BAB II KEKUATAN HUKUM SURAT KETERANGAN WARIS
B. Prosedur dan Tata Cara Pembuatan Keterangan Hak Waris
Keterangan hak waris (KHW) yang selama ini kenal merupakan terjemahan dari verklaring Van Erfrecht. Kalau terjemahkan secara bebas maka pengertian
verklaring Van Erfrecht mempunyai dua arti yang pertama berarti menerangkan atau
menjelaskan keterangan dan kedua berarti menyatakan, mendeklerasikan atau menegaskan. Verklaring Van Erfrecht dalam arti menerangkan merupakan arti secara umum yang dalam bahasa Inggris disebut dengan information. Dengan demikian
verklaring Van Erfrecht merupakan pemberian keterangan dalam arti yang umum dan
tidak mengikat secara hukum siapapun, baik yang memberikan keterangan maupun yang menerima keterangan. Sedangkan verklaring Van Erfrecht dalam arti sebagai menyatakan berarti penjelasan dalam arti yang khusus dan meningkat secara hukum bagi yang menerima pernyataan, dan bagi mereka yang tidak menerima pernyataan
55Muhammad Ridwan Anshari, Surat Keterangan Ahli Waris Kewenangan Pembuatan dan Fungsinya, Mitra Ilmu, Surabaya, 2010, hal. 23
tersebut wajib untuk membuktikannya secara hukum. Pernyataan seperti ini dalam bahasa Inggris disebut dengan declaration.56
Pernyataan sebagai ahli waris verklaring Van Erfrecht harus dibaca sebagai pernyataan dari para ahli waris yang menerangkan bahwa yang nama-namanya tersebut dalam keterangan hak waris tersebut adalah merupakan ahli waris yang sah dari pewaris. Pernyataan sebagai ahli waris di dalam surat keterangan hak waris tersebut ditandantangani oleh kepala desa dan diketahui oleh camat yang menyatakan bahwa pernyataan para ahli waris tersebut merupakan pernyataan yang dibuat sebagai bukti bahwa para ahli waris tersebut adalah ahli waris yang sah dari pewaris. Dalam pembuatan keterangan hak waris bagi golongan menurut bumiputra dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : 1) keterangan hak waris memuat pernyataan yang dibuat sendiri oleh para ahli waris secara dibawah tangan dan ditandantangani oleh para ahli waris seluruhnya.
Dalam keterangan hak waris tersebut yang berbentuk pernyataan para ahli waris disebutkan bahwa yang bertanda tangan di dalam surat keterangan hak waris tersebut adalah nama-nama yang menjadi ahli waris dari pewaris yang namanya disebutkan secara jelas dalam keterangan hak waris tersebut. Disamping itu dalam pernyataan keterangan hak waris yang dibuat para ahli waris disebutkan bahwa selain dari nama-nama yang tersebut di dalam keterangan hak waris yang telah dibuat tersebut tidak ada ahli waris lainnya. Pernyataan tersebut dilanjutkan dengan klausul bahwa para ahli waris bersedia untuk dituntut sesuai dengan hukum yang berlaku
apabila ternyata dikemudian hari surat keterangan hak waris tersebut ternyata tidak benar atau palsu. Kesediaan dituntut sesuai hukum yang berlaku tanpa melibatkan pihak manapun baik perorangan maupun badan atau pemerintah yang berhubungan dengan surat keterangan hak waris tersebut. Dari pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa kepala desa dan camat tidak bertanggung jawab terhadap pernyataan para ahli waris dalam keterangan hak waris apabila ternyata dikemudian hari ternyata keterangan hak waris tersebut tidak benar atau palsu.57Meskipun dalam hal ini kepala desa dan camat ikut menandatangani pernyataan keterangan hak waris yang dibuat oleh para ahli waris tersebut, namun pernyataan para ahli waris yang menyatakan bersedia dituntut sesuai dengan hukum yang berlaku apabila ternyata dikemudian hari pernyataan keterangan hak waris tersebut tidak benar atau ternyata palsu dan tidak melibatkan pihak lain baik perorangan maupun badan ataupun pemerintah yang berkaitan dengan pembuatan surat pernyataan keterangan hak waris tersebut.
Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa di dalam pembuatan keterangan hak waris yang berbentuk pernyataan dari para ahli waris maka beban pertanggung jawaban hukum dikenakan kepada para ahli waris yang membuat pernyataan keterangan hak waris tersebut apabila ternyata dikemudian hari keterangan hak waris tersebut tidak benar atau palsu. Secara hukum apabila ternyata keterangan hak waris tersebut tidak benar atau palsu maka yang dapat dituntut secara hukum adalah para ahli waris yang membuat pernyataan. Kepala desa maupun camat hanya sekedar
57 Faisal Suseno, Tanggung jawabNotaris terhadap Akta Keterangan Hak Waris yang Mengandung Sengketa, Ananta, Semarang, 2008, hal. 63
menyaksikan dan mengetahui tentang pembuatan pernyataan keterangan hak waris tersebut, sehingga apabila ternyata terjadi permasalahan hukum dikemudian hari kepala desa dan camat tidak ikut bertanggung jawab atas terjadinya permasalahan hukum dalam pembuatan pernyataan keterangan hak waris tersebut.58
Namun demikian dalam praktek pelaksanaannya meskipun ada klausul bahwa pihak lain baik perorangan maupun badan ataupun pemerintah yang berhubungan dengan pembuatan pernyataan keterangan hak waris tersebut tidak terlibat atau tidak bertanggung jawab apabila terjadi permasalahan hukum di kemudian hari tetap saja, kepala desa dan camat yang ikut menyaksikan dan mengetahui pembuatan pernyataan keterangan hak waris tersebut turut dituntut sebagai tergugat di dalam pelaksanaan pembuatan keterangan hak waris tersebut. Hal ini terjadi karena kepala desa dan camat selaku perangkat pemerintah yang menyaksikan dan mengetahui pembuatan pernyataan keterangan hak waris tersebut dipandang tidak hati-hati atau lalai dalam melaksanakan tugasnya dalam penandantanganan pernyataan keterangan ahli waris tersebut.
Dengan demikian dapat dikatakan meskipun di dalam pernyataan keterangan hak waris tersebut para ahli waris telah membuat pernyataan tidak melibatkan pihak lain apabila terjadi permasalahan hukum dalam hal ketidakbenaran atau kepalsuan dalam pernyataan keterangan hak waris tersebut, tidak melepaskan tanggung jawab dari kepala desa dan camat yang ikut menyaksikan dan menandatangani pernyataan keterangan hak waris tersebut. Oleh karena itu dalam pembuatan pernyataan
keterangan hak waris oleh para ahli waris maka kepala desa dan camat yang ikut menyaksikan dan mendantangani pernyataan tersebut harus menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menandatangani pernyataan keterangan hak waris tersebut, sehingga pada saat dilakukannya penandantanganan pernyataan keterangan hak waris oleh kepala desa maupun camat, bahwa pernyataan yang terdapat di dalam keterangan hak waris tersebut dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara hukum.59
Dalam menerapkan prinsip kehati-hatian pada pembuatan pernyataan keterangan hak waris yang disaksikan, diketahui dan ditandantangani oleh kepala desa maupun camat tersebut maka kepala desa selaku pimpinan di desa tersebut harus memeriksa kebenaran pernyataan dari para ahli waris tersebut, apakah benar para ahli waris yang membuat pernyataan keterangan hak waris tersebut benar-benar merupakan ahli waris yang sah secara hukum dan dapat dipertanggungjawabkan legalitasnya. Cara penerapan prinsip kehati-hatian oleh kepala desa terhadap penandantanganan pernyataan keterangan hak waris yang dibuat para ahli waris tersebut adalah dengan memeriksa kartu keluarga dari masing-masing ahli waris, kartu identitas (KTP), akta kelahiran dari para ahli waris termasuk juga surat kematian dari pewaris harus diperiksa secara keseluruhan, sebelum dilakukannya penandantanganan pernyataan keterangan hak waris tersebut. Hal ini untuk memastikan bahwa pernyataan keterangan hak waris yang dibuat para ahli waris
59Ignatius Ridwan, Prosedur dan Tata Cara Pembuatan Surat Keterangan Hak Waris bagi Golongan Bumi Putra di Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2011, hal. 60
