• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II: LANDASAN TEORI

B. Pembelajaran Al-Quran

1. Pengertian dan Tujuan Pembelajaran Al-Quran

didik dalam mengikuti program tahfidz yang terlaksana sehingga pengelola tahfidz dapat menemukan cara-cara perbaikannya dalam melaksanakan program tahfidz tersebut.52

pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun. Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda.

Pengertian Al-Quran menurut K. H. Munawwar Khalil adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang bersifat mukjizat dengan sebuah surat dari padanya yang beribadat bagi yang membacanya. Al-Quran adalah kitab suci yang terakhir diturunkan Allah SWT dengan berbahasa Arab melalui lisan Nabi Muhammad secara berangsur-angsur yaitu selama 22 tahun 2 bulan dan 22 hari. Al-Quran sebagai kunci dan kesimpulan dari semua kitab suci yang pernah diturunkan Allah SWT kepada nabi-nabi dan rasul-rasul yang diutus Allah sebelum Nabi Muhammad SAW.

Al-Quran yang secara harfiah berarti bacaan sempurna merupakan suatu nama pilihan Allah yang sungguh tepat, karena tidak ada satu bacaan pun sejak manusia mengenal tulisan dan bacaan sekitar lima ribu tahun yang lalu yang dapat menandingi Al-Quran. Al-Quran adalah petunjuk kehidupan manusia dan obat segala penyakit kehidupan sosial manusia. Al-Quran diperuntukkan bagi umat islam yang telah dipilih oleh Allah sebagai umat

terbaik di antara umat-umat lainnya. Al-Quran berfungsi sebagai penjelas perkara dunia dan agama serta berisi tentang peraturan-peraturan umat dan way of life-nya yang kekal hingga akhir zaman.

M. Khudhari Umar mengemukakan pendapat tentang pengertian Al-Quran sebagai berikut : Al-Al-Quran adalah kalam Allah yang tiada tandingannya (mukjizat) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi dan rasul, dengan perantara Malaikat Jibril, ditulis dalam mushaf-mushaf yang disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta mempelajarinya merupakan suatu ibadah, dimulai dari surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surah An-Naas. Kesimpulannya pembelajaran Al-Quran adalah proses menambah pengetahuan, keterampilan dan merubah sikap peserta didik melalui kegiatan belajar Al-Quran yaitu berupa membaca dan menghafal ayat Al-Quran dengan tartil, baik dan benar sesuai dengan kaidah tajwid yang berlaku.54

Menurut peneliti, pembelajaran Al-Quran adalah proses yang yang dilalui peserta didik dalam mempelajari Al-Quran agar tidak terjadi kesalahan dalam membaca Al-Quran yang dibimbing oleh ahlinya. Menurut An-Nahlawi tujuan jangka pendek pembelajaran Al-Quran adalah mampu membaca dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah ilmu tajwid, memahami dan mengamalkannya dengan baik. Di sini terkandung segi ubudiyah dan ketaatan kepada Allah, mengambil petunjuk dari kalam-Nya,

54Sri Belia Harahap,Strategi Penerapan Metode Ummi dalam Pembelajaran Al Quran, (Surabaya: Scopindo Media Pustaka, 2020), h. 8-10.

taqwa kepada-Nya dan tunduk kepada-Nya. Menurut Mardiyo tujuan pembelajaran Al-Quran diantaranya adalah:

a. Siswa bisa membaca Al-Quran dengan sempurna baik dari segi kecepatan harakat, saktah (tempat-tempat berhenti), membunyikan huruf-huruf dengan makhrajnya dengan persepsi maknanya.

b. Siswa paham makna Al-Quran dan membekas dalam jiwanya

c. Siswa bisa menghadirkan rasa khusyu dan tenang jiwanya serta takut kepada Allah

d. Membiasakan siswa membaca pada mushaf dan memperkenalkan istilah-istilah yang tertulis baik waqaf, mad, dan lain sebagainya.

