Disusun oleh: Darmawan Setia Budi
C151120151
MAYOR ILMU AKUAKULTUR SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Seperti jasad hidup lain, mikroorganisme dalam melakukan kegiatannya sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan atau unsur-unsur ekologi. Perubahan faktor lingkungan akan mengakibatkan perubahan sifat, baik morfologi maupu fisiologi dari bakteri tersebut. Faktor-faktor lingkungan dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu faktor abiotik yang meliputi faktor kimia dan fisika, serta faktor biotik yaitu yang berhubungan dengan jasad hidup lain.
Pengaruh parameter yang diamati dalam praktikum ini adalah pengaruh parameter fisika (suhu) dan kimia (salinitas). Pengetahuan mengenai pengaruh parameter suhu dan salinitas terhadap viabilitas bakteri sangat penting dalam pengontrolan jumlah populasi bakteri.
1.2. Tujuan
II. METODOLOGI
2.1. Waktu dan Tempat
Praktikum ”Pengaruh Suhu dan Salinitas Terhadap Viabilitas Bakteri” ini dilaksanakan pada hari Rabu 14 November 2012, pengamatan pada hari Kamis 15 November 2012. Praktikum ini bertempat di Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
2.2. Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah cawan petri, jarum ose, tabung eppendorf, bunsen, korek api, spidol permanen, dan inkubator. Bahan- bahan yang digunakan adalah biakan cair bakteri Aeromonas hydrophila dan
Bacillus sp., serta medium TSA (Tripticase Soy Agar). 2.3. Prosedur Kerja
Prosedur kerja perlakuan suhu adalah pertama-tama biakan bakteri cair diinkubasikan pada temperatur kamar, lemari es, suhu 37oC, dan 70oC selama 30 menit. Masing-masing biakan digoreskan pada media TSA (setiap petri untuk 2 jenis dan satu macam suhu hasil inkubasi). Biakan hasil goresan diinkubasikan pada suhu kamar selam 24 jam. Pertumbuhan masing-masing biakan dicatat.
Prosedur kerja perlakuan salinitas adalah pertama-tama disiapkan terlebih dahulu medium pada cawan petri dengan konsentrasi NaCl 0%, 3%, dan 10%. Kemudian agar cawan yang sudah padat dibalik dan dibuat garis dengan spidol pada pertengahan petri sehingga menjadi 2 sektor. Piaraan goresan dibuat dari masing-masing bakteri pada tiap konsentrasi NaCl pada cawan petri. Seluruh piaraan tersebut diinkubasikan selama 24 jam pada suhu kamar. Pertumbuhan koloni pada setiap sektor dan cawan petri diamati.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil
Hasil pengamatan pengaruh salinitas dan suhu terhadap viabilitas bakteri dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Pengaruh salinitas dan suhu terhadap viabilitas bakteri
Keterangan Ah : Aeromonas hydrophila B : Bacillus sp. + : Tumbuh - : Tidak tumbuh 3.2 Pembahasan
Pengujian pengaruh suhu dan salinitas terhadap viabilitas bakteri pada praktikum ini menggunakan medium TSA (Tripticase Soy Agar). Medium ini mengandung casein dan tepung kedelai yang menyediakan asam amino dan sumber nitrogen lain sebagai nutrisi medium untuk berbagai varietas organisme. Sumber energi dalam medium ini adalah dextrose. Sodium klorid berperan mempertahankan tekanan osmotik, sementara dipotasium pospat berperan sebagai Kelompok Bakteri Perlakuan Salinitas Suhu 0% 3% 10% 4oC 28oC 37oC 70oC 7 Ah + + - + + + - B + + - + + + + 8 Ah + + - + + + - B + + - + + + + 9 Ah + + - + + + - B + + - + + + + 10 Ah + + + + + - B + - - + + + + 11 Ah ++ ++ ++ ++ ++ ++ B ++ ++ ++ ++ ++ + 12 Ah + + - + + + - B + + - + + + +
buffer yang mempertahankan pH, serta ekstrak agar digunakan sebagai pembentuk gel pada medium ini. Tiap liter medium TSA mengandung tripton 17 gram, soytone 3 gram, dextrose 2.5 gram, sodium klorid 5 gram, K2HPO4 2.5 gram, dan agar sebanyak 15 gram (Wikipedia, 2008).
