• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH EKSPRESIONISME DALAM KARYA SASTRA JAWA

Dalam dokumen tumbuh di atas tanah kering (Halaman 42-56)

Episode VII (pada no 26) mengisahkan akhir dari sebuah perjalanan panjang Dewi Sekardadu atau Mbok Randa Gondang,

PENGARUH EKSPRESIONISME DALAM KARYA SASTRA JAWA

A. Pendahuluan

Ekspresionisme adalah aliran dalam dunia seni, khususnya seni lukis dan sastra (prosa, puisi dan drama) yang berkembang di Eropa Barat, khususnya Jerman, antara tahun 1910-1925. Ekspresionisme meluapkan secara dahsyat gejolak hati seorang seniman atau pandangan hidupnya. Emosi dimuntahkan secara irasional dan visioner. Ekspresi diutamakan dan ini menentukan bentuk. Irama lebih penting daripada harmoni.

Ciri menonjol dari karya sastra ekspresionisme lebih mengutamakan pengungkapkan perasaan dan gejolak jiwa dalam karyanya dengan medistorsi kenyataan dengan efek emosional, apa yang dilihat, dirasakan, dialami dan direnungkan, diungkapkan dengan bahasa singkat, kata-kata ditempatkan sendiri-sendiri, kiasan meledak - ledak. Diungkapkan tidak secara realis dan obyektif, tetapi lebih mementingkan pada inti dari realita itu. Emosi kebencian, penolakan, pemberontakan, pengharapan, cinta, keputusasaan juga kematian mendominasi pengungkapkan ekspresi pengarang, yang diungkapkan secara ekspresif untuk menciptakan sesuatu yang mampu menerobos batas penyempit dunia nyata menuju dunia yang benar-benar baru yang sesuai dengan keinginannya.

Sebagai sebuah aliran dalam sastra, ekspresionisme tidak muncul begitu saja terlepas dari aliran seni yang sudah ada sebelumnya, seperti romantisme, neo-romantisme, naturalisme, realisme, simbolisme dan impresionisme. Aliran – aliran tersebut mempunyai andil terhadap tumbuh dan berkembangnya aliran Ekspresionisme.

Sastra merupakan bentuk ekspresi seorang pengarang dengan media bahasa, dengan bahasa seorang pengarang mengekspresikan semua apa yang ada dalam fantasi/imajinasi, pikiran dan perasaannya ketika ada yang menyentuh, dan bergejolak karena melihat, merasakan, mengalami dan merenungkan apa yang ada di luar dan di dalam dirinya. Ekspresi itu bisa diungkapkan dengan bahasa halus, lembut, mempesona,

juga bisa dengan penuh gairah, semangat yang bergelora, harapan, tetapi bisa juga diungkapkan dengan penuh kesedihan, kepasrahan, kebencian juga dendam.

Pengungkapan ekspresi yang berbeda oleh pengarang disebabkan oleh faktor latar belakang pendidikan, pengalaman, dan sosial kultural dimana dan kapan karya sastra itu diciptakan.

Sosial kultural yang dimasksud mencakup perubahan sistem nilai, budaya, ekonomi dan politik yang berkembang saat karya sastra itu diciptakan. Oleh karena itu sebuah karya sastra itu dianggap sebagai pancaran kepribadian pengarang. Gerak jiwa, pengembaraan imajinasi dan fantasi pengarang terlukis dalam karyanya.

Teks disebut ekspresif bila tujuan utamanya untuk mengungkapkan buah pikiran, perasaan, pengalaman, dan pendapat pengarang dengan fungsi utama adalah penyajian diri si pengarang (Luxemburg, 1987:54).

Pendekatan Ekspresif adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai ekspresi pengarang. Pendekatan ini melihat sebuah karya sastra adalah sarana pertemuan bagi pengarang dan pembaca. Pengungkapan pengarang yang ekspresif bisa membawa pembaca pada sosio-kultural pengarang pada masanya. Pembaca bisa mendapat pemahaman tentang ciri khas pengarang, sejarah penciptaan, nilai/konvensi sastra, seni, budaya, politik juga sosial ekonomi yang berlaku pada masa itu. Oleh karena itu penghadiran pengarang sebagai faktor utama dalam penginterpretasian karya sastra sehingga pengarang tidak dapat dilepaskan dari karyanya (Luxemburg, 1987:70). Peran pembaca juga sangat penting karena dengan penginterpretasian dan kreatifitas pembaca, karya tersebut dapat berarti.

