• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PEMBAHASAN

5.3 Rata-rata Biaya Tidak Langsung Pasien Rawat Inap dengan

Biaya tidak langsung adalah uang yang dikeluarkan oleh pasien DM untuk pelayanan yang tidak terkait dengan perawatan kesehatan / pelayanan medis atau yang tidak berhubungan langsung dengan proses pengobatan/penyembuhan.

Yang termasuk biaya tidak langsung ialah biaya trasnportasi, hilangnya produktifitas (responden dan keluarga pendamping) serta biaya kebutuhan pendamping semalama mendampingi pasien.

Biaya transportasi bergantung pada jenis kendaraan yang digunakan serta jarak rumah responden ke RS. Hilangnya produktifitas pasien maupun keluarga bergantung pada jenis pekerjaan serta lama rawatan. Sedangkan biaya pendamping bergantung pada jenis makanan yang dikonsumsi serta lama rawatan.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata biaya tidak langsung pada pasien umum rawat inap ialah Rp. 409.867,-, dengan komponen biaya terbesar adalah hilangnya produktifitas responden/pasien (52,70%), diikuti biaya pendamping (32,42%), biaya transportasi (7,48%), dan hilangnya produktifitas keluarga pendamping (7,40%).

Sedangkan menurut kelas kamar rawat inapnya, rata-rata biaya tidak langsung pasien umum rawat inap di kelas VIP ialah sebesar Rp. 502.500,-, di kelas I sebesar Rp. 332.600,-, di kelas II sebesar Rp. 300.000,-, di kelas III sebesar Rp. 165.000,-.

Sementara untuk pasien BPJS, rata-rata biaya tidak langsungnya ialah Rp.

116.635,-, dengan komponen biaya terbesar ialah biaya pendamping (40,54%), diikuti oleh hilangnya produktifitas pada pasien (28,65%), keluarga pendamping (15,60%) dan biaya transportasi (15,21%).

Sedangkan menurut kelas kamar yang dijamin oleh BPJS, rata-rata biaya tidak langsung pasien BPJS rawat inap kelas I ialah sebesar Rp. 316.737,-, kelas II sebesar Rp. 312.167,-, dan kelas III sebesar Rp. 215.333,-.

Perbedaan nilai rata-rata biaya tidak langsung BPJS dan umum menurut kelas kamarnya, disebabkan karena pada komponen biaya ini, pemilihan jenis kendaraan dan konsumsi itu relatif dan bergantung pada jenis pekerjaan pasien

dan keluarga pendamping. Pada pasien umum kelas III, biaya tidak langsungnya sangat rendah dan berbeda jauh dengan kelas III pasien BPJS, karena keluarga pendamping dan pasien (kelas III umum) tidak memiliki pekerjaan/Ibu rumah tangga, sehingga hilangnya produktitas pasien dan keluaga bernilao nol dan rata-rata LOSnya lebih rendah daripada pasien BPJS kelas III.

Nilai hilangnya produktifitas termasuk komponen biaya yang terbesar diakibatkan karena 91 % pasien/responden adalah termasuk kedalam kelompok usia produktif dan bekerja. Biaya pendamping juga tinggi karena sebagian besar keluarga membeli makanan disekitar RS dan kantin yang ada di dalam lingkungan RS. Biaya transportasi cukup rendah persentasenya dikarenakan sebagian besar responden dan keluarga adalah masyarakat kota Tebing Tinggi dan menggunakan angkutan umum berupa becak. Sedangkan nilai hilangnya produktifitas keluarga pendamping rendah dikarenakan sebagian besar keluarga yang mendampingi ialah anggota keluarga yang tidak bekerja termasuk ibu rumah tangga, agar tidak mengganggu pekerjaan keluarga yang lainnya.

5.4 Rata-rata Biaya Total Pasien Rawat Inap dengan Diabetes Mellitus Biaya total akibat sakit (cost of illness) ialah biaya keseluruhan yang dikeluarkan oleh pasien, meliputi biaya langsung dan biaya tidak langsung (Kemenkes RI, 2013). Dalam penelitian ini, biaya total yang dihitung ialah biaya langsung dan tidak langsung dalam satu episode rawat inap di RS.

