• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEORI PERILAKU AGRESIF

Dalam dokumen Psikologi Sosial (Halaman 83-89)

PENDEKATAN BIOLOGIS

TEORI PERILAKU AGRESIF

Teori tentang perilaku agresif banyak dikemukakan oleh para ahli, ada yang mengatakan bahwa perilaku agresif merupakan sifat bawaan, sedangkan ahli yang lain memandang karena adanya lingkungan. Berbagai pandangan tersebut diuraikan berdasarkan minat pada bidang yang ditekuninya. Dibawah ini akan dijelaskan dalam beberapa teori tentang perilaku agresif, yaitu: a. Perilaku Agresif sebagai Perilaku Bawaan

Freud (Barbara, 2005) dengan teorinya berpandangan bahwa perilaku individu didorong oleh dua kekuatan dasar yang menjadi bagian tak terpisah-kan dari sifat kemanusiaan, yaitu perilaku agresif itu berasal dari insting am-khluk hidup yang pada dasarnya pada diri manusia terdapat dua macam insting makhluk hidup yang pada dasarnya pada diri manusia terdapat dua macam inting, yaitu insting kehidupan (eros) dan insting kematian (thanatos).

Insting kehidupan terdiri atas insting reproduksi atau insting seksual dan insting- insting yang ditujukan untuk pemeliharaan hidup, sedangkan inst-ing kematian memiliki tujuan untuk menghancurkan hidup individu (Hudani-yah dan Dayakisni, 2003).

Dalam teori ini perilaku agresif merupakan ekspresi dari adanya inst-ing kematian. Instinst-ing inilah yang menjadi patokan untuk menjelaskan adan-ya beberapa bentuk tingkah laku agresif seperti peperangan ataupun bunuh diri. Freud beranggapan bahwa insting mati yang dapat menjelaskan perilaku agresif mempunyai sifat katarsis atau pelepasan ketegangan yang dapat mer-ugikan masyarakat.

Senada dengan pendapat di atas Ardrey (dalam Hudaniyah dan Day-akisni, 2003) mendasarkan pada teori evolusi Darwin dalam penelitiannya ten-tang perilaku agresif, berpendapat manusia sejak kelahirannya telah membawa killing imperativ dan dengan killing imperative ini manusia dihinggapi obsesi untuk menciptakan senjata dan menggunakan senjatanya itu untuk membunuh apabila perlu. Tetapi manusia memiliki mekanisme pengendalian kognitif yang mengimbangi “keharusan” membunuh salah satunya yaitu nurani yang memainkan peranan dalam menghambat agresi.

Manusia telah diprogram (melalui evolusi) untuk mengancam, berkela-hi, bahkan membunuh jika perlu untuk mempertahankan teritorialnya. Oleh karena itu terdapat kecenderungan manusia bersifat damai hanya terhadap orang lain dalam kelompoknya saja. Sebaliknya memusuhi orang di luar kelompoknya dan ingin menghancurkannya untuk mempertahankan eksistensi kelompoknya.

b. Perilaku Agresif sebagai Perilaku Belajar

Menurut teori belajar, kondisi dan tingkah laku agresif terhadap in-dividu lain bukan bersifat instingtif, tetapi diperoleh melalui belajar. Sears, menyatakan melkanisme utama yang menentukan perilaku agresif manusia adalah proses belajar masa lampau. Bayi yang baru lahir menunjukkan per-asaan agresif yang sangat impulsif. Bila keinginannya tidak terpenuhi dia akan menagis keras, memukul- mukul, mengahantam apa sajayang dijangkau.

Pada kehidupan bayi tidak menyadari kehadiran orang lain sehingga tidak akan dapat mengganggu mereka secara sengaja. Bila bayi ini menyadari kehadiran orang lain dia akan terus- menerus dia akan melepaskan amarahnya dan mungkin mengarahkan kepada mereka. Tetapi pada masa dewasa ia akan mengendalikan dorongan impuls agresifnya secara kuat dan hanya melakukan agresi dalam keadaan tertentu.

Perkembangan ini disebabkan oleh proses belajar. Belajar melalui pengalaman coba-coba, pengajaran moral, instruksi khusus, pengalaman diri sendiri melalui pengamatan terhadap orang lain akan membantu mengajarkan cara merespon pada individu. Individu juga mempelajari bermacam- macam bentuk tingkah laku yang dapat diterima oleh masyarakat melalui cara mem-pelajari akibat penampilan dari respon tersebut.

Salah seorang tokoh dalam teori belajar adalah Skinner, yang terkenal dengan teori operan conditioningnya. Menurut pendekatan pengkondisian op-eran ini bahwa perilaku apabila memberikan efek positif yang cenderung diu-lang dan sebaliknya jika memberikan efek negatif ditinggalkan.