Karya seorang ekspresionis akan menghasilkan sebuah teks yang ekspresif, untuk mendekati sebuah karya yang bersifat ekspresif menggunakan pendekatan ekspresif.

Karya Sastra Jawa adalah karya sastra yang ditulis dengan menggunakan media bahasa Jawa, siapapun penulisnya. Pada makalah ini akan mendekati salah satu karya sastra Jawa yaitu puisi ‘Kowe Wis Lega’ karya Iesmaniasita, dengan pendekatan ekspresif, dengan asumsi Iesmaniasita merupakan salah satu

penyair sastra Jawa yang bergaya ekspresionisme, seperti yang dikatakan oleh Hutomo (1993:197).

Puisi dengan judul ‘Herinnering aan Holand’ karya Hendrik Marsman yang dipilih oleh masyrakat Belanda sebagai “Dutch

Poem of the Century”. Hendrik Marsman dalam perkembangan ekspresionisme sastra di Eropa merupakan salah satu tokoh penyair yang di masukan dalam aliran ekspresionisme, disebutklan puisinya adalah vitalistic dan akspresionis. Dalam hasanah sastra Indonesia, Hendrik Marsman merupakan salah satu penyair yang ikut mempengaruhi perjalanan kepenyairan Chairil Anwar mempengaruhi perjalanan kepengarang Chairil Anwar, selain juga ada nama Federico Garcia Lorca (Rosyidi, 1985)

B. Sejarah Perkembangan Ekspresionisme Dalam Sastra

Ekspresionisme, istilah ini muncul pertama kali pada sebuah jurnal ‘Der Sturm’ dan ‘Die Aktion’ yang diterbitkan oleh Herwarth Walden di Berlin pada tahun 1910. Selanjutnya Kedua Jurnal ini menjadi Jurnal akspresionisme yang terkenal. Selain prosa, puisi juga memuat tulisan-tulisan dan gambar hasil karya para penulis, penyair, juga pelukis.

Ekspressionisme adalah kecenderungan seorang seniman untuk mendistorsi kenyataan dengan efek-efek emosional. Ekspresionisme bisa ditemukan di dalam karya lukisan, sastra, film, arsitektur, dan musik. Istilah emosi ini biasanya lebih menuju kepada jenis emosi kemarahan dan depresi daripada emosi bahagia.

Ekspresionisme dalam sastra dan seni berkembang di Jerman yang mencapai puncaknya pada periode 1910 – 1952. Ekspresionisme berkembang sebagai hasil dari reaksi generasi muda terhadap budaya borjuis Jerman selama periode ini. Ekspresionisme tidak lagi sekedar gaya menciptakan karya seni atau bercerita, melainkan lebih merupakan pola pikir yang memiliki aspek sosial, budaya, dan politik.

Kaum Ekspresionisme Jerman juga berpartisipasi dalam agitasi untuk dan pelaksanaan perubahan dalam politik, ekonomi, struktur sosial, penerbitan, musik, film, teater, arsitektur, lukisan dan sastra.

Ekspresionisme Jerman ketika itu dikaitkan dengan sejumlah gerakan kontemporer lainnya yang bertujuan menjungkirbalikkan nilai-nilai sosialis yang dianut oleh penguasa dan nilai-nilai masyarakat tradisional. Oleh karena itu gerakan ekpresionisme Jerman tidak bertahan lama dan mulai memudar. Keterkaitan itu menyebabkan banyak seniman dan penulis yang dihukum, karena dianggap menentang penguasa sosialis, sehingga karya yang sudah diciptakan banyak yang dibakar dan dihancurkan. Karya Sastra ekspresionisme Jerman berupa serial monograf dan jurnal seni, jurnal politik, novel, dan drama. Tetapi yang paling menonjol adalah drama. Oskar Kokoschka 's 1.909 dengan sandiwara kecil, berjudul Murderer, The Hope of Women sering disebut drama ekspresionis pertama.

