• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH KEBERADAAN ORANG LAIN

Dalam dokumen PENGARUH SOSIAL DAN KONTROL SOSIAL (Halaman 41-44)

PERI LAKU DI DALAM KELOMPOK

PENGARUH KEBERADAAN ORANG LAIN

Orang yang pertama kali tertarik mengenai pengaruh keberadaan orang lain terhadap kinerja (performance) individu ialah Norman Triplett. Sebagai penggemar balap sepeda, Triplett mengamati bahwa para pembalap membalap lebih cepat ketika bertanding dengan orang lain daripada bila mereka membalap sendiri dengan menghitung waktu tempuh. Berdasarkan pengamatannya itu Triplett (1898) mengusulkan suatu teori yang disebut dynamogenesis, yaitu pembangkitan aksi/kinerja oleh karena keberadaan orang lain, dan mengujinya dengan suatu eksperimen.

Pengaruh orang lain ditentukan oleh beberapa faktor. Bibb Latane (1981) mengusulkan tiga faktor utama didalam teorinya yang disebut social impact theory : (1) Jumlah orang, (2) Immediacy, (3) Kekuatan (strength)/status.

Jumlah orang : Dengan bertambahnya jumlah orang, bertambah pula pengaruhnya terhadap individu. Namun demikian setelah mencapai jumlah tertentu, bertambahnya jumlah orang tidak lagi diikuti dengan peningkatan pengaruh (Tanford & Penrod, 1984).

Immediacy : Menunjuk pada kedekatan orang-orang lain terhadap individu yang dipengaruhi. Misalnya, perintah yang didektekan oleh instruktur yang berteriak keras di dekat orang yang diperintah memiliki pengaruh yang lebih besar daripada bila perintah dengan volume yang sama diberikan dari jarak 10 meter.

Kekuatan : yaitu daya (power), status, atau sumberdaya dari agen yang mempengaruhi. Latane & Harkins (1976) menemukan bahwa siswa- siswa yang diharapkan bernyanyi di depan penonton yang status sosialnya tinggi merasa lebih tegang dibanding siswa yang diharapkan bernyanyi didepan penonton yang status sosialnya lebih rendah.

Berikut ini pengaruh keberadaan orang lain dalam beberapa situasi yang berbeda-beda :

Pengaruh Audience

Dalam situasi ini seseorang tampil (unjuk performance) dihadapan orang-orang lain, namun tanpa ada interaksi langsung. Anggota audience merupakan orang- orang yang mengamati secara pasif (Geen,1980). Misalnya, tampilnya seorang aktor/aktris dihadapan penonton.

Beberapa penelitian penting yang menyangkut situasi audience adalah sebagai berikut :

• Survei yang dilakukan oleh Borden (1980) mengenai rasa takut, hasilnya menunjukkan bahwa berbicara dihadapan kelompok lebih menakutkan

bila dibanding berada dalam situasi-situasi di tempat ketinggian, kegelapan, kesendirian, dan peristiwa kematian.

• Para atlet menyatakan bahwa performance mereka lebih baik bila tampil dihadapan banyak penonton daripada bila stadion sepi (Davis,1969).

Triplett (1890) mengamati bahwa audience dapat meningkatkan performance. Di sisi lain, bila seorang pembicara publik dihinggapi rasa takut, audience dapat menurunkan kualitas performance. Mengenai hal ini Floyd Allport (1920) memperkenalkan dua istilah : social facilitation dan social impairment/ inhibition.

- Social facilitation, menunjuk pada peningkatan performance

individu karena keberadaan orang-orang lain.

- Social impairment/ inhibition, menunjuk pada penurunan

performance individu karena keberadaan orang-orang lain.

Zajonc (1965) menemukan bahwa respon yang dominan diperlukan pada saat kehadiran orang-orang lain, maka orang yang terlatih akan meningkat performance-nya pada saat kehadiran orang-orang lain, sedangkan orang yang kurang terlatih akan merosot performance-nya. Contoh untuk teori Zajonc: orang yang sudah terlatih main piano, performance-nya lebih baik ketika orang lain hadir; sebaliknya seorang pemula akan lebih banyak membuat kesalahan ketika bermain dalam sebuah konser piano daripada ketika berlatih di rumah.

