SENGKETA PERBANKAN SYARIAH
A. Dinamika Pengaturan Perbankan Syariah Dalam Memperkuat Eksistensi Perbankan Syariah Pada Sistem Hukum Perbankan Nasiona Perbankan Syariah Pada Sistem Hukum Perbankan Nasiona
Perbankan memegang peranan penting dalam pembangunan ekonomi suatu negara. Berbagai kegiatan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari keberadaan sektor perbankan. Dari berbagai jenis lembaga keuangan, perbankan merupakan sektor yang paling besar pengaruhnya dalam aktivitas perekonomian masyarakat modern.185 Perbankan menjadi urat nadi ekonomi yang sangat berpengaruh dalam lalu lintas harta dan pengembangan ekonomi.186 Pelaku dan dunia usaha dalam melakukan kegiatan ekonomi syariah, senantiasa berhubungan dengan perbankan. Tidak ragu lagi, perbankan yang berfungsi sebagai perantara keuangan (financial intermediary), memiliki peran penting dalam kehidupan perekonomian masyarakat.187 Industri perbankan berfungsi sebagai penunjang perekonomian suatu negara yang berbentuk penghimpunan dan penyaluran dana serta dapat berbentuk memperlancar pembayaran transaksi perdagangan domestik maupun internasional.188
185
Tim Pengembangan Perbankan Syariah Institut Bankir Indonesia, Konsep, Produk Dan Implementasi Operasional Bank Syariah, (Jakarta: Djambatan, 2001), hlm. 20.
Fungsi tersebut dapat
186
Musthafa Dib Al-Bugha, Buku Pintar Transaksi Syariah, (Jakarta: Hikmah, 2010), hlm. 71. 187
Muhammad Djumhana, Hukum Perbankan Di Indonesia, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1993), hlm. 67.
188
Zulkarnain Sitompul, Op. Cit., hlm. 23. Fungsi bank dikatakan sebagai perantara (financial intermediary) karena merupakan lembaga yang menghimpun dana dari investor, mengumpul dan menginvestasikan dana tersebut kepada perusahaan lain. jadi bank sebagai lembaga yang berada pada posisi di antara investor dan perusahaan yang menerima investasi.
dikatakan sebagai ‘aliran darah’ bagi perkembangan perekonomian dan peningkatan standar taraf hidup.189
Perbankan bagi perekonomian modern telah memudahkan pertukaran dan membantu pembentukan modal dan produksi yang berskala massal yang tidak ada taranya dalam sejarah umat manusia.
190
Perbankan telah menunjukkan peranan penting dalam pengembangan dan pertumbuhan masyarakat industri modern. Produksi berskala besar dan besarnya modal yang dilibatkan dalam pengembangan dan pertumbuhan itu tidak mungkin dicapai tanpa bantuan bank. Tidak ada masyarakat modern yang dapat mencapai kemajuan pesat atau bahkan dapat mempertahankan angka pertumbuhan tanpa bank.191
Dalam konteks pemahaman ajaran Islam, aktivitas perekonomian (economic activities) merupakan bagian dari kegiatan muamalah yang memberi perhatian terhadap berbagai kepraktisan kehidupan duniawi dalam berbagai bentuk hubungan antarmanusia. Dari dalam aktivitas ekonomi inilah terdapat aktivitas keuangan dan perbankan (banking and financial activities).
192
Merealisasikan nilai-nilai ekonomi Islam dalam aktivitas nyata masyarakat, dilakukan dengan mendirikan lembaga-lembaga keuangan yang beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip syariah, diantaranya mendirikan lembaga keuangan bank dalam bentuk bank syariah.193
189
Ibid., hlm. 1.
Perbankan syariah
190
Muhammad Nejatullah Siddiqi, Bank Islam, (Bandung: Pustaka, 1984), hlm. 58. 191
Afzalur Rahman, Doktrin Ekonomi Islam, Jilid 4, (Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1996), hlm. 337-338..
192
Abdul Halim Ismail, “Bank Islam Malaysia Berhad”, dalam Pengembangan Perbankan, Nomor 28, Jan-Peb. 1991, hlm. 54.
