DAFTAR ISI
Definisi dan ruang lingkup psikologi sosial
(Khoirul Umaroh)
-4-Hakekat Manusia ( M.Darul Ma’arif )
-13-TEeori Psikologi Sosial Part 1 ( Nafisah )
-26-Teori Psikologi Sosial Part 2 ( Muhlisin )
-29-Persepsi,Atribusi dan Kognisi Sosial Part 1 ( Eka Nur A.R )
-30-Persepsi,Atribusi dan Kognisi Sosial Part 2 ( Khofifah )
-34-Diri Pribadi dan Sosial Part 1( Khoirur Rozikin ) -41-Diri Pribadi dan Sosial Part 2(M, Ali Nafiq ) -53-Hubungan Antar Pribadi Part 1 ( Khoiruddin ) -58-Hubungan Antar Pribadi Part 2 (Lestri Nurratu ) -64-Sikap dan Prasangka Part 1 ( Muhammad Ainun Najib )
-68-Sikap dan Prasangka Part 2 ( Noorfuat Aristiana ) -70-Sikap dan Prasangka Part 3 (MAS’ULA ) -76-Agresi dan Altruisme Part 1 (Ni’matul A.)
-81-Agresi dan Altruisme Part 2 ( lILI Qurotul A.S)-89-
Agresi dan Altruisme Part 3 ( Kholisotul Isnainu )-95-A. Definisi Psikologi Sosial
Psikologi sosial atau ilmu jiwa sosial merupakan sedikit pengetahuan pendahuluan. Psikolgi sosial adalah cabang dari ilmu pengetahuan psikologi. Psikologi dapat dibagi kedalam psikologi umum dan psikologi khusus. Diantara psikologi umum bermaksud untuk menyelidiki dan menerangkan kegiatan- kegiatan manusia pada umumnya, sedangkan psikolgi khusus bermaksud untuk menerangkan dan menyelidiki segi- segi khusus dari kegiatan
ji-wanya.Diantara beberapa cabang psikologi khusus terdapat psikilogi sosial yang menguraikan dan menerangkan kegiatan- kegiatan manusi, dan khususnya kegiatan- kegiatannya di dalam hubungan dengan situasi- situasi sosial. Dan situasi sosial itu adalah situasi dimana terdapat interaksi (hubungan timbal balik) antar orang ataupun antara orang dan hasil kebudayaan orang.1
Psikologi sosial adalah suatu study ilmiah tentang pengalaman dan tingkah laku in-dividu- individu dalam hubungannya dengan situasi sosial. Pengertian yang lain adalah ilmu yang mempelajari individu sebagai anggota kelompok. Psikologi sosial yaitu psikologi yang khusus membicarakan tentang perilaku atau aktivitas manusia dalam kaitannya dengan situasi sosial.
Untuk memberikan gambaran mengenai hal ini diberikan beberapa definisi yang diajukan oleh sementara ahli. Hartley dan Hartley (1961: 1) memberikan definisi men-genai psikologi sosial sebagai berikut: “Social psychology is that branch f the social sciences which seek tu understand individual behavior in the context of social interac-tion”. Dari pengertian ini dapat dikemukakan bahwa Hartley dan Hartley ingin melihat perilaku individu dalam konteks interaksi sosial.Interaksi sosial adalah dimana adanya hubungan antara individu satu dengan yang lain, atau adanya situasi sosial. Demikian juga yang dikemukakan oleh sherif dan sheriff (1956:4) bahwa, social psychology is the scientific study of the experience and behavior of the individu in relation to social stimulus situation. Dari definisi ininjuga dapat dikemukakan bahwa sheriff dan sheriff melihat perilaku individu dikaitkan dengan situasi sosial.2
B. Sejarah Psikologi Sosial
1
Gerungan, Psikologi Sosial, Jakarta: Refika Aditama, 2002, hal 28Gabriel tarde (1842-1904) ia adalah seorang sosiologi dan kriminologi prancis yang di anggap pula sebagai bapak psikologi sosial (social interaction) tarde berpen-dapat bahwa semua hubungan sosial selalu berkisar pada proses imitasi, bahkan semua pergaulan antar manusia hanyalah semata-mata berdasarkan atas proses imitasi itu
Kata imitasi berasal dari bahasa inggris to imitate yang berarti mencontoh, mengi-kuti suatu pola, istilah imitasi ini secara populer di artikan secara meniru. Menurut tarde masyarakat tidak lain dari pengelompokan manusia. Di mana individu mengimitasi in-dividu yang lain dan sebaliknya. Pendapar tarde tersebut ternyata banyak mendapat-kan kritimendapat-kan seperti yang di kemukamendapat-kan chorus, yang antara lain mengatamendapat-kan bahwa teori tarde ternyata berat sebelah. Walaupun tarde tidak di terima secara mutlak namun olehnya telah di kemukakan suatu factor yang memegang peranan penting pergaulan sosial antara lain manusia.
Gustav le bon (1841-192) ia terkenal karena sumbangannya psikologi massa yang di maksud dengan massa adalah kumpulan orang-orang untuk sementara waktu ka-rena minat dan kepentingan bersama. Ia juga mengatakan bahwa massa itu punya jiwa tersendiri yang berlainan sifatnya dengan sifat-sifat jiw individu Jadi seorang individu yang tergabung dalam massa itu akan bertingkah laku secar berlainan di banding den-gan tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari sebagai individu
Pendapat le bon ini juga menimbulkan banyak kritik terutama pandangannya terha-dap massa. Jiwa massa dianggapnya banyak menimbulkan sifat-sifat negative padahal anggapan tersebut tidak selalu benar seutuhnya, sebab massa dapat membangun secara konstruktif serta dapat mendorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang positif
Emile durkheim (1858-1917) sebagai seorang tokoh sosiologi ia berpendapat bah-wa
• Gejala-gejala sosial yang terdapat dalam masyarakat tidak dapat di bahas oleh psikologi, melainkan hanya oleh sosiologi adapun alasannya ialah bahwa yang men-dasari gejala-gejal sosial itu suatu ksadaran kolektif dan bukan kesadarn individual • Masyarakat itu terdiri dari kelompok-kelompok manusia yang hidup secara kole-ktif dengan pengertian-pengertian dan tanggapan-tanggapam\n yang kolekole-ktif pula dan hanya dengan kehidupan kolektif itulah yang dapat menerangkan gejala-gejala sosial
• Bahwa pada manusia terdapat dua macam jiwa seperti yang di katakana oleh le bon yaitu jiwa kelompok (group mind) dan jiwa individu (individual mind)
• Durkheim pun mendapat beragam kritikan yaitu berat sebelah artinya menitik berat-kan pada peranan jiwa kolektif dan fantastis artinya pendapat mengenai jiwa kolek-tif hanya suatu lamunan, khayalan saja yang sukar di buktikan oleh kehidupan nyata. Psikologi sosial modern mulai dikembangkan pada saat pergantian abad ke 19 menuju abad 20. Tripplet (1898) memulai sebuah eksperimen perdana dalam bidang psikologi sosial dengan meneliti pengaruh kehadiran orang lain terhadap peningkatan performance seseorang dalam mengerjakan suatu tugas, topic yang di telitinya sering di sebut “fasilitas sosial” (social fasititation) yang sampai saat ini masih banyak di minati oleh para ahli psikologi sosial. Selain itu, buku yang berjudul Social Psychology diter-bitkan pada tahun 1908 (McDougall, 1908; Ross, 1908).
Menjamurnya penelitian-penelitian di bidang psikologi sosial barangkali dimulai periode 1920-1940. Beberapa topik penelitian sengaja difokuskan pada isu-isu tertentu yang sedang booming pada masa itu. Contohnya, pada awal 1900an, yang pada masa itu terjadi imigrasi besar-besaran penduduk Eropa Barat menuju Amerika Utara. Tentunya bukanlah hal yang mengejutkan bila penelitian-penelitian yang banyak dilakukan berbi-cara tentang sikap, kebangsaan, dan kelompok-kelompok etnis (Pancer, 1997).
TAHAP ATAU MASA KELAHIRAN PSIKOLOGI SOSIAL
Selain itu perkembangan jurnal-jurnal psikologi sosial, juga dapat mencerminkan psikologi sosial itu sendiri, khususnya khususnya di amerika serikat dimana jurnal-ju-rnal itu di terbitkan
• Masa prakelahiran. Psikologi di kokohkan sebagai ilmu yang berdiri sendiri dengan didirikannya laboratorium pertama di dunia di leipzing oleh wuntdt pada tahun 1879, bibit-bibit psikologi sosial mulai tumbuh. Yaitu ketika la-zarus & steindhal pada tahun 1860 mempelajari bahasa, tradisi dan institusi masyarakat untuk menemukan jiwa ummat manusia (human mind).
Upaya lazarus masih sangat di pengaruhi oleh antropologi, kemudian di kembang-kan oleh wundt pada tahun 1880 mulai mempelajari psikologi rakyat
ber-judul sama yaitu psikologi sosial pada tahun 1908 yang di tulis oleh dua ilmuwan dari disiplin ilmu yang berdeda, yaitu w. mcdougall (psikologi) dan ross adalah seorang sosiolog yang berpendapat bahwa perilaku sosial di sebabkan oleh imitasi atau sugesti. Serta juga tertarik mendalami topic-topik yang berhubungan psikolo-gi massa dan perilaku kolekti. Kerja ross ini mengembangkan studi psikolopsikolo-gi so-sial dalam sosiologi. Sementara buku ke dua yang di tulis mc dougall menekankan pada sifat instink pada tingkah laku sosial sebagai focus pembahasan yang juga menjadi topic utama pada tahun-tahun awal kemunculan bidang psikologi sosial. • Masa perang dunia 1 & 2. di masa-masa perang dunia pertama dan berkuasanya
nazi di jerman selama perang dunia ke dua. Perhatian psikoogi sosial berkembang ke arah studi tentang otoritarianisme (kekuasan), setelah perang dunia selesai per-hatian psikologiu beralih ke proses individual dan psikologi sosial mulai mem-pelajari proses interaksi sosial
• masa mutakhir proses pendewasan psikologi sosial mencapai puncaknya antara tahun 1970 sampai tahun 1980 dengan berbagai penelitian mengenai atribusi, sikap (attitude), perbedaan jenis kelamin (gender), diskriminasi seksual psikolo-gi lingkungan , psikolopsikolo-gi massa dan sebagainya . Tahap inipun ditandai dengan berkembangnya penelitian-penelitian psikologi sosial terapan (Baron & Byrne , 1994) seperti psikologi kesehatan , psikologi hokum , psikologi lingkungan kerja , psikologi kepolisian , dan psikologi lingkungan .
