DAMPAK PENYERBUAN AMERIKA SERIKAT ATAS IRAK
A. Pengaruh Terhadap Kehidupan Sosial Masyarakat
Setelah perang di Irak yang dikomandoi oleh Amerika Serikat mulai
berakhir, dampaknya ialah korban nyawa yang terus berjatuhan. Tidak hanya itu
saja hak sipil rakyat Irak yang tidak berdosa itupun ikut terdegradasi. Hidup pun
semakin menderita ketika semuanya hancur, harta benda serta semua yang
dimiliki hilang tanpa tersisa.
Perang ternyata tidak hanya membawa luka tetapi juga petaka yang
mengakibatkan trauma yang berkepanjangan. Kehidupan sosial masyarakat pun
semakin tidak terkendali akibat konflik yang berkepanjangan itu. Sekali lagi
penulis katakan bahwa masyarakat sipillah yang menjadi korban keberingasan
kedua belah pihak yang ingin merealisasikan ambisi dan kepentingannya di atas
penderitaan orang lain.
Dilaporkan pula bahwa korban tewas maupun luka tidak hanya dari pihak
militer Irak yang berperang melawan invasi AS, tetapi juga warga sipil Irak yang
hendak melakukan aktivitas sebagaimana biasanya. Salah satu contohnya ialah
korban bom nyasar yang diinvestigasi langsung oleh wartawan Tempo yang meliput langsung di medan perang tersebut. Menurutnya, Kareem adalah contoh
korban bom nyasar dalam penyerbuan AS atas Irak. Ia tidak tahu apa-apa soal
perang itu. Ia hanyalah warga sipil yang kampungnya di daerah Nahrawan, sekitar
15 kilometer dari pusat kota, porak-poranda karena perang. Mata Kareem terus
Alhamdulillah, saya masih hidup, ujar pasrahnya. Tetapi kepasrahan itu belum cukup karena kakinya mesti dirawat sampai bekas operasi itu kering. Namun,
dokter RS al-Kindi menyuruhnya mencari rumah sakit lain. Karena rumah sakit
itu tidak cukup lagi menampung korban yang terus berjatuhan serta banyak
menampung korban perawatan pascaoperasi. Dokter menyuruh saya pindah rumah sakit, selain itu juga karena di sini tenaganya sangat kurang, katanya.45
Selain RS al-Kindi, rumah sakit lain yang kebanjiran korban/pasien adalah
RS Yarmuk, RS Alawy, dan RS di Kadhimiyah. Hanya RS Qadissiyah dan RS
Saddam yang masih bisa menerima pasien. Kedua rumah sakit itulah Asma
Shaleh merekomendasikan pasiennya untuk pindah. Selain persoalan daya
tampung, rupanya kematian pasien menyebabkan trauma tersendiri bagi para
dokter dan pasien. Terdapat anak usia 3 dan 6 tahun yang meninggal ketika kami rawat, ujar Shaleh.
Laporan dari salah satu rumah sakit di kota Baghdad itu menggambarkan
betapa perang telah menelan korban-korban tidak berdosa. Ini di luar kerusakan
bangunan yang ditimbulkan akibat peluru kendali pasukan koalisi pimpinan AS
yang menghujani wilayah Irak. Di hari-hari pertama perang berlangsung, sejumlah
bangunan strategis dan vital milik pemerintah Irak ketika itu telah porak-poranda
rata dengan tanah, salah satu contohnya: istana presiden, Markas Besar Angkatan
Udara Irak, kantor Menteri Pertahanan, Markas Pusat Intelijan, dan kantor
Menteri Penerangan.46 Semuanya itu habis rata dengan tanah oleh keganasan bom
pasukan AS, rakyat sipil pun tidak berdaya dibuatnya. Kecaman demi kecaman
45
Rommy Fibri dan Ahmad Taufik, Detik-Detik Terakhir Saddam Kesaksian Wartawan Tempo Dari Baghdad (Jakarta: Tempo, 2008), h. 27-28.
46
dari dunia internasional terus dilancarkan tetapi tetap saja tidak dihiraukan oleh
AS dan sekutunya.
Harapan yang terus diinginkan rakyat sipil Irak tampaknya menjadi sebuah
mimpi yang tidak akan pernah terwujud. Sebab kedamaian serta keamanan yang
selalu dinanti itu telah direnggut oleh penyerbuan AS atas Irak. sejatinya AS harus
lebih arif dan bijak dalam melakukan serangannnya. Alih-alih AS berdalih ingin
menangkap Saddam Hussein dan perang melawan teroris di Irak, yang ada warga
sipil tidak berdosa menjadi tumbal dari kebiadabannya, sehingga beban psikilogis
sosial masyarakatnya pun menjadi taruhannya.
