BAB III METODE PENELITIAN
3. Operasional VariabelPenelitian
3.9 Populasi dan Sampel
Akdon (2012:37) menyatakan populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang menjadi kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Dalam penelitian ini, populasi yang digunakan mencakup seluruh auditor yang bekerja di Kantor Akuntan Publik wilayah Jakarta Selatan yang terdaftar pada Directory Kantor Akuntan Publik yang dikeluarkan IAPI.
b. Sampel
Sampel adalah suatu himpunan bagian dari populasi, sampel terdiri atas sejumlah anggota yang dipilih dari populasi (Sekaran, 2006).
Metode pengambilan sampel yang digunakan peneliti yaitu Purposive Sampling yaitu teknik pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu dari peneliti dengan kriteria sample nya yaitu : 1. Sampel merupakan auditor yang bekerja di KantorAkuntan Publik (KAP) yang ada diwilayah Jakarta Selatan .
2. Jenjang Pendidikan di Akuntansi minimal S1
3. Pengalaman Audit setidaknya 1 (satu) Tahun,hal ini dilakukan karena auditor tersebut telah memahami pekerjaan audit.
3.10 Metode dan Analisis Data 3.10.1 Pengujian Instrumen Penelitian
Analisis data adalah suatu metode atau cara untuk mengolah sebuah data menjadi informasi sehingga karakteristik data tersebut menjadi mudah untuk dipahami dan juga bermanfaat untuk menemukan solusi permasalahan, yang tertutama adalah masalah yang tentang sebuah penelitian. Dalam penelitian ini dengan bantuan program Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) ini data yang dianalisis menggunakan uji-uji di bawah ini :
1. Uji Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan sesuatu instrument (Arikunto, 2013:211). Suatu pernyataan dikatakan valid jika pernyataan tersebut mampu untuk mengukur apa yang perlu diukur dan mampu mengungkapkan apa yang ingin diungkap.
Jika rhitung> rtabel dengan α = 0.05, dimana df = n–k-1 maka instrumen atau item-item pertanyaan berkorelasi signifikan tehadap skor total atau dinyatakan valid. Jika rhitung< rtabeldengan α = 0,05, maka instrumen atau item-item pertanyaan tidak berkorelasi signifikan terhadap skor total atau dinyatakan tidak valid.
2. Uji Reliabilitas
Menurut Saifuddin (2012:110), reliabilitas menunjuk pada pengertian bahwa instrumen yang digunakan dapat mengukur sesuatu yang diukur secara konsisten dari waktu ke waktu. Syarat kualifikasi suatu instrumen pengukur adalah konsisten atau tidak berubah-ubah. Instrumen yang diuji reliabilitasnya adalah instrumen yang dibuat oleh peneliti. Dalam hal ini instrumen tersebut adalah instrumen komponen konteks, masukan, proses dan hasil. Reliabilitas ditentukan atas dasar proporsi varian total yang merupakan varian total sebenarnya. Makin besar proporsi tersebut berarti
makin tinggi reliabilitasnya. Untuk menguji reliabilitas instrumen yang akan digunakan dalam penelitian ini digunakan rumus koefisien Alpha (Cronbach Alpha) karena skor pada butir-butir instrument merupakan skor bertingkat yaitu antara 1 sampai 4. multiple choice (pilihan ganda) maupun skala bertingkat maka reliabilitasnya dihitung dengan menggunakan rumus Alpha.
1. Nilai Cronbach Alpha > 0,09 maka reabilitas sempurna.
2. Nilai Cronbach Alpha antara 0,07 - 0,09 maka reabilitas tinggi.
3. Nilai Cronbach Alpha antara 0,05 – 0,07 maka reliabilitas moderat.
4. Nilai Cronbach Alpha < 0,05 maka reliabilitas rendah.
3.10.2 Transformasi data ordinal ke interval
Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data yang berskala ordinal (menggunakan skala likert) sehingga data tidak dapat langsung dianalisis dengan menggunakan statistic parametik seperti regresi. Maka diperlukan transformasi data dari ordinal menjadi interval untuk memenuhi sebagian syarat analisis parametrik (Ridwan&Pancoro,2008:30).
