• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN ANALISA PENELITIAN

4.8. Tanggapan Responden Mengenai Pengendalian Sosial Majelis Ulama IndonesiaTerhadap Umat Muslim Terkait Menyelesaikan Perselisihan Yang

4.9.3. Pengaruh Dari Fatwa Dan Himbauan Terhadap Masyarakat

4.9.3. Pengaruh Dari Fatwa Dan Himbauan Terhadap Masyarakat

Dakwah yang dilakukan oleh MUI dapat berupa pemberian fatwa dan himbauan, karena pada dasarnya dakwah secara harfiah adalah bermakna ajakan (seruan) yang memiliki esensi mengajak manusia pada nilai-nilai ajaran agama (Islam), yang pada hakekatnya dakwah upaya untuk mengajak dan mempengaruhi orang lain, atau kelompok tertentu agar mau mengikuti jalan kebenaran dan meninggalkan jalan kegelapan.

Fatwa dan himbauan yang dikeluarkan oleh lembaga MUI kota Medan adalah salah satu cara metode jalan dakwah yang diberikan pada untuk ummat Islam yang dikota Medan, pada dasarnya fatwa dan himbauan yang diberikan oleh MUI Medan merupakan pengendalian sosial yang dilakukan untuk masyarakat. Pendapat yang diberikan oleh masyarakat terhadap pengendalian sosial yang dilakukan oleh MUI beragam-ragam pendapat, ini tercermin dari tanggapan responden yang menjawab

quesioner yang disebar oleh peneliti, sebagian besar responden mengatakan sangat setuju 32,2% yang mengatakan setuju 53,5% dan tidak setuju 14,1%.

Sangat Setuju Setuju Tidak Setuju 32,2% 53,5% 14,1%

Sumber : Data primer diolah penulis, 2011

Dari diagram ini terlihat bahwa pengendalian sosial MUI Medan mempunyai peran penting bagi masyarakat kota Medan, karena masyarakat masih membutuhkan peran para ulama ditengah-tengah lingkungan sebagai pemberi nasihat dan untuk mengajak masyarakat agar menempuh kehidupan sesuai dengan ajaran kebenaran dalam Islam. Ini disebabkan karena masyarakat kota Medan masih menganggap ajaran agama masih menjadi pegangan dalam menghadapi ketidakpastian hidup. Karenanya sulit dibayangkan jika metode dakwah yang dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia tidak dilakukan dengan perbuatan yang nyata oleh para ulama, seperti Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa untuk diterapkan di masyarakat, sementara ada sebagian ulama yang melanggar fatwa tersebut.

Proses penyampaian fatwa dan himbauan yang dilakukan oleh MUI dapat berupa melalui media dakwah yang harus memahami retorika pelaksanaan dakwah yang perlu mengetahui dengan jelas tentang ruang dan waktu serta mengetahui bentuk atau sifat objek dakwah yang dihadapi dengan berpengang teguh dengan

prinsip dan nilai-nilai yang Islami. Hal ini tampak dari himbauan dan fatwa yang dikeluarkan untuk kemudian disampaikan oleh lembaga ini pada ummat Islam seperti mengeluarkan fatwa ditengah-tengah masyarakat, walaupun beberapa fatwa masih terjadi pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat. contohnya MUI Kota Medan menghimbau agar masyarakat harus berhati-hati dan selektif dalam menghadapi isu-isu tentang pemakaian vaksin mengengitis pada jamaah haji Indonesia.

Efektifitas dari sejumlah fatwa dan himbauan yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia kota Medan dapat menjadi salah satu daya tolak ukur untuk menilai peran dan fungsi yang dilakukan oleh lembaga ini terhadap ummat Islam. Dari tanggapan responden mengenai fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga Majelis Ulama Indonesia untuk ummat muslim dapat ditarik suatu pendapat bahwa sebahagian besar responden mengetahui fatwa-fatwa yang dikeluarkan 88,9%, sedangkan yang tidak mengetahui fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh MUI (termasuk MUI kota Medan) sebesar 11.1%.

