D. Pencapaian Tahun s.d Tahun 2020
1. Pengadaan Tanah
Pengadaan tanah proyek strategis nasional tahun 2020 seluas 60.136,32 Ha, terealisasi seluas 35.150,24 Ha atau 58,45 % yang tersebar di 30 Provinsi. Pengadaan tanah PSN berupa Bendungan/Waduk, Jalan Tol/Jalan, Bandar Udara dan Penunjang, Pembangkit Listrik/SUTET, Jalur MRT /LRT/
Kereta/ Trase/Stasiun KC, Pelabuhan dan Pendukung, Irigasi, KEK, KI, PLBN. Peta Sebaran Pengadaan Tanah untuk proyek strategis nasional disajikan dalam Gambar di bawah ini
Gambar 3. Peta Sebaran Pengadaan Tanah PSN Tahun 2020
10.425 Ha 18.237 Ha 1.164 Ha 574 Ha
944 Ha 321 Ha 1.337 Ha 9.415 Ha
Gambar 2. Capaian Pengadaan Tanah Tahun 2020 Berikut ini diuraian capaian fungsi Pengadaan Tanah dan Pengembangan Pertanahan sampai dengan tahun 2020 yang meliputi fungsi pengadaan tanah, penetapan tanah pemerintah, pemanfaatan tanah pemerintah, penilaian tanah dan konsolidasi tanah
Gambar 4. Fungsi Pengadaan Tanah dan Pengembangan Pertanahan Tahun 2020
16
Tahun 2020 Pengembangan Pertanahan
Untuk kegiatan pengadaan tanah non proyek strategis nasional dilaksanakan secara sporadik, hampir di seluruh wilayah Indonesia yang tersebar di 30 Provinsi.
Sementara jumlah luas pengadaan tanah untuk kegiatan non proyek strategis nasional terealisasi seluas 20.040,83 Ha dari target 7.271,81 Ha atau 36,28%,
Gambar 5. Peta Sebaran Pengadaan Tanah Non PSN Tahun 2020
15
Diagram 8 Capaian Pengadaan Tanah (PSN dan Non PSN) Tahun 2020
17
Kegiatan pengadaan tanah yang Tahun 2020 (PSN), antara lain
1. Jalan Tol Becakayu;
2. Jalan Tol Depok Antasari;
3. Pembangunan Light Rail Transit;
4. Pembangunan Mass Rapid Transit;
5. Jalan Tol Sunter Pulogebang;
6. Jalan Tol Ciawi Sukabumi;
7. Jalan Tol Cileunyi Sumedang;
8. Trase dan Stasiun Kereta Cepat Jakarta Bandung;
9. Pembangunan GITET 500 Kv;
10. Waduk Ciawi;
11. Waduk Sukabumi;
12. Pembangunan Transmisi Interkoneksi Sumatera – Jawa;
13. Pembangunan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (Sutet) 500 Kv;
14. Waduk Kuningan;
15. Pembangunan LRT Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi;
16. Jalan Tol Brebes-Semarang (Cirebon-Pejagan;
Pejagan-Pemalang; Pemalang-Batang; Batang- Semarang);
17. Jalan Tol Semarang Solo;
18. Jalan Tol Solo Mantingan;
19. Waduk Randugunting;
20. Pembangunan Refinery Development Master Plan (RDMP) Refinery Unit (RU) IV Cilacap;
21. Waduk Pidekso Kab. Wonogiri;
22. Waduk Gondang Kab.Karanganyar;
23. KA Akses Bandara New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA);
24. Jalan Simpang Susun (Flyover) dari dan menuju terminal Teluk Lamong;
25. Jalan Tol Surabaya-Mojokerto;
26. Pembangunan Jalur Pipa, Fasilitas Pengolahan Gas, Tapak Sumur, dan Jalan Akses Jambaran - Tiung Biru;
27. Pembangunan Jalur Pipa dan Akses Jalan Proyek Gas Unitisasi Lapangan Jambaran - Tiung Biru;
28. Jalan Tol Mantingan – Kertosono;
29. Jalan Tol Pandaan – Malang;
30. Jalan Tol Pandaan – Malang;
31. Jalan Tol Sibanceh;
32. Jalan Tol T. Tinggi-Indrapura;
33. Jalan Tol Indrapura – Kuala Tanjung;
34. Jalan Tol T. Tinggi – Serbelawan;
35. Pengembangan D.I. Batang Toru;
Gambar 6. Jalan Tol Becakayu
Gambar 7. Jalan Tol Depok Antasari
Gambar 8. Jalan Tol Sibanceh
18
Tahun 2020 Pengembangan Pertanahan
36. Bandar Udara Bukit Malintang;
37. Pembangunan Jalan Tol Pekanbaru-Kandis-Dumai;
38. Jalan Tol Pematang Panggang - Kayu Agung;
39. Jaringan Irigasi Lematang;
40. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Api-Api;
41. Jalan Tol Palembang - Simpang Indralaya;
42. Irigasi Jabung;
43. Bendungan Way Sekampung;
44. Bendungan Marga Tiga;