• Masa yang akan datang perkembangan psikologi sosial masih akan berlanjut di masa-masa yang akan datang (pasca tahun 19990-an) . cirinya adalah penelitian kognisi dan penerapan psikologi sosial yan makin canggih , yang menggunakan perspektif cultural yang multidi-mensional (psikologi lintas budaya ) dan kema-jemukan sosial .
• Jurnal-jurnal psikologi sosial jurnal adalah media pertukaran informasi dan hasil-hasil penelitian ilmiah di bidang ilmu pengetahuan tertentu. Judul-judul jurnal menggambarkan isi jurnal itu dan karenanya dengan memperhatikan perkem-bangan dan perubahan judul-judul jurnal dari suatu ilmu pengetahuan kita dapat mengetahui perkembangan pemikiran para penelti dari bidang ilmu bersangkutan . dalam bidang psikologi sosial, sebagaimana yang tercatat dalam buku karangan Shaver (1997) , jurnal yang pertama di terbitkan pada tahun 1922 oleh Morton
prince yang ketika itu berpendapat bawa psikologi tentang perilakuu menyimpang .ada kaitannya dengan prilaku sosial.3
C. Ruang Lingkup Psikologi Sosial
Ruang lingkup psikologi sosial ada 2 yaitu: 1) Objek Materia
Objek ini meliputi fakta- fakta, gejala atau pokok- pokok yang nyata dipelajari dan diselidiki oleh ilmu pengetahuan. Seperti yang diterangkan, objek material dari psikologi sosial adalah gejala- gejala sosial. Ilmu pengetahuan ternyata belum mampu untuk membedakan objek material dari ilmu dengan ilmu yang lain. Contoh objek mate-rial dari sosiologi adalah gejala- gejala sosial, dan objek matemate-rial dari ilmu hukum juga gejala- gejala sosial, begitu pula halnya dengan objek material ilmu ekonomi dan ilmu sosial lainnya.
2)Objek Formal
Objek formal suatu ilmu pengetahuan justru ditunjukkan oleh rumusan atau definisi ilmu pengetahuan tersebut.Diantara rumusan- rumusan tersebut adalah:
Tingkah laku manusia (Hubbert Bonner Social Psychology)
Tingkah laku individu manusia sebagai anggota suatu masyarakat (A.M. Chorus Grondslagen der Sociale Psychology)
Pengalaman dan tingkah laku individu manusia dalam hubungannya dengan situasi- situasi perangsang sosial
Segi- segi psikologis dari tingkah laku manusia yang dipengruhi oleh interaksi social Gejala psikis dan cara manusia berlaku seperti yang ditimbulkan atau dipengaruhi
oleh hubungan antara manusia dengan manusia.
Individu manusia dalam kelompoknya, dan hubungan antara kelompok yang satu dengan yang lain.
Tingkah laku individu manusia dalam kelompok khusus dan dalam lingkungan sos-iokoltural pada umumnya.
D. Penelitian Psikologi Sosial
1) Metode Survey
Metode ini merupakan metode dimana penyelidik mengumpulkan keterangan- ket-erangan seluas- luasnya mengenai kelompok tertentu yang ingin ia selidiki. Biasanya survey itu diadakan dengan menggunakan wawancara, observasi, dan angket sebagai alat untuk mengumpulkan keterangan- keterangan.
Contoh dapat diselidiki sikap- sikap para pemimipin perusahaan diseluruh jawa barat yang berjumlah ratusan bahkan ribuan, dengan memilih suatu sampel terbatas diantaranya, yang mewakili semua kelompok pemimipin perusahaan tersebut, Dan pada sempel yang terbatas itu lalu diselidiki dengan cermat sikap- sikapnya yang ingin dik-etahui. Apabila cara- cara memilih sampel ini memenuhi syarat- syaratnya, maka hasil yang diperoleh pada penyelidikan itu dapar dianggap sama dengan hasil yang akan diperoleh apabila diselidiki seluruh kelompok pemimpin perusahaan di jawa barat. 2) Metode Diagnostis- psikis
Dalam mengumpulkan keterangan- keterangan empiris mengenai objek- objek penelitian psikologi yang dapat menggambarkan segi-segi psikologis dengan lebih mendalam untuk memperoleh keterangan mengenai pendapat- pendapat orang, cuku-plah dirumuskan sebuah daftar pertanyaan (angket) yang lalu disebarkan dengan per-mintaan supaya pertanyaan- pertanyaan itu dijawab dengan sejujur- jujurnya. Tetapi untuk memperoleh keterangan yang lebih mendalam mengenai sikap perasaan dan ke-cenderungan- kecenderungan pribadi orang, diperlukan alat- alat yang lebih halus dari-pada sebuah daftar pertanyaan.
3) Metode Sosiometris
Metode ini ditemukan oleh Moreno, merupakan metode baru dikalangan ilmu so-sial, dan bermaksud untuk meneliti intra-group-relations atau saling hubungan antara anggota kelompok di dalam suatu kelompok.
sekelom-pok itu, diajukan sebuah daftar pertanyaan kepada semua anggota kelomsekelom-pok yang ingin diselidiki, misalnya sebuah kelas di sekolah. Daftar pertanyaan itu merupakan ajakan untuk menentukan sikap anggota kelompok lainnya, yang ia kenal. Ia, misalnya, ajakan untuk memilih antara kawannya sekelompok kelas, siapa yang menurut pendapatnya paling memenuhi syarat- syarat tertentu, missal: kawan yang paling cakap sebagai pe-mimpin kelompok, atau kawan yang paling cocok sebagai kawan sebagai kerja, dan lain- lain, bergantung kepada sifat- sifat saling hubungan yang ingin kita selidiki dengan metode ini.
Pertanyaan untuk memilih kawan sekelompok yang mempunyai sifat- sifat tertentu itu dapat juga berlaku bagi pilihan lebih dari satu orang, bergantung kepada tujuan penelitian itu. Misalnya pertanyaan itu dapat berbunya sebagai berikut: “pilihlah tiga orang kawan sekelompok yang menurut pendapat saudara adalah orang yang paling cocok sebagai rekan sekerja (kawan untuk kerja sama). Yang paling cocok hendaknya disebut pertama”, dan sebagainya.
E. Hubungan Psikologi Sosial dengan ilmu lainnya • Hubungan psikologi social dengan sosiologi
Ilmu yang dapat mempengaruhi pada Psikologi Sosial adalah Sosiologi dan Antropologi,(Bonner-1953)
Sosiologi : Suatu bidang ilmu yang terkait dengan perilaku hubungan antar individu, atau antara individu dengan kelompok, atau antar kelompok (interaksionisme) dalam perilaku sosialnya.
Antropologi : lebih memfokuskan pada perilaku sosial dalam suprastruktur budaya tertentu, jd lebih ke bidang budayanya.
Psikologi Sosial : jembatan diantara cabang-cabang pengetahuan sosial lainnya atau mempelajari perilaku individu yang bermakna dalam hubungan dengan lingkungan atau rangsang sosialnya.
Perbedaan antara Psikologi Sosial dengan Sosiologi adalah lebih terfokus studinya. Fokus perhatian studi psikologi social lebih dominan ke perilaku individu.
Berbeda dengan Sosiologi yang lebih terfokus pada sistem dan struktur sosial yang dapat berubah tanpa bergantung pada individu tersebut.Sosiologi lebih memfokuskan
pada masyarakat dan budaya yang melingkupi individu. • Hubungan psikologi social dengan antropologi
Tiga masalah yang menjadi fokus perhatian antropologi: 1. ‘kepribadian bangsa’
2. Peranan individu dalam proses perubahan adat istiadat 3. Nilai universal dalam
4. Persoalan ‘kepribadian bangsa’ sesudah perang Dunia ke-1 hubungan antar bangsa kian intensif, perhatian penjajah terhadap kepribadian bangsa jajahan
Fokus studi antropologi awal tahun 1920-an : Ahli antropologi tertarik pada lingkungan dan kebudayaan dari bayi dan anak-anak, masa itu sangat dianggap penting bagi pembentukan kepribadian dewasa yang khas dalam suatu masyarakat. Karena pembentukan kepribadian adalah sesuatu yang patut dipelajari dan di tanam dalam diri masyarakat, agar da batasan dan norma-norma yang berlaku.
Hampir semua penelitian yang mendalami “kepribadian bangsa” menyimpulkan bahwa ciri-ciri kepribadian yang tampak berbeda pada bangsa-bangsa di dunia ini bersumber pada cara pengasuhan pada masa kanak. Karena pada masa kanak-kanak adalah masa yang paling penting untuk menngatur dan melihat jati diri, masa kanak-kanak yang bisa di ajarkan berperilaku baik sesuai norma dan adat dan masa kanak-kanalah yang pandai meniru.
Misalnya: orang jepang yang dewasa menjadi bersifat memaksakan kehendaknya, karena ketatnya latihan mengenai cara membuang air pada masa kanak-kanak perkembangannya, saat ini kesimpulan di atas tidak bisa diandalkan lagi.
Dalam perkembangannya, fokus pendekatan psikologis pada keanekaragaman kebudayaan, berubah. Minat terhadap hubungan pengasuhan semasa anak-anak dan kepribadian setelah dewasa, tetap dipertahankan, namun beberapa ahli antropologi mulai meneliti faktor-faktor determinan yang mungkin jadi penyebab dari kebiasaan pengasuhan anak yang beragamKebudayaan tertentu menghasilkan karakteristik psikologi tertentu menimbulkan ciri budaya lainnya
Kesimpulan mengenai pendekatan psikologis dalam antropologi budaya: dengan menghubungkan variasi dalam pola budaya dengan masa pengasuhan anak, kepribadian, kebiasaan, dan kepercayaan yang mungkin menjadi konsekuensi dari faktor psikologis
dan prosesnya
Anthropology in mental health: memfokuskan diri pada aspek sosial budaya yang mempengaruhi kondisi/ gangguan mental pada diri individu
• Hubungan psikologi social dengan ilmu politik
Psikologi merupakan ilmu yang mempunyai peranan penting dalam bidang polotik, “massa psikologi”
Penting bagi politisi untuk menyelami gerakan jiwa dari rakyat pada umumnya, golongan tertentu pada khususnya.
