• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.2 Audit

2.2.1 Pengertian dan Jenis- jenisAudit

Kata audit berasal dari bahasa latin Audire yang dalam Bahasa Inggris berarti “to hear”.Maksudnya adalah “hearing about the account’s balances”

yaitu mendengarkan kesesuaian akun. Menurut sejarahnya, pada zaman dahulu apabila seorang pemilik organisasi usaha merasa ada suatu

kesalahan/penyalahgunaan, maka ia mendengarkan kesaksian orang tertentu.

Kemudian apabila pemilik organisasi usaha mencurigai adanya kecurangan, maka ia akan menunjuk orang tertentu untuk memeriksa rekening/akun perusahaan. Auditor yang ditunjuk tersebut “mendengar” kemudian “didengar”

pernyataan pendapatnya (opininya) mengenai kebenaran catatan akun perusahaan oleh pihak-pihak yang berkepentingan Gondodiyoto(2007:28).

Ada beberapa pengertian auditing yang dikemukakan oleh beberapa ahli dibidang akuntansi, antara lain :

Menurut Sukrisno Agoes (2012 : 4) :

Auditing adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis, oleh pihak yang independen, terhadap laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen, beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya, dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut.

Menurut Arens, et al. ( 2012 : 4) :

Audit adalah pengumpulan data dan evaluasi bukti tentang informasi untuk menentukan dan melaporkan derajat kesesuaian antara informasi untuk menentukan dan melaporkan derajat kesesuaian antara informasi itu dan kriteria yang telah ditetapkan.

Audit harus dilakukan oleh orang yang kompeten.

Menurut Mulyadi (2014:9) mendefinisikan auditing:

“Auditing adalah suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan serta penyampaian hasil–hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan”.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa audit adalah proses sistematis yang dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen dengan mengumpulkan dan mengevaluasi bahan bukti dan bertujuan memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut. Dalam hal auditing terdapat istilah penting antara lain :

1. Informasi dan kriteria yang telah ditetapkan

Informasi yang digunakan dalam audit harus tersedia dalam bentuk yang dapat diverifikasi dengan kriteria (standar) yang dibuat untuk mengevaluasi informasi tersebut.

2. Bukti audit

Berbagai informasi yang digunakan oleh auditor untuk menentukan apakah informasi yang diaudit dinyatakan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Bukti dapat diperoleh dari kesaksian lisan klien, komunikasi tertulis dengan pihak luar, observasi oleh auditor, dan data elektronik serta data lain tentang transaksi.

3. Kompetensi dan independensi

Auditing harus dilakukan oleh orang yang kompeten, maksudnya adalah orang yang mampu melaksanakan tugasnya sesuai standar teknis profesi.

Artinya, auditor harus memiliki kemampuan untuk memahami kriteria-kriteria yang digunakan dan memiliki kemampuan untuk mengetahui dengan pasti jenis dan jumlah fakta yang dibutuhkan, agar pada akhirnya pemeriksaan dapat menarik kesimpulan yang tepat. Selain itu auditor juga

harus memiliki sikap mental yang independen, sikap ini dibutuhkan dalam pengambilan keputusan yang memihak. Walaupun kompetensi auditor tinggi, hasil audit tidak akan berarti apa-apa jika auditor tidak dapat menjaga independensinya.

4. Pelaporan

Penyusunan laporan audit adalah tahap akhir dalam proses audit yang merupakan penyampaian hasil temuan-temuan auditor kepada pemakai laporan tersebut dan memberitahukan tingkat kesesuaian antara informasi dengan kriteria yang telah ditentukan.

Audit pada umumnya dibagi menjadi tiga golongan (Mulyadi, 2014:30), yaitu : 1. Audit laporan keuangan (financial statement audit)

Audit laporan keuangan adalah audit yang dilakukan oleh auditor eksternal terhadap laporan keuangan kliennya untuk memberikan pendapat apakah laporan keuangan tersebut disajikan sesuai dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan. Hasil audit kemudian dibagikan kepada pihak luar perusahaan seperti kreditor, pemegang saham, dan kantor pelayanan pajak.

2. Audit Kepatuhan (compliance audit)

Audit ini bertujuan untuk menentukan apakah yang diperiksa sesuai dengan kondisi, peraturan, dan undang-undang tertentu. Kriteria-kriteria yang ditetapakn dalam audit kepatuhan berasal dari sumber-sumber yang berbeda. Audit kepatuhan biasanya disebut fungsi audit internal, karena dilakukan oleh pegawai perusahaan.

