BAB V PEMBAHASAN
5.2 Rata-rata Biaya Langsung Pasien Rawat Inap dengan Diabetes
sakit di unit rekam medis dan kasir, menjelaskan bahwa setiap pasien yang mendapatkan pelayanan kesehatan, dikenakan biaya yang satuannya sudah ditetapkan oleh pemerintah daerah yang disebut dengan unit cost atau biaya satuan. Biaya ini akan dihitung dibagain kasir RS. Biaya yang terkait dengan pelayanan kesehatan ini disebut biaya langsung. Tinggi rendahnya biaya langsung ini tergantung pada pilihan kelas kamar rawat inap, lama dirawat, dan penyakit penyerta.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata biaya langsung yang dikeluarkan oleh pasien umum ialah Rp. 1.131.078,- dengan komponen biaya
terbesar ialah biaya kamar rawat inap (34,54%), diikuti oleh biaya obat dan BHP (24,81%), biaya laboratorium (21,72%), visite dokter (16,44%), biaya administrasi (1,33%) dan biaya tindakan (1,16%).
Tingginya biaya kamar rawat inap ini dikarenakan pada pasien umum yang menjadi sampel peneliti didominasi oleh pasien di kelas VIP dan kelas I.
Dari 15 orang pasien umum, 8 diantaranya memilih menggunakan kamar kelas VIP dan 5 diantaranya di kelas I. Pemilihan kelas kamar ini akan mempengaruhi biaya kamar rawat inap dan visite dokter.
Biaya obat dan BHP tidak tertera dalam beberapa billing/invoice sebab pada pasien umum, diperbolehkan untuk menebus resep dokter diluar RS (bukan dari instalasi farmasi RS) yaitu ke apotek. Mayoritas pasien umum ini memilih untuk membeli obat dari luar saja dengan alasan lebih murah daripada membeli di RS.
Menurut kelas kamar yang digunakan pasien umum, rata-rata biaya langsung pasien umum di kelas VIP ialah Rp. 1.365.771,-, di kelas I sebesar Rp.
919.000,-, di kelas II sebesar Rp. 805.000,-, di kelas III sebesar Rp. 640.000,-.
Berdasarkan hasil wawancara dengan pewai rumah sakit di bagian kasir, meskipun pasien BPJS dikenakan tarif paket INA CBGs, perhitungan biaya di RS tetap dilakukan sebagai salah satu syarat untuk berkas klaim BPJS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata biaya langsung pada pasien BPJS (Tarif RS) ialah Rp. 913.343,- dengan komponen biaya terbesar ialah biaya obat dan BHP (31,78%), diikuti oleh biaya kamar rawat inap (29,54%), biaya
laboratorium (23,19%), biaya visite dokter (12,38%), biaya administrasi (1,64%) dan biaya tindakan (1,47%).
Sedangkan menurut kelas kamar rawat inap yang dijamin BPJS, rata-rata biaya langsung (tarif riil RS) pada pasien BPJS di kelas I ialah sebesar Rp.
1.286.975,-, di kelas II sebesar Rp. 1.156.081,- dan di kelas III sebesar Rp.
596.475,-.
Terdapat perbedaan rata-rata biaya langsung pada pasien umum dan BPJS menurut kelas kamar rawat inap yang digunakan, dimana rata-rata biaya langsung pasien BPJS lebih besar dari pada pasien umum menurut kelas kamar, hal ini dipengaruhi oleh rata-rata lama rawat inap dan jumlah setiap komponen biaya antar pasien berbeda. Misalnya, untuk komponen biaya laboratorium, pasien A melakukan 10 jenis test laboratorium, sementara pasien B hanya 5 jenis test.
Begitu pula dengan visite dokter, jumlah kunjungan dokter bias berbeda pada setiap pasien. Penyebab lainnya adalah, pada pasien BPJS, beberapa pasien sudah meng-upgrade kelas kamar rawat inapnya ke VIP, begitu pula untuk pasien di kelas II dan III.
