• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENGUASAAN PERALATAN UKUR

4.3. Mengoperasikan Peralatan Ukur

4.3.3. Prosedur pengoperasian peralatan ukur

4.3.3.1. Penyiapan perlengkapan ukur.

Pengoperasian peralatan ukur sesuai alat dan kegunaannya harus dipahami dan dikuasai oleh Juru Ukur misalnya : theodolite untuk pengukuran sudut, jarak optik dan beda tinggi, waterpass untuk pengukuran beda tinggi dan lain-lain. Total station untuk pengukuran sudut, jarak, beda tinggi dan menghitung koordinat serta elevasi secara komputerisasi.

Pengoperasian alat ukur harus dilakukan dengan cermat, teliti dan hati-hati.

4.3.3.2. Pengukuran dengan peralatan ukur.

Pengukuran dengan alat ukur utama : Total station, theodolite dan waterpass.

a) Total station.

Cara pengoperasian Total station biasanya sudah lebih praktis karena peralatan ini secara internal sudah dibekali dengan perangkat lunak (software) untuk melakukan pengukuran berbagai keperluan koleksi data. Langkah awal setelah peralatan Total station di setel sehingga : sumbu pertama vertikal, sumbu kedua mendatar, garis bidik tegak lurus sumbu kedua, garis jurusan nivo mendatar, hidupkan Total station dengan menekan tombol ON/OFF kemudian beberapa menu atau simbol untuk melakukan pengukuran dapat dipilih pada tampilan menu dengan simbol-simbol antara lain :

Judul Modul : Penguasaan Peralatan Ukur

Buku Informasi Edisi : I - 2011 Halaman: 79 dari 92

Gambar 4.57 Sekrup Diafragma

Titik Teropong Nonius A Nonius B Rata 2x) §

P B 238,865 38,860 238,8625 LB 39,130 239,130 39,1300 199,7325 0.134 Diarahkan P LB 38,995 Q B 102,165 302,160 102,1625 Q LB 302,150 102,158 302,1540 200,0085 0.004 B = BIASA LB = LUAR BIASA

x) = Dengan dasar nonius A

Pelaksanaan mengatur :

• Dirikan total station sebaik-baiknya • Kemudian aturlah sumbu I nya

• Arahkan teropong pada suatu titik P, lazimnya titik dibuat pada kertas ditempel di tembok.

Judul Modul : Penguasaan Peralatan Ukur

Buku Informasi Edisi : I - 2011 Halaman: 80 dari 92

Gambar 4.58 Contoh target untuk bidikan

Kemudian putarlah teropong menjadi dalam kedudukan luar biasa (Luar Biasa), arahkan ke P lagi, kemudian baca piringan horisontal. Carilah harga §, berikan koreksi ini kepada pembacaan terakhir dengan memutar skrup gerak halus (mikro) arah horisontal, sampai dengan pembacaan terkoreksi sambil mata melihat ke loupe pembacaan.

Akibatnya benang silang tergeser sedikit ke samping, kembalikan benang silang ini ke P dengan memutar skrup diafragma, sebagai tindak penelitian, arahkan ke titik P atau titik lain, dan baca lagi piringan horisontal, seperti diterangkan di atas.

Ulangi pekerjaan itu sedemikian hingga § hilang atau relative sangat kecil. a. Untuk mengukur arah horisontal menggunakan menu atau simbol

Gambar 4.59a

b. Untuk mengukur sudut vertikal atau zenith digunakan menu atau simbol

Gambar 4.59b

c. Untuk mengukur jarak miring digunakan menu atau simbol

Gambar 4.59c

Judul Modul : Penguasaan Peralatan Ukur

Buku Informasi Edisi : I - 2011 Halaman: 81 dari 92

Gambar 4.59d

e. Untuk mengukur beda tinggi antara teropong dengan target lain digunakan menu atau simbol

Gambar 4.59e

f. Untuk menentukan koordinat titik lain digunakan menu dan simbol

Gambar 4.59f

b) Theodolite

Untuk peralatan Theodolite, pengoperasian alat lebih rumit dari pengoperasian Total

station, uraian pengoperasian dapat dijelaskan pada uraian berikut ini :

A. Mengukur atau arah horisontal. Langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut : 1) Letakkan theodolite pada kaki tiga penyangga atau statip, lakukan centering,

setel nivo kotak dan nivo tabung sehingga : sumbu pertama vertikal, garis jurusan nivo mendatar, sumbu kedua mendatar dan garis bidik tegak lurus sumbu ukur. Posisi ini kita namakan Titik A.

2) Kendorkan klem gerakan horisontal dan vertikal agar theodolite dapat bergerak bebas secara horisontal dan vertikal mengikuti asnya.

3) Bidik titik acuan sebagai arah bacaan awal dengan menggunakan teropong, tepatkan benang silang teropong pada titik target. Jika sudah mendekati titik kunci gerakan horisontal dan vertikal dengan menggunakan klem pengunci gerakan horisontal dan vertikal.

4) Lakukan penempatan benang silang ke titik target dengan menggerakkan sekrup penggerak halus horisontal dan vertikal.

5) Baca bacaan horisontal arah pada teropong bacaan AB, catat hasilnya pada formulir yang sudah disediakan. Posisi ini kita namakan Titik B.

6) Kendorkan klem pengunci gerakan horisontal dan vertikal agar theodolite dapat bergerak bebas.

Judul Modul : Penguasaan Peralatan Ukur

Buku Informasi Edisi : I - 2011 Halaman: 82 dari 92

7) Bidik titik target dengan menggunakan teropong, tepatkan benang silang teropong pada titik target. Jika sudah mendekati kunci gerakan horisontal dan vertikal dengan menggunakan klem pengunci gerakan horisontal dan vertikal. 8) Lakukan penempatan benang silang ke titik target dengan menggerakkan

sekrup penggerak halus horisontal dan vertikal.

