• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENGUASAAN PERALATAN UKUR

4.2. Pemeriksaan Peralatan Ukur

4.2.2. Pengecekan kondisi peralatan ukur yang sudah terkalibrasi

Peralatan ukur dan perlengkapannya dicek terlebih dahulu sebelum digunakan. Terutama peralatan ukur yang telah dikalibrasi harus diperiksa dengan teliti. Sekrup-sekrup penyetelan, nivo-nivo, sumbu pertama, sumbu kedua, garis bidik dan hasil pembacaan harus diperiksa dengan

Judul Modul : Penguasaan Peralatan Ukur

Buku Informasi Edisi : I - 2011 Halaman: 44 dari 92

cermat dan teliti. Apabila hasil pemeriksaan belum baik maka alat ukur harus dikembalikan/dikalibrasi lagi.

Pengecekan terhadap peralatan ukur yang akan digunakan untuk melaksanakan pekerjaan pengukuran sangat perlu dilakukan agar peralatan –peralatan tersebut dapat digunakan secara normal sesuai dengan standar dan batas toleransi yang dikeluarkan oleh pembuat peralatan ukur. Persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi sebuah alat ukur dikelompokkan sesuai dengan jenis dan fungsi dari masing-masing peralatan ukur. Secara garis besar pengelompokkan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut :

a. Theodolite.

Pada waktu theodolite akan digunakan untuk melakukan pengukuran, bagian-bagian theodolite utama harus berada dalam keadaan yang baik. Bagian-bagian dan keadaannya adalah :

a. Sumbu kesatu dalam keadaan tegak lurus (vertikal).

b. Sumbu kedua dalam keadaan mendatar dan tegak lurus sumbu kesatu.

c. Garis bidik dalam keadaan tegak lurus pada sumbu kedua.

d. Kesalahan indeks pada skala lingkaran tegak harus sama dengan nol.

Maka theodolite harus diatur lebih dahulu, supaya memenui syarat-syarat tersebut :

a. Untuk membuat tegak lurus/vertikal sumbu kesatu, digunakan sebuah nivo, karena pada nivo didapat suatu garis lurus, ialah garis jurusan nivo, yang dapat dibuat mendatar dengan teliti. Bila garis jurusan nivo mendatar maka sumbu kesatu akan tegak lurus/vertikal.

Maka lebih dahulu garis jurusan nivo dibuat tegak lurus pada sumbu kesatu dan selanjutnya sumbu kesatu dibuat tegak lurus pada garis jurusan nivo dalam dua jurusan, supaya sumbu kesatu menjadi tegak lurus/vertikal. Untuk ini digunakan nivo yang terletak di atas pelat nonius mendatar.

Judul Modul : Penguasaan Peralatan Ukur

Buku Informasi Edisi : I - 2011 Halaman: 45 dari 92

Gambar 4.44

Membuat garis jurusan nivo tegak lurus pada sumbu kesatu dilakukan sebagai berikut :

• Putarlah nivo dengan sumbu kesatu sebagai sumbu putar sedemikian rupa hingga nivo sejajar dengan dua sekrup penyetel A dan B. Dengan dua sekrup penyetel ini gelembung ditempatkan ditengah-tengah , dengan demikian garis jurusan nivo mendatar

)

(a1b1 . Bila misalkan garis jurusan belum tegak lurus pada sumbu kesatu maka sudut antara sumbu kesatu dan garis jurusan nivo ada 900 - α.

• Sekarang putarlah nivo 1800 dengan sumbu kesatu sebagai sumbu putar, maka garis jurusan nivo menjadi b2a2 dan sudut 900 – α yang tadinya sebelah kiri pindah kesebelah kanan. Ternyata bahwa garis jurusan nivo b2a2 tidak mendatar lagi dan gelembung pindah kesebelah kiri yang lebih tingi dari ujung kanannya. Pemindahan gelembung dari tengah-tengah menyatakan perubahan sudut miring garis jurusan nivo a1b1 ke garis jurusan b2a2 dan perubahan ini ada 2α (lihat gambar 4.40).

