• Tidak ada hasil yang ditemukan

Telaga Lendhut

Dalam dokumen tumbuh di atas tanah kering (Halaman 65-68)

Episode VII (pada no 26) mengisahkan akhir dari sebuah perjalanan panjang Dewi Sekardadu atau Mbok Randa Gondang,

THE DRAGON :

E. Lampiran : Ringkasan Cerita

5. Telaga Lendhut

Di sebuah desa, di pinggir hutan di kaki Gunung Lawu, hiduplah keluarga Pak Krama dengan istri dan anaknya. Kehidupan keluarga itu sangat berkecukupan, kekayaan itu diperoleh karena sebuah anggota keluarga itu bekerja keras. Semua hasil panen disimpan dalam lumbung.

Suatu hari Pak Krama menemukan tiga buah telur, telur tersebut dibawa pulang. Dan ikut dieramkan pada itik yang sedang mengerami telurnya. Tiga telur tersebut menetas berupa, satu

kuthuk ayam alas, kedua piyik anak burung puyuh, dan ketiga menjadi seekor anak naga. Ketiga hewan tersebut dipelihara oleh pak krama sekeluarga dan diatkan kandang sendiri-sendiri sampai besar.

Semakin hari naga tersebut senakin besar, sehingga kadangnya tidak lagi muat. Untuk itu Pak Krama yang mengira naga itu senang hidup di lendhut (lumpur), seperti belut di sawah, dibuatlah sebuah kubangan lendhut di depan rumah. Setelah selesai naga tersebut kemudian dipindah di situ. Naga yang tidak suka hidup di lumpur, naga itu berontak dengan gerakan ekor dan badannya terus mengaduk-aduk lumpur itu sampai meluber. Pak Krama yang bodoh mengira tingkah naga itu wujud dari

kegembiraan karena mendapat kandang baru.

Lama-kelamaan luberan lumpur tersebut semakin banyak dan kubangan itu menjadi sangat lebar menjadi sebuah telaga lumpur yang menenggelamankan rumah pak Krama. Pak krama dan keluarganya kemudian meninggalkan tempat kediamannya dan mencari tempat yang lain untuk bertempat tinggal. Semua itu disebabkan karena kebodohannya dan kelalaianya karena memelihara hewan yang semestinya hidup di alam liar. 6. Bledug ing Kuwu

Prabu Ajisaka mempunyai putra yang karena takdir berwujud ular naga yang sangat besar. Ular datang menghadap Ajisaka

untuk dikau menjadi putranya. Ajisaka mau mengakui ular naga tersebut sebagai putranya bila bisa membunuh musuhnya yaitu Buaya Putih di laut Selatan dan kembali dengan selamat. Dengan pesan kepada naga agar ketika berangkat ke laut selatan tidak boleh meliwati daratan. Karena akan membuat takut rakyat medang Kemulan. Tetapi harus lewat dalam tanah.

Berangkatlah naga tersebut menuju laut kidul tidak dengan melewati daratan tetapi masuk ke dalam tanah. Sesampai di Laut Selatan terjadi peperangan yang sangat sengit antara naga dan buaya putih. Akhirnya naga tersebut berhasil memusnahkan buaya putih. Setelah itu naga tersebut kembali ke Medang Kemulan. Sesuai dengan pesan Prabu Ajisakapi lewat naga tersebut tidak melewati darat, tetapi lewat dalam tanah. Karena untuk mengetahu apakah sudah sampai di Medang kemulan atau belum naga tersebut menyembulkan kepalanya dari dalam tanah samap sembilan kali sembulan. Bekas sembulan kepala naga itu mengeluarkan lumpur dan air asin yang diyakini berasal dari laut selatan, terbawa oleh naga tersebut.

Tempat-tempat itu akhirnya dinamakan bledug, karena ketika air asin itu menyembur disertai lumpur dan mengeluarkan suara letusan, karena di daerah Kuwu, dinamakan Bledug Kuwu. 7. Raden Rangga

Panembahan Senopati adalah seorang raja yang sangat sakti, raja besar yang berkuasa di Mataran. Kekuasaan Mataran sangat luas, meliputi tanah Jawa dan sekitarnya. Dengan dibantu oleh seorang istrinya yang berasal dari alam lain, yaitu Ratu Kidul yang merupakan penguasa laut selatan, Senopati pun menguasai juga alam para mahkluk alus.

