• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaturan Hukum Pembuatan Surat Keterangan Waris

Dalam dokumen HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN (Halaman 45-56)

BAB II KEKUATAN HUKUM SURAT KETERANGAN WARIS

A. Pengaturan Hukum Pembuatan Surat Keterangan Waris

Pasal 111 ayat 1 huruf c angka 4 PMNA KBPN Nomor

3 Tahun 1997 tersebut yang merupakan petunjuk bagi pendaftaran tanah apabila hendak melakukan pendaftaran peralihan hak karena warisan, terdapat tiga bentuk dan tiga institusi yang membuat bukti/surat keterangan waris, yaitu:

1. Bagi warga negara Indonesia penduduk asli : surat keterangan ahli waris yang dibuat oleh para ahli waris dengan disaksikan oleh 2 (dua) orang saksi dan dikuatkan oleh Kepala Desa/Lurah dan Camat tempat dimana pewaris meninggal dunia;

2. bagi warga negara Indonesia keturunan Tionghoa: akta keterangan hak mewaris dari notaris;

3. bagi warga negara Indonesia keturunan Timur Asing lainnya: surat keterangan waris dari Balai Harta Peninggalan.44

Pembuatan KHW oleh instansi yang berbeda-beda merupakan salah satu konsekuensi akibat masih berlakunya pluralisme sistem hukum waris dan terdapatnya perbedaan kebutuhan keperdataan masing-masing “golongan penduduk”. Lagi pula Pasal 111 ayat 1 huruf c angka 4 PMNA KBPN Nomor 3 Tahun 1997 tersebut hanya menyangkut peristiwa dalam hal berkaitan dengan pendaftaran tanah. Dalam hal

44 Arfan Sunardi, Prosedur Hukum Peralihan Hak Kepemilikan atas Tanah karena Kewarisan, Salemba Empat, Jakarta, 2012, hal. 52

mengenai pewarisan dalam bidang hukum kebendaan lainnya, yang digunakan dalam hal pembuktian keterangan hak waris adalah sebagai berikut :

1. Warga Negara Indonesia penduduk asli

Selama ini pembuatan KHW bagi warga negara Indonesia penduduk asli adalah kewenangan regent atau kepala pemerintah setempat. Pembuktian sebagai ahli waris dibuat di bawah tangan, bermeterai oleh para ahli waris sendiri dengan 2 (dua) orang saksi dan diketahui atau dikuatkan oleh Lurah/Kepala Desa dan Camat setempat sesuai dengan tempat tinggal terakhir pewaris.

Wewenang Kepala Desa Lurah dan Camat menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah (UU Pem. Daerah) yang jelas secara tegas batasan kewenangannya diantaranya Pasal 126 (Camat) 21 Pasal 127 (Lurah), sedangkan wewenang Desa diatur Pasal 206 dan tidak tercantum mengenai kewenangan untuk turut serta mengetahui, membenarkan/menyaksikan dan menandatangani KHW.45

Selain itu Lurah/Kepala Desa dan Camat tunduk pada kaidah-kaidah dan berada dalam ruang lingkup Hukum Administrasi sebagai Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara tidak tepat jika bukti ahli waris yang berada dalam ruang lingkup Hukum Perdata harus disaksikan/ diketahui dan dibenarkan serta ditandatangani oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara. Hal ini akan menyebabkan kerancuan

45Dermawan Haristanto, Kewenangan Kepala Desa dalam Pembuatan Surat Keterangan Hak Waris bagi Golongan Bumi Putra di Indonesia, Media Ilmu, Jakarta, 2012, hal. 93

apabila terjadi gugatan dari masyarakat, apakah gugatan harus diajukan ke Pengadilan Tata Usaha Negara atau ke Pengadilan Umum.46

Mahkamah Agung (MA) menggunakan penafsiran berkenaan dengan ketentuan Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman yang mengatur bahwa di samping tugas di bidang contentiuese jurisductie dapat pula diberikan tugas lain yaitu

volwuaire jurisdictie kepada peradilan asal berdasarkan peraturan perundangan.

Misalnya, Pengadilan Negeri berwenang menetapkan pengangkatan wali untuk anak di bawah umur sebagaimana dimaksud di dalam Pasal 300- 30 l KUH Perdata.

