• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Teknik Aplikasi Entomopatogen

2. Pengendalian kimia

Untuk mencegah perkembangan dan penularan penyakit di hamparan kebun perlu dilakukan pengendalian secara kimia dengan menggunakan fungisida sistemik seperti Fosetyl-Al dosis 8 g bahan aktif per enam bulan. Fungisida ini juga dapat menekan perkembangan PGB (Kharie et al., 1993). Warokka et al. (1989) menyatakan bahwa injeksi akar Aliette CA dan Phosphoric acid dapat mencegah serangan cendawan Phytophthora palmivora. Dosis minimum yang dapat digunakan untuk mencegah serangan penyakit ini adalah 8 g Aliette CA atau 5.6 g Phosphoric acid per pohon per tahun.



Pengendalian Penyakit Busuk Pucuk pada Tanaman Kelapa

124

Pengendalian kimia dianjurkan dilakukan terhadap semua pohon dalam kebun untuk mencegah terinfeksi Phytophthora. Apabila pengendalian kimia hanya dilakukan secara spot, pengendalian dilakukan terhadap pohon terserang dan pohon-pohon disekitarnya sampai pada lapisan kedua dari pohon terserang.

Pelaksanaan pengendalian kimia dilakukan pada saat setelah panen kelapa, hal ini dimaksudkan agar residu pestisida sudah terurai didalam tanaman pada saat panen berikutnya sehingga aman untuk dikonsumsi. Pengendalian kimia dapat dilakukan melalui teknik infus akar, injeksi batang maupun penyemprotan, disesuaikan dengan kondisi tanaman di lapangan.

a. Teknik infus akar

Fungisida sistemik yang diformulasi dalam bentuk cairan seperti Fosetyl-Al 100 CA, Folir-fos dll, lebih efektif jika diberikan melalui infus akar. Langkah-langkah teknik infus akar sebagai berikut: Akar berdiameter 1 cm berwarna merah kecoklatan dipotong rata menggunakan gunting stek, lalu dimasukkan dalam kantong plastik yang berisi cairan fungisida, kemudian bagian ujung plastik diikat dengan kawat halus atau karet gelang.

Akar harus diatur mengarah ke bawah dengan menekan/menahannya menggunakan potongan kayu atau lainnya supaya fungisida dalam kantong plastik tidak terbuang. Kemudian pada bagian atas lubang ditutup dengan potongan kayu atau lainnya agar terhindar dari gangguan hewan atau lainnya. Waktu penyerapan akar untuk 60 ml fungisida berkisar antara 4-6 jam pada keadaan musim panas. b. Teknik Injeksi Batang

Pada dasarnya teknik injeksi batang sama dengan infus akar yaitu mentranslokasikan fungisida dari batang ke seluruh bagian tanaman. Langkah-langkah teknik injeksi batang sebagai berikut: Dibuat lobang pada batang setinggi kurang lebih 75 – 100 cm dari permukaan tanah dengan menggunakan alat bor. Dalamnya lobang berkisar antara 8-10 cm dengan diameter 1-1.5 cm, kemudian fungisida yang telah disiapkan dimasukkan ke dalam lobang dan ditutup/disumbat dengan menggunakan pasak kayu.

Teknik lain yang dapat digunakan adalah dengan alat bor dibuat lobang sedalam 2 cm dengan diameter 1 cm. Kemudian fungisida yang telah disiapkan dalam alat injeksi dimasukkan ke dalam lobang. Alat injeksi ini sudah dirancang sedemikian rupa dengan menggunakan spiral penahan. Waktu yang diperlukan untuk menghabiskan cairan fungisida untuk satu alat injeksi (volume 20 ml) berkisar 10-15 menit (Motulo, 1990).

c. Teknik Penyemprotan

Tindakan ini dilakukan jika pada areal serangan PBP terdapat juga serangan PGB. Jenis fungisida yang dapat digunakan untuk penyemprotan adalah fungsida sistemik maupun kontak. Aplikasi fungsida kontak dilakukan pada tanaman kelapa

Pengendalian Penyakit Busuk Pucuk pada Tanaman Kelapa

terserang PBP agar dapat menghambat dan mematikan cendawan Phytophthora. Langkah-langkah teknik penyemprotan sebagai berikut: Fungisida yang telah dicampur dengan air dimasukkan ke dalam alat semprot (knapsack/Solo) volume 25 liter. Pipa plastik yang dipasang pada alat penyemprot biasanya pendek untuk ukuran tanaman kelapa, maka pipa tersebut dimodifikasi dengan menambah sambungan pipa/selang plastik. Pipa/selang plastik tersebut diikatkan pada bambu (berdiameter 2-3 cm) untuk memudahkan proses penyemprotan. Agar penyemprotan berjalan dengan lancar diperlukan 2 orang untuk melakukan penyemprotan, satu orang memikul alat semprot sambil menggerakkan pompa, sedangkan lainnya memegang bambu semprot yang diarahkan ke mahkota pohon. Sebaiknya penyemprotan dilakukan pada cuaca cerah, atau minimal 2-3 jam sebelum hujan untuk memberi kesempatan tanaman menyerap bahan kimia.