3. Audit operasional (operational audit)

Audit operasional merupakan pengamatan secara sistematik aktivitas operasi organisasi dalam hubungannya dengan tujuan tertentu. Dalam audit operasioal, auditor diharapkan melakukan pengamatan yang obyektif dan analisis yang komprehensif terhadap operasional-operasional tertentu.

2.2.2 Pengertian Auditor dan Jenis-jenis Auditor

Ditinjau dari sudut profesi akuntan publik, auditor adalah pemeriksaan (examination) secara objektif atas laporan keuangan suatu perusahaan atau organisasi lain dengan tujuan untuk menentukan apakah laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan atau organisasi tersebut (Mulyadi,2014 : 11).

Ada beberapa jenis auditor dewasa ini yang berpraktik. Menurut Mulyadi (2014 : 28) jenis yang paling umum adalah auditor independen, auditor pemerintah, dan auditor intern.

1. Auditor Independen

Auditor independen adalah auditor profesional yang menyediakan jasanya kepada masyarakat umum, terutama dalam bidang audit atas laporan keuangan yang dibuat oleh kliennya. Audit tersebut terutama ditunjukkan untuk memenuhi kebutuhan para pemakai informasi keuangan seperti kreditur, invstor, calon kreditur, calon investor, dan instansi pemerintah

(terutama instansi pajak). Profesi auditor independen memperoleh honorarium dari kliennya dalam menjalankan keahliannya, namun auditor independen harus independen, tidak memihak kepada kliennya. Oleh karena itu, independensi auditor dalam melaksanakan keahliannya merupakan hal yang pokok, meskipun auditor tersebut dibayar oleh kliennya karena jasa yang diberikan tersebut.

2. Auditor Pemerintah

Auditor pemerintah adalah auditor profesional yang bekerja di instansi pemerintah yang tugas pokoknya melakukan audit pertanggungjawaban keuangan yang disajikan oleh unit-unit organisasi atau entitas pemerintah atau pertanggungjawaban keuangan yang ditunjukkan kepada pemerintah.

Auditor yang bekerja di instansi pemerintah pada umumnya di Indonesia terbagi menjadi dua bagian yaitu auditor yang bekerja di Badan Pemeriksa keuangan (BPK) sebagai auditor eksternal dan auditor yang bekerja di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) sebagai auditor internal pemerintah.

3. Auditor Intern

Auditor intern adalah auditor yang bekerja dalam perusahaan (perusahaan negara maupun perusahaan swasta) yang tugas pokoknya adalah menentukan apakah kebijakan dan prosedur yang ditetapkan oleh

manajemen puncak telah dipatuhi, menentukan baik atau tidaknya penjagaan terhadap kekayaan organisasi, menentukan efisiensi dan efektivitas prosedur kegiatan organisasi, serta menentukan keandalan informasi yang dihasilkan oleh berbagai bagian organisasi.

2.2.3 Standar Auditing

Menurut Pernyataan Standar Audit (PSA) No.01 (SA Seksi 150), standar auditing berbeda dengan prosedur auditing. “Prosedur” berkaitan dengan tindakan yang harus dilaksanakan, “Standar” bak dicapai berkenaan dengan kriteria atau ukuran hidup kinerja tindakan dan berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai melalui penggunaan prosedur tersebut. Jadi, berlainan dengan prosedur auditing, standar auditing mencakup mutu profesional (Professional Qualities) auditor independen dan pertimbangan (Judgement) yang dignakan dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporan auditing. Menurut Mulyadi (2014 : 35) terdapat lima macam standar profesional yang diterbitkan oleh dewan sebagai aturan mutu pekerjaan akuntan publik, yaitu:

1. Standar Auditing

Standar auditing merupakan pedoman audit atas laporan keuangan historis.

Standar auditing terdiri dari 10 standar yang dibagi menjadi tiga kelompok standar, yaitu standar umum, standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan. Kesepuluh standar auditing tersebut merupakan landasan konseptual yang dijabarkan ke dalam berbagai Pernyataan

Standar Audit (PSA) untuk memberikan panduan rinci bagi auditor dalam memberikan jasa audit atas laporan keuangan historis kepada masyarakat.

PSA berisi ketentuan-ketentuan dan panduan utama yang harus diikuti oleh akuntan publik dalam melaksanakan perikatan audit. Kepatuhan terhadap Pernyataan Standar Auditing yang dikeluarkan oleh dewan bersifat wajib (mandatory) bagi anggota Ikatan Akuntan Indonesia yang berpraktik sebagai akuntan publik.

