Sumber: Rifaskes, 2011
2.1.14 Pengembangan Jaminan Kesehatan Nasional
Periode 2014-2019 adalah periode krusial dalam pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional, yaitu untuk mencapai universal health coverage pada tahun 2019. Agenda utamanya adalah menjamin akses pelayanan kesehatan yang berkualitas bagi seluruh masyarakat terutama masyarakat miskin dan masyarakat di daerah tertinggal. Kartu Indonesia sehat merupakan bentuk dalam upaya untuk menjamin bahwa seluruh penduduk mempunyai akses terhadap pelayanan kesehatan tanpa hambatan finansial. Kartu Indonesia Sehat menjadi bentuk pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) Kesehatan yang menjamin setiap orang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan.
Sebagai upaya dalam mencapai tujuan tersebut peningkatan jumlah kepesertaan perlu menjadi prioritas terutama dengan melakukan integrasi dengan sistem jaminan yang ada termasuk jaminan kesehatan di daerah. Hingga saat ini (sampai dengan Agustus 2014) kepesertaan penduduk dalam jaminan pelayanan kesehatan mencapai sekitar 50,2%. Kepesertaan dalam jaminan kesehatan nasional perlu terus diperluas dengan Kartu Indonesia Sehat termasuk yang telah dilakukan bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). Upaya untuk meningkatkan kepesertaan bagi pekerja non-penerima upah perlu mendapat perhatian khusus. Eksplorasi peningkatan kepesertaan perlu memperhatikan mekanisme besaran dan sistem kontribusi finansial serta paket manfaat yang diterima. Perluasan diperlukan untuk mengurangi hambatan finansial dan memberikan keadilan bagi seluruh penduduk Indonesia.
Selanjutnya, untuk menjamin setiap orang mendapatkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan, Kartu Indonesia Sehat perlu didukung oleh kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan (sisi suplai) yang memadai yaitu meliputi ketersediaan dan mutu sarana, prasarana alat, obat, dan tenaga kesehatan. Saat ini ketersediaan dan mutu pelayanan kesehatan masih belum memadai. Hingga akhir tahun 2013, baru 3.132 dari 26.998 klinik, praktek dokter/doter gigi yang bekerja sama sebagai penyedia layanan JKN. Peningkatan fasilitas penyedia layanan menjadi sangat penting untuk mengurangi antrian pelayanan kesehatan yang terjadi. Tingkat kesiapan pada pelayanan kesehatan
Rancangan Awal RPJMN 2015-2019
| 143
dasar antara lain jumlah Puskesmas yang mempunyai lebih dari 80% persen obat umum baru mencapai 13,2% dan yang mampu memberikan pelayanan kerfarmasian sesuai standar baru mencapai 25%, sementara masih terdapat 9,8% Puskesmas yang tidak memiliki dokter. Pada fasilitas rujukan, jumlah tempat tidur rawat inap baru mencapai 12,6 per 10.000 penduduk, masih di bawah rekomendasi WHO sebesar 25 per 10.000 penduduk. Kemampuan rumah sakit dalam hal tranfusi darah secara umum masih rendah, dengan skor kesiapan rata-rata 55 persen pada rumah sakit pemerintah. Selain itu hanya 8 persen RS pemerintah dan 33 persen RS swasta yang memenuhi seluruh kesiapan bedah komprehensif. Ketersediaan tenaga dokter spesialistik dasar pada rumah sakit tipe C berkisar antara 80-90% dan pada rumah sakit tipe C bahkan baru mencapai sekitar 50%. Kesiapan pelayanan di daerah DTPK dan perdesaan antara lain hambatan geografis serta kualitas pelayanan yang sering terhambat karena keterbatasan ketersediaan tenaga kesehatan.