3. Sanitasi

Pembersihan kebun dengan mengeluarkan sumber penyakit seperti buah kelapa yang gugur, kotoran, sisa-sisa buah dan bunga yang terselip pada ketiak daun harus dilakukan untuk mencegah berkembangnya Phytophthora. Buah-buah yang jatuh/ gugur akibat penyakit gugur buah harus dikeluarkan dari kebun dan dibakar.

Dua hal penting yang perlu diperhatikan dalam sanitasi adalah : (a) mencegah masuknya tanaman kelapa terinfeksi atau terkontaminasi cendawan Phytophthora, dan (b) menghindari penanaman tanaman kelapa pada lokasi yang sudah diketahui banyak terserang penyakit ini, terutama pada tanah yang drainasenya jelek (Coffey, 1989).

Serangan PBP dapat menyebabkan kerusakan yang serius pada tanaman kelapa sehingga merisaukan masyarakat perkelapaan karena sudah menyerang tanaman kelapa Dalam yang sebelumnya dikenal lebih resisten terhadap penyakit tersebut. Untuk itu perlu dilakukan tindakan pengendalian terpadu supaya dapat menekan perkembangan penyakit di lapangan.



Pengendalian Penyakit Busuk Pucuk pada Tanaman Kelapa

126

Akuba R.H. 1993. Tekstur tanah sebagai sebagai penciri daerah serangan Phytophthora

palmivora pada kelapa hibrida di Indonesia. Jurnal Penelitian Kelapa 6(2):16-21. Bennett C.P.A., O. Roboth, G. Sitepu dan A. Lolong. 1986. Pathogenicity of

Phytophthora palmivora (Butler) Butler causing prematrure nutfall diseases of coconut (Cocos nucifera L.). Indonesia Journal Crop Scince (2):153-158.

Blaha, G., G. Hall, J.S. Warokka, E. Concibido and C. Ortiz-Garcia. 1994. Phytophthora isolates from coconut plantations in Indonesia and Ivory Coast : Characterisation and identification by morphology and isozyme analysis. Mycological Research, 98:1379-1389.

Brahmana, J., A.V. Lubis and D.R. Chenon. 1992. Evolution of coconut bud disease and strategy of control. Paper presented at coconut Phytophthora Workshop, Manado-Indonesia.

Coffey M.D. 1989. Integrated control of Phytophthora bud rot and premature nutfall of Dwarf and Hybrid coconuts. In: UNDP/FAO Integrated Coconut Pest Control Project. Annual Report 1989. Coconut Research Institute, Manado, North Sulawesi, Indonesia. 32-48.

Duniway, J.M. 1983. Role of physical factors in the development of Phytophthora diseases. In : Phytophthora, Its Biology. Taxonomy, Ecology and Pathology. APS Press. Minnesota. USA.

Guest D. R.H. Akuba, H.F.J. Motulo, P. Herling, S. kharie and J.S. Warokka. 1989. In: UNDP/FAO Integrated Coconut Pest Control Project. Annual Report 1989. Coconut Research Institute, Manado, North Sulawesi, Indonesia. 68-76.

Kharie S., H.F.J. Motulo dan J.S. Warokka. 1993. Pengaruh Fosetyl-Al terhadap perkembangan penyakit busuk pucuk dan gugur buah. Jurnal penelitian Kelapa 6(2):22-26

Lolong A.A. dan J. Mawikere. 1995. Laju infeksi Phytophthora palmivora Butler penyebab penyakit busuk pucuk kelapa. Buletin Balitka (24) : 10-15.

Lolong, A., J.J. Smith and M. Holderness. 1998. Characterisation of Phytophthora diseases of coconut in Indonesia. Paper presented at International Congress of Plant Pathology. Edinburgh, Scotland. Paper number 3.7.87.

Motulo H.F.J. 1990. Teknik pengendalian penyakit Gugur buah pada tanaman Kelapa. Buletin Balitka 11:6-9.

Warokka J.S., H.F.J. Motulo, S. Kharie, H. Mangindaan, Endrizal, Maskar, D. Sitepu, M.D. Coffey and D. Guest. 1989. Chemical control of Phytophthora. In: UNDP/FAO Integrated Coconut Pest Control Project. Annual Report 1989. Coconut Research Institute, Manado, North Sulawesi, Indonesia. 49-64.

Dokumen terkait