• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dilema Ekonomi Pasar Tradisional versus

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Dilema Ekonomi Pasar Tradisional versus"

Copied!
151
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Jurnal Ekonomi & Studi Pembangunan (JESP) terbit dua kali setahun memuat artikel hasil pemikiran filosofis, konseptual, teoritis, telaah kritis (critical review), dan penelitian di bidang ekonomi pembangunan (development economics) dan pembangunan ekonomi (economic development).

Ketua Penyunting

Dr. Imam Mukhlis, S.E., M.Si

W akil Ketua Penyunting

Dr. Hadi Sumarsono, S.T., M.Si

Penyunting Pelaksana

Dr. Mit Witjaksono, MS.Ed Dr. Sugeng Hadi Utomo, M.S Dr. M. Nasikh, SE, M.P., M.Pd

Grisvia Agustin, SE., M.Sc

Pelaksana Administrasi

Tutut Boedyo Wibowo, S.Kom, MT Januar Kustiandi, S.Pd.,M.Pd

Januar Kustiandi, S.Pd

Alamat Redaksi/TU

Jurusan Ekonomi Pembangunan

Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang (FE UM) Jl. Semarang 5. Malang 65145. Gedung E3 Lantai 2

Tlp/ Fax (0341) 585-911

E-mail: [email protected], [email protected], [email protected] Site: www.fe.um.ac.id

Naskah artikel yang disumbangkan kepada JESP harus mengikuti aturan dalam Petunjuk

bagi Kontributor JESP yang dilampirkan pada setiap nomor penerbitan.

Isi artikel beserta akibat yang ditimbulkan oleh artikel itu menjadi tanggungjawab penuh penulisnya (kontributor).

Jurnal Ekonomi & Studi Pembangunan (JESP) dikelola oleh Jurusan Ekonomi Pembangunan. Diterbitkan oleh Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang (FE UM).

Dekan: Prof. Dr. Budi Eko Soecipto, M.Ed. Pembantu Dekan I: Dr. Mit Witjaksono, MS.Ed. Pembantu Dekan II: Dr. Tuhardjo, SE., M.Si.Ak. Pembantu Dekan III: Drs. Djoko Dwi Kusumayanto, M.Si. Ketua Jurusan Ekonomi Pembangunan: Dr. Hari Wahyono, M.Pd.

(3)

EDITORIAL

__________________________________________________________________________________________

Pengantar

Seperti pada pengantar edisi perdana, JESP (baca: jès pé) memuat karya tulis:

1. Artikel pemikiran filosofis, teoritis, konseptual, atau telaah kritis (critical reviews), yang selanjutnya diberi label kelompok: ARTIKEL.

2. Artikel hasil penelitian, yang selanjutnya diberi label kelompok: PENELITIAN.

3. Artikel tinjauan buku (book review), yang diberi label kelompok: TINJAUAN BUKU.

Artikel dalam kelompok 1 memaparkan pemikiran konseptual, telaah kritis, atau analisis kontekstual tentang teori ekonomi, pemikiran, paradigma, atau filsafat ekonomi, dan aplikasi-nya dalam ekonomi pembangunan.

Artikel dalam kelompok 2 memaparkan hasil kajian (penelitian) empiris tentang penerapan lapangan, atau simulasi lab (ekonomi eksperimental) terhadap isu, kasus, atau implementasi kebijakan ekonomi.

Artikel dalam kelompok 3 menelaah isi, cakupan, manfaat, dan kritik buku yang dipandang penting dalam kajian ekonomi dan studi pembangunan.

Dalam edisi ini dapat dihasilkan 1 artikel konseptual, 9 hasil penelitian empiris dan 1 tinjauan buku.

(4)

Tentang Nomor Ini

Pada edisi nomor 2 tahun 2012 ini diwarnai dengan berbagai pemikiran dan kajian empiris tentang berbagai dimensi dalam pembangunan dalam konstelasi perekonomian regional, nasional dan global. Bagian pertama dalam jurnal ini diawali dengan hasil karya pemikiran teoretis dan konseptual. Dalam konteks perekonomian nasional di bidang Ekonomi Moneter, tulisan dari saudara Sasli R mengingatkan kembali akan pentingnya mereformulasikan kembali perekonomian nasional dalam perspektif syariah. Implementasi ekonomi moneter pada dasarnya telah banyak dikaji dalam literatur perekonomian syariah melalui berbagai kajian dan pendapat yang sudah ada.

Bagian kedua dari jurnal edisi ini berisikan hasil kajian empiris tentang dinamika dan problematika pembangunan. Dalam kajian empiris ini banyak dikupas berbagai hasil penelitian. Dalam konteks internasional, tulisan dari saudara Timbul H.S memaparkan secara analisis tentang pepajakan di negara-negara ASEAN. Dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN, persentase penerimaan pajak terhadap PDB di Indonesia masih lebih kecil. Hal ini mengindikasikan masih adanya potensi penerimaan pajak yang dapat digali dalam perekonomian nasional. Dalam konteks perekonomian secara makro, tulisan dari Imam M mencermati kembali peran FDI dalam perekonomian nasional. Secara empiris walaupun aliaran di Indonesai berfluktuatif, namun masih tetap memberikan kontribusi riil terhadap PDB Indonesia.Tulisan Wasito R.J menganalisis sebuah dilema dalam perkembangan pasar tradisonal dan liberalisasi ritel modern. Menurutnya pasar tradisional memiliki sejarah penting dalam membangun bangsa, sehingga dibutuhkan usaha keras agar tetap eksis dalam meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat.

Dalam paparan hasil penelitian yang lain, tulisan Asfi M menganalisis sebuah pola pem-biayaan Agribisnis dan peran bank pada kontrak usaha tani jagung. Dengan pendekatan kualitatif dalam penelitiannya, tulisan ini berusaha untuk mencermati sebuah informasi kunci bahwa pola pembiayaan yang diberikan oleh pihak perbankan melalui perusahan kepada petani selama ini menimbulkan informasi yang tidak simetris. Sedangkan dalam konteks regional tulisan Abdul A, dkk mengananalisis potensi perekonomian daerah di Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Melalui analisisnya tersebut dihasilkan sebuah pemetaan terhadap potensi ekonomi daerah yang dapat dikembangkan secara sektoral di Kabupaten Lamongan Jawa Timur.

Bagian akhir dari tulisan ini adalah sebuah hasil resensi buku tentang ekonomi pegadaian syariah. Pada edisi ini, hasil resensi disampaikan oleh Subagyo tentang buku yang berjudul Pegadaian Syariah: Konsep dan Sistem Operasional (Suatu Kajian Kontempor-er). Buku tersebut merupakan hasil dari telaah kritis secara teoretis dan empiris tentang pegadaian syariah yang ditulis oleh Sasli Rais seorang praktisi dan akademisi yang banyak menggeluti bidang kebijakan pembangunan dan ekonomi syariah.

Pada akhirnya semangat yang dibangun oleh tim JESP pada edisi 2 tahun 2012 ini semoga memberikan kontribusi pemikiran yang konstruktif dalam membangun masyarakat yang madani dan berkeadilan sosial.

Malang, 31 Nopember 2012 Penyunting

(5)

DAFTAR ISI

__________________________________________________________________________________________

EDITORIAL

Pengantar 171

Tentang Nomor Ini 172

__________________________________________________________________________________________

A

RTIKEL

Ekonomi Moneter : Tinjauan Sejarah Ekonomi Islam

Sasli Rais 175

_________________________________________________________________________________________

PENELITIAN

Penerimaan Perpajakan di Negara Asean

Timbul Hamonangan Simanjutak 181

Aliran Foreign Direct Investment dan Produk Domestik Bruto Di Indonesia

Imam Mukhlis 191

Pengaruh Jumlah Uang Beredar ( JUB ), Tingkat Suku Bunga BI Rate, Dan nilai Tukar Rupiah Dollar – AS Terhadap Laju Inflasi di Indonesia ( Tahun 2007 – 2011 )

Y uniar Ardila & Sapir 201

Pengaruh Capital Adequancy Ratio ( CAR ), Return On Asset ( ROA )

dan Loan T o Deposit Ratio ( LDR ) Terhadap Harga Saham Bank Pemerintah

di Indonesia Periode 2004-2011

Ferik Vidyatama & Mardhono 213

Dilema Ekonomi : Pasar Tradisional V ersus Liberalisasi Bisnis Ritel di Indonesia

W asisto Raharjo Jati 223

Dampak Investasi Pemerintah Terhadap Investasi Swasta dan Kesejahteraan Masyarakat Setelah Pemekaran Daerah Kabupaten Kota di Provinsi Maluku

Tri W ahyuningsih 243

Perencanaan Energi Daerah Provins i Maluku Utara

Agus Sugiyono 261

Analisis Faktor Eksternal dan Internal Terhadap Kinerja Usaha Mikro dan Kecil (UMK) di Kota Ternate

(6)

Telaah Kritis Pola Pembiayaan Agribisnis Pada Kontak Usaha Tani (Studi Pada Kontrak Usaha Tani Jagung)

Asfi Manzilati & Y enny Kornitasari 285

Analisis Sektor Unggulan dan Perkembangan Ekonomi Kabupaten Lamongan (Sebuah Pendekatan Sektoral Pembentuk PDRB)

Abdul Azis, Arvidya Maulid Dana, Endro Pebi Trilaksono,

Fajar Try Leksono & Wildan Mudhoffar 299

__________________________________________________________________________________________

TINJAUAN BUKU

Pegadaian Syariah: Konsep dan Sistem Operasional (Suatu Kajian Kontemporer)

Subagyo 311

(7)

__________________________________________

Ekonomi Moneter : Tinjauan Sejarah Ekonomi Islam

Sasli Rais

Abstract

Monetary economics in perpective of Islam is not far differ from conventional economics. Its basic differences are relating to norm and value which arrange economic behavior itself. Currency in Islam as a converting tool and price value in entire economic transaction. Therefore, piling up money isn’ t enabled in Islam. Change of money value solely determined by strength of balance price’ s goods and service. Banking as a place to convert different currency and should be careful of interest rate.