Oleh karena tidak terdapat undang-undang yang secara tegas memberi kewenangan kepada pengadilan untuk mengeluarkan penetapan fatwa di luar sengketa, maka harus dianggap bahwa pengadilan negeri agama tidak berwenang untuk menerbitkan penetapan fatwa waris diluar sengketa.

2. Warga negara Indonesia keturunan Tionghoa47

Kewenangan pembuatan KHW bagi mereka yang tunduk pada hukum waris yang diatur dalam KUH Perdata didasarkan pada asas konkordansi dengan Pasal 14 ayat 1 dan 3 Wet op de Grootboeken der Nationale Schuld (S. 1931-105) di Nederland yang kemudian diterima sebagai doktrin dan yurisprudensi di Indonesia dan dianggap sebagai hukum kebiasaan. Adapun terjemahan bebas dari Pasal 14 ayat I dan ayat 3 Wet op de Grootboeken der Nationale Schuld adalah sebagai berikut:

46

Ibid, hal. 95

47Sutanto Arif Wardana, Hukum Waris dan Sistem Pembagian Waris di Indonesia, Rajawali Press, Jakarta, 2012, hal. 87

Pasal 14 ayat (1):

“Para ahli waris atau dalam hal seseorang sesuai dengan Pasal 524 BW (Ned) dengan keputusan pengadilan dinyatakan diduga meninggal, yang diduga ahli waris daripadanya. yang mempunyai suatu hak terdaftar dalam buku-buku besar utang-utang nasional, harus membuktikan hak mereka dengan suatu keterangan hak waris setelah kematian atau diduga meninggalnya pewaris dibuktikan”;

Pasal 14 ayat (3):

“Jika suatu warisan terbuka dengan ini keterangan hak waris dibuat oleh seorang notaris. Akta yang dibuat dari keterangan ini harus dikeluarkan in originali.

Sebenarnya Wet op de Grootbueken der Nationale Schuld bukan undang-undang yang khusus mengatur wewenang notaris dalam pembuatan KHW, namun di dalam praktek dianggap sebagai dasar hukum kewenangan notaris dalam pembuatan KHW.

Menurut Tan Thong Kie selama ini “Pembuatan keterangan waris oleh seorang notaris di Indonesia tidak mempunyai dasar dalam undang-undang di lndonesia” Demikian pula pendapat dari Ting Swan Tiong dan Oe Siang Djie. Akibatnya di dalam praktik ditemukan bermacam-macam bentuk KHW. Bagi warga negara Indonesia keturunan Tionghoa bentuk KHW selama ini dibuat dalam bentuk suatu keterangan di bawah tangan yang dibuat oleh notaris, namun ada sejumlah notaris membuat dalam bentuk minuta dan keterangan yang diberikan oleh para saksi sedangkan KHW dalam bentuk keterangan di bawah tangan yang dibuat notaris. Bentuk surat keterangan sedemikian tidak masuk dalam golongan akta otentik menurut ketentuan Pasal 1868 KUH Perdata dimana akta otentik adalah akta yang

dibuat oleh atau di hadapan pejabat yang berwenang untuk itu dalam bentuk yang ditetapkan oleh Undang-Undang dan dalam wilayah kewenangannya. Lagi pula kekuatan pembuktiannya tetap sebagai akta di bawah tangan.48

Notaris ada yang membuat KHW yang isinya adalah keterangan yang diberikan oleh saksi dan kesimpulan berupa siapa ahli waris dan bagian warisnya diberikan oleh notaris dengan alasan untuk memudahkan pemegang protokol untuk membuat Salinan jika di kemudian hari ada yang memintanya.

3. Warga negara Indonesia keturunan Timur Asing lainnya

Kewenangan College van Boedelmeesteren dari Balai Harta Peninggalan (Weeskamer) untuk KHW bagi warga negara Indonesia keturunan Timur Asing selainnya Timur Asing Tionghoa diatur dalam Pasal 14 ayat 2 Ordonantie tangga122-7-1916, Saatblad. 1916 No.517 diubah Lembar Negara 1931 No. 168 dan Lembar Negara 1937 No. 61 Balai Harta Peninggalan (Weeskamer) pada saat ini ada di Jakarta, Medan. Semarang, Surabaya dan Makassar. Adapun keberadaan Balai Harta Peninggalan secara struktural kelembagaan merupakan lembaga pemerintah (eksekutif) yang berada dalam ruang lingkup Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia yang melaksanakan urusan pemerintah. Bukti ahli waris yang merupakan bukti perdata tidak tepat jika dikeluarkan oleh Pejabat yang tunduk pada Hukum Administrasi.

