PERILAKU ANTAR KELOMPOK
PREJUDICE DAN DISKRIMINAS
Istilah prejudice, diskriminasi, dan stereotip, sering digunakan secara bergantian, namun sebenarnya ketiganya merupakan konsep yang berbeda : y Prejudice (prasangka), menunjuk pada perasaan negatif atau respon emosi
terhadap sekelompok orang tertentu yang merupakan hasil dari sikap tidak toleran, tidak adil, atau ketidaksenangan terhadap kelompok tersebut (Brewer & Kramer, 1985; Harding, Proshansky, Kutner, & Chein, 1969). Contoh : Perasaan mendongkol karena duduk bersebelahan dengan orang dari suku tertentu; Marah karena seorang wanita diangkat menjadi pemimpin. y Diskriminasi, menunjuk pada perilaku yang khusus terhadap anggota suatu
terhadap anggota kelompok lain. Contoh : Berbagi tugas dengan teman- teman, tetapi tidak mau berbagi dengan seseorang karena berasal dari suku tertentu; Menolak bekerja sama dengan pemimpin wanita.
y Stereotip, merupakan keyakinan tentang karakteristik anggota dari suatu kelompok yang teridentifikasi. Stereotip dapat positif, dan dapat pula negatif. Meskipun stereotip merupakan fondasi bagi terbentuknya prejudice dan diskriminasi (Bersoff & Verrilli, 1988; Fiske, Bersoff, Borgida, Deaux, & Heilman, 1990) namun nyatanya orang yang memiliki keyakinan stereotip terhadap kelompok tertentu, tidak selalu berarti bahwa orang tersebut memunculkan prejudice atau diskriminasi (Oakes & Turner, 1990). Contoh : Yakin bahwa si A berwatak keras karena berasal dari suku Batak.
Stimulus Proses spontan Stereotip Proses-proses kontrol Ya Tidak Keterangan Gambar :
Stereotip terjadi secara spontan. Pencegahan keyakinan-keyakinan stereotip untuk mencegah respon prejudice, merupakan proses kontrol.
Prasangka dan diskriminasi dapat diarahkan terhadap berbagai kelompok : laki- laki, perempuan, kulit hitam, orang Amerika, Asia, Hispanik, dsb. Sebagai ilustrasi bagaimana beroperasinya prasangka dan diskriminasi, berikut disajikan dua “isme” yang paling meresap di dalam masyarakat, yaitu rasisme dan sexisme. Di samping itu juga akan dijelaskan sebab-sebab prasangka dan diskriminasi.
Rasisme (racism)
Komisi hak-hak sipil Amerika (1969) mendefinisikan rasisme sebagai “berbagai sikap, tindakan, ataupun struktur institusional yang mensubordinasi (merendahkan) seseorang karena karena warna kulitnya”.
Mencegah Keyakinan-keyakinan negatif Respon Non-prejudice Respon prejudice
Definisi ini menggabungkan antara sikap negatif (prejudice) dengan perilaku diskriminatif; dan menyatakan bahwa rasisme dapat muncul pada level individu maupun institusi.
Sexisme (sexism)
Sexisme, seperti rasisme, merupakan gabungan antara sikap-sikap dan tindakan-tindakan yang merendahkan suatu kelompok sebagai lebih rendah dari kelompok lain. Namun demikian, dalam sexisme, prejudice dan diskriminasi diarahkan kepada orang-orang karena identitas gender (jenis kelamin). Pada umumnya ditujukan terhadap perempuan.
Sebab-sebab Prejudice dan Diskriminasi
Gordon Allport dalam bukunya The Nature of Prejudice (1958) mengidentifikasi adanya enam tingkat analisis, yang oleh para teoris selanjutnya diterapkan untuk usaha memahami sebab-sebab “isme”. Berikut ini adalah keenam tingkat analisis tersebut :
y Penekanan pada sejarah dan ekonomi. Para sejarawan mengingatkan bahwa kita tidak dapat sepenuhnya memahami penyebab prejudice tanpa mempelajari latar belakang konflik yang relevan, dan ini merupakan fakta yang menyedihkan bahwa sebagian besar prejudice memiliki sejarah yang panjang. Teori-teori yang berorientasi pada sejarah, menekankan faktor ekonomi. Misalnya, penganut teori Karl Marx memandang prejudice sebagai cara untuk mengeksploitasi kelas pekerja.
