• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Biaya dan Evaluasi Ekonomi

2.2.3 Pengertian Evaluasi Ekonomi

Evaluasi ekonomi merupakan suatu analisis secara kuantitatif terhadap apa yang diharapkan dan diinginkan oleh masyarakat dalam melakukan intervensi pada beberapa proyek atau program dimana harapan atau keinginan tersebut dinilai dari segi biaya dan konsekuensinya. Konsekuensi disini diartikan sebagai hasil positif atau manfaat dari suatu program, sering dikatakan sebagai akibat atau manfaat, tergantung dati teknik analisis yang digunakanan. (Lubis, 2009)

Tugas pokok evaluasi ekonomi adalah mengidentifikasi, mengukur, menilai, dan membandingkan biaya dan konsekuensi dari alternatif yang dipertimbangkan.

2.2.4 Metode Evaluasi Ekonomi

Menurut Shancez (2005), metode evaluasi ekonomi yang paling umum digunakan untuk menganalisis ekonomi program kesehatan biasanya terbagi menjadi dua kelompok yaitu analisis ekonomi parsial (partial economic evaluations) dan analisis ekonomi menyeluruh (fully economic analysis).

1. Analisis Ekonomi Menyeluruh (full economic evaluation)

Analisis ekonomi menyeluruh yaitu penganalisisan program kesehatan yang merangkum sekaligus masalah input dan output program. Dalam evaluasi ekonomi penuh, setiap metode digunakan untuk membandingkan program yang bersaing atau alternatif pengobatan. Metodenya serupa dengan cara mengukur biaya (dalam mata uang) dan perbedaan dalam pengukuran hasilnya. Metode evaluasi ekonomi penuh (fully economic analysis) mencakup cost-minimization, cost-benefit, cost-effectiveness, and cost-utility analyses.

2. Analisis Ekonomi Parsial (partial economic evaluations)

Analisis ekonomi parsial ialah analisis yang diterapkan hanya kepada sisi input atau output saja, bukan pada keduanya sekaligus. Analisis ekonomi parsial dapat mencakup tabulasi deskriptif sederhana mengenai hasil atau sumber daya yang dikonsumsi dan dengan demikian memerlukan waktu dan usaha minimum.

Metode parsial yang lazim digunakan adalah analisis biaya (cost analysis).

Analisis biaya adalah tipe analisis sederhana, yang mengevaluasi intervensi biaya.

Analisis biaya menekankan pembahasannya kepada masalah struktur biaya serta bagaimana komposisi struktur biaya tersebut. Analisis biaya adalah metode atau cara untuk menghitung besarnya pengorbanan (biaya, cost ) dalam unit moneter

(rupiah), baik yang langsung (direct cost) maupun tidak langsung (indirect cost), untuk mencapai tujuan (Kemenkes RI, 2013). Analisis biaya menggambarkan biaya dan konsekuensi dari alternatif tetapi tidak memberikan perbandingan dengan pilihan pengobatan lainnya.

Berikut variabel biaya yang ada dalam tahapan dalam analisis biaya menurut Kemenkes RI (2013) :

1. Biaya langsung : yaitu biaya yang dikeluarkan atau terkait langsung dengan hasil pengobatan yang dinikmati oleh pasien, antara lain terdiri dari :

 Biaya perawatan (cost of treatment). Berdasarkan clinical pathway, biaya perawatan adalah biaya medis yang dikeluarkan selama dirawat-inap sesuai pola penyakit berdasarkan diagnosis-related group (DRG), misalnya biaya operasi, biaya obat, biaya kamar, dan biaya dokter.

 Di rumah sakit dan puskesmas, data tentang biaya ini dapat diambil dari tagihan yang dibayar oleh pasien atau penjamin/asuransi.

2. Biaya tidak langsung : yaitu biaya yang dikeluarkan pasien dalam tahapan pengobatan suatu penyakit atau terkait langsung dengan hasil pengobatan yang dinikmati pasien. Termasuk dalam komponen biaya ini adalah biaya transportasi, biaya konsumsi, biaya tunggu, hilangnya produktivitas.