Keyword: Monetary economics, Currency,Inflation, Bank

PENDAHULUAN

Dalam Sistem Ekonomi

Konvensional (SEK),1 salah satu bidang yang dipelajari adalah ekonomi moneter, yang lebih identik dengan ilmu ekonomi uang dan bank. Hal ini dikarenakan uang dan bank merupakan variabel pokok yang harus dipelajari, sedangkan variabel yang lainnya hanya merupakan variable turunan dan alat kebijakan ekonomi moneter itu sendiri. Misalnya, inflasi, jumlah uang beredar, likuiditas perekonomian, kecepatan peredaran uang, pemberian kredit dan sumber dana perbankan, suku bunga, dan sebagainya.2

Sedangkan ekonomi moneter dalam Sistem Ekonomi Islam (SEI) tidak jauh berbeda masalah yang menjadi kajiannya.

1 Dalam keban yakan liter atur ekonomi Islam dan par a pakar ekonomi Islam

menggunakan istilah ekonomi

kon vensional ver sus ekonomi islam. Hal ini dikar enakan untuk memudahkan dalam mempelajar i per bedaan dan per samaan konsep ekonomin ya.

2 Hg. Suseno Tr iyanto Widodo, Indikator

Ekonomi : Dasar Per hitungan

Per ekonomian Indonesia (Yogyakar ta : Kanisius, 1990), h al. 43

Namun ada hal mendasar yang tidak ada dalam ekonomi konvensional, terutama yang berhubungan dengan variabel ”nilai dan norma” yang berhubungan dengan prilaku ekonomi.

Tulisan berikut ini, diprioritaskan pada hal-hal pokok dengan hanya membahas tiga (3) komponen yang sangat berpengaruh terhadap konsep ekonomi moneter dan ekonomi pada umumnya, yaitu sebagai berikut:

A. "MATA UANG

Perkembangan ekonomi

memerlukan suatu alat tukar yang penggunaannya kekal sepanjang zaman. Alat tukar yang paling tahan itu ialah barang-barang dari logam, seperti : emas, perak, dan tembaga.

(8)

nilainya. Oleh karena itu, disinilah pentingnya alat tukar yang bernama ”mata uang” itu.

Menurut Imam Al-Ghazali (450– 505 H / 1058–1111 M), sejarah membuktikan bahwa pada zaman sebelum Nabi Muhammad SA W , orang Arab sudah mengenal adanya mata uang, tetapi semuanya dari luar Arab. Mereka mengenal mata uang emas, yaitu Dinar dari Romawi dalam perdagangan mereka ke Utara (Syiria), dan mengenal mata uang perak, yaitu Dirham dari Persia dalam perdagangan mereka ke Selatan (Y aman). Barulah pada tahun ke-15 H/536 M, yaitu 4 tahun sesudah wafatnya Nabi Muhammad SA W – Khalid bin Walid – pahlawan Islam terkenal itu membuat mata uang sendiri di Thabariyah, daerah Syiria. Dalam pembuatan mata uang pertama itu masih meniru mata uang Romawi. Ia melukisnya dengan gambar, salib, mahkota, dan tongkat kebesaran, sedangkan di sebelahnya ada tulisan dengan huruf Y unani BON.3 Sedangkan mata uang logam perak – Dirham Islam dibuat tahun 28 H/648 M di Thabaristan (Persia), di mana pada pinggiran mata uang itu ada huruf Arab dengan huruf Kaufah, yaitu Bismillahi Rabbi.

Adapun mata uang Islam yang pertama kali dicetak oleh kantor percetakan negara Islam baru terjadi pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari dinasti Bani Umayyah (65-86 H/685-705 M), sesudah merundingkannya dalam musyawarah dengan para ulama dan pemuka. Maksud pembuatan mata uang itu diketahui oleh Keizer Romawi yang menganggapnya telah merusak hubungan ekonomi antara Arab dan Romawi. Ia mengirimkan surat ancaman kepada Khalifah Abdul Malik agar menghentikan usahanya itu demi hubungan baik antara

Kalau diteruskan juga, tulisan atas nama mata uang harus ditambahkan kata-kata yang tiada sangkut pautnya dengan Islam atau kata-kata yang menghina Nabi SA W . Ancaman tersebut menyebabkan Abdul Malik menganggapnya sebagai kebulatan pendapat dari seluruh umat, termasuk oposisi di masa itu, yaitu partai Syi’ah. Oleh karena itu, ia mengundang pemimpin partai oposisi, Muhammad Al-Baqir untuk datang ke ibu kota Damaskus untuk merundingkan soal yang penting itu. Undangan tersebut dipenuhi oleh pemimpin Syi’ah dan berakhir dengan persetujuan bulat atas maksud baik Khalifah Umayyah, demi kebangkitan perekonomian umat Islam. Dalam mata uang Dinar dan Dirham itu dilukis kalimah tauhid dan disebelahnya ditulis nama Nabi SA W , serta menyebut nama negeri, dan tahun mencetaknya.

Mata uang Islam yang pertama ini diberi nama Dimaskiyah, sesuai dengan nama kota tempat mencetaknya, Damaskus. Khalifah mengirimkan mata uang itu ke seluruh negara, memerintahkan supaya seluruh mata uang Romawi dan Persi dibekukan, serta tidak boleh beredar lagi.

Imam Al-Ghazali menyatakan

bahwa mata uang berfungsi sebagai alat tukar dan nilai harga dalam seluruh transaksi ekonomi, ditetapkan menurut mata uang sendiri.4 Oleh karena itu, Al-Ghazali mengecam orang yang menimbun uang. Orang demikian dikatakannya sebagai penjahat. Y ang lebih buruk lagi adalah orang melebur dinar dan dirham menjadi perhiasan emas dan perak. Mereka ini dikatakannya sebagai orang yang tidak bersyukur kepada Sang Pencipta dan kedudukannya lebih rendah dari orang yang menimbun uang, karena menimbun uang berarti menarik uang secara sementara dari peredaran, sednagkan

(9)

meleburnya berarti menarik dari peredaran selamannya. Peredaran uang palsu sangat dikecam Al-Ghazali karena kandungan emas/peraknya tidak sesuai dengan yang ditetapkan oleh pemerintah. Mencetak uang palsu dosanya akan terus berulang setiap kali uang itu dipergunakan dan akan merugikan siapa pun yang menerimanya dalam jangka waktu lama. Al-Ghazali memperbolehkan uang yang tidak terbuat dari emas/perak, seperti uang logam dan uang kertas yang saat ini banyak

digunakan asalkan pemerintah

menyatakannya sebagai alat bayar resmi dan demikian juga pendapat Ibnu Khaldun, hanya saja pemerintah wajib menjaga nilai uang yang dicetaknya karena masyarakat menerimanya tidak lagi berdasarkan berapa kandungan emas/perak didalamnya. Misalnya, pemerintah mengeluarkan uang nominal Rp 10.000 yang setara dengan ½ gram emas. Apabila kemudian pemerintah mengeluarkan uang nominal Rp 10.000 seri baru dan ditetapkan nilainya setara dengan ¼ gram emas, maka uang akan kehilangan makna sebagai standar nilai.5 Namun Al-Ghazali dan Ibnu Taimiyah melarang perdagangan mata uang Dinar dengan Dinar karena akan menghilangkan fungsi dari uang itu sendiri, di samping akan menimbulkan inflasi.6 Seperti pasar uang yang terjadi saat ini, di mana sebagian besar uang dipergunakan untuk memperdagangkan uang itu sendiri.7

Sedangkan menurut Ibnu

Khaldun, mata uang berfungsi sebagai alat penukar dan pengukur harga sebagai nilai Per spektif Islam, (Bandung:Pustaka Setia, 2002), hal. 211 .

B. INFLASI

Menurut Ackley (1978) bahwa yang dimaksud dengan inflasi adalah suatu kenaikan harga yang terus-menerus dari barang-barang dan jasa-jasa secara umum –bukan satu macam barang saja dan sesaat-.