Pengaruh aliran ini sangat besar pada awal abad ke-20 di Eropa, terutama di negara – negara yang menggunakan bahasa Jerman. Tokoh-tokoh terpenting dari aliran ini adalah Franz Kafka (Austria,1883-19240), Ernest Toller (Polandia,1893-1939), George Kaiser (Jerman, 1878-1945) dan Fritz von Unruth (Jerman, 1885- 1970) juga Dostojevski, Reinhard Sorge, Bertolt Brecht, Sean O’Casey. Mereka terkenal sebagai dramawan.

August Strindberg ( Swedia, 1849-1912), merupakan tokoh paling penting dalam perkembangaan drama ekspresionisme, August adalah seorang penulis drama dan pemain drama menulis sekaligus mementaskan Play Dream pada tahun 1902, pementasan itu menimbulkan sensasi dan pengaruh yang luar biasa bagi perkembangan penulisan dan pementasan drama selanjutnya. Teori psikoanalisis (freud dan Yung) yang menyatakan adanya kehidupan sub sadar dan tidak sadar, disamping kehidupan sadar, menjadi dasar dan logika para ekspresionisme dalam berkarya (Luxemburg, 1986:69), demikan juga Marxisme.

Pada dunia kepenyairan, yang terpengaruh ekspresionisme Jerman adalah Georg Trakl , Gottfried Benn , Georg Heym , Lain Lasker-Schüler , Ernst Stadler , dan Agustus Stramm. Demikian juga TS Eliot dicap sebagai ekspresionis.

Pengaruh Ekspresionisme sampai juga ke Belanda, Hendrik Marsman dan Slauerhof yang berasal dari Belanda dalam berkarya

sangat terpengaruh oleh ekspresionisme Jerman. Kedua tokoh ini tidak sajak berkecimpung di drama tetapi juga prosa dan puisi.

Di hasanah sastra Indonesia, kepenyairan Chairil Anwar juga terpengaruh oleh gaya kepenyairan Hendrik Marsman, selain juga ada nama Federico Garcia Lorca (Rosyidi, 1985), oleh karena hasil karya sastra Chairil Anwar secara umum juga digolongkan sebagai karya ekspresionisme.

Di hasanah karya sastra Jawa Hutomo yang dikutip oleh Sri Widati (2010:110), menyebutkan karya-karya penulis Iesmaniasita termasuk karya ekspresionisme yang mengikuti gaya ekspresionismenya Chairil Anwar. Lebih lanjut Widati juga menyebutkan bahwa banyak tokoh sastrawan Jawa yang juga mengikuti gaya ekspresionisme antara lain Susilomurti, Priyadi Gunawan, Mulyono Sudarmo dan Trim Suteja (2010:111). Tetapi sayang Widati tidak memberikan contoh karya penulis yang disebutkan itu.

C. Ekspresionisme Dalam Karya Sastra

Pembahasan ini diarahkan pada karya sastra yang berbentuk (genre) puisi. Dengan tujuan untuk memperoleh sebuah gambaran tentang ekspresionisme dalam sebuah karya sastra Jawa dan karya sasta dari wilayah sastra yang lain. Dari wilayah sastra yang lain akan dibahas sebuah puisi karya penulis Belanda. Mengapa mengambil contoh puisi karya penulis Belanda, karena secara historis dengan keberadaan bangsa Belanda yang sudah berada di Indonesia, khususnya di Jawa selama tiga setengah abad sebagai penjajah, ada kemungkinan untuk saling mempengaruhi.

Kajian akan difokuskan pada ciri yang menonjol dari sebuah karya sastra ekspresionisme. Ciri yang menonjol itu antara lain; 1) cara pengungkapan sangat ekspresif dan meledak - ledak, dalam hal ini gaya bahasa, pemilihan kata, bentuk, 2) Apa yang diungkapkan adalah adalah gejolak jiwa dan emosibisa berupa amarah, kebencian, keputusasaan, pemberontakan, kepasrahan, cinta dan harapan, bahkan juga penderitaan dan kematian, 3) tujuannya ingin menciptakan dan menemukan sesuatu yang lain dan baru dari realita yang dihadapinya sebagai sebuah pembebasan.

