BAB II TINJAUAN TEORITIS
2.1 Landasan Teori
2.1.4 Perilaku Etis
2.1.4.1. Pengertian Etika dan Perilaku Etis Karyawan
Menurut Bertens (2000:33) “Etika adalah nilai-nilai dan norma-norma moral sejauh dipraktekkan atau justru tidak dipraktekkan, walaupun seharusnya
dipraktekkan”. Dapat dikatakan juga, etika sebagai praksis adalah apa yang
dilakukan sejauh sesuai atau tidak sesuai dengan nilai dan norma moral.
Menurut Daft (2002:201) “Etika adalah kode yang berisi prinsip-prinsip dan nilai-nilai moral yang mengatur perilaku orang atau kelompok terkait dengan
apa yang benar atau salah”. Etika menentukan standart sejauh mana sesuatu dalam tingkah laku dan pengambilan keputusan dianggap baik atau buruk. Etika dapat
dipahami lebih jelas jika dibandingkan dengan perilaku yang diatur berdasarkan
Menurut Griffin (2006:58) “Etika adalah keyakinan pribadi seseorang
mengenai apakah suatu perilaku, tindakan, atau keputusan adalah benar atau
salah". Sedangkan menurut Griffin (2006:58) perilaku etis merupakan perilaku
yang sesuai dengan norma sosial yang diterima secara umum. Perilaku etis
merupakan perilaku yang sesuai dengan norma-norma sosial yang diterima secara
umum sehubungan dengan tindakan-tindakan yang bermanfaat dan yang
membahayakan. Perilaku etis dari karyawan menunjukkan bagaimana karyawan
dapat berperilaku sesuai dengan norma dan peraturan yang berlaku di dalam
perusahaan.
Menurut Robbins & Judge (2008:127) faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku etis karyawan meliputi:
1. Faktor personal, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu
seperti kecerdasan emosional, gender, sifat-sifat personal,
2. Faktor situasional, yaitu faktor yang berasal dari luar diri manusia
sehingga dapat mengakibatkan seseorang cenderung berperilaku
sesuai dengan karakteristik kelompok yang diikuti seperti kondisi
geografis, iklim, struktur kelompok, etos kerja, budaya organisasi,
iklim organisasi
3. Faktor stimulasi yang mendorong dan meneguhkan perilaku
seseorang seperti orang lain dan situasi pendorong perilaku
Pola perilaku etis dalam diri masing-masing individu berkembang
sepanjang waktu. Oleh karena itu, setiap orang akan menunjukkan perubahan
pengalaman pribadi, organisasi, lingkungan organisasi, dan masyarakat umum.
Perilaku etis seseorang juga sering kali mengacu pada apa yang diyakini. Teori
sikap dan perilaku dapat mempengaruhi individu untuk bertindak jujur, tegas, adil
tanpa dipengaruhi tekanan maupun permintaan dari.
Perilaku etis terbukti dapat memberikan manfaat yang besar terhadap
organisasi diantaranya perilaku etis dapat menghemat sumber daya yang dimiliki
manajemen dan organisasi secara keseluruhan, perilaku etis dapat menjadi sarana
yang efektif untuk mengkoordinasikan kegiatan tim secara efektif, perilaku etis
dapat meningkatkan kemampuan organisasi untuk merekrut dan mempertahankan
karyawan dengan kualitas performance yang baik, perilaku etis dapat
mempertahankan stabilitas kinerja organisasi, perilaku etis dapat membantu
kemampuan organisasi untuk bertahan dan beradaptasi terhadap perubahan
lingkungan
Sebagian besar perusahaan memiliki kode etik untuk mendorong para
karyawan berperilaku secara etis. Namun kode etik saja belum cukup sehingga
pihak pemilik dan manajer perusahaan harus menetapkan standar etika yang tinggi
agar tercipta lingkungan pengendalian yang efektif dan efisien.
2.1.4.2. Prinsip - Prinsip Etis
Menurut Messier, dkk (2005:386-387) terdapat beberapa prinsip-prinsip etis
1. Tanggung Jawab
Dalam mengemban tanggung jawabnya sebagai professional,
karyawan harus melaksanakan pertimbangan professional dan
moral yang senstitif dalam semua aktivitas mereka.
2. Kepentingan Publik
Karyawan harus menerima kewajiban untuk bertindak sedemikian
rupa agar dapat melayani kepentingan publik serta menunjukkan
komitmen dan profesionalnya.
3. Integritas
Untuk mempertahankan dan memperluas kepercayaan publik,
karyawan harus melaksanakan seluruh tanggung jawab
profesionalnya dengan tingkat integritas tinggi.
4. Objektivitas dan Independensi
Karyawan harus mempertahankan objektivitas dan bebas dari
konflik kepentingan dalam melaksanakan tanggung jawab
profesionalnya.
