• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kepustakaan Yang Relevan

2.1.1 Pengertian Mangongkal Holi

Dalam tradisi masyarakat Batak salah satunya suku Batak Toba saat seorang telah lama meninggal dunia (10 tahun), bahkan lebih maka diadakan upacara adat mangongkal holi yaitu dimana menggali tulang-belulang atau membongkar tulang-belulang yang sudah lama dan memindahkannya ke tempat yang baru seperti tugu dan tambak. Namun dalam upacara ini tidak semua yang meninggal lama, seperti anak-anak atau seseorang yang masih lajang meninggal dunia dilakukan upacara adat mangongkal holi melainkan hanya yang sudah saur matua dalam artian orang tua yang sudah meninggal mencapai umur yang tinggi semua anak-anaknya telah menikah (berumah tangga), sudah memiliki cucu dan juga sudah melakukan adat yang penuh. Dalam melakukan upacara adat mangongkal holi ini juga tidak semua mampu dan akan melakukannya sebab tergantung dana dari pihak yang ingin melakukan upacara tersebut.

Kepercayaan lama Batak Toba ini dipercaya hanya tulang-belulang yang utuh dari yang meninggal, rohnya dapat berkomunikasi dengan penghuni tempat kemuliaan Tuhan di Banua Atas.

Yang menjadi dasar penggalian tulang-belulang nenek moyang itu, pada mulanya adalah penguburan kembali tulang belulang yang berserakan karena sesuatu hal. (Gultom, 1992 : 419).

Dalam kegiatan upacara adat mangongkal holi, banyak tata cara yang harus dilakukan terlebih dahulu dan harus memenuhi tahap-tahap yang telah disepakati oleh ketua adat sejak waktu yang lama. Hal pertama yang dilakukan dalam proses ini yaitu :

1) Manopot ma angka hula-hula ni si ongkalon (raja keluarga dari kelompok marga istri baik kandung maupun hanya hubungan marga).

(1). Ima bona ni arina (kelompok marga istri yang ini digali/tiga tingkatan diatas pihak yang memiliki acara tersebut juga paman dari nenek yang melakukan acara). (2) Hula-hulanan nan i okai (keluarga kandung atau satu marga atau pihak istri yang akan digali). (3) Tulang na (pihak paman dari anak atau cucu yang ingin melakukan upacara). Tujuan dari pemanggilan ketiga pihak ini antara lain untuk memberitahukan atau menerima restu serta mengundang mereka turut hadir dalam upacara yang akan dilakukan.

2) Martonggoraja adalah sebuah kesiapan dari pihak keluarga, kapan hari pelaksanaan, peralatan, dan biaya yang diperlukan dengan mengumpulkan semua anggota keluarga yang akan melaksanakan upacara, mengundang dongan tubu, tulang, dongan sahuta agar kegiatan tersebut terlaksana

dengan baik. Pihak dari anak atau semua keturunan dari semua orang tua yang akan digali makamnya dan semua pihak undangan yang turut membantu dalam pembagian tugas yang dilakukan pada saat martonggo raja satu dari pihak paman haruslah berdiri sambil membacakan doa guna keselamatan dan penggalian agar cepat bisa menemukan tulang-belulang yang akan digali.

3) Proses penggalian makam setelah martonggoraja ditetapkan dengan hasil-hasil mufakat, maka selanjutnya melaksanakan mangongkal holi. Pada hari yang sudah disepakati, semua unsur kerabat Dalihan Na Tolu (somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek boru) yang diharapkan hadir telah berada di rumah (rumah dari keluarga yang melaksanakan Mangongkal Holi). Pihak hula-hula terlebih dahulu melakukan ibadah sebelum menuju ke kuburan yang akan digali. (1) Pemuka agama yang akan membuka acara di pemakaman dan pemuka agama berperan untuk memanjat doa dan melantunkan pujian-pujian terhadap Tuhan Yang Maha Esa guna melancarkan acara penggalian dan setelah acara kebaktian singkat ini dilakukan, maka petuah atau pemuka agama yang layak pertama kali mencangkul makam yang akan menggali. (2) Bona Ni Ari (paman dari pihak mendiang yang akan digali) sebagai pembuka dalam penggalian tersebut setelah pihak pemuka agama. (3) Setelah itu berdirilah pihak paman dan berbicara seperti yang di atas setelah itu ikut mencangkul sebanyak 3 kali. (4) Setelah itu pihak mertua ikut berdiri dan ikut mencangkul sebanyak 3 kali. (5) Setelah itu, pihak anak menyampaikan kepada pihak boru (keturunan perempuan atau suami dari keturunan

perempuan) agar dilanjut sampai tulamg-belulang ditemukan. (6) Setelah ditemukan tulang-belulangnya, maka diberitahukan kepada pihak boru hasuhutan (suami dari anak perempuan kandung, bukan karena marga) untuk megangkat tulang- belulangnya.