Psikologi sosial dapat menjelaskan bagaimana sikap dan harapan masyarakat dapat melahirkan tindakan serta tingkahlaku yang berpegang teguh pada tuntutan masyarakat
Hubungan psikologi social dengan ilmu komunikasi
Banyak disiplin ilmu yang terlibat dalam studi komunikasi. Dalam perkembangannya ilmu komunikasi melakukan “perkawinan’ dengan berbagai ilmu lain. Subdisiplin : komunikasi politik, sosiologi komunikasi masa, psikologi komunikasi.Psikologi komunikasi : ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan dan mengndalikan peristiwa mental dan behavioral dalam komunikasi.
Hubungan psikologi social dengan ilmu pendidikan
Ilmu Pendidikan: bertujuan memberikan bimbingan hidup manusia sejak lahir sampai mati
Pendidikan tidak akan berhasil dengan baik bilamana tidak didasarkan pada psikologi perkembangan
Hubungan kedua disiplin ilmu ini melahirkan Psikologi Pendidikan
DAFTAR PUSTAKA
Gerungan, Psikologi Sosial, Jakarta: Refika Aditama, 2002 Walgito Bimo, Psikologi Sosial, Yogyakarta: andi, 2003 Abu Ahmadi Adi, Psikologi Sosial,Jakarta, Rineka Cipta : 1991
Hakikat Manusia
A. HAKIKAT MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU DAN SOSIAL
·Pengertian manusia sebagai makhluk individu
Manusia, mahluk dan individu secara etimologi diartikan sebagai berikut:
1. Manusia berarti mahluk yang berakal budi dan mampu menguasai mahluk lain. 2. Mahluk yaitu sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan.
3. Individu mengandung arti orang seorang, pribadi, organisme yang hidupnya berdiri sendiri. Secara fisiologis ia bersifat bebas, tidak mempunyai hubungan organik dengan sesama.
Kata manusia berasal dari kata manu (Sansekerta) atau mens(Latin) yang berarti berpikir, berakal budi, atau homo (Latin) yang berarti manusia. Istilah individu berasal dari bahasa Latin, yaituindividum, yang artinya sesuatu yang tidak dapat dibagi-bagi lagi atau suatu kesatuan yang terkecil dan terbatas.
Secara kodrati, manusia merupakan mahluk monodualis. Artinya selain sebagai mahluk individu, manusia berperan juga sebagai mahluk sosial. Sebagai mahluk individu, manusia merupakan mahluk ciptaan Tuhan yang terdiri atas unsur jasmani (raga) dan rohani (jiwa) yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Jiwa dan raga inilah yang membentuk individu.
Manusia juga diberi kemampuan (akal, pikiran, dan perasaan) sehingga sanggup berdiri sendiri dan bertanggung jawab atas dirinya. Disadari atau tidak, setiap manusia senantiasa akan berusaha mengembangkan kemampuan pribadinya guna memenuhi hakikat individualitasnya (dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya). Hal terpenting yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya adalah bahwa manusia dilengkapi dengan akal pikiran, perasaan dan keyakinan untuk mempertinggi kualitas hidupnya. Manusia adalah ciptaan Tuhan dengan derajat paling tinggi di antara ciptaan-ciptaan yang lain.
KONSEKUENSI MANUSIA SEBAGAI MAHLUK INDIVIDU
Dalam keadaan status manusia sebagai mahluk individu, segala sesuatu yang men-yangkut pribadinya sangat ditentukan oleh dirinya sendiri, sedangkan orang lain lebih banyak berfungsi sebagai pendukung. Kesuksesan seseorang misalnya sangat tergan-tung kepada niat, semangat, dan usahanya yang disertai dengan doa kepada Tuhan
secara pribadi. Demikian juga mengenai baik atau buruknya seseorang di hadapan Tuhan dan dihadapan sesama manusia, itu semua sangat dipengaruhi oleh sikap dan perilaku manusia itu sendiri. Jika iman dan takwanya mantap maka dihadapan Tuhan menjadi baik, tetapi jika sebaliknya, maka dihadapan Tuhan menjadi jelek. Jika sikap dan perilaku individunya baik terhadap orang lain, tentu orang lain akan baik pula terhadap orang tersebut.
Konsekuensi (akibat) lainnya, masing-masing individu juga harus mempertanggung jawabkan segala perilakunya secara moral kepada dirinya sendiri dan kepada Tuhan. Jika perilaku individu itu baik dan benar maka akan dinikmati akibatnya, tetapi jika sebaliknya, akan diderita akibatnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manusia sebagai individu yang sudah dewasa memiliki konsekuensi tertentu, antara lain:
1. Merawat diri bersih, rapi, sehat dan kuat 2. Hidup mandiri
3. Berkepribadian baik dan luhur
4. Mempertanggungjawabkan perbuatannya
Supaya konsekuensi tersebut di atas dapat direalisasikan dalam suatu kenyataan, maka masing-masing individu harus senantiasa:
1. Selalu bersih, rapi, sehat, dan kuat 2. Berhati nurani yang bersih
3. Memiliki semangat hidup yang tinggi 4. Memiliki prinsip hidup yang tangguh 5. Memiliki cita-cita yang tinggi
6. Kreatif dan gesit dalam memanfaatkan potensi alam 7. Berjiwa besar dan penuh optimis
8. Mengembangkan rasa perikemanusiaan 9. Selalu berniat baik dalam hati
10. Menghindari sikap statis, pesimis, pasif, maupun egois ·Manusia sebagai makhluk sosial
Plato mengatakan, mahluk hidup yang disebut manusia merupakan mahluk sosial dan mahluk yang senang bergaul/berkawan (animal society = hewan yang bernaluri untuk hidup bersama). Status mahluk sosial selalu melekat pada diri manusia. Manusia tidak bisa bertahan hidup secara utuh hanya dengan mengandalkan dirinya sendiri saja. Sejak lahir sampai meninggal dunia, manusia memerlukan bantuan atau kerjasama dengan orang lain.
Ciri utama mahluk sosial adalah hidup berbudaya. Dengan kata lain hidup mengguna-kan akal budi dalam suatu sistem nilai yang berlaku dalam kurun waktu tertentu. Hidup berbudaya tersebut meliputi filsafat yang terdiri atas pandangan hidup, politik, teknologi, komunikasi, ekonomi, sosial, budaya dan keamanan.
Menurut Aristoteles (384 – 322 SM), manusia adalah mahluk yang pada dasarnya selalu ingin bergaul dan berkumpul dengan sesama manusia lainnya (zoon politicon yang artinya mahluk yang selalu hidup bermasyarakat). Pada diri manusia sejak dilahirkan sudah memiliki hasrat/bakat/naluri yang kuat untuk berhubungan atau hidup di tengah-tengah manusia lainnya. Naluri manusia untuk hidup bersama dengan manusia lainnya disebut gregoriousness.
Manusia berperan sebagai mahluk individu dan mahluk sosial yang dapat dibedakan melalui hak dan kewajibannya. Namun keduanya tidak dapat dipisahkan karena manusia merupakan bagian dari masyarakat. Hubungan manusia sebagai individu dengan masyarakatnya terjalin dalam keselarasan, keserasian, dan keseimbangan. Oleh karena itu harkat dan martabat setiap individu diakui secara penuh dalam mencapai kebahagiaan bersama.
Masyarakat merupakan wadah bagi para individu untuk mengadakan interaksi sosial dan interelasi sosial. Interaksi merupakan aktivitas timbal balik antarindividu dalam suatu pergaulan hidup bersama. Interaksi dimaksud, berproses sesuai dengan perkem-bangan jiwa dan fisik manusia masing-masing serta sesuai dengan masanya. Pada masa bayi, mereka berinteraksi dengan keluarganya melalui berbagai kasih sayang. Ketika sudah bisa berbicara dan berjalan, interaksi mereka meningkat lebih luas lagi dengan teman-teman sebayanya melalui berbagai permainan anak-anak atau aktivitas lainnya. Proses interaksi mereka terus berlanjut sesuai dengan lingkungan dan tingkat usianya, dari mulai interaksi non formal seperti berteman dan bermasyarakat sampai interaksi formal seperti berorganisasi, dan lain-lain.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi manusia hidup bermasyarakat, yaitu: 1. Faktor alamiah atau kodrat Tuhan
2. Faktor saling memenuhi kebutuhan 3. Faktor saling ketergantungan
Keberadaan semua faktor tersebut dapat diterima oleh akal sehat setiap manusia, sehingga manusia itu benar-benar bermasyarakat, sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu Khaldun bahwa hidup bermasyarakat itu bukan hanya sekadar kodrat Tuhan melain-kan juga merupamelain-kan suatu kebutuhan bagi jenis manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya.
Jika tingkah laku timbal balik (interaksi sosial) itu berlangsung berulang kali dan terus menerus, maka interaksi ini akan berkembang menjadi interelasi sosial. Interelasi sosial dalam masyarakat akan tampak dalam bentuk sense of belonging yaitu suatu perasaan hidup bersama, sepergaulan, dan selingkungan yang dilandasi oleh rasa kemanusiaan yang beradab, kekeluargaan yang harmonis dan kebersatuan yang mantap.
Dengan demikian tidak setiap kumpulan individu merupakan masyarakat. Dalam kehidupan sosial terjadi bermacam-macam hubungan atau kerjasama, antara lain hubungan antarstatus, persahabatan, kepentingan, dan hubungan kekeluargaan. Sebagai mahluk sosial, manusia dikaruniai oleh Sang Pencipta antara lain sifat rukun sesama manusia.
