BAB II KONSEP NEGARA DALAM ISLAM DAN
C. Praktek Kenegaraan dalam Sejarah Peradaban Islam
Sekali lagi perlu ditegaskan, walaupun ada pro dan kontra terhadap Madinah, apakah dapat dikatakan sebagai sebuah negara atau bukan, penulis lebih berpihak pada para sarjana yang menya- takan Madinah sebagai negara dan diperkuat oleh syarat-syarat se- buah komunitas disebut sebagai negara.
Al-Mawardi, Ibnu Taimiyah, Hasan al-Banna, Abu A’la al- Muadudi adalah sebagian dari ulama (sarjana) Islam yang meya- kini Madinah sebagai negara. Tidak hanya mereka, para orientalis seperti Montgomery Watt, dan H.R. Gibb juga menyatakan bahwa Madinah adalah sebuah negara.
Ditilik dari syarat terbentuknya negara; Madinah memiliki wilayah kedaulatan, Madinah memiliki pempimpin, dalam hal ini Rasulullah sebagai pemimpinnya, Madinah memiliki rakyat, rakyat terdiri dari kaum muslimin Muhajirin dan Anshar, dan suku-suku asli Madinah yang beragama Yahudi dan Nasrani, dan adanya pen- gakuan dari negara lain, hal ini dibuktikan dengan pengiriman dan penerima delegasi oleh Rasulullah, pemberian hibah yang diterima Rasulullah dan lain-lain.
Madinah sebelum kedatangan Nabi Muhammad Saw. ber- nama Yastrib, sebuah kota yang multi etnis dan benar-benar tribal dalam kehidupan sehari-harinya. Peperangan antar suku mudah tersulut hanya karena persoalan perselisihan sepele yang terjadi antar anggota suku dan faktor lainnya. Setelah kedatangan Nabi Saw. namanya dirubah menjadi Madinah al-Nabi, dikenal pula dengan sebutan Madinah Munawwarah. Kini kota itu cukup dike- nal dengan sebutan Madinah saja (Badri Yatim, 2010: 25).
Tidak lama setelah kedatangan Nabi Saw., kota Madinah beru- bah menjadi komunitas sosial baru dan komunitas politik dalam bentuk sebuah “negara” dengan pemerintahan yang berdaulat di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. Perubahan yang san- gat drastis ini dinyatakan dengan tegas oleh DB. Mc Donald bahwa; “disini, Madinah. Telah terbentuk negara Islam pertama dan telah meletakkan dasar-dasar negeri Islam pertama dan telah meletak- kan dasar-dasar politik bagi perundang-undangan Islam.” Thomas W. Arnald tambah menegaskan bahwa, “dalam waktu yang bersa- maan Nabi sebagai pemimpin agama dan kepala negara.” Fazlur- rahman sebagai sarjana muslim modern mengakui bahwa Madi- nah adalah sebuah negara. (http://al-zakaa.blogspot.com).
Praktik kenegaraan dan ketatanegaraan yang terjadi di Madi- nah berjalan secara sederhana, tapi perlu diketahui bahwa seseder- hananya Madinah pada saat itu, Madinah adalah negara pertama
yang memiliki konstitusi modern tertulis pertama di dunia. Bah- kan dapat dikatakan Negara Madinah telah melampai zamannya.
Praktik pemerintahannya berjalan atas bimbingan wahyu, ijtihad Nabi Saw dan para sahabat utamanya. Bentuk negaranya bukan republik bukan pula monarki. Mirip negara kota, tapi para ahli sejarah dan politik Islam lebih suka menyebutnya Madinah ‘ala Manhaj Nubuwwah.
