BAB II KAJIAN PUSTAKA
1. Pengertian Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah suatu cara mengajar dengan mempertunjukan sesuatu. Hal yang dipertunjukan dapat berupa suatu rangkaian percobaan, suatu model, suatu keterampilan tertentu.(Abdur Rahman Shaleh 2005: 189)
Metode demonstrasi adalah metode mengajar yang mengunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana melakukan sesuatu kepada anak didik, memperjelas pengertian tersebut dalam prakteknya dapat dilakukan oleh guru itu sendiri atau langsung oleh anak didik.
(Dzakiah Drajat 2014:296).
Metode demonstrasi adalah salah satu teknik mengajar yang dilakukan oleh seseorang guru atau orang lain yang dilakukan dengan sengaja diminta atau siswa sendiri ditunjuk untuk memperlihatkan kepada kelas atau suatu proses atau cara melakukan sesuatu (Basyrudin 2002:46-47)
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metode demonstrasi yaitu suatu jalan atau cara dalam menyampaikan materi pembelajaraan dengan cara memperagakan atau mempertunjukan sesuatu kerja fisik agar diketahui dan dipahami oleh siswa, dalam menggunakan metode demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan dari seorang guru, contohnya dalam pembelajaran hukum bacaan dalam mata pelajaran Al-qur’an yang sesuai dengan Ilmu Tajwid. Seorang guru harus mampu memperagakan bagaimana kerja mulut dalam melafalkan huruf dan hukum bacaan sesuai dengan Ilmu Tajwid.
Oleh karena itu metode demonstrasi sangat penting dalam pembelajaran Al-Qur’an karena sangat menunjang bagi peningkatan keterampilan membaca siswa dengan cara mendemonstrasikanya. Sehingga siswa dapat memahamami materi yang di sampaikan oleh guru. Metode demonstrasi dengan peningkatan
keterampilan membaca hukum mad yang harus dimiliki siswa, oleh karena itu metode mengajar seorang guru sangat berpengaruh terhadap hasil belajar yang diinginkan. Kegiatan pembelajaran disekolah juga diatur oleh permendiknas yaitu tentang standar proses pembelajaran sebgai berikut:
Permendiknas Tahun 2007 menyatakan bahwa pendidikan nasional tentang standar proses untuk satuan pendidikan dasar dan menengah dalam pasal 1 adalah:
c. Standar proses untuk satuan pendidikan dasar dan menengah mencakup perencanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran.
d. Standar proses sebagaimana dimaksud pada ayat 1 yang tecantum pada peraturan mentri.
Menurut pendapat di atas dan permendiknas dapat dipahami bahwa dalam proses pemelajaran terutama pada pembelajaran Al-Qur’an Dalam mengunakan metode demonstrasi dapat dilakukan dengan menata apa yang harus dilakukan dalam proses pembelajaran yaitu seperti dalam menggunakan metode demonstrasi seseorang guru menyiapkan fasilitas, tempat dengan baik, dan mempertimbangkan jumlah siswa dalam menggunakan metode demonstrasi. Supaya menghindari kegagalan dalam menggunakan metode tersebut. Dan dalam permendiknas juga disebutkan bahwa dalam satuan pendidikan dasar dan menegah harus mencakup perencanaan pada proses pembelajaran dan peraturan mentri pendidikan nasional Republik Indonesia No 41 tahun 2007.
2. Perencanaan Metode Demonstrasi
Pelaksanaan metode demonstrasi dalam pembelajaran tentu harus merumuskan perencanan supaya dalam pelaksanaan tersebut mencapai sasaran.
Hal-hal yang dilakukan sebagai berikut:
a. Merumuskan tujuan yang jelas baik dari sudut kecakapan atau kegiatan yang diharapkan dapat tercapai setelah metode demonstrasi berakhir.
17
4) Mempertimbangkan apakah metode itu wajar dipergunakan dan merupakan metode yang paling efektif untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan
5) Apakah alat-alat diperlukan untuk metode demonstrasi itu bisa diperoleh dengan mudah dan apakah alat itu sudah dicoba terlebih dahulu agar waktu melakukan demonstrasi tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan 6) Apakah jumlah siswa memungkinkan untuk mengadakan demonstrasi
dengan baik.
b. Menetapkan garis-garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilaksanakan dan sebaiknya dalam melakukan demonstrasi hendak melakukan percobaan terlebih dahulu agar sesuatu yang tidak diinginkan tidak akan terjadi saat demonstrasi yang sedang berlangsung.
c. Memperhitungkan waktu yang dibutuhkan. Apakah tersedia waktu untuk memberi kesempatan kepada siswa menanyakan beberapa hal dan komentar selama dan sesudah demonstrasi
d. Selama demonstrasi berlangsung seorang guru hendak intropeksi diri apakah:
5) Keterangan-keterangan dapat didengarkan oleh siswa dengan jelas
6) Semua media ditempatkan pada posisi yang baik sehingga setiap siswa dapat melihat dengan jelas
7) Siswa disarankan untuk membuat catatan dianggap perlu.
