• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Pendidikan Terhadap Fertilitas Pasangan Usia Subur . 22

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.8 Hubungan Antara Variabel Dependen Dengan Variabel Independen

2.8.1 Pengaruh Pendidikan Terhadap Fertilitas Pasangan Usia Subur . 22

Walaupun uasaha memahami hubungan Antara tingkat pendidikan dan fertilitas telah dimulai sejak maltus, namun saat ini “tabir misetri” yang menyelubungi hubungan Antara kedua variable ini belum sepenuhnya dapat diungkapkan.

Hasil hasil penelitian yang pernah dilakukan dibidang ini, yang mencakup berbagai Negara didunia, tidak menunjukkan adanya keseragaman dalam hubungan Antara pendidikan dan fertilitas.walaupun teori teori, baik yang berdasarkan teori ekonomi maupun yang didasarkan pada teori sosiologi menekankan bahwa pendidikan wanita mempunyai pengaruh positif terhadap

Hicks (1974) dalam penelitiannya didaerah pedesaan meksiko menemukan bahwa pendidikan wanita mempunyai pengaruh positif yang cukup kuat terhadap tingkat fertilitas.

Pendidikan merupakan hak asasi manusia untuk dapat mengembangkan potensi dirinya. Semakin tinggi tingkat pendidikan baik disadari atau tidak semakin lama masyarakat tersebut akan memasuki bahtera rumah tangga. Sejalan dengan hal tersebut penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan semakin tinggi usia kawin pertama. Hal ini menyimpulkan bahwa pendidikan yang dimiliki oleh pasangan usia subur berpengaruh terhadap tingkat fertilitas.Pendidikan bengaruh terhadap fertilitas karena semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang akanberpengaruh terhadap keinginan orang untuk mempunyai anak. Tingkat pendidikan pasangan usia subur dianggap sebagai salah satu variabel yang penting dalam melihat variasi tingkat fertilitas.Karena variabel ini banyak berperan dalam perubahan status, sikap dan pandangan hidup mereka di dalam masyarakat.

Pendidikan istri merupakan faktor sosial paling penting dalam analisis demografi misalnya dalam usia kawin pertama, fertilitas dan mortalitas. Selain itu, pendidikan juga memberikan kesempatan yang lebih luas kepada wanita untuk lebih berperan dan ikut serta dalam kegiatan ekonomi.Sehingga faktor tersebut akhirnya mempengaruhi tingkah laku reproduksi wanita karena diharapkan pendidikan berhubungan negatif dengan fertilitas.

Faktor pendidikan terutama pendidikan wanita dapat mengontrol penggunaan kontrasepsi sehingga berpengaruh negatif terhadap preferensi fertilitas. Hal ini mengindikasikan bahwa faktor pendidikan wanita mempunyai kontribusi cukup besar terhadap kesejahteraan keluarganya terutama mengenai jumlah keluarga yang ideal dua orang anak cukup, laki-laki atau perempuan sama, dan kontribusinya terhadap kualitas atau nilai anak yang diinginkan. Dari pembahasan diatas dapat kita simpulkan bahwa, tingkat pendidikan pasangan usia

fertilitas walaupun tidak terlalu signifikan. Agar fertilitas rendah maka tingkat pendidikan penduduk harus di tingkatkan minimal SMA atau sederajat karena pendidikan memiliki pengaruh terhadap upaya dalam menurunkan fertilitas.

2.8.2 Pengaruh Usia Nikah Pertama Terhadap Fertilitas Pasangan Usia Subur

Sejalan dengan pemikiran bahwa makin muda seseorang melakukan perkawinan makin panjang masa reproduksinya maka dapat diharapkan makin muda seseorang melangsungkan perkawinannya makin banyak pula anak yang dilahirkan,jadi hubungan Antara umur perkawinan dan fertilitas negative.hipotesa mendapat dukungan dari peneliti peneliti dalam penemuan atas studi studinya.