Setelah Rasulullah Saw. wafat, tampuk pimpinan negara Ma- dinah dipikul oleh sahabat terdekat Nabi sekaligus mertuanya. Perpindahan kepemimpinan dari Nabi Muhammad Saw. kepada Abu Bakar al-Shiddiq berdasarkan ijtihad dari para sahabat Nabi yang berkumpul di Tsaqifah Bani Sa’idah dengan hanya perpato- kan pada asumsi-asumsi hubungan antara Nabi Saw dan Abu Bakar yang sangat dekat dan orang pertama yang masuk Islam. Karena seperti diketahui, sampai pada masa wafatnya, Nabi Muhammad saw. tidak meninggalkan sekaligus menetapkan aturan yang rinci mengenai pemerintahan Islam, termasuk dalam hal suksesi kepem- impinan negara. Tidak adanya tuntunan yang rinci mengenai hal ini, menggiring para pemikir Islam bahwa masalah suksesi kepem- inpinan adalah bagian dari amru al-ummah yang masuk dalam kategori amru al-dunya. Rujukannya kembali pada hadits “antum a’lamu bi umuri dunyakum” (kalian lebih tahu urusan dunia ka- lian). Kepimpinan pasca Rasulullah disebut khalifah al-rasul (pem- impin pengganti rasul).
Terpilihnya Abu Bakar telah memenuhi tata cara perundin- gan yang dikenal dunia modern saat ini. Kaum Anshar menekan- kan pada persyaratan jasa (merit), mereka mengajukan calon Sa’ad Ibn Ubadah. Kaum Muhajirin menekankan pada persyaratan kes- etiaan, mereka mengajukan Abu Ubaidah Ibn Jarrah. Sementara itu Ahlul bait menginginkan agar Ali Ibn Abi Thalib menjadi khalifah atas dasar kedudukannya dalam Islam, juga sebagai menantu dan
karib Nabi. Hampir saja perpecahan terjadi. Melalui perdebatan dengan beradu argumentasi, akhirnya Abu Bakar disetujui oleh jama’ah kaum muslimin untuk menduduki jabatan khalifah (http:// njedotpgo.blogspot.com/2012/06/).
Kekuasaan yang dijalankan oleh Abu Bakar bersifat sentral, mirip seperti apa yang dipraktikan oleh Rasulullah, kekuasaan yudikatif, legislatif dan eksekutif berada di tangan satu pemimpin. Masa kepemimpinan Abu Bakar hanya berlangsung selama 2 (dua) tahun.
Setelah Abu Bakar wafat, Umar bin Khattab diangkat seba- gai khalifah penggantinya. Proses terpilihnya Umar bin Khattab berbeda dengan terpilihnya Abu Bakar. Umar bin Khattab dipilih dengan cara ditunjuk oleh Abu Bakar pada saat beliau terbaring sakit, mendekati akhir hayatnya. Memang Abu Bakar sempat ter- lebih dahulu meminta pendapat dan persetujuan dari para sahabat yang menengoknya, sebagai penguat untuk menjatuhkan pilihan. Intinya Umar bin Khattab dipilih menjadi khalifah dengan cara di- tunjuk oleh pemimpin sebelumnya.
Pada masa kepemimpinan Umar Ibn Al-Khaththab, wilayah Islam sudah meliputi jazirah Arabia, Palestina, Syria, sebagian besar wilayah Persia, dan Mesir. Karena perluasan daerah terjadi dengan begitu cepat, Umar Ibn Al-Khaththab segera mengatur ad- ministrasi negara dengan mencontoh administrasi pemerintahan. Kekuasaan negara Madinahn diatur menjadi delapan wialayah pro- pinsi : Mekah, Madinah, Syria, Jazirah, Basrah, Kufah, Palestina, dan Mesir. Beberapa departemen yang dipandang perlu didirikan pada masanya mulai diatur dan ditertibkan sistem pembayaran gaji dan pajak tanah. Pengadilan didirikan dalam rangka memisahkan lembaga Yudikatif dengan Eksekutif. Untuk menjaga keamanan dan ketertiban, Jawatan kepolisian dibentuk. Demikian juga jawa-
tan pekerjaan umum, Umar Ibn Al-Khaththab juga mendirikan Bait al-Mall. Dalam menyelesaikan permasalahan yang berkem- bang dimayarakat Umar selalu berkomunikasi dengan orang-orang yang memang dianggap mampu dibidangnya (Asghar Ali Engineer, 2000: 77).
