terhadap perekonomian kabupaten

Lamongan dibandingkan dengan

perekonomian Provinsi Jawa Timur selama tahun 2009-2011 dapat dilihat pada bagan berikut:

Gambar 1.1 Mekanisme Pencapaian Output Aktual

Perekonomian Kabupaten Lamongan Pada gambar di atas dapat dijelaskan bahwa output baru yang tercipta di kabupaten Lamongan sebesar Rp.

2.447.756 juta. Output ini dapat tercipta melalui tiga komponen penting, yakni pertumbuhan provinsi (Rp. 2.272.016 juta), struktur industry (-Rp. 480.183 juta), dan daya saing regional (Rp. 685.924 juta).

Output Aktua/Nilai T ambah Bruto Rp. 2.477.756 Juta Pertumbuhan Provinsi (+) Rp. 2.272.016 Juta Daya Saing Regional (+) Rp. 685.924 Juta Struktur Industri (-) Rp. 480.183 Juta Spillower Effect Perekonomian Jawa Timur Pertumbuhan Sektor Relatif Cepat dibanding Daerah Lain Konsentrasi Sektor yang Pertumbuhannya Lamban Secara Provinsi

Analisis Location Quentient (LQ)

Dalam konteks perekonomian

kabupaten, maka nilai perekonomian LQ>1, menunjukan bahwa kabupataen tertentu relative lebih spesialis dari tingkat provinsi pada sector yang diamati.Nilai LQ<1 menunjukan bahwa kabupaten tertentu relative kurang spesialis dari

tingkat provinsi pada sector yang diamati. Nilai LQ=1 menunjukan bahwa baik dari daerah kabupaten maupun provinsi tingkat spesialisasinya sama pada sector tertentu yang diamati. Berdasarkan perhitungan LQ dapat dijelaskan spesialisasi relative perekonomian kabupaten Lamongan selam tahun 2008-2011, yakni

a) Subsektor yang memiliki nilai Location Quotient lebih dari satu selama 4 tahun pengamatan (tahun 2008, 2009, 2010, 2011) meliputi:

a. Tanaman Bahan Pangan b. Perikanan

c. Tekstil, Bahan Dari Kulit Dan Alas Kaki d. Barang Dari Kayu Dan Hasil Hutan Lainnya e. Listrik

f. Sewa Bangunan g. Pemerintahan Umum

h. Jasa Social Kemasyarakatan

b) Subsektor yang memiliki nilai Location Quotient kurang dari satu selama 4 tahun pengamatan (tahun 2008, 2009, 2010, 2011) meliputi:

a) Tanaman Perkebunan b) Peternakan

c) Kehutanan d) Penggalian

e) Makanan Minuman Dan Tembakau f) Kertas Dan Barang Cetakan

g) Pupuk, Kimia Dan Barang Dari Karet h) Semen Dan Barang Galian Bukan Logam i) Barang Lainnya j) Air Bersih k) Kontruksi l) Perdagangan m) Hotel n) Restoran o) Angkutan Rel

p) Angkutan Jalan Raya q) Angkutan Laut

r) Jasa Penunjang Angkutan s) Komunikasi

t) Bank

u) Lembaga Keuangan Bukan Bank v) Jasa Perusahaan

w) Jasa Hiburan Dan Kebudayaan x) Jasa Perorangan Dan RT

c) Subsektor yang memiliki nilai Location Quotient sama dengan nol (0) selama 4 tahun pengamatan (tahun 2008, 2009, 2010, 2011) meliputi:

b) Pertambangan Non Migas c) Logam Dasar Besi Dan Baja

d) Alat Angkutan Mesin Dan Peralatannya e) Gas Kota

f) Angkutan Penyebrangan g) Angkutan Udara

d) Berdasarkan pada point a, b dan c di atas dapat disimpulkan bahwa:

• Perekonomian kabupaten

Lamongan memiliki keunggulan komparatif di subsektor tanaman bahan pangan, perikanan, tekstil, bahan dari kulit dan alas kaki, barang dari kayu dan hasil hutan lainnya, listrik, sewa bangunan, pemerintahan umum, jasa social kemasyarakatan. Dari subsektor tersebut subsektor subsektor tanaman bahan makanan dan subsektor perikanan memiliki keunggulan komparatif paling besar diantara subsektor-subsektor yang lain.

• Selama 4 tahun pengamatan subsektor-subsektor yang memiliki keunggulan komparatif tersebut memiliki perekembangan yang cukup stabil.