193
Sistem keuangan di Indonesia dijalankan oleh lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan nonbank. Dikaitkan dengan lembaga keuangan syariah, lembaga keuangan bank terdiri atas bank umum syariah, bank pembiayaan rakyat syariah dan unit usaha syariah. Sementara lembaga
sebagai bagian dari struktur keuangan Islam turut berperan dalam aktivitas pembangunan perekonomian. Struktur keuangan Islam bersumber dari Alquran dan Sunnah dan penafsiran fuqaha terhadap sumber otoritas tadi. Struktur keuangan Islam dalam beberapa dekade terakhir tampil sebagai salah satu implementasi modern dari sistem hukum Islam yang paling penting dan berhasil.194
Eksistensi keuangan Islam bersumber dari perintah Alquran dan Sunnah yang memberi makna, struktur keuangan dalam Islam merupakan bawaan yang menjadi bagian dari agama Islam, dan bukan berasal dari temuan gerakan politik Islam modern.195 Karena Alquran dan Sunnah menjadi sumber dan rujukan utama pemikiran ekonomi Islam, aktivitas perekonomian Islam juga telah muncul sejak Islam diturunkan dan berlangsung di masa kehidupan Nabi Muhammad, pada akhir abad 6 M hingga awal abad 7 M. Setelah masa itu, banyak pemikiran ekonomi Islam yang mengisi khasanah pemikiran ekonomi dunia, pada saat Barat masih dalam kegelapan (dark age).196
keuangan non-bank diantaranya pasar modal syariah, pasar uang syariah, asuransi syariah, pegadaian syariah, pembiayaan syariah, dan sebagainya. Perhatikan Andri Soemita, Bank Dan Lembaga Keuangan Syariah, (Jakarta: Kencana, 2009).
Berdasarkan fakta normatif ini, kurang tepat untuk menempatkan perbankan Islam yang menjadi bagian dari struktur keuangan Islam sebagai alternatif dalam menangani berbagai krisis keuangan yang terjadi. Justeru perbankan Islam yang pengoperasiannya didasarkan pada prinsip syariah merupakan solusi. Pola pengoperasionalan perbankan syariah dilakukan dengan rambu
194
Frank E. Vogel dan Samuel L. Hayes, III, Hukum Keuangan Islam: Konsep, Teori dan Praktik, (Bandung: Nusamedia, 2007), hlm. 14.
195
Ibid., hlm. 16. 196
Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam, Ekonomi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hlm. 97.
menjauhkan aktivitas dari berbagai unsur riba, dengan mengedepankan prinsip kemitraan usaha dan bagi hasil (profit and loss sharing).197
Praktek keuangan Islam yang telah berusia beberapa abad, sebagian besar mengalami kemunduran selama kurun waktu ketika hampir seluruh dunia Islam berada di bawah kekuasaan kolonial Barat. Dunia Islam di bawah pengaruh kolonial diperkenalkan untuk mengadopsi sistem keuangan dan perbankan berdasarkan pemikiran Barat serta meninggalkan praktik perdagangan Islam. Seiring perjalanan sejarah, priode modern keuangan Islam dimulai ketika negara-negara Islam memperoleh kemerdekaan setelah Perang Dunia Kedua.198 Kesalehan relijius telah mendorong kehidupan umat di dunia modern, untuk menyesuaikan berbagai aktivitas kehidupan, termasuk dalam kehidupan perdagangan yang memanfaatkan perbankan Islam dengan ajaran agama. Selain itu, ada kekurangpuasan terhadap perbankan konvensional di kebanyakan negara Muslim, baik di kalangan ulama dan intelektual muslim maupun masyarakat awam yang sadar akan pandangan Alquran tentang riba.199 Pelarangan riba (bunga) dalam Alquran berimplikasi pada kesangsian terhadap bentuk perbankan komersial konvensional seperti yang berkembang di Eropah.200
197
M. Nejatullah Siddiqi, Kemitraan Usaha dan Bagi Hasil dalam Hukum Islam, (Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 1996), hlm. 1.