Mengetahui

Tidak Mengetahui 88,9%

11,1%

Sumber : Data primer diolah penulis, 2011

Dengan demikian bahwa fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh MUI terhadap masyarakat diketahui oleh masyarakat muslim. Faktor ini juga tidak lepas dari peran

media yang turut memberikan peran andil dalam menyebarkan sejumlah himbauan dan fatwa untuk Ummat Islam apakah itu melalui media cetak (surat kabar, majalah, tabloid) dan media elektronik (televisi, radio, internet). Keberhasilan MUI dalam memberikan dakwahnya (fatwa dan himbauan) tidak terlepas dari cara metode dakwah yang diberikan dengan melakukan penekanan persuasif dan dengan cara berangsur-angsur serta melihat kondisi dan situasi yang sedang berkembang di masyarakat, salah satu contohnya adalah ketika lembaga Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa mengenai haramnya merokok, jika dicermati mengapa Majelis Ulama Indonesia mengharamkannya karena lembaga ini melihat situasi yang sangat memprihatinkan di masyarakat yang ditimbulkan oleh bahaya dari merokok, yang sebelumnya lembaga ini telah melakukan pembahasan secara detail dan menyeluruh berdasar pada pedoman Al-Quran dan Al-Hadist serta ijtihat para ulama.

Untuk contoh fatwa yang dikeluarkan oleh MUI kota Medan salah satunya tentang fatwa haramnya mengikuti tradisi-tradisi yang bukan berasal dari ajaran agama Islam seperti mengikuti merayakan hari kasih sayang (valentine day) yang jatuh pada tanggal 15 februari dan april mop. Alasan mengapa dilarangnya mengikutinya dikarenakan peringatan hari seperti itu berasal bukan dari agama Islam, akan tetapi ajaran tersebut berasal dari ajaran agama nasrani, sedangkan april mop disejarahkan pada pengkhianatan pasukan salib pada penduduk muslim yang melakukan perjanjian di spanyol yang jatuh pada tanggal 1 april.

Kedudukan fatwa dan himbauan yang diberikan oleh lembaga/organisasi (MUI) lebih memiliki keuntungan dan kelebihan yang hasilnya dapat dipertanggung jawabkan ketimbang fatwa dan himbauan dikeluarkan oleh perorangan, karena jika

suatu lembaga yang mengeluarkannya maka memiliki beberapa keuntungan dari pada perorangan. Pertama fatwa dan himbauan bisa dipertanggung jawabkan karena sebelumnya telah melalui pengkajian dan pembahasan bersama oleh banyak ahli yang hasilnya dapat dipertannggungjawabkan keabsahannya daripada yang dikeluarkan oleh perorangan, kedua oleh karena lembaga yang mengeluarkan maka akan memiliki pengaruh kepada masyarakat.

Dari hasil quesioner yang diberikan pada responden, masing-masing mereka memberikan tanggapan yang berbeda-beda tentang MUI termasuk mengenai fatwa yang dikeluarkan, diantaranya adalah: yang mengatakan bahwa peran lembaga ini hanya terbatas pada keagamaan dan lembaga ini tidak dibenarkan untuk mencampuri yang bukan menjadi bidang kajiannya seperti dicontohkan bahwa Majelis Ulama Indonesia tidak dibenarkan dalam berpolitik, karena akan menimbulkan prasangka bahwa lembaga ini tidak lebih hanya akan menjadi alat kepentingan sekelompok orang untuk memenuhi kepentingan kelompok tersebut, dapat dicontohkan bahwa lembaga ini tidak berhak melarang seseorang untuk menyampaikan bentuk aksi sosialnya seperti melakukan aksi mogok makan.

Sedangkan sebagian mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh MUI sudah tepat, karena lembaga ini tidak hanya terpusat dalam urusan keagamaan saja tanpa menyentuh aspek dari kehidupan lain yang ada pada manusia seperti ekonomi, sosial, politik, dan kesejahteraan. Ajaran agama tidak hanya mengajarkan ummatnya hanya tertuju pada agama saja, akan tetapi agama juga mengajarkan bagaimana ajarannya dapat dan memotivasi pengikutnya diaspek yang lain. Seperti mengapa para ulama bersepakat mengharamkan permainan judi, dan mengapa pula MUI mengeluarkan

sejumlah fatwa dan himbauan untuk ummat muslim, secara inflisif terlihat bahwa banyak terjadi kelemahan-kelemahan didalam ummat Islam. Yang pada akhirnya akibat dari kelemahan tersebut dapat mempengaruhi kehidupan umat dan akan menggerus akhlak umat, sebagaimana contoh dari sejumlah fatwa yang telah disebutkan pada sebelumnya.