8) Menetapkan rencana penilaian terhadap kemampuan anak didik namun sebaiknya terlebih dahulu mengadakan diskusi dan siswa mencoba melakukan demonstrasi kembali agar mereka memperoleh kecakapan-kecakapan yang lebih baik. (Arif Armai, 2002:192-194)
Hal-hal yang harus direncanakan dalam penggunaan metode demonstrasi tersebut adalah:
e. Rumusan secara spesifik yang dapat dicapai oleh siswa
f. Susun langkah-langkah yang akan dilakukan dengan demonstrasi secara teratur sesuai dengan skenario yang direnacakan
g. Persiapan-persiapan peralatan yang dibutuhkan sebelum demonstrasi dimulai dan diatur sesuai dengan skenario yang direncanakan
h. Usahakan dalam melakukan demonstrasi tersebut sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. (Basyrudin. 2002:46-47)
Menurut Abdul Gafur dalam Journal.(2018:149-150). Setiap metode pembalajaran harus dilaksanakan dan dipersiapkan agar tujuan pembelajaran tujuan pembelajaran akan tercapai, begitu pula dengan metode demonstrasi.
hal-hal yang perlu mendapat perhatian pada langkah ini antara lain:
a. Penentuan tujuan demonstrasi yang akan dilakuan dalam hal ini pertimbangkanlah apakah tujuan yang akan dicapai siswa dengan belajar melalui demonstrasi itu tepat dengan mengunakan metode demonstrasi b. Materi yang akan didemonstrasikan anatara hal-hal yang penting yang ingin
ditonjolkan
c. Siapkan fasilitas penunjang demonstrasi seperti peralatan, tempat dan mungkin juga biaya yang dibutuhkan
d. Penataan, peralatan dan kelas posisi yang baik
e. Pertimbangkan jumlah siswa didemonstrasikan secara berurutan dari tertulis pada papan tulis atau pada kertas lebar agar dapat dibacakan siswa dan guru secara keseluruhan
f. Untuk menghindarkan kegagalan dalam pelaksanaan sebaiknya demonstrasi yang direncanakan dicoba terlebih dahulu.
3. Pelaksanaan Metode demonstrasi
Dalam melakukan demonstrasi ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seseorang guru dalam kegiatan pembelajaran, menurut (Arif Armai, 2002:194). Hal-hal yang mesti dilakukan sebegai berikut:
f. Memulai demonstrasi dengan menarik perhatian siswa
19
g. Mengingat pokok-pokok materi yang akan didemonstrasikan agar demonstrasi mencapai sasaran
h. Memperhatikan keadaan siswa apakah semua mengikuti demonstrasi dengan baik
i. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif memikirkan lebih lanjut tentang apa yang dilihat dan didengarkan dalam bentuk mengajukan pertanyaan, membandingkan dengan yang lain, dan mencoba melakukan sendiri dengan bantuan guru
j. Menghindari ketegangan oleh karena itu guru hendak selalu menciptakan suasana harmonis.
Menurut Abdul Gafur, Beberapa hal langkah-lamhkah yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan metode demonstrasi sebagai berikut:
a. Guru sebelum memulai persiapkanlah kesiapan peralatan yang akan didemonstrasikan, pengaturan tempat, keterangan tentang garis besar langkah dan pokok-pokok yang akan di demontsrsikan, dan lain-lain yang diperlukan.
b. Siapkan siswa barangkali ada hal yang perlu mereka catat c. Mulailah demonstrasi dengan menarik perhatian siswa
d. Ingatlah pokok-pokok materi yang didemonstrasikan agar demonstrasi mencapai sasaran
e. Pada waktu berjalan demonstrasi sekali-kali perhatikan keadaan siswa, apakah semua mengikuti dengan baik.
f. Untuk menghindari ketegangan, ciptakan suasana yang menarik.
g. Berikanlah kesempatan kepada siswa untuk secara aktif memikirkan lebih lanjut tentang apa yang dilihat dan didengarkan dalam bentuk mengajukan pertanyaan, membandingkan dengan yang lain atau dengan pengalaman yang lain, serta mencoba melakukan sendiri dengan bimbingan guru (Journal 2018:149).