Kajian ini masih merupakan langkah awal, diharapkan akan ada lagi kajian yang lebih mendalam pada kesempatan yang akan datang.

1. Ekspresionisme dalam ‘Kowe Wis Lega’ karya Iesmaniasita Fokus kajian diarahkan pada penyair yang dengan berbagai pertimbangan dipilih mewakili jamannya seperti pada Iktisar Perkembangan Sastra Jawa Periode Kemerdekaan terbitan Balai Bahasa Yogyakarta (2001) yaitu Iesmanisita.

Iesmaniasita St Iesmaniasita memiliki nama lengkap Sulistyo Utami, lahir di Terusan, Mojokerto pada tanggal 18 Maret 1933. Terakhir menjadi guru di Kota Mojokerto. Dari buku Wawasan Sastra Jawa Modern karya Poer Adhie Prawoto disebutkan bahwa Bu Is, panggilan akrab St Iesmaniasita menghasilkan karya tak kurang dari 82 cerita pendek, 514 geguritan serta beberapa esai yang membicarakan kesusastraan Jawa.

Adapun buku kumpulan hasil karyanya adalah Kidung Wengi Ing Gunung Gamping (Nyanyian Malam di Gunung Kapur), diterbitkan Balai Pustaka, Jakarta, tahun 1958, memuat 8 cerita pendek, masing-masing berjudul Kembang Mlathi Sagagang , Wengi ing Pinggir Kali, Lagu kang Wekasan, Lingsir ing Pesisir, Jugrug, Gerimis, Ing Sunaring Rembulan, Ing Sawijining Wengi.

Buku kumpulan cerita pendek Kringet saka Tangan Prakosa (Keringat dari Tangan Perkasa) terbit tahun 1974 oleh Yayasan Penerbitan Jaya Baya, Surabaya, memuat cerita Tandure Ijo Kumlawe, Calon Ratu, Kringet saka Tangan Prakosa, Dinane Isih Riyaya, Atine Bocah.

Buku Kalimput ing Pedhut (Tersaput Kabut) diterbitkan Balai Pustaka, Jakarta, tahun 1976, memuat 3 buah cerita pendek, masing-masing Lagu Lingsir Wengi, Kalimput ing Pedhut, Rembulan Kalingan Mega dan 20 geguritan.

Geguritan (Antologi Sajak-sajak Jawa) diterbitkan Pustaka Sasanamulya, Surakarta tahun 1975. Merupakan kumpulan geguritan 13 orang penyair dengan 76 geguritan, termasuk 7 geguritan karya St Iesmaniasita.

Mawar Mawar Ketiga, merupakan kumpulan geguritan yang diterbitkan Yayasan Penerbit Jaya Baya, Surabaya , tahun 1996, memuat 35 geguritan. Di lingkup karya sastra Jawa, karya – karya

Iesmaniasita dianggap mewakili sebuah karya yang ekspresif, karena pada karya – karyanya terutama yang terlihat jelas ciri – ciri ekspresionis yang sangat ekspresif, dengan menggunakan bahasa singkat, kata-kata ditempatkan sendiri-sendiri, kiasan meledak – ledak, sebagai sebuah bentuk keprihatinan, kesedihan, keputusaasan tetapi juga harapan. Apa yang diungkapkan tidak hanya sebuah realita tetapi lebih kepada hal yang menjadi inti dari realita itu sendiri, serta menampilkan ketegangan antara sesuatu/konvensi yang sudah menjadi tatanan dan dianggap mapan dengan menampilkan sesuatu yang tidak sesuai dengan tatanan/konvensi yang disepakati dan membebaskan diri dari tradisi dan menampilkan sesuatu yang baru sesuai dengan keyakinannya (Balai Bahasa, 2001:302). Pada sebuah seminar sastra modern di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 13-15 Desember 1988, Prapto Yuwono berpendapat tentaang puisi-puisi Iesmaniasita bahwa,