Dalam syariah, riba mengacu pada premi yang harus dibayar peminjam kepada pemberi pinjaman bersama dengan pinjaman pokok sebagai syarat untuk
198
Frank E. Vogel dan Samuel L. Hayes, III, Op. Cit., hlm. 17. Lebih lanjut dikatakan, berakhirnya kolonialisme dan munculnya trend keberagamaan, yang diilhami oleh kesalehan relijius, telah merangsang kebangkitan kembali keuangan Islam, di samping kekayaan besar yang dihasilkan melalui lonjakan minyak yang mempercepat proses pertumbuhannya.
199
John L. Esposito, Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern 1, (Bandung: Mizan, 2001), hlm. 260.
200
memperoleh pinjaman lain atau untuk penangguhan. Dalam konteks ini, riba mempunyai pengertian yang sama sebagai bunga, sesuai dengan kesepakatan para ahli hukum Islam (fuqaha).201 Hikmah pelarangan riba (haram) adalah mewujudkan persamaan yang adil di antara pemilik modal dengan usaha, serta memikul risiko dan akibatnya dengan penuh rasa tanggung jawab.202 Ajaran Islam senantiasa mementingkan penegakan nilai keadilan dan mencela eksploitasi dalam transaksi bisnis, melalui larangan umat Islam memakan harta secara batil atau dengan cara yang tidak dibenarkan.203 Riba dalam sistem nilai Islam merupakan sumber penghasilan yang tidak dapat dibenarkan.204 Pemahaman ini kembali mengakses umat Islam untuk kembali membangun lembaga keuangan dan perbankan bebas bunga (riba) di zaman modern ini.205
Perbankan modern di dunia Islam berlangsung pada pertengahan abad kesembilan belas. Sejak pertengahan 1970-an, perbankan Islam berkembang pesat, dan terdapat sejumlah institusi keuangan Islam di sekitar 70 negara, yang tidak saja
201
M. Umer Chapra, Al-Quran Menuju Sistem Moneter Yang Adil, (Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 1997), hlm. 27.
202
Yusuf Al-Qardhawi, Bunga Bank Haram, (Jakarta: Akbar, 2003), hlm. 52. 203
M. Umer Chapra, Al-Quran .... Op. Cit., hlm. 25. Alquran secara tegas melarang umat Islam untuk memakan harta secara batil. “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan jalan berbuat dosa, padahal kamu mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 188). “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu ...” (Q.S. An-Nisa [4]: 29).
204
Ibid., hlm. 26. 205
Secara harfiah riba berarti peningkatan, penambahan atau pertumbuhan dan secara populer diterjemahkan sebagai bunga, yang berhubungan dengan imbalan dari pinjaman atau bunga atas pinjaman (riba al-qarud atau riba al-nasiah). Tarek El-Diwany, The Problem With Interest (Sistem Bunga Dan Permasalahannya), (Jakarta: Akbar, 2003), hlm. 171. Mayoritas kitab fiqih menyebut dua macam riba, yaitu riba nasiah dan riba fadhl. Secara umum dikatakan, riba nasiah adalah penundaan pembayaran salah satu harta yang diperjualbelikan atau ditukarkan hingga jatuh tempo. Sedang riba fadhl adalah penambahan atau kelebihan pada salah satu harta yang sejenis yang diperjualbelikan atau ditukarkan. Abdul Azhim Jalal Abu Zaid, Fiqih Riba: Studi Komprehensif Tentang Riba Sejak Zaman Klasik Hingga Modern, (Jakarta: Senayan Publishing, 2011), hlm. 33.
