• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengangkatan Kepala Negara Sebelum dan Setelah Amandemen

Dalam dokumen Hukum Tata Negara - Test Repository (Halaman 138-146)

BAB VI LANDASAN TEOLOGIS DAN YURIDIS KEPEMIMPI-

A. Pengangkatan Kepala Negara Sebelum dan Setelah Amandemen

Betapapun sangat urgen dan mendesaknya kebutuhan akan pemimpin masyarakat atau negara, merujuk pada norma-norma yang diwujudkan dalam bentuk aturan (konstitusi dan peraturan perundang-undangan) atas konsensus bersama menjadi wajib hukumnya. Setelah keberadaan norma hukum, kemudian jalur ini sengaja dilanggar, jangan harap stabilitas sosial, politik dan ekonomi akan terwujud dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab bersama. Taruhlah ada kekuatan inkonstitusional yang san- gat kuat, otoriter dan represif yang dengan kekuatannya itu mampu meredam segala gejolak yang ada, paling itu hanya akan ada diper- mukaan, sementara gerakan-gerakan bawah tanah (under ground) menjadi bom waktu yang setiap saat bisa meledak, menunggu wak- tu dan kesempatan yang tepat untuk muncul kepermukaan.

Oleh karenanya ketaatan kepada konstitusi, kebenerimaan antara yang dipimpin dan yang memimpin harus terwujud, tidak boleh ada keterpaksaan. Ini penting, sebab keterkaitan dan hubun- gan antar pemimpin dan yang dipimpin harus terjalin keselarasan, harmoni serta membentuk mozaik yang indah, penuh kesadaran bahwa masing-masing pihak saling membutuhkan keberadaan satu sama lainnya.

Di negara kita, Indonesia tercinta, telah ada empat orang presiden yang pada masa pengkatan dan pemberhentiannya men- unjukkan ada masalah politik dan hukum yang paling tidak perlu pengkajian, bahkan dari sisi legitimasi hukumnya.

Pertama, Presiden Soekarno. Pada saat pengangkatan Soekarno sebagai presiden dalam sidang PPKI yang berawal dari usulan Otto Iskandardinata bersamaan dengan pengesa- han UUD 1945 sebagai konstitusi negara.

Penulis tidak mengetahui mana dahulu (pada saat sidang itu), apakah pengesahan UUD 1945 sebagai konstitusi negara atau penunjukan Soekarno sebagai presiden per- tama negara Indonesia yang baru merdeka. Namun dari beberapa literatur yang didapat, menunjukkan bahwa pengesahan UUD 1945 lebih dulu dilakukan ketimbang penunjukkan Soekarno sebagai presiden oleh Sidang PPKI.

Padahal kita ketahui bersama bahwa dalam batang tu- buh UUD 1945 terdapat pasal yang membicarakan ten- tang pemilihan presiden. Melihat fakta sejarah yang ber- samaan itu, sudah dapat dipahami bahwa penunjukkan itu tidak sesuai dengan konstitusi UUD 1945. Namun dalam kondisi negara yang baru merdeka dan masih ter- buka rongrongan penjajah Belanda untuk melanjutkan penjajahannya, serta kebutuhan teoritik dan politik yang mengharuskan untuk segera hadirnya seorang presiden bagi sebuah negara yang baru merdeka, penunjukan Soekarno sebagai presiden saat itu dapat dipahami se- bagai sebuah kaharusan sejarah dan kaharusan sebuah revolusi.

Kedua, Presiden Soeharto. Karena ontran-ontran politik, insta- bilitas sosial dan ekonomi, serta persoalan pemberonta- kan G 30 S PKI, pada tanggal 1 November 1965 Presiden Soekarno mengeluarkan Kepres No. 179/KOTI/1965 mengangkat Mayjen Soeharto sebagai Panglima Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban. Kemudian pada tanggal 11 Maret 1966 Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah (dikenal dengan sebutan SUPERSEMAR, Surat Perintah Sebelas Maret) kepada Soeharto untuk mengambil tindakan yang perlu bagi terjaminya kea-

manan dan ketenangan serta kestabilan jalannya pemer- intahan dan revolusi.

Walaupun beberapa kebijakan telah dikeluarkan oleh Soekarno untuk mengatasi ketidakstabilan situasi poli- tik, sosial, keamanan dan ketertiban serta keterpurukan ekonomi, kondisi itu tidak kunjung membaik. Akhirnya pada tanggal 20 Februari 1967 Presiden Soekarno men- gumumkan penyerahan kekuasaan kepada Pengemban Ketetapan MPRS No. IX/MPRS/1966 kepada Jenderal Soeharto.

