PEMBIAYAAN PADA LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH
C. Pengawasan Aktif Dewan Komisaris dan Direksi
itu Bank Muamalat menerapkan manajemen risiko dengan membentuk Satuan Kerja Manajemen Risiko yang mengelola risiko pembiayaan, risiko operasional, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko stratejik, risiko hukum, risiko reputasi dan risiko kepatuhan. Proses pengelolaan manajemen risiko, misalnya dapat kita lihat pada struktur manajemen Bank Muamalat dalam melakukan identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian terhadap risiko sebagaimana di atas.
Dengan ditetapkannya struktur organisasi Bank Muamalat yang baru pada Oktober 2010, fungsi dan proses manajemen risiko dijalankan oleh Divisi Manajemen Risiko yang berada dibawah supervisi Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko. Penyusunan struktur organisasi dilakukan dengan pendekatan jenis risiko yang ditangani (risk handled approach). Sebagaimana diketahui Bank Indonesia mempersyaratkan bank-bank di Indonesia untuk melakukan proses manajemen dengan 8 jenis risiko, yakni: risiko pembiayaan, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko strategis, risiko hukum, risiko reputasi, dan risiko kepatuhan.
Bab 3 Proses Pelaksanaan Manajemen Risiko Pembiayaan 87 perbankan, termasuk perbankan syariah, berkewajiban untuk memberikan laporan keuangan (financial statement) dalam bentuk tertulis dan itu bersifat berkala.
Untuk melihat secara khusus dan lebih dalam bagaimana bentuk struktur organisasi manajemen risiko dalam suatu perusahaan dapat dilihat pada gambar berikut ini:8
KOMISARIS PERUSAHAAN
(ketua Komisaris, anggota komisaris, dan komisaris independent)
DIREKTUR UTAMA
INTERNAL AUDIT
UNIT MANAJEMEN LINI
DIREKTUR LINI
SUB UNIT MANAJEMEN RISIKO
UNIT MANAJEMEN RISIKO
KETUA MANAJEMEN RISIKO
SUB UNIT MANAJEMEN LINI
Dalam struktur organisasi manajemen risiko di atas, dapat dilihat bahwa setiap bagan saling bekerja sama dan saling berhubungan satu dengan lainnya. Konsep manajemen yang saling berinteraksi seperti ini adalah menjadi dasar berpikir (base thinking) dalam memahami manajemen risiko. Karena pe-rmasalahan risiko tidak akan bisa dipetakan dan dicari solusinya jika setiap pihak saling tidak mau bekerjasama, karena dengan bekerjasama setiap masalah akan lebih mudah dicari solusinya.
8Ibid., hlm. 9
DUMMY
Bagan di atas juga memperlihatkan besarnya tanggung jawab hukum dalam pengelolaan risiko oleh direktur utama terhadap para pemegang saham atau pemilik perusahaan. Menurut Kasidi (2010), beberapa keputusan pengadilan menekankan bahwa direktur mungkin memikul tanggungjawab resmi bila melanggar dari kewajiban. Dari keputusan tersebut, tampaknya kegagalan melindungi perusahaan dengan penutupan asuransi, membayar premi bila jatuh tempo, menjaga penutupan asuransi tetap berdaya guna, gagal melakukan tindakan pengamanan dapat digunakan sebagai dasar untuk menggugat direktur perusahaan, bahkan pegawainya, misalnya.
Dalam rangka mendukung penyelenggaraan pembiayaan yang baik sehingga memperlancar dan mempermudah proses sekuritisasi yang merupakan bagian dari migitasi risiko kredit, diperlukan perhatian dari Dewan Komisaris dan Direksi Bank untuk aktif dalam pengawasan. Sementara, bila melihat struktur organisasi Lembaga Keuangan Syariah di atas, maka keberadaan Dewan Pengawas Syariah sangat signifikan. Demikian halnya, keberadaan Dewan Komisaris dan Direksi juga tidak kalah pentingnya karena sangat berperan dalam mengkontrol jalanya pengawasan. Jadi, salah satu aspek penting dalam pengawasan yang dilakukan oleh Dewan Komisaris dan Direksi pada manajemen risiko secara efektif dalam penggunaan Teknologi Informasi (IT), sekurang-kurangnya adalah:
1. Pengawasan aktif dewan Komisaris dan Direksi;
2. Kecukupan kebijakan dan prosedur penggunaan IT;
3. Kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko penggunaan IT, dan
4. Sistem pengendalian itern atas penggunaan TI.9
Di samping adanya Dewan Komisaris, Bank wajib memiliki Komite Pengarah Teknologi Informasi. Komite dimaksud bertanggung jawab memberikan rekomendasi kepada Direksi yang paling kurang terkait:
a. Rencana Strategis IT yang searah dengan rencana strategis kegiatan usaha bank;
b. Kesesuaian proyek-proyek IT yang disetujui dengan Rencana Strategis IT;
9Booklet Perbankan Indonesia 2009., hlm. 133
DUMMY
Bab 3 Proses Pelaksanaan Manajemen Risiko Pembiayaan 89 c. Kesesuaian antara pelaksanaan proyek-proyek TI dengan rencana
proyek yang disepakati;
d. Kesesuaian IT dengan kebutuhan sistem informasi manajemen dan kebutuhan kegiatan usaha bank;
e. Efektivitas langkah-langkah meminimalkan risiko atas investasi bank pada sektor IT agar investasi tersebut memberikan kontribusi terhadap pencapaian tujuan bisnis bank;
f. Pemantauan atas kinerja IT dan upaya peningkatannya;
g. Upaya penyelesaian berbagai masalah IT, yang tidak dapat disele-saikan oleh satuan kerja pengguna dan penyelenggara secara efektif, efisien dan tepat waktu.