Bakteri yang diuji pada praktikum ini adalah Aeromonas hydrophila.
Aeromonas hydrophila menyebabkan penyakit yang dikenal dengan Motile Aeromonas Septicemia (MAS), Hemorrhagic Septicemia, penyakit ulcer atau Red- Sore Disease. Sinonim dari penyakit ini berhubungan dengan gejala serangan penyakit yang disebabkan bakteri atau racun yang ditimbulkan bakteri yaitu septicemia pada permukaan tubuh ikan dan organ tubuh ikan lainnya. Bakteri ini adalah bakteri gram negatif berbentuk batang yang biasanya diisolasi dari kolam air tawar. Bakteri ini adalah organisme yang biasanya ditemui pada saluran pencernaan ikan. Penyakit yang diakibatkan bakteri ini menyerang berbagai jenis spesies ikan air tawar (Akuatika, 2008). Menurut Chester (1901) dan Stanier (1934) diacu dalam Wikipedia (2008), klasifikasi taksonomi Aeromonas hydrophila adalah sebagai berikut.
Domain : Bacteria Kingdom : Proteobacteria Phylum : Gammaproteobacteria Kelas : Aeromonadales Genus : Aeromonas Speries : A. hydrophila
Selain Aeromonas hydrophila bakteri lain yang diuji dalam praktikum ini adalah Bacillus sp. Bacillus adalah sebuah genus bakteri berbentuk batang, beta- hemolytic, dan termasuk bakteri gram positif. Spesies Bacillus salah satu dari aerob obligat atau fakultatif, dan mempunyai enzim katalase. Bacillus tersebar di alam, hidup bebas, namun juga seringkali ditemukan sebagai pathogen. Pada kondisi ekstrim, bakteri ini dapat membentuk endospora sehingga dapat dorman untuk waktu yang lama (Wikipedia, 2008). Menurut Cohn (1872) diacu dalam
Wikipedia (2008), klasifikasi taksonomi Bacillus sp. adalah sebagai berikut. Kingdom : Bacteria
Kelas : Bacilli Ordo : Bacillales Family : Bacillaceae Genus : Bacillus
Hasil dari praktikum ini, Aeromonas hydrophila tidak dapat tumbuh pada perlakuan 70oC dan dapat tumbuh pada perlakuan suhu lemari es, 28oC, dan 37oC. Pada perlakuan salinitas, bakteri Aeromonas hydrophila tumbuh baik pada medium TSA dengan salinitas 0% dan 3%. Bacillus sp. tumbuh pada semua perlakuan suhu (suhu kamar, lemari es, 37oC, dan 70oC), pada perlakuan salinitas
Bacillus sp. tumbuh pada medium TSA dengan salinitas 0% dan 3%.
Menurut Dwijoseputro (1978) faktor-faktor alam yang mempengaruhi kehidupan bakteri adalah temperatur, kebasaan, nilai osmotik dari medium, radiasi oleh sinar biasa dan radiasi oleh sinar-sinar lainnya, serta penghancuran secara mekanik. Faktor alam yang diamati dalam praktikum ini adalah parameter suhu dan salinitas.
Pola pertumbuhan bakteri dapat sangat dipengaruhi oleh suhu karena semua proses pertumbuhan bergantung pada reaksi kimiawi, laju reaksi kimiawi ini dipengaruhi oleh suhu. Suhu juga mempengaruhi laju pertumbuhan dan jumlah total pertumbuhan organisme. Keragaman suhu dapat juga mengubah proses- proses metabolik tertentu, serta morfologi sel (Pelczar & Chan, 1986).