Sejarah menunjukkan bahwa salah satu negara yang ditandai dengan kenaikan harga secara cepat adalah Mesir di sekitar tahun 330 sebelum Masehi pada waktu pemerintah Alexander Agung menyerbu Persia dengan membawa emas (hasil rampasan tentunya) ke Mesir. Dan juga negara Jerman mengalam hyper inflation

pada awal tahun 1920-an di mana laju inflasi mencapai beberapa ratus persen per tahunya. Negara Indonesia juga tidak luput dari penyakit hyper inflation di tahun 1960-an, di mana laju inflasi mencapai 650 persen. 9

Sedangkan dalam sejarah ekonomi Islam, banyaknya peredaran mata uang, terutama fluktuasi harga perak menyebabkan nilai mata uang Dinar dan Dirham selalu naik dari waktu ke waktu dan nilainya pun berbeda dari suatu daerah dengan daerah lain. Perbandingan antara dua mata uang logam itu adalah 10 pada zaman Nabi Muhammad SA W dan tetap stabil pada level itu selam periode keempat khalifah pertama (11-41 H/632-661 M). Namun, stabilitas ini tidak dapat berlangsung terus. Dua logam mulia itu menghadapi berbagai kondisi permintaan dan penawaran sehingga menimbulkan ketidakstabilan harga relatifnya. Umpamanya pada paro kedua periode Umayyah (41-132 H/661-750 M), perbandingan harga relatif sekitar 12, sementara pada periode Abbasiyah (132-656 H/750-1258 M) mencapai 15 atau kurang. Rasio itu terus mengalami fluktuasi dan berkali-kali mengalami

(10)

kemerosotan sampai pada tingkat 20, 30, bahkan 50. Menurut Maqrizi dan Al-Asad (w. 854 H/1440 M), ketidakstabilan ini membuat mata uang dari logam buruk menendang dari sirkulasi mata uang logam baik.10 Dalam hal ini, Ibnu Taimiyah (1263-1328) dan Al-Maqrizi menghimbau agar negara menghindari dan tidak mencetak mata uang yang berlebihan dalam upayanya menutup defisit anggaran negara karena akan berakibat pada inflasi.11

Menurut Ibnu Khaldun, dalam keadaan nilai uang yang tidak berubah maka kenaikan maupun penurunan harga semata-mata ditentukan oleh kekuatan penawaran dan permintaan. Setiap barang akan mempunyai harga keseimbangannya. Apabila lebih banyak makanan dari yang diperlukan di satu kota, harga makanan menjadi murah dan apabila lebih sedikit makanan dari yang diperlukan maka harga makanan menjadi mahal sehingga inflasi sebagai kenaikan harga-harga semua atau sebagian besar jenis barang, tidak akan terjadi karena pasarr akan mencari harga keseimbangan tiap-tiap jenis barang. Harga satu barang dapat saja naik, kemudian karena tidak terjangkau harganya maka harga akan turun kembali. Ini yang terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab ketika terjadi paceklik. Umar saat itu mengimpor gandum dari Fustat (Kairo) ke Madinah dan selanjutnya harga gandum turun.

C. BANK

Bank didefinisikan sebagai lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran uang.

pasar. Pada dasarnya bank merupakan tempat penitipan atau penyimpanan uang, pemberi atau penyalur kredit dan juga perantara di dalam lalu lintas perekonomian.12

Praktek perbankan dalam Islam dikenal sejak zaman Abbasiyah, walaupun masih dilakukan secara perorangan. Perbankan mulai berkembang pesat ketika beredar banyak jenis mata uang sehingga diperlukan keahlian khusus untuk membedakan antara mata uang yang satu dengan yang lainnya. Ini terjadi sebagai akibat adanya perdagangan/pasar internasional, terutama kota yang terkenal adalah kota Isfahan (di Persia), yang dikunjungi oleh berbagai bangsa dari Timur dan Barat dan memperjualbelikan barang dagangan mereka. Nasher Khusru

(w. 481 H/1088 M) mengatakan bahwa dalam pasar kota Isfaham, ada suatu stand khusus untuk perbankan, yang sekurang-kurangnya diramaikan oleh 200 orang ahli bank dari berbagai bangsa. Dan menurut

Ibnul Faqien bahwa pada umumnya para bankir itu datang dari Basrah (Irak), yang

membuka pekerjaan perbankan,

menampung para pedagang yang datang dari ujung Timur daerah Islam sampai ke ujung Barat, yaitu Ferghanah (di perbatasan Irak) sampai daerah Sous di Asia Kecil.13

Menurut Imam Al-Ghazali bahwa perbankan berfungsi sebagai tempat tukar penukaran mata uang yang berlainan dan perantara untuk pengiriman uang ke

daerah-daerah lain. Namun

memperingatkan supaya para bankir dan

12 T . Gilar so, Dunia Ekonomi Kita : Uang, Bank dan Koper asi (Yogyakar ta : Kanisius, 1976), h al. 4.

(11)

semua orang yang berhubungan dengan bank, berhati-hati terhadap dosa riba.14

Imam Al-Ghazali menitik

beratkan pandangannya terhadap institusi perbankan dari sudut transaksi perekonomian, baik antara pribadi dengan pribadi, lembaga dengan pribadi, lembaga bank dengan lembaga lainnya, negara dengan negara, serta lembaga bank dengan negara, yang semuanya itu lebih dekat hubungannya dengan dunia perdagangan (jual beli).15

D. PENUTUP

Berdasarkan paparan di atas maka sudah jelaslah bahwasannya ekonomi moneter dalam sistem ekonomi Islam sudah dikaji, meskipun istilah “ekonomi moneter” sendiri berasal dari ekonom konvensional. Mata uang dalam Islam lebih sebagai alat tukar, nilai harga, nilai usaha, alat perhubungan, dan alat simpanan dalam bank-bank dalam seluruh transaksi ekonomi karenanya menimbun uang tidak dibolehkan dalam Islam karena uang harus selalu berputar dalam rangka keseimbangan ekonomi. Oleh karena itu, keadaan nilai uang yang tidak berubah maka kenaikan maupun penurunan harga semata-mata ditentukan oleh kekuatan penawaran dan permintaan sehingga setiap

barang akan mempunyai harga

keseimbangannya sendiri.

Sedangkan, perbankan berfungsi sebagai tempat tukar penukaran mata uang yang berlainan dan perantara untuk pengiriman uang karenanya harus berhati-hati terhadap riba dalam pelaksanannya. Karena bagaimana pun, transaksi-transaksi dalam dunia perbankan akan terus mengalami perkembangan dan inovasi bentuknya sehingga yang menjadi perhatian utama dalam system moneter Islam, bagaimana transaksi-transaksi yang

14 Ibid, hal. 202

15 Ibid, hal. 204

diciptakan tersebut harus jauh dari nilai-nilai riba yang diharamkan.

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Al-Kaff, Abdullah Zaky, Ekonomi Dalam Perspektif Islam (Bandung : Pustaka Setia, 2002).

Chapra, M. Umer, Masa Depan Ilmu Ekonomi: Sebuah Tinjauan Islam Cetakan Pertama, (Jakarta : Gema Insani Press,2001).

Gilarso, T, Dunia Ekonomi Kita : Uang, Bank dan Koperasi (Y ogyakarta : Kanisius, 1976).

Karim, Adiwarman A., Ekonomi Islam: Suatu Kajian Kontemporer, Cetakan Pertama, (Jakarta : Gema Insani Press, 2001).

Iswardono Sp, Uang dan Bank, Edisi 4, (Y ogyakarta : BPFE, 1981).

Muhammad, Kebijakan Moneter dan Fiskal dalam Ekonomi Islam, Edisi 1, Salemba Empat, Jakarta: 2002.

(13)

__________________________________________

Penerimaan Perpajakan di Negara Asean

Timbul Hamonangan Simanjutak

Abstract

This paper aims to analysize the progress of tax revenue in Asean Countries; Indonesia, Malaysia, Thailand and Philiphine from 1990 until 2009. The methode of analysize is descriptive statistic. The result of analysized shows that tax revenue in Asean countries have similarly pattern. The external shocks give the contagion effect to economic progress among four Asean countries. Although, this research also find that tax ratio in Thailand has higher rate than in Malaysia, Philiphine and Indonesia. Therefore, each country in Asean may anticipate the external shocks by appropriate tax policy to achieve optimum tax revenue in Asean countries.

Keywords : tax revenue, tax ratio, contagion effect, sunset policy

Pajak adalah salah satu instrumen keuangan negara yang dapat digunakan untuk membiayai pembangunan suatu negara. Seiring dengan itu, pajak merupakan sebuah piranti yang sering digunakan dalam pelaksanaan kebijakan fiskal suatu negara. Dalam konteks ini, pengenaan pajak terkandung unsur kebijakan publik yang memiliki implikasi luas terhadap kesejahteraan masyarakat, dan karenanya, implementasi dari fungsi alokasi, distribusi dan stabilisasi memegang peran sangat menentukan. Sebagai sebuah intrumen kebijakan fiskal, pajak memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan pembangunan.