Menurut pendapat di atas dapat dipahami bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran terutama pada pembelajaran Al-Qur’an guru harus menciptakan kegiatan belajar dengan menarik dan melibatkan keaktifan siswa terhadap pembelajaran dan memberikan kesempatan untuk berfikir apa yang telah didengar dan yang telah dipraktekan dalam pembelajaran, dan guru harus memperhatikan siswa dalam belajar yang tidak terlibat aktif. Contohnya dalam pembelajaran qira’at seperti guru melibatkan siswa untuk aktif dalam bacaan Al-quaran dan bagaimana cara pengucapan hukum bacaan yang tepat dan dibimbing oleh guru.
4. Penggunaan Metode Demonstrasi
E- journal ( Sadiah. 2016:81) metode demonstrasi yaitu metode mengajaran dengan menggunakan alat (meragakan) untuk memperjelaskan pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana untuk melakukannya jalanya suatu proses pembuatan tertentu kepada siswa. Metode demonstrasi biasanya diaplikasikan dengan menggunakan alat-alat bantu pengajaran seperti benda-benda miniatur, gambar, gambar perangakat alat-alat dan lain-lainya, akan tetapi alat demonstrasi yang paling pokok dalah papan tulis dan white board mengingat pungsi yang multi proses. Dengan menggunakan papan tulis guru dan siswa dapat menggambarkan objek, membuat skema, membuat hitungan di matematika dan lain-lain.
Menurut pendapat diatas dapat dipahami bahwa dalam mengunakan metode demonstrasi terutama dalam pembelajaran Al-Qur’an yaitu dengan cara memperagakan materi yang disampaikan kepada siswa dengan cara praktek dalam bacaan Al-quran bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan dan juga dapat dilakukan dengan cara menggunakan papan tulis dalam menulis ayat Al-Qur’an kemudian dibaca sama-sama oleh siswa dan dibimbing oleh guru.
21
5. Kelebihan Metode Demonstrasi
Melalui metode demonstrasi memiiki beberapa kelebihan diantaranya a. Dapat marangsang siswa untuk belajar.
b. Dapat membantu siswa mengingat lebih lama materi-materi pembelajaran yng disampaikan, karena siswa siswa tidak hanya mendengar tetapi juga melihat bahkan mempraktekan secara langsung.
c. Dapat memfokuskan pengertian siswa terhadap materi pelajaran dalam waktu yang relatif singkat.
d. Dapat memusatkan perhatian siswa.
e. Dapat menambah pengalaman anak didik.
f. Dapat mengurangi kesalah pahaman karena pelajaran menjadi jelas dan konkrit.
g. Dapat menjawab masalah-masalah yang timbul dalam pikiran setiap siswa karena ia ikut berperan secara langsung. (Arif Armai, 2002:190)
6. Evaluasi
Secara harfiah kata evaluasi berasal dari bahasa inggris evalation, dalam bahasa Arab al-taqdir, dalam bahasa indonesia berarti penilaian. Sedangkan menurut istilah adalah kegiatan atau proses untuk menilai sesuatu. Untuk dapat menentukan nilai dari sesuatu yang sedang dinilai itu, dilakukan lah pengukuran, dan wujud dari pengukuran itu adalah pengujian, dan pengujian inilah yang dalam dunia kependidikan dikenal dengan istilah tes (Anas Sudijono, 2007:1-5).
Menurut Mahira B, Evaluasi adalah suatu kegiatan yang sengaja dan bertujuan, kegiatan evaluasi dilakukan dengan sadar oleh guru dengan tujuan untuk memperoleh kepastian mengenai keberhasilan belajar siswa dan memberikan masukan kepada guru mengenai apa yang dilakukan dalam kegiatan pengajaran, dengan kata lain evaluasi yang dilakukan guru bertujuan untuk mengetahui bahan-bahan pelajaran yang disampaikan apakah sudah dikuasai oleh siswa ataukah belum, selain itu kegiatan pelajaran yang
dilaksanakannya itu sudah sesuai dengan apa yang diharapkan atau belum.
(Journal ,2017:261).