puisi-puisi penyair ini pada umumnya memiliki warna dasar kesedihan. Kesedihan-kesedihan itu dapat berupa: karena perpisahan dengan kekasih, sehingga menimbulkan rindu, dendam, benci, dsb, karena kenyataan-kenyataan sosial yang memprihatinkan, karena bencana-bencana alam atau iklim alam yang menyengsarakan manusia, karena keinginan atau cita-cita tak sampai, karena dosa-dosa yang diderita manusia dsb. Demikian menyeluruh kesedihan yang diungkapkannya itu sehingga kesan suram, kusam dan bahkan gelap meliputi puisi-puisinya.Namun demikian tidak berarti bahwa puisi- puisinya mengajak kita untuk juga turut bersedih, bahkan sebaliknya ada sikap-sikap yang selalu ingin ditampilkannya yakni ketegaran, keangkuhan sekaligus kepasrahan, kerelaan dan rasa semangat untuk selalu bangkit dalam menghadapi kesedihan-kesedihannya itu. Dengan kata lain, tidak terasa sama sekali kesan ‘cengeng’ di dalam puisi-puisinya.”

Seperti terlihat pada guritan Iesmaniasita yang berjudul Kowe Wis lega? yang selanjutnya disebut KWL.

Bisa nyipta Palguna & Palgunadi mahir mencipta Palguna & Palgunadi

Bisa nyipta Pandji & Candrakirana mahir mencipta Pandji & Candrakirana

Jingga tuwin aruming ludira jingga dan harumnya darah

O, jaman Kanwa o, zaman kanwa

Jaman sedah zaman Sedah

Pepuspan amrik bunga – bunga semerbak

Mekar endah mekar indah

Leluhurku Moyangku

Uripe saben jaman hidup di setiap zaman Ngelik sesindhenan merdu bersenandung

Ing padesan di pedesaan

Lan ngumbara turut pesisir dan mengembara di sepanjang pantai

Nasak wana salumahing bawan menembus

hutan di muka bumi

Rungokna, rungokna... dengarkan, dengarkan....

O, sumitra O, sahabat

Apa sliramu wis lga Apakah kamu sudah puas Sesidhenan lagu warisan?. Berdendang lagu warisan ?.

(Widati,2010:111)

Guritan Iesmaniasita KWL itu menunjukkan pengungkapan yang sangat ekspresif dan sangat keras dan meledak-ledak, bisa dikatakan pilihan kata yang digunakan meskipun terlihat sepintas sangat biasa dan lugas, tetapi dengan mengatakan ‘aku turuning pujangga’ itu merupakan bentuk pernyataan diri yang sangat berani. Di dalam budaya masyarakat Jawa keberanian untuk menyatakan diri sebagai keturunan seseorang yang sangat terhormat apalagi seorang pujangga sekelas Empu Kanwa dan Empu Sedah sangatlah ‘cumantaka’. Karena seharusnya bagi

seseorang yang dianggap berpendidikan dan memahami unggah- unggah seharusnya lebih ‘andhap asor’. Tetapi itu dipilih oleh Iesmaniasita untuk menunjukkan kepada semua bahwa inilah ‘aku’. Dengan gaya metapora yang sangat berani, dengan menyatakan dirinya sebagai keturunan pujangga. memberikan perbedaan yang menyolok dibanding dengan guritan yang lain.

Penulisan guritan yang tidak lagi diawali dengan kata Sun nggegurit, menunjukkan tidak ada lagi basa-basi, langsung dan lugas kepada maksud yang utama. Hal demikian juga sangat tidak lazim di dalam dunia sastra Jawa ketika itu. Tema, sajak, baris dan pembaitan juga sangat berbeda, tidak mengikuti apa yang dikembangkan oleh para penulis lain yang terpengaruh genre Soneta dalam sastra Indonesia.