Dalam usia kawin pertama dalam suatu pernikahan berarti umur mulai berhubungan kelamin antara individu wanita yang terikat dalam suatu lembaga perkawinan dalam berbagai ketentuan mengenai hak dan kewajiban dari masingmasing individu. Pada masyarakat di Negara yang sedang berkembang usiaperkawinan pertama cenderung muda sehingga mempunyai masa reproduksi yang panjang akibatnya nilai fertilitas yang tinggi. Dengan kata lain, semakin cepat usiakawin pertama, semakin besar kemungkinan mempunyai anak.

Usia pernikahan yang dimaksud disini adalah umur pada waktu memasuki ikatan sosial, atau dengan istilah perkawinan, usia konsumsi perkawinan (hubungan kelamin yang pertama kali dilakukan setelah menikah). Seperti yang diketahui bahwa pada saat seseorang menikah pada usia yang relatif lebih muda, maka masa subur atau reproduksi akan lebih panjang dalam ikatan perkawinan sehingga mempengaruhi peningkatan fertilitas.

Usia pernikahan pertama merupakan salah satu yang dapat mempengaruhi tingkat produktifitas pada pasangan usia subur. Meningkatnya usia kawin akan dapat memberikan sumbangan pada penurunan angka kelahiran. Bagi masyarakat Indonesia, perkawinan dipandang sebagai perilaku yang bersifat universal dalam

perkawinan Indonesia adalah pelaksanaan terjadi pada usia yang masih cukup muda terutama bagi wanita di pedesaan atau pinggiran kota.

Usia pernikahan yang rendah bagi seorang wanita berarti akan memperpanjang masa untuk melahirkan. Seorang wanita mempunyai masa subur pada usia 15-49 tahun. Wanita yang menikah pada usia tua yaitu pada pertengahan atau mendekati umur 30 tahun atau lebih, cenderung mempunyai anak lebih sedikit dari wanita yang menikah pada usia muda.

Usia wanita saat perkawinan pertama dapat mempengaruhiresiko melahirkan. Semakin muda usia saat perkawinan pertama semakin besar resiko yang dihadapi bagi keselamatan ibu maupun anak, karena disebabkan belum matangnya rahimwanita usia muda untuk memproduksi anak atau belum siap mental dalam berumah tangga. Demikian pula sebaliknya, semakin tua usia perkawinan pertama semakin tinggi resiko yang dihadapi dalam masa kehamilan atau melahirkan.

Umur wanita ketika kawin pertama yang berarti saat dimulainya masa reproduksinya pembuahan.Hubungan antara Usia Kawin Pertama (UKP) dengan fertilitas adalah negatif. Semakin muda UKP maka akan semakin panjang masa reproduksinya atau semakin banyak anak yang dilahirkan. Hal ini berpengaruh pada tingkat fertilitas wanita dan penduduk secara umumnya.Semakin lama masa reproduksi wanita, maka kemungkinan wanita tersebut melahirkan banyak anak akansemakin besar.Dalam persoalan makro, hal iniakan menyebabkan meningkatnya tingkat pertumbuhan penduduk suatu daerah.

2.8.3 Pengaruh Pendapatan Keluarga Terhadap Tingkat Fertilitas Pasangan Usia Subur

Kenaikan pendapatan, aspirasi orang tua akan berubah. Orang tua menginginkan anak dengan kualitas yang baik.Ini berarti biayanya naik.

Sedangkan kegunannya turun sebab walaupun anak masih memberikan kepuasan akan tetapi balas jasa ekonominya turun. Disamping itu orang tua juga tak tergantung dari sumbangan anak. Jadi, biaya membesarkan anak lebih besar daripada kegunaannyaHal ini mengakibatkan permintaan terhadap anak menurun atau dengan kata lain fertilitas turun.