45. Pembangunan Jalan Bebas Hambatan (Free Way) Balikpapan - Samarinda – Bontang;
46. Bendungan Indulung;
47. Bendungan Lolak;
48. Jalan Tol Manado – Bitung;
49. Bendungan Kuwil Kawangkoan;
50. Bendungan Karalloe;
51. Jalur Rel Kereta Api Makassar-Parepare;
52. Bendungan Passeloreng;
53. Kawasan Industri Konawe PT. Konawe Putra Propertindo;
54. Bendungan Ladongi;
55. Pelabuhan Gas Alam Cair Lapangan Abadi Wilayah Kerja Masela;
56. Bendungan Wai Apo;
57. Bendungan Sidan;
58. Pembangunan Bendungan Lambo (Mbay);
59. Jalan Tol Lubuk Linggau - Curup – Bengkulu;
60. Pembangunan Ruas Tol Kunciran – Serpong;
61. Pembangunan Jalan Tol Serpong – Cinere;
62. Pembangunan waduk sindang heula;
63. Pengadaan Tanah untuk Pembangunan Transmisi Interkoneksi Sumatera Jawa;
64. Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan GITET 500 kV dan GI 150 kV Jalur Lengkong II;
65. Pembangunan Runway 3 Bandar Udara International Soekarno-Hatta;
66. Pembangunan JORR 2 Ruas Tol Cengkareng - Batuceper – Kunciran;
67. Pembangunan JORR 2 Ruas Tol Kunciran-Serpong.
Gambar 9. Waduk Pidekso
Gambar 10. Waduk Gerak Jabung
Gambar 11. Waduk Lolak
19
Gambar 13 : Bendungan Kuwil Kawangkoan Gambar 12 : Bendungan Wai Apo
Gambar 14 : Pembangunan Transmisi Interkoneksi Sumatera – Jawa
Bendungan Wai Apo dibangun sebagai pengendalian air (float control), Wisata, penyedia air baku, pembangkit tenaga listrik dan irigrasi untuk 10.000 Ha.
Pembangunan Transmisi Interkoneksi Sumatera – Jawa diharapkan dapat menyangga produksi listrik
Bendungan Kuwil Kawangkoan berfungsi sebagai pengendalian banjir, sumber energi listrik dan juga objek wisata
20
Tahun 2020 Pengembangan Pertanahan
Gambar 15 : KA Akses Bandara NYIA
Gambar 16 : Jalan Tol Pandaan-Malang
Gambar 17 : Waduk Randugunting KA Akses Bandara NYIA untuk
memberikan kemudahan akses menuju Bandara Yogyakarta International Airport (YIA). Salah satu moda transportasi yang dapat digunakan msyarakat adalah menggunakan Kereta Api. Kereta api bandara yang dioperasikan untuk melayani penumpang pesawat Yogyakarta International Airport (YIA)
Jalan Tol Pandaan-Malang memudahkan konektivitas bagi masyarakat sehari-hari, mobilitas logistik yang dapat meningkatkan perekonomian di wilayah Jawa Timur, hingga potensi wisata menarik yang dituju lebih cepat melalui Jalan Tol
Bendungan Randugunting berfungsi untuk menampung air hujan pada saat musim penghujan sehingga pada saat kemarau bisa difungsikan untuk irigasi pertanian yang meliputi wilayah Kabupaten Rembang dan Kabupaten Pati
21
Gambar 18 : Pembangunan Trase dan Stasiun Kereta Cepat Jakarta-Bandung
Kereta Cepat Jakarta-Bandung memiliki empat stasiun pemberhentian Halim, Karawang, Walini, Tegalluar dengan satu depo yang berlokasi di Tegalluar. Dari total panjang trase kereta cepat, lebih dari 80 km di antaranya memiliki struktur elevated sedangkan sisanya berupa 13 tunnel dan subgrade.
Gambar 19 : Jalan Tol Krian-legundi-bunder-manyar
Jalan Tol Krian – Legundi – Bunder – Manyar memberikan manfaat penting dalam mengurai titik kemacetan di jalan tol Surabaya – Gempol. Selain itu, juga memberikan dukungan lain dalam akses mobilitas kendaraan logistik pada sekitar kawasan Pelabuhan di Jawa Timur.
22
Tahun 2020 Pengembangan Pertanahan
Waduk Logung ini nantinya akan menampung air pada musim hujan yang sekaligus dapat mengurangi bencana banjir dan akan digunakan pada musim kemarau sebagai cadangan air di dalam memenuhi kebutuhan air baik kebutuhan air baku oleh masyarakat sekitar lokasi maupun mensuplai air untuk kepentingan irigasi di DI.