Berikut ini adalah 10 standar auditing yang dibagi ke dalam tiga klompok : a. Standar Umum

1) Keahlian dan pelatihan teknis yang memadai 2) Independensi dalam sikap mental

3) Kemahiran profesional dengan cermat dan seksama b. Standar Pekerjaan Umum

1) Perencanaan dan supervisi audit

2) Pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian intern 3) Bukti audit kompeten yang cukup

c. Standar Pelaporan

1) Pernyataan tentang kesesuaian laporan keuangan dengan prinsip akuntansi umum

2) Pernyataan mengenai ketidakkonsistensian penerapan prinsip akuntansi umum

3) Pengungkapan informasi dalam laporan keuangan

4) Pernyataan pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan.

2. Standar Astesi

Standar astesi memberikan kerangka untuk fungsi atestasi bagi jasa akuntan publik yang mencakup tingkat keyakinan taertinggi yang diberikan dalam jasa audit atas laporan keuangan historis maupun tingkat keyakinan yang rendah dalam jasa non audit. Standar ini terdiri dari sebelas standar dan dirinci dalam bentuk Pernyataan Standar Atestasi (PSAT). Termasuk di dalamnya adalah Interprestasi Pernyataan Standar Atestasi (IPSAT), yang merupakan interprestasi resmi yang dikeluarkan oleh dewan terhadap ketentuan-ketentuan yang diterbitkan oleh dewan dalam PSAT.

3. Standar Jasa Akuntansi dan Review

Standar ini memberikan kerangka untuk fungsi non atestasi bagi jasa akuntan publik yang mencakup jasa akuntansi dan review. Standar jasa akuntansi dan review dirinci dalam bentuk Pernyataan Standar Jasa Akuntansi dan Review (PSAR). Termasuk di dalamnya adalah Interprestasi Pernyataan Standar Jasa Akuntansi dan Review (IPSAR), yang merupakan interprestasi resmi yang dikeluarkan oleh dewan Jasa terhadap ketentuan-ketentuan yang diterbitkan oleh dewan dalam PSAR.

4. Standar Jasa Konsultasi

Standar jasa konsultasi memberikan panduan bagi akuntan publik di dalam penyediaan jasa konsultasi bagi masyarakat. Jasa konsultasi pada

hakikatnya berbeda dari jasa atestasi akuntan publik terhadap asersi pihak ketiga. Dalam jasa konsultasi, para praktisi menyajikan temuan, simpulan, dan rekomendasi. Sifat dan lingkungan pekerjaan jasa konsultasi ditentukan oleh perjanjian antara praktisi dan kliennya. Umumnya, pekerjaan jasa konsultasi dilaksanakan untuk kepentingan klien. Standar jasa konsultasi dirinci dalam bentuk Pernyataan Standar Jasa Konsultasi (PSJK) dan di dalamnya termasuk Interpretasi Pernyataan Standar Jasa Konsultasi (IPSJK).

5. Standar Pengendalian Mutu

Standar pengendalian mutu memberikan panduan bagi kantor akuntan publik di dalam melaksanakan pengendalian mutu jasa yang dihasilkan oleh kantornya dengan mematuhi berbagai standar yang diterbitkan oleh Dewan Standar Profesional Akuntan Publik dan Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik yang diterbitkan oleh Kompartemen Akuntan Publik, Ikatan Akuntan Indonesia. Dalam perikatan jasa profesional, kantor akuntan publik bertanggung jawab untuk mematuhi berbagai standar relevan yang telah diterbitkan oleh dewan dan Kompartemen Akuntan Publik. Standar pengendalian mutu dirinci dalam bentuk Pernyataan Standar Pengendalian Mutu (PSM) dan termasuk Interpretasi Pernyataan Standar Pengendalian Mutu (IPSM).

2.3 Pengalaman Kerja Auditor

Pengetahuan auditor tentang audit akan semakin berkembang dengan bertambahnya pengalaman bekerja. Pengalaman bekerja akan meningkat seiring dengan semakin meningkatnya kompleksitas kerja (Rainaldi, 2005 dalam Sri Hasanah 2010)

Widiyanto dan Yuhertina (2005) dalam Sri Hasanah (2010),menyatakan bahwa pengalaman adalah keseluruhan pelajaran yang dipetik oleh seorang dari peristiwa-peristiwa yang dialami dalam perjalanan hidupnya. Pengalaman berdasarkan lama bekerja merupakan pengalaman auditor yang dihitung berdasarkan suatu waktu/tahun, sehingga auditor yang telah lama bekerja sebagai auditor dapat dikatakan auditor berpengalaman.