Pengenaan pajak di suatu negara didasarkan pada berbagai peraturan perundang-undangan. Dalam hal ini pajak merupakan pungutan yang merupakan hak preogratif pemerintah, pungutan tersebut didasarkan pada Undang-undang, pemungutannya dapat dipaksakan kepada subyek pajak untuk mana tidak ada balas jasa yang langsung dapat ditunjukkan penggunaannya, Mangkoesoebroto (1998:

181). Sedangkan menurut Jones (2002:4) pajak didefinisikan sebagai : “….A tax can be defined simply as a payment to support the cost of government. A tax differ from a fine or penalty imposed by a government because a tax is not intended to deter or punish unacceptable behavior . On the other hand, taxes are compulsory; anyone subject to a tax is not free to choose

whether or not to pay.” Dengan demikian

pajak dimaksudkan sebagai transfer masyarakat untuk ongkos pembangunan bukan sebagai hukuman atau denda karena suatu hukuman.Sebaliknya pajak

merupakan suatu kewajiban, bukan pilihan.

Peran pemerintah dalam

(14)

pajak dalam penerimaan negara, menunjukkan semakin besar kemandirian negara tersebut dalam pembiyaan pembangunannya. Sebaliknya semakin kecil porsi pajak dalam penerimaan negara, maka semakin tidak mandiri kemampuan

negara dalam membiayai

pembangunannya.

Dalam kaitannya dengan

pemanfaatan pajak, secara lebih khusus Connolly and Munro (1999: 158) menyadari benar bahwa pajak memiliki peran penting dalam pembangunan ekonomi suatu negara. Oleh karena itu sangat disadari bahwa pencapaian dalam sasaran dan target pembangunan tidak dapat dicapai secara optimal apabila tidak didukung oleh penerimaan pajak. Pada posisi ini peran pajak sangatlah strategis dan menentukan di dalam mencapai keberhasilan dan kesinambungan pembangunan.

Kawasan perekonomian Asean memiliki dinamika tersendiri dalam pengoptimalan penerimaan negara dari pajak. Sebagai kawasan yang memiliki lokasi strategis dalam lalu lintas perhubungan via laut secara internasional, Asean menjadi pilihan utama bagi negara-negara di berbagai dunia untuk bermitra dalam kegiatan ekonomi. Kepekaan negara-negara di luar Asean untuk bermitra dengan Asean didasarkan pada kondisi empiris, dimana Populasi negara-negara di Asean sangat besar (sekitar 500 juta). Jumlah populasi tersebut merupakan sebuah potensi pasar yang sangat besar menghadapi berbagai permintaan macam barang dan jasa. Sebagai konsekuensi, kekuatan ekonomi negara-negara Asean banyak ditopang dari permintaan domestik yangg terus berkembang seiring dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk.

Potensi populasi dan stabilitas perekonomian di kawasan Asean, menjadikan negara-negara Asean memiliki

peluang yang cukup besar dalam meningkatkan penerimaan pajaknya. Hal ini dapat terjadi karena stabilitas perekonomian, merupakan sebuah indikator dari berjalannya berbagai kegiatan ekonomi suatu negara. Kondisi ini akan berdampak pada perluasan dan peningkatan nilai tambah ekonomi yang dapat tercipta dalam pembangunan negara-negara Asean. Namun demikian, dalam kurun waktu tahun 1990-2009, dinamika perkembangan ekonomi Asean tidak luput dari adanya dampak external shocks yang terjadi di negara-negara di luar kawasan Asean. Kondisi ini tentunya juga berdampak pada stabilitas perekonomian masing-masing negara Asean. Sebagai antisipasi, tentunya masing-masing negara juga menyiapkan berbagai kebijakan dalam rangka memperkuat fundamental perekonomiannya, sehingga external

shocks yang ada tidak berdampak serius

pada pertumbuhan ekonomi dan juga penerimaan pajak dalam postur Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara masing-masing negara Asean. Oleh karena itu sangat penting untuk menganalisis secara deskriptif perkembangan penerimaan pajak negara-negara Asean dalam menghadapi konstelasi perekonomian global yang terjadi.

Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis secara deskriptif kuantitatif. Penelitian difokuskan pada 4 (empat) negara Asean, yakni ; Indonesia, Malaysia, Philipina dan Thailand dalam kurun waktu 1990-2009. Data penelitian ini merupakan data sekunder time series, yakni data tentang penerimaan pajak di masing-masing negara anggota Asean. Sumber data dalam penelitian ini adalah

Asian Development Bank yang dapat

(15)

dokumentasi, yakni melakukan tabulasi, pencatatan, perekaman data dan pemaparan data.

Hasil dan Pembahasan

Perekonomian negara-negara Asean dalam kurun waktu 1990-2009 dihadapkan pada konstelasi perekonomian global yang berkembang cukup fluktuatif. Dalam kurun waktu tersebut negara-negara di luar kawasan Asean mengalami krisis ekonomi, seperti di USA, Uni Eropa dan Jepang. Krisis tersebut merupakan akumulasi dari berbagai ketidakstabilan yang ditimbulkan baik dari sisi keungan negara, keuangan perusahaan dan sektor perbankan. Krisis tersebut memiliki potensi untuk menimbulkan contagion

effect ke negara-negara di kawasan Asean.

Hal ini karena pada kenyataannya negara-negara Asean sudah menerapkan open

economy dalam berbagai bentuk kegiatan

ekonomi internasional, seperti aliran modal dan perdagangan barang dan jasa. Dalam hal ini investor asing dan kreditur yang memiliki modal tentunya menginginkan profit yang tinggi dalam bisnisnya. Pada sisi lain ekspor negara-negara berkembang mengalami tekanan ketika negara pembeli utama di luar negeri mengalami krisis. Oleh karena itu negara-negara berkembang berusaha sekuat mungkin untuk mengoptimalkan sumber keuangan dalam negerinya (Culpeper and Bhushan 2008).

Namun demikian dalam kurun waktu 1990-2009 walaupun terjadi gejolak perekonomian eksternal, perekonomian negara-negara di kawasan Asean masih menunjukkan stabilitasnya. Kondisi stabilitas perekonomian inipun pada akhirnya berdampak pada sektor penerimaan negara dari pajak. Sebagaimana diketahui, pajak merupakan sumber penerimaan negara yang sangat vital dalam membangun negara. Kemandirian pembiayaan pembangunan

akan ditentukan dari kapasitas pajak yang dapat dioptimalkan oleh negara-negara Asean. Secara agregate dengan jumlah penduduk yang cukup besar di kawasan Asean, menjadikan negara-negara di kawasan Asean memiliki potensi cukup besar dalam penerimaan dari sektor pajak.

Perkembangan perekonomian di negara-negara Asean pasca krisis ekonomi tahun 1998 ditandai oleh adanya semangat menerapkan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal dalam sistem pemerintahannya. Kondisi ini juga terjadi di Indonesia, dimana penerapan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal ini diterapkan dengan sebuah Undang-undang dan efektif berlaku pada tahun 2000.

Dalam undang-undang tersebut

mengisyaratkan adanya distribusi keuangan yang lebih merata ke pemerintah

daerah dalam pelaksanaan

pembangunannya.

Salah satu isu penting dalam pembangunan ekonomi di negara-negara Asean dewasa ini adalah penerimaan dari sektor pajak. Pajak dapat memberikan kontribusi besar dalam rangka membiayai pembangunan negara. Dalam hal ini masing-masing negara akan berusaha

semaksimal mungkin untuk

mengintensifkan sumber-sumber

penerimaan negara. Sebagai gambaran dari kondisi perkembangan penerimaan pajak di negara Asean dapat dipaparkan berikut ini.

a. Indonesia

(16)

perpajakan di Indonesia yang masih rendah dibandingkan dengan negara Asean lain seperti Malaysia dan Singapura. Guna mencapai kinerja perpajakan yang lebih besar lagi, berbagai kebijakan telah dilontarkan oleh pemerintah, seperti kebijakan Sunset Policy tahun 2008 (Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 66/PMK.03/2008). Kebijakan Sunset Policy

ini adalah fasilitas yg diberikan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) untuk menghilangkan sanksi administrasi perpajakan berupa bunga. Dalam kebijakan

sunset policy tersebut terdapat dua jenis

pengampunan, yaitu; penghapusan sanksi

administrasi dan terhindar resiko pemeriksaaan kepada WP yang baru mendaftarkan NPWP pada tahun 2008 dan penghapusan sanksi administrasi (bukan pengurangan sanksi) terhadap WP yang melakukan pembetulan SPT untuk tahun pajak 1998 s/d 2006 (sesuai daluarsa pajak). Kebijakan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan penerimaan negara dari pajak dalam rangka pembiayaan pembangunan nasional.

Adapun perkembangan penerimaan negara dari pajak dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Sumber:www.adb.org

Gambar 1

Penerimaan Pajak Di Indonesia (Miliar Rp)

Berdasarkan pada gambar di atas dapat dijelaskan bahwa penerimaan pajak Indonesia dalam kurun waktu 1990-2009 menunjukkan adanya trend kenaikan. Penerimaan pajak mulai tahun 2001 mulai menunjukkan kenaikannya menjadi sebesar Rp. 185.541 miliar dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Angka ini terus mengalami kenaikan hingga tahun 2008

penerimaan pajak meningkat menjadi sebesar Rp. 658.701 miliar. Sedangkan tahun 2009 penerimaan pajak mengalami penurunan menjadi sebesar Rp. 651.955 miliar.