• Supaya garis jurusan nivo tegak lurus pada sumbu kesatu maka sudut 900 – α antara dua garis ini harus ditambah dengan α. Hal ini dilakukan dengan menurunkan b2 menjadi b3 atau menaikkan a2

Judul Modul : Penguasaan Peralatan Ukur

Buku Informasi Edisi : I - 2011 Halaman: 46 dari 92

menjadi a3, sehingga garis jurusan b3a3 mempunyai sudut miring = α.

• Karena pindahnya gelembung dari tengah-tengah tadi menyatakan perubahan sudut 2 α, maka untuk perubahan sudut α saja putarlah sekrup koreksi nivo sedemikian jauhnya, sehingga gelembung pindah kembali setengahnya ke tengah-tengah. Maka garis jurusan nivo b3a3 akan letak tegak lurus pada sumbu kesatu. Dengan sekrup penyetel A dan B gelembung dipindahkan ketengah-tengah, maka garis jurusan nivo akan mendatar lagi, dengan demikian sumbu kesatu baru tegak lurus pada satu jurusan yang mendatar. • Supaya sumbu kesatu tegak lurus pada satu jurusan mendatar

lainnya putarlah sekarang nivo hanya 900 dengan sumbu kesatu sebagai sumbu putar. Umumnya gelembung tidak di tengah-tengah setelah pemutaran ini. Maka putarlah sekrup penyetel C sedemikian rupa, hingga gelembung kembali lagi ketengah-tengah. • Sekarang sumbu kesatu tegak lurus pada dua garis jurusan yang

mendatar, maka sumbu kesatu akan letak tegak lurus/vertikal. • Jalannya pekerjaan adalah sebagai berikut :

- Tempatkan nivo sejajar dengan dua sekrup penyetl A dan B, dan dengan dua sekrup penyetel ini gelembung ditempatkan ditengah-tengah.

- Putarlah nivo 1800 dengan sumbu kesatu sebagai sumbu putar. Umumnya gelembung akan pindah dari tengah-tengah.

- Pindahkan gelembung setengahnya kembali ketengah-tengah, dengan memutar sekrup koreksi nivo, maka garis jurusan nivo akan tegak lurus pada sumbu kesatu.

- Ulangi pekerjaan sehingga gelembung tetap ditengah-tengah, sebelum dan sesudah nivo diputar 1800 dengan sumbu kesatu sebagai sumbu putar.

- Putar sekarang nivo 900 dengan sumbu kesatu sebagai sumbu putar. Tempatkan gelembung ditengah-tengah dengan memutar sekrup penyetel ketiga C. Maka sumbu kesatu tegak lurus pada dua garis jurusan yang mendatar dan akan tegak lurus.

Judul Modul : Penguasaan Peralatan Ukur

Buku Informasi Edisi : I - 2011 Halaman: 47 dari 92

- Ulangi pekerjaan sehinga pada semua jurusan gelembung tetap di tengah-tengah.

• Bila ada nivo lainnya yang dipasang pada kaki penyangga sumbu kedua dan tegak lurus pada nivo yang letak di atas pelat nonius mendatar, maka pekerjaan berjalan seperti berikut :

- Tempatkan nivo yang letak pada pelat nonius mendatar sejajar dengan dua sekrup penyetel A dan B, dan nivo pada kaki penyangga sumbu kedua dengan sendirinya ke arah sekrup penyetel C. Tempatkan gelembung kedua nivo ditengah-tengah dengan sekrup-sekrup penyetel A, B dan C.

- Putar kedua nivo 1800 dengan sumbu kesatu sebagai sumbu putar. Kedua gelembung nivo umumnya akan pindah dari tengah-tengah.