Melihat perubahan-perubahan yang berkembang dimasyarakat saat ini yang menuju pada dekradasi moral dan cenderung kepada mengabaikan nilai-nilai yang telah diajarkan oleh agama yang pada akhirnya akan menjerumuskan mereka pada hidup yang lebih mementingkan materi dan mengabaikan nilai-nilai keagamaan, contoh pada tayangan televisi yang didominasi oleh siaran-siaran yang lebih bersifat menghibur dan sangat sedikit sekali yang mengandung nilai-nilai yang mendidik yang salah satunya menjadi sumber utama yang memberikan andil dalam menggerus nilai-nilai keagamaan, seperti ketika lembaga ini mengeluarkan fatwa yang mengharamkan tayangan infotaiment yang membicarakan gossip (ghibah) yang mengandung mudharat, apa yang dilakukan oleh Lembaga ini sudah tepat.

Mohammad Hatta mengatakan (2010:21) banyak sekali yang menjadi tugas para ulama/da’i pada hari ini yang menjadi kelemahan umat Islam, kelemahan-kelemahan tersebut yang menyebabkan rendahnya kualitas umat, diantaranya ialah lemahnya iman (dha’ful iman), lemahnya ilmu (dha’ful ilmi), lemahnya akhlak (dha’ful akhlak), lemahnya dalam penguasaan teknologi modern, lemahnya ekonomi umat dan lain sebagainya.

Sebagaimana apa yang telah dikatakan oleh Mohammad Hatta diatas mengenai kelemahan-kelemahan yang dihadapi umat Islam pada kenyataannya

merupakan merupakan fakta yang tidak dapat dihindarkan pada saat ini. Hal ini pulalah yang menjadi dasar mengapa Mejelis Ulama Indonesia mengeluarkan sejumlah fatwa dan himbauan kepada ummat Islam.

Dari sekian banyak fatwa-fatwa dan himbauan yang dikeluarkan oleh lembaga Majelis Ulama Indonesia yang diketahui oleh masyarakat diantaranya adalah:

13.Mengeluarkan sertifikat halal terhadap produk makanan dan minuman. 14.Fatwa dibolehkannya memindahkan kuburan untuk kemaslahatan umum. 15.Himbauan mengenai bergesernya arah kiblat untuk sholat.

16.Fatwa haramnya perbuatan terorisme. 17.Fatwa haramnya nikah kontrak (mut’ah).

18.Fatwa haramnya tayangan infotainment mengumbarkan aib hidup seseorang. 19.Fatwa haramnya merokok

20.Fatwa tentang haramnya memakan bunga bank. 21.Fatwa tentang aliran ahmadiyah yang menyesatkan.

22.Himbauan dan kecaman tentang tindakan pornografi dan pornoaksi.

23.Fatwa tentang haramnya pluraisme agama yang disuarakan oleh jaringan Islam Liberal.

24.Fatwa haramnya tindakan perjudian dan maksiat.

Fatwa-fatwa ini didapati dari responden yang dirangkum oleh peneliti dan dari literatur-literatur lainnya (buku, surat kabar), dari sekian banyak fatwa dan himbauan yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia umumnya telah banyak diketahui oleh ummat Islam, dikarenakan oleh pemberitaan yang disampaikan oleh media nasional maupun media swasta kepada masyarakat luas. Pengaruh dari fatwa dan

himbauan yang diberikan oleh Majelis Ulama Indonesia terhadap kehidupan ummat Islam dapat dilihat pada diagram di bawah ini:

Berpengaruh Tidak Berpengaruh Kadang-kadang Saja 48,48% 12.12% 39,39%

Sumber : Data primer diolah penulis, 2011

Dari diagram diatas tampaklah pengaruh fatwa dan himbauan yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia terhadap umat Islam, yang mengatakan bahwa fatwa dan himbauan Majelis Ulama Indonesia memberikan pengaruh 48,48%, sedangkan yang mengatakan kadang-kadang saja fatwa dan himbauan Majelis Ulama Indonesia yang memberikan pengaruh 39,39%, dan yang mengatakan tidak memberikan pengaruh fatwa dan himbauan Majelis Ulama Indonesia terhadap masyarakat 12,12%.