B. PERANAN MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU DAN SOSIAL Sebagai mahluk hidup yang berada di muka bumi ini keberadaan manusia adalah seba-gai mahluk individu dan mahluk sosial, dalam asrti manusia senantiasa tergantung dan atau berinteraksi dengan sesamanya. Dengan demikian, maka dalam kehidupan lingkungan sosial manusia senantiasa terkait dengan interaksi antara individu manusia, interaksi antar kelompok, kehidupan sosial manusia dengan lingkungan hidup dan alam sekitarnya, berbagai proses sosial dan interaksi sosial, dan berbagai hal yang timbul akibat aktivitas manusia seperti perubahan sosial.
Secara sosial sebenarnya manusia merupakan mahluk individu dan sosial yang mempunyai kesempatan yang sama dalam berbagai hidup dan kehidupan dalam masyarakat. Artinya setiap individu manusia memiliki hak, kewajiban dan kesempatan yang sama dalam menguasai sesuatu, misalnya bersekolah, melakukan pekerjaan, bertanggung jawab dalam keluarga serta berbagai aktivitas ekonomi, politik dan bahkan beragama. Namun demikian, kenyataannya setiap individu tidak dapat menguasai atau mempunyai kesempatan yang sama. AKibatnya, masing-masing individu mempunyai peran dan kedudukan yang tidak sama atau berbeda. Banyak faktor yang menyebabkan itu bisa terjadi, misalnya kondisi ekonomi (ada si miskin dan si kaya), sosial (warga biasa dengan pak RT, dll), politik (aktivis partai dengan rakyat biasa), budaya (jago tari daerah dengan tidak) bahkan individu atau sekelompok manusia itu sendiri. Dengan kata lain, stratifikasi sosial mulai muncul dan tampak dalam kehidupan masyarakat tersebut.
C. DINAMIKA INTERAKSI SOSIAL
Interaksi sosial merupakan faktor utama dalam kehidupan sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut hubungan timbal balik antarindividu, antarkelompok manusia, maupun antara orang dengan kelompok manusia. Bentuk interaksi sosial adalah akomodasi, kerja sama, persaingan, dan pertikaian.
Apabila dua orang atau lebih bertemu akan terjadi interaksi sosial. Interaksi sosial tersebut bisa dalam situasi persahabatan ataupun permusuhan, bsia dengan tutur kata, jabat tangan, bahasa dahsyat, atau tanpa kontak fisik. Bahkan, hanya dengan bau keringat sudah terjadiinteraksi sosial karena telah mengubah perasaan atau saraf orang yang bersangkutan untuk menentukan tindakan. Interaksi sosial hanya dapat berlangsung antara pihak-pihak apabila terjadi reaksi dari kedua belah pihak. Interaksi sosial tidak mungkin terjadi apabila manusia mengadakan hubungan yang langsung dengan sesuatu yang sama sekali tidak berpengaruh terhadp sistem sarafnya sebagai akibat hubungan yang di maksud
Ciri-ciri interaksi sosial adalah sebagai berikut. 1. Pelakunya lebih dari satu orang
2. Adanya komunikasi antar pelaku melalui kontak sosial
3. Mempunyai maksud dan tujuan, terlepas dari sama atau tidaknya tujuan tersebiut dengan yang diperkirakan pelaku.
4. Ada dimensi waktu yang akan menentukan sikap aksi yang sedang berlangsung Syarat terjadinya interaksi sosial adalah adanya kontak sosial (social contact) dan komunikasi. Kontak sosial berasal dari kata con atau cun yang artinya bersama-sama, dan tango yang artinya menyentuh. Namun, kontak sosial tidak hanya secara harfiah bersentuhan badan, tetapi bisa lewat bicara, melalui telepon, telegram, surat radio, dan sebagainya.
Kontak dapat bersifat primer dan sekunder. Kontak primer terjadi apabila ada kontak langsung dengan cara berbicara, jabat tangan, tersenyum, dan sebagainya. Kontak sekunder terjadi dengan perantara. Kontak sekunder langsung, misalnya melalui telepon, radio, TV, dan sebagainya.
Kontak sosial dapat terjadi dalam tiga bentuk, yaitu
1. Kontak antar individu, misalnya seorang siswa baru mempelajari tata tertib dan budaya sekolah
2. Kontak antarindividu, dengan suatu kelompok, misalnya seorang guru mengajar di suatu kelas tentang suatu poko bahasan.
3. Kontak antarkelompok dengan kelompok lain, misalnya class meeting antarkelas. Komunikasi adalah proses memberikan tafsiran pada perilaku orang lain yang berwujud pembicaraan, gerak-gerik badaniah atau sikap, atau perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan orang tersebut. Dengan tafsiran pada orang lain, seseorang memberi reaksi berupa tindakan terhadap maksud orang lain tersebut. Misalnya, jika anda melambaikan tangan dipinggir jalan atau halte bus maka salah satu bus yang lewat pasti akan berhenti, jadi, komunikasi merupakan proses saling memberi penafsiran terhadap tindakan atau perilaku orang lain.
Berlangsungnya interaksi sosial didasarkan tas berbagai faktor, antara lain faktor imitasi, sugesti, identifikasi, simpati, motivasi, dan empati, imitasi adalah proses atau tindakan seseorang untuk meniru orang lain baik sikap, perbuatan, penampilan, dan gaya hidup. Sugeti adalah rangsangan, pengaruh, atau stimulus yang diberikan individu kepada individu lain sehingga orang yang diberi sugesti itu melaksanakan apa yang disegestikan tanpa sikap kritis dan rasional, identifikasi adalah upaya yang dilakukan individu untuk menjadi sama (identik) dengan individu yang ditirunya. Proses identifikasi erat kaitannya dengan imitasi. Simpati adala prose kejiwaan seseorang individu yang merasa tertarik dengan individu atau kelompok karena sikap, penampilan, atau perbuatannya. Motivasi merupakan dorongan, rangsangan, pengaruh, atau stimulasi yang diberikan individu kepada individu lain sehingga orang yang diberi motivasi melaksankannya dengan secara kritis, rasional, dan tanggung jawab. Empati adalah proses kejiwaan seorang individu untuk larut dalam perasaan orang lain baik suka maupun duka.
Seperti telah dikemukakan diatas, bentuk-bentuk interaksi sosial adalah akomodasi, kerja sama, persaingan, dan pertikaian. Secara luas, dapat dikatakan ada interaksi sosial yang sifatnya positif, yaitu mengarah pada kerjasama antrindividu atau antarkelompok. Interaksi sosial yng dimaksud interaksi soial yang bersifat asosiatif. Adapula interaksi sosial yang mengarah pada bentuk-bentuk pertikaian tau konflik. Interaksi sosial dimasud disebut dengan interaksi sosial yang bersifat disosiatif. Interaksi sosial yang bersifat asosiatif, seperti kerja sama, akomodasi, asimilasi, dan akulturasi. Interaksi sosial yang bersifat disasosiatif mencakup persaingan, kontro-versi, dn permusuhan.
Dengn demikian, dinamika interaksi sosial yang terjadi dala kehidupan sosial dapt beragam. Dilihat dari jenisnya ada interaksi antarindividu, interaksi individu dengan kelompok, dan interaksi antar kelompok. Dilihat dari faktor penyebabnya, ada
interaksi yang disebabkan oleh faktor imitasi, sugesti, identifikasi, simpati, motivsi, dan empati. Ada interaksi yang berbentuk pertentangan. Sedangkan jika dilihat dari sifat interaksinya, da interaksi yang asosiatif, interaksi disasosiatif.
Interaksi sosial merupakan kunci dri semua kehidupan sosial, karena tanpa interaksi sosial tidak mungkin ada kehidupan bersama. Manusia sebagai mkhluk sosial pastilah melkukan intraksi sosial dalam rngka hidup bersama.
D. DILEMA ANTARA KEPENTINGAN INDIVIDU DAN KEPENTINGAN MASYARAKAT
Setiap yang disebut manusia selalu terdiri dari dua kepentingan, yaitu kepentingan individu yang termasuk kepentingan keluarga, kelompok atau golongan dan kepent-ingan masyarakat yang termasuk kepentkepent-ingan rakyat . Dalam diri manusia, kedua kepentingan itu satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Apabila salah satu kepentin-gan tersebut hilang dari diri manusia, akan terdapat satu manusia yang tidak bisa membedakan suatu kepentingan, jika kepentingan individu yang hilang dia menjadi lupa pada keluarganya, jika kepentingan masyarakat yang dihilangkan dari diri manusia banyak timbul masalah kemasyarakatan contohnya korupsi. Inilah yang me-nyebabkan kebingungan atau dilema manusia jika mereka tidak bisa membagi kepentingan individu dan kepentingan masyarakat.
Dilema anatara kepentingan individu dan kepentingan masyarakat adalah pada pertanyaan mana yang harus diutamakan, kepentingan manusia selaku individu atau kepentingan masyarakat tempat saya hidup bersama? Persoalan pengutamaan kepentingan individu atau masyarakat ini memunculkan dua pandangan yang berkembang menjadi paham/aliran bahkan ideologi yang dipegang oleh suatu kelompok masyarakat.
1. Pandangan Individualisme
Individualisme berpangkal dari konsep bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk individu yang bebas. Paham ini memandang manusia sebagai makhluk pribadi yang utuh dan lengkap terlepas dari manusia yang lain. Pandangan individu-alisme berpendapat bahwa kepentingan individulah yang harus diutamakan. Yang menjadi sentral individualisme adalah kebebasan seorang individu untuk
mereal-isasikan dirinya. Paham individualisme menghasilkan ideologi liberalisme. Paham ini bisa disebut juga ideologi individualisme liberal.
Paham individualisme liberal muncul di Eropa Barat (bersama paham sosialisme) pada abad ke 18-19. Yang dipelopori oleh Jeremy Betham, John Stuart Mill, Thomas Hobben, John Locke, Rousseau, dan Montesquieu. Beberapa prinsip yang dikem-bangkan ideologi liberalisme adalah sebagai berikut.