Dari sisi pelayanan kesehatan rujukan, sistem rujukan antar fasilitas kesehatan belum terintegrasi, demikian juga dengan informasi data klinis (medical record), yang belum tersistematis, serta sistem monitoring dan evaluasi yang belum terbentuk secara terpadu. Sementara itu dalam rangka kendali mutu dan biaya, perlu upaya untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan pada saat yang sama menjaga agar tidak terjadi ekskalasi palayanan dan biaya yang tidak perlu sehingga diperlukan sistem penapisan dan penilaian teknologi kesehatan. Pelayanan kesehatan melalui JKN masih sering dipandang sebagai upaya kuratif dan rehabilitatif, sementara itu pemanfaatannya untuk optimalisasi pencapaian prioritas pembangunan kesehatan dan peningkatan pelayanan kesehatan primer, promotif dan preventif belum dilakukan. Pengembangan dan penyempurnaan perlu terus dilakukan dalam pengelolaan pembayaran kepada penyedia layanan, penetapan paket manfaat, penetapan besaran iuran, standar tarif kepesertaan, kontrol biaya serta berbagai moral hazard penerapan asuransi. Dengan demikian, JKN menjadi salah satu jalan untuk mendorong berbagai prioritas nasional dan menjadi salah satu media untuk meningkatkan pemerataan pembangunan kesehatan.
Tantangan utama dalam pengembangan JKN adalah
mengembangkan manfaat jaminan, proses seleksi dan kontrak penyedia layanan sistem pembayaran penyedia layanan, kemitraan publik dan swasta, meningkatkan kepesertaan sektor informal, memastikan kualitas pelayanan dan pengembangan kapasitas fiskal untuk pembayaran PBI (penerima bantuan iuran), penyediaan fasilitas dan ketenagaan. Sebagai bagian dari sistem kesehatan nasional, selain ditujukan untuk meningkatkan perlindungan finansial, JKN pada
144
|
Rancangan Awal RPJMN 2015-2019kesehatan. Oleh karenanya kebijakan perlu diarahkan pada upaya untuk menjamin ketersediaan, menyiapkan standar, dan menjamin
compliance standar sarana, tenaga, dan manajemen pelayanan kesehatan; menguatkan mekanisme kontrol terhadap eskalasi biaya JKN (klaim); menguatkan JKN sebagai bagian dari SKN untuk mendorong pencapaian tujuan pembangunan kesehatan nasional (misalnya penurunan AKI dan AKB, serta pengendalian penyakit menular dan tidak menular, dan distribusi tenaga kesehatan); penguatan kembali kebijakan kesehatan publik terutama upaya promotif dan preventif; serta meningkatkan kerjasama dengan
penyedia layanan swasta dan pengembangan sistem
pembayaran/insentif bagi penyedia layanan dan tenaga kesehatan.
C. Pendidikan
2.1.5 Pelaksanaan Wajib Belajar 12 Tahun yang Berkualitas
Wajib Belajar (Wajar) 12 Tahun menjadi salah satu agenda utama pembangunan pendidikan yang akan dilaksanakan dalam periode 2015-2019. Peningkatan taraf pendidikan penduduk ini diharapkan dapat mendukung pengembangan karakter termasuk nilai-nilai dan perilaku yang dibutuhkan untuk membangun tradisi masyarakat yang bertanggung jawab dan toleran dalam kehidupan yang multikultur. Pelaksanaan Wajar 12 Tahun juga ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan pengentasan kemiskinan. Upaya Indonesia untuk keluar dari middle income trap hanya akan terealisasi jika tersedia tenaga kerja terampil secara memadai terutama untuk bersaing dalam skala global, termasuk ketika menghadapi perdagangan bebas ASEAN.
Pelaksanaan Wajar 12 Tahun harus mencakup keseluruhan proses pendidikan sampai siswa menyelesaikan jenjang pendidikan menengah. Karena itu, berbagai permasalahan dalam pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun yang belum terselesaikan harus dapat diatasi, agar seluruh siswa yang telah menyelesaikan pendidikan pada jenjang SMP/MTs dan paket Paket B dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah.
