• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3 Pembahasan

4.3.1 Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Perilaku Etis

Berdasarkan uji hipotesis secara parsial (uji t), kecerdasan emosional

memiliki pengaruh yang dominan terhadap perilaku etis karyawan serta

berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku etis karyawan pada PDAM

Tirta Malem Kabanjahe Kabupaten Karo. Hal ini disebabkan oleh kemampuan

karyawan dalam mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri,

mengenali emosi orang lain, dan mampu dengan baik membina hubungan dengan

sesama rekan kerja yang dapat menjadikan mereka berperilaku lebih etis dalam

pekerjaan mereka. Sebaliknya kurangnya kemampuan karyawan dalam mengenali

emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain,

dan kurangnya kemampuan karyawan membina hubungan dengan sesama rekan

kerja yang dapat menjadikan mereka berperilaku yang tidak etis dalam bekerja.

Karyawan yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi akan

bertindak dengan pertimbangan yang cukup rasional. Karyawan yang mengetahui

emosi mereka sendiri dan bisa dengan baik membaca emosi orang lain bisa

menjadi efektif dalam pekerjaan mereka dan juga dapat mendorong mereka untuk

berperilaku yang lebih etis dalam bekerja. Dengan demikian untuk meningkatkan

perilaku etis karyawan dalam bekerja dibutuhkan kecerdasan emosi yang tinggi

dari masing-masing karyawan.

Memotivasi diri sendiri juga sangat dibutuhkan oleh seorang karyawan,

dalam penelitian ini mayoritas karyawan tetap memiliki keinginan dan semangat

kerja yang berat mereka tetap dapat bekerja dengan baik agar tetap dapat

memberikan hasil terbaik dalam bekerja meskipun sedang dalam kondisi emosi

yang kurang baik. Mengenali emosi orang lain juga merupakan indikator yang

diperlukan seorang karyawan agar dapat menunjukkan bahwa ia memiliki

kecerdasan emosional yang baik, dalam penelitian ini mayoritas karyawan PDAM

Tirta Malem Kabanjahe Kabupaten Karo memiliki rasa empati yang tinggi kepada

sesama rekan kerja yang dapat terlihat dari sebagian besar karyawan memiliki

tingkat kepedulian yang tinggi antar sesama rekan kerja dan memiliki inisiatif

yang tinggi untuk membantu karyawan yang mengalami kesulitan atas pekerjaan

yang dimilikinya, karena jika salah satu karyawan terhambat pekerjaanya maka

akan berdampak secara langsung terhadap kinerja suatu divisi secara keseluruhan,

untuk itu kepedulian terhadap sesama sangat diperlukan dalam sikap seorang

karyawan.

Kemampuan membina hubungan juga sangat dibutuhkan oleh seorang

karyawan dalam bekerja,mampu membina hubungan dengan orang lain akan

membuat karyawan bekerja dengan nyaman dan memiliki hubungan yang

harmonis dengan sesama rekan kerja. Mayoritas karyawan PDAM Tirta Malem

Kabanjahe Kabupaten Karo sudah mampu mempererat tali silaturahmi antara

sesama pegawai baik di dalam maupun di luar lingkungan kerja sehingga dapat

meningkatkan perilaku etis karyawan dalam bekerja.

Mengenali emosi dan mampu mengelola emosi juga sangat dibutuhkan oleh

seorang karyawan. Kurangnya kemampuan karyawan dalam mengelola emosi

sebelumnya mayoritas karyawan menjawab kurang setuju pada pernyataan

walaupun dalam keadaan marah saya tetap dapat bekerja dengan baik, hal tersebut

mengindikasikan bahwa mayoritas karyawan tidak dapat bekerja dengan baik saat

dalam keadaan marah. Seperti contoh saat seorang karyawan pada Bagian

Langganan sedang dalam keadaan marah dan tidak mampu mengelola emosinya,

akan berdampak kepada pelanggan yang mengakibatkan saat melayani pelanggan

yang ingin membayar rekening air, karyawan menunjukkan perilaku yang kurang

etis kepada pelanggan, misalnya menunjukkan raut wajah yang tidak

menyenangkan, kurang ramah kepada pelanggan, kurang sopan berbicara kepada

pelanggan, dan juga menyebabkan pekerjaannya menjadi tidak maksimal karena

kurang mampu mengelola emosinya dengan baik.

Dari hasil jawaban responden pada metode analisis statistik dapat diketahui

bahwa rata-rata jawaban responden mengenai kecerdasan emosional sebesar 3,76,

dimana 3,76 termasuk dalam kategori baik, terlihat dari mayoritas karyawan

PDAM Tirta Malem Kabanjahe Kabupaten Karo yang mampu membina

hubungan yang baik dengan sesama rekan kerja, mampu mengenal emosi orang

lain, memotivasi diri agar tetap bekerja dengan baik meskipun masih ada

karyawan yang kurang mampu mengenali dan mengelola emosinya dengan baik

sehingga mengakibatkan mereka menjadi kurang maksimal dalam bekerja, tetapi

hal tersebut tetap menunjukkan kecerdasan emosional yang baik dari karyawan.

Dari semua indikator yang digunakan dalam penelitian membuktikan

bahwa mayoritas karyawan PDAM Tirta Malem Kabanjahe Kabupaten Karo

karyawan memiliki kecerdasan emosional yang baik maka itu juga akan

mempengaruhi perilaku etis seorang karyawan dan itu juga terlihat dari

banyaknya responden yang menjawab setuju untuk pernyataan “saya tetap semangat untuk menjadi yang lebih baik dalam bekerja” dan “saya selalu

membantu teman kerja yang bermasalah”.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan

oleh Fu (2013), dimana hasil penelitiannya menyatakan bahwa kemampuan

karyawan dalam menggunakan emosi dengan baik dan dapat mengatur emosi,

secara signifikan berpengaruh terhadap perilaku etis. Selanjutnya Singh (2011) mengatakan bahwa kecerdasan emosional dan dimensi kecerdasan emosional secara signifikan berpengaruh dengan etika di tempat kerja. Pada organisasi bisnis di India semua dimensi kecerdasan emosional memiliki hubungan positif yang signifikan dengan satu sama lain serta dengan etika di tempat kerja. Kecerdasan emosional seperti kesadaran diri , konektivitas antar rekan kerja, mengatur emosi yang positif, optimisme, kasih sayang, dan integritas diri terkait dengan etika di tempat kerja. Hal ini dapat menunjukkan bahwa kecerdasan emosional langsung bertanggung jawab atas keberadaan dan kelangsungan etika di tempat kerja.

Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan

emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence);

menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of

emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian

Dokumen terkait