Data berskala ordinal harus diubah dulu kedalam data interval dengan menggunakan rumus :
�� = � + �� − � S
Dimana :
Ti : Skor baku (data interval) Xi : Skor mentah (data ordinal) X : Rata – rata (mean)
S : Standar deviasi
3.10.3 Uji Asumsi Klasik
Sebelum data dianalisis lebih lanjut menggunakan analisis regresi berganda, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik yang terdiri dari uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, dan uji auto korelasi.
a. Uji Normalitas
Menurut Imam Ghozali (2013: 160) uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal, bila asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil. Uji normalitas data dilakukan dengan uji Kolmogorov Smirnov Test pada kolomAsymp SIG (2-tailed) yaitu jika p value (sig) > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa data yang diambil dari populasi terdistribusi normal.
b. Uji Heteroskedastisitas
Menurut Imam Ghozali (20113:139), uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke mengamatan lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut Homoskedastisitas dan jika berbeda disebut Heteroskedastisitas.
Uji heteroskedastisitas dalam regresi ini menggunakan scatter plot.
Scatter plot sendiri menrupakan sebuah grafik yang diplot poin atau titik yang menunjukan hubungan antara dua pasang data. Heteroskedastisitas berarti variasi (varians) variabel tidak sama untuk semua pengamatan.
”Pada heteroskedastisitas, kesalahan yang terjadi tidak random (acak) tetapi menunjukan hubungan yang sistematis sesuai dengan besarnya satu atau lebih variabel bebas” (Iqbal Hasan, 2008:281).
c. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variable bebas (independen).
Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variable independen.Jika variable independen saling berkorelasi, maka variabel-variabel ini tidak orthogonal.Uji Multikolinearitas dapat dilihat dari (1) nilai tolerancedan lawannya (2) Variance Inflation Factors (VIF).
Jika tolerance≤ 0.10 atau sama dengan nilai VIF ≥ 10 maka terjadi multikolinearitas, (Ghozali,2013 : 103).
d. Uji Auto Korelasi
Tujuan dari uji autokorelasi adalah untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi linier ada korelasi antara kesalah pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya).Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi.Model regresi yang baik adalah tidak terjadi autokorelasi (Santoso, 2010).Jenis pengujian yang dilakukan untuk mengetahui autokorelasi dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan uji Durbin-Watson. Dengan ketentuan sebagai berikut : a) Jika d lebih kecil dari dL atau lebih besar dari (4-dL) maka hipotesis
nol ditolak, yang berarti terdapat autokorelasi.
b) Jika d terletak antara dU dan (4-dU), maka hipotesis nol diterima, yang berarti tidak ada autokorelasi.
c) Jika d terletak antara dL dan dU atau diantara (4-dU) dan (4-dL), maka tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti.
3.10.4 Analisis Korelasi
Analisa korelasi bertujuan untuk mengukur kekuataan asosiasi (hubungan) linear antara dua variabel. Korelasi tidak menunjukkan hubungan fungsional atau dengan kata lain analisis korelasi tidak membedakan antara variabel dependen dengan variabel independen (Ghozali, 2013 : 93).
Koefisien korelasi ini untuk menunjukkan seberapa besar hubungan yang terjadi anatar variabel independen yaitu pengaruh pengalaman kerja auditor (X1), kode etik (X2),dan skeptisisme profesional auditor (X3) terhadapkualitas audit (Y). Nilai korelasi (r) berkisar antara 0 sampai 1, nilai semakin mendekati 1 berarti hubungan yang terjadi semakin kuat, sebaliknya nilai semakin mendekati 0 maka hubungan yang terjadi semakin lemah. Analisa korelasi (r) digunakan untuk megetahui hubungan antara dua atau lebih variabel independen (X1,X2,X3) terhadap variabel dependen (Y) secara bersama-sama.Selain itu untuk mengetahui derajat hubungan antara variabel bebas (independent variable) dengan variabel terikat (dependent variable). Koefisien korelasi memiliki nilai antara -1 dan +1, hal ini menunjukkan arah korelasi, makna dari sifat korelasi. Apabila nilai r = -1 artinya korelasi negative sempurna, r = 0 artinya tidak ada korelasi dan r = 1 berarti korelasi sangat kuat.
