• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

G. Pengabsahan data

Validasi data sangat mendukung hasil akhir dari suatu penelitian, oleh karena itu diperlukan teknik untuk memeriksa keabsahan data. Keabsahan data dalam penelitian ini diperiksa denagan menggunakan teknik triangulasi.

Dalam teknik pengumpulan data, tringulasi diartikan sebagai etknik pngumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan dan sumber data yang telah ada. Adapun beberapa macam bentuk teknik pengumpulan data adalah :

1. Tiangulasi sumber data

Tiangulasi sumber dilakukan untuk menguji kredibilitas data dengan cara mengecek data yang diperoleh melalui beberapa sumber.

Dalam hal ini, untuk menguji kredibilitas data tentang Peranan Pemerintah

35

Desa Dalam Implementasi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan, maka pengumpulan data dan pengujian data yang telah diperoleh dilakukan kepada kepala desa, pengelola, pelaksana serta pelaku dalam hal ini masyarat.

2. Triangulasi metode

Triangulasi metode dalam hal ini bermakna sebagai data yang diperoleh dari satu sumber yang ada dengan menggunakan metrode atau teknik tertentu, termasuk dilakukannya uji keakuratan data atau ketidak akuratan data yang sudah ada.

3. Triangulasi Waktu

Triangulasi metode yang berkenaan dengan waktu pengumpulan data. Waktu juga sering mempengaruhi tingkat kredibilitas data, dimana data yang dikumpulkan melalui teknik wawancara dipagi hari pada saat narasumber masih segar, belum banyak kegiatan dan masalah, sehingga akan memberikan data yang lebih valid.

36 35

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Obyek Penelitian

1. Sejarah singkat Kabupaten Gowa

Sebelum Kerajaan Gowa terbentuk, terdapat 9 (sembilan) Negeri atau Daerah yang masing-masing dikepalai oleh seorang penguasa yang merupakan Raja Kecil. Negeri ini ialah Tombolo, Lakiung, Samata, Parang-parang, Data, Agang Je’ne, Bisei, Kalling dan Sero. Pada suatu waktu Paccallayya bersama Raja-Raja kecil itu masygul karena tidak mempunyai raja, sehingga mereka mengadakan perundingan dan sepakat memohon kepada Dewata agar menurunkan seorang wakilnya untuk memerintah Gowa. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1320 (Hasil Seminar Mencari Hari Jadi Gowa) dengan diangkatnya Tumanurung menjadi Raja Gowa maka kedudukan sembilan raja kecil itu mengalami perubahan, kedaulatan mereka dalam daerahnya masing-masing dan berada di bawah pemerintahan Tumanurung Bainea selaku Raja Gowa Pertama yang bergelar Karaeng Sombaya Ri Gowa. Raja kecil hanya merupakan Kasuwiyang Salapanga (Sembilan Pengabdi), kemudian lembaga ini berubah menjadi Bate Salapang (Sembilan Pemegang Bendera). Pada tahun 1320 Kerajaan Gowa terwujud atas persetujuan kelompok kaum yang disebut Kasuwiyang-Kasuwiyang dan merupakan kerajaan kecil yang terdiri dari 9 Kasuwiyang yaitu Kasuwiyang Tombolo, Lakiyung, Samata, Parang-parang, Data, Agang Je’ne, Bisei, Kalling, dan Sero.

37

Di masa kepemimpinan Karaeng Tumapa’risi Kallonna tersebutlah nama Daeng Pamatte selaku Tumailalang yang merangkap sebagai Syahbandar, telah berhasil menciptakan aksara Makassar yang terdiri dari 18 huruf yang disebut Lontara Turiolo. Pada tahun 1051 H atau tahun 1605 M, Dato Ribandang menyebarkan Agama Islam di Kerajaan Gowa dan tepatnya pada tanggal 9 Jumadil Awal tahun 1051 H atau 20 September 1605 M, Raja I Mangerangi Daeng Manrabia menyatakan masuk agama Islam dan mendapat gelar Sultan Alauddin. Ini kemudian diikuti oleh Raja Tallo I Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka dengan gelar Sultan Awwalul Islam dan beliaulah yang mempermaklumkan shalat Jum’at untuk pertama kalinya.