- Kembalikan gelembung kedua nivo setengahnya ke tengah-tengah dengan sekrup koreksi nivo masing-masing. Maka sumbu kesatu akan letak tegak lurus pada garis jurusan kedua nivo.

- Kembalikan ke tengah-tengah gelembung nivo yang letak di atas pelat nonius mendatar dengan dua penyetel A dan B, dan gelembung nivo yang letak pada kaki penyangga sumbu kedua dengan sekrup penyetel C. Maka sumbu kesatu tegak lurus pada dua garis yang mendatar, jadi akan letak tegak lurus. - Ulangi pekerjaan, sehingga pada semua jurusan gelembung

selalu di tengah-tengah.

• Bila ada dua nivo yang letak saling tegak lurus, pemutaran nivo 900 dengan sumbu kesatu sebagai sumbu putar tidak perlu lagi, karena untuk jurusan kedua yang mendatar digunakan garis arah nivo yang letak pada kaki penyangga sumbu kedua.

b dan c. untuk mengatur sumbu kedua supaya mendatar dan mengatur garis bidik supaya tegak lurus pada sumbu kedua ada berbagai cara. Di sini akan diambil satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatur sumbu kedua dan garis bidik bersama-sama. Pada peninjauan pengaruh miringnya sumbu kedua dan belum tegak lurusnya garis bidik pada sumbu kedua, maka sumbu kesatu dianggap sudah letak tegak lurus. Untuk menyelidiki pengaruh kesalahan-kesalahan sumbu

Judul Modul : Penguasaan Peralatan Ukur

Buku Informasi Edisi : I - 2011 Halaman: 48 dari 92

kedua dan garis bidik, alat theodolite dipasang 3 a 5 m di muka sebuah dinding yang terang. Dengan garis bidik yang mendatar dan kira-kira tegak lurus pada bidang dinding, dibuat lebih dulu satu titik T pada dinding yang berhimpit dengan titik potong dua garis diafragma.

Dengan menggunakan unting-unting dibuat titik P tegak lurus di atas titik T yang tingginya dua kali tinggi titik T (tinggi titik T = tinggi sumbu kedua) dan titik Q tegak lurus di bawah titik T dan yang letak di kaki dinding. Keadaan di bawah ini berturut-turut akan ditinjau satu persatu.

i. Keadaan yang sempurna :

Sumbu kesatu dalam keadaan tegak lurus/vertikal. Sumbu kedua dalam keadaan mendatar.

Garis bidik dalam keadaan tegak lurus pada sumbu kedua.

ii. Keadaan sumbu kedua salah :

Sumbu kesatu sudah letak tegak lurus. Sumbu kedua belum mendatar.

Garis bidik telah tegak lurus pada sumbu kedua.

iii. Keadaan garis bidik salah :

Sumbu kesatu sudah letak tegak lurus. Sumbu kedua sudah letak mendatar.

Garis bidik belum tegak lurus pada sumbu kedua.

iv. Keadaan sumbu kedua dan garis bidik salah :

Sumbu kesatu sudah letak tegak lurus. Sumbu kedua belum letak mendatar.

Garis bidik belum tegak lurus pada sumbu kedua.

i. Keadaan yang sempurna.

Arahkan garis bidik ke titik T kemudian goyangkan teropong ke atas dan ke bawah. Karena sumbu kesatu tegak lurus/vertikal dan garis bidik tegak lurus pada sumbu kedua, maka pada gerakan teropong ke bawah dan ke atas, garis bidik akan membuat suatu bidang tegak lurus pada sumbu kedua. Bidang yang dibuat garis bidik ini akan tegak lurus/vertikal. Garis bidik ke atas dan ke bawah akan ke arah titik P dan Q yang terletak pada dinding. Titik P, Q dan T terletak

Judul Modul : Penguasaan Peralatan Ukur

Buku Informasi Edisi : I - 2011 Halaman: 49 dari 92

pada satu garis bidik yang tegak lurus (vertikal) dan dapat diplot di dinding.