Pendapatan merupakan sesuatu yang diperoleh dari pekerjaan pokok, yang diperoleh dari pekerjaan sampingan dan yang diperoleh dari usaha subsistem dari semua anggota rumah tangga.Untuk memperoleh pendapatan/penghasilan, manusia harus bekerja dalam bentuk dan jenis apapun.Namun jika ditinjau dari pendapatan pribadi dengan pengukuran pendapatan perkapita maka dapat dikatakan bahwa pendapatan yang diperoleh tanpa melakukan sesuatu kegiatan apapun termasuk pendapatan.

Pendapatan rumah tangga adalah jumlah penghasilan riil dari seluruh anggota rumah tangga yang disumbangkan untuk memenuhi kebutuhan bersama maupun perorangan dalam rumah tangga.

2.8.4 Pengaruh Jam Kerja Terhadap Tingkat Fertilitas Pasangan Usia Subur

Kerja diartikan sebagai proses penciptaan atau pembentukan nilai baru pada suatu unit sumber daya, pengubahan atau penambahan nilai pada suatu unit alat pemenuhan kebutuhan yang ada. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia jam kerja adalah waktu yang dijadwalkan untuk perangkat peralatan yang dioperasikan atau waktu yang dijadwalkan bagi pegawai untuk bekerja. Jam kerja bagi seseorang sangat menentukan efisiensi dan produktivitas kerja.

Oleh karena itu jam kerja biasa digunakan sebagai salah satu indikator untuk menilai produktivitas kerja. Semakin banyak jam kerja seseorang maka akan semakin besar produktivitasnya dan semakin banyak waktu yang digunakan untuk bekerja maka akan semakin kecil pula peluang untuk memperoleh anak.

Status pernikahan mempengaruhi selisih jam kerja yang dicurahkan olah wanita belum menikah dan wanita menikah. Penelitian Marianne Feber dan Bonnie Birnbaum menemukan fakta bahwa wanita di Amerika pada rentang umur 20 tahun menginginkan karir dan anak, namun tidak ada cukup waktu tersedia untuk melakukan keduanya dalam waktu yang sama. Penelitian menunjukkan bahwa opsi memilih meningkatkan karir dan menunda menikah lebih menjanjikan masa depan kemajuan karir. Memiliki anak dianggap sebagai salah satu faktor yang dapatmenghambat karir wanita karena curahan waktu kerja di pasar menjadi terbagi dengan urusan rumah tangga.

2.9 KERANGKA KONSEPTUAL

Faktor kelahiran memegang peranan sangat penting terhadap laju pertumbuhan penduduk di Indonesia. Berbagai upaya dilakukan untuk menekan angka kelahiran, salah satunya adalah program Keluarga Berencana. Program ini bisa dinyatakan berhasil karena bisa menekan laju pertumbuhan penduduk di Indonesia pada era awal tahun 1990an. Selain itu pemerintah juga berusaha memberikanpendidikan-pendidikan pada penduduknya agar mau menunda untuk memiliki anak dan berusaha membatasi jumlah anak pada pasangan-pasangan usia subur.

Pendidikan pasangan usia subur dapat berpengaruh terhadap fertilitas.Faktor pendidikan ini sering dihubungkan dengan pandangan hidup wanita maupun tingkat perkembangan sosialnya.Semakin tinggi pendidikan seseorang diharapkan semakin luas pandangan hidupnya, begitu pula pemahaman dalam hal menghentikan kehamilan. Disamping itu pendidikan juga akan

mempunyai anak yang sedikit. Pendidikan yang tinggi juga akanberakibat lebih terbukanya aspirasi untuk menerima pembatasan keluarga. Dengan demikian pasangan usia subur yang berpendidikan cenderung memilih jumlah anak yang lebih sedikit dibandingkan pasangan usia subur yang kurang berpendidikan.

Usia nikah petama besar pengaruhnya terhadap panjangnya masa reproduksi. Umur pernikahan pertama muda memperpanjang masa reproduksinya, sedangkan sebaliknya umur perkawinan pertama lebih tua akan mempunyai masa reproduksi lebih pendek. Hal demikian akan berpengaruh terhadap panjang pendeknya masa mampu melahirkan.