Pemenuhan Hak terhadap Pelayanan Pendidikan Dasar yang Berkualitas
Sebagaimana diamanatkan dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, seluruh anak usia 7-15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar. Namun, dalam kenyataan pada tahun 2012 sebagian dari mereka yaitu sekitar 2,12 persen anak usia
7-Rancangan Awal RPJMN 2015-2019
| 145
12 dan 10,48 persen anak usia 13-15 tahun tidak bersekolah. Sebagian kecil dari mereka bahkan tidak/belum pernah sekolah (Gambar xxx). Kesenjangan partisipasi pendidikan juga masih mengemuka, seperti antardaerah, antara kota dan desa, dan antara penduduk kaya dan penduduk miskin. Contoh, kesenjangan APS penduduk usia 13-15 tahun (SMP/MTs) pada kelompok 20 persen termiskin sebesar 81,0 persen dengan kelompok 20 persen penduduk terkaya sebesar 94,9 persen. Isu kesenjangan ini makin mencolok karena cukup banyak di antara anak usia 13-15 tahun dari kelompok miskin yang tidak bersekolah adalah anak-anak yang putus sekolah selama di SD/MI. Sebagian lagi lulus SD/MI tetapi tidak melanjutkan ke jenjang SMP/MTs/sederajat.
GAMBAR 2.8
STATUS PARTISIPASI PENDIDIKAN ANAK USIA 6-18 TAHUN DI INDONESIA
TAHUN 2012
Sumber: Diolah dari data Susenas 2012
Kesenjangan gender sudah tidak tampak di tingkat nasional, tetapi jika dilihat antarkabupaten/kota, perbedaan masih cukup lebar dan berbeda antar kab/kota. Berbagai masalah kesenjangan ini perlu segera diatasi untuk menjamin anak Indonesia usia 7-15 tahun, tanpa
terkecuali, dapat terpenuhi haknya bersekolah dan dapat
menyelesaikan Wajar Dikdas 9 Tahun.
Dengan uraian permasalahan di atas, tantangan yang harus diatasi adalah meningkatkan pemerataan akses ke layanan pendidikan dengan memberikan peluang yang lebih besar bagi anak dari keluarga yang tidak mampu untuk menurunkan kesenjangan akses pendidikan antardaerah, antarstatus sosial ekonomi, dan antarjenis kelamin.
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100% 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Usia Z-10: Lulus SM Z-9: Putus Sekolah di SM Z-8: Sedang sekolah di SM
Z-7: Lulus SMP/MTs tidak melanjutkan Z-6: Putus sekolah di SMP/MTs Z-5: Sedang sekolah di SMP/MTs Z-4: Lulus SD/MI tidak melanjutkan Z-3: Putus sekolah di SD/MI Z-2: Sedang sekolah di SD/MI Z-1: Sedang mengikuti di PAUD Z-0: Tidak/belum pernah sekolah
146
|
Rancangan Awal RPJMN 2015-2019Berkualitas
Pelaksanaan Wajib Belajar (Wajar) 12 Tahun menuntut kinerja maksimal untuk menjamin semua anak terutama yang berusia 7-18 tahun dapat terus bersekolah dan menyelesaikan pendidikan 12 tahun. Permasalahan yang masih ada dalam pelaksanaan pendidikan jenjang menengah ditunjukkan dengan terdapatnya sekitar 2,0 juta anak dari 12,4 juta anak usia 16-18 tahun yang tidak menyelesaikan pendidikan dasar sembilan tahun, bahkan sekitar 100 ribu diantaranya tidak pernah sekolah. Jumlah tersebut belum termasuk 1,4 juta anak yang sudah lulus SMP/MTs tetapi tidak melanjutkan dan 280 ribu anak yang putus sekolah selama menempuh pendidikan di SMA/SMK/MA.