Gambar 4.45

Maka berjalannya garis bidik pada dinding dari titik P di atas melalui titik T ke titik Q di bawah, titik-titik mana letak di satu garis tegak pada dinding, merupakan suatu tanda, bahwa sumbu kesatu telah tegak lurus, sumbu kedua telah mendatar dan garis bidik telah tegak lurus pada sumbu kesatu (gambar 4.45i)

ii. Kesalahan hanya pada sumbu kedua yang belum mendatar.

Karena garis bidik letak tegak lurus pada sumbu kedua, maka pada gerakan teropong kebawah dan ke atas, garis bidik tetap membuat bidang datar yang tegak lurus pada sumbu kedua. Sekarang sumbu kedua tidak mendatar, tetapi miring. Maka bidang datar yang dibuat oleh garis bidik tidak akan tegak lurus, tetapi miring pula, sehingga ke atas garis bidik tidak ke arah titik P dan ke bawah tidak ke arah titik Q, tetapi ke atas akan ke arah titik A dan ke bawah ke arah titik B sedemikian rupa, hingga titik-titik A, T dan B letak di satu garis lurus. Karena titik P letak dua kali lebih tinggi daripada titik T, maka berhubung dengan keadaan simetris terhadap titik T, pemindahan

Judul Modul : Penguasaan Peralatan Ukur

Buku Informasi Edisi : I - 2011 Halaman: 50 dari 92

PA = pemindahan QB = x, dan titik A dan titik B letak di sebelah yang

berlainan terhadap garis PQ.

Berjalannya garis bidik pada dinding melalui garis lurus A-T-B sedemikian rupa, hingga PA =QB dan titik-titik A dan B letak kedua belah terhadap garis lurus P-T-Q, menjadi suatu tanda bahwa sumbu kedua belum mendatar. Jarak PA = QB = x adalah pengaruh tidak mendatarnya sumbu kedua (gambar 4.45ii)

iii. Kesalahan pada garis bidik yang tidak tegak lurus pada sumbu kedua.

Pada penggerakan teropong ke atas dan ke bawah, garis bidik yang tidak letak tegak lurus pada sumbu kedua akan membuat suatu bidang kerucut, dengan sumbu kedua yang mendatar sebagai poros kerucut. Bidang kerucut ini dipotong oleh bidang dinding yang sejajar dengan poros kerucut. Maka garis potong merupakan garis lengkung yang dinamakan garis hiperbola. Garis hiperbola ini mempunyai titik puncaknya di titik T dan mempunyai sebagai sumbunya garis proyeksi sumbu kedua pada dinding, hingga ke atas dan ke bawah garis hiperbola ini simetris terhadap titik T. Maka pada waktu ke atas garis bidik akan ke arah titik C dan ke bawah ke arah titik D sedemikian rupa, hingga PC = QD = y dan titik-titik C dan D letak di

sebelah yang sama terhadap garis lurus P-T-Q.

Berjalannya garis bidik pada dinding melalui garis lengkung C-T-D dengan PC = QD dan titik-titik C dan D letak di sebelah yang sama terhadap garis lurus P-T-Q menjadi suatu tanda, bahwa garis bidik belum letak tegak lurus pada sumbu kedua. Jarak PC = QD = y adalah pengaruh belum tegak lurusnya garis bidik pada sumbu kedua (gambar 4.45iii).

iv. Kesalahan pada sumbu kedua yang tidak mendatar, dan garis bidik yang tidak tegak lurus pada sumbu kedua.

Keadaan ini adalah kombinasi dari keadaan ii dan keadaan iii, sehingga gambar 4.45iv didapat dari superposisi gambar 4.45ii dan

Judul Modul : Penguasaan Peralatan Ukur

Buku Informasi Edisi : I - 2011 Halaman: 51 dari 92

gambar 4.45iii. didapat lebih dahulu garis E-T-F karena miringnya sumbu kedua dengan PE = QF = x, setelah itu garis lengkung hiperbola G-T-H dengan EG = FH = y. Bila y < x, maka titik –titik G dan H akan letak di kedua belah yang berlawanan terhadap garis P-T-Q.