Berdasarkan pengertian diatas dapat penulis ambil suatu kesimpulan bahwa evaluasi adalah suatu penilaian yang digunakan oleh seorang pendidik dalam melakukan penilaian dan melakukan suatu pengukuran sejauh mana peserta didiknya menguasai pembelajaran yang telah diberikan kepada peserta didiknya.
a. Tujuan evaluasi
Dirman berpendapat tujuan utama dari evaluasi itu ada dua macam adalah sebagai berikut:
1) Diperolehnya sejumlah informasi atau data tentang nilai, arti dan mamfaat kegiatan pembelajaran.
2) Untuk menentukan kualitas pembelajaran secara keseluruhan, mencangkup tahap perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan nilai penilaian hasil pembelajaran. (Dirman ,2014:82) b. Fungsi Evaluasi
Fungsi evaluasi di dalam pendidikan tidak dapat pisahkan dari tujuan evaluasi itu sendiri. Didalam batasan tentang evaluasi pendidikan yang telah dikemukakan diatas terlihat bahwa tujuan evaluasi pendidikan ialah untuk untuk mendapatkan data pembuktian yang akan menunjukan sampai dimana tingkat kemampuan dan keberhasilan siswa dalam pencapaian tujuan-tujuan kurikuler.
Adapun fungsi evaluasi secara rinci dalam pendidikan dan pengajaran dapat dikelompokan menjadi empat fungsi, yaitu:
1) Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan serta keberhasilan siswa setelah mengalami atau melakukan kegiatan belajar selama jangka waktu tertentu.
23
2) Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pengajaran. Pengajaran sebagai suatu sistem terdiri atas beberapa komponen yang saling berkaitan satu sama lain.
3) Untuk keperluan Bimbingan dan Konseling (BK). Hasil-hasil evaluasi yang telah dilaksanakan oleh guru terhadap siswanya dapat dijadikan sumber informasi atau data bagi pelayanan BK oleh para konselor sekolah atau guru pembimbing lainnya.
4) Untuk keperluan pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah yang bersngkutan (Ngalim Purwanto, 2008:5).
5) Bentuk-bentuk evaluasi pembelajaran Al-qur’an
Bentuk-bentuk evaluasi dalam pembelajaran terbagi kepada evaluasi formatif, sumatif, diagnostic, dan evaluasi penempatan sebagai berikut:
1) Evaluasi formatif adalah suatu bentuk pelaksanaan tes yang dilakukan selama berlangsungnya program dan kegiatan pembelajaran. Tujuan tes formatif ini adalah untuk mengetahui keberhasilan dan kegagalan proses pembelajaran. Dengan demikian, tes ini dapat dipakai untuk menyempurnakannya.
2) Evaluasi sumatif adalah suatu bentuk pelaksanaan tes yang dilakukan pada waktu berakhirnya suatu program kegiatan pembelajaran. Tes ini disebut juga dengan tes akhir semester atau evaluasi belajar tahap akhir.
Tes ini bertujuan untuk mengukur jeberhasilan belajar peserta didik.
3) Evaluasi Diagnostik adalah digunakan untuk mengetahui sebab kegagalan peserta didik dalam belajar. Dalam proses evaluasi ini untuk mengetahui kelemahan-kelemahan dari peserta didik artinya sejauhmana peserta didik memahami pelajaran yang diberikan guru dan untuk mengetahui bahan pelajaran yang mana yang belum dikuasai peserta didik, sehingga pendidik dapat memberikan bantuan secara langsung terhadap pelajaran yang belum dipahami peserta didik dan dalam tahap ini untuk membantu
peserta didik dalam proses pembelajaran agar peserta didik tidak tertinggal lebih jauh .
4) Evaluasi penempatan, yaitu evaluasi pembelajaran yang dilaksanakan untuk menempatkan peserta didik dalam suatu program pendidikan atau jurusan yang sesuai dengan kemampuan(baik potensi maupun aktual) dan minat peserta didik. Evaluasi pembelajaran ini sangat bermanfaat dalam proses menentukan jurusan sekolah (Dirman,2014:55).
Memurut pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam kegiatan belajar guru melakukan evaluasi yang bertujuanuntuk mengetahui dan mengukur pemahaman siswa dengan menggunakan metode demonstrasi ada pembelajaran yang telah dilakukan oleh guru. evaluasi yang digunakan guru dalam pelaksanaan metode demonstrasi pada pembelajaran Al-quran adalah dengan cara tes tertulis atau secara lisan. Evaluasi yang dilakukan dengan tertulis yaitu seorang guru memberikan latihan atau UH kemudian evaluasi yang dilakukan oleh guru dengan lisan seperti melakukan suatu tes bacaan kepada siswa, bertujuan mengetahui bacaan Al-Qur’an siswa apakah sudah sesuai kaidah Ilmu Tajwid dengan menggunakan metode demonstrasi.
