• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengalaman Penelitian

Dalam dokumen MARJINALISASI ETNIS ASLI (Halaman 37-45)

Data-data yang diperoleh dari lapangan ditranskripkan atau dipindahkan dalam bentuk field note (catatan lapangan). Data-data lapangan berupa observasi, rekaman wawancara secara mendalam. Catatan lapangan yang ditulis merupakan catatan yang lebih rinci, luas, cermat dan pasti. Setelah itu data-data tersebut diklasifikasikan berdasarkan tema.

Penulis juga menggunakan data kepustakaan guna melengkapi informasi yang berkaitan dengan penelitian. Data-data kepustakaan berupa sumber-sumber tertulis seperti buku-buku, koran, majalah dan sumber-sumber elektronik seperti televisi dan internet.

1.8. Pengalaman Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Sei Mangkei Kecamatan Bosar Maligas Kabupaten Simalungun. Sebelum judul penelitian peneliti disetujui untuk diteliti dan tulis menjadi skripsi, penulis sudah melihat lokasi penelitian dan pernah melakukan research tentang hal yang berbeda.Namun bukan berarti hal itu mempermudah penelitian skripsi ini.Peneliti berulang kali mencoba mencari tempat-tempat ramai yang sering dikunjungi oleh masyarakat Sei

34 Etnosentris ialah mengangkat realita keadaan suatu masyarakat dengan apa adanya

Mangkei.Setelah itu peneliti berusaha membangun hubungan dan komunikasi yang baik kepada beberapa masyarakat yang menurut peneliti cocok untuk dijadikan sebagai informan.

Awalnya peneliti merasa sedikit kesulitan dalam mencari informan, karena tidak banyak masyarakat asli Etnis Simalungun dan yang mengetahui tentang hasimalungunon35

Pertama-tama peneliti fokus dengan informan yang beretnis asli Simalungun. Informan kunciyang merupakaninforman tetap peneliti berjumlah enam orang. Informan kunci peneliti terdiri dari beberapa profesi seperti karyawan PTPN III, guru SD, ibu rumah tangga, penatua adat Simalungun, dan pengamat budaya Simalungun.

, tetapi peneliti berusaha menjelaskan maksud dari penelitan ini kepada setiap sasaran informan secara mendalam. Dalam hal ini peneliti tidak memaksakan seorang masyarakat yang ditemui tersebut untuk menjadi informan karena peneliti menginginkan ada seseorang yang tertarik dan bersedia menjadi informan peneliti dengan senang hati dan tidak merasa adanya keterpaksaan dalam memberikan informasi.

Setelah peneliti berusaha beberapa waktu menjelaskan dan mencari informan yang tepat, akhirnya ada beberapa orang yang bersedia menjadi informan peneliti. Informan peneliti terbagi menjadi dua yaitui informan kunci yaitu masyarakat yang beretnis Simalungun asli dan mengerti tentang Simalungun dan informan biasa peneliti yaitu masyarakat yang bukan rtnis Simalungun tetapi sudah tinggal selama tiga (3) generasi di sekitaran lokasi penelitian.

35 “Hasimalungunon” mengarah pada pengetahuan tentang kebudayaan Etnis Simalungun

Menyenangkan ketika informan tersebut bersedia menjadi informan kunci atau informan tetap peneliti. Informan kunci yang sebagian adalah orang yang peneliti kenal kini menjadi semakin dekat karena adanya hubungan komunikasi yang timbul dikarenakan penelitian ini. Selama melakukan proses penelitian di lapanganpeneliti tidak menemukan kesulitan hanya saja butuh kesabaran untuk menunggu waktu yang tepat dari setiap informan didalam penyampaian informasi karena sebagian informan adalah seorang pekerja.

Wawancara yang peneliti hadapi kali ini berbeda sekali dibandingkan penelitian-penelitian yang pernah dihadapi sebelumnya. Berbeda dikarenakan pada penelitian yang dilakukan peneliti beberapa waktu lalu di berbagai tepat bersama tim survey dilakukan secara terstruktur dan formal. Untuk penelitian kali ini lebih kepada berbincang, diskusi, bercerita dan tertawa apa adanya sambil juga melakukan pengamatan. Sebelum melakukan wawancara peneliti membuat interview guide atau pedoman wawancara. Namun ketika berada dilapangan interview guide itu hanya sebagian ditanyakan karena kebanyakan pertanyaan yangakandiajukan muncul dengan sendirinya dari jawaban-jawaban informan.