Tanda untuk kesalahan-kesalahan sumbu kedua dan garis bidik ialah, bahwa garis bidik ke atas ke arah titik G dan ke bawah ke arah titik H sedemikian rupa hingga PG # QH dan mungkin pula titik G dan titik H tidak letak di seblah yang sama terhadap garis P-T-Q.

Dari gambar 3.2iv dapat ditulis, bahwa : PG = PE + EG = x + y

QH = FH – QF = y – x .

Maka pekerjaan pengaturan sumbu kedua dan garis bidik dapat berjalan sebagai berikut :

• Sebagai persiapan tentukanlah lebih dahulu titik T yang dihimpitkan dengan titik potong dua garis diafragma, bila garis bidik yang mendatar diarahkan ke dinding yang cukup terang, sehingga titik T dapat diambil setinggi sumbu kedua. Dengan unting-unting ditetapkan titik P dan Q yang letak pada benang unting-untingyang melalui titik T. Tinggi titik P dibuat dua kali tinggi titik T. Pasanglah selanjutnya kertas milimeter yang mendatar di titik P dan titik Q sedemikian rupa hingga titik nol skala pada milimeter dihimpitkan dengan titik-titik P dan Q.

Maka dari gambar 4.45iv didapat : a = x + y

b = y – x

• Dari dua persamaan ini dapatlah dihitung pengaruh x tidak mendatarnya sumbu kedua da pengaruh y tidak tegak lurusnya garis bidik pada sumbu kedua.

x = ½ (a - b) y = ½ (a + b)

Judul Modul : Penguasaan Peralatan Ukur

Buku Informasi Edisi : I - 2011 Halaman: 52 dari 92

• Arahkan garis bidik ke skala atas. Untuk membuat sumbu kedua mendatar, pengaruh x harus hilang. Maka putarlah sekrupkoreksi sumbu kedua sedemikian rupa hingga pembacaan pada skala sama dengan y adalah pengaruh tidak tegak lurusnya garis bidik pada sumbu kedua. Ulangi pekerjaan ini sehingga pada skala atas dan pada skala bawah didapat dua pembacaan yang sama dan yang letak di sebelah yang sama terhadap garis lurus P-T-Q (gambar 4.45iii).

• Arahkan sekarang garis bidik ke skala atas. Supaya garis bidik tegak lurus pada sumbu kedua, maka putarlah sekrup koreksi diafragma, sehingga garis bidik ke arah titik nol skala. Ulangi pekerjaan, sehingga ke atas dan ke bawah garis bidik ke arah titik-titik nol kedua skala (P dan Q). Maka dengan demikian sumbu kedua mendatar dan garis bidik tegak lurus pada sumbu kedua (gambar 4.45i)

d. Menghilangkan kesalahan indeks pada lingkaran tegak.

Lingkaran berskala tegak digunakan untuk mengukur sudut miring atau sudut zenith. Berlainan dengan lingkaran berskala mendatar, yang turut berputar dengan garis bidik (teropong) adalah lingkaran berskala tegak dan alat pembaca nonius tetap tidak berubah dari tempatnya.

Pada waktu garis bidik dalam keadaan mendatar, maka sudut miring garis bidik = 00 atau sudut zenith garis bidik = 900. Karena yang turut berputar dengan garis bidik adalah skala lingkaran, maka dapatlah dimengerti bahwa garis skala yang letak berdekatan dengan garis bidik adalah garis 00 atau garis 900. tidak ada kesalahan indeks, bila pembacaan 00 atau 900 pada waktu garis bidik dalam keadaan mendatar. Bila pada waktu garis bidik mendatar pembacaan tidak sama dengan 00 atau 900, karena garis skala 00 atau 900 tidak berhimpit dengan garis indeks nonius, maka dikatakan , ada kesalahan indeks. Busur antara skala 00 atau 900 dengan garis indeks nonius sama dengan besarnya kesalahan indeks.