Dapat di ambil kesimpulan bahwa tujuan dari pembelajaran adalah mengarahkan peserta didik kepada hal yang akan dicapai. Dimana dalam proses pembelajaran seorang guru berupaya mengarahkan siswa yang diberi materi dan di akhir proses tersebut seorang guru berusaha untuk mengarahkan siswa agar dapat menguasai materi sehingga tercapai tujuan yang diharapkan, yang mempunyai kemampuan nantinya. Tujuan pembelajaran Al-Quran yang dikemukakan oleh Mardiyo adalah sebagai berikut:

a. Kemantapan membaca sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan dan menghafal ayat-ayat atau surat-surat yang mudah bagi mereka

b. Kemampuan memahami Al-Quran secara sempurna memuaskan akal dan mampu menenangkan jiwa

c. Menumbuhkan rasa cinta dan keagungan al quran dalam jiwanya

d. Pembinaan pendidikan agama islam kepada anak berdasarkan sumbernya yang utama yaitu Al-Quran

Tujuan pembelajaran Al-Quran menurut Mahmud Yunus adalah Sebagai berikut:

a. Menjaga Al-Quran dan membaca serta melihat isinya untuk dijadikan petunjuk dan pengajaran bagi kehidupan manusia di dunia.

b. Mengingat hukum agama yang tertuang dalam Al-Quran, serta menguatkan dan mendorong manusia untuk berbuat kebaikan dan menjauhi kemungkaran

c. Mengharap keridhaan dari Allah swt.

d. Mengamalkan akhlak mulia dengan mengambil ibrah dan pelajaran yang terkandung dalam Al-Quran

e. Menanamkan dan menumbuhkan perasan keagamaan dalam hati, sehingga bertambah keimanan dan kedekatan dengan Allah swt.55 2. Dasar Hukum Pembelajaran Al-Quran

Mempelajari Al-Quran hukumnya adalah fardhu kifayah, namun untuk membacanya memakai ilmu tajwid secara baik dan benar merupakan fardhu

‘ain, jika terjadi kesalahan dalam membaca Al-Quran maka termasuk dosa.

Untuk menghindari dari dosa tersebut, maka umat muslim dituntut untuk selalu belajar Al-Quran pada ahlinya.

Dalam sebuah hadis diterangkan:

َمهلَعَت ْنَم ْمُك ُرْيَخ ُهَمهلَع َو َنآ ْرُقلْا

55Sri Belia Harahap, Strategi Peneapan Metode Ummi dalam Pembelajaran Al-Quran, (Surabaya: Scopindo, 2020), h. 13.

Artinya: “Sebaik-baiknya dari kamu sekalian ialah orang yang mempelajari (belajar) Al-Quran dan mau mengajarkannya.”(HR Bukhari).56 Membaca Al-Quran adalah salah satu ibadah teragung diantara ibadah-ibadah yang ada. Setiap huruf yang dibaca maka dinilai 10 kebaikan oleh Allah. Sebagai seorang muslim tidak hanya dituntuk untuk membacanya saja. Akan tetapi hendaknya juga harus bisa membacanya dengan baik dan benar sebagimana yang diajarkan oleh nabi Muhammad SAW. Untuk mengetahui bagaimana cara Rasulullah SAW. membaca Al-Quran maka perlu mempelajari ilmu tajwid. Dengan ilmu inilah kita dapat memperbaiki bacaan kita sesuai kaidah-kaidah membaca Al-Quran yang baik dan benar57

3. Adab dan Metode Pembelajaran Al-Quran

Dalam membaca Al-Quran ada sopan santun yang harus diketahui oleh setiap orang yang hendak membaca Al-Quran. Di antara sopan santun dalam membaca Al-Quran adalah sebagai berikut :

a. Pembaca Al-Quran menghadap kiblat

b. Menggosok gigi atau membersihkan gigi untuk mengagungkan Al-Quran Suci dari hadas kecil dan hadas besar

c. Menyucikan pakaian dan badan dari segala najis

d. Membaca Al-Quran dalam keadaan khuyu, tafakur, dan tadabbur (merenungkan isi kandungan Al-Quran)

e. Hendaklah hati pembaca Al-Quran memperhatikan dan berbekas (apa yang dibacanya berbekas di hati kita) dan pembaca harus menjauhkan

56Otong Surasman, Metode Insani : Kunci Praktis Membaca Al-Quran Baik dan Benar, (Jakarta: Gema Insani, 2002), h. 19-20.

