TINJAUAN PUSTAKA
B. Pengalaman, Pengetahuan dan Skeptisme Profesional
1. Pengalaman
Sudah banyak penelitian tentang pengalaman sebelumnya. Untuk mencapai pelaksanaan pengawasan dan pemeriksaan di lingkungan pemerintah daerah oleh aparat pemeriksa, sudah seharusnya memiliki sumber daya manusia yang berpengalaman dalam praktik pemeriksaan. Keahlian aparat pemeriksa dapat terbentuk melalui pengalaman. Di samping itu pengalaman juga akan mempengaruhi tingkat pengetahuan aparat pengawas. Menurut The Oxford Engish Dictionary (1978) pengalaman adalah pengetahuan atau keahlian yang didapat dari pengamatan langsung atau partisipasi dalam suatu perilaku dan aktivitas yang nyata.
Pengalaman merupakan lama waktu seseorang dalam bekerja sehingga secara spesifik pengalaman dapat diukur dengan rentang waktu yang telah digunakan terhadap suatu pekerjaan atau tugas (Bouman dan Bradley, 1997) dalam (Masrizal, 2010). Menurut Loehoer (2002) dalam Mabruri dan Winarna (2010) pengalaman merupakan akumulasi gabungan dari semua yang diperoleh melalui berhadapan dan berinteraksi secara berulang-ulang dengan sesama benda alam, gagasan, dan penginderaan.
Begitu pula halnya dengan auditor semakin banyak objek pemeriksaan yang telah dicapai oleh auditor tersebut maka pengalamannya akan terus bertambah. Menurut Haryanti (2013) cara memandang dan menanggapi informasi yang diperoleh selama melakukan pemeriksaan
19 antara auditor berpengalaman dengan yang kurang berpengalaman akan berbeda, demikian halnya dalam memberikan kesimpulan audit terhadap obyek yang diperiksa. Dengan demikian pengalaman yang diperoleh selama bertugas dapat dijadikan sebagai media pembelajaran bagi auditor bersangkutan untuk terus meningkatkan kinerjanya.
Banyak orang yang memahami bahwa semakin banyak jam terbang auditor, tentunya dapat memberikan kualitas audit yang lebih baik daripada seorang auditor yang baru memulai karirnya. Auditor yang berpengalaman diasumsikan dapat memberikan kualitas audit yang lebih baik daripada seorang auditor yang baru memulai karirnya (Silalahi, 2013). Hal ini dikarenakan pengalaman akan membentuk keahlian seseorang baik secara teknis maupun secara psikis.
Pengalaman auditor berpengaruh secara positif terhadap pengetahuan mengenai kekeliruan (Haryanti, 2013). Lebih jauh lagi Herliansyah (2005) menunjukkan bahwa pengalaman dapat meningkatkan kinerja dalam mengambil keputusan. Beberapa hasil penelitian membuktikan sebelumnya bahwa pengalaman mempunyai pengaruh terhadap pendeteksian penyimpangan seperti penelitian yang dilakuakan oleh Batubara (2009) yang menyatakan bahwa pengalaman mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pendetksian penyimpangan. Penelitian yang dilakukan oleh Mabruri dan Winarna (2010) pengalaman yang dimiliki auditor berpengauh terhadap kualitas hasil audit di lingkungan pemerintah daerah.
20 Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pengalaman dapat meningkatkan kinerja auditor (Ashton, 1991) dalam (Haryanti, 2013). Walaupun pada penelitian yang dilakukan oleh Samsi,dkk (2012) pengalaman audit memiliki pengaruh negatif terhadap kualitas hasil pemeriksaan.
2. Pengetahuan
Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara No.Per/05/M.Pan/03/2008 tanggal 31 Maret 2008 tentang Standar Audit Aparat Pengawasan Intern Pemerintah seksi 2200 menyatakan auditor harus mempunyai pengetahuan, keterampilan dan kompetensi lainnya yang diperlukan untuk melaksanakan tanggung jawabnya. Terkait dengan pendidikan formal pada seksi 2210 selanjutnya menyatakan bahwa auditor APIP harus mempunyai tingkat pendidikan formal minimal strata satu (S-1) atau yang setara.
Hal ini dimaksudkan agar tercipta kinerja audit yang baik maka APIP harus mempunyai kriteria tertentu dari auditor yang diperlukan untuk merencanakan audit, mengidentifikasi kebutuhan profesional auditor dan untuk mengembangkan teknik dan metodologi audit agar sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi unit yang dilayani oleh APIP. Kemudian seksi 2220 menyatakan bahwa auditor harus memiliki kemampaun teknis yakni auditing, akuntansi, administrasi pemerintahan dan komunikasi.
21 Pada seksi 2230 dinyatakan bahwa auditor harus mempunyai sertifikasi jabatan fungsional auditor (JFA) dan mengikuti pendidikan dan pelatihan profesional berkelanjutan (continuing professional education). Pimpinan APIP wajib memfasilitasi auditor untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan serta ujian sertifikasi sesuai dengan kebutuhan. Dalam pengusulan auditor untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan sesuai dengan jenjangnya, pimpinan APIP mendasarkan keputusannya pada formasi yang dibutuhkan dan persyaratan administrasi lainnya seperti kepangkatan dan pengumpulan angka kredit yang dimilikinya.