Raja I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape Muhammad Bakir Sultan Hasanuddin Raja Gowa ke XVI dengan gelar Ayam Jantan dari Timur, memproklamirkan Kerajaan Gowa sebagai kerajaan maritim yang memiliki armada perang yang tangguh dan kerajaan terkuat di Kawasan Indonesia Timur.

Akibat peperangan yang terus menerus antara Kerajaan Gowa dengan VOC mengakibatkan jatuhnya kerugian dari kedua belah pihak, oleh Sultan Hasanuddin melalui pertimbangan kearifan dan kemanusiaan guna menghindari banyaknya kerugian dan pengorbanan rakyat, maka dengan hati yang berat menerima permintaan damai VOC. Dalam sejarah berdirinya Kerajaan Gowa, mulai dari Raja Tumanurung Bainea sampai dengan setelah era Raja Sultan Hasanuddin telah mengalami 36 kali

38

pergantian Somba (raja). Pada tahun 1950 berdasarkan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1950 Daerah Gowa terbentuk sebagai Daerah Swapraja dari 30 daerah Swapraja lainnya dalam pembentukan 13 Daerah Indonesia Bagian Timur. Sejarah Pemerintahan Daerah Gowa berkembang sesuai dengan sistem pemerintahan negara. Setelah Indonesia Timur bubar dan negara berubah menjadi sistem Pemerintahan Parlemen berdasarkan Undang-Undang Dasar Sementara tahun 1950 dan Undang-undang Darurat Nomor 2 Tahun 1957, maka daerah Makassar bubar. Pada tanggal 17 Januari 1957 ditetapkan berdirinya kembali Daerah Gowa dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan ditetapkan sebagai daerah Tingkat II . Sela njutnya dengan berlakunya Undang-undang Nomor 1 tahun 1957 tentang Pemerintahan Daerah untuk seluruh wilayah Indonesia tanggal 18 Januari 1957 telah dibentuk Daerah – daerah Tingkat II.

Tabel 2 : Bupati Gowa Dari Tahun 1957 sampai sekarang

No Nama Bupati Periode

1. Andi Idjo Karaeng Lalolang 1957 – 1960

2. Andi Tau 1960 – 1967

3. H. M. Yasin Limpo Karetaker

4. Andi Bachtiar Kareteker

5. K. S. MasÕud 1967 – 1976

11. H. Andi Baso Machmud Karetaker

12. H. Ichsan Yasin Limpo, SH 2005 sampai sekarang

39

2. Profil Desa Julumate’ne a. Keadaan Geografi

Desa julumate’ne merupakan daerah pegunungan/lereng yang terletak di wilayah kecamatan bontolempangan kabupaten gowa.Desa julumate’ne berbatasan sebelah utara dengan elurahan Sapaya (kec.Bungaya),sebelah timur dengan Desa Bontolempangan, sebelah selatan dengan kec.Biringbulu, sebelah barat berbatasan Desa Ulujangan.Dengan luas +_ 16,18 km2,jarak dari ibukota Kecamatan Bontolempangan : 8 km.

Desa julumate’ne sebelumnya hanya sebuah wilayah RK/RW dengan nama Bontomate’ne yang merupakan wilayah dari dusun lemoa desa bontolempangan pada tahun 1965 s/d 1988.Kemudian dibentuk menjadi dusun/lingkungan yang membawahi 3 (tiga) RW/RK yaitu : RK Bontomate’ne,RK Barua,RK Pammolongan.

Pada tahun 1989 kampung gallaran ulujangan juga dipisahkan dari desa Sapaya sehingga pada tanggal 28 Desember 1989 dibentuklah Desa persiapan julumate’ne yang membawahi 3 wilayah Dusun Bontomate’ne,Dusun Barua,dan Dusun Ulujangan,pusat pemerintahan Desa Julumate’ne berousat di Dusun Julumate’ne sebagai ibu kota desa.