Di makam sudah bersedia pihak dari keturunan laki-laki yang siap menerima tulang-belulang, yang diangkat dari bawah dan dilakukan oleh pihak suami dari saudara perempuannya, (untuk menjaga agar tulang tetap bersih dan dalam keadaan baik harus disiapkan air yang bercampur karbol).

Setelah selesai dibersihkan, maka pihak keluarga anak tertua dari keturunan yang digali tulang-belulangnya, mengumumkan bahwa penggalian telah selesai dan acara di makam telah selesai. Setelah semua selesai, pihak anak menyampaikan sepatah, dua patah kata kepada pihak paman untuk memberikan ulos timpus (kain khas Batak yang melapisi atau membungkus tulang-belulang).

4) Upacara Serah Terima Tulang

Setelah selesai acara baik penggalian, pembersihan tulang-belulang maupun acara pembungkusan yang dilakukan oleh pihak paman, maka dilanjutkan dengan acara serah terima tulang-belulang dari pihak paman kepada pihak keturunan dan dilanjutkan dengan ucapan terimaksih serta ajakan ke acara memasukkan ke dalam tugu yang telah disiapkan sebagai bentuk penghormatan terhadap pihak paman dari kakek.

5) Upacara Mangongkal Holi

Setelah acara di atas maka dilanjutkan upacara mangongkal holi pada upacara terimakasih serta penghormatan terhadap pihak paman selaku

pihak yang paling dihormati pada suku Batak, dilanjutkan pula pada acara membawa tulang-belulang yang telah dibersihkan dan dibungkus rapi dan dimasukan kedalam peti, kemudian dibawa oleh pihak istri dengan menaruhnya diatas kepalanya. Proses memberikan kata-kata terakhir ditunjukkan pada semua keturunannya yang hadir dan berlanjut memasukkan tulang-belulang ke dalam tugu yang telah disediakan. Acara setelah mangongkal holi dimana sebagai pihak keluarga mengadakan ucapan syukur dan acara doa atas terlaksananya upacara.

2.1.2 Pengertian Pragmatik

Pragmatik dapat didefenisikan sebagai studi mengenai makna ujaran dalam situasi-situasi tertentu. Dalam suatu program mengenai studi bahasa sebagai sistem komunikasi yang dapat dipandang bersifat komplementer. Secara singkat bahwa studi tentang penggunaan bahasa dilakukan baik sebagai bagian terpisah dari sistem formal bahasa maupun sebagai bagian yang melengkapinya dalam (Leech, 2005).

Dalam buku (Yule, 1996:3) mendefenisi pragmatik yaitu, sebagai studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur (penulis) dan ditafsirkan oleh pendengar (pembaca). Menurut pragmatik Kasher (dalam Putrayasa 2014:1) mengidentifikasikan pragmatik sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana bahasa digunakan dan bagaimana bahasa tersebut di integrasikan kedalam konteks.

Pragmatik adalah studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk linguistik dan pemakaian bentuk-bentuk itu. Manfaat belajar bahasa melalui pragmatik ialah

seorang dapat bertutur kata tentang makna yang dimaksudkan orang, asumsi mereka, maksud atau tujuan mereka, dan jenis-jenis tindakan, (sebagai contoh : permohonan) yang diperlihatkan ketika sedang berbicara (Yule, 1996:4).sebagai contoh, dua orang yang sedang berbicara dan mengobrol menyampaikan secara tidak langsung atau menyimpulkan sesuatu hal lain tanpa memberikan bukti linguistik apa pun yang dapat kita tunjuk sebagai sumber „makna‟ yang jelas/pasti tentang apa yang disampaikan, contoh tuturan „wanita : jadi, saudara?, pria: hei, siapa yang tidak mau?‟.

2.1.3 Pengertian Deiksis

Deiksis adalah istilah teknis (dari bahasa Yunani) untuk salah satu hal mendasar yang dilakukan dengan tuturan. Deiksis beararti „penunjukan‟ melalui bahasa. Bentuk linguistik yang dipakai untuk menyelesaikan „penunjukan‟ disebut ungkapan deiskis .