Dengan demikian semakin rendah umur pernikahan pertama akan semakin panjang masa reproduksinya, sehingga akan lebih besar kesempatan untuk mendapatkan anak.

Hubungan pendapatan keluarga dengan fertilitas.keluarga yang pendapatannya rendah menggunakan alat kontrasepsi dengan alasan hanya sebagai alat menjarangkan kelahiran dan bukan untuk membatasi kelahiran karena anak menurut mereka merupakan harapan bagi hidup mereka kelak di hari tua.Sedangkan wanita yang berada pada keluarga yang pendapatannya lebih tinggi menggunakan alat kontrasepsi dengan alasan untuk membatasi kelahiran supaya pendapatan yang diperoleh dapat digunakan untuk kebutuhan yang lain seperti melengkapi rumah mereka dengan fasilitas-fasilitas yang mewah atau meningkatkan investasi pada anak mereka, seperti membekali anak-anak mereka dengan kursus keterampilan, ikut asuransi kesehatan serta asuransi pendidikan.

Pendidikan, usia nikah pertama, pendapatan keluaraga dan jam kerja berpengaruh terhadap fertilitas. Hal tersebut sangat penting karena pada umumnya untuk melihat fertilitas.Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu variabel dependen dan variabel independen. Dimana variabel pengaruhnya adalah pendidikan, usia nikah pertama, pendapatan keluaraga dan jam kerja sedangkan variabel terpengaruh

Dengan demikian, kerangka Konseptual dalam penelitian ini yaitu:

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

2.10 HIPOTESIS

Berdasarkan teori-teori yang telah dibahas, maka hipotesisdapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Diduga bahwa pendidikan berpengaruh negatif terhadap fertilitas pasangan usia subur di Kecamatan Garoga,Kabupaten Tapanuli Utara.

2. Diduga bahwa Usia nikah pertama berpengaruh negatif terhadap fertilitas pasangan usia subur di Kecamatan Garoga,Kabupaten Tapanuli Utara . 3. Diduga bahwa Pendapatan Keluarga berpengaruh negatif terhadap fertilitas

pasangan usia subur di Kecamatan Garoga,Kabupaten Tapanuli Utara . 4. Diduga bahwa Jam kerja berpengaruh negatifterhadap fertilitas pasangan

usia subur di Kecamatan Garoga,Kabupaten Tapanuli Utara . Pendidikan

(X1)

Usia Nikah Pertama (X2)

Pendapatan Keluarga (X3)

Jam Kerja (X4)

Fertilitas (Y)

5. Diduga bahwa pendidikan, usia nikah pertama, pendapatan keluarga dan jam kerja secara parsial berpengaruh terhadap fertilitas pasangan usia subur di Kecamatan Garoga,Kabupaten Tapanuli Utara.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan Lokasi Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan oleh penulis yaitu jenis penelitian deskriptif kuantitatif yaitu penelitian yang bertujuan menjelaskan fenomena yang ada dengan menggunakan angka-angka untuk mencandarkan karakteristik individu atau kelompok .penelitian ini diadakan atau berlokasi di Kecamatan Garoga Kabupaten Tapanuli Utara.

3.2 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua berdasarkan pada pengelompokannya yaitu:

1. Data primer,yaitu data yang diperoleh langsung dari lapangan,baik melalui wawancara dengan pihak terkait,kuesioner dan observasi langsung.

2. Data sekunder,yaitu data yang telah diolah dan diperoleh dari Badan Pusat Statistik setempat atau dari pihak pihak terkait,seperti gambaran umum lokasi penelitian,jumlah penduduk dan jumlah Kepala Keluarga(KK).

3.3 Metode Pengumpulan Data

Data yang diperoleh dalam penelitian ini dilakukan dengan tehnik sebagai berikut:

1. Interview yaitu tehnik dengan sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari orang yang diwawancarai (narasumber).digunakan peneliti untuk menilai keadaan masyarakat pasangan usia subur.