Pada tahun 1992 Desa persiapan Julumate’ne resmi jadi desa Defenitif melalui pemilihan langsung dengan kepala desa pertama hasil pemilihan pada waktu itu adalah : Muhammad.S.yang

40

memerintah sampai pertengahan tahun 2003.Yang kemudian pada pemilihan kedua digantikan oleh kepala desa yang terpilih : M.Basri Madi (samapi sekarang).

Pada tahun 2003 juga wilayah Desa Julumate’ne yakni Dusun Ulujangan juga dipisahkan dari desa induk menjadi Desa persiapan Ulujangan, sehingga sehingga RK Pammolongang juga dijadikan sebuah wilayah Dusun dengan nama Dusun Bontomarannu.Pada tahun 2008 diadakan pemilihan Kepala Desa yang ke_3 di desa Julumate’ne, dan yang terpilih kembali adalah M.Basri Madi.Pada awal pemerintahan tahun 2 008 tersebut,terbentuk lagi satu dusun yaitu Dusun Bajiminasa yang sebelumnya merupakan bagian Dusun Bontomate’ne. Sehingga saat ini Desa Julumate’ne memiliki 4 bagian wilayah Dusun sebagaimana tersebut diatas.

Desa Julumate’ne berada 144 KM dari ibu kota Provinsi atau 135 dari Kota sungguminasa ibukota kabupaten Gowa atau 3 KM ibu kota kecamatan Bontolempanagan.Desa Ju lumate’ne dengan luas wilayah 9,33 KM2. Batas-batas wilayah Desa Julumate’ne :

- Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Sapaya utara Kec.

Bungaya.

- Sebelah timur berbatasan dengan Desa Bontolempangan Kec.

Bontolempangan.

- Sebelah selatan berbatasan dengan Kec. Biringbulu.

41

- Sebelah barat berbatasan dengan Desa Ulujangan Kec.

Bontolempangan.

b. Keadaan Penduduk

Desa Julumate’ne mempunyai jumlah penduduk 2.112 jiwa, berdasarkan sensus penduduk dari data statistik. Dimana jumlah penduduk laki-laki sebesar 1.026 jiwa, sedangkan jumlah penduduk perempuan sebesar 1.086 jiwa dengan jumlah kepala keluarga (KK) 525 KK.Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3 : Keadaan Jumlah Penduduk.

No Dusun

c. Keadaan Penduduk Menurut Mata Pencaharian

Secara umum sumber perekenomian ataupun mata pencaharian penduduk Desa Julumate’ne didominasi oleh pedagang dengan jumlah kartu keluarga (KK) yaitu 426 dan tingkat perekonomian terendah berada pada mata pencaharian pegawai negeri sipil (PNS) yaitu sebanyak 4 kartu keluarga dari jumlah 525 kartu keluarga dapat dijabarkan sebagai berikut:

42

Tabel 4 : Keadaan Penduduk Menurut Mata Pencaharian

No Mata Pencaharian Jumlah KK Persentase (%)

1 Petani 34 6.5

2 Pedagang 426 81.1

3 PNS 4 0.8

4 Wiraswasta 6 1.1

5 Jasa 35 6.7

6 Tukang 11 2.1

7 Pensiunan 9 1.7

Jumlah 525 100

Sumber: RPJM-Des Desa Julumate’ne d. Keadaan Sarana dan Prasarana

Selama terbentuknya Desa Julumate’ne sudah cukup banyak sarana dan prasarana yang sudah dibangun untuk memfasilitasi keadaan sarana dan prasarana Desa Julumate’e antara lain yaitu sebagai berikut :

Tabel 5 : Keadaan sektor jalan dan jembatan

No Jalan dan Jembatan Volume ( KM )

1. Jalan aspal 5,5 km

2. Jalan perkerasan 3 km

3. Jalan tanah 3 km

4. Jembatan beton 2 unit

Sumber : RPJM –Desa Julumate’ne

43

3. Profil program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan Desa Julumate’ne Kecamatan Bontolempangan Kab. Gowa a. Visi – Misi dan Tujuan PNPM-Mandiri Perdesaan

Visi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan adalah tercapainya kesejahteraan dan kemandirian masyarakat miskin perdesaan. Kesejahteraan berarti terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat. Kemandirian berarti mampu mengorganisir diri untuk memobilisasi sumber daya yang ada di lingkungannya, serta mengelola sumber daya tersebut untuk mengatasi masalah kemiskinan.