3. Biaya total akibat sakit (cost of illness) : yaitu biaya keseluruhan yang dikeluarkan oleh pasien, meliputi biaya langsung dan biaya tidak langsung. Menurut Gyldmark (1995) dan Kernick (2000) yang dikutip oleh Mogyorosy (2005), cost of illness ini merupakan salah satu pendekatan dalam evaluasi ekonomi untuk penetapan biaya (costing).

2.2.5 Penggunaan Informasi Biaya untuk Mengambil Keputusan

Perencanaan dan penganggaran pada Dinas Kesehatan dapat memanfaatkan dua jenis biaya, yaitu informasi keuangan dan informasi non-keuangan. Informasi biaya berguna untuk berbagai keperluan.

1. Informasi biaya diperlukan untuk mengetahui apakah input yang dikorbankan memiliki nilai ekonomis yang lebih rendah dibandingkan daripada nilai outputnya atau sebaliknya.

2. Informasi biaya berguna untuk mengetahui apakah kegiatan yang dilakukan memperoleh hasil seperti yang diharapkan atau tidak, yang selanjutnya berdampak pada proses pengembangan atau mempertahankan esksitensi suatu unit organisasi atau pelayanan.

3. Informasi biaya berguna untuk mengalokasikan berbagi sumber ekonomi yang dikorbankan dalam menghasilkan sumber ekonomi lain. Dalam hal ini, informasi biaya menyediakan informasi yang memungkinkan manajemen melakukan alokasi sumber ekonomi, sedemikian rupa sehingga dihasilkan output yang memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi daripada nilai input yang dikorbankan.

2.2.6 Pembiayaan Kesehatan A. Health Costing

Sumber daya publik langka, tetapi permintaan untuk perawatan kesehatan terus meningkat. Kebutuhan etis, sosial-politik dan ekonomi membuat kita perlu menggunakan sumber daya secara efisien. Informasi biaya sangat penting untuk meningkatkan efisiensi ekonomi perawatan kesehatan di negara manapun. Oleh

karena itu, metodologi penetapan biaya yang tepat sangat penting untuk mengurangi dampak negatif dari keputusan yang kurang informasi. Biaya, bagaimanapun, memiliki beberapa arti yang berbeda, dan biaya dari setiap layanan kesehatan bergantung pada tujuan yang akan mereka gunakan. Misalnya, tujuan penetapan biaya dalam evaluasi ekonomi adalah untuk memaksimalkan manfaat pemanfaatan sumber daya sesuai dengan nilai etis masyarakat, dan bukan untuk menghemat uang. Namun, ada beberapa pendekatan lain untuk biaya seperti biaya untuk keputusan penetapan harga atau biaya studi penyakit sebagai bagian dari latihan pengaturan prioritas (Gyldmark 1995, Kernick 2000).

Layanan kesehatan dapat didefinisikan secara berbeda oleh karena itu, studi biaya dapat fokus pada salah satu opsi berikut :

 Membandingkan (unit) biaya layanan tertentu (misalnya kunjungan GP, operasi katarak, kolonoskopi) atau

 Membandingkan biaya episode perawatan (misalnya, DRG ambulatori,

 DRG rawat inap, biaya pengobatan flu biasa, biaya episode psikotik pertama, dll.) atau

 Membandingkan biaya total tahunan layanan tertentu (mis. Total biaya klinik nyeri spesialis atau biaya unit stroke per tahun)

 Biaya penyakit untuk jangka waktu tertentu (misalnya perawatan nyeri

punggung bawah pada perawatan primer pada bulan pertama atau pengobatan stoke untuk tahun pertama). Perbandingan ini mungkin lebih komprehensif dan dapat menghindari atau mengungkap pemindahan biaya (rumah sakit dan perawatan informal)