Setiap spesies bakteri tumbuh pada suatu kisaran suhu tertentu. Atas dasar ini maka bakteri dapat diklasifikasikan sebagai psikrofil, yang tumbuh pada 0- 30oC; mesofil, yang tumbuh pada suhu 25-40oC; dan termofil, yang tumbuh pada suhu lebih dari 50oC (Pelczar & Chan, 1986). Adanya perbedaan daya tahan terhadap suhu antara Aeromonas dengan Bacillus adalah karena Bacillus mampu membentuk spora pada kondisi yang ekstrim (Dwijoseputro, 1978), sehingga masih dapat tumbuh baik setelah dibiakkan pada medium TSA.
Menurut Dwijoseputro (1978), dalam menentukan daya tahan panas suatu spesies perlu diperhatikan tinggi temperatur, lama bakteri berada dalam suhu tersebut, keadaan medium (basah/kering), pH medium saat mulai dipanasi, serta sifat lain dari medium. Kelima syarat tersebut digunakan untuk menentukan
temperatur maut (Thermal Death Point), yaitu temperatur serendah-rendahnya yang dapat membunuh bakteri di dalam standart medium selama 10 menit.
Medium yang paling cocok dengan kehidupan bakteri adalah medium yang isotonik terhadap isi sel bakteri. Jika bakteri ditempatkan di dalam suatu larutan hipertonik terhadap isi sel, maka bakteri akan mengalami plasmolisis. Sebaliknya bakteri yang ditempatkan di air suling akan kemasukan air sehingga dapat menyebabkan pecahnya sel bakteri, dengan kata lain, bakteri mengalami plasmoptisis (Dwijoseputro, 1978).
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
Hasil dari praktikum ini, Aeromonas hydrophila tidak dapat tumbuh pada perlakuan 70oC dan dapat tumbuh pada perlakuan suhu lemari es, 28oC, dan 37oC. Pada perlakuan salinitas, bakteri Aeromonas hydrophila tumbuh baik pada medium TSA dengan salinitas 0% dan 3%. Bacillus sp. tumbuh pada semua perlakuan suhu (suhu kamar, lemari es, 37oC, dan 70oC), pada perlakuan salinitas
Bacillus sp. tumbuh pada medium TSA dengan salinitas 0% dan 3%. 4.2. Saran
Ada baiknya jika dalam praktikum ini digunakan bakteri yang memiliki kemampuan hidup yang jauh berbeda, misalnya digunakan bakteri yang dapat hidup pada salinitas rendah dan bakteri yang dapat hidup pada salinitas tinggi, sehingga dapat lebih mudah dibandingkan viabilitasnya.
DAFTAR PUSTAKA
Akuatika. 2008. Aeromonas hydrophila. http://akuatika.net [17 Mei 2008]
Dwidjoseputro D. 1998. Dasar-dasar Mikrobiologi. Cetakan 14. Jakarta: Djambatan.
Pelczar MJJr, Chan ECS. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi. Volume 1. Hadioetomo RS, Imas T, Tjitrosomo SS, Angka SL, penerjemah; Jakarta: UI- Press. Terjemahan dari: Elements of Microbiology.
Wikipedia. 2008. Aeromonas hydrophila. http://en.wikipedia.org [17 Mei 2008]. Wikipedia. 2008. Bacillus. http://en.wikipedia.org [17 Mei 2008].
Wikipedia. 2008. Tripticase Soy Agar. http://en.wikipedia.org [17 Mei 2008].
Praktikum ke-9 Tanggal : 21 November 2012 m.k. Mikrobiologi Akuakultur Kelompok : XI
Asisten : Rahman
Adni Zein
Dewi Nurhayati Firsty Rahmatia Titi Nur Cahyati Dendi Hidayatullah Wahyu Afrilasari Nurlita Christyaningsih