48 Tan Thong Kie, Studi Notariat dan Praktek Notaris , Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2010, hal. 132

4. Keterangan Hak Waris setelah UUJN Nomor 30 Tahun 2004 jo UUJN No. 2 Tahun 2014

Di dalam teori hukum yang berlaku sekarang ini sumber hukum yang diakui secara umum adalah perundang-undangan, kebiasaan. Putusan pengadilan, doktrin dan asas-asas hukum. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda dikenal asas konkordansi, yakni sejauh mungkin menyelaraskan perundang-undangan di Hindia-Belanda dengan apa yang berlaku di Hindia-Belanda. Dengan kemerdekaan Indonesia, dan berdasarkan Pasal II Undang-Undang Dasar 1945 bagian Aturan Peralihan, maka segala badan Negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini. Selama ini, sadar atau tidak sadar telah menerapkan seluruh kaidah hukum termasuk hukum perdata yang nota bene dibentuk oleh pembuat undang-undang Nederland dan dinyatakan berlaku di Indonesia sebagai hukum positip walaupun beberapa bidang tertentu telah dicabut dan diberlakukan hukum yang baru.49

Asas konkordansi sudah tidak dapat diterapkan lagi sejak Indonesia merdeka. Lepas dari sumber hukum dan asas konkordansi tersebut, hukum harus pula didukung oleh politik hukum dan kesadaran hukum sesuai dengan tata nilai dan filsafat hukum dari negara yang bersangkutan. Tetap mendasarkan pada asas “konkordansi” Pasal 14 ayat 1 dan ayat 3 Grootboeken der Nationale Schuld sebagai kebiasaan sudah tidak tepat lagi. Indonesia mempunyai politik hukum dan kesadaran hukum berdasarkan tata nilai dan filsafat hukum sendiri yang menjadi dasar dari perundang-undangan

termasuk UUJN Nomor 30 Tahun 2004 Jo UUJN No. 2 Tahun 2014 dan penerapannya. Harus berusaha untuk mempunyai pendapat dan dasar hukum sesuai dengan politik hukum, kesadaran hukum dan tentunya tata nilai dan hukum Indonesia termasuk di dalam pembuatan KHW. Mengenai politik hukum, kesadaran hukum dan filsafat hukum Indonesia adalah bukan pada tempatnya jika diuraikan di dalam tulisan ini.

Para notaris selama ini telah mendasarkan kewenangan pembuatan KHW diantaranya pada PMNA/KBPN Nomor 3 Tahun 1997 dalam Pasal Ill ayat l huruf c angka 4 Tentang Ketentuan Pelaksanaan PP No. 24/1997 jo. PP Nomor 24/1997 Tcntang Pendaftaran Tanah sebagaimana telah disebutkan di atas yang menyangkut peristiwa dalam hal berkaitan dengan pendaftaran tanah Keputusan Menteri adalah salah satu jenis peraturan perundang-undangan yang setingkat lebih rendah dari Keputusan Presiden. Kewenangan Menteri untuk membentuk suatu Keputusan Menteri bersumber dari Pasal 17 UUD 1945, di mana Menteri Negara adalah pembantu Presiden yang menangani bidang-bidang tugas yang diberikan kepadanya.

Menteri-menteri yang dapat membentuk suatu Keputusan Menteri adalah Menteri-menteri yang memegang suatu departemen, sedangkan Menteri Koodinator dan Menteri Negara hanya dapat membentuk suatu Keputusan yang berlaku secara internal dalam arti keputusan yang tidak mengikat secara umum.50

50 Burhanuddin Rahmanto, Prosedur dan Tata Cara Pendaftaran Hak atas Tanah yang diperoleh karena warisan, Pustaka Ilmu, Jakarta, 2010, hal. 92

PMNA/BPN Nomor 3 Tahun 1997 tersebut tergolong pada keputusan yang berlaku secara intern atau dalam lingkungannya sendiri dan tidak mengikat umum dan pada dasarnya, merupakan petunjuk bagi pendaftaran tanah apabila hendak melakukan pendaftaran peralihan hak atas tanah karena warisan.