Hasil penelitian menunjukkan rata-rata biaya total pasien umum rawat inap dengan diabetes mellitus di kelas VIP ialah sebesar Rp. 1.868.271,- , di kelas I

sebesar Rp. 1.251.600,-, di kelas II sebesar Rp. 1.105.000,-, dan di kelas III sebesar Rp. 805.000,-.

Sementara untuk pasien BPJS, rata-rata biaya total rawat inap dengan DM tipe 2 tanpa komplikasi, di kelas I ialah sebesar Rp. 1.603.712,-, di kelas II sebesar Rp. 1.291.414,-, dan di kelas III sebesar Rp. 811.808,- .

Perbedaan rata-rata biaya total menurut kelas, di kelas III tidak menunjukkan perbedaan yang besar, yakni Rp. 805.000,- pada pasien umum dan Rp. 811.808,- pada pasien BPJS. Namun, pada kelas II dan I, ada perbedaan biaya total yang cukup besar (selisih biaya), yakni berkisar dari Rp. 186.000,- sampai dengan RP. 352.000,-. Selisih biaya yang cukup besar ini timbul akibat pasien BPJS di kelas I dan II umumnya melakukan upgrade kelas kamar rawat inap ke VIP atau ke kelas I.

Sedangkan untuk total biaya selisih kamar akibat pindah kelas kamar rawat inap pada pasien BPJS (13 pasien) totalnya ialah Rp. 1.839.375 dengan rincian sebagai berikut : rata-rata biaya pindah dari kelas I ke VIP ialah Rp.

294.375,- ; dari kelas II ke VIP sebesar Rp. 590.000,- ; dari kelas III ke VIP sebesar Rp. 955.000,-.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Karakteristik responden dimana variable umur terbanyak adalah 45-54 (41,79%), sebagian besar responden adalah perempuan (53,73%), pekerjaan terbanyak wiraswasta (34,33%), lama menderita DM yag terbanyak ialah >5 tahun (56,71%), rata-rata LOS ialah 3 hari, penjamin terbanyak ialah BPJS (77,61%), kelas kamar terbanyak ialah kelas III (43,28%), dan antidiabetik terbanyak yang digunakan ialah metformin (47,76%).

2. Rata-rata biaya langsung pada pasien umum dengan DM tipe 2 tanpa komplikasi ialah Rp. 1.131.078,- dengan komponen biaya terbesar ialah biaya kamar rawat inap (34,54%), diikuti oleh biaya obat dan BHP (24,81%), biaya laboratorium (21,72%), visite dokter (16,44%), biaya administrasi (1,33%) dan biaya tindakan (1,16%).

3. Rata-rata biaya langsung pasien umum dengan DM tipe 2 tanpa komplikasi menurut kelas kamar rawat inap di kelas VIP ialah Rp.

1.365.771,-, dikelas I sebesar Rp. 919.000,-, dikelas II sebesar Rp.

805.000,-, dikelas III sebesar Rp. 640.000,-.

4. Rata-rata biaya langsung pada pasien BPJS (Tarif RS) dengan DM tipe 2 tanpa komplikasi ialah Rp. 913.343,- dengan komponen biaya terbesar ialah biaya obat dan BHP (31,78%), diikuti oleh biaya kamar rawat inap

(29,54%), biaya laboratorium (23,19%), biaya visite dokter (12,38%), biaya administrasi (1,64%) dan biaya tindakan (1,47%).

5. Rata-rata biaya langsung pada pasien BPJS (tarif riil RS) dengan DM tipe 2 tanpa komplikasi menurut kelas kamar rawat inap yang dijamin BPJS di kelas I ialah sebesar Rp. 1.286.975,-, dikelas II sebesar Rp. 1.156.081,- dan dikelas III sebesar Rp. 596.475,-.