Sifat dari korelasi tersebut akan menentukan arah dari korelasi. Keeratan atau kekuatan korelasi dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Nilai 0,00 – 0,20 korelasi memiliki keeratan yang sangat lemah.
2. Nilai 0,21 – 0,40 korelasi memiliki keeratan yang lemah.
3. Nilai 0,41 – 0,70 korelasi memiliki keeratan yang cukup kuat.
4. Nilai 0,71 – 0,90 korelasi memiliki keeratan kuat.
5. Nilai 0,91 – 0,99 korelasi memiliki keeratan yang sangat kuat 6. Nilai 1 berarti korelasi sempurna.
3.10.5 Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik analisis regresi linear berganda.Analisis ini dipilih dalam penelitian karena memiliki variabel independen lebih dari satu. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran secara langsung koefisien regresi atau besarnya pengaruh masing-masing variabel independen (bebas) yaitu Pengalaman Kerja(X1),Kode Etik (X2), dan Skeptisisme Profesional Auditor (X3) terhadap variabel dependen (terikat) Kualitas Audit (Y). Analisis linear berganda dapat dirumuskan sebagai berikut :
Y = a + � � + � � + � � +∑
Dimana :
Y : Kualitas Audit
a : Nilai Konstanta ( nilai Y jika X=0)
� : Pengalaman Kerja
� : Kode Etik
� : Skeptisisme Profesional Auditor
� : Koefisien Variabel X
∑ :Variabel lain yang mempengaruhi Y atau Estimated Eror
3.11 Koefisien Determinasi (� )
Pada koefisien determinasi (� ) mengukur seberapa jauh variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen. Nilai � adalah 0 dan 1 (0<� <1), dimana suatu regresi yang baik akan menghasilkan nilai � yang tinggi. Hal ini berarti bahwa keseluruhan variabel bebas secara bersama-sama mampu menerangkan variabel terikatnya.Sedangkan nilai � yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel dependen sangat terbatas.
3.12 Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis digunakan untuk menguji apakah hasil koefisiensi regresi yang diperoleh signifikan. Pengujian ini dilakukan terhadap tiga variabel independen (bebas), apakah memiliki pengaruh yang signifikan atau tidak terhadap variabel dependen (terikat) baik secara parsial maupun secara simultan. Pengujian ini terdiri dari :
a. Uji Regresi Parsial (Uji Statistik t)
Uji statistik t digunakan untuk mengetahui apakah dalam model regresi variabel bebas secara parsial berpengaruh terhadap terhadap variabel terikat.Nilai signifikan < 0.05 maka variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen (H0 ditolak dan Ha diterima), sedangkan nilai signifikan >
0.05 maka variabel independen tidak berpengaruh terhdapa variabel dependen (H0 diterima dan Ha ditolak).
b. Uji Regresi Simultan (Uji Statistik F)
Uji F ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh secara bersama-sama (simultan) variabel-variabel independen secara signifikan terhadap variabel dependen. Pembuktian dilakukan dengan cara membandingkan nilai �ℎ� ��dengan � ��pada tingkat kepercayaan 5% dan derajat kebebasan (degree of freedom) df = (n-k-1) dimana n adalah jumlah responden dan k jumlah variabel. Kriteria pengujian yang digunakan adalah sebagai berikut.
1. Jika nilai probabilitas > 0,05 maka variabel independen secara simultan tidak signifikan mempengaruhi variabel terikat.
2. Jika nilai probabilitas < 0,05 maka variabel independen secara simultan signifikan mempengaruhi variabel terikat.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskriptif Data
4.1.1 Hasil Kuesioner yang Disebar
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di KAP Jakarta Selatan diperoleh data melalui kuesioner yang disebar melalui responden melalui beberapa pernyataan mengenai pengaruh pengalaman kerja, kode etik dan skeptisisme profesional auditor terhadap kualitas audit. Sedangkan pengolahan data dalam skripsi ini menggunakan program Microsoft Excel dan Statistical Package fo the Sosial Science (SPSS) versi 23.0.