berada di negara dunia Islam, tetapi juga di negara non Muslim, seperti Amerika, Inggris, Rusia, Kanada, dan Irlandia.206 Sebelumnya, beberapa rintisan awal pendirian bank Islam yang juga disinonimkan dengan bank bebas atau tanpa bunga sebagai bandingan dari bank konvensional yang berbasis bunga, telah dilakukan secara sporadis di beberapa negara. Di India, usaha simpan pinjam bersama (loan cooperative) yang dipengaruhi oleh ideologi agama dan etika dimulai sejak 1940. Di Pakistan, pada akhir 1950 oleh para tuan tanah pedesaan diciptakan jaringan kredit bebas bunga, dan di Malaysia berdiri Korporasi Tabungan Haji Muslim (Muslim Pilgrims Savings Corporation) pada 1963, dengan tujuan membantu masyarakat menabung untuk menunaikan ibadah haji.207 Pada 1969, korporasi ini berkembang menjadi Pilgrims Management and Fund Board, yang sekarang dikenal dengan Tabung Haji, dan institusi ini sebenarnya merupakan lembaga keuangan non-bank. Keberhasilan Tabung haji mendorong pendirian Bank Islam Malaysia Berhard, bank komersial Islam yang beroperasi secara syariah penuh di Malaysia, pada 1983.208
Eksprimen besar di dunia Arab, ketika pada 1963 di Mesir didirikan lembaga keuangan Mit Ghamr yang memadukan sistem pinjam meminjam yang saling menguntungkan (mutual loan) dari Jerman dengan prinsip perbankan koperasi pedesaan menurut kerangka permodalan Islam, untuk melayani masyarakat yang
206
Mervyn K. Lewis dan Latifa M. Algaoud, Perbankan Syariah: Prinsip, Praktik, dan Prospek, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2003), hlm. 17. Beberapa bank Eropah menawarkan produk keuangan Islam, termasuk Bank Kleinworth Benson dari London dan Perusahaan Perbankan Swiss. Instrumen keuangan Islam kian di terima di dunia internasional, bahkan di negara-negara non-Islam dan prinsip-prinsip dasarnya umumnya dipahami. John L. Esposito, Op. Cit., hlm. 262.
207
Ibrahim Warde, Islamic Finance, Keuangan Islam dalam Perekonomian Global, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hlm. 156.
208
Mervyn K. Lewis dan Latifa M. Algaoud, Op. Cit., hlm. 16. Muhammad Syafii Antonio, Bank Syariah: Dari Teori Ke Praktik, (Jakarta: Gema Insani, 2001), hlm. 24.
enggan menggunakan jasa bank konvensional karena alasan agama. Meskipun tidak tegas menyebut sebagai bank yang bergerak secara syariah, namun operasionalnya tidak mengaplikasikan bunga. Keuntungan didapatkan dari industri dan perdagangan yang dilakukan secara langsung dengan pembiayaan bisnis yang berbasis profit sharing.209 Mit Ghamr kemudian digabung menjadi sebuah lembaga keuangan baru yang dikendalikan pemerintah, dengan pendirian Nasser Social Bank pada 1971, yang juga bertugas mengumpulkan zakat, yang diikuti dengan pendirian Dubai Islamic Bank (1975), Faisal Islamic Bank Mesir (1977), Faisal Islamic Bank Sudan (1977),
Kuwait Finance House (1977), Jordan Islamic Bank for Finance and Investment
(1978), Bahrain Islamic Bank (1979), dan International Islamic Bank for Investment and Development di Mesir (1980).210 Pendorong lahirnya bank-bank Islam sebagian adalah ledakan pendapatan minyak di Teluk Persia dan pertumbuhan ekonomi negara-negara Muslim yang lebih konservatif dengan mengorbankan gerakan nasionalis Arab yang lebih sekular.211
Perkembangan signifikan terjadi setelah Bank Pembangunan Islam – BPI (Islamic Development Bank - IDB) berdiri pada 1975 di bawah dukungan Organisasi Konferensi Islam – OKI (Organization of the Islamic Conference - OIC). Berdirinya Di kebanyakan negara Muslim, bank Islam yang bebas riba hidup berdampingan dan harus bersaing dengan bank konvensional yang berbasis bunga.
209
Ibrahim Warde, Op. Cit., hlm. 157. Mervyn K. Lewis dan Latifa M. Algaoud, Op. Cit., hlm. 15.
210
Abdullah Saeed, Menyoal Bank Syariah, (Jakarta: Paramadina, 2004), hlm. 16. Ibrahim Warde, Op. Cit., hlm. 160.
211
John L. Esposito, Op. Cit., hlm. 261. Selanjutnya Esposito menambahkan, bagaimanapun, muncul kekecewaan yang makin besar kepada sosialisme Arab, khususnya di kalangan generasi muda, dan munculnya perasaan bahwa seharusnya ada penekanan yang lebih besar pada nilai-nilai Islam di setiap bidang kehidupan, termasuk di bidang ekonomi dan keuangan.