9) Baca bacaan horisontal arah pada teropong bacaan AC, catat hasilnya pada formulir yang sudah disediakan. Posisi ini kita namakan Titik C.

10) Kurangkan bacaan arah horisontal AC target dengan bacaan arah horisontal target awal AB untuk mendapatkan sudut horisontal BAC.

Gambar 4.60

∠BAC = ∠BC = bacaan AC – bacaan AB

B. Mengukur sudut atau arah vertikal. Langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :

1) Letakkan theodolite pada kaki tiga penyangga atau statip, lakukan centering, setel nivo kotak dan nivo tabung sehingga siap untuk mengukur seperti butir A. Posisi ini kita namakan Titik A.

2) Kendorkan klem gerakan horisontal dan vertikal agar theodolite dapat bergerak bebas secara horisontal dan vertikal mengikuti asnya.

3) Bidik titik B sebagai arah bacaan awal dengan menggunakan teropong, tepatkan benang silang teropong pada titik target. Jika sudah mendekati titik kunci gerakan horisontal dan vertikal dengan menggunakan klem pengunci gerakan horisontal dan vertikal.

4) Lakukan penempatan benang silang ke titik target dengan menggerakkan sekrup penggerak halus horisontal dan vertikal.

5) Baca bacaan vertikal pada teropong bacaan sebesar mB kalau sudut miring yang diukur dan zB kalau sudut zenith yang diukur, catat hasilnya pada formulir yang sudah disediakan. Posisi ini kita namakan Titik B.

Judul Modul : Penguasaan Peralatan Ukur

Buku Informasi Edisi : I - 2011 Halaman: 83 dari 92

6) Kendorkan klem pengunci gerakan horisontal dan vertikal agar theodolite dapat bergerak bebas.

7) Bidik titik target C dengan menggunakan teropong, tepatkan benang silang teropong pada titik target. Jika sudah mendekati kunci gerakan horisontal dan vertikal dengan menggunakan klem pengunci gerakan horisontal dan vertikal; 8) Lakukan penempatan benang silang ke titik target dengan menggerakkan

sekrup penggerak halus horisontal dan vertikal.

9) Baca bacaan vertikal pada teropong bacaan sebesar mC kalau sudut miring yang diukur dan zC kalau sudut zenith yang diukur, catat hasilnya pada formulir yang sudah disediakan. Posisi ini kita namakan Titik C.

10) Lihat gambar 3.6.

C. Mengukur Jarak Miring, Jarak Datar dan Jarak Vertikal (Beda Tinggi) Langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Letakkan theodolite pada kaki tiga penyangga atau statip, lakukan centering, setel nivo kotak dan nivo tabung sehingga theodolite siap untuk mengukur seperti butir A. Posisi ini kita namakan titik A;

2. Kendorkan klem gerakan horisontal dan vertikal agar theodolite dapat bergerak bebas secara horisontal dan vertikal mengikuti asnya;

3. Bidik titik target dengan mengunakan teropong, tepatkan benang silang teropong pada titik target. Jika sudah mendekati kunci gerakan horisontal dan vertikal dengan menggunakaan klem pengunci gerakan horisontal dan vertikal;

4. Pasang rambu ukur di atas target;

5. Baca dan catat bacaan benang atas (ba), benang tengah (bt), benang bawah (bb), sudut helling (h), tinggi alatt (Ti);

6. Untuk mendapatkan jarak mirirng digunakan rumus : Dm = (ba-bb)*100 cos h

7. Untuk mendapatkan jarak datar digunakan rumus : D = Dm* Cos2 h atau D = Dm * Sin2 z h = sudut miring, z = sudut zenith

8. Untuk mendapatkan beda tinggi digunakan rumus : ∆H = ½ Dm * sin 2α + Ti - bt

Ilusutrasi pengukuran jarak miring, jarak datar dan beda tinggi dapat dijelaskan seperti gambar berikut :

Judul Modul : Penguasaan Peralatan Ukur

Buku Informasi Edisi : I - 2011 Halaman: 84 dari 92

Gambar 4.61 pengukuran jarak dan beda tinggi

Data ukuran :

1. Sudut m, BA, BT, BB

Rumus : D = 100 (BA – BB) cos2 m 2. Sudut z, BA, BT, BB

Rumus : D = 100 (BA – BB) sin2 z

c) Waterpass

1. Letakkan waterpass pada kaki tiga penyangga atau statip diantara titik A dan B kira-kira di tengah-tengah;

2. Lakukan penyetelan nivo kotak. Sehingga garis jurusan nivo mendatar, sumbu pertama vertikal, sumbu kedua mendatar dan garis bidik tegak lurus sumbu kedua;

3. Posisi penempatan waterpass berada di antara titik yang diketahui elevasinya dengan titik yang akan dicari elevasinya;

4. Bidik rambu belakang dan catat bacaan benang tengah (bt), benang atas (ba) dan benang bawah (bb). Bidikan ini kita anggap bacaan titik A;

5. Bidik rambu muka dan catat bacaan benang tengah (bt), benang atas (ba), dan benang bawah (bb). Bidikan ini kita anggap bacaan titik B;

6. Kurangkan bacaan tengah rambu muka dengan rambu tengah belakang untuk mendapatkan beda tinggi A-B;

btm – btb = ∆HAB

b – a = ∆HAB

Judul Modul : Penguasaan Peralatan Ukur

Buku Informasi Edisi : I - 2011 Halaman: 85 dari 92

∆H

Gambar 4.62 Pengukuran beda tingi dengan waterpass.

Dokumen terkait