Kuesioner yang disebarkan berjumlah 100 kuesioner dan jumlah kesioner yang kembali adalah sebanyak 83 kuesioner atau 83%.Kuesioner yang tidak kembali sebanyak 17 kuesioner atau 17%. Berikut adalah hasil tingkat pengembalian kuesioner yang telah diterima dapat dilihat pada tabel 4.1 di bawah ini :
Tabel 4.1
2. Kantor Akuntan Publik Junaedi, Chairul dan Subyakto
10. Kantor Akuntan Publik Gatot Permadi Joewono & Rekan penelitian ini sebesar 83% dengan demikian dapat dilanjutkan dengan uji empiris (statistik) untuk mengukur pengaruh antara variabel independen yaitu Pengalaman Kerja (X1), Kode Etik (X2), dan Skeptisisme Profesional
Auditor(X3), terhadap variabel dependen yaitu Kualitas Audit (Y).
Rekapitulasi data distribusi hasil penelitian adalah sebagai berikut : Tabel 4.2
Data Sampel Penelitian
No Keterangan Jumlah Prosentase
1. Jumlah kuesioner yang disebar 100 100%
2. Jumlah kuesioner yang tidak kembali 17 17%
3. Jumlah kuesioner yang dapat diolah/valid 83 83%
Sumber : Data diolah
Pengelolaan data dalam penelitian ini menggunakan program SPSS versi 23.0.Data yang diolah adalah pemahaman responden, mengenai pengaruh pengalamn kerja, kode etik dan skeptisisme profesional auditor terhadap kualitas audit.Data demografi responden tabel di bawah ini menyajikan beberapa karakteristik responden sebagai berikut :
4.1.2 Profil Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Berdasarkan jenis kelamin dibagi menjadi dua kategori, yaitu laki-laki dan perempuan. Pada tabel 4.3 dapat dilihat persentase responden laki-laki dan perempuan sebagai berikut :
Dari data karakteristik responden berdasarkan data jenis kelamin pada tabel 4.3 di atas, maka jumlah responden terbesar adalah responden yang berjenis kelamin laki-laki yaitu berjumlah 66 responden atau 79,5%.
Sedangkan responden yang terkecil berjenis kelamin wanita yaitu berjumlah 17 responden atau 20,5%.Untuk persentase responden tertinggi di keterangan diatas di dominasi laki-laki.
4.1.3 Profil Responden Berdasarkan Usia
Berdasarkan usia, peneliti membagi menjadi 3 kategori, yaitu 25-35 tahun, 36-45 tahun, dan 35-40 tahun. pada tabel 4.4 berikut ini dapat dilihat responden atau 48,2%. Sedangkan usia responden terkecil adalah berusia 35-40 tahun yaitu 19 responden atau 22,5% dan sisanya berusia 25-30 tahun
sebanyak 24 responden atau 29,3%. Untuk persentase responden tertinggi di keterangan diatas di dominasi usia 30-35 tahun.
4.1.4 Profil Responden Berdasarkan Pendidikan
Berdasarkan pendidikan, peneliti membagi kategori ini dalam tiga bagian gelar akademik tertinggi yang dimiliki oleh responden yaitu : Strata 1, Strata 2.
Dari kuesioner yang disebar peneliti, dapat diketahui hasilnya pada tabel 4.5 sebagai berikut :
Tabel 4.5
Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid S1 63 75,9 75,9 75,9
S2 20 24,1 24,1 100,0
Total 83 100,0 100,0
Sumber Data :Output SPSS 23
Dari data karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan pada tabel 4.5 di atas, dapat dilihat bahwa responden tertinggi dengan nilai persentase untuk pendidikan terakhir S1 berjumlah 63 responden atau 75,9%, di bandingkanpendidikan terakhir S2 lebih sedikit yaitu berjumlah 20 responden atau 24,1%.Untuk persentase responden dengan tingkat tertinggi di keterangan diatas di dominasi pendidikan terakhir S1.