Setelah Umar bin Khattab wafat, tampuk pimpinan beralih ke sahabat Utsman bin Affan. Perpindahan tampuk pimpinan ini ber- beda pula dengan 2 (dua) khalifah sebelumnya. Utsaman terpilih melalaui musyawarah mufakat dalam lembaga yang dinamakan ahl al-halli wa al-aqdi, semisal lembaga legislatif pada masa modern dengan jumlah yang sangat terbatas, 6 (enam) orang sahabat utama Nabi Saw.
Kebijakan menjalankan roda pemerinatahan Utsman tidak jauh berbeda dengan pendahulunya. Utsman hanya menambahkan beberapa lembaga negara baru, seperti dalam bidang keimigrasian. Lembaga ini layak ada karena wilayah kedaulatan negara Madinah semakin luas sampai ke Cyprus, Azerbaizan, Armenia dan Kurd- istan.
Pada awal pemerintahannya tidak banyak mendapat ancaman dan gangguan, namun setelah 6 (enam) tahun masa kepemerinta- hannya muncul protes dan ketidakpuasan dari masyarakat. Ada- pun sumber ketidakpuasan rakyat adalah pada soal politik, pen- dayagunaan kekayaan negara dan kebijakan keimigrasian.
Bidang politik menjadi biang kekusutan dalam perjalanan pemerintah Utsman bin Affan, yakni nepotisme pengangkatan pejabat negara yang lebih banyak mengedepankan sanak kera- batnya. Hingga memunculkan sikap deligitimasi pada sebagian rakyat (yang telah terpropokasi oleh makar Abdullah bin Saba’ yang ujungnya adalah terbunuh Utsman oleh tangan-tangan pem- berontak.
Setelah Utsman wafat, tampuk pimpinan dipegang oleh Ali bin Abi Thalib. Terpilihnya Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah melalui bai’at langsung dari kaum muslimin (pemilihan langsung dalam pemilu modern). Masa pemerintahan pada saat Ali mem- impin adalah masa yang sangat sulit, penuh fitnah, banyak anca- man dan gangguan. Umat Islam sudah mulai terkotak-kotak kem- bali baik adalam ashabiah kesukuan (hubungan darah), ideologi politik bahkan paham keagamaan sampai pada kelompok yang mengaku sebagai pendukung sejatinya.
Perjalanan roda pemerintahan Ali tidak semulus masa kepemimpinan 3 (tiga) khalifah sebelumnya. Diakhir masa pemer- intahannya umat Islam terbagi dalam tiga kekuatan politik dan kekuatan bersenjata; yakni Muawiyah, Syi’ah dan Khawarij. Akh- irnya Ali bin Abi Thalib terbunuh oleh salah seorang Khawarij ber- nama Abdullah bin Muljam.
Pasca wafatnya Ali bin Abi Thalib, jabatan khalifah dipegang oleh Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Jabatan itu hanya dipegangnya dalam waktu beberapa bulan. Karena Hasan menginginkan per- damaian dan menghindari pertumpahan darah, kekuasaan itu dis- erahkan kepada Muawiyah bin Abi Sofyan.
Penyerahan itu juga menyebabkan Mu’awiyah Radhiallahu ‘anhu menjadi penguasa absolut dalam Islam. Tahun 41 H (661 M), tahun persatuan itu, dikenal dalam sejarah sebagai tahun jama’ah (‘am jama’ah). Dengan demikian berakhirlah masa yang disebut dengan masa Khulafa’ur Rasyidin, dan dimulailah kekuasaan Bani Umayyah dalam sejarah politik Islam (http://njedotpgo.blogspot. com).
Berawal dari peristiwa ini, kemudian sistem pemerintahan dalam sejarah politik Islam berubah menjadi seperti monarki, na- mun dengan penggunaan istilah yang berbeda; kesultanan, keemir- an bahkan adapula yang tetap menggunakan istilah khilafah. Dan pernah pada satu pemerintahan sebuah dinasti pemimpin negara dan pemerintahnya adalah seorang sulthanah (ratu).