Dalam membangun hubungan atau komunikasi yang baik peneliti meminta nomor hp dari informan. Di zaman yang maju seperti saat ini sudah banyak aplikasi sosial yang ditawarkan agar kita tetap terhubung dengan orang lain.Namun dikarenakan informan peneliti semuanya adalah orang tua sehingga tidak semua yang memiliki akun media sosial selain nomor hp saja.

Ketika melakukan wawancara peneliti juga pernah diajak untuk ikut dalam aktivitas nya sehari seperti pergi memanen di kebun sawit PTPN III, pergi ke

kandang lembu, ke sekolah, bersantai di tanah lapang desa dan lain-lain. Sungguh pengalaman yang luar biasa bagi peneliti yang dimana sebelumnya tidak pernah kenal tetapi informan mau membawa dalam aktivitasnya sehari-hari. Kemudian tidak jarang peneliti diajak untuk makan bersama, sambil makan peneliti dan informan membahas tentang topik penelitian dan tidak jarang juga membahas soal pembangunan, pemerintahan, kritik-kritik terhadap perkembangan zaman dan bahkan sampai kepada hal yang lebih privasi.

Wawancara yang pertama sekali dilakukan adalah kepada ibu Sariah Damanik yang juga adalah istri dari kepala desa Sei Mangkei. Ibu Sariah berusia 50 Tahun dan bekerja sebagai guru. Wawancara dilakukan dirumah ibu Sariah.

Sebelum memulai wawancara satu hari sebelumnya peneliti dan ibu Sariah Damanik membuat janji jam berapa dan dimana dilakukan wawancara dan hasilnya wawancara dilakukann di rumahnya pada jam 15.00 WIB setelah selesai bekerja. Wawancara ini dilakukan ketika ibu Sariah atau yang saat penelitian peneliti panggil nanturang36sedang melakukan beberapa pekerjaan rumah tangga.

Saya menanyakan beberapa hal kepadananturang Sariah terkait sepengetahuan beliau terhadap hasimalungunan37

Selama saya menanyakan hal yang berkaitan tentang pengetahuan Etnis Simalungun terhadap nanturang Sariah,beliau sama sekali tidak merasa keberatan dalam hal memberikan jawaban berdasarkan pengetahuan dan kepribadiannya sebagai Etnis Simalungun di Sei Mangkei. Wawancara yang kami lakukan tidak

dan hal-hal yang berkaitan dengan Etnis Simalungun.

36 “Nanturang” adalah panggilan kepada seseorang yang bermarga sama dengan orang tua perempuan dari bapak.

37“Hasimalungunan” mengarah pada pengetahuan seseorang terhadap kebudayaan Simalungun

selalu dalam kondisi yang serius kita juga mau sambil tertawa karena nanturang Sariah yang adalah guru lebih sering melakukan canda gurau saat berkomunikasi baik di sekolah, kepada tetangga dan kepada saya sebagai peneliti.

Wawancara yang kedua adalah kepada Bapak Tuan Saragih seorang pensiunan dari PTPN III yang berusia 56 Tahun. Bapak Tuan Saragih yang dalam partuturan Etnis Simalungun peneliti panggil dengan sebutan “pak tua” adalah salah satu informan peneliti yang sangat tertarik dengan topic penelitian ini. Dari hasil wawancara dengan pak tua38

Wawancara berikutnya peneliti mewawancarai sepasang keluarga yang berasal dari Etnsi Simalungun.Yaitu bapak Candra marga Damanik dan ibu Anita boru Girsang.Bapak Candra dan ibu Anita ini adalah pasangan suami-istri yang ini peneliti juga banyak mendapatkan bantuan dan tambahan data. Pak tua Saragih juga tidak merasa keberatan dalam hal memberikan data atau jawaban kepada peneliti tentang hal yang ditanyakan kepadanya.

Wawancara ini dilakukan di warung tempat berkumpulnya masyarkat Sei Mangkei dan pada jam 14.00 WIB kemudian dilanjutkan dirumah Pak Tua Saragih pada jam 16.20 WIB.