Indri (2005) dalam Trimanto dan Puti (2010) memberikan kesimpulan bahwa seseorang yang memiliki pengalaman kerja yang tinggi akan memiliki keunggulan dalam beberapa hal diantarnya:

a. Mendeteksi kesalahan b. Memahami kesalahan

c. Mencari penyebab munculnya kesalahan

Keunggulan tersebut bermanfaat bagi pengembangan keahlian. Berbagai macam pengalaman yang dimiliki individu akan mempengaruhi pelaksanaan

suatu tugas. Seseorang yang berpengalaman memiliki cara bepikir yang lebih terperinci, lengkap, dan sophisticated dibadingkan seseorang yang belum berpengalaman. Menurut pendapat Tubbs (1992) dalam Susetyo (2009) jika seorang auditor berpengalaman maka:

a. Auditor menjadi sadar terhadap lebih banyak kekeliruan

b. Auditor memiliki salah pengertian yang lebih sedikit tentang kekeliruan

c. Auditor menjadi sadar mengenai kekeliruan yang tidak lazim atashal-hal yang terkait dengan penyebab kekliruan departemen tempatterjadinya kekeliruan dan pelanggaran serta tujuan pengendalianinternal menjadi relative lebih menonjol.

Susetyo (2009) mengatakan bahwa seseorang dengan lebih banyak pengalman dalam suatu bidang memiliki lebih banyak hal yang tersimpan dalam ingatannya dan dapat mengembangkan suatu pemahaman yang baik mengenai peristiwa-peristiwa.

Menurut Boner & Walker (1994) dalam Susetyo (2009) menyatakan bahwa peningkatan pengetahuan yang muncul dari penambahan pelatihan formal sama bagusnya dengan yang didapat dari pengalaman khusus dalam rangka memenuhi persyaratan sebagai professional. Auditor harus menjalani pelatihan yang cukup.

2.4 Kode Etik

2.4.1 Pengertian Kode Etik

Etika berasal dari bahasa Yunani Kuno yaitu “ Ethikos” yang berarti timbul dari kebiasaan, adalah cabang utama dari filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk dan tanggung jawab. Etika merupakan filsafat atau pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan moral.

IAPI (2011,seksi 100) menyatakan bahwa:"Kode etik ini menetapkan prinsip dasar dan aturan etika profesi yang harus diterapkan oleh setiap individu dalam Kantor Akuntan Publik (KAP) atau jaringan KAP, baik yang merupakan anggota Ikatan Akuntan Publik Indonesia (lAPI) maupun yang bukan merupakan anggota IAPl, yang memberikan jasa profesional yang meliputi jasa assurance dan jasa selain assurance seperti yang tercantum dalam standar profesi dan kode etik profesi".

Kesimpulannya diatas dapat disimpulkan bahwa, Kode Etik Auditor adalah sebagai sikap hidup untuk memenuhi kebutuhan pelayanan profesional dari klien dengan keterlibatan dan keahlian sebagai pelayanan dalam rangka kewajiban masyarakat sebagai keseluruhan terhadap para anggota masyarakat yang membutuhkannya dengan disertai refleksi yang seksama.

Lestari (2012) mengemukakan bahwa etika sebagai seperangkat aturan atau norma atau pedoman yang mengatur perilaku manusia, baik yang harus dilakukan maupun yang harus ditinggalkan yang dianut oleh sekelompok atau segolongan manusia atau masyarakat atau profesi.

Menurut Halim (2008) salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kualitas audit adalah ketaatan auditor terhadap kode etik, yang terefleksikan oleh sikap independensi, obyektivitas, integritas dan lain sebagainya. Kode etik IAI yang ditetapkan dalam Kongres VII Ikatan Akuntan Indonesia di Jakarta tahun 2011 terdiri atas:

a. Kode Etik Umum

Terdiri dari 8 (delapan) prinsip etika profesi, yang merupakan landasan perilaku etika professional, memberikan kerangka dasar bagi aturan etika dan mengatur pelaksanaan pemberian jasa professional oleh anggota, yang meliputi:

1) Tanggung jawab profesi

Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebgai profesional, setiap anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukannya.