Dengan pendiriannya yang teguh ingin menampilkan sesuatu yang baru, Iesmaniasita sebagai generasi muda dalam kancah Sastra Jawa Modern, menulis KWL selain menggunakan konvesi yang berbeda dengan yang berlaku, juga mengekspresikan keresahan , keprihatinan, kesedihan dan keraguan tentang apa yang diyakini selama ini. Bahwa ‘aku’ dan ‘kowe’ sebagai keturunan pujangga seharusnya mampu untuk terus meneruskan apa yang telah dicapai oleh para ‘leluhur’. KWL merupakan dialog imajiner dengan pertanyaan ditujukan kepada ‘aku’ dan ‘kowe’ sebagai keturuanan pujangga yang bisa menciptakan karya sastra yang begitu agung dan bernilai tinggi sepanjang jaman seperti Empu Sedah dan Empu Kanwa, apakah sudah merasa puas dan berbangga hati hanya dengan mengandalkan dan menikmati karya mereka tanpa berbuat apa – apa, pertanyaan juga ditujukan pada orang Jawa yang lain (penulis lain, pembaca), O, sumitra/ apa sliramu wis lega?/ sesindhenan lagu warisan.

KWL, Tema yang dikembangkan dalam KWL, merupakan permasalahan yang terjadi pada saat itu, dengan peralihan pemerintahan (dari pemerintahan kolonial Belanda dan Jepang ke pemerintahan RI). Pemerintah bekerja keras untuk membersihkan unsur – unsur kolonial (Balai bahasa, 2001:8).

Dunia sastra Jawa Modern yang tidak terlepas dari dunia realitas terdorong juga untuk mengadakan pembaharuan. Meskipun telah diawali sejak masa transisi dan sudah tampak

pada masa prakemerdekaan, tetap saja mengalami guncangan. KWL salah satu yang dengan terus terang menanyakannya, dan juga mengadakan pembaharuan yang benar-benar baru yang kemudian menjadi tonggak baru perkembangan guritan/puisi Jawa Modern dan kemudian dikembangkan dengan positif oleh para

penggurit seangkatannya (Balai Bahasa, 2001:304) dan penggurit - penggurit selanjutnya samapi sekarang (lihat Kumpulan guritan Gagrak Anyar “MOH’ karya Herry lamongan, Tengsoe Tjahyono dan Aming Aminoedin).

Posisi pembaharu ini bukan kehendak dari Iesmaniasita dengan KWLnya, Iesmaniasita hanya mencoba mengekspresikan apa yang dilihat, diketahui, dipahami dan direnungkannya dengan lugas apa adanya, sesuai dengan apa yang ada dalam jiwanya meskipun terlihat bersifat naratif, nuasa berani dengan lantang dan meledak – ledak tetap dirasakan di setiap makna kata yang dipilih.

Kelugasan dan kesederhanaan pemilihan kata merupakan kekuatan dan ciri khas dari hampir semua karya Iesmaniasita tidak hanya ada pada KWL saja, selaras dengan keberadaan Iesmaniasita sebagai perempuan Jawa yang hidup sederhana dan apa adanya di tengah – tengah masyarakat yang sebagian besar hidup di bawah tekanan karena kemiskinan, Iesmanisita yang kebetulan menjadi seorang pendidik untuk tetap mampu tetap

adhem lan ngadhemake dalam situasi apapun, meskipun hati dan jiwa bergejolak sangat hebat.

Dan hebatnya pula ia mampu oleh iwak tanpa mbuthegake banyune, pembaharuan dalam karya sastra Jawa Modern dan kritik – kritik yang dilontarkan secara ekspresif tidak menimbulkan gejolak.

2. Ekspresionisme dalam ‘Herinnering aan Holland’ , Hendrik Marsman

Hendrik Marsman lahir di Zeist, Belanda 30 September 1899, meninggal bersama istrinya pada 21 Juni 1940 di selat Inggris, ketika melarikan diri dariBelanda ke Inggris kapalnya tenggelam terkena terpedo Jerman. Dengan latar belakang pendidikan sebagai ahli hukum, Hendrik Marsman berpraktek di Utrecht. Hendrik Marsam sangat menganggumi filosof , dia pernah menjadi

seorang Fasis, tetapi segera berubah membenci karena melihat kekejaman yang terjadi. Tahun 1933, setelah ia melakukan perjalanan di Eropa dan mengabdikan dirinya untuk sastra.