Sementara itu pula, pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi adalah:
1) Komisaris bertanggung jawab dalam melakukan persetujuan dan peninjauan berkala atau sekurang-kurangnya secara tahunan mengenai strategi dan kebijakan risiko pembiayaan pada bank.
Strategi dan kebijakan dimaksud harus:
(a) Mencerminkan batas toleransi Bank terhadap risiko dan tingkat probabilitas pendapatan yang diharapkan akan di-peroleh secara terus menerus dengan memperhatikan siklus dan perubahan kondisi ekonomi.
(b) Memperhatikan siklus perekonomian domestik dan inter-nasional dan perubahan-perubahan yang dapat mempeng-aruhi komposisi dan kualitas seluruh portofolio pem-baiyaan.
(c) Dirancang untuk keperluan jangka panjang dengan penyesuaian yang diperlukan.
2) Direksi bertanggung jawab untuk mengimplementasikan strategi dan kebijakan risiko pembiayaan serta mengem-bangkan prosedur identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko pembiayaan. Kebijakan dan prosedur yang dikembangkan dan diimplementasikan secara tepat tersebut harus dapat:
3) Bank harus mengidentifikasi dan mengelola risiko pembiayaan yang melekat pada seluruh produk dan aktivitas baru serta memastikan bahwa risiko dari produk dan aktivitas baru telah melalup proses pengendalian manajemen risiko yang layak sebelum
DUMMY
diperkenalkan atau dijalankan, dan harus disetujui oleh Direksi atau direkomendasikan oleh Komite Risiko terlebih dahulu.
Oleh karena itulah, adanya Komite Manajemen Risiko (Risk Management Committee) dan Satuan Kerja Manajemen Risiko (Risk Management Unit) sangat penting dalam rangka pertang-gungjawaban dewan komisaris dan direksi. Artinya, pengawasan aktif yang dilakun oleh dewan komisaris dan direksi secara tidak langsung harus menunjuk pelaksana operasional, yaitu KMR dan SKMR tersebut. Inilah bentuk dari organisasi dan fungsi dari manajemen risiko suatu lembaga keuangan, baik bank maupun lainnya. Berikut tugas dan fungsi Komite Manajemen Risiko (RMC) dan Satuan Kerja Manajemen Risiko (RMU):
(4) Komite Manajemen Risiko (Risk Management Committee)
(a) Keanggotaan KMR dapat bersifat keanggotaan tetap dan tidak tetap sesuai dengan kebutuhan lembaga/perusahaan (bank) (b) Keanggotaan KMR sekurang-kurangya terdiri dari mayoritas
Direksi dan pejabat eksekutif terkait.
(c) Wewenang dan tanggung jawab KMR adalah memberikan rekomendasi kepada direktur utama yang skeurang-kurangnya meliputi:
– Penyusunan kebijakan manajemen risiko serta perubah-annya, termasuk strategi manajamen risiko dan contingency plan apabila kondisi eksternal tidak normal terjadi.
– Perbaikan atau penyempurnaan penerapan MR yang dilakukan secara berkala maupun bersifat insidentil sebagai akibat dari suatu perubahan kndisi eksternal dan internal bank yang empengaruhi kecukupan per-modalan dan profil risiko bank dan hasil evaluasi terhadap efektivitas penerapan tersebut.
– Penetapan (justification) atas hal-hal yang terkait dengan keputusan-keputusan bisnis yang menyimpang dari prosedur normal (irregularitles), seperti keputusan pelampauan ekspansi usaha yang signifikan dibandingkan dengan rencan abisnis bank yang telah ditetapkan sebelumnya atau pengambilan posisi/eksposur risiko yang melampaui limit yang telah ditetapkan.