tersebut adalah benar adanya dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Disamping itu pemeriksaan terhadap data-data dari para ahli waris sebagaimana disebutkan di atas juga untuk memastikan apakah seluruh ahli waris telah terwakili dalam pernyataan keterangan hak waris tersebut. Sehingga apabila telah diterbitkan pernyataan keterangan hak waris dari para ahli waris dan telah disahkan oleh kepala desa dan camat, maka tidak ada ahli waris lainnya yang dirugikan karena tidak termuat dalam pembuatan pernyataan keterangan hak waris tersebut. Hal ini untuk menghindarkan gugatan di kemudian hari terhadap pernyataan keterangan hak waris tersebut, sehingga dalam penggunaanya dapat berjalan dengan baik dan tanpa adanya permasalahan hukum dengan pihak lain yang merasa dirugikan.60
Disamping pernyataan keterangan hak waris dari para ahli waris dalam pembuatan dan keterangan hak waris maka kepala desa juga berwenang membuat surat keterangan ahli waris secara langsung. Surat keterangan ahli waris yang dibuat oleh kepala desa menyatakan bahwa kepala desa yang bersangkutan menerangkan dengan sebenarnya bahwa sesuai dengan data-data yang telah dicek kebenarannya oleh kepala desa maka kepala desa menerangkan dengan sebenarnya bahwa nama-nama yang termuat di dalam surat keterangan ahli waris tersebut adalah benar ahli waris yang sah dari pewaris (dengan menyebutkan nama dari pewaris tersebut).61
Di dalam surat keterangan ahli waris yang dibuat oleh kepala desa tersebut disebutkan seluruh nama-nama ahli waris dari pewaris, sebagai ahli waris yang sah
60
Rama Sujarnoto, Prosedur dan Tata Cara Pembuatan Surat Keterangan Ahli Waris bagi Golongan Bumi Putra di Indonesia, Sinar Harapan, Jakarta, 2012, hal. 59
dari pewaris sesuai ketentuan hukum yang berlaku, dan telah dibuat dengan sebenarnya dan apabila ternyata dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam pembuatannya maka akan dilakukan perbaikan/perubahan sebagaimana mestinya. Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa surat keterangan ahli waris yang dibuat langsung oleh kepala desa, menyatakan dengan tegas bahwa ahli waris yang sah dari pewaris adalah yang nama-namanya disebutkan dalam surat keterangan ahli waris tersebut. Pernyataan kepala desa dalam pembuatan surat keterangan ahli waris tersebut didasarkan bukti-bukti yang autentik yang berupa kartu keluarga, KTP, akte kelahiran dan dokumen-dokumen pendukung lainnya yang mendasari dibuatnya surat keterangan ahli waris oleh kepala desa tersebut.
Sebelum surat keterangan ahli waris ditandantangani oleh kepala desa maka terlebih dahulu kepala desa memeriksa seluruh kelengkapan dokumen dan data-data pendukung yang menyatakan bahwa para ahli waris yang memohon surat keterangan ahli waris dari kepala desa tersebut benar-benar merupakan ahli waris yang sah secara hukum dari pewaris tersebut. Oleh karena itu apabila terjadi permasalahan hukum dikemudian hari terhadap surat keterangan ahli waris yang dibuat oleh kepala desa, maka beban pertanggungjawaban dikenakan kepada para ahli waris dan juga kepada kepala desa yang membuat surat keterangan ahli waris tersebut. Dalam praktek pelaksanaan pembuatan surat keterangan ahli waris tersebut ada beberapa permasalahan hukum yang terjadi dimana surat keterangan ahli waris yang dibuat oleh kepala desa tersebut ternyata tidak memuat ahli waris secara lengkap, sehingga terjadi gugatannya oleh pihak ahli waris yang namanya tidak termuat di dalam surat
keterangan ahli waris tersebut. Gugatan terhadap surat keterangan ahli waris yang dibuat oleh kepala desa tersebut dilakukan oleh ahli waris yang merasa dirugikan dengan terbitnya Surat Keterangan Ahli Waris tersebut karena tidak memperoleh pembagian warisan berdasarkan hukum yang berlaku karena namanya tidak tercantum dalam Surat Keterangan Ahli Waris tersebut. Oleh karena itu gugatan dilakukan kepada kepala desa selaku tergugat I yang membuat Surat Keterangan Ahli Waris tersebut.