Di bawah pengaruh Ekspresionis Jerman, Marsman membuat debut sastra sekitar 1923 dengan “The Verzen” (Ayat). Puisi itu membuat Hendrik Marsman dianggap sebagai vitalisme dan ekspresionisme. Puisi ini sarat dengan prinsip vitalisme dan ekspresionisme yang memberikan gambaran bahwa manusia harus mempunyai daya hidup (vitalitas) untuk dapat menguasai dunia dan keselamatan manusia tergantung daya hidupnya dan kekuatan di ular alam. Kekuatan tersebut memiliki peranan yang esensial mengatur segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini (misalnya Tuhan). Bagi Marsman sebagai seorang ekspresionisme bentuk puisi kurang penting, pengungkapan secara ekspresif dan bebas menjadi pilihan, dan tema (takut) kematian, sebagai metafora untuk kekalahan dalam hidup.

Marsman juga pernah menjadi pemimpin editor dari majalah gratis yang keluar secara periodik yaitu “De Vrije bladen” (The Free Press), tahun 1925 ia menjadi pada kritikus terkemuka dari generasi muda.

Koleksi berikutnya dari “Verzen” muncul pada tahun 1927 dengan judul bahasa Inggris “Paradise Regained” dan disambut sebagai prestasi artistik utama. Selanjutnya “Porta Nigra”, puisi yang didominasi oleh gagasan kematian, muncul pada tahun 1934. Buku terakhir “Tempel en Kruis” (1940; “Temple dan Cross”).

Pada tahun 2000, orang-orang Belanda memilih puisi Hendrik Marsman yang berjudul “Herinnering aan Holland” (Remembrance of Holland): “Denkend aan Holland zie ik breede Rivieren traag pintu oneindig laagland gaan,” Berpikir tentang Holland, saya melihat sungai yang luas perlahan bergerak melalui dataran rendah tak berujung, sebagai “Dutch Poem of the Century.” Pembahasan pada , makalah ini mengambil judul;

Herinnering aan Holland Mengingat Belanda Denkend aan Holland Berpikir tentang Belanda zie ik breede rivieren Saya melihat sungai yang luas

traag door oneindig perlahan melalui tak berujung laagland gaan, dataran rendah,

rijen ondenkbaar baris terpikirkan

ijle populieren poplar

als hooge pluimen sebagai bulu tinggi aan den einder staan; di cakrawala; en in de geweldige dan di besar ruimte verzonken tersembunyi daerah

de boerderijen pertanian

verspreid door het land seluruh negeri, boomgroepen, dorpen, pohon, desa, geknotte torens, dipotong menara, kerken en olmen gereja dan elm in een grootsch verband. dalam asosiasi besar. de lucht hangt er laag Langit hang rendah

en de zon wordt er langzaam dan matahari perlahan-lahan in grijze veelkleurige dalam abu-abu

dampen gesmoord, asap tersedak, en in alle gewesten dan di semua wilayah wordt de stem van het water suara air

met zijn eeuwige rampen dengan bencana yang terus- menerus

gevreesd en gehoord. ditakuti dan dipatuhi

Marsman memandang Belanda sebagai sebuah negara yang selalu dibayangi oleh bencana. Bencana yang ditimbulkan oleh kondisi alam negara Belanda sendiri. Datangnya bencana secara terus menerus dan tidak dapat dihindari, sangat menakutkan dengan ungkapan yang penuh keputusasaan dan kepasrahan ‘ dengan bencana yang terus menerus/ditakuti dan dipatuhi’. Belanda bagi Marsman adalah negara yang penuh air, sebuah negara yangtercipta terhampar di ‘dataran rendah’, dimana ‘sungai mengalir dengan berlahan’, sungai yang ada hampir di seluruh

negeri, yang terlihat dan tersembunyi, berbaris ‘tidak berujung’ dan hanya berbatas ‘di cakrawala’ semua bermuara di situ.

Sekuat apapun kekuatan manusia untuk memperoleh kemakmuran hidup dengan mengusahakan pertani yang sangat luas terhampar hampir di seluruh negeri, juga dengan mendirikan tanggul yang tinggi untuk menyelamatkan negeri dari bencana,

Dalam dokumen tumbuh di atas tanah kering (Halaman 42-56)