4.1.5 Profil Responden Berdasarkan Jabatan
Berdasarkan jabatan di Kantor Akuntan Publik, peneliti membagi menjadi 4 kategori yaitu partner, manajer, supervisor, senior auditor dan junior auditor. Dari kuesioner yang disebar peneliti persentase jabatan responden ditabel 4.6 sebagai berikut :
Tabel 4.6
Karakteristik Responden Berdasarkan Jabatanya Frequency Percent Valid
Percent
Cumulative Percent
Valid Manager 22 26,5 26,5 26,5
Supervisor 35 42,2 42,2 68,7
Senior_Auditor 21 25,3 25,3 94,0
Junior_Auditor 5 6,0 6,0 100,0
Total 83 100,0 100,0
Sumber Data :Output SPSS 23
Dari data karakteristik responden berdasarkan jabatannya pada tabel 4.6 di atas, maka jabatan terakhir dengan persentase paling terendah yaitu junior auditor sejumlah 5 responden atau 6,0 %, senior auditor sejumlah 21 responden atau 25,3%, supervisor mengisi 35 responden atau 42,2%, dan jabatan manager sejumlah 22 responden atau 26,5%.Untuk responden berdasarkan jabatannya dengan nilai persentase tertinggi di keterangan diatas yaitu supervisor.
4.1.6 Profil Responden Berdasarkan Lama Bekerja
Metode pengambilan sampel yang digunakan peneliti yaitu Purposive Sampling yaitu teknik pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu dari peneliti dengan kriteria sample nya yaitu berdasarkan masa kerja yang dimiliki auditor, peneliti membagi menjadi 5 kategorinya yaitu lama bekerja minimal 1 tahun. Hal ini dapat dilihat dari persentase masa kerja auditor sehingga akan dapat rata-rata keseluruhan masa kerja auditor yang dapat dilihat dari tabel 4.7 di bawah yaitu sebagai berikut :
Tabel 4.7 tahun berjumlah 16 responden atau 19,5%, 2-3 tahun berjumlah 23 responden atau 28,0%, 3-6 tahun berjumlah 24 responden mempunyai persentase tertinggi atau sebesar 29,3% ,serta untuk 10 tahun berjumlah 14 responden atau 15,9%
dan sisanya selama 7-10 tahun dengan persentase terkecil yaitu berjumlah6 responden atau 7,3%.
4.2 Pengujian Instrumen Penelitian 4.2.1 Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner (Ghozali, 2013 : 52). Suatu pernyataan dikatakan valid jika pernyataan tersebut mampu untuk mengukur apa yang perlu diukur dan mampu mengungkapkan apa yang ingin diungkap. Validitas suatu butir pernyataan dapat dilihat pada hasil output SPSS pada tabel item-total statistic. Suatu variabel dikatakan valid apabila r n yang merupakan nilai dari Corrected Item-Total Correlation > dari r el. Nilai r el diperoleh melalui df (degree of freedom) = n-k. Atau df = 83 dengan α = 0,05 didapat r el sebesar 0,2172.
Hasil uji validitas untuk r n (per item) dapat dilihat dalam hasil output SPSS 23.0 pada kolom Corrected Item-Total Correlation seperti yang disajikan pada tabel 4.8 s/d 4.11 sebagai berikut :
1. Uji Validitas Pengaruh Pengalaman Kerja(X1) Correlation (r n ) untuk masing-masing item atau butir pernyataan nilainya lebih besar dari r el (0,2172), sehingga dapat disimpulkan bahwa 6 pernyataan pengaruh terhadap pengalaman kerjaadalah valid.
2. Uji Validitas Kode Etik (X2)
Tabel 4.9
Hasil Uji Validitas Pengaruh Kode Etik Item-Total Statistics Correlation (r n ) untuk masing-masing item atau butir pernyataan nilainya lebih besar dari r el (0,2172), sehingga dapat disimpulkan bahwa 8 pernyataan kode etikadalah valid.
