• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGERTIAN KOGNISI

Dalam dokumen Psikologi Sosial (Halaman 37-44)

PENDEKATAN BIOLOGIS

DAFTAR PUSTAKA

C. PENGERTIAN KOGNISI

Istilah kognisi berasal dari bahasa Latin cognoscere yang artinya mengetahui. Kognisi dapat pula diartikan sebagai pemahaman terhadap pengetahuan atau kemam-puan untuk memperoleh pengetahuan. Istilah ini digunakan oleh filsuf untuk mencari pemahaman terhadap cara manusia berpikir Karya Plato dan Aristotle telah memuat topik tentang kognisi karena salah satu tujuan filsafat adalah memahami segala gejala alam melalui pemahaman dari manusia itu sendiri.

Kognisi dipahami sebagai proses mental karena kognisi mencerminkan pe-mikiran dan tidak dapat diamati secara langsung. Oleh karena itu kognisi tidak dapat diukur secara langsung, namun melalui perilaku yang ditampilkan dan dapat diamati. Misalnya kemampuan anak untuk mengingat angka dari 1-20, atau kemampuan untuk menyelesaikan teka-teki, kemampuan menilai perilaku yang patut dan tidak untuk di-imitasi.

Contohnya, saat kita melihat seseorang dari suatu ras tertentu (Cina, misalnya), kita seringkali secara otomatis langsung berasumsi bahwa orang tersebut memiliki ciri/

sifat tertentu. Kapasitas kognitif kita juga terbatas. Selain itu, terdapat suatu hubungan antara kognisi dan afeksi (bagaimana kita berpikir dan bagaimana kita merasa).

Aspek kognitif adalah kemampuan intelektual siswa dalam berpikir, menegta-hui dan memecahkan masalah.

Menurut Bloom (1956) tujuan domain kognitif terdiri atas enam bagian :

a. Pengetahuan (knowledge)

mengacu kepada kemampuan mengenal materi yang sudah dipelajari dari yang sederhana sampai pada teori-teori yang sukar. Yang penting adalah kemampuan mengingat keterangan dengan benar.

b. Pemahaman (comprehension)

Mengacu kepada kemampuan memahami makna materi. Aspek ini satu tingkat di atas pengetahuan dan merupakan tingkat berfikir yang rendah.

c. Penerapan (application)

Mengacu kepada kemampuan menggunakan atau menerapkan materi yang sudah dipelajari pada situasi yang baru dan menyangkut penggunaan aturan dan prinsip. Penerapan merupakan tingkat kemampuan berfikir yang lebih tinggi daripada pemahaman.

d. Analisis (analysis)

Mengacu kepada kemampun menguraikan materi ke dalam komponen-komponen atau faktor-faktor penyebabnya dan mampu memahami hubungan di antara bagian yang satu dengan yang lainnya sehingga struktur dan aturannya da-pat lebih dimengerti. Analisis merupakan tingkat kemampuan berfikir yang lebih tinggi daripada aspek pemahaman maupun penerapan.

e. Sintesa (evaluation)

Mengacu kepada kemampuan memadukan konsep atau komponen-komponen sehingga membentuk suatu pola struktur atau bentuk baru. Aspek ini memerlukan tingkah laku yang kreatif. Sintesis merupakan kemampuan tingkat

berfikir yang lebih tinggi daripada kemampuan sebelumnya.

f. Evaluasi (evaluation)

Mengacu kemampuan memberikan pertimbangan terhadap nilai-nilai materi untuk tujuan tertentu. Evaluasi merupakan tingkat kemampuan berfikir yang tinggi.Urutan-urutan seperti yang dikemukakan di atas, seperti ini sebenarn-ya masih mempunsebenarn-yai bagian-bagian lebih spesifik lagi.

DI INDONESIA

Musyawarah berasal dari kata Syawara yaitu berasal dari Bahasa

Arab yang berarti berunding, urun rembuk atau mengatakan dan mengajukan sesuatu.Istilah-istilah lain dalam tata Negara Indonesia dan kehidupan modern tentang musyawarah dikenal dengan sebutan “syuro”, “rembug desa”, “kerapatan nagari” bahkan “demokrasi”. Kewajiban musyawarah hanya untuk urusan kedu-niawian. Jadi musyawarah adalah merupakan suatu upaya bersama dengan sikap rendah hati untuk memecahkan persoalan (mencari jalan keluar) guna mengambil keputusan bersama dalam penyelesaian atau pemecahan masalah yang menyang-kut urusan keduniawian.