2. Observasi yaitu tehnik yang digunakan sebagai pelengkap data dan untuk melihat serta mencermati secara langsung tempat yang akan diteliti.

3. Dokumentasi yaitu salah satu tehnik yang melihat dokumen dokumen dan laporan laporan yang mempungai hubungan dengan yang imgin diteliti.

4. lembar pengumpulan data yaitu tehnik pengumpulan data dengan memberikan beberapa pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada setiap responden berdasarkan data data yang dibutuhkan dalam penelitian.

3.4 Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi yaitu keseluruhan dari objek penelitian.populasi yang diambil oleh peneliti dalam penelitian ini yaitu semua keluarga (KK) yang berada di Kecamatan Garoga Kabupaten Tapanuili Utara.berdasarkan data yang diperoleh dari kantor camat ataupun dari BPS Tapanuli Utara.

2. Sampel

Sampel yaitu bagian dari jumlah populasi yang akan diteliti.sampel yang diambil dalam penelitian ini menggunakan tehnik penarikan purposive sampling.tehnik ini berdasarkan pada kritertia yang terdapat pada populasi yang sudah diketahui sebelumnya.Adapun criteria criteria yang digunakan antara lain:

a. Sudah berkeluarga

b. Pasangan usia subur (15-45 tahun).

Metode yang digunakan untuk menentukan jumlah sampel adalah dengan menggunakan rumus slovin sebagai berikut:

n = Jumlah Sampel

N = Jumlah Populasi (responden)

= margin error yang diperkenankan.

Penelitian ini menggunakan persen kelonggaranketidaktelitian karenakesalahanpengambilan sample yang masih dapat ditolerir atau diinginkan sebesar10%. Daridata tersebut maka jumlah sampel yang dapat diketahui melaluiperhitunganberikut:

Dari perhitungan tersebut maka sampel yang didapat untuk penelitian ini adalah sebanyak 97 keluarga. Jumlah tersebut di anggap cukup mewakili dalam penelitian dan sudah dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

3.5 Metode Analisis Data

Dalam analisis ini mengunakan metode tehnik deskriptif yaitu analisis yang digunakan untok mengungkapkan atau menggambarkan sesuatu mengenai keadaan yang sesuai dengan fakta dan yang akurat dari tempat yang diteliti.dan sesuai dengan teori yang berlaku serta diakui.tehnik ini juga digunakan untuk mencari solusi dari masalah yg terjadi terkait dengan factor factor yang mempengaruhi tingkat fertilitas di Kecamatan Garoga Kabupaten Tapanuli Utara.

Dengan melihat faktor faktor yang mempengaruhi tingkat fertilitas (pendidikan,usia nikah pertama,pendapatan keluarga dan jam kerja) maka model analisis yang digunakan adalah sebagai berikut:

Karena satuan setiap variable majemuk maka harus di logaritma naturalkan sehingga linear maka membentuk persamaan sebagai berikut:

Dimana :

Fertilitas(jiwa) Bilangan Konstanta Koefisien Pendidikan

Koefisien Usianikah pertama Koefisien Pendapatan keluarga

Koefisien Jam kerja

Pendidikan (tahun)

Usia nikah pertama (tahun)

Pendapatan keluarga (Rp)

Jam kerja (jam/bulan)

Error Term

1. Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik adalah persyaratan statistik yang harusdipenuhi pada analisis regresi linear berganda yang berbasis Ordinary Least Square (OLS).Uji asumsi klasik terbagi menjadi empat yaitu:

a. Uji Normalitas Data

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi,variable terikat dan variable bebas keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak.model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal.salah satu metode untuk mengetahui normalitas adalah dengan menggunakan metode analisis grafik,baik dengan melihat grafik secara histogram maupun melihat secara normal probability plot. normalitas dapat dilihat dari penyebaran data(titik) pada sumbu diagonal pada grafik normal P-Plot atau dengan melihat histogram dan residualnya.