Penjaminan hak milik perorangan. Menurut paham ini , pemilikan sepenuhnya berada pada pribadi dan tidak berlaku hak milik berfungsi sosial,
Mementingkan diri sendiri atau kepentingan individu yang bersangkutan. Pemberian kebebasan penuh pada individu
Persaingan bebas untuk mencapai kepentingannya masing-masing.
Kebebasan dalam rangka pemenuhan kebutuhan diri bisa menimbulkan persaingan dan dinamika kebebasan antar individu. Menurut paham liberalisme, kebebasan antar individu tersebut bisa diatur melalui penerapan hukum. Jadi, negara yang menjamin keadilan dan kepastian hukum mutlak diperlukan dalam rangka mengelola kebebasan agar tetap menciptakan tertibnya penyelenggaraan hidup bersama. 2. Pandangan Sosialisme
Paham sosialisme ditokohi oleh Robert Owen dari Inggris (1771-1858), Lousi Blanc, dan Proudhon. Pandangan ini menyatakan bahwa kepentingan masyarakatlah yang diutamakan. Kedudukan individu hanyalah objek dari masyarakat. Menurut pandan-gan sosialis, hak-hak individu sebagai hak dasar hilang. Hak-hak individu timbul karena keanggotaannya dalam suatu komunitas atau kelompok.
Sosialisme adalah paham yang mengharapkan terbentuknya masyarakat yang adil, selaras, bebas, dan sejahtera bebas dari penguasaan individu atas hak milik dan alat-alat produksi. Sosialisme muncul dengan maksud kepentingan masyarakat secara keseluruhan terutama yang tersisih oleh system liberalisme, mendapat keadilan, kebebasan, dan kesejahteraan. Untuk meraih hal tersebut, sosialisme berpandangan bahwa hak-hak individu harus diletakkan dalam kerangka kepentin-gan masyarakat yang lebih luas. Dalam sosialisme yang radikal/ekstem (marxisme/ komunisme) cara untuk meraih hal itu adalah dengan menghilangkan hak pemilikan
dan penguasaan alat-alat produksi oleh perorangan. Paham marxisme/komunisme dipelopori oleh Karl Marx (1818-1883).
Paham individualisme liberal dan sosialisme saling bertolak belakang dalam memandang hakikat manusia. Dalam Declaration of Independent Amerika Serikat 1776, orientasinya lebih ditekankan pada hakikat manusia sebagai makhluk individu yang bebas merdeka, manusia adalah pribadi yang memiliki harkat dan martabat yang luhur. Sedangkan dalam Manifesto Komunisme Karl Marx dan Engels, orientasinya sangat menekankan pada hakikat manusia sebagai makhluk sosial semata. Menurut paham ini manusia sebagai makhluk pribadi yang tidak dihargai. Pribadi dikorbankan untuk kepentingan negara.
Dari kedua paham tersebut terdapat kelemahannya masing-masing. Individualisme liberal dapat menimbulkan ketidakadilan, berbagai bentuk tindakan tidak manusiawi, imperialisme, dan kolonialisme, liberalisme mungkin membawa manfaat bagi kehidupan politik, tetapi tidak dalam lapangan ekonomi dan sosial. Sosialisme dalam bentuk yang ekstrem, tidak menghargai manusia sebagai pribadi sehingga bisa merendahkan sisi kemanusiaan. Dalam negara komunis mungkin terjadi kemakmu-ran, tetapi kepuasan rohani manusia belum tentu terjamin.
Makhluk Realigius.
Salah satu realitas manusia sepanjang sejarah yang tidak bisa dihapuskan adalah bahwa manusia mempunyai rasa keberagamaan (religiousity) dalam dirinya atau kebutuhan dasar kerohanian (basic spiritual needs)., dalam arti manusia adalah mahkluk beragama dan selalu merindukan untuk beragama sebagai media berhubun-gan denberhubun-gan Sang Penciptanya. Bahkan para ahli sepakat bahwa agama sangat berpen-garuh kuat terhadap tabiat personal dan sosial manusia dalam hidupnya, dan kehidu-pan manusia tidak bisa lepas dari agama untuk mencapai kebahagiaan hidupnya. Apa religiusitas itu? Secara bahasa, kata religiusitas adalah kata kerja yang berasal dari kata benda religion. Religi itu sendiri berasal dari kata re dan ligare artinya menghubungkan kembali yang telah putus, yaitu menghubungkan kembali tali hubungan antara Tuhan dan manusia yang telah terputus oleh dosa-dosanya. Gazalba (1985) mengartikan kata religi berasal dari bahasa latin religio yang berasal dari akar kata religare yang berarti mengikat. Maksudnya adalah ikatan manusia dengan suatu tenaga yaitu tenaga gaib yang kudus. Religi adalah kecenderungan rohani manusia
untuk berhubungan dengan alam semesta, nilai yang meliputi segalanya, makna yang terakhir, dan hakekat dari semuanya.
Islam sebagai sebuah sistem yang menyeluruh, mendorong pemeluknya untuk beragama secara menyeluruh (totalitas) (QS 2: 208); baik dalam berpikir, bersikap, merasa maupun bertindak, harus didasarkan pada prinsip penyerahan diri dan pengab-dian secara total kepada Alloh, kapan, dimana dan dalam keadaan bagaimanapun. Karena itu, keberagamaan dalam Islam bukan hanya sekedar diwujudkan dalam bentuk ibadah ritual saja, tapi juga dalam aktivitas-aktivitas lain dalam hidup layaknya manusia sebagai makhluk sosial. Bahkan dalam setiap sholat seorang muslim selalu berjanji dalam sholatnya: “ Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya dipersembahkan kepada Alloh Tuhan semesta alam”. Berarti adanya penyerahan diri secara totalitas untuk selalu beribadah kepada Alloh, sehingga apapun yang dikerjakan seorang manusia dalam hidupnya wajib berlandaskan niat untuk beribadah kepada Alloh swt.
Permasalahanpun timbul “ mengapa sering terjadi orang yang pemahaman keberaga-maannya bagus, bahkan sering memberikan pencerahan dan penerangan agama kepada orang lain tapi perilakunya menyimpang?”. Sering terdengar dalam berita seorang yang pendidikan agamanya cukup bagus dan bahkan berasal dari keluarga ulama tapi melakukan korupsi atau manipulasi. Ahli ibadah yang setiap hari pergi ke mesjid tapi perilakunya tidak mencerminkan keagungan dan keindahan ibadah yang dilakukannya, dan berbagai contoh lain dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa ini bisa terjadi?
Kepribadian seorang manusia sangat komplek dan tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor saja, melainkan berbagai factor akan mempengaruhi tingkah lakunya. Sebagai makhluk yang dinamis bisa jadi ketaatan beragama yang diperlihatkan dalam kesehari-annya tidak memenuhi unsur ibadah sebagaimana disyariatkan Islam, sehingga mereka hanya taat dalam hal ritual saja tanpa penghayatan makna yang mendalam dibalik semua ajaran agama yang dilakukannya. Ditambah dengan berbagai pengaruh lingkungan sosial, media cetak atau elektronik yang merangsang manusia untuk mengumbar nafsu hewaninya, atau mungkin akibat kelemahan legal formal berupa aturan hukum yang kurang berpihak kepada kebaikan.
Indikasi ini bisa dilihat ketika ketahanan diri seseorang dalam menghadapi realitas kehidupan kurang kuat, sehingga menjadi stress ditambah ada kesempatan yang mempermudah seseorang melakukan berbagai penyimpangan perilaku, maka akan terjadilah berbagai perbuatan dosa yang dicegah oleh agama. Pembuktian ilmiah
sebagaimana dilakukan Clinebell (1980) mengatakan bahwa pada setiap diri manusia terdapat kebutuhan dasar kerohanian (basic spiritual needs). Dari penelitiannya ditemukan bahwa kebutuhan ini jika tidak terpenuhi, mereka mencari kebutuhan dasar tersebut dan salah satu bentuk pelampiasannya malah dengan jalan menyalahgunakan NAPZA. (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya). Penelitian lain dilakukan Larson dkk (1990) menemukan bahwa remaja yang komitmen agamanya lemah, mempunyai resiko empat kali lebih besar untuk menyalahgunakan NAPZA dibanding para remaja yang kuat komitmen agamanya. Bukti ini sesuai dengan yang dikemuka-kan Dadang Hawari (1990) dan Juwana (1994) bahwa ketaatan beribadah pada kelompok penyalahguna NAPZA jauh lebih rendah dibandingkan dengan kelompok bukan penyalahguna NAPZA, dan perbedaan ini sangat signifikan. Seorang ahli sosiologi yaitu Hirschi & Gottfretson (dalam Blackburn, 1993) membenarkan pandan-gan bahwa tidak ada alasan khusus yang diperlukan untuk menjelaskan terjadinya suatu kejahatan karena kecenderungan adanya dorongan manusia yang tidak dapat ditunda untuk mencari atau mencapai kenikmatan dan menghindari sesuatu yang menyakitkan.
