• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III TINJAUAN UMUM

FILOSOFI KETENTUAN TENTANG TANAH ABSENTEE

4.1. Pengertian Larangan Pemilikan Tanah Absentee

Bagi Indonesia, sebagai negara agraris yang berarti kehidupan sebagian besar warga negaranya tergantung dari mata pencaharian sebagai petani, kedudukan tanah menjadi sangat penting bahkan merupakan kebutuhan pokok bagi warga negaranya. Oleh karena itu, kepemilikan atas tanah merupakan hak asasi petani yang harus dipenuhi oleh negara. Suatu negara berkembang jika ingin maju harus memperhatikan pembagian tanah pertanian yang merata.

Menurut M.R. Redclift, “it was recognized that unequal distribution of land contributed to low productivity in the agrarian sector and that agrarian reform policies reflected this uniquality.”92 Kewajiban negara untuk menyediakan lahan yang cukup untuk petani, sejalan dengan konstitusi yang menyatakan bahwa kekayaan negeri ini dipergunakan untuk kepentingan rakyat.93

Hal di atas mengandung konsekuensi bahwa, petani sudah semestinya dan harus memiliki tanah untuk bisa disebut sebagai petani. Negara mempunyai tugas dan wewenang berdasar pada ketentuan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang selanjutnya dijabarkan Pasal 2 ayat (3) UUPA, yang dikenal sebagai konsep Hak Menguasai Tanah Oleh Negara, berkewajiban menyediakan lahan atau tanah bagi para petani tidak punya tanah atau petani penggarap serta rakyat miskin yang

92 M.R. Redclift, 1987, Agrarian Reform and Peasant Organization on the Ecuadorian Cost, The Athlone Press of the University of London, hal. 4.

93 Jimly Asshiddiqie, 2009, Komentar Atas Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Sinar Grafika, Jakarta, hal.141.

74

tidak punya tanah lainnya. Karena dalam konsep tersebut, negara adalah (konsep hak menguasai negara), dimana wewenang yang bersumber pada hak menguasai dari negara tersebut digunakan untuk mencapai sebesar-besar kemakmuran rakyat dan pelaksanaannya dapat dikuasakan ke daerah-daerah dan masyarakat hukum adat apabila diperlukan serta tidak bertentangan dengan kepentingan nasional. Hal ini tentu berbeda dengan ketentuan mengenai domain verklaring yang terdapat dalam ketentuan Agrarische Besluit (Stb. 1870 Nomor 118 Pasal 1), yang intinya menyatakan bahwa semua tanah yang pihak lain tidak dapat membuktikan sebagai hak eigendomnya, adalah domain (milik) negara.94 Sehingga dalam hal ini negara adalah tidak menguasai tanah, tetapi justru sebagai pemilik tanah yang tentu sangat merugikan masyarakat pada waktu tersebut, khususnya masyarakat tani.

Agar terwujud bahwa setiap petani harus memiliki tanah garapan agar dapat disebut petani dalam suatu masyarakat atau negara agraris, kehadiran negara selain sebagaimana di atas juga dalam kaitannya dengan mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan dan persediaan bumi, air dan ruang angkasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) huruf a UUPA. Dalam hal demikian, agar supaya pemilikan tanah berkeadilan yakni setiap rakyat petani memiliki tanah garapan maka negara berwenang mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan dan persediaan tanah. Salah satunya dengan cara melihat status kepemilikan tanah seseorang yang melampaui batas kewajaran, jauh dari tempat tinggalnya atau pemilik lahan tidak aktif mengolah lahan sehingga tanah tidak dapat dipergunakan secara maksimal, sehingga diambil kebijakan oleh

94 H. Muchsin, Imam Koeswahyono, Soimin, 2010, Hukum Agraria Indonesia Dalam Perspektif Sejarah, Refika Aditama, Bandung, hal. 15.

75

Pemerintah dalam bentuk larangan pemilikan tanah absentee.

Dalam ketentuan Pasal 3 ayat (1) PP Nomor 224 Tahun 1961 : “pemilik tanah pertanian yang bertempat tinggal di luar kecamatan tempat letak tanahnya, dalam jangka waktu enam (6) bulan wajib mengalihkan hak atas tanahnya kepada orang lain di kecamatan tepat letak tanah itu atau pindah ke kecamatan letah tanah tersebut.” Ketentuan pasal ini terdapat pengecualian yaitu bagi pegawai negeri dan pemilik yang bertempat tinggal berbatasan dengan letak tanah (diatur dalam Pasal 3 ayat (2) dan (4) PP No 224 Tahun 1961).

Terhadap larangan kepemilikan tanah yang di luar batas kewajaran, Pasal 7 UUPA menentukan bahwa, untuk tidak merugikan kepentingan umum maka pemilikan dan penguasaan tanah yang melampaui batas tidak diperkenankan.