Pengertian perundang-undangan adalah setiap putusan tertulis yang dibuat. ditetapkan dan dikeluarkan oleh lembaga dan atau pejabat negara yang mempunyai (menjalankan) fungsi legislatif sesuai dengan tata cara yang berlaku.

Oleh karena itu, Peraturan Menteri Negara Agraria tersebut tidak dapat memberi wewenang kepada notaris sebagai dasar pembuatan KHW yang berlaku umum untuk seluruh harta benda pewaris dan bukan untuk melakukan pendaftaran peralihan hak atas tanah saja. Kewenangan notaris utama adalah membuat akta otentik sebagaimana disebutkan di dalam Pasal 15 ayat I UUJN Nomor 30 Tahun 2004 Jo UUJN No. 2 Tahun 2014 :

“Notaris berwenang membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya itu sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh undang-undang”. Selain kewenangan tersebut, maka notaris menurut Pasal 15 ayat (3) UUJN Nomor 30 Tahun 2004 Jo UUJN No. 2 Tahun 2014 “Selain kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (I) dan ayat (2), Notaris mempunyai kewenangan lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan”. Yang dimaksudkan

kewenangan lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan disini adalah bukan Peraturan Menteri Negara Agraria tersebut.51

Bentuk KHW di bawah tangan yang dibuatkan oleh notaris adalah bukan bentuk yang diatur di dalam Pasal 15 ayat 1 UUJN Nomor 30 Tahun 2004 Jo UUJN No. 2 Tahun 2014. Kelemahan atas bentuk KHW di bawah tangan diantaranya jika ada kesalahan atas isi KHW tidak mungkin dicabut kembali oleh Notaris yang telah membuatnya sendiri. KHW yang dibuat dalam bentuk otentik atas pernyataan para pihak, jika ada kesalahan keterangan yang diberikan adalah merupakan tanggung jawab para pihak sendiri lagi pula bentuk KHW di bawah tangan tidak mempunyai nilai pembuktian sebagaimana halnya dengan kekuatan pembuktian akta otentik.

Atas dasar Pasal 15 ayat 1 notaris berwenang untuk membuat KHW dalam bentuk akta otentik tidak saja untuk “mereka yang tunduk pada KUHPerdata” namun juga bagi seluruh bangsa Indonesia. Bentuk akta otentik yang mana yang paling sesuai dengan UUJN Nomor 30 Tahun 2004 Jo UUJN No. 2 Tahun 2014 sebagai suatu penemuan hukum dapat dikaji bersama. Pembagian warisnya sebelum adanya unifikasi hukum waris dilakukan sesuai dengan hukum yang berlaku bagi “golongan penduduk” pewaris.52

Dengan semangat unifikasi hukum dan kesatuan bangsa kita para notaris Indonesia. “menciptakan” bentuk KHW yang uniform untuk seluruh bangsa Indonesia.

51

Ibid, hal. 93

52 Ridwan Derisman, Kewenangan Notaris dalam Pembuatan Akta Keterangan Hak Waris, Ghalia Indoensia, Jakarta, 2010, hal. 80

Lampiran dari KHW di dalam praktik berikut sebuah contoh KHW yang dibuat oleh notaris di Nederland dalam bentuk akta otentik yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Dengan demikian dapat dikatakan berdasarkan uraian di atas maka dalam hal-hal pembuatan KHW terdapat beberapa hal-hal- hal-hal penting diantarannya adalah :

a. Masih adanya pluralisme sistem hukum waris, yaitu terdapat 3 (tiga) sistem hukum waris yang berlaku: Sistem Hukum Waris Barat; Sistem Hukum Waris Adat; Sistem Hukum Waris Islam.

b. Pembuatan Keterangan Hak Waris oleh instansi yang berbeda-beda merupakan salah satu konsekuensi akibat masih berlakunya pluralisme sistem hukum waris dan terdapatnya perbedaan keperdataan masing-masing “golongan penduduk”.