Misi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri perdesaan adalah: (1) peningkatan kapasitas masyarakat dan kelembagaannya; (2) pelembagaan sistem pembangunan partisipatif;

(3) pengefektifan fungsi dan peran pemerintah lokal; (4) peningkatan kualitas dan kuantitas prasarana sarana sosial dasar dan ekonomi masyarakat; (5) pengembangan jaringan kemitraan dalam pembangunan.

b. Tujuan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan

1. Tujuan Umum

Tujuan Umum Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan kesempatan kerja masyarakat miskin di perdesaan

44

dengan mendorong kemandirian dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan pembangunan.

2. Tujuan khususnya meliputi :

a. Meningkatkan partisipasi seluruh masyarakat, khususnya masyarakat miskin dan atau kelompok perempuan, dalam pengambilan keputusan perencanaan, pelakksanaan, pemantauan dan pelestarian pembangunan.

b. Melembagakan pengelolaan pembangunan partisipatif dengan mendayagunakan sumber daya lokal.

c. Mengembangkan kapasitas pemerintah desa dalam memfasilitasi pengelolaan pembangunan partisipatif.

d. Menyediakan prasarana sarana sosial dasar dan ekonomi yang diprioritaskan oleh masyarakat.

e. Melembagakan penelolaan dana bergulir.

f. Mendorong terbentuk dan berkembangnya kerja sama antar desa.

g. Mengembangkan kerja sama antar pemangku kepentingan dalam upaya penanggulangan kemiskinan perdesaan.

c.

Realisasi Program PNPM Mandiri Perdesaan

1.

Terjadinya peningkatan keterlibatan Rumahtangga miskin (RTM) dan kelompok perempuan mulai perencanaan sampai dengan pelestarian

2.

Terlembaganya sistem pembangunan partisipatif di desa dan antar desa

45

3.

Terjadinya peningkatan kapasitas pemerintah desa dalam mempasilitasi pembangunan partisipatif

4.

Berfungsi dan bermanfaatnya hasil kegitan program nasional pemberdayaan masyarakat Mandiri Perdesaan bagi masyarakat

5.

Terlembaganya pengololaan dana bergulir dalam peningkatan pelayanan sosial dasar dan ketersediaan akses ekonomi terhadap Rumahtangga miskin (RTM)

6.

Terbentuk dan berkembangnya badan kerjasama antar desa (BKAD) dalam pengelolaan pembangunan

7.

Terjadinya peningkatan peran serta dan kerja sama para pemangku kepentingan dalam upaya penanggulangan kemiskin perdesaan

d. Kriteria dan jenis Kegiatan

Kegiatan yang akan dibiayai melalui dana bantuan langsung masyarakat diutamakan untuk kegiatan yang memenuhi kriteria :

a. Lebih bermanfaat bagi masyarakat miskin atau rumah tangga miskin b. Berdampak langsung dalam peningkatan kesejahteraan

c. Dapat dikerjakan oleh masyarakat d. Didukung oleh sumber daya yang ada

e. Memiliki potensi berkembang dan berkelanjutan

Jenis-jenis kegiatan yang dibiayai melalui bantuan langsung masyarakat program nasional pemberdayaan masyarakat Mandiri Perdesaan adalah sebagai berikut :

46

1. Kegiatan pembangunan atau perbaikan prasarana sarana dasar yang dapat memberikan manfaat jangka pendek maupun jangka panjang secara ekonomi bagi masyarakat miskin atau rumah tangga miskin 2. Kegiatan peningkatan bidang pelayanan kesehatan dan pendidikan,

termasuk kegiatan pelatihan pengembangan keterampilan masyarakat (pendidikan nonformal)

3. Kegiatan peningkatan kapasitas/keterampilan kelompok usaha ekonomi terutama bagi kelompok usaha yang berkaitan dengan produksi berbasis sumber daya lokal ( tidak termasuk penambahan modal)

4. Penambahan permodalan simpan pinjam untuk kelompok perempuan (SPP)

e. Pedanaan/Pembiayaan PNPM Mandiri Perdesaan

Alokasi bantuan langsung masyarakat untuk setiap kecamatan dilakukan dengan menggunakan dua cara, yaitu :

3. Alokasi berdasarkan keberadaan desa tertinggal

Kecamatan yang mempunyai desa tertinggal yang telah ditetapkan oleh Pemerintah, maka alokasi bantuan langsung masyarakatnya berdasarkan desa tertinggal yang ada di kecamatan tersebut. Data desa tertinggal merujuk pada datayang ditetapkan oleh kementrian Pembangunan Daerah Tertinggal.

