DAFTAR LAMPIRAN
5.3. Analisis Pengembangan Institusi Lokal
5.3.3. Pengaturan Tata Konsumsi.
Perubahan pola konsumsi umumnya berpengaruh besar pada cara masyarakat menilai sumberdaya alam ini. Dengan semakin pentingnya mata uang dalam kehidupan masyarakat di pedesaan, maka sedikit banyak juga berpengaruh pada cara mereka menilai dan memaknai sumberdaya alam yang mereka miliki atau kelola. Jual beli tanah, misalnya, adalah salah satu contoh dari perubahan yang tengah berlangsung saat ini dalam kehidupan masyarakat pedesaan yang sebagian dipengaruhi oleh masuknya budaya uang ini. Tanah atau lahan pertanian atau hutan pada awalnya bukanlah komoditi ekonomi bagi masyarakat pedesaan. Dengan adanya perubahan nilai ini, maka tanah atau lahan
sekarang berubah menjadi komoditi yang mempunyai nilai ekonomis sehingga menjadi objek jual beli (Afiff, 2007).
Kebutuhan-kebutuhan hidup awalnya cukup dapat dipenuhi dengan cara barter sekarang diganti dengan alat tukar uang untuk mendapatkannya. Derasnya arus modernisasi yang masuk ke pedesaan telah merubah pola hidup dan pola konsumsi masyarakat kampung. Perubahan gaya hidup dan pola konsumsi ini biasanya akan mendorong adanya peningkatan ekspoitasi dari sumberdaya alam yang dapat mengancam kelestarian sumberdaya dan keberlangsungan pelayanan alam dari ekosistem hutan buat masyarakat itu sendiri.
Sebagai contoh, pendampingan yang dilakukan oleh Mitra Bentala. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan dan kelestaraian hutan magrove memang masih rendah. Hal ini terbukti dengan tidak adanya aturan mengenai pengalihfungsian lahan hutan mangrove menjadi tambak, keramba, maupun tempat mengambilan cacing. Secara nyata, akibat rusaknya hutan mangrove dirasakan oleh masyarakat nelayan dengan menurunya potensi perikanan. Masyarakat cenderung melakukan tindakan-tindakan yang menurut mereka lebih memberikan keuntungan ekonomi jangka pendek tanpa memperhitungkan resiko-resiko ekologis dan ekonomi jangka panjang.
Dalam penelitian ini, LSM-LSM juga telah membentuk kelembagaan baru atau memberikan penguatan kepada lembaga yang berada di masyarakat. Bentuk kelembagaan yang dikembangkan oleh LSM ini beragam sesuai dengan konteks dan kebutuhan masyarakat (Tabel 22). Kelembagaan di masyarakat ini merupakan salah satu bentuk wadah yang dapat menampung aspirasi masyarakat sendiri sehingga masyarakat tidak selalu bergantung pada LSM yang selama ini mendampinginya. Selain itu, kelembagaan ini diperlukan untuk membentuk kemandirian masyarakat setelah LSM berhasil mendampingi masyarakatnya.
Tabel 22. Bentuk Kelembagaan di Masyarakat yang Dikembangkan LSM
No Nama LSM Bentuk Kelembagaan
1 LSM 1 Paguyuban Pengelola Sumber Daya Berbasis Komunitas (PSBK) di
tingkat Desa
No Nama LSM Bentuk Kelembagaan
3 LSM 3 Badan Pengelola Daerah Perlindungan Mangrove (BPDPM) di tingkat
Desa
4 LSM 4 Organsasi Petani Hutan Rakyat (OPHR) di tingkat Desa
5 LSM 5 Lembaga Kemitraan Desa Pengelola Sumberdaya Hutan (LKDPH) di
tingkat Desa
6 LSM 6 Kelompok Tani Hutan (KTH) di tiap Dusun
7 LSM 7 Lembaga Kerjasama Antar Desa Hutan (LKADH) dibentuk dari
beberapa desa
8 LSM 8 Wewengkon Adat di tingkat Desa
9 LSM 9 Kelompok Tani Hutan (KTH) di tingkat Desa
Sumber: Hasil pengolahan data
Upaya dan strategi pengembangan institusi lokal sangat dipengaruhi oleh setidaknya tiga faktor utama yaitu:
1. Faktor kondisi fisik dan sumberdaya alam setempat.
Pengembangan model pengelolaan hutan dan kelembagaan yang dibangun oleh masyarakat bersama LSM dapat berbeda-beda dari tempat yang satu dengan tempat yang lainnya. Hal ini sangat diperngaruhi oleh kondisi fisik dan sumberdaya alam yang terdapat di tempat tersebut (Afiff, 2007).