(17)

rangka meningkatkan penerimaan negara. Hal ini tentunya dapat terjadi karena selain jumlah penduduk yang besar, kekuatan perekonomian Indonesia dewasa ini sangat ditopang oleh permintaan domestik.

Dengan semakin membaiknya

perekonomian nasional tentunya akan dapat mendorong masyarakat untuk terus melakukan kegiatan ekonominya. Dalam hal ini penerimaan pajak akan terus mengikuti kondisi perekonomian dan daya beli masyarakat dalam perekonomian nasional.

b.Malaysia

Malaysia merupakan sebuah negara dengan populasi pada tahun 2009 sekitar 28 jiwa. Struktur perekonomiannya memiliki kemiripan dengan Indonesia, yang banyak ditopang oleh sektor industri manufaktur dan pertanian dalam

pembangunannya. Adapun penerimaan negara bersumber dari indirect taxes (dikumpulkan oleh Royal Customs and

Excise Department), direct taxes

(dikumpulkan oleh the Inland Revenue

Board), dan non tax revenue. Indirect taxes

revenue sejak tahun 1960 merupakan jenis

pajak yang memberikan kontribusi terbesar pada penerimaan negara Malaysia. Indirect taxes revenue terdiri dari ; import duties, export duties, excise duties, sales tax dan

service tax. Dalam kaitannya dengan

kebijakan pajak di Malaysia, maka keputusan pemerintah Malaysia untuk merubah sistem indirect tax dari pajak penjualan dan jasa ke Good Service T ax

(GST) merupakan isu perekonomian yang menarik (Taha dan Loganathan, 2008). Adapun sebagai gambaran dari penerimaan pajak di Malaysia dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Sumber:www.adb.org

Gambar 2

(18)

Berdasarkan pada gambar di atas menunjukkan bahwa penerimaan pajak di Malaysia menunjukkan peningkatan dalam kurun waktu 1990-2009. Penerimaan pajak pada tahun 1990 sebesar RM 21.244 Juta. Angka tersebut meningkat menjadi sebesar Rm 112.987 juta pada tahun 2008. Kemudian pada tahun 2009 penerimaan pajak di Malaysia turun menjadi RM 106.504 juta. Fluktuasi dalam kenaikan pajak pada tahun 2008 dan 2009 ini sebagai dampak terjadi krisis ekonomi yang melanda perekonomian di negara-negara maju.

c.Philipina

Perkembangan penerimaan pajak di Philipina ditandai oleh adanya reformasi perpajakan pada tahun 1997 (the government's Comprehensive T ax Reform

Program (CTRP). Dalam CTRP tersebut

termasuk didalamnya additional

exemptions for VAT coverage,

pengurangan corporate income tax (CIT) rate dari 35% to 32 %, dan menurunkan

effective tax rates untuk tiga bentuk

komoditi yakni : alcohol products,

cigarettes, dan petroleum products dengan

merubah dari ad valorem ke specific taxes

(Ibon Fondation, 2010). Adapun sebagai gambaran dari penerimaan pajak di Philipina dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Sumber:www.adb.org

Gambar 3

Penerimaan Pajak Di Philipina (Billion Peso)

Berdasarkan pada gambar di atas menunjukkan bahwa penerimaan pajak di Philipina mengalami kenaikan selama kurun waktu 1990-2009. Pada tahun 1990 penerimaan pajak Philipina mencapai Peso

(19)

miliar. Penurunan pajak pada tahun 2009 ini juga merupakan konsekuensi dari melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia, sehingga berdampak pada kegiatan ekonomi dalam negeri Philipina.

d.Thailand

Penerimaan negara di Thailand dapat bersumber dari indirect tax, direct tax dan non tax revenue. Adapun Sumber-sumber penerimaan pajak di Thailand seperti ; income tax, value added tax,

excise tax, dan import tax. Namun

demikian seiring dengan pemberlakukan

perjanjian perdagangan bebas seperti dalam kerangka WTO, AFTA dan FT As, maka jenis pajak import tax mengalami penurunan. Dalam kurun waktu 1998 hingga 2003 jenis pajak yang memberikan kontribusi besar dalam penerimaan pajak di Thailand adalah pajak pertambahan nilai

(value added tax) sebesar 29% dan excise

tax sebesar 24%. Sedangkan corporate

income tax dan personal income tax

masing-masing sebesar 19% dan 14%

(Sujjapongse, 2005). Adapun

perkembangan penerimaan pajak secara

agregate di Thailand sebagai berikut ini :

Sumber:www.adb.org

Gambar 4

Penerimaan Pajak Di Thailand (Billion Baht)

Berdasarkan pada gambar di atas dapat dijelaskan bahwa penerimaan pajak di Thailand mengalami fluktuasi pada periode tahun 1990-2009. Hal ini dapat dilihat dari kondisi pada tahun 1997 dan tahun 1998 dimana penerimaan pajaknya masing-masing sebesar Baht 754 Miliar dan menurun menjadi Baht 642 Miliar dan

(20)

Thailand turun menjadi sebesar Baht 1.321 Miliar. Penurunan ini sebagai dampak dari kondisi krisis yang terjadi di negara-negara maju yang mempengaruhi kinerja perekonomian negara Thailand.

Dalam konteks pembentukan komunitas Asean dideklarasikan sebuah komitemen untuk membangun Asean

economic community sebagai berikut

...“The AEC Blueprint will transform

ASEAN into a single market and

production base, a highly competitive economic region, a region of equitable economic development, and a region fully integrated into the global economy...".

Dalam bidang perpajakan, maka setiap negara Asean akan mereformasi sistem perpajakannya sehingga menjadi lebih kompetetif diantara negara Asean lainnya.

Thailand merupakan salah satu negara yang responsif terkait perpajakan di Asean, dimana corporate income tax diturunkan menjadi sebesar 23% pada tahun 2012 dan 20% pada tahun 2014 (www.kpmg.com).

Kebijakan untuk mereformasi sistem perpajakan di negara-negara Asean merupakan sebuah implikasi dari keterbukaan perekonomian yang telah diterapkan di Asean.Kondisi ini tentunya dapat mempengaruhi kinerja pajak suatu negara manakala tidak dilakukan upaya konstruktif dan antisipatif. Dalam hal ini kinerja perpajakan dapat diukur dari besarnya rasio pajak terhadap PDB suatu negara. Adapun perkembangan rasio pajak terhadap PDB negara-negara Asean dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Sumber : data.worldbank.org/indicator

Gambar 5

Persentase Pajak T erhadap PDB Negara-negara Asean (%)

Dalam hal ini dibandingkan dengan negara Asean lainnya, Thailand memiliki rasio

(21)

atas 15%). Berdasarkan pada gambar di atas menunjukkan adanya sebuah pola yang sama dalam fluktuasi besarnya angka rasio pajak dengan PDB di Thailand, Indonesia, Malaysia dan Philipina. Indonesia dibandingkan dengan keempat negara Asean di atas memiliki trend perkembangannya yang semakin menurun. Pada tahun 2003 rasio pajak dengan PDB mencapai 12,39% dan pada tahun 2010 turun menjadi sebesar 10,87%.

Penutup

(22)

Daftar Pustaka

Bhushan, R. C. ,2008. Domestic Resource Mobilization: A Neglected factor

in Development Strategy.Ottawa:

The North‐South Institute

Connolly, Sara and Alistair Munro, 1999.

Economics of The Public Sector,

New Y ork: Prentice Hall

Jones, Sally M. 2002. Principles of

T axation, New York:Mc Graw

Hill.

Mangkoesoebroto, Guritno, 1998.

Ekonomi Publik, Edisi

Kedua,Y ogyakarta: BPFE-UGM Taha, Roshaiza dan Nanthakumar

Loganathan, , 2008. Causality Between Tax Revenue and

Government Spending In

Malaysia, The International

Journal of Business and Finance Research V olume 2, Number 2 IBON Foundation, 2012. “Taxes and

Development in the Philippines Towards enhancing domestic resource mobilization for development”, Research Paper, www.oecd.org diakses 25 Nopember

Sujjapongse, Somchai, 2005.”Tax Policy and Reform in Asian Countries : Thailand Perspective”, Journal

Asian Economics, diakses dari

http://www.econ.hit-u.ac.jp/~kokyo/sympojuly05/pape rs/july05-Thailand.pdf, tanggal 25 Nopember.

www.adb.org

(23)

__________________________________________ Alamat Korespondensi :

Imam Mukhlis. Jurusan Ekonomi Pembangunan FE Universitas Negeri Malang

Aliran

Foreign Direct Investment

dan Produk Domestik

Bruto Di Indonesia

Imam Mukhlis

Abstract

This research aims to analysize the relationship between Foreign Direct Investment (FDI) with Gross Domestic Product (GDP) in Indonesian economic for 2005 unti 2011. The methode of analysize is descriptive that recorded and verivicated the time series data ini Indonesian economy. The result suggest that both variables haven’ t same trend in Indonesian economy for 2005-2011. The GDP has increase more slowly, although FDI flow have fluctuated progress in Indonesia. The FDI flow depend on external condition and stabilization in host country. Based on this result, government must provide much insentive to foreign investor to invest in Indonesia. These insentive like provide infrastructure, tax holiday and reduce birocration in investment project by foreign investor .