4. Alokasi berdasarkan ratio penduduk miskin dan jumlah penduduk dikecamatan.

47

Untuk kecamatan-kecamatan yang tidak mempunyai desa tertinggal yang telah ditentukan pemerintah, dialokasikan dengan menggunakan rasio penduduk miskin dan jumlah penduduk dalam kecamatan.

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan merupakan program Pemerintah Pusat bersama Pemerintah Daerah, artinya program ini direncanakan, dilaksanakan dan didanai bersama-sama berdasarkan persetujuan dan kemampuan yang dimiliki oleh Pemerintah Pusat dan Daerah.

Sumber dan Ketentuan Alokasi Dana bantuan langsung masyarakat program nasional pemberdayaan masyaraakat maandiri perdesaan, sumber dana berasal dari :

1. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

2. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

3. Swadaya Masyarakat.

4. Partisipasi dunia usaha.

4. Karakteristik Informan

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari hasil wawancara terhadap Informan mengenai keadaan tingkat umur, keadaan tingkat pendidikan, dan keadaan jenis kelamin yang dapat dijadikan sumber atau masukan bagi beberapa variabel yang diteliti dalam penelitian ini. Data Informan ini diperoleh dari data primer yang dapat dideskripsikan sebagai berikut :

48

a. Keadaan informan berdasarkan tingkat umur

Berdasarkan data yang dihimpun dari informan menunjukkan terdapat tingkat umur 25 sampai 36 tahun sebanyak 4 orang,tingkat umur 36 sampai 55 tahun sebanyak 4 orang. Kondisi ini menunjukkan tingkat umur informan didominasi oleh tingkat umur 36 - 55 tahun yaitu sebanyak 8 orang.

Tabel 6 : Keadaan informan menurut tingkat umur.

No Tingkat Umur (tahun) Informan (orang)

1 25 – 36 4

2 36 – 55 4

Jumlah 8

Sumber: RPJM-Des Desa Julumate’ne

b. Keadaan informan berdasarkan tingkat pendidikan ( SDM )

Data yang dihimpun dari Informan diperoleh tingkat Pendidikan Berdasarkan data yang dihimpun dari hasil wawancara informan menunjukkan terdapat tingkat pendidikan yang berbeda-bed yaitu tingkat pendidikan SLTA sebanyak 4 orang, dan tingkat pendidikan S1 sebanyak 4 orang.

Tabel 7 : Keadaan informan Menurut tingkat pendidikan.

No Pendidikan Informan (orang)

1 SLTA 4

2 Sarjana (S1) 4

Jumlah 8

Sumber: RPJM-Des Desa Julumate’ne

49

c. Keadaan informan berdasarkan jenis kelamin

Data yang dihimpun dari informan melalui hasil wawancara diperoleh jenis kelamin seperti Berdasarkan data yang dihimpun dari informan menunjukkan terdapat jenis kelamin laki-laki 8 orang.

Kondisi ini menunjukkan jenis kelamin informan didominasi oleh jenis kelamin laki-laki sebanyak 8 orang.

Tabel 8 : Keadaan informan menurut jenis kelamin

No Laki-laki Perempuan

1. 8 -

Sumber : RPJM-Desa Julumate’ne

B. Implementasi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan dalam aspek Pembangunan Fisik Lingkungan di Desa Julumate’ne Kec. Bontolempangan Kab. Gowa.