Dalam pelaksanaan pembuatan keterangan hak waris bagi golongan bumi putera maka persyaratan yang harus dibawa ke Kantor Kepala Desa dalam hal pembuatan pernyataan keterangan hak waris yang dibuat oleh para ahli waris maupun keterangan hak waris yang dibuat langsung oleh kepala desa adalah sebagai berikut : 1. Membawa berkas permohonan waris yang telah diisi lengkap dan benar serta
ditandantangani oleh pemohon/semua ahli waris dan saksi-saksi atau membawa pernyataan keterangan hak waris yang telah dibuat oleh para ahli waris untuk ditandatangani oleh kepala desa dan camat
2. Membawa kartu keluarga asli dari masing-masing ahli waris 3. Membawa KTP asli bagi masing-masing ahli waris
4. Membawa surat bukti kepemilikan hak atas tanah yang akan diwariskan pada para ahli waris
5. Membawa bukti pelunasan PBB.
1. Pemohon/para ahli waris datang sendiri ke kantor kepala desa dengan membawa surat pengantar dari ketua RT/RW atau dari kepala lingkungan tempat dimana para ahli waris berdomisili
2. Membawa kartu keluarga (KK) bagi masing-masing ahli waris 3. Membawa KTP asli bagi masing-masing ahli waris
4. Membawa bukti pelunasan PBB
5. Membawa surat bukti kepemilikan hak atas tanah yang akan diwariskan dan telah dilegalisir oleh pihak yang berwenang
6. Pemohon/para ahli waris datang sendiri beserta saksi-saksi ke kantor kepala desa dengan membawa data-data sebagaimana tersebut di atas untuk dapat dilakukan pemeriksaan oleh kepala desa tentang kebenaran data-data para ahli waris yang datang tersebut dan memastikan bahwa para ahli waris tersebut adalah ahli waris yang sah dari pewaris dengan memeriksa dokumen-dokumen dari para ahli waris seperti KK, KTP, surat bukti kepemilikan hak atas tanah yang akan diwariskan, dan bukti pelunasan PBB dari tanah yang akan diwariskan tersebut
7. Setelah dilakukan pemeriksaan secara teliti oleh kepala desa tentang keaslian dan kebenaran data-data yang dibawa oleh para ahli waris, apabila ternyata para ahli waris setelah diperiksa kelengkapan dan kebenaran data-datanya ternyata adalah benar merupakan ahli waris dari pewaris maka untuk surat pernyataan keterangan hak waris yang telah dibuat sebelumnya oleh para ahli waris, ditandatangani oleh kepala desa sebagai tanda bukti bahwa kepala desa telah memeriksa kelengkapan dan kebenaran data-data yang diajukan oleh para ahli waris dan telah mensahkan
kebenaran data-data tersebut dengan membubuhkan tanda tangan pada pernyataan keterangan hak waris yang telah dibuat sendiri oleh para ahli waris tersebut. Untuk keterangan hak waris yang dibuat oleh kepala desa secara langsung, pemeriksaan dilakukan sama seperti pemeriksaan data-data pada pernyataan hak waris yang dibuat oleh para ahli waris tersebut setelah dapat dipastikan kelengkapan dan kebenaran dari data-data yang diajukan oleh para ahli waris, maka kepala desa akan membuat keterangan hak waris yang menyatakan bahwa para ahli waris yang menghadap kepadannya adalah benar-benar ahli waris yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang hukum waris, dan oleh karena itu menandatangani keterangan hak waris tersebut sebagai tanda bukti bahwa kepala desa telah