IDB sekaligus menjadi landasan dari sistem perbankan Islam yang bertujuan membantu pembangunan ekonomi dan kemajuan sosial negara anggota dan masyarakat Muslim, baik individu maupun bersama-sama dengan cara yang sesuai syariah Islam.212 Selain membantu pendanaan, institusi ini juga menyediakan pelayanan keuangan berbasis uang jasa (fee-based financial service), dan bantuan keuangan berbasis pembagian keuntungan bagi negara-negara anggota serta juga mempromosikan pelatihan dan pembinaan, pendirian institusi-institusi Islam melalui partisipasi langsung.213
Dukungan pemerintah dalam bentuk regulasi dan kebijakan menjadi salah satu indikator untuk melihat perkembangan perbankan syariah. Tanpa dukungan dimaksud, perkembangan bank syariah akan berjalan lamban, karena itu perkembangan perbankan syariah tidak terlepas dari dukungan regulasi dan kebijakan pemerintah.214 Pengaturan dan regulasi memegang peranan penting bagi pengakuan dan perkembangan perbankan syariah, tidak saja dalam rangka menjamin perlindungan nasabah penyimpan dan peminjam, melainkan juga melindungi perekonomian dan menjaga tidak terjadinya pemusatan kekuasaan.215
212
Karnaen A. Perwataatmadja dan Hendri Tanjung, Bank Syariah: Teori, Praktik, dan Peranannya, (Jakarta: Celestial Publishing, 2011), hlm., 250.
Lash seperti diungkapkan Hikmahanto Juwana mengemukakan lima tujuan pengaturan industri
213
Ibrahim Warde, Op. Cit., hlm. 159. 214
Selain dukungan regulasi perbankan, yang diberikan parlemen dan pemerintah serta pemikiran ahli syariah (the banking regulators, parliament, government, and Sharia scholars), perkembangan keuangan Islam di Indonesia juga di dukung oleh jumlah penduduk muslim yang besar (the big population of Moslem), penampilan atau kinerja yang sehat dan kuat (the robust performance of Islamic banks), dan kinerja ekonomi Indonesia yang mendukung operasi bisnis bank Islam (the performance of the Indonesian economy backs up business operations of Islamic banks). Rifki Ismal, The Indonesian Islamic Banking: Theory and Practices, (Jakarta: Gramata Publishing, 2011), hlm. 3-4.
215
perbankan, yaitu menjaga keamanan bank, memungkinkan terciptanya iklim kompetisi, pemberian kredit untuk tujuan-tujuan khusus, perlindungan terhadap nasabah, dan mencaiptakan suasana kondusif bagi pengambilan kebijakan moneter.216
Kebijakan yang diberikan pemerintah turut memengaruhi perkembangan perbankan syariah. Ada beberapa pola kebijakan yang dipakai masing-masing pemerintah dalam mengapresiasi perbankan Islam. Pertama, mengubah seluruh sistem keuangan internal mereka ke dalam bentuk yang islami, seperti dilakukan Iran, Pakistan, dan Sudan. Kedua, menggunakan perbankan Islam sebagai kebijakan nasional, kendati juga mendukung jalur perbankan ganda, seperti terjadi di Bahrain, Brunei, Kuwait, Malaysia, Turki, dan Uni Emirat Arab. Ketiga, tidak mendukung ataupun menentang perbankan Islam dalam yurisdiksinya, seperti Mesir, Yaman, dan Singapura). Keempat, secara aktif mempersempit kehadiran perbankan Islam yang berdiri sendiri, seperti Saudi Arabia dan Oman).217
Regulasi menjadi penting dalam memberi kedudukan yang kuat bagi perbankan syariah. Regulasi selain memberi kepastian hukum terhadap kelembagaan perbankan syariah, sekaligus untuk keamanan dan perlindungan masyarakat, terutama bagi nasabah deposan, dalam kegiatan perbankan syariah. Masyarakat tidak khawatir Dari klasifikasi yang dikemukakan Frank E. Vogel dan Samuel L. Hayes, III, dikatakan Indonesia mungkin berada dalam klasifikasi ketiga. Melihat keberadaan perbankan syariah yang ada saat ini, klasifikasi itu harus diklarifikasi dengan menempatkan pada klasifikasi kedua yang mengakui perbankan syariah di samping perbankan konvensional.
