• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERANGKA PEMIKIRAN

9. Pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman)

Proses budidaya tanaman tak luput dari Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi tidak semestinya. Pertumbuhan tanaman yang terhambat, tentunya akan berdampak kepada produktivitas yang akan dihasilkan. Sehingga perlu dilakukan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) untuk meminimalisir risiko kerugian yang mungkin terjadi.

Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) merupakan kegiatan untuk mengendalikan hama dan penyakit agar tanaman tumbuh optimal dan secara ekonomis tidak merugikan. Tujuan dilakukannya pengendalian OPT adalah untuk menghindari kerugian ekonomi berupa kehilangan hasil (kuantitas) dan penurunan mutu (kualitas) produk serta untuk menjaga kesehatan tanaman dan kelestarian lingkungan hidup. Alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan ini serta fungsinya akan disajikan pada Tabel 11.

Tabel 10 Alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan pengendalian OPT

Alat Fungsi Bahan Fungsi

Hand sprayer, power sprayer (alat aplikator) Mengaplikasikan pestisda pada tanaman Pestisida (insektisida, fungisida, dan herbisida) yang terdaftar dan diizinkan sesuai dengan Daftar Pestisida dan Kehutanan Mengendalikan OPT serta menurunkan populasi dan intensitas serangan OPT

Ember Mencampur

pestisida dan air

Air Bahan pencampur

pestisida dan bahan pembersih

Pengaduk Mengaduk pestisida dan air

Minyak tanah Membakar sisa-sisa atau bagian tanaman yang terserang OPT Takaran (skala ml

dan liter)

Menakar pestisida dan air

Deterjen Mencuci alat aplikator, mengendalikan hama dan penyakit tertentu

dan pencampur pestisida nabati Kuas, pisau, gunting pangkas, gergaji Membersihkan dan menangkas bagian tanaman yang terserang OPT Formalin 4-8 persen, Alkohol 70 persen, Kloroks satu persen

(Bayelin), dan lysol

Mensucihamakan (desinfektan) alat-alat pertanian (pisau, gunting pangkas, dan gergaji)

Alat/sarana pelindung

Melindungi bagian tubuh dari cemaran bahan kimiawi

Sumber : Direktorat Budidaya dan Pascapanen Sayuran dan Tanaman Obat (2011)

Prosedur pelaksanaan OPT dilakukan dengan pengamatan secara berkala (setiap minggu) dengan mengambil contoh untuk mengetahui jenis hama dan

29 populasinya. Selanjutnya kenali dan identifikasi gejala serangan, jenis OPT, dan musuh alaminya. Setelah itu perkirakan OPT yang perlu diwaspadai dan dikendalikan, baik dalam bentuk hama maupun penyakit. Penggunaan fungisida sistemik maksimal digunakan tiga kali setiap musim untuk mencegah resistensi penyakit busuk daun terhadap fungisida. Bila sangat diperlukan, penyemprotan keempat menggunakan fungisida sistemik dapat digunakan sebagai senjata pamungkas. Dosis penggunaan pestisida disesuaikan dengan rekomendasi yang tertera pada label kemasan. Jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman tomat serta gejala serangan dan pengendalian yang dapat dilakukan disajikan pada Lampiran 6 dan 7.

10.Panen

Kegiatan panen dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh buah dengan tingkat kematangan dan mutu yang sesuai dengan permintaan pasar. Alat dan bahan yang diperlukan dalam kegiatan panen adalah keranjang plastik atau ember yang berfungsi sebagai wadah hasil panen, gunting atau pisau yang digunakan untuk mengangkut buah dari lahan, gerobak untuk mengangkut buah dari lahan, gudang sebagai tempat penyimpanan buah. Untuk memperoleh buah dengan tingkat kematangan sesuai dengan permintaan pasar, prosedur pelaksanaan yang perlu dilakukan adalah:

a. Penyemprotan pestisida sudah dihentikan paling tidak satu hingga dua minggu sebelum panen.

b. Tanaman tomat pertama kali siap dipanen pada umur 75 hari setelah pindah tanam ke lapang atau 90 hari sejak semai bergantung pada varietas, panen selanjutnya dapat dilakukan 3-5 hari sekali hingga buah habis. Buah yang akan dipasarkan jarak dekatdapat dipanen pada tingkat kematangan 90 persen, yaitu ketika buah berwarna kuning kemerahan. Sedangkan untuk pemasaran jarak jauh, sebaiknya buah dipanen pada tingkat kematangan 75 persen atau 3-7 hari sebelum berwarna merah. Sementaera buah yang akan langsung dikonsumsi atau diproses, buah tomat dipetik pada saat buah berwarna merah atau pada kematangan penuh.

c. Cara panen dengan dipetik dan menyertakan tangkai buahnya, selain menggunakan tangan pemetikan dapat menggunakan pisau atau gunting.