B. Health Financing

Pembiayaan kesehatan sangat penting bagi kemampuan sistem kesehatan untuk mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan manusia. Pada titik ekstrim, tanpa dana yang diperlukan tidak ada tenaga kesehatan yang akan dipekerjakan, tidak ada obat-obatan tersedia dan tidak ada promosi atau pencegahan kesehatan yang akan terjadi. Namun, pembiayaan lebih dari sekadar menghasilkan dana. Untuk memahami sifat dari indikator yang dapat digunakan untuk memantau dan mengevaluasi pembiayaan sistem kesehatan memerlukan penilaian eksplisit tentang apa yang diharapkan untuk dicapai.

Pembiayaan kesehatan mengacu pada "fungsi sistem kesehatan yang berkaitan dengan mobilisasi, akumulasi dan alokasi uang untuk menutupi kebutuhan kesehatan masyarakat, secara individual dan kolektif, dalam sistem kesehatan. Tujuan pembiayaan kesehatan adalah untuk menyediakan dana, serta menetapkan insentif keuangan yang tepat untuk penyedia layanan, untuk memastikan bahwa semua individu memiliki akses ke kesehatan masyarakat yang efektif dan perawatan kesehatan pribadi (WHO, 2008).

Proses pelayanan kesehatan tidak bisa dipisahkan dengan pembiayaan kesehatan. Biaya kesehatan ialah besarnya dana yang harus disediakan untuk menyelenggarakan dan atau memanfaatkan berbagai upaya kesehatan yang diperlukan oleh perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat.

Pembiayaan kesehatan yang kuat, stabil dan berkesinambungan memegang peranan yang amat vital untuk penyelenggaraan pelayanan kesehatan dalam rangka mencapai berbagai tujuan penting dari pembangunan kesehatan di suatu

negara diantaranya adalah pemerataan pelayanan kesehatan dan akses (equitable access to health care) dan pelayanan yang berkualitas (assured quality). Oleh

karena itu reformasi kebijakan kesehatan di suatu negara seyogyanya memberikan fokus penting kepada kebijakan pembiayaan kesehatan untuk menjamin terselenggaranya kecukupan (adequacy), pemerataan (equity), efisiensi (efficiency) dan efektifitas (effectiveness) dari pembiayaan kesehatan itu sendiri.

Perencanaan dan pengaturan pembiayaan kesehatan yang memadai (health care financing) akan menolong pemerintah di suatu negara untuk dapat

memobilisasi sumber-sumber pembiayaan kesehatan, mengalokasikannya secara rasional serta menggunakannya secara efisien dan efektif. Kebijakan pembiayaan kesehatan yang mengutamakan pemerataan serta berpihak kepada masyarakat miskin (equitable and pro poor health policy) akan mendorong tercapainya akses yang universal. Pada aspek yang lebih luas diyakini bahwa pembiayaan kesehatan mempunyai kontribusi pada perkembangan sosial dan ekonomi. Pelayanan kesehatan itu sendiri pada akhir-akhir ini menjadi amat mahal baik pada negara maju maupun pada negara berkembang. Penggunaan yang berlebihan dari pelayanan kesehatan dengan teknologi tinggi adalah salah satu penyebab utamanya. Penyebab yang lain adalah dominasi pembiayaan pelayanan kesehatan dengan mekanisme pembayaran tunai (fee for service) dan lemahnya kemampuan dalam penatalaksanaan sumber-sumber dan pelayanan itu sendiri (poor management of resources and services).

Pelayanan kesehatan memiliki beberapa ciri yang tidak memungkinkan setiap individu untuk menanggung pembiayaan pelayanan kesehatan pada saat diperlukan :

1. Kebutuhan pelayanan kesehatan muncul secara sporadik dan tidak dapat diprediksikan, sehingga tidak mudah untuk memastikan bahwa setiap individu mempunyai cukup uang ketika memerlukan pelayanan kesehatan.