57Siti Nur Aidah, Panduan Lengkap Belajar Ilmu Tajwid, (Jogjakarta: Penerbit KBM Indonesia, 2020), h.1-2.

diri serta meninggalkan ucapan atau perkataan selain yang Al-Quran (dilarang berbicara bila orang lain sedang membaca Al-Quran)

f. Disunnahkan membaca Al-Quran itu disertai dengan menangis bilamana ada ayat yang menyangkut ayat azab (siksaan), apabila tidak bisa, maka usahakan bisa menangis

g. Menghiasi bacaan Al-Quran dengan suara yang bagus, apabila tidak bisa maka hendaklah tetap menjaga bacaan Al-Quran sesuai dengan ilmu tajwid

h. Tidak membaca Al-Quran sambil tertawa, tidak pula bermuka masam, dan tidak melihat atau memperhatikan kepada hal lain selain Al-Quran yang sedang dibaca, tetapi merenungkan isinya dan mengingat pesan-pesan yang terkandung dalam Al-Quran.58

Metode pembelajaran Al-Quran adalah cara atau jalan yang harus dilalui dalam proses belajar mengajar Al-Quran dengan tujuan agar dapat membaca dan mempelajari Al-Quran dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah tajwid.59 Di Indonesia, ada banyak metode yang dapat digunakan untuk belajar membaca Al-Quran bagi pemula, ada lima metode yang cukup popular digunakan di Indonesia, yaitu:

a. Metode Qiraati

Secara bahasa qiraati berarti bacaanku yang berasal dari bahasa Arab dan merupakan kata dasar atau masdar. Masdar yang di sandarkan pada Ya Mutakalim, artinya bacaanku. Secara ilmu nahwu, dapat

58 Otong Surasman, Metode..., h.20-21.

59Ahmad Syaifuddin, Mendidik Anak Membaca, Menulis dan Mencintai Al-Quran, (Depok: Gema Insani, 2008), h. 81

menakdirkan atau dapat menyembunyikan. Contoh: iqra qiraati artinya bacalah bacaanku. Dapat juga diartikan khabar dari mubtada yang disembunyikan seperti hadzihi qiraati (inilah bacaanku), dan dapat juga dijadikan mubtada, khabarnya dibuang seperti qiraati hadzihi (bacaanku, ini bukunya).

Meskipun qiraati berarti bacaanku, namun secara lebih jelasnya bahwa qiraati merupakan nama salah satu metode membaca Al-Quran yang tujuan utamanya sama dengan metode-metode yang lain, namun ciri khas metode ini adalah lebih menekankan pada bacaan.60 Secara istilah metode qiraati adalah suatu model dalam belajar membaca Al-Quran yang secara langsung (tanpa dieja) dan menggunakan atau menerapkan pembiasaan membaca tartil sesuai dengan kaidah tajwid. Ada dua hal yang mendasari dari definisi metode qiraati, yaitu membaca Al-Quran secara langsung dan pembiasaan dalam membaca tartil sesuai kaidah ilmu tajwid.

Membaca Al-Quran secara lansung atau tanpa dieja, maksudnya adalah huruf yang ditulis dalam bahasa Arab dibaca secara lansung tanpa diuraikan cara melafalkannya. Pembelajaran membaca Al-Quran dengan menggunakan metode qiraati adalah pembelajaran dengan menggunakan kalimat yang sederhana, sesuai dengan kebutuhan dan tingkat materi.