Keywords : Foreign Direct Investment, Gross Domestic Product, Capital Flow,

External Shocks

Kemajuan suatu bangsa tidak dapat dilepaskan dari peran investasi. Investasi secara teoretis dapat mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi suatu negara. Dalam perspektif ini investasi dianggap dapat mengisi kesenjangan antara kemampuan anggaran/dana dalam negeri dengan besarnya keperluan anggaran untuk pembiayaan kegiatan pembangunan. Dalam hal ini ini menurut pemikiran Harrod Domar, pertumbuhan ekonomi suatu negara akan dipengaruhi oleh modal dan tenaga kerja. Modal tersebut dapat berperan dalam pembentukan kapital yang dibutuhkan perekonomian untuk meningkatkan pertumbuahan ekonomi suatu negara.

Namun demikian, tidak semua negara memiliki kemampuan dalam mendanai seluruh proyek pembangunannya dengan mengandalkan sumber daya ekonomi dalam negeri. Dalam hal ini negara berkembang akan terjebak pada situasi kelangkaan modal yang disebabkan karena masih rendahnya tingkat tabungan

masyarakat. Rendahnya tabungan masyarakat ini disebabkan karena tingkat pendapatan masyarakat yang masih rendah pula, sehingga pendapatan yang dimilikinya hanya cukup untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya saja. Sebagai akibatnya akan menimbulkan terjadinya

saving investment gap dalam

perekonomian. Kondisi ini tentunya dapat menghambat upaya negara untuk mengejar ketertinggalan ekonomi dengan negara lain yang lebih maju.

(24)

termasuk di Indonesia sangat penting dan penuh dengan kepentingan ekonomi semata. Dalam konteks ini ketersediaan sumber daya alam (bahan baku) industri di negara maju dapat disediakan oleh perekonomian negara sedang berkembang. Dengan membangun pabriknya di Indonesia, maka perusahaan asing yang ada dapat menghemat biaya produksi output. Kondisi ini juga dipertajam oleh suatu fakta dimana, populasi yang besar berarti menunjukkan adanya ketersediaan pasar yang luas bagi komoditi yang dihasilkan oleh perusahaan MNCs.

Kondisi perekonomian nasional dalam kurun waktu 2005 hingga 2011 ditandai oleh serangkaian fenomena. Berbagai fenomena ekonomi yang paling menarik adalah terjadinya krisis ekonomi di berbagai negara maju. Bahkan negara superpower seperti USA yang terkenal dengan kekuatan ekonominya, dapat saja terjebak pada jurang fiskal (fiscal clift) manakala USA tidak mampu mengelola perekonomiannya dengan baik. Negara-negara lain di Eropa juga banyak yang terjebak pada krisis ekonomi yang pada akhirnya juga berdampak pada ketahanan anggaran di masing-masing negara. Dalam kondisi lingkungan eksternal sedemikian rupa, maka mau tidak mau perekonomian nasional juga akan menghadapi tekanan yang cukup berat. Dalam hal ini melemahnya pasar luar negeri dan semakin terdepresiasinya mata uang US$ sebagai mata uang yang sering digunakan untuk bertransaksi secara internasional dapat berdampak pada ketidakstabilan dalam neraca pembayaran internasional Indonesia.

Kondisi perekonomian

internasional yang berfluktuatif berdampak signifikan terhadap aliran FDI di Indonesia. Aliran FDI di Indonesia dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk usaha yang dikelola oleh perusahaan MNCs. Perusahaan MNCs tersebut merupakan anak perusahaan yang didirikan di luar negara dengan pertimbangan tertentu, baik menyangkut ketersediaan bahan baku dan

jumlah penduduk di negara penerima FDI. Krisis ekonomi yang terjadi di luar negeri berdampak pada perilaku dan ekspektasi investor asing dalam menanamkan usahanya di Indonesia. Pada investor akan melakukan penghitungan ulang atas rencana bisnis dan anggarannya guna menyesuaikan dengan situasi baru yang berkembang dalam perekonomian. Dalam situasi seperti tersebut, perekonomian Indonesia masih menunjukkan kinerjanya dengan meningkatnya nilai PDB dari tahun 2005-2011. Kenaikan dalam PDB ini mencerminkan adanya kenaikan dalam kapasitas output yang dihasilkan oleg input produksi yang tersedia dalam perekonomian nasional. Berbagai input yang ada dapat digunakan melalui kombinasi sumber daya ekonomi sehingga memberikan kemanfaatan yang lebih luas dalam perekonomian. Dalam hal ini secara teoretis dapat dijelaskan bahwa aliran FDI dapat memberikan kontribusi yang semakin besar dalam menopang pertumbuhan ekonomi suatu negara. Berdasarkan pada pemaparan tersebut, maka artikel ini akan membahas mengenai aliran FDI dan PDB di Indonesia dalam kurun waktu 2005-2011.

Perspektif T eoretis Investasi

Pemikiran klasik tentang pentingnya investasi dapat diwujudkan dalam teori pertumbuhan ekonomi klasik yang dipaparkan oleh Sir Roy F. Harrod tahun 1939and Evsey Domar tahun 1946 yang kemudian dikenal dengan Teori Harrod-Domar. Menurutnya manakala sebuah perekonomi memiliki kapasitas tabungan, maka tabungan tersebut dapat digunakan untuk pemupukan modal untuk pencapaian pertumbuhan ekonomi suatu negara. Dalam hal ini dapat dimisalkan, tingkat tabungan (T) dipengaruhi oleh Produk Domestik Bruto (PDB), maka fungsi tabungannya dapat ditulikan sebagai ; S=f(PDB) dengan persamaan identitasnya sebesar S=sPDB, dimana s adalah

marginal propensity to save. Dalam hal ini

(25)

digunakan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi dipengaruhi juga oleh PDB sehingga fungsi modal adalah sebagai berikut ; K=f(PDB) dengan persamaan identitasnya adalah ; K=σPDB, dimana σ adalah Capital Output Ratio (CAR). Dalam hal ini investasi merupakan komponen penting dalam permintaan output seiring dengan kenaikan dalam

capital stock nya. Oleh karena itu menurut

Harrod dan Domar, permintaan dalam modal akan memiliki keseimbangan baru, yakni sebesar ; ∆K=σ∆Y . Guna tercapainya kondisi equlibrium dalam perekonomina, maka permintaan output dan penawaran output harus sama. Dalam persamaan identitas, maka kondisi tersebut dapat dituliskan lagi menjadi ; I=∆K=σ∆Y dan I=S. Oleh karena itu persamaan keseimbangan baru yang terjadi karena adanya tabungan dan investasi tersebut, menjadi σ∆Y=sY . Untuk mencapai sebuah

pertumbuhan ekonomi dalam

perekonomian dapat dicapai dengan mengikuti persamaan identitas baru, yakni ; g = ∆Y/Y = sY/σ/Y = s/σ. Persamaan baru tersebut memiliki makna bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi (g) sama dengan rasio antara tingkat marginal

propensity to consume (s) dengan capital

output ration (σ). Persamaan pertumbuhan ekonomi versi Harrod dan Domar, dimana

g=s/σ menginspirasikan bahwa

pembentukan modal dalam negeri sangat penting guna meningkatkan kapasitas output dalam negeri untuk memenuhi output perekonomian yang senantiasa berkembang secara dinamis. Oleh karena itulah, Teori Harrod Domar ini juga dalam banyak literatur Teori Ekonomi sering disebut AK model (accumulation of capital

model).

Teori pertumbuhan klasik versi Harrrod dan Domar dalam menjelaskan

pentingnya investasi dapat

menginsipirasikan munculnya pemikiran lainnya. Dalam hal ini teori ekonomi neo klasik (neoclasical economic theory). Theori ini menekankan bahwa tabungan

dan akumulasi modal secara bersama dengan variabel eksogen dalam bentuk

technical progress sebagai sumber

pertumbuhan ekonomi suatu negara. Selain itu pula variabel eksogen dalam model pertumbuhan ini juga menyangkut aspek tingkat pertumbuhan populasi. Kedua variabel eksogen tersebut diikuti dengan adanya fleksibilitas dalam pergerakan tabungan (liberty of saving rate). Apabila tingkat tabungan semakin besar, maka modal per pekerja juga akan semakin besar yang pada akhirnya dapat mendorong terjadinya kenaikan dalam pendapatan per kapita. Dalam hal ini pemikiran the

neoclassical of economic growth dapat

dinyatakan dalam pemikirannya oleh Robert Solow (1956) dan T.W . Swan (1956) yang kemudian dikenal denga Teori Solow-Swan. Teori ini mengekspresikan model pertumbuhan ekonomi sebagai fungsi produksi tenaga kerja dan modal, g=f(L,K). Fungsi pertumbuhan ekonomi tersebut dapat dikembangkan lagi menjadi ΔY/Y = ΔA/A + ΔL/L + ΔK/K dimana g adalah pertumbuhan ekonomi, L adalah input tenaga kerja, K adalah modal, dan A adalah produktifitas dari modal dan tenaga kerja. Sedangkan ΔY/Y, ΔA/A, ΔL/L, and ΔK/K menunjukkan perubahan dalam variabel-variabel tersebut.