Pengaruh dari fatwa dan himbauan MUI terhadap masyarakat sedikit banyaknya memberikan pengaruh didalam kehidupan masyarakat. Pengaruh yang di berikan oleh lembaga ini telah menciptakan suatu kendali sosial dalam masyarakat, pengaruh dari sejumlah fatwa dan himbauan telah memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang bagaimana menjalani kehidupan agar sesuai dengan perintah dan norma-norma syariat agama Islam, dengan adanya sejumlah fatwa dan himbauan dari MUI maka masyarakat tidak lagi mesti merasa khawatir dan ragu-ragu dalam

menghadapi suatu perkara masalah dalam kehidupan sehari-hari, karena sudah ada suatu ketetapan yang telah dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia. Contohnya adalah ketika Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan sertifikasi halal pada suatu produk makanan dan minuman yang akan dikonsumsi oleh masyarakat yang bertujuan untuk memberikan kepastian kehalalan dan keamanan mengenai produk yang akan dikonsumsi, sehingga dapat menetramkan bahtin yang mengkonsumsi produk tersebut dan menghindari kesimpangsiuran status kehalalan produk tersebut, karena sebelumnya telah dilakukan penelitian oleh LP POM MUI.

Pengaruh fatwa dan himbauan Majelis Ulama Indonesia dapat memberikan keteraturan dalam masyarakat dalam bertindak agar sesuai dengan norma dan peraturan. Cara Majelis Ulama Indonesia dalam melakukan pengendalian sosial dilakukan dengan cara persuasif yang artinya mengajak untuk mengikuti dan menetapkan fatwa tanpa ada paksaan, seperti Majelis Ulama Indonesia memfatwakan haramnya merokok, setelah fatwa ini dikeluarkan oleh Mui maka banyak pendapat dan persepsi yang timbul di masyarakat baik yang mendukung maupun yang menolak fatwa tersebut, hal ini dapat dilihat di berbagai media yang memberitakannya. Akan tetapi Majelis Ulama Indonesia tidak terlalu secara reaktif dan berlebihan dalam menanggapinya, dan dengan seiring berjalannya waktu kesadaran masyarakat timbul mengapa lembaga ini memfatwakan rokok haram, hal ini disebabkan karena bahaya yang ditimbulkan oleh rokok jauh lebih besar daripada manfaatnya.

Responden menanggapi fatwa dan himbauan yang diberikan oleh Majelis Ulama Indonesia sebagai suatu langkah maju dalam membina kehidupan beragama dan berdakwah, keberanian lembaga ini dalam mengeluarkan fatwa yang akan

menuai pro dan kontra di masyarakat patut menjadi perhatian, karena lembaga ini bukan hanya bermodalkan pada keberanian semata dalam melakukan tugasnya, akan tetapi yang dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia merupakan suatu kebenaran harus diberikan pada masyarakat, hal ini disebabkan karena melihat realita yang berkembang saat ini yang cenderung pada prilaku yang menyimpang dari norma dan kaidah yang tidak lagi sesuai di masyarakat sehingga dibutuhkan alat atau organisasi untuk mengawasi kehidupan masyarakat agar tidak berprilaku menyimpang. Apa yang dilakukan oleh lembaga ini bukan sebagai mencari pamor dan citra di masyarakat, akan tetapi kepada untuk menjalankan perintah dan menyampaikan risalah para nabi sebagai pewaris risalah tersebut untuk melindungi dan memperbaiki akhlak manusia.