Target utama dari metode qiraati adalah pelajar dapat secara lansung mempraktekkan bacaan-bacaan al quran secara bertajwid. Menurut Imam

60Abu Bakar Dachlan, Pak Dachlan Pembaharu dan Bapak Al-Quran, (Semarang:

Yayasan Pendidikan Al-Quran Raudhatul Mujawwidin ), cet.1, h. 62.

Murjito dalam bukunya yang berjudul Pedoman metode praktis pengajaran ilmu baca Al-Quran qiraati mengatakan bahwa metode qiraati merupakan metode pembelajaran dalam Al-Quran yang menekankan bacaan yang baik serta benar, meliputi makharijul huruf washifatuha, bacaan tartil serta kaedah-kaedah yang berlaku dalam ilmu tajwid.61

Metode qiraati ini banyak digunakan di suatu taman pendidikan Al-Quran karena di anggap sebagai salah satu metode baca tulis Al-Quran yang paling praktis dan efektif. Dengan menggunakan metode qiraati, maka pembelajaran baca tulis Al-Quran bisa dilakukan dengan mudah.

Penerapan metode qiraati dalam membaca Al-Quran harus di terapkan secara tartil dan dengan memperhatikan kaidah ilmu tajwid.62

Metode baca Al-Quran qiraati ditemukan oleh Dachlan Salim Zarkasyi (w. 2001 M) dari Semarang, Jawa Tengah. Metode yang disebarkan sejak awal 1970-an, ini memungkinkan anak-anak mempelajari Al-Quran secara cepat dan mudah.63 Menurut peneliti metode qiraati adalah metode pembelajaran Al-Quran yang menekankan pada bacaan, tanpa dieja dan dengan memperhatikan kaedah-kaedah ilmu tajwid sehingga menghasilkan bacaan yang baik dan benar.

61Imam Murjito, Pedoman Metode Praktis Pengajaran Ilmu Baca Al-Quran Qiraati, (Semarang: Koordinator Pendidikan Al-Quran, 2000), h. 8.

62Akhmad Buhaiti, Cutra Sari, Modul Pembelajaan Al-Quran, (Serang: A-Empat, 2021), h. 15.

63Shabri Shaleh Anwar, Quality Student Of Muslim Achievement:Kualitas Anak Didik dalam Islam, (Yayasan Doa Para Wali, 2016), h. 126.

b. Metode Iqra’

Kata iqra’ berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti bacalah.

Allah SWT memerintahkan umatnya untuk membaca, untuk itu menjalankan perintah Allah SWT merupakan keharusan bagi setiap umat muslim di dunia. Adapun perintah Allah SWT salah satunya dengan membaca Quran. Kata iqra’ merupakan ayat pertama dalam surat Al-Alaq, pada ayat tersebut jelas sudah pengertian kata iqra’ sendiri yang berarti bacalah. Umat islam diperintahkan oleh Allah SWT untuk membaca, jelas dalam surat Al-Alaq ini Allah menyuruh umatnya untuk membaca. Salah satunya membaca Al-Quran, karena membaca Al-Quran juga merupakan suatu nilai ibadah bagi umat muslim karena dalam setiap huruf yang dibaca akan mendapatkan pahala dari Allah SWT.

Menurut As’ad Humam, metode iqra’ adalah salah satu metode belajar membaca Al-Quran yang disusun secara praktis dan sistematis, sehingga memudahkan setiap orang untuk belajar maupun mengajarkan membaca Al-Quran.64 Secara istilah metode iqra’ adalah suatu metode yang menekankan lansung pada pelatihan membaca yang dimulai dari tingkat yang paling sederhana, tahap demi tahap sehingga sampai pada tahap yang paling sempurna. Pembelajaran dalam metode ini, lebih cenderung kepada ingatan huruf, sehingga tidak perlu menghafal. Sampai

64As’ad Humam, Buku Iqra, Cara Cepat Belajar Al-Quran, ( Yogyakarta: Balai Litbang LPTQ Nasional Team Tadarus AMM Yogyakarta, 2000), h. 1.

sekarang metode ini diterapkan hampir di semua lembaga pendidikan Al-Quran.65

Metode ini disusun oleh As’ad Humam dari Yogyakarta yang menurut pengakuannya telah meneliti metode tersebut sejak tahun 50-an.