B. Mata Pelajaran Pendidikan Al-qur’an
1. Pengertian Mata Pelajaran Pendidikan Al-qur’an
Mata pelajaran Al-qur’an adalah pembelajaran Al-qur’an yang diberikan oleh suatu lembaga pendidikan kepada peserta didik dalam bentuk pemberian pengetahuan yang berstruktur, terencana,dan terukur dan membaca, menulis, serta mampu mengamalkan Al-qur’an menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-sehari
Pendidikan Al-qur’an yang diajarkan kepada peserta didik adalah membaca, menulis, menghafal Ayat-ayat pendek serta menncontohkan nilai-nilai dalam Al-qur’an sekaligus melatih dan membiasakan membaca, menulis dan mengenal isi Al-qur’an dalam kehidupan sehari-hari, sasaran pendidikan
25
Al-qur’an ini adalah peerta didik yang beragama Islam pada semua jalur dan jenjang pendidikan. (Dinas Pendidikan Propinsi Sumatra Barat, 2008:7)
Dalam peraturan daerah propinsi Sumatra barat No 3 tahun 2007, Pasal 6 ayat I menegaskan bahwa : pendidikan Al-qur’an adalah muatan lokal dan bagian dari struktur kurikulum pada semua jenjang pendidikan formal dinas pendidikan propinsi, kabupaten kota terdapat dalam pasal 5 ayat 3 disebutkan bahwa: penyelanggara pendidikan Al-qur’an merupakan bagian dari kurikulum pendidikan nasional.
Menurut pendapat di atas bahwa pendidikan Al-qur’an telah diwajib mempelajarinya dan sudah dijadikan sutu mata Pelajaran yang akan diajarkan kepada peserta didik yang bertujuan untuk melahirkan peserta didik yang berpotensi dalam membaca AL-qur’an. Karna dalam agama Islam seseoran ditutut bisa membaca dan mengmalkan Al-qur’an dalam kehidupan sehari-hari maka dari itu telah diatur atau direncanakan oleh dinas pendidikan atau PERDA Sumbar dalam pelaksanaan Pembelajran Al-qur’an baik formal, karena Alqur’an ini adalah sebagai pedoman dalam kehidupan manusia.
Al-Qur’an adalah merupakan salah satu kitab suci agama samawi yang menjadi pedoman bagi seluruh umat Islam dalam perihal kehidupan di dunia dan akhirat. Untuk memahami Al-Qur’an terlebih dahulu dikemukakan beberapa definisi pengertian Al-Qur’an. Secara etimologi lafaz Al-Qur’an sama kedudukannya dengan lafaz Qira’at.Kedua lafaz ini merupakan musdhar Qira’a – yaqra’u yang berarti membaca. Al-Qur’an secara terminologi adalah kalam Allah SWT yang tiada tandingannya (mukjizat), diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Penutup para Nabi dan Rasul dengan perantara Malaikat Jibril yang dimulai dengan surat Al-fatihah dan akhiri surat Annas dan ditulis dalam mushaf-mushaf yang disampaikan kepada kita secara mutawatir.
Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.yang merupakan mukjizat melalui perantara malaikat Jibril untuk disampaikan kepada umat manusia sebagai pedoman hidup sehingga umat
manusia mendapat petunjuk untuk kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
(Rois Mahfud, 2011: 107)
Al Qur’an sebagai kitab suci umat Islam dari masa ke masa pertama kali diturunkan sampai sekarang terjaga keaslian dan kemurniaannya walaupun dalam sejarah banyak golongan yang ingin menghancurkannya (Ahmad Rony, 2009: 2). Hal demikian disebabkan oleh janji Allah dalam Qur’an surat Al Hijr ayat 9 yang berbunyi:
Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.(QS.Al Hijr: 2)
Al-Quran merupakan firman Allah yang mengandung petunjuk dan memberi bimbingan kepada umat manusia didalam menempuh perjalanan hidup, agar selamat di dunia dan akhirat dan dimasukan kedalam golongan orang-orang yang mendapatkan rahmat Allah SWT. Maka dari itu tiada ilmu yang lebih utama dipelajari oleh seorang muslim melebihi keutamaan mempelajari Al-Quran.