Disinilah fungsi kontrol diri sebagai wawasan melekat, berupa kekuatan iman yang tertancap kuat dalam hati manusia. Adalah benar bahwa setiap manusia mempunyai nafsu seperti disinyalir dalam salah satu ayat al-Qur’an, ”Fa`alhamahâ fujûrahâ wa taqwâhâ” . tapi permasalahannya adalah apakah ia bisa mengontrol fujûr atau potensi buruknya itu atau tidak. Ini bukan hal yang mudah melainkan perlu latihan dan pembelajaran yang lama dan memerlukan waktu panjang sehingga menjadi terpolakan dan mendarah daging dalam karakter dan pribadinya. Maka pendidikan dan pembi-naan serta peran keluarga terutama dalam menanamkan ajaran agama sejak usia dini sangat penting. Dasar ajaran agama yang ditanamkan sedini mungkin akan melahirkan sebuah komitmen keberagamaan yang didasari oleh kesadaran bahwa agama memang penting dan sangat diperlukan serta bermanfaat bagi kebahagiaan dirinya. Sehingga akhirnya proses pembiasaan dalam melaksanakan agama yang ditanam dalam waktu yang lama ini menjadi sebuah keterampilan yang mendarah daging dalam hidupnya. Sebagaimana diisyaratkan Rosululloh saw: “ Suruhlah anakmu yang berusia tujuh tahun untuk shalat, dan jika usia sepuluh tahun tidak mau mengerjakan shalat, maka pukullah ”. Proses pendidikan dengan membiasakan anak melaksanakan sholat sejak kecil, merupakan suatu keharusan agar ketika menginjak dewasa dia terbiasa melaku-kannya.
anak-anaknya di masa mendatang? Diantara upaya yang harus dilakukan oleh setiap keluarga muslim adalah:
Pertama, bentengi diri dengan keimanan dan ketaqwaan sehingga kita merasa dekat dan merasa diawasi oleh Alloh Swt. Bahkan Rosululloh saw menyuruh untuk selalu memperbaharui iman kita dengan selalu memperbanyak dzikrulloh. Mengapa? Karena dengan selalu ingat kepada Alloh (Dzikrullah), hati sebagai raja atau kepala nakhoda hidup manusia akan selalu mengontrol dari perbuatan maksiat setiap saat dalam seluruh aspek kehidupannya. Jika baik hatinya, maka akan selalu baiklah seluruh perbuatannya, sebaliknya jika hatinya jelek (tidak ingat kepada Alloh) maka akan jeleklah seluruh perbuatannya. Dan sesorang berani melakukan suatu perbuatan dosa itu akibat hatinya lupa kepada Alloh.
Kedua, pupuk dan kembangkan nilai-nilai keagamaan dalam keluarga sebagai lingkungan terdekat yang membentuk dan mempengaruhi pribadi dan budi pekerti seseorang. Berbagai kasus penyalahgunaan NAPZA sering dikaitkan dengan masalah kehidupan beragama dalam keluarga dan ketaatannya dalam menjalankan perintah agama. Semakin baik kehidupan beragama dan ketaatannya dalam melaksanakan ibadah dalam suatu keluarga, maka semakin baiklah pertahanan mental spiritual anggota keluarga tersebut walaupun menghadapi berbagai permasalahan pelik. Pendidikan agama sejak dini akan memperkuat komitmen agama seorang anak kelak ketika menginjak remaja dan dewasa, sehingga mampu memperkecil resiko terkena penyalahgunaan NAPZA. Ini penting sekali diketahui dan dilaksanakan oleh setiap keluarga muslim, baik bagi upaya prevensi, terapi, maupun rehabilitasi pada penyalah-gunaan NAPZA, dimana pendekatan keagamaan merupakan suatu kewajiban dan harus diikutsertakan didalamnya.
Ketiga, Ciptakan lingkungan keluarga yang harmonis berlandaskan agama serta selektif dalam memilih teman atau lingkungan. Kalau kita tidak bisa merubah lingkun-gan yang bisa merusak perilaku kita maka lebih baik menghindarinya. Bahkan perlu menciptakan lingkungan keluarga yang baik dan harmonis dilandasi ajaran agama, sehingga anak betah di rumah dan komitmen melaksanakan agamanya. Salah satu aspek psiko-sosial yang merupakan factor kontribusi pada terjadinya penyalahgunaan NAPZA, adalah faktor keluarga berupa: keutuhan keluarga, kesibukan keluarga,dan hubungan antar pribadi anggota keluarga. Kondisi keluarga yang tidak baik (disfungsi keluarga) merupakan faktor kontribusi utama terjadinya penyalahgunaan NAPZA, seperti akibat: kematian keluarga (broken home by death), kedua orang-tua bercerai atau pisah (broken home by divorce/ separation), hubungan orang-tua (ayah dan ibu)
tidak harmonis (poor marriage), hubungan antara orang-tua dan anak tidak baik (poor parent dan child relationship), suasana rumah tangga yang tegang (high tension), suasana rumah tangga tanpa kehangatan (low warmth), orang-tua sibuk dan jarang di rumah (absence), atau diakibatkan oleh orang-tua yang mempunyai kelainan kepriba-dian dalam hidupnya (personality disorder). Tidak kalah pentingya adalah pengaruh teman kelompok sebaya atau peer group sebagai pencetus dan pendorong penyalahgunaan NAPZA, dimana dalam banyak kasus justru perkena-lan pertama dengan NAPZA ini adalah dari mereka. Pengaruh teman kelompok sebaya ini dapat menciptakan keterikatan dan kebersamaan, sehingga yang bersangkutan sukar melepaskan diri, baik diakibatkan ketidakmampuan untuk berinteraksi maupun adanya intimidasi dari temannya.. Pengaruh teman kelompok ini tidak hanya pada saat perkenalan pertama dengan NAPZA, melainkan dapat menyebabkan seseorang tetap ketergantungan dan kekambuhan setiap waktu dimanapun berada.
Di Inabah seorang yang ketergantungan kepada NAPZA dianggap orang yang telah melakukan dosa, solusinya adalah orang itu diajak bertaubat dari dosanya dengan selalu membersihkan dirinya dan berusaha dikembalikan hatinya kepada Alloh untuk meningkatkan kualitas jiwa dengan selalu berdzikir kepada-Nya. Dzikrulloh atau ta’alluq pada Tuhan, yaitu berusaha mengingat dan mengikatkan kesadaran hati dan pikiran kita kepada Alloh. Di manapun seorang mukmin berada, dia tidak boleh lepas dari berdzikir untuk Tuhannya (QS. 3:191). Dari dzikir ini meningkat sampai maqam takhalluq, yaitu, secara sadar meniru sifat-sifat Tuhan sehingga seorang mukmin memiliki sifat-sifat mulia sebagaimana sifat-Nya. Proses ini bisa juga disebut sebagai proses internalisasi sifat Tuhan ke dalam diri manusia. Dalam konteks ini kalangan sufi biasanya menyandarkan Hadits Nabi yang berbunyi, “Takhallaqu bi akhlaq-i Alloh.”. Selanjutnya menuju tahaqquq. yaitu suatu kemam-puan untuk mengaktualisasikan kesadaran dan kapasitas dirinya sebagai seorang mukmin yang dirinya sudah “didominasi” sifat-sifat Tuhan sehingga tercermin dalam perilakunya yang serba suci dan mulia. Maqam tahaqquq ini sejalan dengan Hadits Qudsi yang digemari kalangan sufi yang menyatakan bahwa bagi seorang mukmin yang telah mencapai martabat yang sedemikian dekat dan intimnya dengan Tuhan maka Tuhan akan melihat kedekatan hamba-Nya, bahkan mampu melihat dengan mata-Nya, mendengar dengan telinga-Nya, dan berbuat dengan tangan-Nya, dalam arti berakhlakul karimah; baik kepada Alloh, baik kepada semua makhluk Alloh, serta mampu menjadi rahmatan lil-alamin
TEORI PSIKOLOGI SOSIAL
PSIKOANALISA
TOKOH :
Sigmund Freud
Lahir : 6 Mei 1856, Freiberg, Moravia, Austria–Hungary, now the Czech Republic
Meninggal : 23 September 1939 (umur 83)London, England, U.K. Tempat tinggal : Austria, U.K.
Bidang : Neurology,Filosofi, Psikiatri, Psikologi, Psikoterapi, Psikoanalisis Institusi University of Vienna Alma mater University of Vienna
bapak psikologi modern
sebab beliau yang mengembangkan teori psikoanalisis dalam pengobatan penyakit mental pada manusia. tidak hanya itu, Freud juga mencetuskan teori yang sempat menggemparkan dunia dan bahkan menjadi kontroversi. Inilah profil singkat dari Sigmund Freud.Lahir di Freiberg, Moravia, salah satu kota di Republik Ceko pada tanggal 6 Juni 1856 kemudian ketika berumur 4 tahun, keluarganya pindah ke Wina. Di Wina, Freud termasuk anak yang jempolan. terbukti dia mendapatkan gelar sarjana kedokteran dari Universitas Wina di tahun 1881. Teori dari Freud yang amat terkenal adalah ketika dia membagi wilayah kesadaran manusia menjadi conscious mind, subconscious mind, dan unconscious mind, yani 3 tahapan kesadaran pada manusia. Consicous mind adalah pikiran sadar dan mengendalikan hampir semua kegiatan sadar manusia. Tetapi yang paling kontroversi adalah teorinya merujuk bahwa pikiran bawah sadar (subconscious mind) mengendalikan sebagian besar perilaku manusia.
Variable-variable interpersonal dan aparat-aparat psikos.
Libido adalah energi vital. Energi ini sepenuhnya bersifat kejiwaan dan tidak boleh dicampurkan dengan energi fisik yang bersumber pada kebutuhan-kebutuhan bi-ologis seperti lapar dan haus. Freud mengemukakan bahwa manusia terlahir dengan sejumlah insting (naluri). Insting dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu insting hidup (life insting) dalah naluri untuk mempertahankan hidup dan keturunan dan Insting mati (death insting) adalah naluri yang menyatakan bahwa suatu saat orang itu akan mati insting mati ini menyebabkan perilaku-perilaku agresif. Sifat, kekuatan dan cara peny-aluran dari libido pada masa kanak-kanak sangat menentukan kehidupan kejiwaan dan kepribadian orang yang bersangkutan. Karena itu masa kanak-kanak dipandang freud sebagai masa kritis yang penting sekali artinya.
Struktur kejiwaan
Jiwa oleh freud dibagi dalam 3 bagian yaitu; Kesadaran (consciousness) adalah bagian kejiwaan yang berisi hal-hal yang disadarinya, diketahuinya. Prakesadaran (pre-consciousness) adalah bagian kejiwaan yang bersikan hal-hal yang sewaktu-waktu dapat dipanggil ke kesadaran melalui asosiasi-asosiasi. Ketidaksdaran 9uncoscious-ness) adalah proses-proses yang tidak disadari, akan tetapi tetap berpengaruh pada tingkah laku orang yang bersangkutan.
STRUKTUR KEPRIBADIAN
Id adalah segala sumber energi psikis, sistem yang tidak disadari, maka
semua ciri ketidak moralan berlaku buat id : amoral, tidak terpengaruh oleh waktu, tidak memperpedulikan realitas, tidak menyensor diri sendiri dan bekerja atas dasar prinsip kesenangan.