Judul Modul : Penguasaan Peralatan Ukur

Buku Informasi Edisi : I - 2011 Halaman: 53 dari 92

Umumnya skala pada lingkaran tegak theodolite dibuat sedemikian rupa, hingga yang diukur adalah sudut zenith z. Dan bilamana ada kesalahan indeks p, maka dengan pembacaan adalah dua besaran z dan p yang harus dicari. Untuk mencari dua besaran z dan p diperlukan dua persamaan dengan dua pembacaan. Dua pembacaan ini didapat dengan pengukuran dua kali, yang pertama dengan teropong dalam keadaan biasa B, bila alat bidik penolong letak di atas teropong dan yang kedua dengan teropong dalam keadaan luar biasa LB yang didapat dengan membalikkan teropong sedemikian rupa, hingga alat bidik penolong letak di bawah teropong.

Gambar 4.46i Gambar 4.46ii

Lakukan pembacaan-pembacaan pada lingkaran tegak selalu dengan gelembung nivo yang ditempatkan pada pelat nonius tegak di tengah-tengah.

Misalkan pada gambar 4.46i garis bidik ke arah suatu titik P dengan teropong dalam keadan biasa. Garis B skala lingkaran berhimpit dengan garis indeks nonius N setelah gelembung nivo diketengahkan.

Baliklah teropong dengan memutar teropong dengan sumbu kedua sebagai sumbu putar, maka teropong berada dalam keadaan luar biasa. Supaya garis bidik dengan segera kearah titik P lagi, setelah

Judul Modul : Penguasaan Peralatan Ukur

Buku Informasi Edisi : I - 2011 Halaman: 54 dari 92

teropong diputar dengan sumbu kesatu sebagai sumbu putar maka pada waktu membalikkan teropong, teropong harus diputar 2z dengan sumbu kedua sebagai sumbu putar (gambar 4.46ii). dengan demikian garis skala LB yang berhimpit dengan garis indeks nonius N pada waktu teropong dalam keadaan luar biasa, letak dengan jarak 2z dari garis B yang tadi berhimpit dengan garis indeks nonius pada waktu teropong dalam keadaan biasa, karena di sini yang turut berputar dengan teropong adalah skala lingkaran tegak.

Gambar 4.46iii

Bila sekarang gambar 4.46i dan gambar 4.46ii dijadikan satu, dengan catatan bahwa yang digunakan adalah gambar 4.46i yang ada kesalahan indeksnya, dan pada skala yang digambar hanya garis B dan garis LB skala lingkaran, maka didapatlah gambar 4.46iii, dari gambar mana akan dicari hubungan antara kedua pembacaan B dan LB yang diketahui dari z dan p yang tidak diketahui. Ingatlah, bahwa angka-angka pada skala lingkaran selalu menyatakan besarnya busur antara angka nol skala dan angka skala yang bersangkutan. Maka dengan mudah dapatlah dimengerti dari gambar 4.46iii bahwa :

B = z + p (1) LB = 3600 + p – z (2)

Judul Modul : Penguasaan Peralatan Ukur

Buku Informasi Edisi : I - 2011 Halaman: 55 dari 92

Dari (1) – (2) didapat z = ½ {(B + LB) + 3600} Dan dari (1) + (2) didapat p = ½ {(B + LB) – 3600}

Kembalikan teropong sekarang dalam keadaan biasa dan arahkan garis bidik yang diukur tadi. Dengan memutar sekrup penggerak pelat nonius, pembacaan dibuat sama dengan z (dengan pemutaran ini garis bidik tidak berubah dan tetap ke arah titik yang diukur). Maka gelembung nivo yang ditempatkan pada pelat nonius ini tidak di tengah-tengah. Putarlah sekrup koreksi nivo sedemikian rupa, hingga gelembung berada di tengah-tengah.