5. Keseksamaan
Karyawan harus dapat mempertahankan standar teknis dan etis
profesi, terus berusaha keras meningkatkan kompetensi dan mutu
jasa yang diberikannya, serta melaksanakan tanggung jawab
6. Ruang Lingkup dan Sifat Jasa
Karyawan harus mempertimbagkan prinsip-prinsip Kode Perilaku
Profesional dalam menentukan ruang lingkup dan sifat jasa yang
akan disediakan
2.1.4.3. Dimensi Perilaku Etis
Adapun dimensi pengukuran perilaku etis karyawan dapat dilihat dari
hal-hal berikut ini:
a. Kesetiaan terhadap organisasi. Kesetiaan karyawan terhadap
organisasi dapat menunjukkan seberapa besar loyalitas karyawan
terhadap perusahaan dengan menjaga dan membela organisasi,
mengutamakan kepentingan organisasi, serta mampu menyimpan
rahasia organisasi dengan baik.
b. Menghargai hubungan. Dengan menghargai hubungan antar sesama
rekan kerja, karyawan cenderung mempertimbangkan implikasi etis dari
tindakan-tindakan mereka terhadap individu lain. Seperti menghargai
pendapat orang lain, menghormati sesama rekan kerja, tidak mencela
ataupun menghina hasil kerja orang lain.
c.Kehadiran. Kehadiran merupakan keikutsertaan karyawan secara fisik
dan mental terhadap aktivitas kerja pada jam-jam efektif kerja.
Kehadiran dapat dilihat dari hadirnya karyawan setiap hari kerja,
ketepatan jam masuk dan pulangnya karyawan, dan tidak meninggalkan
d.Kedisiplinan. Kedisiplinan merupakan sikap seseorang yang senantiasa
berkehendak untuk mengikuti atau mematuhi segala peraturan yang telah
ditentukan. Kedisiplinan karyawan dapat dilihat dari sikap taat karyawan
pada peraturan yang berlaku didalam perusahaan, tingkah laku karyawan
didalam perusahaan yang mencerminkan karyawan yang disiplin seperti
bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan
perusahaan, menggunakan dan memelihara barang-barang milik
perusahaan baiknya, melakukan tugas kedinasan dengan
sebaik-baiknya dan dengan penuh pengabdian, kesadaran, dan rasa tanggung
jawab, serta penerapan sanksi yang adil bagi yang menyimpang dari
aturan tersebut.
2.1.4.4. Karakteristik Kepribadian yang Mempengaruhi Perilaku Etis
Menurut Griffin (2003:09) terdapat “lima besar” karakteristik kepribadian
yang mempengaruhi perilaku etis yaitu:
1. Keakuran (agreeableness)
Keakuran (agreeableness) merupakan kemampuan seseorang untuk
memiliki hubungan baik dengan orang lain. Keakuran
menyebabkan sejumlah orang menjadi lembut, koperatif, mau
memaafkan, mau memahami, dan bersikap baik dalam berurusan
dengan orang lain. Individu yang sangat akur cenderung lebih
mampu membangun hubungan kerja yang baik dengan dengan
sementara ndividu yang kurang cenderung memiliki hubungan
kerja yang buruk.
2. Kesungguhan (conscientiousness)
Kesungguhan (conscientiousness) merupakan jumlah tujuan yang
menjadi fokus seseorang. Individu yang berfokus pada
tujuan-tujuan yang relatif lebih sedikit pada suatu waktu tertentu lebih
terorganisir, sistematis, hati-hati, komprehensif, bertanggung jawab
dan mempunyai disiplin diri saat bekerja meraih tujuan-tujuan ini.
Individu yang lebih bersungguh-sungguh cenderung berkinerja
lebih baik daripada individu yang kurang bersungguh-sungguh di
dalam ragam pekerjaan.
3. Emosionalitas Negatif (negative emotionality)
Emosionalitas Negatif (negative emotionality) merupakan individu
dengan emosionalitas negatif yang rendah akan relatif tenang,
santai, dan percaya diri. Sebaliknya individu yang memiliki
emosionalitas negatif yang tinggi akan lebih tidak tenang, gelisah,
reaktif, dan mood-nya bisa sangat bergejolak. Individu yang
memiliki emosionalitas negative rendah dapat menangani stress,
tekanan, dan ketegangan secara lebih baik.
4. Ekstroversi ( Extraversion)
Ekstroversi (Extraversion) adalah level kenyamanan seseorang
terhadap hubungan. Individu yang ekstrovert lebih mudah bergaul,
sedangkan individu introvert sulit bergaul, jarang berbicara, serta
kurang terbuka terhadap hubungan baru. Individu yang ekstrovert
secara umum memiliki kinerja lebih tinggi disbanding introvert.
5. Keterbukaan (Openness)
Keterbukaan (Openness) merupakan kekakuan keyakinan dan
lingkup minat seseorang. Individu yang memiliki tingkat
keterbukaan tinggi mau menerima ide baru dan mau mengubah ide,
keyakinan dan sikap mereka sendiri setelah menerima informasi
baru.