Dari beberapa jumlah fungsi manajemen, implementasi merupakan salah satu fungsi yang sangat penting dalam pencapaian tujuan manajemen itu sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari baik kalangan masyarakat maupun di lingkungan perusahaan swasta maupun pemerintahan makna implementsi ini agaknya tidak terlalu sulit untuk di pahami. Akan tetapi untuk memberi batasan tentang implementasi ini masih sulit untuk di berikan. Dalam kamus bahasa Indonesia istilah “Implementasi diartikan sebagai pelaksanaan atau penerapan. Artinya yang dilaksanakan dan diterapkan adalah kurikulum yang telah dirancang/didesain untuk kemudian dijalankan sepenuhnya.Kalau diibaratkan dengan sebuah rancangan bangunan yang dibuat oleh seorangInsinyur bangunan tentang rancangan sebuah rumah pada kertas

50

kalkirnya makaimpelemntasi yang dilakukan oleh para tukang adalah rancangan yang telah dibuattadi dan sangat tidak mungkin atau mustahil akan melenceng atau tidak sesuai denganrancangan, apabila yang dilakukan oleh para tukang tidak sama dengan hasilrancangan akan terjadi masalah besar dengan bangunan yang telah di buat karenarancangan adalah sebuah proses yang panjang, rumit, sulit dan telah sempurna dari sisi perancang dan rancangan itu.

Implementasi program atau kebijakan merupakan salah satu tahap yang penting dalam proses kebijakan publik. Suatu program kebijakan harus diimplementasikan agar mempunyai dampak dan tujuan yang diinginkan.

Pada dasarnya pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang tidak menimbulkan persoalan baru, bersifat adil intra generasi dan inter generasi. Oleh sebab itu prinsip – prinsip universal pembangunan berkelanjutan harus merupakan prinsip keseimbangan pembangunan, yang dalam kasus Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan diterjemahkan sebagai sosial, ekonomi dan lingkungan yang tercakup dalam konsep tridaya. Jadi prinsip - prinsip pembangunan berkelanjutan yang harus dijunjung tinggi, ditumbuh kembangkan dan dilestarikan oleh semua para pelaku maupun pelaksana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) –Mandiri Perdesaan (baik masyarakat, konsultan, maupun pemerintah), dalam melakukan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) - Mandiri Perdesaan yang berkaitan dengan pembangunan lingkungan fisik.

51

Upaya pengambilan keputusan maupun pelaksanaan kegiatan yang menyangkut kepentingan masyarakat banyak, terutama kepentingan masyarakat miskin, maka didorong agar keputusan dan pelaksanaan kegiatan tersebut berorientasi pada upaya perlindungan /pemeliharaan lingkungan baik lingkungan alami maupun buatan termasuk perumahan dan pemukiman, yang harus layak terjangkau, sehat, aman, teratur, serasi dan produktif. Termasuk didalamnya adalah penyediaanya prasarana dan sarana dasar perumahan yang kundusif dalam membangun solidaritas sosial dan meningkatkan kesejakteraan penduduknya.

Upaya menyerasikan kesejakteraan material, maka upaya - upaya kearah peningkatan kapasitas dan keterampilan masyarakat miskin dan atau pengangguran perlu mendapatkan porsi khusus termasuk upaya untuk mengembangkan peluan usaha dan akses kesumberdayaan kunci untuk meningkatkan pendapatan, dengan tepat memperhatikan dampak lingkungan fisik dan sosial.

Progran Nasional Pemberdayaan Mandiri (PNPM) Mandiri Perdesaan pelaksanaannya dimulai dengan musyawarah desa (musdes) perencanaan yang merupakan pertemuan masyarakat di desa yang bertujuan untuk membahas seluruh gagasan kegiatan, hasil dari proses penggalian gagasan di kelompok-kelompok atau dusun. Musyawarah ini bertujuan untuk mengesahkan usulan-usulan masyarakat tentang kegiatan di desa nantinya. Dalam musyawarah ini tentu hadir para pelaku Progran Nasional Pemberdayaan Mandiri (PNPM) Mandiri Perdesa desa serta para tokoh masyarakat.