Fatwa-fatwa yang telah ditetapkan oleh Majelis Ulama Indonesia pada umumnya telah banyak diketahui oleh Umat Islam, akan tetapi masih minimnya sosialisasi yang diberikan pada ummat kalaupun ada hanya terbatas pada media, sedangkan sosialisasi yang diberikan dilapangan sangat minim, ini bisa dibuktikan peneliti ketika menyebarkan quesioner kepada para responden, hampir semua responden mengatakan bahwa sosialisasi yang diberikan oleh lembaga ini sangat minim khususnya tentang dari fatwa yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia terhadap masyarakat yang akan diterapkan langsung. Sehingga kedepannya perlu sosialisasi secara langsung agar masyarakat lebih mengetahui dan memahami fatwa dan himbauan yang diberikan oleh Majelis Ulama Indonesia untuk kemudian diterapkan, yang pada akhirnya jika ini dilakukan maka akan berdampak pada kinerja Majelis Ulama Indonesia itu sendiri.

Fatwa-fatwa dan himbauan Mui yang disampaikan pada umat Islam mempunyai makna dan fungsi tersendiri untuk Islam, karena yang lembaga ini sampaikan jangan dipandang hanya sebagai komoditi semata yang hanya berlatar kepentingan sekelompok orang, akan tetapi yang dilakukan oleh lembaga ini lebih cenderung pada pemberian pemahaman akan ajaran agama Islam agar masyarakat tidak mengalami pendangkalan pemahaman agama, fungsi lembaga ini juga menyentuh pada aspek-aspek kemasyarakatan dalam berbagai kehidupan. Sebagaimana agama memiliki fungsi manifest dan fungsi latent, fungsi manifest dari agama ialah berkaitan dengan doktrin, ritual, doa, dan aturan berprilaku dalam beragama, sedangkan fungsi latent dari agama ialah menawarkan kehangatan bergaul, dan terciptanya mobilitas sosial.

Pengaruh dari fatwa-fatwa yang diberikan oleh Majelis Ulama Indonesia terhadap masyarakat menunjukkan suatu bukti bahwa peran para ulama masih menempati pada posisi yang semestinya khususnya ditengah-tengah Ummat Islam, karena perlu diketahui bahwa ulama tidak hanya identik dengan orang yang pandai akan ilmu agama saja, akan tetapi ulama juga memiliki spesifikasi dibidangnya masing-masing, oleh karenanya tidak jarang kita jumpai para ulama yang memiliki profesi yang lain seperti dokter, pegawai, pengusaha dll.

Didalam struktur organisasi atau lembaga Majelis Ulama Indonesia terdapat berbagai divisi atau bidang-bidang yang mengurusi masing-masing perannya dan diketuai oleh ketua bidang. Ada 16 Bidang yang meliputi:

1) Bidang Fatwa

3) Bidang Dakwah

4) Bidang Pendidikan dan Kaderisasi 5) Bidang Pengkajian dan Kaderisasi 6) Bidang Pengkajian dan Penelitian 7) Bidang Hukum dan Undang-undang 8) Bidang Perekonomian dan Produk Halal 9) Bidang Pemberdayaan Ekonomi

10) Bidang Pemberdayaan Perempuan 11) Bidang Keluarga dan Perlindungan Anak 12) Bidang Remaja dan Seni Budaya

13) Bidang Kerukunan Umat Beragama

14) Bidang Hubungan dan Kerjasama Internasional 15) Bidang Informasi dan Komunikasi dan,

16) Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam.

Oleh sebabnya mengapa tugas dan fungsi Mui tidak terbatas pada fatwa dan himbauan semata, akan tetapi peran dan fungsi Mui meliputi berbagai bidang. Dari sejumlah fatwa-fatwa Majelis Ulama Indonesia diantaranya adalah fatwa mengenai diharamkannya terorisme, nikah kontrak, bank sperma, tayangan infotaiment yang menyebarkan aib, yang dikeluarkan pada Munas ke VIII, maka pendapat masyarakat terhadap fatwa-fatwa tersebut menyetujui apa yang dilakukan oleh lembaga ini. Diantaranya besarnya dukungan responden terhadap fatwa tersebut, seperti diagram dibawah ini:

Sangat Mendukung Mendukung Tidak Mendukung 50,5% 40,4% 9,0%

Sumber: Data primer diolah penulis, 2011

Dari diagram diatas maka sebagian besar responden mendukung fatwa-fatwa tersebut, responden yang sangat mendukung fatwa tersebut berjumlah 50,5%, dan yang mendukung berjumlah 40,4%, sedangkan yang tidak mendukung berjumlah 9,0%. Adapun perbedaan antara responden yang sangat mendukung dengan responden yang mendukung adalah hanya sebatas realitifitas dalam memberikan penilaian semata, yang pada intinya mereka mendukung fatwa tersebut.

Dari gambar diagram tampaklah bahwa sebahagian besar responden masyarakat mendukung apa yang dilakukan oleh lembaga Majelis Ulama Indonesia terkait mengenai fatwa yang diberikan karena alasan yang diberikan oleh responden ialah, fatwa dan himbauan yang dikeluarkan oleh lembaga ini bertujuan agar umat Islam terhindar dari hal-hal yang berakibatkan pada pengaruh-pengaruh negatif dikarenakan masukkan arus perubahan ditengah-tengah masyarakat, sehingga apa yang dilakukan oleh Mui dapat mencegah kerusakan moral yang disebabkan oleh perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat. Oleh karena itu mengapa Mui memfatwakan hal tersebut agar umat Islam terhindar dari segala sesuatu yang mengandung mudharat yang bukan bersumber pada ajaran agama Islam.

Berkenaan dengan fatwa dan himbauan yang diberikan oleh MUI maka responden memberikan penilaian tentang kepatuhan masyarakat untuk mengikuti fatwa dan himbauan yang diberikan oleh MUI. Kepatuhan untuk menerapkan fatwa dan himbauan terlihat dari jawaban responden, responden yang mengikuti fatwa dari lembaga ini sebesar 11.1%, dan yang tidak mengikutinya sebesar 17,1%, sedangkan responden yang hanya kadang-kadang saja mengikutinya sebesar 71,8%. Sebagaimana yang tergambar pada diagram dibawah ini:

Mengikuti Tidak Mengikuti Kadang-kadang 11,1% 17,1% 71,8%

Sumber: Data primer diolah penulis, 2011

Dari diagram diatas maka dapat diberikan kesimpulan bahwa walaupun sebagian besar masyarakat telah mengetahui fatwa dan himbauan dari MUI, akan tetapi tidak semuanya masyarakat mengikuti fatwa tersebut hanya sebagian saja yang yang mengikuti dan mematuhi fatwa tersebut. Adapun alasan yang diberikan oleh responden karena masih kurang pahamnya masyarakat mengenai beberapa fatwa yang diberikan kepada masyarakat dan masih kurangnya sosialisasi yang diberikan, seperti contoh MUI kota Medan memfatwakan bahwa foto prawedding hukumnya haram dan terlarang karena didalam foto tersebut calon mempelai mempragakan adengan yang tidak sesuai dengan yang bukan muhrimnya seperti berpelukan, kenapa ini diharamkan karena mereka masih calon mempelai dan lagi mereka tidak

sepantasnya menunjukkan kemesraan mereka didepan banyak orang, bukan hanya MUI medan saja yang melarang, tetapi MUI pusat dan ulama-ulama lainnya juga sependapat dengan fatwa tersebut. Namun pada faktanya dilapangan praktik-praktik yang serupa makin marak berkembang ditengah-tengah masyarakat.

Contoh lainnya adalah fatwa tentang rokok yang konon masih banyak dilanggar oleh masyarakat dengan alasan yang diberikan bahwa rokok merupakan industry yang penting dan memperkerjakan banyak orang, jika rokok dilarang maka akan berdampak pada banyak orang yang menggangur karena pabrik-pabrik tutup, pada hal sebelumnya mengapa ulama dan MUI memfatwakan rokok haram karena bahaya yang ditimbulkan jauh lebih besar dari pada keuntungan yang dihasilkan, seperti angka kematian yang disebabkan oleh rokok yang besar, dan nyawa tidak dapat digantikan dengan materi

BAB V