6. Total biaya selisih kamar akibat pindah kelas kamar rawat inap pada tiga belas pasien BPJS dalam penelitian ialah Rp. 1.839.375,-

7. Rata-rata biaya tidak langsung pada pasien umum rawat inap dengan DM tipe 2 tanpa komplikasi ialah Rp. 409.867,-, dengan komponen biaya terbesar adalah hilangnya produktifitas responden/pasien (52,70%), diikuti biaya pendamping (32,42%), biaya transportasi (7,48%), dan hilangnya produktifitas keluarga pendamping (7,40%).

8. Rata-rata biaya tidak langsung pasien umum dengan DM tipe 2 tanpa komplikasi menurut kelas kamar rawat inap dikelas VIP ialah sebesar Rp.

502.500,-, dikelas I sebesar Rp. 332.600,-, dikelas II sebesar Rp.

300.000,-, dikelas III sebesar Rp. 165.000,-

9. Rata-rata biaya tidak langsungnya pada pasien BPJS dengan DM tipe 2 tanpa komplikasi ialah Rp. 116.635,-, dengan komponen biaya terbesar ialah biaya pendamping (40,54%), diikuti oleh hilangnya produktifitas pada pasien (28,65%), keluarga pendamping (15,60%) dan biaya transportasi (15,21%).

10. Rata-rata biaya tidak langsung pasien BPJS dengan DM tipe 2 tanpa komplikasi menurut kelas kamar rawat inap yang dijamin BPJS, pada kelas I ialah sebesar Rp. 316.737,-, kelas II sebesar Rp. 312.167,-, dan kelas III sebesar Rp. 215.333,-.

11. Rata-rata biaya total pasien umum rawat inap dengan DM tipe 2 tanpa komplikasi menurut kelas kamar dikelas VIP ialah sebesar Rp. 1.868.271,- , dikelas I sebesar Rp. 1.251.600,-, dikelas II sebesar Rp. 1.105.000,-, dan dikelas III sebesar Rp. 805.000,-.

12. Rata-rata biaya total rawat inap pasien BPJS dengan DM tipe 2 tanpa komplikasi menurut kelas kamar dengan DM dikelas I ialah sebesar Rp.

1.603.712,-, dikelas II sebesar Rp1.291.414,-, dan dikelas III sebesar Rp. . 811.808,-.

13. Terdapat perbedaan/selisih rata-rata biaya total antara pasien BPJS dan umum, dimana ternyata lebih tinggi biaya total pada pasien BPJS (tarif rill) di kelas I dan II dengan selisih antara Rp. 186.000,- sampai dengan Rp, 352.000,-. Tingginya biaya total pada pasien BPJS disebabkan karena pasien kelas I dan II umumnya memillih untuk meng-upgrade kelas kamar rawat inapnya.

6.2 Saran

1. Diharapkan kepada pemerintah Dinas Kesehatan dan BPJS Kesehatan untuk meningkatkan edukasi dan informasi terhadap masyarakat karena masih banyak dijumpai pasien dari keluarga ekonomi menengah ke atas namun bukan peserta BPJS Kesehatan.

2. Bagi masyarakat agar selalu melakukan tindakan pencegahan (preventif), demi menjaga kesehatan dengan menerapkan pola hidup sehat, untuk menekan resiko sakit dan kerugian ekonomi yang akan timbul akibat sakit.

Diharapkan pula kepada masyarakat untuk mengubah paradigma tentang pentingnya menjaga kesehatan sebagai investasi masa depan yang perlu dijaga.

3. Masyarkat diharapkan mau mendaftarkan diri sebagai peserta BPJS untuk mengurangi beban ekonomi yang akan timbul apabila sakit.

4. Pemerintah setempat dan Dinas Kesehatan Kota Tebing Tinggi perlu melakukan edukasi terhadap masyarakat mengenai dampak sakit DM terhadap ekonomi keluarga, sehingga diharapkan masyarakat akan lebih menjaga kesehatannya dengan melakukan pola hidup sehat..