Ketika anda menunjuk objek asing dan bertanya, “apa itu?”, maka anda menggunakan ungkapan deiksis (“itu”) untuk menunjuk sesuatu dalam suatu konteks secara tiba-tiba. Ungkapan-ungkapan deiksis kadang-kala juga disebut indeksikal (Yule, 1996:13). Deiksis merupakan kata penunjukan, frasa dan rujukkan berpindah-pindah dan dapat ditafsirkan sesuai situasi sehingga dapat dilihat sesuai konteks yang dituturkan serta dapat diketahui apa maknanya jika diketahui siapa pula penutur, tempat dan waktu kapan kata-kata itu dituturkan.

Namun dalam jenisnya deiksis dibagi menjadi lima jenis menurut Nababan (dalam Putrayasa 2014:43) yaitu, deiksis Persona, waktu, tempat, sosial, dan

wacana. Namun yang penulis kaji hanya melihat empat deiksis yaitu deiksis persona , sosial, tempat dan waktu.

Namun deiksis persona merupakan deiksis asli diantara jenis lainnya karena jenis deiksis lainnya adalah jabarannya. Sebagai contoh, Jim berkata kepada Anne bahwa ia akan meletakkan kunci duplikat rumah disalah satu laci di dapur, contoh tuturan „saya akan meletakkan ini di sini‟. Jelas sekali bahwa deiksis mengacu pada bentuk yang terkait dengan konteks penutur.

2.1.4 Jenis-Jenis Deiksis

Adapun jenis-jenis deiksis yang penulis ketahui yaitu;

1) Deiksis persona adalah deiksis orang atau peran peserta dalam sebuah peristiwa bahasa. Persona ini dibagi menjadi tiga, pertama yaitu orang pertama adalah kategori rujukkan pembicara kepada dirinya atau kelompok yang melibatkan dirinya, misalnya saya, kami, dan kita.

Kedua adalah orang kedua kategori rujukan pembicara kepada seorang pendengar atau lebih yang hadir bersama orang pertama misalnya, kamu, kalian, saudara. Dan ketiga adalah orang ketika kategori yang rujukannya kepada orang yang bukan pembicara atau pendengar ujaran itu baik hadir maupun tidak, misalnya dia, dan mereka. Deiksis persona merupakan deiksis yang paling asli diantara semua deiksis.

Menurut pendapat Oka dan Purwo (1984:21) bahwa deiksis persona merupakan dasar orientasi bagi deiksis ruang dan tempat serta waktu.

Adapun pun paparan bentuk persona dalam bentuk tabel yaitu:

Persona Tunggal Jamak

Persona ke-1 Ahu-hu-au Hami-nami-hita

Persona ke-2 Ho-mu Hamu

Persona ke-3 Ia-Ibana Halahi

Pembagian dalam ketiga persona ini atas dasar peran penutur semua seperti di atas terlihat belum memadai untuk membedakan pronomina persona Bahasa Batak Toba yang ada tabel di atas. Terhadap tiga pronomina persona tersebut pembedaan tidak dimasukkan hanya ahu dengan hita dan hami saja disatu sisi, tetapi ada juga sisi lain hita, hami, dan nami pada sisi lain. Pronomina persona ahu adalah dengan kepemilikan makna tunggal atau satu. Dalam hal ini, jumlah (number) sebagai sumber sub-dimensi semantik yang berperan sebagai dasar pembeda antara ahu dengan hita dan hami. Untuk membedakan antara hita dan hami tentu tidak lagi memperhitungkan soal jumlah karena kita tahu bahwa kedua pronomina persona ini masing-masing sudah dalam kepemilikan jamak atau lebih dari satu. Dalam hubungan aspek ini ciri perbedaan antara kedua pronomina persona hita (inklusif) artinya penutur hita menyertakan mitra tutur sebagai orang yang terliput didalamnya, dan hami (eksklusif) karena penuturnya tidak menyertakan mitra tutur terliput di dalamnya.

Pembedaan jender, misalnya, untuk membedakan pronomina persona orang ketiga tunggal “ dia perempuan dan dia laki-laki” dalam baahsa inggris “she dan he”. Hal ini juga ada didalam Bahasa Batak Toba perbedaan pronomina persona orang pertama ataupun persona orang keduanya.