Metode iqra’ adalah metode pembelajaran membaca huru-huruf hijaiyah dari permulaan dengan disertai aturan bacaan, tanpa makna dan tanpa lagu dengan tujuan agar pembelajar dapat membaca Al-Quran sesuai dengan kaidahnya. Metode iqra’ adalah metode cepat belajar membaca Al-Quran yang dalam waktu relative singkat dapat dengan mudah mengantarkan santri, remaja, dan orang dewasa bisa membaca Al-Quran.66

Menurut peneliti metode iqra’ adalah suatu metode pembelajaran Al-Quran yang telah tersusun secara sistematis dimulai dari tingkatan paling rendah secara bertahap hingga sampai kepada tahap paling sempurna, metode ini lebih menekankan pada ingatan huruf tanpa perlu menghafal.

c. Metode Tilawati

Tilawati menurut kamus al-Munawwir adalah diambil dari bahasa Arab tilawatun yang berarti pembacaan. Secara istilah metode tilawati merupakan metode belajar membaca Al-Quran yang disampaikan menggunakan lagu rost dan secara seimbang antara pembiasaan melalui

65Nur’aini, Metode Pengajaran Al Quran dan Seni Baca Al Quran dengan Ilmu Tajwid, (Jawa Tengah: CV. Pilar Nusantara, 2020), h. 26.

66Akhmad Buhaiti, Cutra Sari, Modul Pembelajaran Al-Quran, (Serang: A-Empat, 2021), h. 13.

pendekatan klasikal dan kebanaran membaca serta pendekatan individual dengan baca simak. Metode tilawati dapat diartikan sebagai cara yang digunakan oleh pendidik dalam menyampaikan materi dengan menggunakan bentuk tertentu, seperti ceramah, diskusi (halaqah), penugasan dan lainnya.67

Menurut Abdurrahim Hasan dalam bukunya yang berjudul Strategi pembelajaran Al-Quran metode tilawati mengatakan bahwa metode tilawati adalah metode belajar membaca Al-Quran yang menggunakan nada-nada tilawah dengan pendekatan yang seimbang antara pembiasaan melalui klasikal dan kebenaran membaca melalui individual dengan teknik baca simak.68 Metode tilawati adalah metode membaca Al-Quran yang disusun pada tahun 2002 oleh tim terdiri dari Hasan Sadzili, Ali Muaffa dkk. Kemudian dikembangkan oleh pesantren virtual Nurul Falah Surabaya. Metode ini menekankan mengajarkan Al-Quran kepada murid dengan pendekatan seni agar dalam belajar Al-Al-Quran akan lebih menyenangkan sehingga murid tidak merasa bosan saat belajar.69

Tilawati menawarkan suatu sistem pembelajaran Al-Quran yang mudah, efektif dan efisien demi mencapai kualitas bacaan, pemahaman dan implementasi Al-Quran. Titik berat pendidikan tidak hanya pada santri melalui munaqasah tapi juga pada guru/ ustadz dan ustadzah dibina.

67Moh. Roqib, Ilmu Pendidikan Islam, (Yogyakarta: LKIS, 2009), h. 91.

68Abdurrahim Hasan, dkk, Strategi Pembelajaran Al-Quran Metode Tilawati, (Surabaya:

Pesantren Al-Quran Nurul Falah, 2010), h. 4.

69Nur’aini, Metode Pengajaran..., h. 28.