Pada Sidang Istimewa MPRS yang digelar pada tanggal 7-11 Maret 1967, Presiden Soekarno dilengserkan dan mengangkat Jenderal Soeharto sebagai Pejabat Presiden (Hamdan Zoelva, 2005: 92-99). Melihat proses politik di MPRS saat itu, jelas mengabaikan norma hukum yang terdapat dalam konstitusi negara.

Ketiga, Presiden BJ. Habibie. Setelah selama 32 tahun sejak menduduki jabatan Pejabat Presiden pada tahun 1967, akhirnya Soeharto lengser setelah didemo oleh hampir seluruh elemen bangsa, terutama mahasiswa dengan nama gerakan reformasi.

Presiden Soeharto yang membacakan surat pengun- duran dirinya sebagai presiden di Istana Negara dan menyerahkan kekuasaannya kepada Wakil Presiden BJ. Habibie dianggap oleh sebagian kelompok reformis se- bagai peralihan kekuasaan yang inkonstitusional, yang berarti tidak absah, dengan bukti mereka menyusun sua- tu deklarasi di Hotel Sahid Jaya, 12 November 1998 yang dikenal dengan “Komunike Bersama” (Sri Edi Swasono, 2001: 448).

Keempat, Presiden Abdurrahman Wahid. Abdurrahman Wahid terpilih dalam Sidang MPR pada tahun 1999, setelah In- donesia berhasil menyelenggarakan pemilu yang di nilai oleh dunia internasional sebagai pemilu yang sangat demokratis.

Berawal dari peristiwa itu, kemudian Indonesia dikenal sebagai negara paling demokratis di dunia.

Terpilihnya Abdurrahman Wahid, –dengan segala kekurangan yang ada padanya- lebih cenderung atas pertimbangan politik yang lebih dominan, dibanding mencermati dan menafsirkaan secara sungguh-sungguh pada peraturan tentang pemilihan presiden dan wakil presiden yang tertera dalam UUD 1945 dan secara khu- sus TAP MPR RI No. II/MPR/1973.

Bila sebatas melihat kulit dari UUD 1945 dan TAP MPR tersebut, Abdurrahman Wahid terpilih secara prosedur- al dan konstitusional. Tapi bila saja para politisi di MPR itu melakukan pengkajian secara mendalam pada syarat- syarat seseorang menjadi presiden, bisa jadi Abdurrah- man Wahid akan terganjal.

Kelemahan-kelemahan yang ada pada diri Abdurrah- man Wahid yang kemudian menjadi penyebab ia juga dilengserkan oleh MPR melalui Sidang Istimewa di ta- hun 2001.

Dalam hal mengkaji pengangkatan presiden dan wakil pres- iden di Indonesia, norma dasarnya terdapat dalam UUD 1945. Se- belum amandemen UUD 1945, landasan hukum yang dijadikan acauan dalam pengangkatan presiden (kepala negara) Indonesia tercantum dalam UUD 1945 pasal 6 ayat 2 dan TAP MPR RI No. II/

MPR/1973 tentang Tata Cara Pemilihan Presidan dan Wakil Pres- iden.

Secara garis besar dapat dijabarkan secara singkat sebagai berikut;

a. Warga negara yang akan diangkat sebagai presiden harus tel- ah memenuhi syarat yang telah ditentukan dalam UUD 1945 pasal 6 ayat 1 dan TAP MPRS RI No. II/MPR/1973 pasal 1 dengan rincian persyaratan sebagai berikut;

1. Warga negara Indonesia asli 2. Telah berusia 40 tahun

3. Bukan orang yang sedang dicabut haknya untuk dipilih dalam Pemilihan Umum.

4. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

5. Setia kepada cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945, Pan- casila dan Undang-Undang Dasar 1945

6. Bersedia menjalankan haluan negara menurut garis- garis besar yang telah ditetapkan oleh Majelis dan putu- san-putusan Majelis

7. Berwibawa 8. Jujur 9. Cakap 10. Adil

11. Dukungan dari rakyat yang tercermin dalam majelis 12. Tidak pernah terlibat baik langsung maupun tidak lang-

sung dalam setiap kegiatan yang mengkhianati Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pan-

casila dan Undang-Undang Dasar 1945, seperti gerakan G-30-S/PKI dan/atau organisasi terlarang lainnya. 13. Tidak sedang menjalani pidana berdasarkan keputusan

pengadilan yang tidak dapat dirubah lagi karena tindak pidana yang diancam pidana sekurang-kurangnya 5 ta- hun.