Maka keadaan yang baik ini tercapai ialah : Garis bidik ke arah titik yang diukur.

Pembacaan sama dengan sudut zenith z yang betul. Gelembung nivo pada pelat nonius di tengah-tengah.

Ulangi pekerjaan ini, sehingga didapat p = 0 atau B + LB = 3600. Dan ingatlah, bahwa semua pembacaan harus dilakukan dengan gelembung nivo yang dipasang pada pelat nonius tegak yang ditempatkan di tengah-tengah.

Macam-macam theodolite :

(a) (b) (c) (d)

(e) (f)

Gambar 4.47 Macam-macam theodolite

Theodolite dengan kompas : (a) Boussole, (b) Wild T0

Judul Modul : Penguasaan Peralatan Ukur

Buku Informasi Edisi : I - 2011 Halaman: 56 dari 92

Theodolite dengan skala : (c) Wild T1A, (d) Wild T2A

Theodolite digital :

(e) Leica T110 dan (f) Sokkia DT10

b. Total station.

Total station adalah pengembangan dari theodolite, sehingga persyaratan-persyaratan utama pada theodolite berlaku pula pada total

station. Pengembangan yang dimaksud adalah, total station dilengkapi dengan alat-alat pengukur sudut, pengukur jarak secara elektronik dan digital serta dilengkapi dengan komputer. Dengan sistim komputer ini koordinat dan elevasi bisa dihitung. Persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi adalah :

1. Ketelitian bacaan sudut horisontal. 2. Ketelitian bacaan sudut vertikal. 3. Ketelitian bacaan jarak.

4. Kemampuan software untuk menghasilkan hitungan beda tinggi. 5. Kemampuan untuk menghasilkan hitungan koordinat.

6. Sumbu pertama dalam keadaan vertikal.

7. Sumbu kedua dalam keadaan mendatar/horisontal. 8. Sumbu kedua tegak lurus sumbu pertama.

Pengecekan persyaratan-persyaratan butir 6, 7 dan 8 sama dengan prosedur pengecekan theodolite.

c. Sipat datar (waterpass).

Dalam penyetelan alat ini, hal-hal yang perlu mendapat perhatian adalah :

1) Penempatan agar sumbu nivo tabung tegak lurus vertikal. Pada alat sipat datar ungkit, hal ini tidak begitu penting.

2) Penempatan agar sumbu nivo tabung sejajar dengan garis kolimasi. Hal ini tidak diperlukan pada alat sipat datar otomatis. 3) Penyetelan garis horisontal benang silang alat sipat datar.

Hal-hal tersebut diatas merupakan dasar dari penyetelan alat sipat datar, sedang untuk penyetelan masing-masing tipe alat sipat datar adalah :

Judul Modul : Penguasaan Peralatan Ukur

Buku Informasi Edisi : I - 2011 Halaman: 57 dari 92

(1) Penyetalan alat sipat-datar Wye.

a) Penyetelan agar garis kolimasi sejajar dengan garis-garis rangka teleskop (gambar 4.48).

Membidikan pada kertas putih yang dipasang sejauh 50 m dengan teleskop diatas penyangga berbentuk Y dan dipusat benang silang pada kertas putih sebagai titik a. kemudian memutar teleskop 1800 mengitari sumbu teleskop dan membidik lagi kertas putih tersebut. Apabila pusat benang silang tidak berhimpit dengan titik a di atas, titik tersebut ditandai sebagai b dan di setel agar titik pusat benang silang jatuh tepat pada c titik tengah antara a dan b.

Gambar 4.48

b) Penyetelan agar garis kolimasi sejajar dengan sumbu nivo tabung dari teleskop (gambar 4.49)

Gambar 4.49

• Menempatkan gelembung pada nivo tabung di

Dokumen terkait