Ketentuan Pasal 7 UUPA ini dalam literatur yang dikenal dengan istilah larangan latifundia atau di Philipina juga disebut dengan hacienta, artinya larangan

penguasaan tanah yang luas sekali sehingga ada batasan maksimum seseorang boleh mempunyai tanah terutama tanah pertanian.95

Berkaitan dengan pembahasan mengenai tanah absentee, juga terkait dengan ketentuan Pasal 17 ayat (1) UUPA, yakni: “dengan mengingat ketentuan dalam Pasal 7 maka untuk mencapai tujuan yang dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) diatur luas maksimum dan/atau minimum tanah yang boleh dipunyai dengan sesuatu hak tersebut dalam Pasal 16 oleh satu keluarga atau badan hukum”, sedangkan dalam ketentuan ayat (2) disebutkan: “penetapan batas maksimum termaksud dalam ayat (1) pasal ini dilakukan dengan peraturan perundangan di

95 A.P. Parlindungan, 1993, Komentar Atas Undang-Undang Pokok Agraria, Mandar Maju, Bandung, hal. 6.

76

dalam waktu yang singkat.”

Untuk merealisasikan amanat Pasal 17 ayat (2) tersebut maka lahirlah Perpu Nomor 56 Tahun 1960. Melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1961 tentang Penetapan Semua Undang-Undang Darurat dan Semua Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Yang Sudah Ada Sebelum Tanggal 1 Januari 1961 Menjadi Undang-Undang, maka Perpu Nomor 56 Tahun 1960 disahkan menjadi Undang-Undang Nomor 56 Prp Tahun 1960 tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 174, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5117).

Dalam ketentuan Pasal 8 Undang-Undang Nomor 56 Prp Tahun 1960 ditentukan: “Pemerintah mengadakan usaha-usaha agar supaya setiap petani sekeluarga memiliki tanah minimum dua (2) hektar”.
 Di dalam penjelasan Pasal 8 di atas yakni usaha-usaha yang harus dijalankan untuk mencapai tujuan, supaya setiap keluarga petani mempunyai dua (2) hektar ialah terutama ekstensifikasi tanah pertanian dengan pembukaan tanah secara besar-besaran di luar jawa, transmigrasi, dan industrialisasi. Hal tersebut oleh Tampil Anshari dikatakan bahwa, sudah saatnya batas minimum tanah pertanian ditinjau kembali agar ditetapkan lebih rendah di bawah dua (2) hektar karena jumlah petani semakin besar.96 Begitu pula jika dihubungkan dengan perkembangan ilmu dan teknologi batas minimum dua (2) hektar sudah tidak sesuai lagi, banyak ahli mengusulkan agar ditinjau kembali dan disesuaikan dengan kebutuhan nyata, misalnya untuk di

96 Tampil Anshari Siregar, op.cit. hal. 84.

77

Pulau Jawa dan Bali cukup 0,5 hektar saja. 97 Dilihat dari asal-usulnya, kepemilikan tanah absentee dapat terjadi karena tiga hal, yaitu :

a. Tanah yang ditinggalkan oleh pemiliknya.

Pemilik yang bersangkutan berpindah tempat dari kecamatan letak tanah selama 2 tahun berturut-turut. Jika pihak tersebut melapor kepada pejabat setempat tentang kepergiannya, maka dalam waktu satu tahun sejak berakhirnya jangka waktu tersebut ia diwajibkan memindahkan hak milik atas tanah pertaniannya kepada orang lain yang bertempat tinggal di kecamatan tersebut.

b. Pewarisan

Jika karena pewarisan maka dalam waktu satu (1) tahun terhitung sejak si pewaris meninggal, ahli waris bersangkutan diwajibkan untuk mengalihkan hak milik atas tanah tersebut kepada orang lain yang bertempat tinggal di kecamatan di mana tanah itu berada, atau apabila ahli waris ingin tetap memiliki tanah tersebut, maka ia harus berpindah ke kecamatan tanah yang bersangkutan.

c. Jual-beli

Proses transaksi jual-beli tanah menyebabkan beralihnya hak milik atas tanah yang bersangkutan. Adapun hal-hal yang dikecualikan dalam pemilikan tanah secara absentee adalah:

a. Pemilik yang bertempat tinggal di kecamatan yang berbatasan dengan kecamatan tanah tersebut berada;

b. Pegawai negeri dan anggota ABRI serta orang-orang yang

97 Mudjiono, 1997, Politik dan Hukum Agraria, Liberty, Yogyakarta, hal. 83.

78

dipersamakan;

c. Pemilik yang mempunyai alasan khusus yang dapat diterima oleh Direktorat Jenderal Agraria.98

Sehubungan dengan larangan pemilikan tanah absentee tersebut, maka apabila karena suatu peristiwa hukum terjadi pemilikan tanah absentee, maka tersedia beberapa pilihan bagi pemiliknya untuk mengatasinya, yakni: pemilik tanah harus memindahkan kepemilikan tanahnya kepada orang lain yang bertempat tinggal di kecamatan letak tanahnya; pemilik tanah yang pindah ke kecamatan letak tanah tersebut berada; atau pemilik tanah mengajukan hak baru yang sesuai dengan peruntukan/ penggunaan tanahnya.99