2. Biaya pelayanan kesehatan pada kondisi tertentu juga sangat mahal, misalnya pelayanan di rumah sakit maupun pelayanan kesehatan canggih (operasi dan tindakan khusus lain), kondisi emergensi dan keadaan sakit jangka panjang yang tidak akan mampu ditanggung pembiayaannya oleh masyarakat umum.

3. Orang miskin tidak saja lebih sulit menjangkau pelayanan kesehatan, tetapi juga lebih membutuhkan pelayanan kesehatan karena rentan terjangkit berbagai permasalahan kesehatan karena buruknya kondisi gizi, perumahan.

4. Apabila individu menderita sakit dapat mempengaruhi kemampuan untuk berfungsi termasuk bekerja, sehingga mengurangi kemampuan membiayai.

Berdasarkan karakteristik tersebut, sebuah sistem pembiayaan pelayanan kesehatan haruslah bertujuan untuk :

1. Risk spreading, pembiayaan kesehatan harus mampu meratakan besaran resiko biaya sepanjang waktu sehingga besaran tersebut dapat terjangkau oleh setiap rumah tangga. Artinya sebuah sistem pembiayaan harus mampu memprediksikan resiko kesakitan individu dan besarnya

pembiayaan dalam jangka waktu tertentu (misalnya satu tahun). Kemudian besaran tersebut diratakan atau disebarkan dalam tiap bulan sehingga menjadi premi (iuran, tabungan) bulanan yang terjangkau.

2. Risk pooling, beberapa jenis pelayanan kesehatan (meskipun resiko rendah dan tidak merata) dapat sangat mahal misalnya hemodialisis, operasi spesialis (jantung koroner) yang tidak dapat ditanggung oleh tabungan individu (risk spreading). Sistem pembiayaan harus mampu menghitung dengan mengakumulasikan resiko suatu kesakitan dengan biaya yang mahal antar individu dalam suatu komunitas sehingga kelompok masyarakat dengan tingkat kebutuhan rendah (tidak terjangkit sakit, tidak membutuhkan pelayanan kesehatan) dapat mensubsidi kelompok masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Secara sederhana, suatu sistem pembiayaan akan menghitung resiko terjadinya masalah kesehatan dengan biaya mahal dalam satu komunitas, dan menghitung besaran biaya tersebut kemudian membaginya kepada setiap individu anggota komunitas. Sehingga sesuai dengan prinsip solidaritas, besaran biaya pelayanan kesehatan yang mahal tidak ditanggung dari tabungan individu tapi ditanggung bersama oleh masyarakat.

3. Connection between ill-health and poverty, karena adanya keterkaitan antara kemiskinan dan kesehatan, suatu sistem pembiayaan juga harus mampu memastikan bahwa orang miskin juga mampu pelayanan kesehatan yang layak sesuai standar dan kebutuhan sehingga tidak harus

mengeluarkan pembiayaan yang besarnya tidak proporsional dengan pendapatan. Pada umumnyadi negara miskin dan berkembang hal ini sering terjadi. Orang miskin harus membayar biaya pelayanan kesehatan yang tidak terjangkau oleh penghasilan mereka dan juga memperoleh pelayanan kesehatan di bawah standar.

4. Fundamental importance of health, kesehatan merupakan kebutuhan dasar dimana individu tidak dapat menikmati kehidupan tanpa status kesehatan yang baik

Implementasi strategi pembiayaan kesehatan di suatu negara diarahkan kepada beberapa hal pokok yakni; kesinambungan pembiayaan program kesehatan prioritas, reduksi pembiayaan kesehatan secara tunai perorangan (out of pocket funding), menghilangkan hambatan biaya untuk mendapatkan pelayanan

kesehatan, pemerataan dalam akses pelayanan, peningkatan efisiensi dan efektifitas alokasi sumber daya (resources) serta kualitas pelayanan yang memadai dan dapat diterima pengguna jasa. Sumber dana biaya kesehatan berbeda pada beberapa negara, namun secara garis besar berasal dari:

1. Anggaran pemerintah.

2. Anggaran masyarakat.

3. Bantuan biaya dari dalam dan luar negeri.

4. Gabungan anggaran pemerintah dan masyarakat.

Biaya kesehatan banyak macamnya, karena kesemuanya tergantung dari jenis dan kompleksitas pelayanan kesehatan yang diselenggarakan dan atau yang

dimanfaatkan. Hanya saja disesuaikan dengan pembagian pelayanan kesehatan, maka biaya kesehatan tersebut dapat dibedakan atas dua macam yaitu:

1. Biaya pelayanan kedokteran Biaya yang dimaksudkan adalah yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan dan atau memanfaatkan pelayanan kedokteran, yakni yang tujuan utamanya untuk mengobati penyakit serta memulihkan kesehatan penderita.

2. Biaya pelayanan kesehatan masyarakat Biaya yang dimaksud adalah yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan dan atau memanfaatkan pelayanan kesehatan masyarakat yaitu yang tujuan utamanya untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta untuk mencegah penyakit.

C. Budgeting

Budgeting adalah Penganggaran merupakan suatu rencana terperinci yang

dinyatakan dalam ukuran kuantitatif untuk perolehan dan penggunaan sumber-sumber suatu organisasi dalam jangka waktu tertentu. Budgeting / anggaran juga disebut suatu rencana yang disusun secara sistematis, yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan, yang dinyatakan dalam unit (kesatuan) moneter dan berlaku untuk jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang (Munandar, 2002).

Pengertian lain dari budgeting/anggaran adalah pernyataan mengenai estimasi kinerja yang hendak dicapai selama periode waktu tertentu yang dinyatakan dalam ukuran finansial. Budgeting menunjukkan suatu proses, sejak dari tahap persiapan yang diperlukan sebelum dimulainya penyusunan rencana, pengumpulan berbagai data dan informasi yang diperlukan. Pembagian tugas

perencanaan, penyusunan rencana itu sendiri, implementasi dari rencana tersebut, sampai pada akhirnya tahap pengawasan dan evaluasi dari hasil-hasil pelaksanaan rencana.

Penganggaran (Budgeting) menunjukkan suatu proses sejak tahap persiapan yang diperlukan sebelum dimulainya penyusunan rencana, pengumpulan berbagai data dan informasi yang perlu, pembagian tugas perencanaan, penyusunan rencananya sendiri, implementasi dari rencana tersebut, sampai pada akhirnya tahap pengawasan dan evaluasi dari hasil rencana itu. Hasil dari penganggaran (Budgeting) adalah anggaran (Budget).

Anggaran merupakan perencanaan dari seluruh kegiatan perusahaan yang mencakup bebagai kegiatan operasional yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain sebagai pedoman untuk mencapai tujuan dan sasaran perusahaan. Sedangkan pengertian anggaran sendiri menurut buku Nafarin (2000) adalah suatu rencana keuangan periodik yang disusun berdasarkan program yang telah disahkan. Anggaran merupakan rencana tertulis mengenai kegiatan suatu organisasi yang dinyatakan secara kuantitatif dan umumnya dinyatakan dalam sutuan uang untuk jangka waktu tertentu. Anggaran merupakan alat manajemen dalam mencapai tujuan. Salah satu anggaran yang sangat penting bagi perusahaan yaitu biaya produksi yang didalamnya terdapat biaya produksi.

Biaya produksi ini terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik, dimana biaya-biaya tersebut saling berhubungan.

D. Paying for Health Care Cara-cara Pembayaran/paying :

 Out of pocket (OOP), yakni masyarakat harus mengeluarkan dari kantong sendiri,

 Perusahaan yakni perusahaan tempat pasien bekerja yang membiayai kesehatan pekerjanya,

 Asuransi yakni perusahaan asuransi bagi pasien yang menjadi peserta asuransi tertentu

 Charity yakni sumbangan dari individu atau lembaga sosial

 Pemerintah yakni pemerintah yang membayarkan melalui alokasi anggaran untuk pelayanan publik.