y Penekanan pada sosiokultural. Para sosiolog dan antropolog menekankan faktor-faktor sosiokultural sebagai penentu prejudice dan diskriminasi. Faktor ini mencakup karakteristik masyarakat atau budaya yang mempertinggi kemungkinan diskriminasi. Misalnya, tekanan kultural terhadap kompetensi dan training, berkombinasi dengan kelangkaan dan kompetisi kerja. Faktor- faktor sosiokultural yang lain adalah :
- Peningkatan urbanisasi, mekanisasi, dan kompleksitas. - Mobilitas dari kelompok tertentu
- Populasi meningkat, berhadapan dengan masalah keterbatasan jumlah tanah yang dapat digunakan dan kekurangan perumahan yang layak. - Ketidakmampuan banyak orang untuk mengembangkan standard internal,
cenderung mengakibatkan ketergantungan terhadap orang lain dan berperilaku konformis.
- Perubahan dalam peran dan fungsi keluarga, bersamaan dengan perubahan dalam standard moralitas.
y Penekanan pada situasi. Analisis ini berusaha menjawab pertanyaan “ mengapa ada orang-orang yang lebih prejudice daripada orang lain?”.
Penekanan pada situasi ini merupakan pendekatan psikologi sosial. Fokusnya : daya-daya lingkungan saat ini merupakan penyebab prejudice. Dalam hal ini, konformitas terhadap orang lain dipandang sangat mempengaruhi prejudice.
y Penekanan pada psikodinamik. Faham psikodinamik memandang prejudice sebagai hasil dari konflik dan maladjusment (ketidakmampuan menyesuaikan diri) yang dialami oleh individu yang ber-prejudice itu sendiri. Dalam hal ini teori-teori psikodinamik menggunakan dua pendekatan :
a. Pendekatan pertama, mengasumsikan bahwa prejudice berakar pada kondisi frustrasi manusia. Frustrasi dan deprivasi (kondisi kekurangan) menimbulkan impuls marah “yang jika tidak terkendali seringkali disalurkan terhadap etnik minoritas” (Allport, 1958). Dalam hal ini kita dapat melihat bahwa hipotesis frustrasi-agresi memainkan peranan penting untuk menjelaskan diskriminasi. Para teoris menghipotesiskan bahwa scapegoating (pengalihan rasa permusuhan kepada kelompok yang kurang berkuasa) merupakan hasil dari frustrasi ketika sumber frustrasinya tidak dihadapi saat itu atau tidak dapat diserang karena alasan tertentu.
b. Pendekatan kedua, mengasumsikan bahwa prejudice hanya berkembang pada orang-orang yang memiliki struktur karakter yang lemah atau mengalami cacat kepribadian (personality defect). Pendekatan ini tidak menerima prejudice sebagai hal yang normal, melainkan hasil dari kecemasan dan rasa tidak aman yang kuat dari orang yang neurotik.
y Penekanan pada fenomenologi. Menurut penekanan fenomenologi, persepsi individu terhadap dunia sekelilingnya lebih penting daripada gambaran objektif dari dunia sekeliling tersebut. Jadi, penekanannya adalah pada persepsi seseorang pada saat itu. Misalnya, perilaku asertif pada wanita, mungkin diinterpretasikan sebagai “terlalu agresif” dan “terlalu menekan”, meskipun perilaku tersebut mungkin secara objektif sebanding dengan perilaku laki-laki dalam situasi yang sama. Hasilnya, perilaku diskriminatif dapat terjadi.
y Penekanan pada reputasi. Lima pendekatan di atas seluruhnya menyoroti bahwa sumber prejudice adalah pada diri pelaku prejudice. Pendekatan- pendekatan tersebut tidak mempertimbangkan bahwa perilaku atau karakteristik kelompok minoritas mungkin menimbulkan perasaan-perasaan negatif yang ditujukan terhadap diri mereka. Teori reputasi ini membuat postulat bahwa kelompok minoritas memiliki karakteristik yang memancing ketidaksenangan dan permusuhan. Ada beberapa bukti yang mendukung teori ini. Misalnya Triandis dan Vassiliou (1976), dalam penelitiannya terhadap orang-orang Yunani dan Amerika, menyimpulkan : “Data yang tersaji menunjukkan bahwa terdapat setitik kebenaran pada sebagian besar
stereotip ketika stereotip tersebut dimunculkan dari orang yang pertama kali mengenal kelompok yang distereotipkan”.