2) Kepentingan umum

Ciri utama dari suatu profesi adalah penerimaan tanggung jawab kepada publik. Profesi akuntan memegang peran yang penting dimasyarakat,

dimana publik dari profesi akuntan yang terdiri dari klien, pemberian kredit, pemerintah, pemberian kerja, pegawai, investor, dunia bisnis, dan keuangan, daerah pihak lainnnya bergantung kepada obyektifitas dan integrritas akuntan dalam memelihara berjalannya fungsi bisnis secara tertib.

3) Integritas

Adalah suatu elemen karakter yang mendasari timbulnya pengakuan profesional.Integritas merupakan kualitas yang melandasi kepercayaan publik dan merupakan patokan untuk menguji semua keputusan yang diambilnya.

4) Obyektifitas

Adalah suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa diberikan anggota.

Prinsip obyektivitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak memihak, jujur secara intelektual, tidak berprasangka, serta bebas dari benturan kepentingan atau berada dibawah pengaruh pihak lain.

5) Kompetensi dan kehati-hatian profesional

Kompetensi diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman sedangkan kehati-hatian profesional mengharuskan anggota untuk memenuhi tanggungjawab profesionalnya dengan kompetensi dan kehati-hatian professional

6) Kerahasian

Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selalu melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak dan kewajiban profesional atau hukum untuk mengungkapkannya.

7) Prilaku profesional

Setiap anggota harus berperilaku dan konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.

8) Standar Teknik

Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesinalnya sesuai dengan standar teknis profesional yang relevan. Standar teknis dan standar profesional yang harus ditaati anggota adalah standar yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), badan pengawas, dan peraturan perundang-undangan yang relevan.

b. Kode Etik Akuntan Kompartemen

Kode Etik Akuntan Kompartemen disahkan oleh Rapat Anggota Kompartemen dan mengikat seluruh anggota Kompartemen yang bersangkutan.

c. Interprestasi Kode Etik Akuntan Kompartemen, merupakan panduan penerapan Kode Etik Akuntan Kompartemen.

2.5 Skeptisisme Profesional Auditor

2.5.1 Pengertian Skeptisisme Profesional Auditor

Skeptisme berasaldari kata“skeptis”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti sikap meragukan, mencurigai, dan tidak memercayai kebenaran suatu hal, teori, ataupun pernyataan.

Skeptisme professional auditor adalah sikap yang selalu meragukan dan mempertanyakan segala sesuatu, dan menilai secara kritis bukti audit serta mengambil keputusan audit berlandaskan keahlian auditing yang dimilikinya.

Skeptisme bukanlah sikap sinis, tetapi merupakan sikap yang mengharapkan untuk mempertanyakan, meragukan atau tidak setuju dengan penyajian klien.Tetapi hal ini bukan berarti auditor harus menanamkan asumsi bahwa manajemen tidak jujur dan juga menganggap bahwa kejujuran manajemen tidak dipertanyakan lagi (SA Seksi 230, SPAP 2011).

Dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SA Seksi 200, SPAP 2011) dikenal istilah “Skeptisme Profesional”. Skeptisme profesional mencakup kewaspadaan terhadap hal-hal berikut ini:

a. Bukti audit yang bertentangan dengan bukti audit lain yang diperoleh b. Keadaan yang mengindikasikan adanya kemungkinan kecurangan c. Kondisi yang menyarankan perlunya prosedur yang disyaratkan oleh

Standar Audit

d. Informasi yang menimbulkan pertanyaan tentang keandalan dokumen dan tanggapan terhadap permintaan keterangan yang digunakan

sebagai bukti audit.

Mempertahankan Skeptisme profesional selama audit diperlukan jika auditor berusaha untuk mengurangi risiko seperti misalnya:

1) Kegagalan dalam melihat kondisi-kondisi tidak lazim

2) Terlalu menyamaratakan kesimpulan ketika menarik kesimpulan tersebut dari observasi audit

3) Menggunakan asumsi yang tidak tepat dalam menetapkan sifat,saat, dan luas prosedur audit serta penilaian atas hasilnya

Skeptisme diperlukan dalam penilaian penting atas bukti audit. Hal ini mencakup sikap mempertanyakan bukti audit yang kontradiktif, keandalan dokumen dan respons terhadap pertanyaan, dan informasi lain yang diperoleh dari manajemen dan pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola. Hal ini juga mencakup pertimbangan mengenai kecukupan dan ketepatan bukti audit yang diperoleh sesuai kondisi perikatan, sebagai contoh dalam hal ketika terdapat faktor risiko kecurangan dan suatu dokumen tunggal, yang rentan terhadap kecurangan, merupakan satu-satunya bukti pendukung bagi suatu angka material dalam laporan keuangan.