Peningkatan partisipasi pendidikan menengah tidak terjadi secara merata di tanah air. Antara tahun 2009 dan 2012 terdapat beberapa provinsi seperti Jawa Barat, Banten, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Maluku Utara yang mengalami kenaikan APK lebih dari 10 persen. Namun beberapa daerah tidak mengalami peningkatan APK secara berarti meskipun capaian mereka pada tahun 2009 juga masih rendah, seperti Kepulauan Bangka dan Belitung, Kalimantan Barat, dan Papua. Kesenjangan ini harus segera diperkecil dengan memberikan perhatian lebih besar pada daerah dengan kinerja yang kurang baik.
Upaya meningkatkan partisipasi pendidikan menengah sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti ketersediaan fasilitas (availability), daya jangkau terhadap fasilitas (accessibility), daya jangkau pembiayaannya (affordability), kualitas layanan (quality) yang disediakan, dan persepsi terhadap nilai tambah yang diperoleh. Dalam hal ketersediaan fasilitas, ketersediaan sekolah/madrasah jenjang menengah dinilai belum memadai, yang antara lain diukur dengan jarak antara sekolah dan tempat tinggal anak. Sekitar 35 persen siswa SMA/SMK/MA harus menempuh perjalanan lebih dari 4 km atau lebih untuk mencapai sekolah. Perhitungan ini tidak termasuk mereka yang putus sekolah, sehingga jika mereka diperhitungkan, maka jaraknya akan lebih jauh lagi.
Biaya pendidikan yang tinggi menjadi salah satu penyebab rendahnya partisipasi pendidikan menengah pada kelompok miskin. Data tahun 2012 menunjukkan bahwa pada saat angka partisipasi sekolah (APS) anak usia 16-18 tahun pada kelompok 20 persen terkaya sudah mencapai 75,3 persen, APS pada kelompok 20 persen termiskin
Rancangan Awal RPJMN 2015-2019
| 147
baru mencapai 42,9 persen (Gambar xxx). Keterbatasan finansial merupakan alasan utama tidak melanjutkan sekolah. Beratnya beban Keluarga pada kelompok 20 persen paling miskin menanggung beban sangat berat, rata-rata harus mengeluarkan sekitar 50 persen dari total pengeluaran keluarga untuk pendidikan. Pada kelompok terkaya hanya mengeluarkan sekitar 20 persen dari total pengeluaran keluarga untuk pendidikan. Karena itu, pemberian perhatian lebih besar bagi anak-anak dari keluarga miskin termasuk melalui beasiswa sangat penting untuk dilanjutkan.
GAMBAR 2.9
ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH PENDUDUK USIA 16-18 TAHUN MENURUT KELOMPOK PENGELUARAN KELUARGA
TAHUN 2000-2009
Kualitas pendidikan menengah juga masih rendah karena belum semua sekolah memiliki fasilitas memadai untuk mendukung proses belajar mengajar yang berkualitas, meskipun hampir seluruh guru pendidikan menengah sudah berpendidikan S1/D4. Selain itu, masih terdapat sekitar 32,1 persen SMA/SMK yang belum terakreditasi. Kualitas pendidikan yang rendah juga disebabkan banyak sekolah swasta yang dibangun tanpa memperhatikan standar mutu, tetapi lebih karena terbatasnya daya tampung sekolah/madrasah negeri. Pada tahun 2011, dari 26.408 SMA/SMK/MA yang ada, 17.860 di antaranya (67,6 persen) adalah sekolah/madrasah swasta (PODES 2011).