• Berdasarkan pada analisis model LQ di atas dapat disusun posisi relative keunggulan komparatif subsektor pereknomian kabupaten Lamongan selama tahun 2008-2011

dibandingkan dengan

perekonomian provinsi Jawa Timur sebagai berikut:

Keterangan: Kuadran 1:

o Subsektor di kabupaten Lamongan yang memiliki spesialisasi relative dibandingkan dengan subsektor yang sama pada tingkat provinsi Jawa Timur

o Subsektor yang memiliki keunggulan komparatif

Kuadran 2:

o Subsektor di kabupaten Lamongan yang tidak memiliki spesialisasi relative dan keunggulan komparatif dalam perekonomian di Jawa Timur Kuadran 3:

o Subsektor yang belum memiliki kegiatan ekonomi di kabupaten Lamongan (nilai koefisien Location Quentient sebesar 0)

Kuadran 4:

o Subsektor yang memiliki tingkat spesialisasi realtif paling besar dibandingkan dengan subsektor lain dalam perekonomian kabupaten Lamongan

Tabel 2

Posisi Relatif Keunggulan Komparatif Subsektor Perekonomian KabupatenLamongan

§ tanaman bahan makanan

§ perikanan

§ tekstil, bahan dari kulit dan alas kaki

§ barang dari kayu dan hasil hutan lainnya

§ listrik

§ sewa bangunan

§ pemerintahan umum

§ jasa social kemasyarakatan

§ tanaman perkebunan

§ peternakan

§ kehutanan

§ penggalian

§ makanan minuman dan tembakau

§ kertas dan barang cetakan

§ pupuk, kimia dan barang dari karet

§ semen dan barang galian bukan logam § barang lainnya § air bersih § kontruksi § perdagangan § hotel § restoran § angkutan rel

§ angkutan jalan raya

§ angkutan laut

§ jasa penunjang angkutan

§ komunikasi

§ bank

§ lembaga keuangan bukan bank

§ jasa perusahaan

§ jasa hiburan dan kebudayaan

§ jasa perorangan dan RT

§ pertambangan migas

§ pertambangan non migas

§ logam dasar besi dan baja

§ alat angkutan mesin dan peralatannya

§ gas kota

§ angkutan penyebrangan

§ angkutan udara

§ tanaman bahan makanan

§ perikanan

KUADRAN 1 KUADRAN 2

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan pada bab-bab sebelumnya dapat disimpulkan bahwa: 1. Subsektor-subsektor perekekonomian

Provinsi Jawa Timur dalam

perkembangannya secara umum

selama tahun 2009-2011

pertumbuhannya cepat dan

memberikan pengaruh positif kepada perekonomian Kabupaten Lamongan. 2. Kegiatan ekonomi di Kabupaten

Lamongan selama tahun 2009-2011 berkonsentrasi pada sector-sektor yang pertumbuhannya cepat secara regional (Provinsi Jawa Timur). Sektor-sektor tersebut seperti makanan, minuman dan tembakau, tekstil, barang kulit dan alas kaki, barang kayu dan hasil hutan lainnya serta kertas dan barang cetakan.

3. Kabupaten Lamongan memiliki potensi keunggulan komparatif di subsektor seperti tanaman bahan makanan dan perikanan.

Berdasarkan pada temuan dalam penelitian ini, maka beberapa rekomendasi kebijakan yang dapat diajukan adalah:

1. Identifikasi terhadap potensi perekonomian daerah secara sektoral perlu dilakukan guna meningkatkan kinerja perekonomian daerah. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan pemetaan terhadap aspek mikro dan makro dalam perekonomian daerah.

2. Ekstensifikasi terhadap komoditi unggulan, sehingga terjadi difersifikasi dalam komoditi-komoditi yang mempunyai keunggulan komparatif. Hal ini dapat dilakukan dengan memperluas cakupan skala prioritas pembangunan sektoral, sehingga sector-sektor yang belum berkembang dapat ditingkatkan perannya dalam pembangunan daerah.

DAFTAR RUJUKAN

§ Adisasmita, H.R. 2005. Dasar-dasar

Ekonomi Wilayah. Penerbit Graha

Ilmu, Yogyakarta.

§ Arsyad, L. 1999. Ekonomi

Pembangunan. Y ogyakarta: Bagian Penerbitan STIE YKPN.

§ Badan Pusat Statistik, 2011, PDRB

Kabupaten Lamongan, BPS,

Kabupaten Lamongan

§ Badan Pusat Statistik, 2006-2010, PDRB Kabupaten/Kota Se-Jawa Timur, BPS, Provinsi Jawa Timur

§ Bendavid-V al, A. 1999. Regional and Local Economic Analysis for Practioners. NY : Praeger Publiser.

§ Blakely, E. J. 1994. Planning Local Economic Development, Theory and Practice, 2nd edition. California: SAGE Publication.

§ Tarigan, Robinson. 2005. Ekonomi Regional. Teori dan Aplikasi. Edisi Revisi. Bumi Aksara. Jakarta.

Dalam dokumen Dilema Ekonomi Pasar Tradisional versus (Halaman 135-143)