Dalam pemikiran Solow dan Swan tersebut dijelaskan bahwa untuk dapat mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara, maka dibutuhkan adanya technological change. Hal ini penting karena menurut Solow dan Swan, dalam proses pencapaian pertumbuhan ekonomi dengan memanfaatkan sumber daya yang ada akan terjadi diminishing

marginal product. Sehingga dengan

(26)

Sumber : http://www.jamesrmaclean.com/mw/index.php/Solow-Swan_Classical_Growth_Theory Gambar 1:

Model Pertumbuhan Ekonomi Model Solow

Perkembangan berikutnya dalam menjelaskan pentingnya investasi dalam pertumbuhan ekonomi adalah model pertumbuhan endogen (endogenous growth

theory). Theori ini menjelaskan bahwa

investasi dalam sumber daya manusia (human capital investment), innovation dan knowledge merupakan faktor-faktor penting yang dapat memberikan kontribusi dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara. Theori ini fokus dalam terbentuknya

positive externalities and spillover effects

dari adanya knowledge yang akan dapat mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi. Tokoh-tokoh ekonomi dalam pemikiran endegenous growth theory ini seperti ; Kenneth Arrow (1962), Hirofumi Uzawa (1965), Paul Romer (1986), Lucas (1988),dan Rebelo (1991). Model pertumbuhan endegon dalam perspektif AK model dapat dijelaskan dengan fungsi pertumbuhan ekonomi versi Arrow

(Arrow’ s Learning by Doing), yakni ; Y i =A(K)F(Ki,Li). Dalam hal ini Y i menunjukkan adanya productivity dari perusahaan i, Ki adalah stock of capital

dari perusahaan i, Li adalah stock of labour dari perusahaan i, K menunjukkan

aggregated stock of capital dan A adalah

expertise aspect. Sedangkan pemikiran

Lucas (Lucas Model) dalam pertumbuhan endogen dapat dirumuskan sebagai berikut ; Yi = A(Ki).(Hi).H. Dalam hal ini A adalah technical coefficient, Ki dan Hi adalah input dari modal fisik dan modal manusia (input of physical and human

capital) yang digunakan oleh perusahaan

dalam menghasilkan barang Yi. Sedangkan variabel H adalah sistem keuangan (the

financial systems’ average level of human

capital) untuk setiap efisiensi perusahaan.

(27)

pembangunan ekonomi, maka banyak negara yang mengharapkan adanya aliran modal masuk (capital inflow). Aliran modal masuk ke suatu negara ini melibatkan adanya negara pemberi (host

country) dan negara penerima (home

country). Aliran modal masuk ini dapat

dikagerikan dalam bentuk Penanaman Modal Asing/ Foregin Direct Investment

(FDI). FDI ini menurut Casson (1982)

dibangun atas dasar teori integrasi, yakni ;

international capital market theory, theory

of the firm, dan international trade theory.

Ketiga teori tersebut berintegrasi dalam membentuk teori FDI yang dapat menjelaskan berbagai hal terkait dengan aliran modal asing masuk ke suatu negara. Dalam konteks perekonomian modern sekarang ini, aliran FDI dapat diwujudkan dalam bentuk penetrasi pasar oleh perusahaan multinasional (Multinational

Corporatins/MNCs). Adanya aliran FDI

melalui peran MNCs tersebut diharapkan dapat memberikan spillover effect dan

multiplier effect terhadap perekonomian

negara penerima FDI.

Dalam hal ini pemikiran tentang FDI dimulai dari sebuah pemikiran bahwa bahwa modal ((i.e., a production factor) sangat penting dalam pertumbuhan

ekonomi suatu negara. Dalam

perkembangannya terjadi pergerakan modal (flow of capital) antar negara. Dalam hal ini aliran FDI akan bergerak dari capital abundant countries (where its

return was low) kepada capital scarce

countries (where its return was high).

Pemikiran ini secara eksplisit dipaprkan oleh Mundell (1957) dan MacDougall (1960).

Metode Penelitian

Desain penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Pendekatan ini dapat dijabarkan ke dalam berbagai narasi dan pemaparan data yang berupa angka-angka ke dalam paparan analisis data. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah analisis

dokumen, yakni teknik pengumpulan data sekunder yang dilakukan dengan melakukan verifikasi data, pencatatan, dan perekaman data dari sumber data yang relevan. V ariabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah FDI dan PDB di Indonesia dalam kurun waktu 2005-2011. Sedangkan sumber datanya meliputi Bank Indonesia dan W orldbank.

Hasil dan Pembahasan

Dinamika yang terjadi dalam perekonomian nasional pada kurun waktu 2005-2011menunjukkan adanya fluktuasi dalam pencapaian stabilitas perekonomian. Hal ini terjadi karena secara empiris perekonomian nasional dewasa ini telah terintergrasi dengan perekonomian luar negeri, baik secara regional di kawasan ASEAN maupun secara internasional. Sebagai akibatnya external shocks yang terjadi diluar negeri dalam bentuk krisis ekonomi dan keuangan di negara lain akan dapat berdampak pada terjadinya

contagion effect terhadap perekonomian

dalam negeri. Pengalaman krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997 telah memberikan pelajaran bagi Indonesia dalam mengelola perekonomian yang terkena krisis ekonomi.

Pada sisi lain juga dapat dilihat bahwa Inodnesia sangat berperan aktif dalam berbagai kerjasama ekonomi. Berbagai perjanjian kerjasama ekonomi di berbagai kawasan telah lama diikuti dan dilaksanakan oleh Indonesia. Berbagai bentuk kerjasama ekonomi tersebut seperti dalam organisasi W orld Trade

Organization (WTO), Asia Pacific

Economic Cooperation (APEC), Asean

Free Trade Area (AFTA), dan juga Asean

Economic Community (AEC). Implikasi

dari kolaborasi ekonomi secara internasional ini dapat berdampak pada penguatan kapasitas perekonomian dalam negeri dalam konstelasi perekonomian yang berkembang.

(28)

ekonomi yang terjadi pada tahun 2008 di negara-negara maju lambat laun berdampak pada perekonomian Indonesia. Dampak ini dapat dilihat dari pelemahan pertumbuhan pada sisi agregat utamanya pada kegiatan ekspor Indonesia ke luar negeri. Melemahnya perekonomian negara-negara tujuan ekspor Indonesia secara signifikan berdampak pada kinerja perdagangan luar negeri Indonesia. Sebagai gambaran untuk nilai ekspor Indonesia pada Januari 2009 mencapai US$ 7,15 miliar, turun 17,70 persen dibanding Desember 2008. Sementara jika dibanding Januari 2008 juga mengalami penurunan sebesar 36,08 persen. Sedangkan nilai ekspor nonmigas pada Januari 2009 mencapai US$ 6,21 miliar, turun 16,67 persen dibandingkan dengan Desember 2008, atau turun 30,64 persen dibandingkan dengan Januari 2008 (BPS, 2010).

Namun demikian perlambatan kinerja pada sektor perdagangan luar negeri tersebut dapat diatasi dengan kinerja sektor lainnya, sseperti sektor konsumsi dan sektor keuangan korporasi. Sektor konsumsi masih menjadi andalan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi

nasional dalam beberapa periode pembangunan. Hal ini dapat dipahami karena Indonesia merupakan negara dengan jumlah populasi besar seperti India dan China. Kekuatan dari aspek populasi ini dapat membentuk komponen permintaan konsumsi memiliki kontribusi besar dalam pembentukan Produk Domestik Bruro (PDB) Indonesia. Sebagai gambaran pada tahun 2009 kontribusi sektor konsumsi individu (private

consumption) berdasarkan harga pasar

(market price) di Indonesia sebesar 58,6%.

Sedangkan pengeluaran konsumsi negara sebesar 9,6% (Asian Development Bank, 2010). Sektor keuangan korporasi juga menunjukkan nilai yang cukup besar, dimana pada tahun 2009 memberikan andil dalam membangun sektor keuangan dalam negeri dengan nilai portofolio investment -nya mencapai US$ 10.104 juta. Kondisi ini tentunya dapat berdampak pada penguatan kegiatan ekonomi yang pada akhirnya dapat meningkatkan PDB Indonesia.

Sebagai gambaran dari

perkembangan PDB Indonesia dalam kurun waktu 2005- 2011 dapat dilihat pada tabel berikut ini :

(29)

Sumber : Asian Development Bank, 2010

Gambar 2:

Perkembangan PDB di Indonesia (Miliar Rp)

Dalam kurun waktu tahun 2005 hingga 2011 menunjukkan adanya kenaikan dalam nilai PDB. Pada tahun 2005 nilai PDB Indonesia mencapai US$ 1.750.815 juta, sedangkan pada tahun 2011 meningkat menjadi sebesar US$2.463.242 juta. Namun demikian kenaikan dalam nilai PDB ini menunjukkan adanya perlambatan dalam pencapaian outputnya dari tahun ke tahun. Sebagai gambaran pada tahun 2008 pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,0% dan pada tahun 2009 turun menjadi sebesar 4,6%.