b. Uji Multikolinearitas

Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independent. Model yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antara yang tinggi diantara variable bebas.Torelance mengukur variabilitas variable bebas yang terpilih yang tidak dapat dijelaskan oleh variable bebas lainnya.jadi nilai toleransi rendah sama dengan nilai VIF tinggi (karena VIF=1/Tolerance) dan menunjukkan adanya kolinearitas yang tinggi. Nilaocotuf yang umumdipakai adalah tolerance 0,10 atau sama dengan nilai VIF diatas 10.

c. Uji Heteroksiditas

Uji ini bertujuan apakah pada model regresi terjadi ketidaksamaan varience dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain.Model regresi yang baik adalah homokedstisitas atau tidak terjadi heterokedstisitas.untuk mendeteksi ada tidaknya heterokedstisitas dalam penelitian ini dilakukan

d. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Salah satu metode analisis untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi adalah dengan melakukan pengujian nilai durbin watson (DW test).

2. Uji Hipotesis

Uji hipotesis merupakan jawaban sementara dari rumusan masalah dalam penelitian, dimana rumusan masalah dalam penelitian yang ada di bab 1 telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dalam penelitian ini menggunakan hipotesis asosiatif untuk melihat hubungan variable pendidikan, usia nikah pertama, pendapatan keluarga dan jam kerja terhadap tingkat fertilitas tenaga kerja wanita di Kecamatan Garoga Kabupaten Tapanuli Utara. Uji Hipotesis terbagi menjadi tiga yaitu:

a. Uji t

Uji t dilakukan untukmengetahui pengaruh masing-masing atau secara parsial variable independen ( pendidikan, usia nikah pertama, pendapatan keluarga dan jam kerja) terhadap variable dependen (fertilitas dari pasangan usia subur) dan menganggap variable dependen yang lain konstan. Signifikansi tersebut dapat diestimasi dengan membandingkan antara nilai ttable dengan thitung. Apabila nila thiting>ttabel maka variable independen secara individual mempengaruhi variable independen, sebaliknya jika nilai thitung <ttabel maka variable independen secara individual tidak mempengaruhi variable dependen.

b. Uji F

Uji F ini biasa digunakan untuk mengetahui pengaruh variable independen secara signifikan terhadap variable dependen. Dimanajikafhitung <ftabel, maka H0 diterima atau variable independen secara bersama-samatidakmemilikipengaruhterhadapvariable dependen (tidaksignifikan),artinyaperubahan yangterjadipada pada variable terikat tidak dapat dijelaskan oleh perubahan variable independen, dimana tingkat signifikansi yang digunakan yaitu sebesar 0,5%.

c. Koefisien Determinasi ( )

Koefisien Determinasi merupakan besaran yang menunjukkan besarnya variasi variable dependen yang dapat dijelaskan oleh variable independennya.dengan kata lain,koefisien determinasi ini digunakan untuk mengukur seberapa jauh variabel variabel bebas dalam menerangkan variable terikatnya.

3.6 Definisi Operasional Variabel

Ruang lingkup penelitian ini mencakup factor factor yang mempengaruhi tingkat fertilitas pada pasangan usia subur di Kecamatan Garoga Kabupaten Tapanuli Utara,khususnya pengarus pendidikan,usia nikah pertama,pendapatan keluarga dan jam kerja.

Dalam penelitian ini penulis membatasi variable dengan tujuan untuk memudahkan dalam pembahasan yaitu sebagi berikut:

1. Fertilitas adalah hasil reproduksi nyata dari responden yang merupakan jumlah anak yang dilahirkan hidup, ukuran nya adalah jiwa.