5. Bagi RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi, disarankan agar melakukan pembangunan dan pengembangan kamar rawat inap terutama untuk kelas I dan VIP, karena umumnya pasien BPJS (kelas I dan II) memilih untuk meng-upgrade kelas kamar rawatannya ke kelas VIP maupun kelas I. Perpindahan kelas kamar ini akan menguntungkan RS karena akan menimbulkan biaya selisih kamar yang akan dibayarkan dari kantong pasien, sehingga akan menambah pendapatan RS selain dari klaim BPJS.

DAFTAR PUSTAKA

American Diabetes Association. 2014. Diagnosis and Classification of Diabetes. Diabetes Care; Vol 37(Suppl. 1): S81

Azwar, A,. 1999. Pengantar Administrasi Kesehatan . Binarupa Aksara : Jakarta.

Chan, A., 2011. Peran Konseling Farmasis Pafa Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Ditinjau dari Analisis Biaya Terapi di RSUD dr. Djoelham Binjai.

Tesis. Universitas Sumatera Utara, Indonesia.

Depkes RI., 2005. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Diabetes Mellitus.

Jakarta : Departemen Kesehatan, Direktorat Jenderal, Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan.

________., 2008. Pedoman Pengendalian Diabetes Mellitus dan Penyakit Metabolik. Jakarta : Kemenkes RI.

Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara., 2015. Mari Kita Cegah Diabetes dengan Cerdik. http://www.depkes.go.id/article/view/2383/diabetes- melitus-penyebab-kematian-nomor-6-di-dunia-kemenkes-tawarkan-solusi-cerdik-melalui-posbindu.html. Diakses tanggal 8 Januari 2018.

Finkelstein, E.A., Chay, J., Bajpai, S., 2014, The Economic Burden of Self-Reported and Undiagnosed Cardiovascular Diseases and Diabetes on Indonesian Households. PLoS ONE 9, e99572. doi:10.1371/journal.

pone.0099572.

Gyldmark, M,. 2000. A review of cost studies of intensive care units: problems with the cost concept. Crit Care Med : Copenhagen

International Diabetes Federation., 2013. Diabetes Atlas 6th Edition.

www.eatlas.idf.org. Diunduh pada tanggal 18 Januari 2018.

_____________________________., 2015. Diabetes Atlas 7th Edition.

www.eatlas.idf.org. Diunduh pada tanggal 18 Januari 2018.

_____________________________., 2017. Diabetes Atlas 8th Edition.

www.eatlas.idf.org. Diundug pada tanggal 18 Januari 2018.

Inzucchi, S.E., 2005. The Diabetes Mellitus Manual : A Primary Care Comanion to Ellenberg & Rifkin’s, Sixth edition. USA : Mc. Graw Hill.

Kemenkes RI., 2013. Pedoman Penerapan Kajian Farmakoekonomi. Jakarta : Kemenkes RI.

___________., 2013. Pedoman Surveilans Penyakit Tidak Menular. Jakarta : Kemenkes RI.

____________., 2013. Riskesdas 2013. Jakarta : Kemenkes RI.

____________.,2014. Buletin Jendela Data dan Pusat Informasi PTM. Jakarta:

Kemenkes RI.

___________., 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 56 tahun 2014 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit. Jakarta : Kemenkes RI.

___________., 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 59 tahun 2014 tentang Tarif Pelayanan Kesehatan dalam Penyelenggaraan Program JKN.

Jakarta : Kemenkes RI.

___________., 2015. Diabetes Melitus penyebab Kematian Nomor 6 di Dunia.

http://www.depkes.go.id/article/view/2383/diabetes-melitus-penyebab- kematian-nomor-6-di-dunia-kemenkes-tawarkan-solusi-cerdik-melalui-posbindu.html. Diakses tanggal 8 Januari 2018.

Kernick, D., 2000. Costing interventions in primary care. Family Practice.

Oxford University Press : Inggris.

Lubis, A.F., 2009. Ekonomi Kesehatan. Medan : USU Press.