DUMMY
Bab 3 Proses Pelaksanaan Manajemen Risiko Pembiayaan 91 (5) Satuan Kerja Manajemen Risiko (Risk Management Unit)
(a) Struktur organisasi SKMR disesuaikan dengan ukuran dan kompleksitas usaha Bank serta risiko yang melekat pada bank.
(b) Bagi bank yang relatif besar dari sisi total aset dan memiliki tingkat kompleksitas usah ayang tinggi maka struktur organisasi SKMR harus mencerminkan karakteristik usaha Bank dimaksud.
(c) Sesuai dengan ukuran dan kompleksitas usaha bank maka posisis jabatan yang memimpin SKMR dapat setingkat atau tidak setingkat dengan posisi pimpinan satuan kerja operasional.
(d) SKMR harus independen terhadap satuan kerja operasional (risk-taking unit) seperti tresuri dan investasi, pem-biayaan, pendanaan, akunting, dan terhadap satuan kerja yang melaksanakan fungsi pengendalian intern.
(e) SKMR bertanggung jawab langsung kepada Direktur Utama atau Kepada Direktur yang ditugaskan secara khusus seperti Direktur Kepatuhan atau Direktur Manajemen Risiko.
(f) Wewenang dan tanggung jawab SKMR meliputi:
– Pemantauan terhadap impelemntasi strategi MR yang direkomendasikan oleh Komite Risiko dan yang telah disetujui oleh Direksi.
– Pemantauan posisi/eksposur risiko secara keseluruhan, perjenis risiko maupun per aktivitas fungsional
– Penerapan stress testing guna mengetahui dampak dari implementasi kebijakan dan strategi manajemen risiko terhadap kinerja masing-masing satuan kerja operasional.
– Pengkajian terhadap usulan aktivitas dan/atau produk baru yang diajukan atau dikembangkan oleh suatu unit tertentu yang ada pada Bank. Pengkajian difokuskan terutama pada aspek kemampuan bank untuk me-lakukan aktivitas dan atau produk baru termasuk sistem dan prosedur yang digunakan serta dampaknya.
– Rekomendasi mengenai besaran atau maksimum eksposur risiko yang wajib dipelihara Bank kepada satuan kerja
DUMMY
operasional dan kepada Komite Manajemen Risiko, sesuai dengan kewenangan yang dimiliki satuan kerja manajemen risiko.
– Evaluasi terhadap akurasi dan validasi data yang digunakan oleh bank untuk mengukur risiko bank yang menggunakan modal untuk keperluan intern.
– Penyusunan dan penyampaian laporan profil risiko kepada direktur utama dan Komite Manajemen Risiko secara berkala atau sekurang-kurangnya secara triwulan.
(g) Satuan kerja operasional wajib menginformasikan exposure risiko yang melekat pada satuan kerja yang bersangkutan kepada SKMR secara berkala.10
Hal ini dilakukan adalah untuk terciptanya suatu bentuk kinerja yang sinergi antara komisaris dan direksi maka perlu dibangun suatu kesepatakan kerja dan bentuk tanggungjawab yang bersama-sama berusaha memajukan perusahaan. Sebagaimana dikatakan Wahyudin Zarkasyi (dalam Irham Fahmi, 2010), bahwa bentuk tanggung jawab Dewan Komisaris dan Direksi dalam menjaga kelangsungan usaha perusahaan untuk jangka panjang adalah:
(1) Terlaksananya dengan baik kontrol internal dan manajemen risiko, (2) Tercapainya imbal hasil (return) yang optimal bagi pemegang
saham,
(3) Terlindunginya kepentingan pemangku kepentingan secara wajar, dan
(4) Terlaksananya suksesi kepemimpinan yang wajar demi kesinam-bungan manajemen di semua lini organisasi.
Disamping pentingnya pengawasan dari Dewan Komisaris dan Direksi, pengawasan juga melibatkan Dewan Pengawas Syariah dan unsur pengawasan syariah lainnya. Hal ini merupakan langkah penting dalam menciptakan jaminan pemenuhan prinsip syariah. Pengawasan ini juga termasuk dalam menetapkan aturan tentang mekanisme pengeluaran setiap produk bank syariah yang memerlukan pengesahan
10Veithzal Rivai dan Arviyan Arifin, Islamic Banking, Bumi Aksara, 2010, hlm.
959-50.
DUMMY
Bab 3 Proses Pelaksanaan Manajemen Risiko Pembiayaan 93 (endorsement) dari DSN-MUI tentang kehalalan/kesesuaian produk dan jasa keuangan bank dengan prinsip Syariah.