Tarif rumah sakit untuk pasien BPJS tidak untuk dibebankan kepada pasien dan keluarga. Biaya pengobatan ini akan dibayarkan oleh BPJS setelah pengajuan klaim. Pada pasien BPJS, dikenal tarif INA-CBGs yaitu tarif dengan sistem paket yang dibayarkan per episode pelayanan kesehatan, besar kecilnya tarif tidak akan dipengaruhi oleh jumlah hari rawatan. Dasar pengelompokan (grouping) dalam INA-CBGs menggunakan sistem kodefikasi dari diagnosis akhir dan tindakan/prosedur yang menjadi output pelayanan, dengan acuan ICD-10
(Indonesian Classification Diseases – 10 ) untuk diagnosis dan ICD-9-CM untuk tindakan/prosedur. Penentuan tarif ini juga bergantung pada regional RS dan kualifikasi/kelas RS.
Kode diagnosa dan tindakan ditetapkan oleh petugas coding rumah sakit, sedangkan kode INA-CBGs beserta tingkat keparahan penyakit ditentukan oleh software INA-CBGs yang dimiliki BPJS Kesehatan. Penetapan kode INA-CBGs tersebut dilakukan berdasarkan data kode diagnosa primer, kode diagnosa sekunder, dan tindakan medis yang diinput oleh petugas coding rumah sakit pada laporan BPJS Kesehatan setiap harinya melalui software INA-CBGs yang dimiliki rumah sakit.
Untuk sampel penelitian ini sendiri, kode INA-CBGs dari sampel inklusi (ICD-10 : E11.9 / DM tanpa komplikasi), pada umumnya menurut petugas coder BPJS ialah E-4-10-I, karena pasien DM tanpa komplikasi umumnya tidak perlu prosedur khusus dan obat khusus. Ketika peneliti ingin melihat berkas klaim BPJS per pasien, pihak coder BPJS yang ada di RS belum bisa memberikannya karena terjadi keterlambatan pengklaiman untuk pasien bulan April-Mei. Keterlambatan ini terjadi karena adanya perubahan aplikasi dan petugas memerlukan waktu untuk mempelajari dan beradaptasi dengan perubahan tersebut.
Tabel 5.1 Tarif INA-CBGs Regional 3 Rumah Sakit Kelas B Rawat Inap
Dari tabel di atas dan hasil penelitan ini pada table 4.6, dapat dilihat bahwa ternyata tarif INA-CBGs lebih tinggi daripada tarif RS (tarif rill RS) pada pasien BPJS pada sampel penelitian ini yaitu rata-rata biaya langsung di kelas I ialah sebesar Rp. 1.286.975,-, di kelas II sebesar Rp. 1.156.081,- dan di kelas III sebesar Rp. 596.475,-.
Perhitungan tarif RS pada pasien BPJS juga diperlukan apabila pasien dan keluarga ini meng-upgrade kelas kamar rawat inapnya dari kelas kamar yang ditanggung oleh BPJS. Biaya ini disebut biaya selisih kamar. Pengguna BPJS yang meng-upgrade kelas kamar rawat inapnya didominasi oleh BPJS kelas I dan di upgrade ke ruang VIP. Dalam penelitian ini, dijumpai 8 orang dengan kelas kamar BPJS kelas I, 2 orang kelas II dan 1 orang kelas III, meng-upgrade kelas kamar rawat inapnya. Adapun komponen biaya yang ikut berubah dan dipengaruhi oleh perpindahan kelas ini ialah biaya kamar dan visite dokter.
Tabel 5.2 Tarif Kamar dan Visite Dokter RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi
Kelas Tarif Kamar Per Hari (Rp) Pelayanan Kesehatan Pada RSUD Dr. H. Kumpulan Pane
Hasil penelitian ini (pada tabel 4.7) menunjukkan bahwa rata-rata biaya selisih kamar akibat pindah kelas kamar rawat inap ialah Rp. 1.839.375,- dengan rata-rata lama dirawat 4 hari. Dengan rincian sebagai berikut :
Kamar kelas I pindah ke kelas VIP dengan rata-rata LOS 3 hari, biaya
5.3 Rata-rata Biaya Tidak Langsung Pasien Rawat Inap dengan Diabetes