3. Uji Validitas Skeptisisme Profesional Auditor(X3) Tabel 4.10
Hasil Uji Validitas Skeptisisme Profesional Auditor Item-Total Statistics Correlation (r n ) untuk masing-masing item atau butir pernyataan nilainya lebih besar dari r el (0,2172), sehingga dapat disimpulkan bahwa 5 pernyataan untuk variabel skeptisisme profesional auditor adalah valid.
4. Uji Validitas Terhadap Kualitas Audit (Y) Correlation (r n ) untuk masing-masing item atau butir pernyataan nilainya lebih besar dari r el (0,2172), sehingga dapat disimpulkan bahwa 4 pernyataan untuk variabel kepatuhan kepada kualitas auditadalah valid.
4.2.2 Uji Reliabilitas
Uji Reabilitas merupakan konsitensi stabilitas suatu skor dari suatu intrument pengukuran. Suatu kuesioner dapat dikatakan reliable atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten dari waktu ke waktu. Uji reabilitas menunjukkan instrument yang sudah dipercaya dan dapat
menghasilkan data yang dapat dipercaya pula. Reabilitas suatu variabel dapat dikatakan baik jika memiliki nilai Cronbach’s Alpha> 0,70. Pada tabel 4.12 s/d 4.15 berikut ini hasil perhitungan reabilitas dengan menggunakan software IBM SPSS Statistic versi 23.0
1. Uji Reabilitas Variabel Pengaruh Pengalaman Kerja Tabel 4.12
Hasil Uji Reabilitas Statistics Variabel Pengalaman Kerja
Cronbach's Alpha
Cronbach's Alpha Based on
Standardized Items N of Items
,851 ,851 6
Sumber Data : Output SPSS 23
Berdasarkan tabel 4.12 di atas menunjukkan Cronbranch’s Alpha 0,851
> 0,70. Dapat disimpulkan bahwa pernyataan-pernyataan dalam variabel pengalaman kerjaadalah reliable artinya bahwa hasil pengukuran variabel pengalaman kerja bisa dipercaya dan dinyatakan telah handal. Dibuktikan dengan nilai cronbach”s alpha yang berarti variabel pengalaman kerja konsisten lebih dari 0,70.
Standardized Items N of Items
,918 ,918 8
Sumber Data : Output SPSS 23
Berdasarkan tabel 4.13 di atas menunjukkan Cronbranch’s Alpha 0,918
> 0,70. Dapat disimpulkan bahwa pernyataan-pernyataan dalam variabel kode etikadalah reliable artinya bahwa hasil pengukuran variabel kode etik bisa dipercaya dan dinyatakan telah handal. Dibuktikan dengan nilai cronbach”s alpha yang berarti variabel kode etik konsisten lebih dari 0,70.
3. Uji Reabilitas Variabel Skeptisisme Profesional Auditor Tabel 4.14
Hasil Uji Reabilitas Statistics Variabel Skeptisisme Prefesional Auditor
Cronbach's Alpha
Cronbach's Alpha Based on
Standardized Items N of Items
,829 ,835 5
Sumber Data : Output SPSS 23
Berdasarkan tabel 4.14 di atas menunjukkan Cronbranch’s Alpha 0,829>
0,70. Dapat disimpulkan bahwa pernyataan-pernyataan dalam variabel variabel skeptisisme profesional auditor adalah reliable artinya bahwa hasil variabel skeptisisme profesional auditor bisa dipercaya dan dinyatakan telah handal.
Dibuktikan dengan nilai cronbach”s alpha yang berarti variabel skeptisisme profesional auditor konsisten lebih dari 0,70.