Sebagai contoh, peluang dan tantangan yang dilakukan oleh SHK Lestari dengan mengusung pengembangan kawasan ekowisata dengan Persepsi yang mengangkat tema pelestarian sumberdaya hutan di lahan milik yang tandus akan berbeda. Perbedaan ini akan berpengaruh terhadap pola pendampingan, metode, dan pendekatan yang dilakuakn terhadap masyarakat dan pihak-pihak lainnya yang terkait.
2. Faktor ekonomi politik di tingkat internasioanl, nasional dan daerah
Menguatnya isu indigenous people di tingkat internasional telah memberikan peluang untuk beberapa kelompok masyarakat dalam megorganisisr diri untuk melakukan klaim lahan hutan dalam rangka gerakan masyarakat adat (Li, 2001). Dalam konteks ekonomi politik di tiingkat nasional maupun daerah yang dianggap penting dan berpengaruh pada dinamika pengembangan institusi di tingkat lokal adalah belum adanya beberapa kebijakan yang dianggap cukup kuat mendukung model-model PHBM (Afiff, 2007).
Beberapa LSM dalam menjalankan proyek UNDP berupaya agar ada perubahan kebijakan, baik di tingkat nasional maupun di tingkat daerah untuk dapat lebih menjamin terwujudnya PHBM. Di tingkat nasional, upaya yang dilakukan melalui cara memperngaruhi perubahan kebijakan dan perundang- undangan di bidang kehutanan. Sementara dengan pemerintah daerah melalui pembuatan aturan-aturan daerah yang memperluat kedudukan atau legitimasi pengelolaan sumberdaya hutan. Upaya ini melibatkan dan diharapkan memberikan manfaat untuk kepentingan masyarakat setempat. Namun kewenangan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah masih menjadi kendala utama dalam proses penyelesaian konflik antara masyarakat dan pemerintah pusat dalam hal ini Departemen Kehutanan, terutama berkaitan dengan masalah tumpang tindih status kawasan.
Menurut Afiff (2007), selain kebijakan-kebijakan pemerintah, faktor- faktor lain yang berpengaruh antara lain adalah fluktuasi harga komoditi, permintaan pasar, tata niaga, dan pergantian kepemimpinan di tingkat daerah dan nasional. Untuk itu yang perlu diperhatikan adalah memetakan faktor- faktor makro ekonomi dan politik baik di tingkat nasional maupun daerah untuk melihat seberapa jauh pengarunya terhadap upaya pemberdayaan isntitusi lokal di suatu wilayah.
3. Dinamika sosial dan politik lokal
Dinamika sosial dan politik lokal berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Adanya tokoh masyarakat setempat yang kharismatik dan jelas akuntabiltasnya pada rakyat setempat, misalnya, seringkali merupahan faktor yang penting dalam mengembangkan isntitusi lokal. Menurut Afiff (2007), dalam hal ini termasuk didalamnya adalah karakteristik masyarakat yang menjadi basis pengorganisasian. Perbedaan ini akan berpengaruh terhadap model dari gerakan dan institusi lokal yang dibangun. Namun sebaliknya, pengembangan institusi lokal akan sulit dilakukan dan akan membutuhkan waktu yang panjang bila masyarakatnya mengalami perbedaan kepentingan.
Sejarah klaim lahan dan sumberdaya hutan oleh masyarakat juga berpengaruh terhadap perjuangan mereka untuk mendapatkan pengakuan dan
tawaran tentang model pengelolaan hutan yang akan diadvokasi. Aliansi dan konflik antara masyarakat dengan pihak-pihak lainnya seperti pemerintah, swasta, maupun dengan LSM juga berpengaruh terhadap pengembangan institusi lokal.