mensahkan para ahli waris yang namanya termuat di dalam keterangan hak waris tersebut. Setelah kepala desa menandatangani keterangan hak waris baik yang berbentuk pernyataan dari para ahli waris yang dibuat sendiri oleh para ahli waris maupun keterangan hak waris yang dibuat langsung oleh kepala desa, maka para ahli waris, saksi-saksi maupun kepala desa yang telah menandatangani keterangan hak waris tersebut bersama-sama menghadap ke camat untuk memperoleh pengesahan sebagai tanda persetujuan atas terbitnya keterangan hak waris tersebut. Sebelum camat menandatangani keterangan hak waris baik yang merupakan pernyataan dari para ahli waris maupun keterangan hak waris yang dibuat langsung oleh kepala desa maka camat terlebih dahulu memeriksa ulang seluruh kelengkapan dan keabsahan data-data pendukung yang diajukan oleh para ahli waris, memeriksa kebenaran
data tersebut dan setelah itu camat menandatangani hak waris tersebut sebagai tanda persetujuan telah diterbitkannya keterangan hak waris tersebut baik dalam bentuk pernyataan para ahli waris maupun yang dibuat langsung oleh kepala desa.62
C. Kekuatan Hukum Surat Keterangan Waris yang Dikeluarkan oleh Kepala Desa sebagai Alas Hak Dalam Pembuatan Akta Pengikatan Jual Beli oleh Notaris
Keterangan hak waris adalah suatu pernyataan tertulis yang dibuat oleh para ahli waris maupun oleh kepala desa yang isinya menyatakan bahwa nama-nama yang termuat di dalam keterangan hak waris tersebut adalah merupakan ahli waris yang sah dari pewaris yang berwenang untuk memperoleh harta warisan dari si pewaris. Di dalam pewarisan terdapat beberapa unsur yang penting yaitu pewaris dan ahli waris serta warisan yang berarti orang yang mewariskan, orang yang berhak menerima harta warisan dan harta warisan yang diwariskan.
Mewaris berarti menggantikan kedudukan orang yang meninggal mengenai hubungan-hubungan hukum harta kekayaannya, dan warisan adalah harta yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal, baik itu berupa aktiva maupun pasiva. Hukum kewarisan adalah keseluruhan peraturan dengan mana pembuat undang-undang mengatur akibat hukum dan meninggalnya seseorang terhadap harta kekayaanya, perpindahannya kepada ahli waris dan hubungannya dengan pihak ketiga. Seorang ahli waris tidak dapat dengan langsung secara otomatis dapat
62Husein Ali Sofyan, Pengurusan Surat Keterangan Hak Waris bagi Golongan Bumi Putra di Kantor Kepala Desa/Kelurahan, Rineka Cipta, Jakarta, 2012, hal. 98
menguasai dan melakukan balik nama terhadap harta warisan yang menjadi haknya dengan terbukaannya pewarisan, melainkan untuk dapat melakukan tindakan hukum terhadap apa yang telah menjadi haknya tersebut harus dilengkapi dengan adanya surat keterangan hak waris.
Dengan demikian dapat dikatakan keterangan hak waris dapat diartikan sebagai suatu surat yang diterbitkan oleh pejabat atau instansi pemerintah yang berwenang atau dibuat sendiri oleh segenap ahli waris yang kemudian dibenarkan dan dikuatkan oleh kepala desa/lurah maupun camat, yang dijadikan alat bukti yang kuat tentang adanya suatu peralihan hak atas suatu harta peninggalan dari pewaris kepada ahli warisnya.