Relevansi pendidikan menengah juga masih rendah yang diindikasikan oleh rendahnya penilaian pelaku usaha terhadap karyawan yang berpendidikan menengah baik umum maupun kejuruan. Sekolah menengah kejuruan juga dianggap belum mampu
2 7 .6 2 9 .9 2 8 .7 4 2 .9 3 6 .8 41.0 43 .4 5 5 .2 4 6 .2 50.4 52.4 6 3 .6 5 5 .9 61.4 62.4 6 8 .4 7 2 .0 7 3 .0 7 2 .7 7 5 .3 0 20 40 60 80 100 2000 2006 2009 2012
148
|
Rancangan Awal RPJMN 2015-2019menjadi pembeda upah (significant wage premium) dan kemudahan
memperoleh pekerjaan dibanding sekolah umum. Tingkat
pengangguran terbuka lulusan SMK juga lebih tinggi (9,88 persen) dibanding dengan lulusan SMA (9,60), dan lulusan dari jenjang pendidikan lainnya (Sakernas 2012). Pendapatan lulusan SMK rata-rata juga lebih rendah dibandingkan lulusan SMA, sementara biaya pendidikan per siswa yang harus disediakan oleh pemerintah dan keluarga jauh lebih banyak untuk siswa SMK dibandingkan siswa SMA.
Selain bidang-bidang yang dikembangkan belum sepenuhnya searah dengan kebutuhan dunia kerja, rendahnya relevansi pendidikan menengah juga disebabkan oleh kurangnya kerjasama lembaga pendidikan dengan industri. Kegiatan magang di industri masih sangat terbatas, terutama karena industri tidak memiliki sumber pembiayaan yang memadai, ketiadaan fasilitas termasuk peralatan untuk pelatihan, kurangnya manfaat yang dirasakan oleh industri, dan kurangnya dukungan peraturan perundangan. Dukungan industri dalam pengembangan kurikulum juga masih sangat terbatas yang antara lain disebabkan oleh komunikasi antara industri dan pengelola pendidikan yang belum dilakukan secara intensif dan berkesinambungan.
Dengan melihat permasalahan tersebut di atas, pembangunan pendidikan menengah pada kurun waktu lima tahun ke depan dihadapkan pada tantangan untuk meningkatkan akses pendidikan menengah melalui Wajar 12 Tahun dengan memberikan dukungan yang lebih besar kepada anak yang berasal dari keluarga tidak mampu, serta meningkatkan kualitas pendidikan menengah dengan penyediaan sarana prasarana dan fasilitasnya. Tantangan berikutnya adalah membangun sistem yang lebih komprehensif melalui penyediaan alternatif pembelajaran yang beragam termasuk diferensiasi kurikulum agar siswa dapat mengembangkan potensi, minat, bakat, dan kecerdasan jamak individu secara maksimal.
2.1.6 Peningkatan Kualitas Pembelajaran
Kualitas pembelajaran di Indonesia dinilai masih belum baik diukur dengan proses pembelajaran maupun hasil belajar siswa. Berbagai studi mengungkapkan bahwa proses pembelajaran di kelas umumnya tidak berjalan secara interaktif. Hasil studi Bank Dunia (2014) menunjukkan, sekitar 74 persen aktivitas kelas dilakukan oleh guru saja, dan hanya sekitar 11 persen yang dilakukan bersama
guru-Rancangan Awal RPJMN 2015-2019
| 149
siswa.1 Bahkan waktu belajar sebagian besar digunakan guru untuk menjelaskan materi dan pemecahan masalah, sementara waktu yang digunakan untuk diskusi dan praktik sangat sedikit. Proses pembelajaran demikian tidak akan menumbuhkan kreativitas siswa dan membangkitkan daya kritis dalam berpikir dan kemampuan analisis siswa, suatu kompetensi yang justru sangat vital dimiliki siswa sebagai hasil dari pembelajaran. Proses pembelajaran yang baik akan terjadi bila guru menerapkan metode discovery learning approach, untuk menggantikan metodeexpository learning approach.
Hasil belajar siswa juga masih belum menggembirakan. Dalam Ujian Akhir Nasional (UAN) tahun 2013, hanya sekitar 56 siswa SMP/MTs dan 66 persen siswa SMA/SMK/MA yang mencapai batas minimal nilai UAN murni. Selain itu, hasil UAN juga masih sangat senjang baik antarsiswa, antarsekolah, maupun antardaerah. Disamping itu, hasil ujian nasional juga mengindikasikan terjadinya kesenjangan gender. Anak perempuan secara rata-rata memperoleh nilai lebih tinggi untuk semua mata pelajaran dibanding anak laki-laki, dengan selisih yang lebih signifikan pada mata pelajaran bahasa Indonesia.
