E. Tinjauan Pustaka
2. Pengertian Korporasi
Secara etimologi kata korporasi berasal dari kata “corporatio” dalam
bahasa latin, corporatio sebagai kata benda berasal dari kata kerja “corporare” yang banyak dipakai orang pada abad pertengahan atau sesudah itu. Sedangkan
kata “corporare” berasal dari kata “corpus” yang artinya badan, memberikan
22
badan, atau membadankan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa kata
corporatio itu berarti hasil dari pekerjaan membadankan, dengan perkataan lain, badan yang dijadikan orang, badan yang diperoleh dengan perbuatan manusia sebagai lawan terhadap badan manusia, yang terjadi menurut alam.23
Di dalam “Black’s Law Dictionary” korporasi didefinisikan sebagai
berikut:
“an artificial or legal created by or under the authority of the laws of a state or nation, composed, in some rare instances, of a single person an his successors, being incumbents of a particular office, but ordinarily consisting of an association of numerous individuals”, (suatu yang disahkan/tiruan yang diciptakan oleh atau dibawah wewenang hukum suatu negara atau bangsa, yang terdiri, dalam hal beberapa kejadian, tentang orang tunggal adalah seorang pengganti, menjadi pejabat kantor tertentu, tetapi biasanya terdiri dari suatu asosiasi banyak individu).24
Korporasi merupakan hasil ciptaan manusia yang bertujuan untuk mencapai sesuatu hal yang dapat memenuhi kepentingan orang-orang yang menciptakannya ataupun masyarakat. Dimana penciptaannya dilakukan berdasarkan hukum, sehingga sering disebut dengan badan hukum, yang mempunyai struktur fisik (corpus) dan kepribadian (animus).
Korporasi merupakan sebutan yang lazim dipergunakan dalam kalangan pakar hukum pidana untuk menyebutkan apa yang biasa digunakan dalam bidang hukum lain, khususnya dalam bidang hukum perdata yang disebut dengan badan hukum (rechtspersoon), atau dalam bahasa Inggris disebut dengan istilah legal entities atau corporation, bahasa Jerman disebut corporation, dan dalam bahasa
23
Soetan K. Malikoel Adil, Pembaharuan Hukum Perdata Kita, (Jakarta: PT
Pembangunan, 1955), hlm. 83. 24
Belanda disebut corporatie.25 Menurut terminologi Hukum Pidana, bahwa korporasi adalah badan atau usaha yang mempunyai identitas sendiri, kekayaan sendiri terpisah dari kekayaan anggota.
Pengertian korporasi juga diatur didalam Pasal 1 butir 1 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, yaitu:
“Korporasi adalah sekumpulan orang dan atau kekayaan yang
terorganisasi baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum”.
Korporasi sering diidentikkan dengan badan hukum yang merupakan sekumpulan dari orang-orang yang masing-masing mempunyai hak dan kewajiban serta tanggung jawab dalam menjalankan dan mengelola badan hukum tersebut. Selanjutnya para ahli memberikan definisinya mengenai korporasi sebagai berikut:
a. A.Z Abidin menyatakan bahwa korporasi dipandang sebagai realitas sekumpulan manusia yang diberikan hak sebagai unit hukum, yang diberikan pribadi hukum untuk tujuan tertentu.26
b. Menurut Utrecht, korporasi adalah suatu gabungan orang yang dalam pergaulan hukum bertindak bersama-sama sebagai suatu subjek hukum tersendiri satu personasifikasi. Korporasi adalah badan hukum yang beranggota, tetapi mempunyai hak dan kewajiban sendiri terpisah dari hak kewajiban anggota masing-masing.27
25
Edi Yunara, op. cit., hlm. 25.