c. Di dalam praktik, KHW untuk Warga Negara penduduk asli dibuat di bawah tangan bermeterai oleh para ahli waris sendiri dengan 2 (dua) saksi dan diketahui atau dikuatkan oleh Lurah/Kepala Desa dan Camat setempat; untuk Warga Negara keturunan Tionghoa dari notaris; untuk Warga Negara Indonesia keturunan Timur Asing lainnya dari Balai Harta Peninggalan.

d. Tidak lengkapnya pengaturan instansi mana yang diberi wewenang untuk membuat ketetapan/keterangan hak waris.

e. Dengan berlakunya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2006 Tentang Kewarga negaraan Republik Indonesia yang hanya membedakan antara Warga Negara Indonesia dan Warga Negara Asing, seyogianya pembedaan atas golongan penduduk tidak boleh terjadi. Demikian pula telah dihapuskan diskriminasi dengan mencabut peraturan administrasi staatsblad yang membedakan penduduk berdasarkan suku, ras, etnis, agama berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan.

f. Pembuatan keterangan waris dalam bentuk di bawah tangan tidak mempunyai dasar dalam undang-undang di Indonesia baik didasarkan PJN maupun UUJN Nomor 30 Tahun 2004 Jo UUJN No. 2 Tahun 2014 .

g. Jenis akta yang merupakan wewenang notaris adalah akta pihak

(partij) yang dibuat dihadapan notaris dan akta berita acara (relaas)

yang dibuat oleh notaris dengan syarat-syarat untuk kedua jenis akta tersebut telah ditentukan di dalam Pasal 38 UUJN Nomor 30 Tahun 2004 Jo UUJN No. 2 Tahun 2014.

h. Dalam rangka menuju unifikasi untuk menyatukan pendapat mengenai bentuk dan wewenang notaris dalam pembuatan bukti sebagai ahli waris untuk seluruh bangsa Indonesia diusulkan akta Keterangan Ahli Waris dalam bentuk akta Notaris.53

Dari poin-poin yang disimpulkan di atas maka dalam hal pembuatan Keterangan Hak Waris (KHW), maka belum terdapat kesetaraan dalam hal unifikasi pembuatan KHW terhadap seluruh golongan penduduk yang ada di Indonesia. Masih terdapat perbedaan-perbedaan dalam hal pembuatan KHW yang didasarkan kepada Hukum peninggalan kolonial Belanda sebagaimana telah diuraikan di atas.

Surat keterangan hak waris atau surat keterangan ahli waris (verklaring van

erfpacht) adalah surat keterangan yang dibuat oleh pejabat yang berwenang yang

memuat ketentuan siapa yang menurut hukum merupakan ahli waris yang sah dari orang yang meninggal dunia tersebut. Pengertian lain dari surat keterangan mewaris atau surat keterangan ahli waris adalah surat keterangan yang bertujuan untuk membuktikan bahwa orang-orang yang namanya disebut atau dimuat di dalam surat keterangan ahli waris tersebut merupakan ahli waris yang sah dari pewaris yang telah meninggal dunia tersebut.54

Dari uraian di atas maka dapat dikatakan bahwa surat keterangan ahli waris adalah menyangkut masalah orang yang meninggal dunia (pewaris) dan ahli waris dalam hubungannya peralihan harta benda pewaris kepada para ahli warisnya sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku di bidang hukum waris. Surat

53

Saiful Rahman, Aspek Pertanggungjawaban Notaris dalam Pembuatan Akta Keterangan Hak Waris, Mandar Maju, Bandung, 2011, hal. 28

keterangan ahli waris adalah suatu surat yang diterbitkan oleh pejabat atau instansi pemerintah yang berwenang, atau dibuat sendiri oleh segenap ahli waris yang kemudian dibenarkan dan dikuatkan oleh kepala Desa / Lurah atau Camat yang dijadikan alat bukti kuat tentang adanya suatu peralihan hak atas suatu harta peninggalan dari pewaris kepada para ahli warisnya.55

B. Prosedur dan Tata Cara Pembuatan Keterangan Hak Waris bagi

Dalam dokumen HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN (Halaman 45-56)