Dalam tes internasional seperti dalam Programme for International Student Assessment (PISA) dan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), hasil belajar siswa Indonesia juga kurang menggembirakan. Nilai rata-rata siswa Indonesia dalam PISA 2012 hanya 396, jauh lebih rendah dari nilai rata-rata negara OECD (497). Sekitar 55,3 persen siswa Indonesia tidak mencapai kecakapan Level-2 yang merupakan kecakapan minimal yang harus dikuasai oleh anak-anak usia 15 tahun. Hasil belajar siswa Indonesia untuk pelajaran matematika dan sains tidak mengalami peningkatkan, bahkan mengalami penurunan dalam 10 tahun terakhir. Hasil PISA juga menunjukkan bahwa hasil belajar anak perempuan lebih baik dibanding dengan proporsi anak perempuan yang tidak mencapai kecakapan Level-2 (47,6 persen) lebih kecil dibandingkan dengan anak laki-laki yang tidak mencapai kecakapan yang sama (62,5 persen).
Terdapat tiga faktor utama terkait dengan rendahnya kualitas proses pembelajaran di Indonesia, yaitu: (a) penguatan jaminan kualitas pelayanan pendidikan; (b) penguatan kurikulum dan pelaksanaannya; dan (c) penguatan sistem penilaian pendidikan. Permasalahan terkait dengan isu-isu tersebut diuraikan sebagai berikut:
1Chang, dkk. 2014. Reformasi guru di Indonesia: Peran politik dan bukti dalam pembuatan kebijakan.
150
|
Rancangan Awal RPJMN 2015-2019Untuk menjembatani pemenuhan SNP, pada tahun 2010 telah
dikeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
(Permendikbud) No. 15 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang kemudian dirubah dalam Permendikbud No. 23 Tahun 2013. Standar pelayanan minimal tersebut ditetapkan sebagai tolok ukur kinerja pelayanan pendidikan dasar di tingkat kabupaten/kota yang merupakan pentahapan dalam pencapaian seluruh standar nasional pendidikan. Dalam peraturan tersebut Pemerintah menetapkan bahwa SPM pendidikan dasar harus tercapai dalam tahun 2014. Namun demikian, capaian pada tahun 2013 menunjukkan hasil yang belum baik. Survei yang dilakukan terhadap 5.280 SD/MI dan SMP/MTs menemukan hanya sekitar 54 persen SMP/MTs yang memiliki ruang laboratorium sains, bahkan hanya sekitar 21 persen MTs swasta yang memiliki ruang laboratorium. Tidak hanya capaian fisik, capaian non-fisik juga masih belum cukup baik. Misalnya, kurang dari 60 persen SD/MI yang semua gurunya menerapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan hanya sekitar 50 persen SD/MI yang semua gurunya mengembangkan dan menerapkan program penilaian untuk membantu meningkatkan kemampuan belajar peserta didik. Infomasi ini dapat menggambarkan bahwa proses pembelajaran dan sistem pendukungnya belum sesuai dengan yang diharapkan.
Jaminan kualitas pendidikan menengah juga belum sepenuhnya diterapkan. Sekitar 32,1 persen SMA/SMK bahkan belum terakreditasi. Lingkungan pembelajaran termasuk ketersediaan fasilitas belum cukup mendukung proses belajar mengajar yang berkualitas, meskipun hampir seluruh guru pendidikan menengah sudah berpendidikan S1/D4. Kondisi ini antara lain juga disebabkan oleh banyaknya sekolah swasta yang dibangun bukan karena tuntutan kualitas yang lebih tinggi dari sekolah/madrasah negeri, tetapi karena ketiadaan atau kurangnya daya tampung SMA/SMK/MA negeri. Pada tahun 2011 dari 26.408 SMA/SMK/MA yang ada (PODES 2011), 17.860 diantaranya (67,6 persen) adalah sekolah/madrasah swasta. Lebih rendahnya kualitas sekolah swasta dapat ditunjukkan oleh lebih banyaknya SMA/SMK/MA swasta yang tidak memiliki fasilitas yang mendukung pembelajaran termasuk perpustakaan dan berbagai laboratorium.