Rakyat Irak, paling khususnya warga Baghdad, merasakan bahwa
penyingkiran Saddam tidak menyelesaikan masalah. Penyingkiran Saddam, untuk
beberapa waktu, tidak memberikan kedamaian, ketenteraman, keamanan, dan
kenyamanan hidup. Aktivitas di Baghdad mulai hidup ketika matahari muncul
dari ufuk timur, jalan-jalan pada siang hari padat, dan pada saat mentari persis di
puncak langit, panasnya begitu terasa, betapa kegiatan transaksi jual beli di pasar
di sana cukup terlihat ramai walaupun kondisi was-was selalu menghantui warga
sipil yang hendak berdagang ataupun membeli.
Lebih ironis lagi, yaitu ketika malam tiba, bahkan ketika saat maghrib
berlalu, orang-orang segera meniggalkan jalanan kota. Makin malam makin terasa
sepi dan mencekam. Di saat itu, bahkan setelah enam bulan patung Saddam
dirobohkan masih terdengar suara letusan dan tembakan. Penduduk Kota Seribu
Satu Malam itu sadar benar suara ledakan, dan tembakan itu tidak berasal dari
suatu tindakan kriminal. Tidak pula dilakukan oleh pencuri atau perampok.
terus gigih melawan pasukan pendudukan AS.47 Ternyata memang diketahui
kondisi malam sepi itu akibat semua warga sipil tidak ingin menjadi sasaran amuk
militer yang menyerang warga Irak secara sporadis. Dengan begitu rakyat sipil
mulai melindungi dirinya dengan melakukan aksi diam di rumah masing-masing
dan tidak melakukan aktivitas sebagaimana mestinya di siang hari.
Di dalam buku karya George Walker Bush yang berjudul Decision Points yang dikutip oleh koran Kompas, Bush pada awalnya menentang invasi AS ke Irak. Bush mengaku memberikan argumentasi berbeda soal rencana serangan ke
Irak yang telah memakan banyak korban baik warga sipil Irak hingga tentara Irak
dan AS pun terkena imbasnya. Bush pun mengatakan dalam penyerbuan atas Irak:
Saya tidak ingin menggunakan kekerasan. Saya waktu itu mencoba memberikan kesempatan untuk melakukan diplomasi berjalan. ujar Bush dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi NBC senin (8/11).48
Lebih mengejutkan lagi, mengapa Bush mengatakan bahwa ia tidak akan
melakukan kekerasan/serangan terhadap Irak, sedangkan korban tewas warga sipil
Irak sudah begitu banyak ? Akan tetapi yang paling menghebohkan lagi, Bush
merasa terkejut dan marah ketika ternyata tidak ditemukan senjata pemusnah
massal yang digunakan sebagai dalih dari serangannya terhadap Irak. Dalam
pemaparannya dia mengatakan: saya merasa mual ketika setiap kali saya memikirkan dan mengingat masa kelam itu, sampai sekarang, kata presiden AS yang ke-43 ini.49
Meski demikian ia terang-terangan menolak meminta maaf atas tidak
ditemukannya senjata pemusnah massal tersebut ataupun kekacaun yang terjadi di
47
Trias Kuncahyono, Bulan Sabit di atas Baghdad (Jakarta: Kompas, 2005), h. 95-96. 48
Bush Tak Setuju Perang Irak (Buku Memoar), Kompas, 10 November 2010, h. 8. 49
Irak pasca invasi itu atau sampai saat ini. Tetapi yang paling penting ialah
bagaimana hak-hak asasi manusia di Irak mesti dikedepankan. Sebab setelah
terjadinya perang korban yang paling banyak berjatuhan ialah warga sipil Irak
sendiri. Rasa ketakutan terus menjadi ancaman yang nyata, padahal jika AS
mematuhi semua undang-undang internasional maka hal yang demikian tidak
akan pernah terjadi. Contoh, Undang-Undang Internasional PBB tentang Hak-Hak
Asasi Manusia (Piagam No. 15 tahun 1986/CN/EN tertanggal 24 Desember 1986)
yang menyatakan bahwa setiap warga sipil mesti diutamakan haknya demi
mencapai kebebasan. Demikian pula hukum yang tertuang di dalam UUD Irak
yang melarang melakukan penyiksaan.
Dalam aliniea (A) dari ayat (22) dikatakan bahwa kehormatan manusia
terpelihara dan tidak berlaku jahat dalam bentuk jenis apapun dari jenis-jenis
penyiksaan baik jasmani maupun spiritual. Begitu pula dalam Traktat Hukuman
Kejahatan No. 111 tahun 1969 bahwa tidak boleh melakukan setiap perbuatan
yang menyinggung hidup manusia dan keselamatan badannya dan
kehormatannya.50