• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengamalan Nilai Agama dan Budaya

2013 1 Padang Pariaman 35 35

E. Sektor Ketahanan Pangan

4. Pengamalan Nilai Agama dan Budaya

Dalam RPJMD Provinsi Sumatera Barat terdapat prioritas pembangunan peningkatan kualitas pemahaman dan pengamalan ajaran agama. Isu ini menjadi strategis karena Sumatera Barat kental dengan nilai-nilai agama dan budaya, “adat bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah”.

A. Peningkatan Kualitas Pemahaman dan Pengamalan Ajaran Agama

Memperhatikan kondisi riil kehidupan agama, sosial dan budaya, bangsa dan negara Indonesia saat ini adalah sangat memprihatinkan, selain muncul isu-isu gerakan radikal dalam berbagai hal tidak terkecuali kehidupan agama. Setelah kita lakukan studi banding ke daerah tetangga ternyata hal yang sama hampir tak terelakan. Pada satu sisi pembangunan bidang fisik melaju dengan cepatnya, pada sisi lain pembangunan dalam bidang mental spritual agak terabaikan. Maka untuk mengimbangi hal tersebut, diperlukan penanaman nilai-nilai keimanan yang sesungguhnya dan menjadi prioritas bagi pembangunan Sumbar ke depannya.

Upaya peningkatan pengamalan nilai agama diimplementasikan melalui: (1) Memberikan ruang gerak yang luas terhadap umat beragama, (2) Meningkatkan dukungan terhadap pemahaman dan pengamalan agama serta peningkatan kapasitas SDM dan kelembagaan agama, (3) Meningkatkan upaya dialogis menjembatani perbedaan antar umat beragama, (4) Meningkatkan toleransi yang menciptakan kebersatuan dan kebersamaan umat yang harmonis, (5) Meningkatnya keberimbangan antara pembangunan fisik dan pembangunan mental melalui fungsi ibadah, (6) Meningkatnya pengkajian produk hukum daerah untuk peningkatan pemahaman dan pengamalan agama, (7) Penampakan nilai-nilai agama dan budaya melalui papanisasi arab melayu disetiap kantor pemerintah dan non pemerintah.

B. Peningkatan Apresiasi Seni dan Budaya Daerah

Sumatera Barat dewasa ini telah berkembang kepada masyarakat yang heterogen dan bahkan multikultural. Faktor-faktor yang menyebabkan perkembangan tersebut antara lain keterbukaan wilayah dan komunikasi bagi

pendatang untuk bermukim tetap dalam wilayah Sumatera Barat, perbedaan tingkat kesejahteraan berbasis ekonomi di kabupaten dan kota, perbedaan tingkat pendidikan dalam masyarakat, perbedaan orientasi dan gaya hidup anggota masyarakat, dan efek pembangunan fisik, infrastruktur yang tidak seimbang dalam masyarakat. Ditengah perbedaan yang begitu menggejala, karakteristik umum masyarakat Sumatera Barat masih dominan berbasis Adat Minangkabau dan praktek ajaran Agama Islam.

Aspek sosial dan budaya daerah dapat menjadi basis akumulasi modal dasar dalam pembangunan. Melalui akumulasi modal sosial, seni dan budaya daerah dapat mempercepat kemajuan pembangunan. Sosial dan budaya daerah tidak hanya berperan sebagai objek yang bersifat produktif, tetapi dapat berperan menjadi subjek yang bersifat produktif dalam mendorong kemajuan kehidupan masyarakat. Sosial dan budaya mampu memberi makna dan corak kemajuan yang khas bagi daerah dengan mengangkat posisi kompetitif sebuah suku bangsa di tengah keberagaman budaya daerah secara nasional. Sumatera Barat diakui memiliki kekayaan sosial dan budaya spesifik dan distinktif (khas) di antara keragaman budaya nasional. Meningkatkan apresiasi sosial, seni dan budaya daerah adalah wujud dari sebuah pengakuan bahwa budaya lokal Sumatera Barat mampu mengangkat modal sosial yang diperlukan untuk kemajuan pembangunan masyarakat.