Dalam tabel dapat dilihat bentuk bebasnya :

Jumlah Tunggal Jamak

Persona 1 Ahu,au Inklusif (hita) Eksklusif (hami)

Persona 2 Ho Hamu

Persona 3 Ia Halahi

Bebas dimaksud diatas sebagai bentuk lingual yang terdapat berdiri sendiri sebagai kata. Melihat penggunaannya dalam kontruksi sintaksis, bentuk bebas dapat berfungsi sebagai objek, objek langsung maupun tidak langsung dan bentuk-bentuk lainnya. Namun pada intinya pronomina orang pertama meliputi ahu, au dan hita sedangkan hami kelompok pronomina jamak. Sedangkan persona orang kedua ho yang bentuknya tunggal yang dapat ditemukan penggunaannya dari penutur yang lebih tua usianya terhadap mitra tutur yang lebih muda atau relatif sebaya dengan penutur kelompok semarga yang sama namun tidak dibenarkan melakukan pengacuan menggunakan kata ho apabila hendak menngacu mitra tutur tang lebih tua dari padanya maka penutur melakukan istilah pemanggilan dengan istilah kekerabatan yang sesuai, dan hamu jamak yang dituturkan terhadap mitra tutur yang belum diketahui indentitasnya dan perlu ada perkenalan atau dan menunggu pihak yang belum diketahui agar penutur mengenal pihak yang ditunggu. Penggunaan hamu pada mitra tutur ini terjadi misalnya, antara seorang tulang atau hula-hula dengan anak adik perempuan atau

bere yang perlu dihormati dan dimuliakan. Atau kepada lae (suami saudara perempuan ego) terhadap iparnya.

Terakhir pronomina orang ketiga yaitu kelompok orang ketiga tunggal kata ia penggunaan mengacu terhadap orang ketiga karena faktor usia dan hubungan kekerabatan antar penutur dengan orang ketiga tunggal yang diacu dan dengan mitra tutur. Sedangkam jamak orang ketiga tunggal ini halahi penggunaan bentuk kata halahi ini tidak ada pertimbangan lagi soal beda usia dan pertalian hubungan kekerabatan namun ini merupakan kata hormat. Intinya kata hamu dan halahi merupakan kata hormat.

2) Deiksis Tempat adalah pemberian bentuk pada lokasi menurut peserta dalam peristiwa bahasa. Semua bahasa termasuk bahasa Indonesia membedakan antara “yang dekat kepada pembicara” (di sini) dan

“yang bukan dekat kepada pembicara” (termasuk yang dekat kepada pendengar di situ) Nababan, 1987:41. Deiksis tempat ini pemberian bentuk pada lokasi ruang (tempat) dipandang dari lokasi orang/pameran dalam peristiwa berbahasa itu. Semua bahasa mana

“yang dekat kepada pembicara” ( di sini) dan “yang bukan dekat dengan pembicara” (termasuk yang dekat kepada pendengar) di situ”

dibedakan juga dengan “yang bukan dekat kepada pembicara dan pendengar” (di sana).

3) Deiksis waktu adalah pemberian bentuk pada rentang waktu seperti yang dimaksudkan penutur dalam peristiwa bahasa. Dalam banyak bahasa, deiksis (rujukan) waktu ini diungkapkan dalam bentuk “kala”

(Inggris:Tense) Nababan, 1987:41. Pemakaian bentuk proksikmal

“sekarang” yang menunjukkan baik waktu yang berkenaan dengan saat penutur berbicara maupun saat suara penutur sedang didengar . kebalikan dari “sekarang”, ungkapan distal pada saat itu diimplikasikan baik hubungan waktu lampau maupun waktu yang akan datang dengan waktu penutur sekarang (yule, 2006 : 22).

4) Deiksis sosial adalah rujukan yang dinyatakan berdasarkan perbedaan kemasyarakatan yang mempengaruhi peran pembicara dan pendengar.

Perbedaan itu dapat ditunjukkan dalam pemilihan kata. Dalam beberapa bahasa, perbedaan tingkat sosial antara pembicara dengan pendengar yang diwujudkan dalam seleksi atau sistem morfologi kata-kata tertentu (Nababan, 1987:42).

2.1.5 Tahap-Tahap Dalam Upacara Mangongkal Holi

Upacara adat Mangongkal Holi adalah proses menggali kembali tulang-belulang leluhur dan memindahkannya tu tano napir (tugu), yang maksudnya bangunan dari semen. Biasanya tulang-belulang dari beberapa orang leluhur digali sekaligus, dimasukkan ke dalam peti yang berukuran kecil dan disemayamkan ditempat tersebut. Kuburan baru yang dibangun megah dari semen tersebut menyatukan kerangka itu dari beberapa lokasi kedalam satu kuburan. Adapun tahap saat melakukan upacara adat mangongkal holi yaitu;

1) Setelah mendapat kesepakatan dari suhut, maka harus mengunjungi hula-hula dari orang yang akan digali untuk memberitahu rencana apa yang akan diadaka. Adapun hula-hula yang dikunjungi adalah hula-hula (simatua) dan tulang.