Saat ini musyawarah selalu dikait-kaitkan dengan dunia politik, demokrasi. Bahkan hal tersebut tidak dapat dipisahkan , pada prinsipnya musya-warah adalah bagian dari demokrasi, dalam demokrasi pancasila penentuan has-il dhas-ilakukan dengan cara musyawarah mufakat dan jika terjadi kebuntuan yang berkepanjangan barulah dilakukan votting, jadi demokrasi tidaklah sama dengan votting. Cara votting cenderung dipilih oleh sebagian besar negara demokrasi karena lebih praktis, menghemat waktu dan lebih simpel daripada musyawarah yang berbelit-belit itulah sebabnya votting cenderung identik dengan demokrasi padahal votting sebenarnya adalah salah satu cara dalam mekanisme penentuan pendapat dalam sistem demokrasi

Di indonesia hukum islam yang merupakan formulasi dari syari’ah dan fiqh sekaligus. Hukum islam adalah peraturan-peraturan yang dirumuskan ber-dasar wahyu allah dan sunnah rasul-Nya tentang tingkah laku mukallaf yang di-akui dan diyakini berlaku mengikat bagi semua pemeluk islam.

“Konsep hukum menurut ahli fiqh pada dasarnya terletak di atas ide bah-wa hukum itu bersifat keagamaan. Sejak periode abah-wal hukum telah dipandang

se-bagai keluar dan merupakan bagian dari syari’ah. Konsep hukum seperti itu sejalan dengan pandangan bahwa hukum itu harus bersumber langsung atau tidak langsung dari wahyu tuhan, yaitu al-quran dan al-sunnah.

 Ciri-ciri hukum islam:

 Hukum islam itu bersifat keagamaan, berlandaskan pada keimanan dan akhlak mulia.

 Hukum islam itu merupakan aturan-aturan yang ditarik atau yang merupakan hasil pemahaman dan deduksi dari ketentuan-ketentuan yang diwahyukan tu-han kepada nabi muhammad saw.

DIRI PRIBADI DAN SOSIAL A. KONSEP DIRI

1. Pengertian konsep diri

Konsep diri merupakan gambaran yang dimiliki seseorang tentang dirinya, yang dibentuk melalui pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari interaksi den-gan lingkunden-gan. Konsep diri bukan merupakan faktor bawaan, melainkan berkem-bang dari pengalaman yang terus menerus dan terdiferensiasi. Dasar dari konsep diri individu ditanamkan pada saat-saat dini kehidupan anak dan menjadi dasar yang mempengaruhi tingkah lakunya dikemudian hari.

William H. Fitts (1971) mengemukakan bahwa konsep diri merupakan

as-pek penting dalam diri seseorang, karena konsep diri seseorang merupakan kerang-ka acuan (frame of reference) dalam berinteraksi dengan lingkungan.

Fitts juga mengatakan bahwa konsep diri berpengaruh kuat terhadap tingkah

laku seseorang. Dengan mengtahui konsep diri seseorang. Dengan mengetahui kon-sep diri seseorang, kita akan lebih mudah meramalkan dan memahami tingkah laku orang tersebut. Pada umumnya tingkah laku individu berkaitan dengan gagasan-gagasan tentang dirinya sendiri. Jika seseorang mempersepsikan dirinya sebagai orang yang inferior dibandingkan dengan orang lain, walaupun hal ini belum tentu benar, biasanya tingkah laku yang ia tampilkan akan berhubungan dengan kekuran-gan yang dipersepsinya secara subjektif tersebut.

konsep diri seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut (Fitts, 1971):

 Pengalaman, terutama pengalaman interpersonal, yang memunculkan per-asaan positif dan perper-asaan berharga.

 Kompetensi dalam area yang dihargai oleh individu dan orang lain.

 Aktualisasi diri, atau implementasi dan realisasi dari potensi pribadi yang se-benarnya.

2. Dimensi-dimensi dalam Konsep Diri

Fitts (1971) membagi konsep diri dalam dua dimensi pokok, yaitu sebagai

berikut :

1) Dimensi Internal

Dimensi internal atau yang disebut juga kerangka acuaninternal (internal frame of reference) adalah penilaian yang dilakukan individu yakni pernilaian yang dilakukan individu terhadap dirinya sendiri berdasarkan dunia didalam dirinya. Dimensi ini terdiri dari tiga bentuk :

a. Diri identitas

Bagian dari ini merupakan aspek yang paling mendasar pada konsep diri dan mengacu pada pertanyaan, siapakah saya? Dalam pertanyaan tersebut dalam per-tanyaan tersebut tercakup label-label dan simbol-simbol yang diberikan pada diri oleh individu-individu yang bersangkutan untuk menggambarkan dirinya dan membangun identitasnya, misalnya “saya ita”.

b. Diri pelaku

Diri pelaku merupakan persepsi individu tentang tingkah lakunya, yang berisi-kan segala kesadaran mengenai “apa yang dilakuberisi-kan oleh diri”.

c. Diri penerimaan/penilai

Diri penilai berfungsi sebagai pengamat, penentu standar, dan evaluator. Kedudu-kannya adalh sebagai perantara (mediator) antara diri identitas dan diri pelaku. Manusia cenderung memberikan penilaian terhadap apa yang dipersepsikannya. Oleh karena itu, label-label yang dikenakan pada dirinya bukanlah semata-mata menggambarkan dirinya, tetapi juga sarat dengan nilai-nilai. Selanjutnya penila-ian ini lebih berperan dalam menentukan tindakan yang akan ditampilkannya.