Penguatan Kurikulum dan Pelaksanaannya
Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa kurikulum dikembangkan dengan prinsip
Rancangan Awal RPJMN 2015-2019
| 151
diversifikasi. Kurikulum harus dapat meningkatkan potensi, minat, dan kecerdasan jamak peserta didik, serta memberi peluang penggunaan bahasa ibu, selain bahasa Indonesia, sebagai bahasa pengantar dalam proses pembelajaran.2 Penggunaan bahasa ibu ini penting untuk dua tujuan: (i) memfasilitasi murid yang masih belum fasih berbahasa Indonesia agar lebih mudah mengikuti pelajaran, dan (ii) mencegah kepunahan bahasa ibu akibat berkurangnya penutur di masyarakat. Selain itu, kurikulum juga perlu diselaraskan dengan kebutuhan keterampilan abad ke-21 yang ditandai oleh kesadaran global, penumbuhan kreativitas dan inovasi, serta berbagai macam kemampuan: pemecahan masalah, kerjasama, mencari informasi yang sahih, berkomununikasi dan menggunakan teknologi informasi, serta menjadi warga negara yang bertanggungjawab dan memiliki kapasitas moral yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di kelas maupun di luar kelas. Kurikulum juga harus meningkatkan wawasan dan pemahaman peserta didik dalam membangun ketahanan diri, terutama kesadaran akan pentingnya kesehatan, termasuk kesehatan reproduksi, dan kepedulian terhadap lingkungan, untuk menghindari permasalahan remaja seperti pernikahan dan melahirkan di usia yang terlalu muda, dan penyebaran penyakit menular termasuk HIV/AIDS.
Pemerintah harus dapat memastikan bahwa semua siswa dapat mengikuti kurikulum yang berlaku, sehingga mereka memiliki kompetensi yang sama. Meskipun memicu kontroversi dan mengandang polemik di masyarakat, Kurikulum 2013 resmi diterapkan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di tingkat sekolah. Namun demikian, banyak pihak meragukan efektivitasnya karena berbagai masalah terkait pelaksanaan kurikulum ini belum diselesaikan, yaitu: rendahnya kompetensi guru, lemahnya kepemimpinan pedagogis kepala sekolah, pengawas, dan pegawai pemerintahan. Untuk itu, diperlukan kemampuan dan kemauan sekolah dan guru yang dapat mendorong terjadinya perubahan terutama dalam proses pembelajaran di kelas dan penilaian kinerja siswa. Akuntabilitas sekolah dan transparansi kepada masyarakat, manajemen kinerja guru, penilaian sekolah, dan proses pemantauan yang juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan pelaksanaan
2Di sejumlah sekolah di daerah-daerah terpencil, guru-guru tidak bisa mengajar di sekolah tersebut menggunakan bahasa Indonesia, karena murid-murid masih bertutur dalam bahasa ibu. Dengan menggunakan bahasa ibu sebagai bahasa pengatar dalam pembelajaran, maka akan membantu murid-murid untuk lebih mudah memahami mata pelajaran. Karena itu, penggunaan bahasa ibu seyogianya dapat diterapkan paling kurang sampai kelas 3 Sekolah Dasar.
152
|
Rancangan Awal RPJMN 2015-2019dan pengawas yang sangat sentral dalam menentukan kualitas pendidikan, kompetensi mereka yang masih lemah perlu untuk ditingkatkan.