Metode tilawati menggabungkan metode pengajaran secara klasikal dan privat secara seimbang sehingga pengelolaan kelas lebih efektif. Ustadz atau ustadzah dapat mengajari santri 15-20 orang tanpa mengurangi kualitas. Waktu pendidikan santri menjadi lebih singkat dengan kualitas yang diharapkan/ standar.70 Menurut peneliti metode tilawati adalah metode pembelajaran Al-Quran yang menggunakan seni yaitu dengan menggunakan nada-nada tilawah dan menggabungkan secara seimbang antara pendekatan pembiasaan membaca secara klasikal dan kebenaran membaca secara individual.

d. Metode Ummi

Ummi berarti “ibuku” berasal dari bahasa Arab dari kata Ummun dengan tambahan ya’ mutakalim. Kita sebagai manusia harus menghormati dan mengingat jasa Ibu. Tiada orang yang paling berjasa pada kita semua kecuali orang tua kita terutama ibu. Ibulah yang telah mengajrkan banyak hal kepada kita, juga mengajarkan pengetahuan pada kita. Dalam pembelajaran membaca Al-Quran metode ummi menggunakan sebuah pendekatan. Pendekatan itu adalah pendekatan seorang ibu yang pada hakikatnya pendekatan seorang ibu ada 3 unsur yaitu:

1) Direct Methode (Metode lansung): yaitu lansung dibaca tanpa dieja/diurai tidak banyak penjelasan. Atau dengan kata lain learning by doing, belajar dengan melakukan secara lansung.

70Akhmad Buhaiti, Cutra Sari, Modul Pembelajaran Al-Quran, (Serang: A-Empat, 2021), h. 14.

2) Repeatation (diulang-ulang): bacaan Al-Quran akan semakin kelihatan keindahan, kekuatan, dan kemudahan ketika kita mengulang-ulang ayat atau surat dalam Al-Quran. Begitu pula seorang ibu dalam mengajarkan pengetahuan kepada anaknya.

Kekuatan, keindahan dan kemudahannya juga dengan mengulang-ulang kata atau kalimat dalam situasi dan kondisi yang berbeda-beda.

3) Kasih sayang tulus: kekuatan cinta, kasih sayang yang tulus, dan kesabaran seorang ibu dalam mendidik anak adalah kunci kesuksesannya. Demikian juga seorang guru yang mengajar Al-Quran jika ingin sukses hendaknya meneladani seorang ibu agar guru juga dapat menyentuh hati siswa mereka.71

Secara istilah metode ummi adalah salah satu metode membaca Al-Quran yang langsung memasukkan dan mempraktekkan bacaan tartil sesuai dengan kaidah ilmu tajwid dengan menggunakan pendekatan bahasa ibu yang menekankan kasih sayang. Pendekatan yang dimaksud adalah (direct metgode) atau pembahasan secara lansung dan tidak banyak penjelasan, dilakukan secara berulang-ulang (repetition), dan disampaikan dengan menggunakan kasih sayang yang tulus.72 Metode ummi merupakan sebuah metode yang digunakan dalam pembelajaran membaca Al-Quran yang mudah, menyenangkan dan menyentuh hati, yang diciptakan oleh ummi foundation. Kekuatan mutu yang dibangun

71Modul Sertifikasi Guru Al-Quran Metode Ummi, (2015), h. 6.

72Akhmad Buhaiti, Cutra Sari, Modul Pembelajaran Al-Quran dengan Metode Bismillah, (Penerbit A-Empat, 2021), h. 14.

Ummi Faoundation ada dari 3 hal yaitu: Metode yang bermutu, guru yang bermutu, sistem yang berbasis mutu, yaitu berkualitas baik.73

Menurut Masruri dan Yusuf metode ummi adalah sebuah metode yang praktis membaca Al-Quran dengan baik dan benar. Sedangkan menurut Tim Ummi Foundation metode ummi adalah metode yang paling efektif dan menyenangkan karena dirumuskan oleh para ahli-ahli Al-Quran yang dahulunya mereka pernah terlibat secara langsung dengan pengajaran Al-Quran metode-metode yang lainnya seperti metode iqra, metode qiraati dan lain sebagainya. Dari beberapa metode yang mereka geluti, akhirnya tercetus sebuah metode yang labih praktis, mudah dan menyenangkan bagi setiap peserta didik.74 Menurut peneliti metode ummi adalah metode pembelajaran Al-Quran yang praktis dengan lansung mempraktekkan bacaan secara tartil tanpa banyak penjelasan dan menggunakan pendekatan bahasa ibu yang penuh kasih sayang.