2.5.2 Pentingnya Skeptisisme

Pentingnya Skeptisme banyak ditekankan oleh berbagai jenis profesi.

Umumnya profesi yang membutuhkan Skeptisme adalah profesi yang berhubungan dengan pengumpulan dan penilaian bukti - bukti secara kritis, dan melakukan pertimbangan pengambilan keputusan berdasarkan bukti yang dikumpulkan. Profesi - profesi yang dirujuk antara lain, detektif, polisi, auditor, pengacara dan hakim. Namun, dari berbagai bidang profesi dan akademis yang membutuhkan Skeptisisme hanya auditor yang menyaratkan Skeptisisme dalam standar profesionalnya Hurtt (2013).

Faktanya, Skeptisisme dalam auditing sangat penting karena:

a. Skeptisisme merupakan syarat yang harus dimiliki auditor yang tercantum didalam standar audit (SPAP).

b. Perusahaan-perusahaan audit internasional mensyaratkan penerapan Skeptisisme dalam metodologi audit mereka.

b. Skeptisisme merupakan bagian dari pendidikan dan pelatihan auditor.

c. Literatur akademik dan profesional dibidang auditing menekankan pentingnya Skeptisisme.

Skeptisisme akan membantu auditor dalam menilai dengan kritis resiko yang dihadapi dan memperhitungkan resiko tersebut dalam bermacam-macam keputusan untuk menerima atau menolak klien, memilih metode dan teknik audit yang tepat, menilai bukti-bukti audit yang dikumpulkannya dan seterusnya.

2.6 Kualitas Audit

Audit merupakan hal yang sangat penting di dalam suatu perusahaan karena memberikan pengaruh besar dalam kegiatan perusahaan. Audit merupakan proses untuk memberikan informasi yang akurat mengenai aktivitas ekonomi suatu perusahaan. Audit dilaksanakan oleh pihak yang kompeten, profesional, dan tidak memihak atau dapat dipengaruhi oleh pihak lain, yang disebut auditor.Auditor mempunyai peranan yang sangat penting dalam pengambilan keputusan hasil audit.

Audit memiliki fungsi sebagai proses untuk mengurangi ketidakselarasan informasi yang terdapat antara manajer dan para pemegang saham dengan menggunakan pihak luar untuk memberikan pengesahan terhadap laporan keuangan. Para pengguna laporan keuangan terutama para pemegang saham akan mengambil keputusan berdasarkan pada laporan yang telah dibuat oleh auditor. Hal ini berarti auditor mempunyai peranan penting dalam pengesahan laporan keuangan suatu perusahaan. Oleh karena itu auditor harus menghasilkan audit yang berkualitas sehingga dapat mengurangi ketidakselarasan yang terjadi antara pihak manajemen dan pemilik.

Alim dkk (2007) mendefinisikan bahwa kualitas audit sebagai probabilitas dimana seorang auditor menemukan dan melaporkan tentang adanya suatu pelanggaran dalam sistem akuntansi kliennya. Terdapat dua belas atribut kualitas audit menurut Behn (2002), dalam Nataline (2007) yaitu:

a. Pengalaman melakukan audit (auditor experience)

Pengalaman merupakan atribut yang penting yang harus dimiliki oleh auditor.Hal ini terbukti dengan tingkat kesalahan yang dibuat oleh auditor yang tidak berpengalaman lebih banyak daripada auditor berpengalaman.

b. Memahami industri klien (industry expertise)

Auditor harus mempertimbangkan hal-hal yang mempengaruhi industri tempat operasi suatu usaha seperti kondisi ekonomi, peraturan pemerintah serta perubahan teknologi yang berpengaruh terhadap auditnya.

c. Responsif atas kebutuhan klien (responsiveness)

Atribut yang membuat klien memutuskan pilihannya terhadap suatu KAP adalah kesungguhan KAP tersebut memperhatikan kebutuhan kliennya.

d. Taat pada standar umum (technical competence)

Kredibilitas auditor tergantung kepada kemungkinan auditor mendeteksi kesalahan yang material dan kesalahan penyajian serta kemungkinan auditor akan melaporkan apa yang ditemukannya. Kedua hal tersebut mencerminkan terlaksananya standar urnum.

e. Independensi (independence)

Independensi adalah sikap yang diharapkan dari seorang akuntan publik

Independensi adalah sikap yang diharapkan dari seorang akuntan publik