Penelitian sebelumnya dilakukan oleh Boner (1990) dimana ia melakukan penelitian mengenai peran pengetahuan secara spesifik dalam membuat keputusan dan pengaruh pengetahuan terhadap kinerja auditor yang berpengalaman. Hasil penelitian menunujukkan bahwa pengetahuan yang dimiliki auditor secara signifikan berpengaruh terhadap kinerja auditor. Pengetahuan dapat diperoleh melalui pendidikan formal yang telah ditempuh auditor sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Hasil penelitian yang dilakukan Mulyono (2009) yang menguji pengaruh latar belakang pendidikan pemeriksa Kabupaten Deli Serdang menunjukkan hasil bahwa latar belakang pendidikan pemeriksa berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas kerja auditor. Menurut Sarwono (2006) auditor yang merasa mempunyai pengetahuan yang memadai pada area auditannya akan merasa yakin akan keadaan perusahaan yang diauditnya, sehingga keyakinannya secara otomatis akan mempengaruhi cara
22 pandangnya terhadap bukti atau informasi yang ditemukan sehubungan dengan pelaksanaan auditnya. Dalam mendeteksi sebuah kesalahan seorang auditor harus didukung dengan pengetahuan tentang apa dan bagaimana kesalahan tersebut terjadi (Tubbs, 1992) dalam (Mabruri, 2010).
Seseorang yang melakukan pekerjaan sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki akan memberikan hasil yang lebih baik daripada mereka yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup memadai akan tugasnya (Salsabila, 2011).
3. Skeptisme Profesional
Seorang auditor dalam melaksanakan penugasan audit di lapangan seharusnya tidak hanya sekedar mengikuti prosedur audit yang tertera dalam program audit, melainkan juga harus disertai dengan sikap Skeptisme profesionalnya. Standar profesional akuntan publik mendefinisikan Skeptisme profesional sebagai sikap auditor yang mencakup pikiran selalu mempertanyakan dan melakukan evaluasi secara kritis terhadap bukti audit (SPAP 2011, SA seksi 230.05). Auditor profesional sudah selayaknya menerapkan Skeptisme profesional agar laporan hasil audit dapat dipercaya oleh orang yang membutuhkan dan dapat mengurangi keraguan didalamnya.
Auditor yang bersikap skeptis tidak akan menerima begitu saja penjelasan dari klien, namun akan mengajukan pertanyaan untuk mendapatkan alasan, bukti dan konfirmasi mengenai objek permasalahan
23 (Noviyanti, 2008). Seorang auditor dalam melaksanakan penugasan audit di lapangan seharusnya tidak hanya sekedar mengikuti prosedur audit yang tertera dalam program audit, melainkan juga harus disertai dengan sikap skeptisme profesionalnya. Standar profesional akuntan publik mendefinisikan skeptisme profesional sebagai sikap auditor yang mencakup pikiran yang selalu mempertanyakan dan melakukan evaluasi secara kritis terhadap bukti audit (SPAP 2011, SA seksi 230.05). Panduan Manajemen Pemeriksaan (PMP) pada Standar Audit Pemerintah (SAP)
butir 4.25 standar umum ketiga menyatakan bahwa “dalam pelaksanaan
audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran
profesionalnya secara cermat dan seksama”. SAP butir 5.11 menyatakan
standar auditing IAI dan SAP mengharuskan beberapa hal berikut:
a. Auditor harus merancang audit agar dapat memberikan keyakinan yang memadai guna mendeteksi ketidakberesan yang material bagi laporan keuangan.
b. Auditor harus merancang audit untuk dapat memberikan keyakinan yang memadai guna mendeteksi ketidakberesan yang material bagi laporan keuangan.
c. Auditor harus waspada terhadap kemungkinan telah terjadinya unsur perbuatan melanggar/melawan hukum secara tidak langsung. Jika informasi khusus yang telah diterima oleh auditor memberikan bukti tentang adanya kemungkinan unsur perbuatan melawan hukum yang secara langsung berdampak material terhadap laporan keuangan, maka
24 auditor harus menerapkan prosedur yang secara khusus ditujukan untuk memastikan apakah suatu unsur perbuatan melanggar/melawan hukum yang terjadi.
Auditor yang tidak menggunakan Skeptisme profesional hanya dapat mendeteksi kekeliruan namun belum mampu untuk mendeteksi adanya kecurangan, dibutuhkan sikap Skeptisme profesional karena biasanya adanya tindak kecurangan disembunyikan oleh manajemen. Auditor yang bersikap skeptis tidak akan menerima begitu saja penjelasan dari klien, namun akan mengajukan pertanyaan untuk mendapatkan alasan, bukti dan konfirmasi mengenai objek permasalahan (Noviyanti, 2008). Menurut Quadackers (2009) Skeptisme profesional merupakan sikap auditor yang selalu menilai secara kritis bukti audit dan mengambil keputusan audit berdasarkan keahlian auditing yang dimilikinya. Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Fullerton dan Durtschi (2003) bahwa terdapat perbedaan karakteristik antara auditor yang memiliki Skeptisme profesional yang tinggi dibanding auditor yang memiliki Skeptisme profesional yang rendah dalam mengevaluasi bukti audit yang berujung kepada kemampuan dalam mendeteksi gejala fraud. Hasilnya auditor yang memiliki Skeptisme profesional tinggi lebih mampu mendeteksi adanya gejala fraud
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Silalahi (2013) Skeptisme profesional dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni: etika, kompetensi, pengalaman audit, dan situasi audit. Menurut SPA 200
25 (2012), auditor harus mempertahankan Skeptisme profesional sepanjang audit menyadari kemungkinan bahwa salah saji material sebagai akibat kecurangan dapat terjadi, walaupun pengalaman masa lau menunjukkan adanya kejujuran dan integritas manajemen entitas dan pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola. Auditor dalam melaksanakan audit perlu memperhatikan faktor-faktor yang akan mempengaruhi pengumpulan bukti audit. Auditor dituntut untuk memiliki sikap skeptisisme profesional yang tinggi, karena pada akhirnya akan mempengaruhi opini yang diberikan (Zein, dkk 2009).