4. Uji Reabilitas Variabel Kualitas Audit
Tabel 4.15
Hasil Uji ReabilitasVariabel Statistics Kualitas Audit
Cronbach's Alpha
Cronbach's Alpha Based on
Standardized Items N of Items
,768 ,774 4
Sumber Data : Output SPSS 23
Berdasarkan tabel 4.15 di atas menunjukkan Cronbranch’s Alpha 0,768
> 0,70. Dapat disimpulkan bahwa pernyataan-pernyataan dalam variabel kualitas auditadalah reliable artinya bahwa hasil pengukuran variabel kualitas audit bisa dipercaya dan dinyatakan telah handal. Dibuktikan dengan nilai cronbach”s alpha yang berarti variabel kualitas audit konsisten lebih dari 0,70.
4.3 Transformasi Data Ordinal ke Interval
Setelah memenuhi syarat uji validitas dan reabilitas data, tahap berikutnya adalah mengubah data ordinal ke data interval. Pengubahan ini dilakukan dengan menggunakan program Sumber : Data Output IBM SPSS Statistis 23.0 dengan acuannya adalah Ti = 50 + 10 ��−�
� kemudian hasil transformasi baru diolah dengan program SPSS versi 23.
4.4 Uji Asumsi Klasik
Sebelum dilakukan analisis regresi terhadap variabel-variabel penelitian, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi kalsik. Tujuannya adalah agar data yang digunakan layak dijadikan sumber pengujian.
4.5 Uji Normalitas
Uji normalitas data digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel terikat dan variabel bebas keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Normalitas dapat diketahui dengan melihat tabel One-Sample Kolmogorov – Smirnov Test pada kolom Asymp Sig (2-tailed) yaitu jika p value (Sig) > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa data yang diambil dari populasi terdistribusi normal. Berdasarkan hasil output SPSS untuk uji normalitas data dapat dilihat dari tabel 4.16 di bawah ini :
Tabel 4.16
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
X1 X2 X3 Y
N 83 83 83 83
Normal Parametersa,b Mean 300,0034 399,9941 250,0000 199,9922 Std. Deviation 45,42899 63,76313 38,80083 30,87235
Most Extreme
Dari tabel 4.16 di atas diperoleh hasil Asymp. Sig (2-tailed) untuk variabel bebas pengalaman kerja(X1) = 0,350 > 0,05 , kode etik(X2) = 0,236 >
0,05 , dan skeptisisme profesional auditor (X3) = 0,285 > 0,05 , terhadap variabel terikat yaitu kualitas audit (Y) adalah 0,206> 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa data yang diambil dari populasi berdistribusi normal.
4.5.1 Uji Multikolinieritas
Uji Multikolinieritas adalah uji yang bertujuan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independent). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebasnya. Untuk menguji multikolinieritas dapat dilihat dari output SPSS pada nilai tolerence, nilai yang terbentuk harus diatas 10% dan bila mnggunakan VIF (Varian Inflation Factors), nilai yang terbentuk harus kurang dari 10. Untuk mengetahui ada tidaknya multikolinieritas dalam model regresi dapat dilihat pada tabel 4.17 dibawah ini :
Tabel 4.17
Uji Sample Coefficientsa
Model factors (VIF) ketiga variabel pengalaman kerja, kode etikdan skeptisisme profesional auditor lebih kecil dari 10, dan nilai tolerence diatas 0,10 sehingga dapat disimpulkan ketiga variabel diatas tidak terjadi persoalan multikolinieritas.
4.5.2 Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut Homoskedastisitas dan jika berbeda disebut Heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah homoskedastisitas (Ghozali, 2013 : 134). Untuk mengetahui apakah terdapat heteroskedastisitas atau tidak pada model regresi dapat dilihat pada gambar 4.1 di bawah ini :
Sumber Data :Output SPSS 23
Gambar 4.1 Uji Heteroskedastisitas
Dari gambar diatas terlihat bahwa tidak terdapat pola yang jelas yaitu titik-titiknya menyebar disekitar garis horizontal sumbu (Y) dan titik-titiknya menyebar diatas dan dibawah angka nol, maka dapat diambil kesimpulan bahwa tidak terdapat masalah heteroskedastisitas pada penelitian ini.
4.5.3 Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya.
Masalah ini timbul karena residual (kesalahan pengganggu) tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya (Ghozali, 2013 : 107). Metode pengujian