2) Dimensi eksternal

Pada dimensi eksternal, individu menilai dirinya melalui hubungan dan aktivi-tas sosialnya, nilai-nilai yang dianutnya, serta hal-hal lain diluar dirinya. Di-mensi ini merupakan suatu hal yang luas, misalnya diri yang berkaitan dengan sekolah, organisasi, agama dan sebagainya. Namun, dimensi yang dikemukakan oleh Fitts adalah dimensi eksternal yang bersifat umum bagi semua orang, dan

dibedakan atas lima bentuk, yaitu: a. Diri fisik

Diri fisik menyangkut persepsi seseorang terhadap keadaan dirinya secara fisik. Dalam hal ini terlihat persepsi seseorang mengenai kesehatan dirinya, penapilan dirinya (cantik, jelek, menarik, tidak menarik) dan keadaan tubuhnya (tinggi, pendek, gemuk, kurus).

b. Diri etik moral

Bagian ini merupakan persepsi seseorang terhadap dirinya terlihat dari standar pertimbangan nilai moral dan etika. Hal ini menyangkut persepsi seseorang menngenai hubungan dengan Tuhan, kepuasan seseorang akan kehidupan keaga-maannya dan nilai-nilai moral yang dipegangnya, yang meliputi batasa baik dan buruk.

c. Diri pribadi

Diri pribadi merupakan perasaan atau persepsi seseorang tentang keadaan prib-adinya. Hal ini tidak dipengaruhi oleh kondisi fisik atau hubungan dengan orang lain, tetapi dipengaruhi oleh sejauh mana individu merasa puas terhadap prib-adinya atau sejauh mana ia merasa dirinya sebagai pribadi yang tepat.

d. Diri keluarga

Diri keluarga menunjukkan perasaan dan harga diri seseorang dalam kedudukan-nya sebagai anggota keluarga. Bagian ini menunjukkan seberapa jauh seseorang merasakuat terhadap dirinya sebagai anggota keluarga, serta terhadap peran maupun fungsi yang dijalankan sebagai anggota dari suatu keluarga.

e. Diri sosial

Bagian ini merupakan penilaian individu terhadap interaksi dirinya dengan orang lain maupun di sekitarnya.

Pembentukan penilaian individu terhadap bagian-bagian dirinya dalam dimensi eksternal ini dapat dipengaruhi oleh penilaian dan interaksinya dengan orang lain. Seseorang tidak dapat begitu saja menilai bahwa ia memiliki fisik yang baik tanpa adanya reaksi dari orang lain yang memperlihatkan bahwa secara fisik ia memang menarik. Demikian pula seseorang tidak dapat mengatakan bahwa ia memiliki diri pribadi yang baik tanpa adanya tanggapan atau reaksi orang lain

disekitarnya yang menunjukkan bahwa ia memang memiliki pribadi yang baik. 9

C. Aku,

Aku adalah suatu hal tentang kesempurnaan atau hasil dari totalitas pada diri manusia yang terletak dalam dimensi internal yaitu diri identitas, diri pelaku, dan diri penilai.

3. Kepribadian

1. Pengertian Kepribadian

Kepribadian adalah satu totalitas terorganisir dari disposisi-disposisi psikis ma-nusia yang individual, yang memberi kemungkinan untuk memperbedakan ciri-cir-inya yang umum dengan pribadi yang lainnya.

Satu totalitas itu bukan hanya merupakan satu penjumlahan melulu dari bagian-bagian , tapi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dibagi-bagikan dan tidak da-pat dipisah-pisahkan satu dengan lainnya. Kepribadian ini merupakan satu struktur totalitas yang mempunyai aspek-aspek yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya.

Disposisi itu ialah kesediaan kecenderungan-kecenderungan untuk bertingkahl-aku tertentu, yang sifatnya lebih kurang , tetap/konstan, dan terarah pada tujuan tertentu (bahasa latin dispositio = ketentuan, ketetapan; beschikking, gestheldheid). Sungguhpun didalam konteknya kepribadian itu akan selalu berkembang dan ber-sifat dinamis, namun da disposisi-disposisi psikis pokok/dasar yang ber-sifatnya tetap konstan.

Individual, ini berarti, bahwa setiap orang itu mempunyai kepribadiannya sendiri yang khas, yang tidak identik dengan orang lain. Yang tidak dapat diganti atau dis-ubtitusikan oleh orang lain. Jadi ada ciri-ciri atau sifat-sifat individual pada aspek-aspek psikisnya, yang bisa membedakan dirinya dengan orang lain.

Dalam dokumen Psikologi Sosial (Halaman 37-44)

Dokumen terkait