EGO bekerja atas dasar prinsip realitas, ego juga beroperasi atas dasar proses
berfikir sejunder, jadi dalam menginterpretasikan realitas ego menggunakan logika.
SUPEREGO adalah sistem moral dari kepribadian. Sistem ini berisi
norma-norma budaya, nilai-nilai sosial dan tata cara yang sudah di serap dalam jiwa
PENDEKATAN BIOLOGIS
M
anusia dilahirkan dengan berbagai karakteristik biologis yang membeda-kannya dengan hewan dan sesamanya Dalam tingkat paling sederhana, karakteristik ini dapat membatasi kemungkinan perilaku manusia dan rangsangan yang muncul.
Daftar karakteristik bawaaan dapat diperbanyak, dan sifat-sifat ini mempengaruhi bagaimana kita dan perilaku sosial kita.
Naluri dan Perbedaan Genetik
manusia memiliki naluri untuk menjadi agresif.
KONRAD LORENZ dan juga ahli lain mengemukakan pendapat bahwa dorongan agresif ada di dalam diri manusia sejak lahir dan tidak dapat diubah.
Pandangan biologis juga memusatkan perhatiaannya bagaimana perbedaan gene-tik menimbulkan perbedaan perilaku.
sebagian orang tumbuh lebih kuat, lebih cerdas dari yang lain, sebagian wanita ( dapat melahirkan) dan sebagian lagi laki-laki (tidak dapat melahirkan) dsb, Orang yang memiliki susunan susunan genetik tertentu ( khususnya
kromo-som XYY dan bukannya kromokromo-som XY atau XX yang lebih lazim) lebih besar kemungkinan menjadi penjahat. Meskipun sampai sekarang ini baru terdapat se-dikit bukti yang mendukung pemikiran tsb. Jelas perkiraan itu merupakan sebagian penjelasan mengenai perilaku kriminal.
Pemikiran yang umum adalah bahwa penyebab semua perilaku, termasuk perilaku sosial, dapat di ketahui dari sifat biologis seseorang—dari susunan genetik, dari karakteristik bawaan, dari karakteristik fisik yang berkembang sejak lahir, atau dari pertumbuhan fisik sementara seperti yang disebabkan oleh produksi hormon atau perangsangan otak.
DAFTAR PUSTAKA
Wirawan Salito. 1983. Teori-teori Psikologi Sosial,(Jakarta : Radar Jaya Offset) Gerungan,W.A.2010.Psikologi Sosial. (Bandung : PT Refika Aditam)
TEORI ENVIROMENTALIS DAN KOGNITIF
1. Teori Enviromentalis
Environmentalis mengatakan bahwa tingkah laku manusia dibentuk oleh lingkugan. Dalam istilah filsafat dan psikologi, kita mengenal ‘’tabula rasa’’ yang artinya bahwa manusia di dilahirkan dalam keadaan yang polos, dan tingkah laku manusia di bentuk oleh lingkungannya.
Sejarah environmentalis
Environmentalis muncul setelah revolusi industri di perancis yang menim-bulkan pencemaran lingkungan modern yang umum terjadi saat ini. Munculnya pabrik – pabrik besar dan exploitasi dalam jumlah besar dari batubara yang men-imbulkan polusi udara .
2. TEORI KOGNITIF
Psikologi kognitif menempatkan manusia sebagai mahluk yang bereaksi secara aktif terhadap lingkungan dengan cara berfikir.
Psikologi kognitif mempelajari bagaimana arus informasi yang di tangkap oleh indra di proses dalam jiwa seseorang sebelum diendapkan dalam kesadaran atau di wujudkan tingkah laku.
PERSEPSI dan Atribusi A. Persepsi
Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh pengindraan. Pengin-draan adalah proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indra. Stim-ulus tersebut diteruskan oleh syaraf ke otak sebagai pusat susunan syaraf, dan proses selanjutnya merupakan proses persepsi. Stimulus yang mengenai individu itu kemudian diorganisasikan, diinterpretasikan, sehingga individu menyadari tentang apa yang diinderanya itu. Persepsi stimulus dapat datang dari luar indi-vidu dan juga dari dalam indiindi-vidu itu sendiri. Bila yang dipersepsi dirinya sendiri sebagai objek persepsi, inilah yang disebut persepsi diri. Karena dalam persepsi itu merupakan aktivitas yang intergrated. Maka seluruh apa yang ada dalam diri individu seperti perasaan, pengalaman, kemampuan berfikir, kerangka acuan, dan aspek-aspek lain yang ada dalam diri individu akan ikut berperan dalam persepsi tersebut. Atas dasar itu dapat dikemukakan bahwa dalam persepsi itu sekalipun stimulusnya sama, tetapi karena pengalaman tidak sama, kemampuan berfikir ti-dak sama, kerangka acuan titi-dak sama, adanya kemungkinan hasil persepsi an-tara individu satu dengan individu yang lainnya tidaklah sama. Keadaan tersebut memberikan gambaran bahwa persepsi itu bersifat individual (Davidoff, 1981).4 B. Persepsi Sosial
Obyek persepsi ada yang bersifat intern dan ekstern. Dalam mempersepsi diri sendiri orang dapat melihat bagaimana keadaan dirinya sendiri. Orang akan dapat mengerti bagaimana keadaan dirinya sendiri. Orang dapat mengevaluasi tentang dirinya sendiri.
Bila obyek persepsi terletak di luar orang yang mempersepsi, maka obyek persepsi dapat bermacam-macam, yaitu dapat berwujud benda-benda, situasi dan juga ma-nusia. Bila obyek persepsi berwujud benda-benda disebut persepsi benda (things perception) atau non-social perception, Sedangkan bila obyek persepsi berwujud manusia atau orang disebut dengan persepsi sosial atau social perception (Heider,
4
Bimo Walgito, Psikologi Sosial, (Yogyakarta: Andi Offset, 1978),
hlm. 53-54
1958).
Persepsi Sosial merupakan suatu proses seseorang untuk mengetahui, menginter-pretasikan dan mengevaluasi orang lain yang dipersepsi, tentang sifat-sifatnya, kualitasnya dan keadaan yang lain yang ada dalam diri orang yang dipersepsi. Sehingga terbentuklah gambaran mengenai orang yang dipersepsi (Tagiuri dalam Lindzey dan Aranson. 1975).
Ada beberapa faktor yang ikut berperan dan mempengaruhi dalam mempersepsi manusia, yaitu diantaranya: (1) keadaan stimulus, dalam hal ini berwujud manusia yang akan dipersepsi; (2) situasi dan keadaan sosial yang melatarbelakangi stimu-lus; (3) keadaan orang yang mempersepsi.
Pikiran, perasan, kerangka acuan, pengalaman atau dengan kata lain keadaan pribadi orang yang mempersepsi akan berpengaruh dalam seseorang memper-sepsi orang lain. Demikian pula situasi sosial yang melatarbelakangi stimulus person juga akan ikut berperan dalam hal mempersepsi seseorang. Orang yang biasa bersikap keras, tetapi karena situasi sosialnya tidak memungkinkan untuk menunjukkan kekerasannya hal tersebut akan mempengaruhi dalam seseorang berperan sebagai stimulus person. Keadaan tersebut dapat mempengaruhi orang yang mempersepsinya. Karena itu situasi sosial yang melatarbelakangi stimulus person mempunyai peran yang penting dalam persepsi sosial.5
C. Antribusi Sosial
Atribusi adalah memperkirakan apa yang menyebabkan orang lain itu berperilaku tertentu. Menurut Myers (1996), kecenderungan memberi atribusi disebabkan oleh kecenderungan manusia untuk menjelaskan segala sesuatu, termasuk apa yang ada dibalik perilaku orang lain. Attribution theory (teori sifat) merupakan posisi tanpa perlu disadari pada saat melakukan sesuatu menyebabkan orang-orang yang sedang menjalani sejumlah tes bisa memastikan apakah perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan orang lain dapat merefleksikan sifat-sifat karakteristik yang tersembunyi dalam dirinya, atau hanya berupa reaksi-reaksi yang dipaksakan ter-hadap situasi tertentu.6
5
Ibid. hlm 55-57
Teori ini merupakan teori yang ingin menjelaskan tentang perilaku seseorang. Teori ini dikemukakan oleh Frith Heider, yang menurutnya perilku manusia itu dapat disebabkan oleh faktor internal, dan ini disebut atribusi internal atau dise-babkan oleh faktor eksternal, disebut dengan atribusi eksternal. Untuk mengetahui orang-orang disekitar kita dapat melalui beberapa macam, yaitu: (1) Dengan meli-hat seseorang itu secara fisik. Seperti cara berpakaian dan cara berpenampilan. (2) Langsung bertanya kepada orang yang bersangkutan, misal tentang pemikirannya, tentang motifnya. (3) Dari perilaku seseorang.
Menurut Kelley, perilaku manusia itu dapat disebabkan oleh faktor internal, faktor eksternal dan faktor internal-eksternal. Untuk menentukan suatu perilaku apakah internal, eksternal dan internal-eksternal , Kelley menggunakan 3 determinan untuk menentukan hal tersebut, yaitu consensus, konsistensi dan distinctive-ness. Konsensus yaitu bagaimana seseorang bereaksi bila dibandingkan dengan orang-orang lain terhadap stimulus tertentu. Konsisten yaitu bagaimana seseorang bereaksi terhadap stimulus yang sama dalam situasi berbeda. Distinctiveness yaitu bagaimana seseorang bereaksi terhadap stimulus atau situasi yang berbeda-beda.7 D. Beberapa Sumber Kesesatan Atribusi
• Kesalahan atribusi mendasar
Kita cenderung memandang orang lain bahwa dirinya sendirilah yang bertang-gung jawab atas segenap perilakunya. Contonya, menyalahkan korban saat tidak mengetahui siapakah sesungguhnya yang bertanggung jawab atas kecelakaan yang terjadi, Kita kerap mengatakan bahwa bencana yang dialami seseorang adalah kesalahannya sendiri. “Itu memang salahnya” dan “Dia sendirilah yang menyebabkan terjadinya semua itu”
• Efek pengamat actor
Kita cenderung melimpahkan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar atas segala sesuatu yang kita lakukan. Seperti pembelaan diri seoran anak kecil saat mendapat nilai merah, “Saya sebenarnya ingin belajar dengan rajin tapi teman-te-manlah yang mengganggu saya.” Dengan kata lain kita sering menyalahkan orang
7
Op.cit, Bimo Walgio. Hlm. 60-61
lain saat terjadi kegagalan.