Wahyu pertama yang disampaikan nabi Muhammad SAW adalah perintah untuk membaca dan melalui membaca Allah mengajarkan manusia akan sesuatu atau pengetahuan yang tidak diketahuinya. Secara tersirat dalam perintah membaca tersebut mengandung arti bahwa dengan membaca manusia akan memperoleh ilmu pengetahuan. Didalam proses membaca ada dua aspek yang saling berhubungan dan merupakan sesuatu yang mesti ada yaitu pembaca dan objek yang dibaca. Objek bacaan inilah yang kemudian akan menjadikan sipembaca memperoleh pengetahuan baru dari yang dibaca itu.
Objek bacaan bisa beragam bentuknya, bisa membaca tulisan atau membaca tanda-tanda alam. Dalam kaitan ini objek bacaan adalah tulisan.
Dalam hal membaca tulisan, seseorang harus mengenal terlebih dahulu lambang-lambang yang akan dibacanya yaitu dalam bentuk huruf-huruf. Huruf
27
sebagai suatu lambang bunyi dalam suatu bahasa memiliki sistem karena ia dalam strukturnya menuruti kaidah-kaidah dan hierarki tertentu. Sedangkan apabila ketentuan diatas dikaitkan dengan bacaan bahasa arab atau bacaan Al-Quran, seseorang dituntut untuk mampu melafalkan huruf-huruf dengan makhraj huruf yang sesuai dengan kaidah-kaidah. Hal itu sebagai dasar untuk bisa melafalkan secara fasih (benar dan tepat) mufradat, kalimat-kalimat terstruktur, jumlah dan kalam. Khusus dalam membaca Al-Quran kemampuan tersebut diatas harus dibarengi dengan kemampuan mengetahui ilmu tajwid dan mengaplikasikannya dalam membaca Al-Quran. (Maidir Harun Munawiroh, 2007:7-9)
Menurut Anwar Yusuf (2003 : 63-64). Al-Qur’an adalah kitab suci (kalam Ilahi) yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW Dan Al-Qur’an berfungsi sebagai rahmat dan petunjuk bagi manusia dalam menjalankan hidup dan kehidupannya. Secara etimologis kata benda Al-Qur’an berasal dari kata kerja Qara,at yang mengandung artinya: (a) mengumpulkan atau menghimpun, (b) membaca atau mengkaji. Jadi kata Al-Qur’an berarti kumpulan atau himpunan atau bacaan. Arti ini dapat dilihat dalam Qur”an Surat Al-Qiyyamah : [75] ayat 17 dan 18 sebagai berikut:
Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu (QS. Al-Qiyamah:17)
Menurut M. Daud Ali (2008 :93). Al-quran adalah sumber Agama juga Ajaran Islam dan pertama dan utama, menurut keyakinan umat yang di akui kebenarannya oleh peneliti Ilmiyah, dan Al-Qur’an adalah kitab suci yang memuat firman-firman (wahyu) Allah, sama benar yang disampaikan oleh
Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammmd sebagai Rasul Allah dan Al-Qur’an sedikit demi sedikit diturunkan selama 22 Tahun 2 Bulan 22 Hari, mula-mula di Mekah kemudian di Madinah. Allah mewajibkan setiap hambanya untuk mempelajari ayat-ayat Alqur’an dan mengaplikasikan hukum-hukum dan ajaran yang terdapat di dalamnya secara menyeluruh, dan Allah SWT berfirman dalam QS Shad ayat 29 sebagai berikut:
Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.(QS Shad :29)
Al-Qur’an selalu terjaga dari perubahan dan penyimpangan. Ia akan terpelihara dari segala perbedaan suatu pertentangan sepanjang siang dan malam. Banyak cendikiawan yang dipilih Allah SWT, dengan taufik-Nya untuk selalu memperhatikan dan mengkaji ilmu-ilmunya. Berdasarkan uraian di atas, maka adab membaca Al-Qur’an secara umum adalah sebagai berikut :
a. Disunahkan membaca Al-Qur’an berwudhu, dalam keadaan bersih, sebab yang dibaca adalah wahyu Allah. Kemudian mengambil Al-Qur’an
a. Disunahkan membaca Al-Qur’an berwudhu, dalam keadaan bersih, sebab yang dibaca adalah wahyu Allah. Kemudian mengambil Al-Qur’an