Keterangan hak waris dibuat dengan tujuan untuk membuktikan siapa-siapa yang merupakan ahli waris yang sah atas harta peninggalan yang telah terbuka menurut hukum dan berapa porsi atau bagian masing-masing ahli waris terhadap harta peninggalan yang telah telah terbuka tersebut. Keterangan hak waris disebut juga dengan surat keterangan hak waris (SKHW), surat keterangan ahli waris (Surat Keterangan Ahli Waris) merupakan surat bukti waris yaitu surat yang membuktikan bahwa yang disebutkan di dalam surat keterangan waris tersebut adalah ahli waris dari pewaris tertentu. Keterangan hak waris untuk melakukan balik nama atas barang harta peninggalkan yang diterima dan atas nama pewaris menjadi atas nama seluruh ahli waris. Tindakan kepemilikan yang dimaksud misalnya adalah
1. Khusus untuk barang-barang harta peninggalkan berupa tanah, maka dapat mengajukan permohonan ke Kantor Pertanahan setempat, yaitu :
a. Melakukan pendaftaran peralihan hak (balik nama) untuk tanah yang sudah terdaftar (bersertipikat), dan
b. Melakukan permohonan hak baru (sertipikat) atas tanah yang belum terdaftar seperti misalnya tanah girik, tanah bekas hak barat, tanah negara.
2. Menggadakan atau dengan cara menjaminkan barang-barang harta peninggalkan tersebut kepada pihak lain atau kreditur, apabila ahli waris hendak meminjam uang atau meminta kredit
3. Mengalihkan barang-barang harta peninggalkan tersebut pada pihak lain, misalnya menjual, menghibahkan, melepaskan hak dan lain-lainnya yang sifatnya berupa suatu peralihan hak.
4. Merubah status kepemilikan bersama atas barang harta peninggalan menjadi milik dari masing-masing ahli waris dengan cara melakukan membuat akta pembagian dari pemisahan harta peninggalan dihadapan Notaris.63
Selain yang tersebut di atas surat keterangan hak waris juga dapat berfungsi sebagai alat bukti bagi ahli waris untuk dapat mengambil atau menarik uang dari pewaris yang ada pada suatu bank atau asuransi, sekalipun bagi setiap bank atau lembaga asuransi berbeda dalam menetapkan bentuk surat keterangan hak waris yang bagaimana yang dapat diterimanya.
Di dalam Surat Keterangan Waris memuat tentang nama-nama dan para ahli waris dan nama pewaris (almarhum), bagi golongan bumi putra para ahli waris itu
63Edy Kartasaputra, Prosedur dan Tata Cara Pengurusan Surat Keterangan Hak Waris bagi Golongan Penduduk Bumi Putra di Indonesia, Rajawali Press, Jakarta, 2012, hal. 106
sendiri disaksikan oleh kepala desa Lurah dan dikuatkan oleh Camat. Penentuan porsi dari masing-masing ahli waris tergantung pada hukum mana yang berlaku bagi para ahli waris. Artinya adalah apabila ahli waris golongan Bumi Putra membagi warisannya dengan hukum Faraidh maka akan dibagi sesuai dengan porsi masing-masing, sedangkan untuk golongan yang tunduk pada hukum adat maka akan dibagi sesuai dengan hukum adatnya. Bagi golongan yang tunduk pada hukum yang bersifat matrinial maka porsi anak perempuan akan lebih banyak atau lebih diutamakan sedangkan untuk golongan yang tunduk pada hukum yang bersifat Patritineal maka porsi anak laki-laki akan lebih diutamakan.
Pewarisan menurut hukum Faraidh atau menurut hukum Islam membolehkan pewaris mewasiatkan 1/3 (sepertiga) dan warisannya asalkan tidak sampai merugikan para ahli warisnya yang lain.
Bagi golongan bumi putra yang tunduk pada hukum perkawinan nasional dalam undang-undang No.1 Tahun 1974, maka pembagian warisan baik bagi laki-laki maupun bagi perempuan adalah sama porsinya. Sehingga dalam pembagian porsi pada keterangan hak waris yang dibuat oleh sendiri oleh para ahli waris maupun oleh kepala desa maka ditentukan porsi yang sama terhadap seluruh ahli waris yang sah yang memiliki hak untuk menerima warisan dari pewaris.64
Perjanjian pengikatan jual beli hak atas tanah yang dibuat dihadapan notaris merupakan suatu perjanjian pendahuluan dari suatu perjanjian jual beli hak atas