2) Membagi-bagi tugas (tonggo raja)

3) Pada hari akan diadakannya pesta, semua hasuhuton dan keluarga berkumpul di tempat kediaman suhut , setelah waktunya tiba maka bersiap-siaplah mereka ke makam orangtua yang akan digali sebelumnya berdoa terlebih dahulu bersama yang dipimpin salah satu pihak hula-hula. Di dalam upacara adat mangongakal holi ada ketentuan-ketentuan yang harus dilakukan dalam izin penggalian kuburan atau jenazah dari hula-hula, yaitu tergantung dari jenazah siapa yang akan digali. Apabila tulang-belulang dari laki-kali yang akan digali, suhut harus meminta izin dari tulang, tulang yaitu saudara laki-laki ibu dari yang digali, dan jika tulang-belulang perempuan yang akan digali, suhut harus meminta izin dari orang tuanya atau saudara laki-lakinya.

4) Aturan-aturan dalam menggali tulang-belulang yaitu;

(1) Penatua gereja (pangula ni huria) membuat doa pembuka, kemudian mencangkul tiga kali dengan ucapan doa atas Tuhan yang Maha Esa. (2) Mertua dari opung (bona ni ari) lebih dahulu mencangkul kuburan sebanyak tiga kali. (3) Selanjutnya paman (tulang) (4) Mertua (hula-hula). (5) Keluarga laki-laki baik perempuan atau semua orang yang ingin ikut mencangkul. (6) Setelah semuanya siap, barulah diserahkan kepada menantu dari perempuan (hela). (7) Setelah siap digali, lalu diberikanlah kepada anak kandung perempuan yang digali tersebut, supaya tulang-belulang diterima dari tempat penggalian. (8) Lalu disambutlah oleh anak laki-laki yang paling besar supaya tulang-belulang yang btelah digali dapat dibersihkan. (9) Setelah dibersihkan, maka hasuhuton memberitahukan supaya semua yang dikuburkan segera dipersiapkan. (10) Suhut menyampaikan kepada paman (tulang) bahwa pekerjaan menggali tulang-belulang telah selesai.

(11) Lalu membawa tulang-belulang tersebut ke tempat yang sudah disediakan yaitu tugu atau batu yang kuat. (12) Sebelum tulang-belulang dimasukkan ke tempat yang sudah disediakan terlebih dahulu tulang-belulang dimasukkan kepeti kecil yang sudah disediakan, barulah dimasukkan ke semen (tugu). (13) Kemudian hasuhuton berbicara dengan sangat hormat kepada semua yang hadir ditempat ini. (14) Sepatah dua kata dari dongan sabutuha. (15) Sepatah dua patah kata dari boru dan hula-hula.

Adapun kelanjutan dari aturan-aturan dalam menggali tulang belulang tersebut yaitu, (16) Hasuhuton menerima berkat dengan sembah sujud dan menyampaikan terima kasih kepada seluruh yang telah hadir ditempat ini. (17) Setelah itu, penatua gereja (pangulani huria) menutup melalui doa dan nyanyian.

(18) Setelah itu makan bersama dan di sinilah diadakan makan daging (jambar).

Jambar adalah hak bagian atau hak perolehan dari milik bersama yang dibagi.

5) Pesta tambak (tempat pekumpulan) tulang-belulang yang sudah digali

Di dalam pesta upacara adat seperti ini, ada yang satu atau ada juga yang lebih dari satu (orang) tulang-belulang (saring-saring) yang digali dan dalam pesta seperi ini ada yang berbeda-beda. Dalam pesta tambak ini akan dibagikan undangan kepada orang-orang yang akan diundang. Tetapi diantara undangan yang dibuat ada pula undangan yang istimewa yang akan diberikan kepada hula-hula dari oppung yang akan digali tulang-belulang tersebut, maka undangan tersebut haruslah dibawakan jambar untuk makan bersama dirumah hula-hula setelah siap makan maka pihak yang punya pesta akan memberi tahukan agar datang kepesta tersebut, kemudian pihak yang punya pesta akan

menyampaikan uang (piso-piso) kepada hula-hula supaya uang tersebut dipergunakan untuk membeli segala keperluan seperti ulos dan sebagainya.