2.3 Rumah Sakit

Menurut Undang – Undang RI Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.

2.3.1 Tugas dan Fungsi Rumah Sakit

Menurut Undang - Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, rumah sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna. Untuk menjalankan tugas, rumah sakit mempunyai fungsi :

1. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit;

2. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis;

3. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka pening`katan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan;

dan

4. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan;

Dalam pelaksanaan tugasnya, rumah sakit mempunyai fungsi menyelenggarakan pelayanan medis, penunjang medis dan non medis pelayanan dan asuhan keperawatan, pelayanan rujukan, pendidikan dan pelatihan, penelitian dan pengembangan serta administrasi dan keuangan.

2.3.2 Jenis Rumah Sakit

Undang-Undang Republik Indonesia No. 44 Tahun 2009 menjelaskan mengenai pembagian rumah sakit berdasarkan jenis pelayanan yang diberikan, rumah sakit dikategorikan menjadi, rumah sakit umum dan rumah sakit khusus.

Rumah sakit umum memberikan pelayanan kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit. Rumah sakit khusus memberikan pelayanan utama pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ, jenis penyakit, atau kekhususan lainnya.

Berdasarkan pengelolaannya rumah sakit dapat dibagi menjadi rumah sakit publik dan rumah sakit privat. Rumah sakit publik dapat dikelola oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan badan hukum yang bersifat nirlaba. Rumah sakit publik dimiliki dan diselenggarakan oleh : Kementerian kesehatan, Pemerintah daerah, TNI/Polisi, dan departemen lain yang termasuk BUMN. Rumah sakit Privat,

merupakan rumah sakit yang dikelola badan hukum dengan tujuan profit yang berbentuk Perseroan Terbatas atau persero. Mekanisme kerjanya menjadi tanggung jawab pemilik, sedangkan struktur organisasinya menyerupai rumah sakit umum.

Rumah sakit juga dapat ditetapkan menjadi rumah sakit pendidikan setelah memenuhi persyaratan dan standar rumah sakit pendidikan dan disetujui menteri pendidikan. Rumah sakit pendidikan merupakan rumah sakit yang menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan secara terpadu dalam bidang pendidikan profesi kedokteran, pendidikan kedokteran berkelanjutan, dan pendidikan tenaga kesehatan lainnya.

2.3.4 Klasifikasi Rumah Sakit

Menurut Permenkes Nomor 56 Tahun 2014, rumah sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan, diselenggarakan secara berjenjang dan fungsi rujukan, sehingga rumah sakit umum dan rumah sakit khusus diklasifikasikan berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan rumah sakit.

Berdasarkan jenis pelayanan yang diberikan, Rumah Sakit dikategorikan dalam Rumah Sakit Umum dan Rumah Sakit Khusus.

1. Rumah Sakit Umum diklasifikasikan menjadi:

a. Rumah Sakit Umum Kelas A : pelayanan yang diberikan antara lain : Pelayanan medik ( 6 pelayanan medik), kefarmasian, keperawatan dan kebidanan, penunjang klinik, penunjang nonklinik, rawat inap. Jumlah tempat tidur perawatan kelas III paling sedikit 30 % dari seluruh tempat

tidur untuk Rumah Sakit milik Pemerintah dan 20 % dari seluruh tempat tidur untuk rumah sakit milik swasta. Sedangkan jumlah tempat tidur perawatan intensif sebanyak 5 % dari seluruh tempat tidur untuk Rumah Sakit milik pemerintah dan swasta.