• Menyalahkan atau membanggakan diri sendiri
Bila mengalami keberhasilan, kita sering berfikir bahwa diri kitalah satu-satunya penyebabnya. Tapi jika mengalami kegagalan , kita mengganggapnya sebagai ke-hendak Tuhan atau karena orang lain.
• Hipotesis dunia yang adil
Ini merupaan gagasan bahwa setiap orang akan mendapat balasan setimpal atas perbuatannya. Gagasan ini memang tidak sepenuhnya salah tapi akan bermasalah jika seseorang membalik rangkaian logikanya: Bila mengalami sessuatu yang baik pasti karena seseorang itu melakukan kebaikan, sebaliknya jika mengalami sesuatu yang buruk, artinya seseorang telah melakukan dosa atau kejahatan. Hal ini menimbulkan gagasan konyol. Seperti rasa bersalah jika mengalami sesuatu yang buruk. Sebaliknya kita cenderung menganggap orang yang beruntung seb-agai orang yang baik, padahal tidak selamanya demikian.8
DAFTAR PUSTAKA
Walgito Bimo, Psikologi Sosial, Yogyakarta: Andi Offset, 1978 Boere George, Psikologi Sosial, Jogjakarta: Prismashopie, 2011 http://susisitisapaah.blogspot.com/2011/09/atribusi-sosial.html
8
George Boere, Psikologi Sosial, (Jogjakarta: Prismashopie,
2011), hlm. 65-66
PEMBUATAN KEPUTUSAN, AFEK DAN
KOGNISI
A. PEMBUATAN KEPUTUSAN
Pembuatan keputusan digunakan untuk menyeleksi dari antara pilihan- pili-han atau untuk mengevaluasi kesempatan- kesempatan. Pembuatan keputusan diinfor-masikan sepenuhnya terkait dengan semua pilihan yang memungkinkan bagi keputusan mereka dan tentang semua hasil yang memungkinkan dari pilihan- pilihan keputusan mereka. Mereka sepenuhnya rasional terkait dengan pilihan terhadap opsi-opsi. Asumsi tentang rasionalitas berarti manusia bisa membuat pilihan untuk memaksimalkan nilai, apapun bentuknya. Melakukan pembuatan keputusan merupakan ciri yang memainkan suatu peran penting dalam kehidupan setiap manusia. Setiap tindakan yang diambil oleh individu memiliki latar belakang yang mendalam dari sebuah proses keputusan itu sendiri. Bahwa keputusan otonom bergantung pada individu. Justru batasan-batasan sosiallah yang mempengaruhi pembuatan keputusan seseorang.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan erat kaitannyadengan pemilihan suatu alternatif untuk menyelesaikan atau me-mecahkanmasalah serta memperoleh kesempatan.
Herbert Simon, ahli teori keputusan dan organisasi mengonseptu-alisasikan tiga tahap utama dalam proses pengambilan keputusan yaitu :
1. Aktivitas intelegensi yakni penelusuran kondisi lingkungan yang me-merlukan pengambilan keputusan.
2. Aktivitas desain yakni terjadi tindakan penemuan, pengembangandan analisis masalah.
3. Aktivitas memilih yakni memilih tindakan tertentu dari yang tersedia.
Fungsi dan tujuan pengambilan keputusan
Fungsi pengambilan keputusan yaitu Pengambilan keputusan sebagai suatu kelanjutan dari cara pemecahan masalah mempunyai fungsi antara lain sebagai berikut:
P a n g k a l p e r m u l a a n d a r i s e m u a a k t i v i t a s m a n u s i a y a n g s a d a r d a n t e r a r a h b a i k s e c a r a i n d i v i d u a l m a u p u n s e c a r a k e l o m p o k , b a i k secara institusional maupun secara organisasional.
S e s u a t u y a n g b e r s i f a t f u t u r i s t i k , a r t i n y a m e n y a n g k u t d e n g a n h a r i depan/masa yang akan datang,dimana efeknya atau pengaruhnya berlangsung cukup lama.
Tujuan pengambilan keputusan dapat dibedakan atas dua yaitu:
1 . Tu j u a n b e r s i f a t t u n g g a l y a i t u t u j u a n p e n g a m b i l a n k e p u t u -s a n y a n g ber-sifat tunggal terjadi apabila yang diha-silkan hanya menyangkut satu masalah artinya setelah diputuskan tidak ada kaitannya lagi.
2 . T u j u a n b e r s i f a t g a n d a y a i t u t u j u a n p e n g a m b i l a n k e p u t u s a n y a n g b e r s i f a t g a n d a t e r j a d i a p a b i l a k e p u -t u s a n y a n g d i h a s i l k a n i -t u menyangku-t lebih dari sa-tu masalah, artinya bahwa satu keputusan yang diambil itu sekaligus memecahkan dua masalah atau lebih yang bersifat kontradiktif atau bersifat tidak kon-tradiktif.
Langkah dalam pengambilan keputusan
M i n t z b e r g m e n g u n g k a p k a n b a h w a l a n g k a h - l a n g k a h d a l a m p e n g a m b i l a n keputusan yaitu:
1 . T a h a p i d e n t i f i k a s i Tahap ini adalah tahap pengenalan masalah atau kesempatan muncul d a n d i a g n o s i s d i b u a t . S e b a b t i n g -k a t d i a g n o s i s t e r g a n t u n g d a r i -komple-ksitas masalah yang dihadapi.
2 . T a h a p p e n g e m b a n g a n Tahap ini merupakan aktivitas pencarian prosedur atau solusi standar y a n g a d a a t a u m e n d e s a i n s o l u -s i y a n g b a r u . P r o -s e -s d e -s a i n i n i m e r u p a k a n p r o -s e -s p e n c a r i a n d a n p e r c o b a a n d i m a n a p e m b u a t a n keputu-san hanya mempunyai ide solusi ideal yang tidak jelas.
Afek adalah perubahan perasaan karena tanggapan dari kesadaran seseorang (terutama apabila tanggapan itu datangnya mendadak dan berlangsung tidak lama). Contoh orang yang sedang marah mengambil, melempar, dan membanting benda dari sekitarnya, disertai mukanya merah, TD meningkat, dan gemeter.
Domain afektif adalah mengenai sikap, minat, emosi, nilai hidup dan opera-siasi siswa.
Menurut Krathwol (1964) klasifikasi tujuan domain afektif terbagi lima kategori :
a. Penerimaan (recerving)
Mengacu kepada kemampuan memperhatikan dan memberikan respon terha-dap sitimulasi yang tepat. Penerimaan merupakan tingkat hasil belajar terendah dalam domain afektif.
b. Pemberian respon atau partisipasi (responding)
Satu tingkat di atas penerimaan. Dalam hal ini siswa menjadi terlibat secara afektif, menjadi peserta dan tertarik.
c. Penilaian atau penentuan sikap (valung)
Mengacu kepada nilai atau pentingnya kita menterikatkan diri pada objek atau kejadian tertentu dengan reaksi-reaksi seperti menerima, menolak atau tidak menghiraukan. Tujuan-tujuan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi “sikap dan opresiasi”.
d. Organisasi (organization)
Mengacu kepada penyatuan nilai, sikap-sikap yang berbeda yang membuat lebih konsisten dapat menimbulkan konflik-konflik internal dan membentuk suatu sistem nilai internal, mencakup tingkah laku yang tercermin dalam suatu filsafat hidup.
e. Karakterisasi/pembentukan pola hidup (characterization by a value or val-ue complex)
berkembang nilai teratur sehingga tingkah laku menjadi lebih konsisten dan lebih mudah diperkirakan. Tujuan dalam kategori ini ada hubungannya dengan ketera-turan pribadi, sosial dan emosi jiwa.
Variable-variabel di atas juga telah memberikan kejelasan bagi proses pemahaman taksonomi afektif ini, berlangsungnya proses afektif adalah akibat perjalanan kognitif terlebih dahulu seperti pernah diungkapkan bahwa:
“Semua sikap bersumber pada organisasi kognitif pada informasi dan pengata-huan yang kita miliki. Sikap selalu diarahkan pada objek, kelompok atau orang hubungan kita dengan mereka pasti di dasarkan pada informasi yanag kita peroleh tentang sifat-sifat mereka.”
Bidang afektif dalam psikologi akan memberi peran tersendiri untuk dapat me-nyimpan menginternalisasikan sebuah nilai yang diperoleh lewat kognitif dan ke-mampuan organisasi afektif itu sendiri. Jadi eksistensi afektif dalam dunia psikolo-gi pengajaran adalah sangat urgen untuk dijadikan pola pengajaran yang lebih baik tentunya.
C. PENGERTIAN KOGNISI
Istilah kognisi berasal dari bahasa Latin cognoscere yang artinya mengetahui. Kognisi dapat pula diartikan sebagai pemahaman terhadap pengetahuan atau kemam-puan untuk memperoleh pengetahuan. Istilah ini digunakan oleh filsuf untuk mencari pemahaman terhadap cara manusia berpikir Karya Plato dan Aristotle telah memuat topik tentang kognisi karena salah satu tujuan filsafat adalah memahami segala gejala alam melalui pemahaman dari manusia itu sendiri.
Kognisi dipahami sebagai proses mental karena kognisi mencerminkan pe-mikiran dan tidak dapat diamati secara langsung. Oleh karena itu kognisi tidak dapat diukur secara langsung, namun melalui perilaku yang ditampilkan dan dapat diamati. Misalnya kemampuan anak untuk mengingat angka dari 1-20, atau kemampuan untuk menyelesaikan teka-teki, kemampuan menilai perilaku yang patut dan tidak untuk di-imitasi.
Contohnya, saat kita melihat seseorang dari suatu ras tertentu (Cina, misalnya), kita seringkali secara otomatis langsung berasumsi bahwa orang tersebut memiliki ciri/