26
A. Z. Abidin, Bunga Rampai Hukum Pidana, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1983),
hlm.54. 27
c. Menurut Satjipto Rahardjo, korporasi adalah Badan hasil ciptaan hukum yang terdiri dari corpus, yaitu struktur fisiknya dan kedalamnya unsur memasukkan unsur animus yang membuat badan mempunyai kepribadian. Oleh karena badan hukum itu merupakan ciptaan hukum, maka oleh penciptanya kematiannya ditentukan oleh hukum.28
d. Wirjono Prodjodikoro mendefinisikan korporasi sebagai suatu perkumpulan orang, dalam korporasi biasanya yang mempunyai kepentingan adalah orang-orang manusia yang merupakan anggota dari korporasi itu, anggota-anggota mana juga mempunyai kekuasaan dalam peraturan korporasi berupa rapat anggota sebagai kekuasaan tertinggi dalam peraturan korporasi.29
e. Menurut Chidir Ali, Hukum memberikan kemungkinan dengan memenuhi syarat-syarat tertentu bahwa suatu perkumpulan atau badan lain dianggap sebagai orang yang merupakan pembawahan dan karenanya dapat menjalankan hak-hak seperti orang biasa serta dapat dipertanggung jawabkan, namun demikian badan hukum (korporasi) bertindak harus dengan perantaraan orang biasa. Akan tetapi orang yang bertindak itu tidak untuk dirinya sendiri, melainkan untuk dan atas pertanggungjawaban korporasi.30
f. J.C Smith dan Brian Hogan mendefinisikan korporasi sebagai berikut: “ A corporation is a legal person but it has no physical existence and cannot, therefore, act or form an intention of any kind except through its
28
Mahrus Ali, op. cit., hlm. 2.
29
Ibid., hlm. 4 30
directors or servants. As each director or servant is also a legal person quite distinct from the corporation, it follows that a corporation’s legal
liabilities are all, in a sense, vicarious. This line of thinking is epitomized
in the catchphrase “corporations don’t commit crimes, people do”. (korporasi adalah badan hukum yang tidak memiliki fisik dan oleh karena itu tidak dapat bertindak atau memiliki kehendak kecuali melalui direktur atau karyawannya. Direktur atau karyawan juga merupakan entitas hukum yang berbeda dari korporasi, karena semua bentuk pertanggungjawaban hukum korporasi adalah melalui pertanggungjawaban pengganti. Pemikiran ini berarti bahwa korporasi tidak bisa melakukan kejahatan, tapi orang-orang yang bertindak untuk dan/atau atas nama korporasilah yang bisa melakukan kejahatan).31
Dari beberapa definisi yang dikutip dari beberapa pendapat para ahli di atas jelas bahwa korporasi merupakan perkumpulan orang-orang yang melakukan tindakan bersama-sama di dalam suatu badan yang diciptakan oleh hukum serta dijalankan menurut ketentuan hukum yang berlaku untuk menjalankan aktivitas atau kegiatan yang sah baik itu sebagai bagian dari fungsi pemerintahan maupun dalam kegiatan di bidang bisnis kemudian berakhirnya suatu badan tersebut pun ditentukan oleh adanya undang-undang yang mengaturnya. Terbentuknya suatu pengertian korporasi didorong oleh hal bahwa manusia juga di dalam hubungan hukum privat tidak hanya berhubungan terhadap sesama manusia saja, tetapi juga terhadap persekutuan.
Pengertian korporasi juga dapat dilihat dari segi subjek hukum, yakni apakah yang dimaksud dengan subjek hukum itu. Pengertian subjek hukum pada pokoknya merupakan manusia dan segala sesuatu yang berdasarkan tuntutan kebutuhan masyarakat yang oleh hukum diakui sebagai pendukung hak dan kewajiban atau yang lazim disebut sebagai badan hukum.32 Jika korporasi disejajarkan dengan manusia sebagai subjek hukum, memberikan pengertian
31
Mahrus Ali, op.cit.,hlm. 3.
32
bahwa korporasi juga dapat melakukan perbuatan-perbuatan hukum seperti misalnya dalam hal transaksi bisnis. Akan tetapi, ada beberapa perbuatan hukum yang tidak dapat dilakukan oleh korporasi dan hanya dapat dilakukan oleh manusia, yakni melakukan perkawinan, pewarisan, dan lain sebagainya.
Istilah badan hukum dulunya tidak dikenal dalam masyarakat yang masih primitif, karena kehidupan yang dijalankan masih sederhana dan kegiatan-kegiatan usaha dijalankan secara individu. Namun, seiring dengan perkembangan zaman yang berimbas pada meningkatnya kebutuhan masyarakat, mengharuskan individu-individu melakukan kerja sama untuk memenuhi kebutuhan mereka.33 Dari situlah kemudian istilah badan hukum berkembang sampai sekarang.
Istilah badan hukum cenderung dipakai dalam lingkup hukum perdata, sedangkan dalam hukum pidana cenderung digunakan istilah korporasi yang cakupannya lebih luas daripada badan hukum.