Logung
Gambar 20 : Irigasi Logung
Pembangunan Bandara Ujoh Bilang nantinya dapat memfasilitasi dua kepentingan, yakni sipil dan militer dan memberi manfaat maksimal di berbagi sektor di wilayah Mahakam Ulu (Mahulu).
Gambar 21 : Pembangunan Bandar Udara Ujoh Bilang
23
b. Peta Zona Nilai tanah
Cakupan penyebaran Peta Zona Nilai Tanah (ZNT) sampai dengan tahun 2020 adalah adalah 35.388.586 Hektar atau setara dengan
± 55,80 % dari luasan kawasan budidaya di Indonesia (63.986.176 Hektar). Peta Zona Nilai Tanah sudah tersedia pada 456 Kabupaten/Kota dan sudah dimanfaatkan dalam layanan pertanahan pada 301 Kabupaten/Kota.
Gambar 22. Cakupan Sebaran Peta ZNT sampai dengan Tahun 2020
Diagram 9 Cakupan Peta ZNT
24
Tahun 2020 Pengembangan Pertanahan
b. Sertipikasi Tanah BMN
Sertipikasi BMN dilaksanakan sebagai tindaklanjut Berdasarkan Peraturan Bersama antara Menteri Keuangan Nomor 186/PMK.06/2009 dan Kepala Badan Pertanahan Nasional RI Nomor 24 tahun 2009 tanggal 18 November 2009 tentang Pensertipikatan Barang Milik Negara berupa Tanah, bahwa Barang Milik Negara berupa tanah harus disertipikatkan atas nama Pemerintah Republik Indonesia cq.
Kementerian/Lembaga selaku pengguna anggaran Barang Milik Negara, maka telah dilaksanakan pensertipikatan Barang Milik Negara berupa tanah dimaksud mulai Tahun Anggaran 2013.
Sehubungan dengan hal tersebut dan berdasarkan hasil koordinasi dengan BPN, Kementerian PPN/Bappenas, DJA dan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara dengan agenda rencana tindak percepatan pensertipikatan Barang Milik Negara berupa tanah, maka perlu untuk inventarisasi, identifikasi dan verifikasi data terhadap tanah-tanah instansi pemerintah yang tersebar di seluruh Indonesia, selanjutnya terhadap bidang tanah yang berdasarkan hasil inventarisasi, identifikasi dan verifikasi akan dilakukan sertipikasi terhadap aset instansi pemerintah dimaksud. Hal ini untuk melaksanakan amanat dari Undang-undang Pokok Agraria.
Bahwa sesuai data sementara yang ada pada SIMAK Barang Milik Negara terdapat asset tanah ± 80.000 bidang belum termasuk Barang Milik Negara berupa tanah yang ada pada Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dan mayoritas belum bersertipikat
25
c. Konsolidasi Tanah
Berdasarkan Pasal 1 Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 12 Tahun 2019 tentang Konsolidasi Tanah, yang dimaksud dengan kebijakan penataan kembali penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah dan ruang sesuai rencana tata ruang serta usaha penyediaan tanah untuk kepentingan umum dalam rangka meningkatkan kualitas lingkungan dan pemeliharaan sumber daya alam dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Konsolidasi tanah mengandung pengertian penataan fisik dan yuridis dalam rangka pemanfaatan secara optimal, melalui peningkatan efisiensi dan produktivitas penggunaan tanah dan ruang serta peningkatan kualitas lingkungan, sekaligus memberikan kepastian hukum hak atas tanah masyarakat dengan melibatkan partisipasi semua masyarakat.
Peserta konsolidasi tanah adalah pemegang hak atas tanah atau penggarap tanah negara yang menjadi obyek konsolidasi tanah.
Keberhasilan pelaksanaan konsolidasi tanah sangat bergantung kepada pesertanya, dan peran dari Pemerintah Daerah (Pemda).
Pelaksanaan konsolidasi tanah merupakan salah satu sarana dalam rangka menyediakan Tanah Untuk Pembangunan (TP) yang luasnya ditetapkan berdasarkan kesepakatan masyarakat peserta konsolidasi tanah. Hasil penyediaan Tanah Untuk Pembangunan (TP) dapat dimanfaatkan untuk pembangunan prasarana dan sarana sosial, ekonomi, budaya serta utilitas. Ketersediaan TP dan adanya jaminan kepastian hukum atas bidang tanah hasil penataan melalui konsolidasi tanah menjadi tolak ukur pelaksanaan konsolidasi tanah. Pada tahun 2019 capaian fisik dari sertipikasi konsolidasi tanah sebesar 7.400 bidang.
26
Tahun 2020 Pengembangan Pertanahan