2. Pendidikan adalah lama pendidikan terahir dari pasangan usia subur dan diukur dalam satuan tahun.

3. Usia Nikah Pertama adalah usia padsa saat pertama kali seseorang menikah dan diukur dalam satuan tahun.

4. Pendapatan Keluarga sejumlah uang yang dihasilkan dari pekerjaan baik itu pekerjaan pokok maupun pekerjaan sampingan selama satu bulan.diukur dengan rupiah.

5. Jam Kerja adalah banyaknya waktu yang digunakan dalam melakukan pekerjaan diukur dengan satuan jam perhari.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Objek yang Diteliti 4.1.1 Letak Geografis

Kabupaten Tapanuli Utara merupakan salah Kabupaten/Kota di Propinsi Sumatera Utara terletak diwilayah pengembangan dataran tinggi Sumatera Utara berada pada ketinggian antara 300-1500 meter di atas permukaan laut. Topografi dan kontur tanah Kabupaten Tapanuli Utara beraneka ragam yaitu yang tergolong datar (3,16 %), landai (26,86 %), miring (25,63 %) dan terjal (44,35 %).

Secara astronomis Kabupaten Tapanuli Utara berada pada posisi 1º20′ – 2º41′ Lintang Utara dan 98º05“99º16™ Bujur Timur. Sedangkan secara geografis letak Kabupaten Tapanuli Utara diapit atau berbatasan langsung dengan lima kabupaten yaitu:

 disebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Toba Samosir;

 di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Labuhan Batu;

 disebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Selatan; dan

 disebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Humbang Hasundutan dan Tapanuli Tengah.

Letak geografis dan astronomis Kabupaten Tapanuli Utara ini sangat menguntungkan karena berada pada jalur lintas dari beberapa Kabupaten di Propinsi Sumatera Utara.

Luas wilayah Kabupaten Tapanuli Utara sekitar 3.800,31 Km2 terdiri dari luas dataran 3.793,71 Km2 dan luas perairan Danau Toba 6,60 Km2. Dari 15 kecamatan yang ada, kecamatan yang paling luas di Kabupaten Tapanuli Utara

dan kecamatan yang terkecil luasnya yaitu Kecamatan Muara sekitar 79,75 Km2 atau 2,10 %.

4.1.2 Deskripsi Variabel Penelitian

Dari hasil penelitian terhadap 97 responden, makadiketahui beberapa gambaran tentang karakteristik pasangan usia subur yang bertempat tinggal di Kecamatan Garoga Kabupaten Tapanuli Utara berkaitan dengan variabel penelitian sebagai berikut:

a. Pendidikan

Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan terutama dalam berkeluarga.Pendidikan merupakan suatu titik pencapaian yang ditempuh seseorang dalam menenmpuh pendidikan formal yang dinyatakan dalam lamanya mengikuti pendidikan (tahun sukses).Pendidikan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pendidikan responden.dibawah ini menunjukkan tabel data pendidikan responden di Kecamatan Garoga Kabupaten Tapannuli Utara.

Tabel. 4.1 Tingkat Pendidikan responden

No Pendidikan (Tahun) Responden (Orang)

Persentase (%)

1 SD 7 7

2 SMP 30 31

3 SMA 46 48

4 D3 3 3

5 S1 11 11

Dari table 4.1 diatas dapat disimpulkan bahwasannya pendidikan responden dikecamatan Garoga beragam,terdapat responden dengan tingkat pendidikan SD sebanyak 7 orang atau 7% dari jumlah keseluruhan responden, kemudian tingkat pendidikan SMP sebanyak 30 atau 31% dari jumlah keseluruhan responden, tingkat pendidikan SMA sebanyak 46 orang atau 48 %

Dari table 4.1 diatas dapat disimpulkan bahwasannya pendidikan responden dikecamatan Garoga beragam,terdapat responden dengan tingkat pendidikan SD sebanyak 7 orang atau 7% dari jumlah keseluruhan responden, kemudian tingkat pendidikan SMP sebanyak 30 atau 31% dari jumlah keseluruhan responden, tingkat pendidikan SMA sebanyak 46 orang atau 48 %