Salah satu mekanisme utama untuk memunculkan proses belajar adalah penguatan (reinforcement). Bila suatu perilaku tertentu diberi ganjaran atau hadiah (reward), kemungkinan besar individu akan cenderung mengulangi suatu perilaku tersebut di masa mendatang, tetapi jika perilaku tersebut man-dapatkan hukuman (punishment) maka kecil kemungkinan akan mengulangi perilaku tersebut. Tindakan agresif biasanya merupakan reaksi yang dipelajari dan penguatan atau hadiah meningkatkan kemungkinan hal tersebut akan diu-lang kembali.

c. Perilaku Agresif sebagai Perilaku Belajar Sosial

Teori belajar sosial menekankan kondisi lingkungan yang membuat seseorang memperoleh dan memelihara respon-respon agresif. Asumsi dasar teori ini adalah sebagian besar perilaku individu diperoleh sebagai hasil belajar melalui pengamatan (observasi) atas perilaku yang ditampilkan oleh individu-individu lain yang menjadi model.

men-contoh tingkah laku model akan kuat apabila model memiliki daya tarik dan memiliki efek yang menyenangkan atau mendatangkan penguatan (reinforce-ment). Sebaliknya, individu pengamat kurang termotivasi untuk mencontoh perilaku agresi itu tidak memiliki daya tarik dan dengan agresi yang dilaku-kannya si model tidak menyenangkan, efeknya negatif atau hukuman.

Proses modeling menjelaskan bahwa anak mempunyai kecenderungan kuat untuk berimitasi (meniru), mudah berimitasi terhadap figur tertentu, mis-alnya tokoh yang terkenal, orang-orang sukses dan orang yang sangat akrab serta sering mereka temui. Figur yang paling mungkin menjadi model bagi anak adalah orangtuanya sendiri, oleh sebab itu perilaku agresif anak sangat tergantung pada cara orangtua atau orang dekat dalam memperlakukan mere-ka, karena perilaku orang disekitarnya dapat dipakai sebagai model yang di-tirunya.

d. Perilaku Agresif sebagai Dorongan yang berasal dari Luar

Pandangan tentang perilaku agresif tidak berhubungan dengan insting, namun ditentukan oleh kejadian-kejadian eksternal, di mana kondisi tersebut akan menimbulkan dorongan yang kuat pada seseorang untuk memicu kemun-culan perilaku agresif. Salah satu teori dari kelompok ini adalah teori frustrasi-agresi yang dipelopori oleh Dollard.

Teori ini menyatakan bahwa frustrasi menyebabkan berbagai kecend-erungan, yang salah satunya adalah kecenderungan agresi, dan agresi timbul karena adanya frustrasi Apabila frustrasi meningkat, maka kecenderungan per-ilaku agresifpun akan meningkat. Kekuatan dorongan agresi yang disebabkan oleh frustrasi, tergantung besarnya kepuasan yang 1) diharapkan dan 2) tidak dapat diperoleh.

e. Perilaku Agresif sebagai Perilaku Katarsis

Tujuan perilaku agresif menurut teori ini adalah dalam rangka katarsis (pelepasan ketegangan) terhadap kompleks-kompleks terdesak dalam artian perasaan marah dapat dikurangi melalui pengungkapan agresi. Inti dari dari gagasan katarsis adalah bila seseorang merasa agresif, tindakan agresi yang dilakukannya akan mengurangi intensitas perasaannya. Hal ini pada gilirannya

akan mengurangi kemungkinannya untuk bertindak agresif.33

Penyebab dan Penanganan

Ada 4 faktor utama penyebab perilaku agresif, yaitu: 1. Gangguan biologis dan penyakit

2. Lingkungan keluarga 3. Lingkungn Sekolah

4. Pengaruh budaya yang negatif.

Perlu diingat bahwa penyebab ini sifatnya komplek dan jamak. Jadi tidak mung-kin hanya satu faktor saja yang menjadi penyebab timbulnya perilaku agresif.

1. Penanganan masalah perilaku agresif harus dilihat dan dilakukan secara me-nyeluruh, artinya semua pihak termasuk guru dan orang tua serta lingkungan sekitar.

Karena kelemahan anak agresif adalah ketidak mampuan menguasai keterampilan sosial, maka diharapkan orang tua dan guru dapat mengajarkan bagaimana cara menanggapi perasan orang lain dan perasaan dirinya sendiri serta perilaku yang tepat dalam bertingkah laku dalam suatu lingkungan. Mis-alnya dengan cara melatih mengungkapkan perasaan yang dirasakan, senang, sedih, marah, gembira dan perilaku seperti apa yang harus dilakukan ketika ada teman yang mengambil barang tanpa minta izin. Bentuk pengajaran bisa berbentuk role play.

Dengan demikian anak mendapatkan model perilaku yang positif den-gan mengetahui bagaimana harus bersikap dalam situasi sosial tertentu. 2. Teknik lain adalah mengatasi agresivitas dengan menampilkan tingkah laku

positif sebagai model dalam merespon perilaku agresif dan membantu anak berlatih menampilkan perilaku nonagresif.

3. Menerapkan hukuman juga merupakan pilihan mengatasi perilaku agresif yang terjadi. Guru dan orang tua harus memahami dan membantu anak yang menjadi korban. Dukungan yang paling baik adalah dengan mengembangkan perasaan bahwa anak yang menjadi korban perilaku agresif sebenarnya mam-pu mempertahankan mereka sendiri.34

DAFTAR PUSTAKA Adriyanto. Michael, Psikologi Sosial:Erlangga,1985

http://indonesiaindonesia.com/f/63221-teori-perilaku-agresif/

http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2011/11/16/perilaku-agresif-penyebab-dan-penanganannya/

34 http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2011/11/16/

perilaku-agresif-penyebab-dan-penanganannya/

MENGURANGI AGRESI, ALTRUISME, MENGAPA ORANG

MENOLONG

D. MENGURANGI AGRESI

Dalam dokumen Psikologi Sosial (Halaman 83-89)

Dokumen terkait