216
Hikmahanto Juwana, Bunga Rampai Hukum Ekonomi Dan Ekonomi Internasional, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 5.
217
akan kehilangan dananya di perbankan, karena ada jaminan regulasi. Kepercayaan masyarakat pemilik modal terhadap dana yang diberi dan disalurkan perbankan syariah ke dalam berbagai bentuk pembiayaan dan investasi harus diikuti pertanggungjawaban kepada pemilik modal. Bentuk pertanggungjawaban berkaitan dengan pengembalian dana bila diinginkan deposan setiap saat serta return sesuai dengan karakter pembiayaan yang diperjanjikan. Bank wajib menempuh cara yang tidak merugikan bank dan kepentingan nasabah yang mempercayakan dananya kepada bank. Untuk memenuhi kewajiban itu, undang-undang perbankan memberi pedoman yang harus dipatuhi bank dalam rangka penyaluran pembiayaan.218
Kebutuhan akan pengaturan (regulation) perbankan syariah menjadi keniscayaan, dan menurut Umer Chapra dan Tariqullah Khan, ukuran yang terdapat dalam Basel Committee yang menjadi acuan supervisi perbankan konvensional di seluruh dunia, juga penting diperhatikan bagi lembaga keuangan syariah. Beberapa hal berpengaruh yang senantiasa diperhatikan dalam regulasi perbankan syariah, yaitu: Pertama, pertimbangan sistem. Kegagalan sebuah bank bisa berdampak pada terganggunya kesehatan dan stabilitas keseluruhan sistem pembayaran dan ekonomi. Bila kepercayaan deposan pada sistem telah menurun, mereka akan menarik dananya yang dapat mengakibatkan tidak saja akan mengguncang sistem keuangan, tetapi juga dapat menurunkan kemampuan bank dalam menyalurkan pembiayaan. Kedua, terdapat kepentingan deposan giro dan juga deposan investasi yang perlu dilindungi.
218
Sutan Remy Sjahdeini, Perbankan Islam dan Kedudukannya Dalam Tata Hukum Perbankan Indonesia, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1999, hlm. 175. Sesuai ketentuan Pasal 8 ayat (1) UUP 1992 sebagaimana telah diubah dengan UUP 1998, perbankan syariah wajib memiliki keyakinan berdasar pada analisis yang mendalam atas itikad dan kemampuan serta kesanggupan nasabah mitra (debitur) untuk mengembalikan pembiayaan sesuai dengan yang diperjanjikan.
Perlindungan diberikan karena besarnya tingkat leverage dalam bisnis perbankan, dan sebagian besar leverage tersebut berasal dari rekening giro. Semakin besar proporsi rekening giro, semakin besar pula tingkat leverage bank. Ketiga, bank syariah perlu memastikan operasionalnya telah sesuai dengan pronsip syariah. Keempat, bank syariah harus berupaya agar dapat diterima di pasar antarbank dalam sistem keuangan internasional.219
Di Indonesia, komitmen pemerintah terhadap pengembangan bank syariah berawal sejak 1992, sedang sebelumnya relatif pemerintah belum memberikan komitmen, dan belum ada regulasi yang memberi dasar pendirian bank syariah. Dukungan berikut ada pada tahun 1998, sehingga tahun ini dapat dipakai sebagai pembatas dua priode kebijakan pemerintah terhadap bank syariah.
220
Praktik perbankan syariah di Indonesia di mulai ketika Bank Muamalat Indonesia (BMI) sebagai BUS pertama mulai beroperasi pada 1 Mei 1992. Persiapan pendirian BMI dirintis oleh kegiatan lokakarya Bank Tanpa Bunga di Cisarua Bogor, 18-20 Agustus 1990. Hasil lokakarya ditindaklanjuti melalui pembahasan mendalam pada Musyawarah Nasional IV Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jakarta, 22-25 Agustus 1990 yang merekomendasikan pembentukan bank bebas bunga. Rekomendasi didahului dengan pembentukan kelompok kerja untuk mempersiapkan penyiapan buku panduan untuk persiapan pendirian bank bebas bunga.221
219
M. Umer Chapra dan Tariqullah Khan, Regulasi& Pengawasan Bank Syariah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm. 28-29.