Robert Baron (1986) mengemukakan distraction-conflict theory. Menurut Baron, seseorang dapat mengalami kebingungan/gangguan karena berbagai alasan. Kebingungan tersebut menyebabkan konflik perhatian bagi individu yang sedang menampilkan performance-nya, dan selanjutnya konflik perhatian ini meningkatkan gejolak (arousal) sebagai respon atas kebutuhan energi yang lebih besar untuk menghadapi konflik. Peningkatan gejolak dapat berakibat memfasilitasi atau sebaliknya menghambat performance, tergantung bagaimana cara individu tersebut dalam menghadapi konflik. Jika terlalu memperhatikan gangguan yang ada, berarti terjadi interupsi bagi performance dan menghasilkan hambatan. Sebaliknya, jika individu mengarahkan perhatian terhadap performance, maka peningkatan gejolak akan meningkatkan performance bila respon yang diperlukan dominan (dipelajari dengan baik), dan menghambat performance bila respon yang diperlukan tidak dominan (tidak dipelajari dengan baik oleh individu).

Pengaruh Keberadaan Coactors

Coactors adalah orang-orang lain yang melakukan aktivitas yang sama dengan individu. Misalnya, keberadaan para pembalap lain yang tampil bersama individu pembalap sepeda. Di samping mempunyai pengaruh seperti pengaruh audience yang pasif, kita dapat menduga bahwa kehadiran coactors juga memberikan tambahan pengaruh bagi individu yang sedang melakukan unjuk performance. Beberapa penemuan mengenai hal ini adalah sebagai berikut :

Triplett (1898) menjelaskan bahwa keberadaan coactors menambah elemen kompetisi.

Dashiell (1930) melaporkan bahwa dalam situasi coactive (adanya orang- orang lain yang melakukan aktivitas yang sama), subjek eksperimen melakukan respon dengan kecepatan (rate) yang lebih tinggi namun kesalahan-kesalahannya juga meningkat bila dibanding ketika ketika berlatih sendiri, sebagai akibat terjadinya kompetisi.

Seta (1982) berpendapat bahwa keberadaan coactors ini memungkinkan terjadinya social comaprison, yaitu mengamati perilaku orang lain dan menjadikannya sebagai dasar mengevaluasi performance kita sendiri. Social comaprison ini merupakan sumber konflik perhatian. Jika coactors tampil lebih baik dari diri kita, dan membuat kita mengarahkan perhatian terhadap performance demi berkompetisi, maka coactors menimbulkan social facilitation. Di sisi lain, bila orang-orang lain tampil sama baiknya atau lebih buruk daripada kita, tampaknya coactors tidak memiliki pengaruh lebih dari penonton biasa (audience).

Pengaruh Keberadaan Anggota Kelompok Yang Lain

Ketika orang menampilkan performance bersama kelompok, seringkali terjadi penurunan usaha dari individu-individu yang terlibat di dalamnya, yang disebut

social loafing. Penemu adanya pengaruh semacam ini adalah Max Ringelmann (1913). Untuk menguji hal ini Latane dan kawan-kawan melakukan studi (Harkins, Latane, & Williams,1980; Latane, William, & Harkins, 1979) dan menemukan bahwa kelompok telah menghasilkan social loafing , yaitu bahwa usaha individu-individu menurun secara drastis ketika jumlah anggota kelompok meningkat.

Mengapa terjadi social loafing ? Terdapat dua kemungkinan jawaban :

1. Karena di dalam kelompok individu-individu kurang dapat dikenali (Williams, Harkins, & Latane, 1981). Hal ini mirip dengan deindividuasi yang membuat orang melepaskan kontrol diri karena “bersembunyi” di balik kerumunan.

2. Kepercayaan bahwa orang lain di dalam kelompok akan melakukan. Interaksi di dalam kelompok mungkin menimbulkan harapan akan performance anggota yang lain. Jika interaksi tersebut menimbulkan pikiran bahwa anggota yang lain akan bermalas-malasan, kemudian kita mengimbanginya dengan menurunkan usaha (Jackson & Harkins, 1985). Namun bagaimanapun juga bila anggota-anggota kelompok secara khusus menyatakan bahwa mereka akan bekerja sekeras mungkin, maka efek social loafing dapat dihilangkan.

Cara peningkatan kontribusi individu terhadap hasil-hasil kelompok. Meskipun dapat menimbulkan social loafing, namun sumbangan individu terhadap produk kelompok dapat ditingkatkan dengan cara :

1. Menambah tingkat kesulitan tugas, dapat meningkatkan performance secara keseluruhan (Harkins & Petty, 1982; Jackson & Williams, 1985). 2. Tugas melibatkan konsekuensi personal/ individual (Brickner,

Harkins, Ostrom, 1986). Misalnya, mahasiswa mendapatkan tugas kelompok yang dapat diyakini memiliki konsekuensi terhadap prosedur

akademik selanjutnya, yaitu sebagai prasyarat untuk menempuh matakuliah yang lain.

Dalam dokumen PENGARUH SOSIAL DAN KONTROL SOSIAL (Halaman 41-44)

Dokumen terkait