14. Tidak terganggu jiwa/ingatannya.

b. Calon presiden diusulkan oleh fraksi secara tertulis dan dis- ampaikan kepada Pimpinan Majelis melalui Pimpinan Fraksi dengan persetujuan calon.

c. Diadakan pemungutan suara oleh anggota MPR guna menen- tukan siapa yang berhak menjadi presiden.

d. Pemilihan dilakukan di MPR dengan syarat memenuhi quo- rum yang telah ditentukan.

e. Setelah terpilih, calon dilantik menjadi presiden oleh MPR dengan mengucapkan sumpah.

Tahun 2004 UUD 1945 telah mengalami perubahan yang keempat, setelah tiga tahun sebelumnya pada tiap tahun men- galami perubahan. Dan UUD 1945 setelah tahun 2004 belum lagi mengalami perubahan walaupun beberapa kali muncul wacana untuk melakukan perubahan yang kelima. Oleh karenanya, konsti- tusi UUD 1945 pasca amandemen menjadi acuan ketatanegaraan Indonesia, terutama dalam hal ini adalah mengenai pengangkatan presiden dam wakil presiden.

Sebagaimana UUD 1945 sebelum amandemen, pasca aman- demen pun aturan tentang pengangkatan presiden tidak cukup hanya diatur dalam konstitusi negara, teknis pelaksanaan selan- jutnya adalah diterangkan lebih lanjut dengan peraturan perun- dang-undangan tentang pemilihan umum presiden dan wakil pres- iden. Setelah amandemen lahir 2 (dua) undang-undang tentang pemilihan presiden dan wakil presiden, yaitu; UU No. 23 Tahun 2003 dan UU No. 42 Tahun 2008.

UU No. 23 Tahun 2003 dijadikan sebagai acuan untuk pelak- sanaan Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden pada tahun 2004, adapun UU No. 42 Tahun 2008 dijadikan acuan untuk Pe- milihan Umum Presiden dan Wakil Presiden pada tahun 2009 dan 2014.

Aturan yang ada dalam UUD 1945 pasca amandemen dan undang-undang tentang pemilihan umum presiden dan wakil presiden selanjutnya diperjelas lagi dalam hal teknis pelaksanannya oleh peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Secara singkat peraturan tentang pengangkatan paket pasan- gan presiden dan wakil presiden dijelaskan sebagai berikut;

a. Warga negara yang akan diangkat menjadi presiden (wakil presiden) harus telah memenuhi syarat yang telah ditentukan dalam UUD 1945 pasal 6 dan pasal 6A dan UU No. 42 Tahun 2008 pasal 5, dengan rincian syarat;

1. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

2. Warga negara Indonesia sejak kelahirannya dan tidak pernah menerima kewarganegaraan lain karena ke- hendaknya sendiri

3. Tidak pernah mengkhianati negara, serta tidak pernah melakukan tindak pidana korupsi dan tindak pidana be- rat lainnya

4. Mampu secara rohani dan jasmani untuk melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai presiden dan wakil presiden 5. Bertempat tinggal di wilayah Negara Kesatuan Republik

Indonesia

6. Telah melaporkan kekayaannya kepada instansi yang berwenang memeriksa laporan kekayaan penyelenggara negara

7. Tidak sedang memiliki tanggungan utang secara pero- rangan dan/atau secara badan hukum yang menjadi tanggungjawabnya yang merugikan keuangan negara 8. Sedang tidak dinyatakan pailit berdasarkan putusan

pengadilan

9. Tidak pernah melakukan perbuatan tercela 10. Terdaftar sebagai pemilih

11. Memiliki Nomor pokok Wajib Pajak (NPWP) dan tel- ah melaksanakan kewajiban membayar pajak selama 5 (lima) tahun terakhir yang dibuktikan dengan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi

12. Belum pernah menjabat sebagai presiden atau wakil presiden selama 2 (dua) kali masa jabatan dalam jabatan yang sama

13. Setia kepada Pancasila sebagai dasar negara, Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, dan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945

14. Tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putu- san pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih

15. Berusia sekurang-kurangnya 35 (tiga puluh lima) tahun 16. Berpendidikan paling rendah tamat Sekolah Menengah

Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat

17. Bukan bekas anggota organisasi terlarang Partai Komu- nis Indonesia, termasuk organisasi massanya, atau bu- kan orang yang terlibat langsung dalam G.30.S/PKI dan 18. Memiliki visi, misi dan program dalam melaksanakan

pemerintahan negara Republik Indonesia.

b. Pasangan calon presiden dan wakil presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilihan umum

c. Presiden dan wakil presiden dipilih langsung oleh rakyat d. Setelah terpilih, calon dilantik menjadi presiden dan wakil

presiden oleh MPR dengan mengucapkan sumpah.

B. Pengangkatan Kepala Negara Menurut Hukum Tata

Dalam dokumen Hukum Tata Negara - Test Repository (Halaman 138-146)