e. Metode An-Nahdliyah

Istilah An-Nahdliyah diambil dari sebuah organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia, yaitu NahdlatulIlama’ artinya kebangkitan ulama’, dari kata Nahdlatul Ulama’ inilah kemudian dikembangkan menjadi metode pembelajaran Al-Quran, yang diberi nama Metode Cepat Tanggap Belajar Al-Quran Nahdliyah. Metode An-Nahdliyah lebih menekankan pada kesesuaian dan keteraturan dengan

73Afdal, “Implementasi Metode Ummi dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Quran Siswa Kelas III B Ibnu Khaldun SD Al-Firdaus Islamic School Samarinda Tahun Pembelajaran 2015/2016”, Jurnal Pendas Mahakam, Vol 1 (2016), h. 77.

74Rokim, Wahyuni Ahadiyah, Lindah Zahrotul Muafah, Solusi Mudah dan Menyenagkan Belajar Al-Quran, (Nawa Litera Publishing, 2021), h. 15-16.

ketukan. Ketukan di sini merupakan jarak pelafalan satu huruf dengan huruf lainnya, sehingga dengan ketukan bacaan santri sesuai, baik panjang dan pendeknya dari sebuah bacaan Al-Quran.75

Jadi Metode An-Nahdliyah adalah salah satu metode pembelajaran membaca Al-Quran yang lebih ditekankan pada kesesuaian dan keteraturan bacaan dengan menggunakan ketukan atau titian muratal.

Ketukan di sini merupakan jarak pelafalan satu huruf dengan huruf lainnya, sehingga dengan ketukan bacaan siswa sesuai baik panjang dan pendeknya dari suatu bacaan Al-Quran.

Menurut Maksum Farid dalam bukunya mengatakan bahwa metode An-Nahdliyah adalah salah satu metode membaca Al-Quran yang lebih ditekankan pada kesesuaian dan keteraturan bacaan dengan menggunakan ketukan.76 Segala sesuatu memiliki kriteria atau ciri-ciri yang dapat membedakan antara sesuatu dengan sesuatu yang lain, apalagi suatu metode pembelajaran pastinya memiliki kriteria yang menjadi ciri khas metode tersebut.Adapun kriteria khusus dari metode An-Nahdliyah adalah sebagai berikut:

1) Materi pembelajaran disusun secara berjenjang dalam buku paket 6 jilid.

2) Pengenalan huruf sekaligus diawali dengan latihan dan pemantapan makharijul huruf dan sifatul huruf

75Idha Vera Sophya dan Saiful Mujab, Metode Baca Al-Quran, (Kudus: Elementary), Vol.2/Juli-Desember 2014, h. 339.

76Maksum Farid, dkk, Cepat Tanggap Belajar Al-Quran An-Nahdliyah, (Tulungagung:

LP. Ma’arif, 1992), h. 9.

3) Penerapan qaidah tajwid dilaksanakan secara praktis dan dipandu dengan titian murattal

4) Santri lebih dituntut memiliki pengertian yang dipandu dengan asas CBSA melalui pendekatan keterampilan proses.

5) Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara klasikal untuk tutorial dengan materi yang sama agar terjadi proses musafahah 6) Evaluasi dilakukan secara kontinyu dan berkelanjutan

7) Metode ini merupakan pengembangan dari Qaidah Baqhdadiyah.77 Ciri-ciri metode An-Nahdliyah di atas menunjukkan bahwa metode ini memiliki kriteria khusus yang dapat membedakan dengan metode yang lain, dan menunjukkan bahwa metode AN-Nahdliyah ini dapat lebih unggul dari metode-metode pembelajaran Al-Quran yang lain.

Menurut peneliti metode An-Nahdliyah adalah metode pembelajaran Al-Quran yang menggunakan ketukan atau jarak pelafalan antara satu huruf dengan huruf berikutnya untuk kesesuaian dan keteraturan bacaan Al-Quran.

Dokumen terkait