b. Rumah Sakit Umum Kelas B : Pelayanan medik (6 pelayanan medik), kefarmasian, keperawatan dan kebidanan, penunjang klinik, penunjang nonklinik, rawat inap. Jumlah tempat tidur perawatan kelas III paling sedikit 30 % dari seluruh tempat tidur untuk Rumah Sakit Milik Pemerintah dan 20 % dari seluruh tempat tidur untuk rumah sakit milik swasta. Sedangkan jumlah tempat tidur perawatan intensif sebanyak 5 % dari seluruh tempat tidur untuk rumah sakit milik pemerintah dan swasta.

c. Rumah Sakit Umum Kelas C : Pelayanan medik (7 pelayanan medik), kefarmasian, keperawatan dan kebidanan, penunjang klinik, penunjang nonklinik, rawat inap. Jumlah tempat tidur perawatan kelas III paling sedikit 30 % dari seluruh tempat tidur untuk rumah sakit milik Pemerintah dan 20 % dari seluruh tempat tidur untuk rumah sakit milik swasta.

Sedangkan jumlah tempat tidur perawatan intensif sebanyak 5 % dari seluruh tempat tidur untuk rumah sakit milik pemerintah dan swasta.

d. Rumah Sakit Umum Kelas D : Pelayanan yang diberikan antara lain pelayanan medik (4 pelayanan medis), dan pelayanan kefarmasian, keperawatan dan kebidanan, penunjang klinik, penunjang nonklinik, rawat inap. Jumlah tempat tidur perawatan kelas III paling sedikit 30 % dari seluruh tempat tidur untuk rumah sakit milik pemerintah dan 20 % dari

seluruh tempat tidur untuk rumah sakit milik swasta. Sedangkan jumlah tempat tidur perawatan intensif sebanyak 5 % dari seluruh tempat tidur untuk rumah sakit milik pemerintah dan swasta.

e. Rumah Sakit Umum Kelas D pratama : didirikan dan diselenggarakan untuk menjamin ketersediaan dan meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan kesehatan tingkat kedua. RSU Kelas D Pratama hanyah dapat didirikan dan diselenggarakan di daerah tertinggal, perbatasan, atau kepulauan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

2. Rumah Sakit Khusus diklasifikasikan menjadi:

a. Rumah Sakit Khusus Kelas A ; Rumah sakit khusus kelas A adalah rumah sakit khusus yang mempunyai fasilitas dan kemampuan paling sedikit pelayanan medik spesialis dan pelayanan medik subspesialis sesuai kekhususan yang lengkap.

b. Rumah Sakit Khusus Kelas B ; Rumah sakit khusus kelas B adalah rumah sakit khusus yang mempunyai fasilitas dan kemampuan paling sedikit pelayanan medik spesialis dan pelayanan medik subspesialis sesuai kekhususan yang terbatas.

c. Rumah sakit khusus kelas C ; Rumah Sakit Khusus kelas C adalah Rumah Sakit Khusus yang mempunyai fasilitas dan kemampuan paling sedikit pelayanan medik spesialis dan pelayanan medik subspesialis sesuai kekhususan yang minimal.

2.4 Kerangka Konsep

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian

Penelitian yang menggunakan metode kuantitatif deskriptif yang bersifat prospektif untuk mendapatkan gambaran biaya yang ditimbulkan oleh penyakit Diabetes Mellitus (DM) pada pasien rawat inap, baik biaya langsung maupun biaya tidak langsung pada pasien umum maupun BPJS di RSUD Dr. H.

Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi.

Penelitian deskriptif kuantitatif adalah suatu penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan (deskripsi) tentang keadaan tertentu secara objektif. Jenis penelitian ini didasarkan pada data-data berupa angka (Machfoeddz, 2013).

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi yang beralamat di Jl. DR. Kumpulan Pane, Kota Tebing Tinggi.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dimulai dengan survei pendahuluan sampai dengan penelitian yaitu dimulai pada bulan Januari s/d Juli 2018.

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo, 2012). Adapun populasi dalam penelitian ini adalah pasien rawat

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo, 2012). Adapun populasi dalam penelitian ini adalah pasien rawat