BAB III TINJAUAN UMUM
3.2. Pengertian Hak atas Tanah
Ketentuan mengenai hak atas tanah diatur dalam Pasal 4 Ayat (1) UUPA yang menyatakan: “atas dasar hak menguasai dari negara sebagai yang dimaksud dalam Pasal 2 ditentukan adanya macam-macam hak atas permukaan bumi, yang disebut dengan tanah, yang dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh orang-orang, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang-orang lain serta badan-badan hukum”. Berdasarkan hak menguasai dari negara50, maka negara dalam hal ini adalah Pemerintah dapat memberikan hak-hak atas tanah kepada seseorang.
49 R. Soetojo Prawirohamidjojo dan Asis Safiooedin, op.cit., hal. 10.
50 Menurut Pasal 2 ayat (2) UUPA Tahun 1960, maka hak menguasai dari negara termaksud dalam ayat (1) pasal ini memberi wewenang untuk: a. mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan bumi, air dan ruang angkasa tersebut; b.
menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan bumi, air dan ruang angkasa, c. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi, air dan ruang angkasa.
47
Pemberian hak itu berarti pemberian wewenang untuk mempergunakan tanah dalam batas-batas yang diatur oleh peraturan perundang-undangan.
Dalam ketentuan Pasal 1 Ayat (4) UUPA ditentukan: “dalam pengertian bumi, selain permukaan bumi, termasuk pula tubuh bumi di bawahnya serta yang berada di bawah air.” Sehubungan dengan ketentuan tersebut, menurut Sudargo Gautama: “ayat ini memberikan suatu interpretasi otentik tentang apa yang diartikan dengan istilah „bumi‟. Pengertian „bumi‟ dalam UUPA ini meliputi permukaan bumi (yang disebut „tanah‟), berikut apa yang berada di bawahnya dan yang berada di bawah air”.51
Makna permukaan bumi sebagai bagian dari tanah yang dapat di haki oleh setiap orang atau badan hukum. Oleh karena itu hak-hak yang timbul di atas hak atas permukaan bumi (hak atas tanah) termasuk di dalamnya bangunan atau benda-benda yang terdapat di atasnya merupakan suatu persoalan hukum, yakni berkaitan dengan adanya asas-asas dalam hubungannya antara tanah dengan tanaman dan bangunan yang ada di atasnya yang dikenal dengan asas accesie atau asas perlekatan. Asas perlekatan ini mengandung makna bahwa bangunan-bangunan dan benda-benda/tanaman yang terdapat di atasnya merupakan suatu kesatuan dengan tanah serta merupakan bagian dari tanah yang bersangkutan.
Dengan demikian, yang termasuk pengertian hak atas tanah meliputi juga pemilikan bangunan dan tanaman yang ada di atas tanah yang di haki kecuali apabila ada kesepakatan lain dengan pihak lain.52 Hukum tanah yang dianut oleh UUPA bertumpu pada hukum adat yang tidak mengenal asas perlekatan tersebut,
51 Sudargo Gautama, 1989, Tafsiran Undang-Undang Pokok Agraria, Cet. VIII, Alumni, Bandung.
52 Boedi Harsono, op. cit. hal. 17.
48
melainkan menganut asas pemisahan horizontal (horizontale scheiding), di mana hak atas tanah tidak dengan sendirinya meliputi pemilikan bangunan dan tanaman yang ada di atasnya.53
Hak atas tanah adalah hak yang memberi wewenang kepada seseorang yang mempunyai hak untuk mempergunakan atau mengambil manfaat atas tanah tersebut.54 Kata “menggunakan” mengandung pengertian bahwa hak atas tanah digunakan untuk kepentingan mendirikan bangunan, misalnya rumah, toko, hotel, kantor, pabrik. Kata “mengambil manfaat” mengandung pengertian bahwa hak atas tanah digunakan untuk kepentingan bukan mendirikan bangunan, misalnya untuk kepentingan pertanian, perikanan, peternakan, atau perkebunan.55 Dengan diberikannya hak atas tanah tersebut, maka antara orang dengan tanah telah terjalin hubungan hukum sehingga dapat dilakukan perbuatan hukum oleh yang mempunyai hak itu terhadap tanah kepada pihak lain, seperti jual-beli, tukar-menukar dan lain-lain.56
Menurut Soedikno Mertokusumo, wewenang yang dipunyai oleh pemegang hak atas tanah terhadap tanahnya dibagi menjadi 2 (dua), yaitu:
1. Wewenang umum;
Wewenang yang bersifat umum yaitu pemegang hak atas tanah mempunyai wewenang untuk menggunakan tanahnya, termasuk juga tubuh bumi, air dan ruang angkasa yang ada di atasnya sekedar diperlukan untuk kepentingan yang langsung berhubungan dengan penggunaan tanah
53 Djuhaenda Hasan, 1996, Lembaga Jaminan Kebendaan Bagi Tanah dan Benda Lainnya yang Melekat pada Tanah dalam Konsep Penerapan Asas Pemisahan Horizontal, Citra Aditya Bakti, Bandung, hal. 75.
54 Wikipedia, 2013, Hak atas Tanah, http://id.wikipedia.org/wiki/Hak_atas_tanah, data diakses pada tanggal 13 Maret 2013.
55 Urip Santoso, 2010, Pendaftaran dan Peralihan Hak atas Tanah, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, hal. 49.
56 Wantjik Saleh, 1985, Hak Anda atas Tanah, Ghalia Indonesia, Jakarta, hal. 15.
49
itu dalam batas-batas menurut UUPA dan peraturan hukum lain yang lebih tinggi.
2. Wewenang khusus
Wewenang yang bersifat khusus yaitu pemegang hak atas tanah mempunyai wewenang untuk menggunakan tanahnya sesuai dengan macam hak atas tanahnya, misalnya wewenang pada tanah Hak Milik adalah dapat untuk kepentingan pertanian dan/atau mendirikan bangunan, wewenang pada tanah Hak Guna Bangunan adalah menggunakan tanah hanya untuk mendirikan dan mempunyai bangunan atas tanah yang bukan miliknya, wewenang Hak Guna Usaha adalah menggunakan hanya untuk kepentingan usaha di bidang pertanian, perikanan, peternakan atau perkebunan. 57
Berdasarkan pada uraian di atas maka, hak atas tanah merupakan wewenang baik secara hukum yang diberikan kepada seseorang sebagai pemilik tanah oleh tanah tersebut, untuk mempertahankan kepemilikannya kepada orang lain serta dapat melakukan segala perbuatan dan tindakan hukum terkait dengan tanah tersebut, maupun wewenang yang diberikan kepada pemilik tanah untuk menggunakan, memanfaatkan atau mengusahakan tanah tersebut, sehingga dapat memberi manfaat kepadanya.
Hak atas tanah juga memberi pembatasan atas pelaksanaan wewenang tersebut, yakni tanah yang berfungsi sosial sebagaimana diatur dalam Pasal 6 UUPA yang menentukan bahwa semua hak atas tanah mempunyai fungsi sosial.
Ketentuan tersebut tidaklah berarti, bahwa kepentingan perorangan akan terdesak sama sekali oleh kepentingan umum (masyarakat) karena UUPA juga memperhatikan kepentingan-kepentingan perseorangan. Antara kepentingan masyarakat dan perseorangan haruslah saling mengimbangi hingga pada akhirnya
57 Soedikno Mertokusumo, 1988, Hukum dan Politik Agraria, Karunika, Jakarta, hal. 99.
50
akan tercapailah tujuan pokok: kemakmuran, keadilan, dan kebahagiaan bagi rakyat seluruhnya.58