Ketika Ratu Kidul mengandung 3 bulan, dan Panembahan Senopati merasa harus meninggalkan Laut selatan untuk kembali ke Mataram, berpesan kepada istrinya bila nanti putranya lahir, jagalah dan didiklah dia dengan baik, bila tiba waktu suruhlah pergi ke Mataram untuk hidup bersamanya dan mudah-mudahan kelak bisa menggantikannya menjadi raja.

Selang beberapa bulan lahirlah seorang anak bayi lelaki yang sangat tampan, dan diberi nama Raden Rangga. Sesuai pesan

suaminya Raden Rangga dididik dan diajari ulah kanuragan juga ilmu kesaktian. Dan tibalah waktunya untuk menemui ayahnya di Mataram.

Sesampai di Mataram Raden Rangga diterima dengan suka cita oleh Panembahan Senopati, dilimpahi kasih sayang dan harta benda yang berlimpah-limpah membuat Raden Rangga sangat bangga. Kebanggan itu lama-kelamaan menimbulkan sifat sombong dan sewenang-wenang terhadap siapa saja terutama kepada rakyat kecil.

Semakin hari kelakuan Raden Rangga tidak terkendali, banyak rakyat kecil yang resah, gelisah dan takut menjadi korban keganasan Raden Rangga. Sebagai keturunan Panembahan Senopati yang sangat sakti dengan ibu Ratu Kidul yang juga seorang yang sangat sakti, Kesaktian Raden Rangga sangat luar biasa, siapapun tidak dapat menandinginya.

Akhirnya salah satu petinggi kerajaan mewakili rakyat, menyampaikan tindak-tanduk puteranya. Penembahan Senopati menerima pengaduan itu yang sebenarnya beliau sudah tahu. Menyadari kelakuan Raden Rangga seperti itu, pupuslah harapan nya untuk menjadikan puteranya itu sebagai putera mahkota kerajaan Mataram. Panembahan Senopati mencari cara

bagaimana mengatasi masalah ini. Dipanggillah Raden Rangga ke paraduannya, untuk memijat badannya yang lelah, setelah pijatan sampai di kaki, ditendanglah Raden Rangga sampai keluar istana.

Raden Rangga yang mengira ayah tidak lagi menghendaki keberadaannya di istana, kemudian pergi tanpa tujuan, sambil melepaskan kekesalan dengan merusak apa yang dilewatinya. Mengetahui itu Panembahan Senopati menemui ratu Kidul untuk menyerahkan kembali Raden Rangga karena merasa tidak mampu mendidik putranya itu di alam nyata. Ratu Kidul pun bersedia menerima kembali putranya.

Selang beberapa waktu tiba-tiba terjadi keributan yang laur biasa di tengah-tengah kota Mataram, seekor naga raksasa mengamuk dan merusak apa saja, rakyat menjadi panik dan tidak ada yang berani melawan naga raksasa tersebut. Panembahan Senopati akhirnya membuat sayembara , siapa saja yang mampu

mengalahkan naga tersebut akan dihadiahi separo negara Mataram. Raden Rangga yang mendengar adanya sayembara tersebut segera mengikuti sayembara tersebut.

Setelah berhadapan dengan naga raksasa, semua kekuatan dan kesaktiannya dikerahkan tetapi tetap tidak mampu

melumpuhkan apalagi melukai naga tersebut. Semakin lama tenaga Raden Rangga terkuras habis, badannya lemas dan dililit oleh naga raksasa tersebut dan keajaiban terjadi naga raksasa dan Raden rangga lenyap begitu saja. Dipercaya naga raksasa itu adalah penjelmaan Rati Kidul yang datang menjemput kembali Raden Rangga.

Dalam dokumen tumbuh di atas tanah kering (Halaman 65-68)