(30)

Sumber : W orldbank, 2010

Gambar 3:

Perkembangan FDI di Indonesia (Juta US$)

Berdasarkan pada gambar di atas menunjukkan bahwa perkembangan FDI di Indonesia dalam kurun waktu 2005 hingga 2011 menunjukkan adanya fluktuasi. Hal ini dapat terjadi karena aaliran FDI merupakan representasi dari perilaku dan ekspektasi investor asing terhadap kondisi perekonomian baik secara global, kondisi perekonomian negara asal FDI dan kondisi

perekonomian negara penerima

FDI.Keputusan investor asing untuk melakukan investasi di luar negeri dalam bentuk FDI (Penanaman Modal Asing) di Indonesia tentunya didasari oleh kepentingan keuntungan yang maksimal. Situasi dan kondisi perekonomian Indonesia walaupun diterpa banyak gangguan karena kondisi eksternal yang tidak stabil, masih memberikan banyak harapan bagi investor asing untuk tetap berinvestasi di Indonesia. Dalam hal ini karena potensi pasar yang cukup besar dan penyediaan sarana prasarana fisik investasi sudah banyak dilakukan oleh Pemerintah, maka berbagai insentif tersebut dapat

dipandang sebagai sebuah daya tarik untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Dalam hal ini wujud aliran FDI di Indonesia banyak dibawa oleh perusahaan multinasional (MNCs) baik dari USA, Eropa, Asia dan ASEAN. Perusahaan-perusahaan dari berbagai negara tersebut banyak mengembangkan usahanya di Indonesia utamanya dalam kaitannya dengan kedekatannya dengan pasar produk di Indonesia. Namun demikian krisis luar negeri yang terjadi di negara-negara maju berdampak signifikan terhadap aliran FDI di Indonesia yang mengalami penurunan pada tahun 2009. Dibandingkan dengan tahun 2008 aliran FDI di Indonesia mencapai angka US$ 9.318 juta dan pada tahun 2009 turun menjadi sebesar US$ 4.877 juta. Adanya krisis di negara maju tersebut berdampak pada kemampuan investasi dari perusahaan atau individu di luar negeri dalam mengalokasikan dananya di Indonesia.

(31)

Indonesia dalam kurun waktu 2005-2011 menunjukkan tidak adanya pola yang sama dalam trend perkembangannya. Nilai PDB Indonesia dalam kurun waktu tersebut memiliki kecenderungan yang meningkat dari waktu ke waktu walaupun mengalami kenaikan yang sedikit. Sedangkan aliran FDI di Indonesia mengalami fluktasi, khususnya mengalami perkembangan terendahnya pada tahun 2006 dan 2009. Dalam perspektif secara teoretis di atas dapat dijelaskan bahwa aliran FDI dapat memberikan mmberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara. Namun demikian juga patut dicermati bahwa aliran FDI tersebut dapat menyebar ke berbagai daerah di Indonesia dan pada berbagai sektor (industri, pertambangan, perkebunan, kehutanan, pertanian dan keuangan perbankan). Namun demikian walaupun pola perkembangannya memiliki perbedaan antara PDB dan FDI, aliran FDI di Indonesia masih diharapkan eksistensinya dalam rangka menciptakan multiplier dan

spillover effect yang lebih luas lagi dalam perekonomian nasional.

Penutup

Berdasarkan pada hasil di atas dapat disimpulkan bahwa aliran FDI dan PDB di Indonesia tidak memiliki trend perkembangan yang sama dalam kurun waktu 2005-2011. Dengan kata lain nilai PDB di Indonesia dalam kurun waktu tersebut mengalami trend kenaikan. Hal ini terjadi karena komponen dalam pembentuk PDB di Indonesia memiliki kemampuan untuk saling mensubstitusikan perannya. Dalam hal ini komponen konsumsi dalam permintaan agregat di Indonesia memiliki kontribusi penting dalam pembentukan PDB yang meningkat dari waktu ke waktu. Jadi walaupun situasi perekonomian duni sedang berfluktuasi, namun kondisi tersebut tidak berdampak besar dalam pembentukan PDB di Indonesia. Sedangkan aliran FDI di Indonesia banyak dipengaruhi oleh kondisi perekonomian di berbagai kawasan dunia. Hal ini terjadi karena aliran FDI mencerminkan perilaku investor dalam memahami fenomena yang berkembang, sehingga keputusan investasinya diharapkan dapat memberikan keuntungan yang maksimal.

Berdasarkan pada hasil penelitian ini maka sudah selayaknya pemerintah untuk mempertimbangkan perluasan berbagai insentif bagi investor asing yang ingin mendatangkan investasi langsungnya ke Indonesia. Insentif tersebut dapat diwujudkan baik dalam bentuk penyediaan sarana dan prasarana investasi yang kondusif maupun dalam bentuk insentif keringan pajak dan adiministrasi perizinan. Selain itu pula guna meningkatkan lairan FDI ke Indonesia, maka pemerintah perlu menjaga stabilitas perekonomi domestik dengan cara melibatkan pemerintah daerah

dalam upaya mempermudah dan

mempercepat koordinasi dalam

(32)

Daftar Pustaka

Arrow, Kenneth J., 1962"The Economic Implications of Learning by Doing," Ke~izewof Economzc

Studzes, June, 29:155-73.

Casson, M.,1982. Transaction Costs and

the Theory of the MNE in A. M.

Rugman (ed.) New Theories of the Multinational Enterprise, New Y ork, St. Martin’s Press.

Domar, Evsey,1946, "Capital Expansion,

Rate of Growth, and

Employment". Econometrica 14

(2),April : 137–47.

http://www.jstor.org/stable/19053 64. Harrod, Roy F.,1939. "An Essay in Dynamic Theory". The

Economic Journal 49 (193),

Maret : 14–33.

http://www.jstor.org/stable/22251 81.

Lucas, Robert E., Jr., 1988 “On the Mechanics of Development Planning,” Journal of Monetary

Economics 22(1), July, 3–42.

(Lucas’s Nobel address focused on a two-sector model with human capital

MacDougall, G. D. A.,1960. “The benefits and costs of private investment from abroad: A theoretical

approach”, Economic Record, Special Issue, : 13-35.

Mundell, R. A.,1957. “International trade and factor mobility”, American

Economic Review, vol. 47, :

321-335.

Rebelo, Sergio, 1991 “Long-Run Policy Analysis and Long-Run Growth,”

Journal of PoliticalEconomy

99(3), June, 500–521. (One of the most often cited AK models) Romer, Paul M., 1986 “Increasing Returns

and Long-Run Growth,” Journal

of Political Economy 94 (5),

October, 1002−1037.

Solow, Robert M.,1956. "A Contribution to the Theory of Economic Growth". Quarterly Journal of

Economics (The MIT Press) 70

(1): 65–94, doi:10.2307/1884513. JSTOR 1884513.

Swan, Trevor W .,November 1956. "Economic Growth and Capital Accumulation". Economic Record

(John Wiley & Sons) 32 (2): 334– 361, doi:10.1111/j.1475-4932. Uzawa, Hirofumi, 1965."Optimum

Technical Change in an

Aggregative Model of

EconomicGrowth," International

Economic Review, January, 6:

Gambar

Gambar 1
gambar berikut ini :
Gambar 3
Gambar 4
+7

Referensi

Dokumen terkait

pelayanannya baik jumlah pengunjung akan semakin bertambah. c) Dalam penempatan perabot seperti meja, kursi, rak buku, lemari, dan lainnya hendaknya disusun dalam bentuk garis

Sehingga dengan alasan tersebut, lebih menguntungkan untuk head sistem yang tinggi digunakan pompa perpindahan positif apabila kapasitas aliran tidak menjadi tujuan utama dari

1) Penciptaan kalender oleh para dewata setelah mengalahkan Watugunung merangkap sebagai titik awal dari penetapan larangan atas incest. Itulah pencerahan yang pertama. Sang ibu

Nilai impor Sulawesi Tenggara pada bulan Mei 2015 tercatat US$ 36,66 juta atau mengalami peningkatan sebesar 52,24 persen dibanding impor April 2015 yang tercatat US$ 24,08

Melakukan berbagai bentuk latihan kebugaran jasmani yang berkaitan dengan kesehatan (daya tahan, kekuatan).. Melakukan pengukuran berbagai bentuk latihan kebugaran jasmani

KABUPATEN KUPANG DEBIT (l/det) EKSPLO RASI PEMANFAATAN KEDALAMAN SUMUR LUAS AREAL... KOTA KUPANG 51 PNI-159 Nunkurus Kupang

Hasil penelitian yang diperoleh dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi tentang pertanggungjawaban dana pendidikan meliputi: Kepala sekolah sebagai

Berdasarkan pembahasan tentang Standar Nasional Perpustakaan yang dirujuk melalui UU No 43 tahun 2007. Setelah menyajikan hasil data penelitian diatas maka