52

Implementasi pembangunan fisik lingkungan dalam kegiatan Progran Nasional Pemberdayaan Mandiri (PNPM) Mandiri Perdesaan sangat penting dimana diperencanaan inilah dimulai semua kegiatan program nasional pemberdayaan masyarakat nantinya di desa yang mencakup pembangunan sarana dan prasaran. Sebagaimana diungkapkan oleh Ketua Tim Pelaksana Kegiatan Desa Julumate’ne bahwa :

“Pembangunan fisik lingkungan ini sudah dibuat dan disepakati melalui usulan musyawarah desa, dalam perencanaan kegiatan ini merupakan awal mula dari segala kegiatan PNPM-Mandiri Perdesaan yang ada di desa.

Dari sinilah proses dimulai untuk memperoleh implementasi program yang baik, dimana masyarakat sangat perlu mencatat dan memperhatikan usulan apa yang disepakati nantinya di desa, sehingga ketika proses mulai jalan sampai selesai memperoleh implementasi yang berkualitas serta tahan”.

(Hasil wawancara dengan AMR, 15 juli 2014)

Dari hasil wawancara tesebut diatas peneliti melihat bahwa Musyawarah desa sangat penting dalam mengawali implementasi Pembangunan fisik lingkungan yang baik, salah satunya dengan cara perencanaan serta musyawarah yang dilakukan pemerintah desa, para tokoh agama dan para tokoh masyarakat, yang selanjutnya nantinya akan mengumpulkan usulan-usulan apa yang nantinya menjadi prioritas utama kemudian dirangkum dan disesuaikan dengan rencana awal yang kemudian diimplementasikan oleh para hasil Progran Nasional Pemberdayaan Mandiri (PNPM) - Mandiri Perdesaan nantinya, selanjutnya disinilah tugas para pelaku kegiatan dan pengelola program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM) - Mandiri Perdesaan melakukan pengawasan dalam berjalannya program tersebut agar hasilnya sesuai dengan apa yang ditargetkan sebelumnya. Selain itu agar tidak terdapat penyimpangan-penyimpangan didalam pelaksanaannya.

53

Sesuai dengan hasil wawancara diatas maka peneliti melakukan wawancara dengan salah satu masyarakat terkait implementasi program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM) - Mandiri Perdesaan dalam aspek pembangunan fisik lingkungan yang mengatakan bahwa :

“Menurut saya pembangunan fisik lingkungan memang sudah di sepakati melalui usulan musyawarah desa, karena kami ikut terlibat dalam musyawarah tersebut. Sehingga kami akan tahu kegiatan-kegiatan apa saja yang nantinya akan dilakukan oleh para pelaku PNPM di desa dan juga masyarakat bebas mengeluarkan usulan terkait sarana dan prasarana apa yang sangat diperlukan masyarakat. Sehingga yang paling diutamakan adalah apa yang paling penting bagi kebutuhan masyarakat”. (Hasil wawancara dengan BRG, 15 Juli 2014)

Dari hasil wawancara tersebut diatas peneliti melihat bahwa masyarakat memiliki andil dalam mengeluarakan usulan-usulan ataupun argumen-argumennya tentang implementasi Progran Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) - Mandiri Perdesaan dalam aspek penbangunan fisik lingkungan. Hal ini dilakukan agar antara pihak Progran Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) - Mandiri Perdesaan dan masyarakat terjalin suatu kerjasama dalam memulai implementasi program-program tersebut, selain itu agar kegiatan tersebut tidak terjadi salah sasaran dalam implementasi program tersebut.

Dari kedua hasil wawancara di atas sama-sama mengutamakan musyawarah sebelum melangakah ke tahap selanjutnya karena implementasi itu tidak bisa terlepas dari perencanaan program dalam melakukan musyawarah desa. Demikian halnya dengan pembangunan fisik lingkungan yang disepakati melalui usulan musyawarah desa antara pelaku program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM) – Mandiri Perdesaan dengan

54

masyarakat. Pembangunan fisik lingkungan tersebut terbagi kedalam dua program bagian yaitu Pengerasan Jalan dan Drainase.

1. Perkerasan Jalan

Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan,termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalulintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawahpermukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api,jalan lori, dan jalan kabel.

Perkerasan jalan adalah campuran antara agregat dan bahan ikat

Perkerasan jalan adalah campuran antara agregat dan bahan ikat

Dokumen terkait