Widjanarto menulis,
220
Veithzal Rivai, Andria PermataVeithzal dan Ferry N. Idroes, Bank and Financial Institution Management, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2007), hlm. 740.
221
Matrik kegiatan untuk pendirian BMI di gambarkan oleh Zainulbahar Noor, ”Persiapan Dan Operasi Bank Muamalat Indonesia”, dalam M. Rusli Karim, Berbagai Aspek Ekonomi Islam, (Yogya: Tiara Wacana bekerjasama dengan P3EI FE UII, 1992), hlm. 158.
ide pertama pendirian BMI berasal dari MUI yang didukung dan diprakarsai oleh beberapa pejabat penting pemerintah, pengusaha yang berpengalaman di bidang perbankan, bahkan Presiden Suharto, dan Wakil Presiden Sudharmono, bersedia menjadi pendukung utama BMI.222 Gagasan pendirian Bank berbasis syariah bermunculan, diikuti dengan keluarnya Fatwa MUI pada akhir 2003 yang mengharamkan beragam jenis transaksi berbasis bunga, termasuk di lingkungan perbankan. Dalam Fatwa dinyatakan bahwa bunga termasuk kriteria riba, dan riba hukumnya haram.223
Perbankan syariah memiliki peran strategis yang mampu memiliki keunggulan komparatif. Menghadapi gejolak moneter beberapa waktu lalu, perbankan syariah terbebas dari negative spread karena kinerja perbankan syariah yang tidak berbasis pada bunga uang, berada dan terkait pada sektor riil.224 BMI sebagai bank umum yang menerapkan prinsip syariah dalam pola operasionalnya merupakan satu-satunya bank yang tidak mengalami negative spread sebagaimana terjadi pada bank-bank konvensional.225
222
Widjanarto, Hukum dan Ketentuan Perbankan Di Indonesia, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1995), hlm. 48.
Perbankan syariah selama krisis ekonomi tidak membebani keuangan negara sebagaimana terjadi pada perbankan konvensional
223
K.H. Ma’ruf Amin (et.al), Himpunan Fatwa MUI Sejak 1975, (Jakarta: Sekretariat MUI, 2011), hlm. 808.
224
H.M. Arifin Hamid, Hukum Ekonomi Islam (Ekonomi Syariah) Di Indonesia, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2007), hlm. 18. Selanjutnya dikatakan, terbebasnya perbankan syariah dari negative spread, karena kinerja perbankan syariah ditentukan oleh kinerja sektor riil, bukan sebaliknya. Konsep Islam menjaga keseimbangan antara sektor riil dengan sektor moneter, sehingga pertumbuhan pembiayaannya tidak akan terlepas dari pertumbuhan riil yang dibiayainya. Saat perekonomian mengalami kelesuan, maka yield yang diterima perbankan syariah menurun yang pada gilirannya return yang dibagihasilkan kepada nasabah penabung juga turun. Sebaliknya, pada saat perekonomian menaik (booming), maka return yang akan dibagihasilkan juga akan meningkat. Lihat juga Veithzal Rivai, Andria PermataVeithzal dan Ferry N. Idroes, Op. Cit., hlm. 739.
225
Muslimin, ”Reformasi Kebijakan Perbankan Islam Di Indonesia,” Miqot: Jurnal Ilmu-Ilmu Keisalaman, Vol. XXVIII, No. 1 Januari 2004, hlm. 150.
yang memerlukan suntikan dana dari pemerintah.226 Perbankan syariah mampu bertahan dari spekulasi keuangan. Perbankan syariah yang kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah memiliki akses penting dalam berbagai kegiatan perekonomian syariah. Prinsip syariah sebagai landasan aturan main menjadi kunci ketahanan (resilince) institusi keuangan Islam dalam menghadapi krisis.227 Dengan keunggulan yang dimiliki, perekonomian dan keuangan termasuk perbankan Islam dewasa ini telah menjadi realitas hidup terhadap pertumbuhan perekonomian