Kerangka Pemikiran Operasional

Analisis usahatani tomat dimulai dari potensi dan peluang usahatani tomat yang mendorong petani untuk mengambil peluang tersebut dengan meningkatkan produksi tomat. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas, kontinensi, kuantitas, dan kontinuitas produksi tomat yaitu dengan penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) sebagai acuan Good Agricultural Practice (GAP) budidaya tomat.

Penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) usahatani tomat dibuat dengan tujuan meningkatkan pendapatan petani melalui peningkatan produksi tomat yang dihasilkan. Namun penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) menuntut pelaku usaha untuk menggunakan faktor-faktor produksi tepat guna yang berkualitas, seperti pupuk bersertifikasi, benih bersertifikasi, dan tenaga kerja berkualitas. Penggunaan faktor-faktor produksi berkualitas pada umumnya

30

memiliki pengorbanan, yaitu peningkatan biaya operasional. Secara ekonomi, peningkatan biaya operasional dapat mengurangi pendapatan pelaku usaha. Sehingga penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) belum terbukti secara efektif dan efisien mampu meningkatkan pendapatan petani.

Pendapatan dapat dijadikan sebagai acuan sejauh mana balas jasa yang dihasilkan dari penggunaan faktor-faktor produksi pada kegiatan usahatani yang dilakukan. Pendapatan juga sering dijadikan sebagai indikator kesejahteraan petani. Pada penelitian ini, metode yang digunakan yaitu pengukuran efisiensi usahatani tomat, efektivitas usahatani tomat, serta keberhasilan usahatani tomat dari kedua metode usahatani tomat, yaitu usahatani tomat berbasis Standar Operasional Prosedur (SOP) dan usahatani tomat konvensional.

Efisiensi usahatani tomat diidentifikasi dengan perhitungan dan perbandingan nilai R/C rasio dari kedua metode usahatani. nilai R/C rasio yang dibandingkan adalah nilai R/C rasio tunai dan R/C rasio total. Semakin besar nilai R/C rasio menunjukkan bahwa usahatani tersebut semakin efieisen untuk dilaksanakan. Efektivitas faktor produksi usahatani tomat diidentifikasi melalui faktor produksi yang digunakan dengan fungsi produksi Cobb-Douglas. Tahap identifikasi ini dimulai dari pengumpulan data yang dilanjutkan dengan evaluasi model dugaan untuk mengetahui variabel apa yang berpengaruh secara efektif dalam keberhasilan produksi tomat, yang berakhir pada interpretasi data untuk mengetahui seberapa besar penambahan produksi yang dihasilkan dari hasil peningkatan variabel input. Sedangkan tolak ukur keberhasilan usahatani dapat diketahui dengan mengidentifkasi pengaruh penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang dilakukan petani melalui analisis pendapatan usahatani. Analisis pendapatan usahatani diperoleh dari selisih antara penerimaan yang dihasilkan dan biaya yang dikeluarkan dari kedua metode usahatani tomat. Semakin besar nilai pendapatan usahatani yang diperoleh pelaku usahatani, maka menunjukkanbahwa metode usahatani yang dilakukan tersebut semakin berhasil. Sehingga dapat ditarik kesimpulan mengenai usahatani tomat berbasis Standar Operasional Prosedur (SOP) dengan usahatani tomat konvensional dan dapat dijadikan rekomendasi dalam melaksanakan kegiatan usahatani. Serangkaian pemikiran operasional disajikan pada Gambar 6.

_________Peluang dan potensi________ Potensi alam

Pertumbuhan penduduk, perekonomian, pendapatan, pendidikan, sektor industri dan pariwisata peningkatan konsumsi tomat

_____________Tantangan__________ Persaingan kualitas dan kontinensi serta kuantitas dan kontinuitas

Fluktuasi produksi

Peningkatan produksi tomat melalui penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) Biaya produksi meningkat Produksi tomat meningkat Tolak ukur keberhasilan usahatani

Fungsi Produksi Cobb- Douglass Analisis R/C Ratio

Identifikasi faktor pengaruh produksi tomat Perbandingan sistem usahatani tomat Analisis Pendapatan Usahatani Identifikasi pengaruh penerapan SOP

Rekomendasi untuk meningkatkan produksi tomat & pendapatan usahatani tomat

Pendapatan dan kesejahteraan petani ?

Efisiensi usahatani tomat

Efektivitas faktor produksi usahatani

tomat

Gambar 6 Kerangka pemikiran operasional analisis usahatani tomat berbasis Standar Operasional Prosedur (SOP) di Bandung Barat

Dokumen terkait