6) Pada hari upacara mangongkal holi berlangsung. Jika pesta yang diadakan besar maka pesta tersebut tidak diadakan sehari saja melainkan tiga hari atau empat hari.

Berikut tahap-tahapnya pesta pada upacara adat mangongkal holi;

(1) Gondang yang dilakukan untuk hasuhuton. Ada yang mengatakan istilahnya mambuat tua ni gondang, namun dizaman sekarang sudah ini jarang dipakai atau digunakan. (2) Setelah gondang untuk suhut selesai, pada acara kedua dibuat acara gondang paidua ni suhut, setelah itu dilanjutkan gondan ni boru dan acara gondang ni ale-ale untuk sahabat atau teman akrab. (3) Pada acara terakhir diadakan gondang untuk hula-hula. Jika hula-hula yanda ramai dan banyak maka diadakan secara bersama-sama dan berkumpul atau berkelompok termasuk yang meninggal dan mertua dari anaknya. Pada saat ini hula-hula menyampaikan ulos dan beras pada hasuhuton dan pada saat itu juga dipakaikan ulos kepada hasuhuton. (4) Suhut mempersiapkan makanan dengan memotong beberapa kerbau tergantung dari jumlah undangan. (6) Setelah suhut mempersiapkannya semuanya, lalu diadakan makan bersama dimulai dengan terlebih dahulu berdoa yang dipimpin oleh seorang sintua. (7) Selanjutnya dilakukan pembagian jambar. (8) Setelah itu menyampaikan sepata dua kata dari hula-hula dan undangan secara bergantian, kata-kata nasehat dari hula-hula sesuai permintaan hasuhuton karena diadakannya pesta ini untuk meminta agar kiranya Tuhan Yang Maha Esa memberkati. (9) Setelah selesai dalam menyampaikan sepata dua kata dari hula-hula, hasuhuton dan para undangan. hasuhuton

menyampaikan terima kasih kepada undangan yang hadir, lalu doa penutup oleh penatua dan selesai.

Adapun gambar-gambar dalam ritual upacara adat Mangongkal Holi yaitu sebagai berikut:

Gambar. Pada saat dilakukan penggalian tulang-belulang.

Sumber : instazu.com

Gambar. Pada saat tulang-belulang yang sudah siap digali dan ditemukan tulangnya maka diangkat atau dikeluarkan dalam kuburan.

Sumber : instanzu.com

Gambar. Pada saat tulang-belulang dibersihkan Sumber : instanzu.com

Gambar. setelah dilakukan pembersihan terhadap tulang-belulangnya maka, tulangnya tadi ditaruh di peti kecil

Sumber : instanzu.com

Gambar. Pada saat dilakukan acara kebaktian dalam persiapan penguburan ke tugu atau batu semen.

Sumber : instanzu.com

Gambar. pada acara pemindahan tulang-belulang ke tugu atau kuburan baru yang lebih bagus yang dipimpin oleh pangatua huria dalam melakukan acaranya

kebaktian.

Sumber : instanzu.com

Gambar. Pada saat acara memasak atau parhobas memasak makanan untuk acara terakhir karena setelah selesai dalam mengubur kembali tulang nenek moyang

maka dilakukan acara makan bersama yang telah disediakan oleh pihak yang mengadakan acara dan seluruh tamu undangan ikut bersama.

Sumber : instanzu.com

Gambar. Pada saat terakhir acara yaitu makan bersama dan pembagian jambar.

Sumber : instanzu.com

2.2 Teori Yang Digunakan

Kajian bahasa melalui pragmatik dapat bermanfaat dimana dikatakan, bahwa seseorang dapat bertutur kata tentang makna yang dimaksudkan orang, asumsi mereka, maksud atau tujuan mereka, dan jenis-jenis tindakan (sebagai contoh: permohonan) yang mereka perlihatkan ketika mereka sedang berbicara.

(Yule, 1996 : 5).

Salah satu bentuk kajian bahasa dalam pragmatik ialah deiksis istilah yang di lakukan dalam tuturan sebagai „penunjukan‟ melalui bahasa, karena hal ini merupakan hal yang paling mendasar buat menunjuk sebuah objek. Karena

Salah satu bentuk kajian bahasa dalam pragmatik ialah deiksis istilah yang di lakukan dalam tuturan sebagai „penunjukan‟ melalui bahasa, karena hal ini merupakan hal yang paling mendasar buat menunjuk sebuah objek. Karena

Dokumen terkait