Pembangunan kebudayaan merupakan proses pembangunan sumber daya manusia yang difokuskan pada upaya untuk menumbuhkembangkan daya akal dan gagasan inovatif; penanaman dan pelestarian dari nilai, norma dan identitas sosial serta kepribadian masyarakat yang positif; penggalian dan pemaknaan simbol-simbol budaya Minangkabau sebagai acuan perilaku masyarakat serta pengembangan pola perilaku sosial masyarakat yang lebih konstruktif, melalui peningkatan apresiasi terhadap sosial, seni dan budaya daerah. Sementara itu, pembinaan dan penampakan kehidupan beragama juga tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai budaya yang telah tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat Sumatera Barat.

Rumah Gadang dan Keturunanannya adalah dua simbol figur kuat perempuan dalam menentukan asal usul (procreation) dan arah (orientation) dari keturunan suatu kaum. Walaupun demikian kekuatan mereka barulah berada pada domain domestik, sementara pada domain publik, kedudukan mereka diperkuat dan dijalankan oleh kelompok kerabat laki-laki seketurunan ibu. Permasalahan terjadi dalam kehidupan perempuan Minangkabau yaitu peran Bundo Kanduang semakin tidak signifikan (utama). Porsi perempuan dalam keluarga digantikan oleh lembaga di luar keluarga, dalam ruang publik, peran perempuan juga semakin tidak penting dalam masyarakatnya.

Kelembagaan adat dan agama adalah cerminan dari bagaimana aturan adat dijaga dan dipraktekkan dalam suatu kesatuan masyarakat hukum adat (nagari). Kelembagaan ini diwakili oleh peran kaum adat, urang ampek jinih, ninik mamak, atau kelembagaan tungku tigo sajarangan. Eksistensi mereka bergantung kepada keberadaan hukum adat yang dijalankan dan dipatuhi oleh seluruh anggota suatu kaum dan suku. Filosofi aturan adat dalam sejarah

atau asal usulnya datang dari nilai ajaran agama Islam. Persoalannya dewasa ini adalah kelembagaan adat semakin menurun fungsinya sejalan dengan semakin memudarnya kepatuhan menjalankan norma dan nilai adat dalam masyarakat. Sehingga, semakin banyak masyarakat yang tidak mengenal dengan baik tentang fungsi, peran dan tujuan dari kelembagaan adat, terutama dikalangan generasi muda terdidik tentu akan parah lagi bagi mereka yang belum terpelajar.

Karena agama orang Minangkabau adalah Islam, maka batas kesopan- santunan, nilai budaya dan agama untuk pergaulan menjadi dasar bagi jati diri Minangkabau, raso pareso, ereang jo gendeang. Semenjak masuknya arus globalisasi melalui aplikasi komunikasi dan informasi pola interaksi sosial semakin berkembang. Hal ini dapat dibuktikan dengan berkembangnya ikatan komunitas di luar batas kesatuan identitas sosial nagari, suku atau kaum. Ikatan sosial sudah berdasarkan kepada kepentingan politik dan ekonomi. Sementara ini, sejalan dengan perkembangan teknologi, peralatan canggih untuk menopang kehidupan sehari-hari ditengah masyarakat justru melahirkan perilaku sosial yang keluar dari nilai kemuliaan. Masyarakat berubah ke arah yang tidak menentu karena tidak dapat diukur menurut tuntutan nilai-nilai budaya Minangkabau.

Upaya-upaya peningkatan apresiasi seni dan budaya daerah dilaksanakan melalui: (1) Mengembangkan kehidupan budaya menuju peradaban yang bermartabat dilandasi moralitas tinggi; (2) Memupuk rasa percaya diri serta mengembangkan identitas budaya; (3) Memupuk rasa solidaritas sosial serta mengembangkan toleransi perbedaan budaya; (4) Mengembangkan pendidikan budaya sejak dini dan mengembangkan partisipasi masyarakat; (5) Mengembangkan kreatifitas budaya; (6) Mengembangkan iklim dan suasana kehidupan seni dan budaya yang kondusif; (7) Mengembangkan kelembagaan masyarakat adat dan meningkatkan peran ulama, niniak mamak dan cadiak pandai dalam penerapan nilai-nilai adat, seni dan budaya.