Peneliti dan pak tua Saragih sudah kenal sebelum penelitian ini ada.Sewaktu peneliti melakukan research sebelumnya di Sei Mangkei kemudian bertemu dan saling mengenal sehingga kita tidak ada pengenalan kembali pada saat melakukan wawancara untuk penelitian skripsi.

38“Pak tua” adalah panggilan dalam Etnis Simalungun kepada seseorang yang bermarga sama dengan peneliti dan usianya lebih tua dari usia orang tua peneliti

baru pindah ke Sei Mangkei dari Kerasaan karena Bapak Candra bekerja sebagai karyawan PTPN III.

Peneliti mewawancarai mereka diwaktu yang sama kerena menurut Bapak Candra pengetahuan mereka sama.Peneliti menanyakan tentang pendapat mereka terhadap eksistensi Etnis Simalungun di Sei Mangkei dan mereka menyambut baik dengan menjawab berdasarkan pengetahuan dan pendapat mereka. Saya mewawancarai mereka dirumahnya pada jam 17.00WIB setelah pulang bekerja.

Dari hasil wawancara ini peneliti mendapatkan informasi yaitu adanya pendapat positif dan pendapat negatif tentang kebudayaan Simalungun. Selama peneliti melakukan wawancara,informan tidak merasa keberatan dalam hal memberikan jawaban dan lebih terbuka memberikan jawaban kepada peneliti.

Dalam skripsi saya ini peneliti juga mempunyai beberapa informan lainnya yaitu masyarakat Desa Sei Mangkei dan dari luar Desa Sei Mangkei yang mengeluarkan pendapat dan jawaban terkait topik penelitian ini. Informan peneliti tersebut antara lain:

1. Bapak Drs. Djoman Purba (ketua yayasan museum Simalungun sekaligus penatua adat Simalungun)

2. Bapak Drs. Sony Purba (antropolog UI angkatan 81 yang juga mengamati Kebudayaan Simalungun)

3. Bapak Drs. Mardan Saragih (antropolog USU angkatan 82 yang juga orang tua peneliti dan banyak membantu peneliti dalam memberikan pendapat)

4. Ibu Sofia Saragih (yang tinggal di huta III daerah perumahan PTPN III)

5. Ibu Imawati Damanik (yang tinggal di huta I daerah perumahan PTPN III)

6. Bapak Sardi Siregar (yang tinggal di huta V daerah perumahan PTPN III)

7. Bapak Romel Sihombing (yang tinggal di huta II daerah perumahan PTPN III)

8. Bapak Oni Suriono (yang tinggal di huta I daerah perumahan PTPN III)

9. Bapak Hairul Sani Damanik (yang tinggal di huta IV daerah pemukiman sipil)

10. Jon Purba (penjaga sekaligus guide di museum istana Raja Pematang Purba)

11. Endi Ginting (anggota LPM SULUH Pematangsiantar dan Simalungun)

12. Bapak Bonar Simanjuntak (Dewan Daerah WALHI Sumatera Utara yang berasal dari Tapanuli Utara)

Selama melakukan proses penelitian, peneliti mendapatkan pengalaman yang baik dan buruk. Mulai dari tempat penelitian yang tergolong sepi masyarakat, karena daerah yang aktif dengan pekerja.Kemudian adanya beberapa masyarakat yang kurang respect terhadap penelitian ini, ditambah peneliti sempat tidak diterima di PT. Unilever selaku perusahaan pertama yang berdiri di KEK Sei

Mangkei.tetapi pada akhirnya peneliti berusaha melakukan pendekatan dan kembali setelah menyempatkan mengurus surat penelitian resmi dari kampus.

Dalam melakukan wawancara begitu banyak pandangan atau pendapat yang peneliti dengar. Baik dari Etnis Simalungun maupun yang bukan Etnis Simalungun. Dari proses wawancara dan diskusi-diskusi dengan informan ada beberapa pendapat atau pandangan yang positif terhadap kebudayaan Simalungun, sifat-sifat orang Simalungun, keberadaan, serta eksistensinya.

Tetapi ada juga beberapa informan yang memberi pendapat negatif terhadap beberapa hal yang dipertanyakan, dikarenakanmenurut mereka beberapa sifat Etnis Simalungun adalah penyebab keadaan seperti topik penelitian ini dan bukan akibat dari orang luar (pendatang).

BAB II

Dalam dokumen MARJINALISASI ETNIS ASLI (Halaman 37-45)

Dokumen terkait