Machfoedz, Ircham., 2013. Metodologi Penelititan Kuantitatif & Kualitatif.

Yogyakarta : Penerbit Fitramaya.

Mogyyorosy, Z., Peter Smith., 2005. The Main Methodological Issues in Costing Health Care Services. UK : University Of York.

Munandar, M., 2001. Budgeting, Perencanaan Kerja, Pengkoordinasian Kerja, Pengawasan Kerja : Edisi Pertama. BPFE : Yogyakarta

Nafarin, M., 2000. Penganggaran Perusahaan: Edisi Pertama,.Salemba Empat: Jakarta.

Notoatmodjo, S., 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Yogyakarta: Rineka Cipta.

Pemerintah Kota Tebing Tinggi. , 2011. Perda Kota Tebing Tinggi No. 3 Tahun 2011 tentang Restribusi Pelayanan Kesehatan Pada RSUD Dr. H.

Kumpulan Pane. Tebing Tinggi : Pemko Tebing Tinggi.

Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI)., 2015. Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia Jakarta : PB.PERKENI.

Rekam Medis RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi

Rosiningrum, D. I., 2015. Analisis Biaya Dan Outcome Terapi Pasien Diabetes Melitus Rawat Inap di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta. (Skripsi). Yogyakarta : Universitas Gajah Mada.

Shancez, L.A., 2005. Pharmacoeconomics: Principle, Methods and Applications. USA : The McGraw-Hill Companies, Inc.

Sugiyono.,2016. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung : CV Alfabeta.

Sutrisno, Deny., 2016. Analisis Biaya Penyakit Diabetes Melitus Tipe II Pasien BPJS Di Bangsal Penyakit Dalam RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun 2016. Riset Informasi Kesehatan : Vol 6 No 1: 62-70

Tjiptoherijanto. P., Soesetyo.B.2008. Ekonomi Kesehatan. Jakarta : Penerbit Rineka Cipta.

Undang - Undang Republik Indonesia No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

Undang - Undang Republik Indonesia No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

World Health Organization., 2014. Global Status Report on NCDS. Switzerland : WHO.

World Health Organization., 2016. Global Report on Diabetes. Frence : WHO.

World Health Organization., 2008. Health System Financing. Geneva : WHO.

Lampiran 1. Kuesioner Penelitian

ANALISIS BIAYA TERAPI DIABETES MELLITUS DI RSUD DR. H.

KUMPULAN PANE KOTA TEBING TINGGI

Antidiabetik yang digunakan :

II. BIAYA TIDAK LANGSUNG A. Biaya Transportasi

1. Biaya transportasi yang dikeluarkan untuk responden dan keluarga pendamping :

 Jika menggunakan kendaraan pribadi, berapa biaya bensin yang dikeluarkan (Pulang – Pergi ) : Rp. ___________

 Jika menggunakan kendaraan umum, berapa ongkos yang dibayarkan (Pulang – Pergi) : Rp. ___________

B. Biaya Hilangnya Produktifitas 2. Berapa penghasilan responden ?

 Per bulan : Rp._______________________ atau

 Per hari : Rp. _______________________

3. Berapa hari responden bekerja dalam seminggu : ____________ hari 4. Berapa penghasilan responden diluar gaji (penghasilan tambahan) ?

___________________ / hari / bulan

5. Apakah selama dirawat, ada yang keluarga yang mendampingi ?

 Jika Ada, :

6. Biaya kebutuhan keluarga yang mendampingi yang dikeluarkan untuk satu orang dalam satu hari :

Jenis Frekuensi Biaya Total

Konsumsi :

Lampiran 2. Surat Pemberian Izin Penelitian

Lampiran 3. Surat Keterangan Telah Selesai Penelitian

Lampiran 3. Dokumentasi

Gambar 1. Wawancara dengan Keluarga Pasien DM

Gambar 2. Registrasi Pasien di Ruangan

Analisis Biaya Terapi Diabetes Mellitus di RSUD Dr. H. Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi Tahun 2018